Anda di halaman 1dari 32

0

TITRASI BALIK
PENETAPAN KADAR ASPIRIN DALAM TABLET

I. DASAR TEORI
1.1 Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak
lebih dari 100,5% alkali jumlah dihitung sebagai NaOH, mengandung
Na
2
CO
3
tidak lebih dari 3,0%. Natrium hidroksida berbentuk pelet,
serpihan atau batang atau bentuk lain, berwarna putih atau praktis putih,
massa melebur, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila
dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbon dioksida dan lembab,
mudah larut dalam air dan dalam etanol netral serta disimpan dalam
wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995).

1.2 Asam Oksalat (C
2
H
2
O
4
)
Asam oksalat mengandung tidak kurang dari 99,5% C
2
H
2
O
4
. Asam
oksalat berbentuk hablur, tidak berwarna, larut dalam air dan etanol
(95%) P. Penetapan kadar asam oksalat dilakukan dengan menimbang
asam oksalat kurang lebih 3 gram, dilarutkan dalam 50 mL air bebas
CO
2
P, dititrasi dengan NaOH 1 N menggunakan indikator fenolftalein P
(Depkes RI, 1979).
Gambar 1. Struktur Kimia Asam Oksalat (Oxtoby, 2001)

1.3 Asam Klorida (HCl)
Asam klorida mengandung tidak kurang dari 36,5% b/b dan tidak
lebih dari 38,0% HCl. Asam klorida memiliki pemerian berupa cairan
tidak berwarna, berasap, bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2
1

bagian volume air, asap menjadi hilang. Bobot jenis lebih kurang 1,18
(Depkes RI, 1995).

1.4 Phenolphthalein (PP)
Phenolphthalein tidak mengandung kurang dari 98 % dan tidak
lebih dari 101 % C
20
H
14
O
4
dihitung terhadap zat yang telah diberikan.
Pemerian berupa serbuk putih atau putih kekuningan lemak, tidak berbau,
stabil di udara (Depkes RI, 1995).

Gambar 2. Struktur Kimia Phenolphthalein (Watson, 2007)

1.5 Aspirin (Asam Asetil Salisilat)
Aspirin atau disebut juga asam asetilsalisilat atau asetosal memiliki
pemerian antara lain hablur putih, umumnya seperti jarum atau
lempengan tersusun, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau
lemah. Bersifat stabil di udara kering, di dalam udara lembab secara
bertahap terhidrolisis menjadi asam salisilat dan asam asetat. Aspirin
sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform,
dan dalam eter, agak sukar larut dalam eter mutlak. Rumus molekulnya
adalah C
9
H
8
O
4
dengan BM 180,16 dimana 1 mL natrium hidroksida 0,5
N setara dengan 45,04 mg C
9
H
8
O
4
(Depkes RI, 1995).

Gambar 3. Struktur Kimia Aspirin (Depkes RI, 1995)

2

1.6 Titrasi Balik
Titrasi balikatau titrasi kembali adalah suatu teknik kimia analisis
yang digunakan untuk mencari konsentrasi suatu reaktan yang tidak
diketahui dengan bereaksi pada kelebihan volume dari reaktan yang
konsentrasinya sudah diketahui.Campuran yang dihasilkan kemudian
dititrasi dengan mempertimbangkan molaritas dari reaktan berlebih yang
ditambahkan. Titrasi kembali ini dapat digunakan apabila titik akhir
titrasi memang lebih mudah untuk diamati dibandingkan dengan titik
akhir titrasi pada titrasi standar(Widiarto,2009).
Tujuan dari titrasi balik ini adalah untuk mengubah reagen yang
tidak stabil menjadi bentuk yang lebih stabil, memudahkan pengamatan
perubahan warna yang terjadi pada titik akhir titrasi serta untuk sampel
yang mengandung pengotor yang dapat menganggu jika dilakukan titrasi
langsung. Titrasi balik dilakukan untuk penetapan kadar jika bahan atau
senyawa yang digunakan sebagai berikut :
a. Sampel yang mudah menguap, misalnya ammonia dimana sebagian
sampel dari ammonia dapat menguap selama titrasi.
b. Senyawa yang tidak larut, misalnya kalium karbonat sehingga
diperlukan penambahan larutan untuk menghasilkan reaksi yang
kuantitatif.
(Kar, 2005)
Keuntungan menggunakan titrasi kembali adalah metode ini lebih
mudah digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi dibandingkan
dengan titrasi normal, serta berguna untuk mengetahui jumlah atau kadar
asam atau basa yang terkandung dalam suatu padatan yang tidak larut.
Sedangkan kerugian dari metode ini adalah membutuhkan skill dan
latihan untuk hasil yang efektif, instrumen yang digunakan harus
dikalibrasi, kereaktifan dari elemen-elemen yang akan dititrasi harus
dilakukan dengan baik serta membutuhkan lebih banyak waktu apabila
dilakukan manual (Thompson,2008).
3

Salah satu aplikasi dari titrasi balik adalah menghitung kadar
aspirin dalam suatu larutan. Penetapan kadar aspirin akan sulit apabila
menggunakan titrasi langsung karena aspirin merupakan asam lemah dan
reaksinya berjalan dengan sangat lambat. Sedangkan apabila
menggunakan titrasi balik, titik akhir titrasi lebih mudah diamati karena
merupakan reaksi antara asam kuat dan basa kuat. Reaksi ini terjadi pada
tingkat tinggi dengan demikian menghasilkan titik akhir titrasi yang
mudah dilihat. Titrasi untuk asam kuat dan basa kuat menunjukkan
kesetaraan titik akhir titrasi terjadi pada pH 7, yang artinya indikator
phenolphthalein dapat digunakan. Titik akhir titrasi terlihat ketika larutan
merah yang dihasilkan oleh penambahan phenolphthalein memudar
hingga akhirnya menjadi larutan tidak berwarna (Liakatas, 2008).
Tahap pertama dari reaksi ini adalah hidrolisis basa yang
melibatkan aspirin dengan natrium hidroksida (NaOH), dimana jumlah
dari NaOH ditambahkan berlebih. Karena reaksi hidrolisis ini berjalan
lambat pada suhu ruangan, maka untuk meningkatkan laju reaksi
dilakukan pemanasan. Reaksinya adalah sebagai berikut:

Sedangkan reaksi keseluruhannya adalah sebagai berikut:

Tahap kedua merupakan titrasi balik NaOH berlebih dengan HCl.
Reaksinya adalah sebagai berikut:
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
4

Dengan metode titrasi balik ini, jumlah HCl yang dibutuhkan untuk
menitrasi NaOH yang tidak bereaksi dengan aspirin bisa dihitung,
sehingga jumlah NaOH yang bereaksi dengan aspirin juga dapat
ditentukan (Liakatas, 2008).

II. ALAT DAN BAHAN
2.1 Alat
a. Aluminium foil
b. Bulb filler
c. Beaker glass
d. Buret
e. Erlenmeyer
f. Labu ukur
g. Mortir dan stamper
h. Neraca analitik
i. Sendok tanduk
j. Statif dan klem
k. Pengaduk ultrasonik
l. Pipet ukur
m. Pipet tetes
2.2 Bahan
a. Akuades
b. Etanol
c. Indikator Phenolphthalein
d. Larutan Asam Oksalat 0,1 N
e. Larutan NaOH 0,1 N
f. Larutan HCl 0,1 N
g. Tablet Aspirin


5

III. PROSEDUR KERJA
3.1 Pembuatan Indikator Phenolphthalein 1% b/v
Diketahui : Kadar Phenolphthalein = 1% b/v = 1 gram/100 mL
Volume Phenolphthalein yang akan dibuat = 5 mL
Ditanya : Massa Phenolphthalein yang ditimbang ?
Jawab :
a
L
=
a
L

x gram =
a L
L

massa =0,05 gram
Prosedur Kerja :
Phenolphthalein ditimbang sebanyak 0,05 gram, kemudiandimasukkan
ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan etanol 95% secukupnya,
kemudian dikocok hingga larut. Etanol 95% ditambahkan hingga tanda
batas 5 mL kemudian dikocok hingga homogen.

3.2 Pembuatan Larutan Asam Oksalat 0,1 N
Diketahui : N Asam oksalat = 0,1 N
V Asam oksalat = 100 mL
BM Asam oksalat = 126 gram/mol
Ditanya : Massa Asam oksalat yang ditimbang ?
Jawab :
Reaksi : H
2
C
2
O
4
2H
+
+ C
2
O
4
-

ek = 2 grek/mol
M asam oksalat =
N aa ala
e
=
N
2 el
= 0,05 M
M =
aa
M


0,05 M =
aa
2 al

L

Massa = 0,63 gram
Prosedur Kerja :
6

Asam oksalat ditimbang dengan beaker glass sebanyak 0,63 gram,
kemudian dilarutkan dengan akuades hingga larut sambil diaduk dengan
batang pengaduk. Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan
ditambahkan akuades hingga tanda batas, digojog hingga homogen,
kemudian ditampung dalam botol coklat dan dilapisi dengan aluminium
foil.

3.3 Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N
Diketahui : N NaOH = 0,1 N
V NaOH = 500 mL
BM NaOH = 40 gram/mol
Ditanya : Massa NaOH yang ditimbang ?
Jawab :
Reai : NaOH Na
+
+ OH
-

ek = 1 grek/mol
M NaOH =
N NaH
e
=
N
el
= 0,1 M
M =
aa
M


0,1 M =
aa
al

L

Massa = 2 gram
Prosedur Kerja :
NaOH ditimbang dengan beaker glass sebanyak 2 gram kemudian
dilarutkan dengan akuades hingga larut sambil diaduk dengan batang
pengaduk.Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 500 mL, ditambahkan
akuades hingga tanda batas 500 mL dan digojog hingga
homogen.Ditampung dalam botol coklat dan dilapisi dengan aluminium
foil.

3.4 Pembuatan Larutan HCl 0,1 N
Diketahui : Cstok = 37%b/b = 37 gram/100 gram
BM HCl = 36,5 gram/mol
7

BJ HCl = 1,19 gram/mL
V HCl = 250 mL
N HCl = 0,1 N
Ditanya : Volume stok HCl 37% b/b yang dipipet ?
Jawab :
Reai : HCl H
+
+ Cl
-

ek = 1 grek/mol
M HCl =
N HCl
e
=
N
el
= 0,1 M
M Larutan Stok =
aa
M

aJ

=
a
al

a
aL


=12,06 M
Pengenceran dari 12,06 M menjadi 0,1 M
V
stok
M
stok
ek = V
lart
M
lart
ek
V
stok
12,06 M = 250 mL 0,1 M
V
stok
= 2,073 mL
Prosedur Kerja :
HCl 37% b/b dipipet sebanyak 2,073 mL dimasukkan ke dalam labu ukur
250 mL yang telah berisi akuades secukupnya. Ditambahkan akuades
sampai tanda batas lalu digojog hingga homogen.

3.5 Standardisasi Larutan NaOH 0,1 N
Larutan asam oksalat dipipet sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam
labu Erlenmeyer, ditambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein,
kemudian dititrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N.Titik akhir titrasi
ditandai dengan terbentuknya warna merah muda yang stabil pada
larutan, lalu dicatat volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan.
Dilakukan titrasi sebanyak 3 kali.


8

3.6 Standardisasi Larutan HCl 0,1 N
10 mL NaOH 0,1 N dipipet dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
Ditambahkan indikator phenolphthalein 3 tetes. Dititrasi dengan HCl 0,1
N sampai larutan yang berwarna merah muda berubah menjadi bening.
Dilakukan titrasi sebanyak 3 kali dan dicatat volume HCl yang
dibutuhkan.

3.7 Penetapan Kadar Tablet Aspirin
Tablet aspirin digerus kemudian serbuk ditimbang 100 mg. Serbuk
kemudian dilarutkan dengan 10 mL etanol dalam erlenmeyer kemudian
ditutup dengan aluminium foil dan dilarutkan dengan ultrasonik selama 5
menit. Setelah diultrasonik, ditambahkan 10 mL akuades dan 3 tetes
indikator phenolphthalein. Dititrasi dengan NaOH 0,1 N hingga larutan
berwarna merah muda stabil. Dicatat volume NaOH yang dibutuhkan
untuk menitrasi. Ditambahkan 5 mL NaOH (NaOH berlebih) kemudian
dititrasi dengan HCl 0,1 N hingga larutan berwarna bening. Dilakukan
langkah yang sama sebanyak 3 kali. Dihitung kadar rata-rata dari tablet
aspirin.

IV. SKEMA KERJA
4.1 Pembuatan Indikator Phenolphthalein 1% b/v

4.2 Pembuatan Larutan Asam Oksalat 0,1 N
Ditambahkan etanol 95% hingga tanda batas dan digojog hingga
homogen.
Dikocok hingga larut.
Ditambahkan etanol 95% secukupnya.
Ditimbang phenolphtalein sebanyak 0,05 gram kemudian dimasukkan
ke dalam labu ukur 5 mL.
9


4.3 Pembuatan Larutan Standar NaOH 0,1 N

4.4 Pembuatan Larutan HCl 0,1 N

4.5 Standardisasi Larutan NaOH 0,1 N
Digojog larutan hingga homogen dan ditutup dengan aluminium foil.
Ditambahkan akuades sampai tanda batas 100 mL.
Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
Dimasukkan ke dalam beaker glass, ditambahkan akuades secukupnya
sambil diaduk hingga larut.
Ditimbang asam oksalat sebanyak 0,63 gram.
Digojog hingga homogen dan ditampung ke dalam botol dan ditutup
dengan aluminium foil.
Ditambahkan akuades ke dalam labu ukur hingga batas volume 500
mL.
Larutan NaOH dimasukkan ke dalam labu ukur 500 mL.
Ditambahkan akuades

secukupnya sambil diaduk sampai larut.
Ditimbang NaOH sebanyak 2 gram dan dimasukkan ke dalam beaker
glass.
Ditambahkan akuades sampai tanda batas, digojog hingga homogen
dan ditampung ke dalam botol, kemudian ditutup dengan aluminium
foil.
Dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL yang telah berisi akuades
secukupnya.
Dipipet HCl 37% b/b sebanyak 2,073 mL.
10


4.6 Standardisasi Larutan HCl 0,1 N



4.7 Penetapan Kadar Tablet Aspirin
Dilakukan titrasi sebanyak 3 kali.
Dicatat volume larutan standar NaOH 0,1 N yang digunakan.
Dititrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N, titik akhir titrasi
ditandai dengan terbentuknya warna merah muda yang stabil pada
larutan.
Ditambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein.
Dipipet larutan asam oksalat sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke
dalam labu Erlenmeyer.
Dilakukan titrasi sebanyak 3 kali.
Dicatat volume HCl yang dibutuhkan.
Dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai larutan yang berwarna merah muda
berubah menjadi bening.
Ditambahkan 3 tetes indikator phenolphthalein.
Dipipet 10 mL NaOH 0,1 N kemudian dimasukkan ke dalam labu
Erlenmeyer.
11





Dihitung kadar rata-rata dari tablet aspirin.
Dilakukan langkah yang sama sebanyak 3 kali.
Dicatat volume HCl yang dibutuhkan untuk menitrasi.
Ditambahkan 5 mL NaOH (NaOH berlebih) kemudian dititrasi dengan
HCl 0,1 N hingga larutan berwarna bening.
Dicatat volume NaOH yang dibutuhkan untuk menitrasi.
Dititrasi dengan NaOH 0,1 N hingga larutan berwarna merah muda
stabil.
Ditambahkan 10 mL akuades dan 3 tetes indikator phenolphthalein.
Serbuk kemudian dilarutkan dengan 10 mL etanol dalam erlenmeyer
kemudian ditutup dengan aluminium foil dan dilarutkan dengan
ultrasonik selama 5 menit.
Tablet aspirin digerus kemudian serbuk ditimbang sebanyak 100 mg.
12

V. HASIL PENGAMATAN
5.1 Hasil Percobaan
a. Standardisasi Larutan NaOH
Titrasi Larutan Asam Oksalat 0,1 N dengan Larutan NaOH
Indikator : Phenolphthalein
Volume
NaOH (mL)
Pengamatan Kesimpulan
0,0 - 10,8mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 10,7mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 10,7mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi

Titik Akhir Titrasi : 10,8 mL; 10,7 mL; 10,7 mL
Normalitas NaOH : 0,093 N; 0,094 N; 0,094 N
Titrasi Diulang 3 kali
Normalitas NaOH rata-rata : 0,094 N
b. Standardisasi Larutan HCl
Larutan NaOH yang digunakan :0,094 N
Indikator : Phenolphthalein
Volume HCl
(mL)
Pengamatan Kesimpulan
0,0 - 8,7 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 8,6 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 8,6 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi

Titik Akhir Titrasi : 8,7 mL; 8,6 mL; 8,6 mL
Normalitas HCl : 0,108 N; 0,109 N; 0,109 N
Titrasi Diulang 3 kali
Normalitas HCl rata-rata : 0,1087 N
c. Penetapan Kadar Aspirin
Larutan standar NaOH yang digunakan : 0,094 N
Larutan standar HCl yang digunakan : 0,1087 N
13

Indikator : Phenolphthalein
Volume
NaOH (mL)
Pengamatan Kesimpulan
0,0 - 5 mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 5,1 mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 5,1 mL Bening menjadi merah muda Mencapai titik akhir titrasi
Titik Akhir Titrasi : 5 mL; 5,1 mL; 5,1 mL






Titik Akhir Titrasi : 3,3 mL; 3,5 mL; 3,5 mL
Kadar Aspirin rata-rata : 315,49 mg/tab; 52,34 % b/b; 72,757% b/v
5.2 Tabel Penimbangan
No. Nama Bahan Jumlah Paraf
1.

2.

3.

4.


5.


6.
Asam Oksalat
Akuades
HCl 37% b/v
Akuades
NaOH
Akuades
Standarisasi NaOH 0,1 N
Asam Oksalat I, II, III
Indikator PP I, II, III
Standarisasi HCl 0,1 N
NaOH I, II, III
Indikator PP I, II, III
Penetapan Kadar Aspirin
0,63 gram
ad 100 mL
2,073 mL
ad 250 mL
2 gram
ad 500 mL

10 mL
3 tetes

10 mL
3 tetes

Terlampir
Volume HCl
(mL)
Pengamatan Kesimpulan
0,0 - 3,3 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 3,5 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi
0,0 - 3,5 mL Merah muda menjadi bening Mencapai titik akhir titrasi
14



Tablet Aspirin I
Tablet Aspirin II
Tablet Aspirin III
Serbuk Aspirin I
Serbuk Aspirin II
Serbuk Aspirin III
Etanol 95% I, II, III
Akuades I, II, III
Indikator PP I, II, III
NaOH berlebih I, II, III
608 mg
600 mg
599,4 mg
100,7 mg
100,4 mg
100,4 mg
10 mL
10 mL
3 tetes
5 mL

VI. ANALISIS DATA
6.1 Menentukan Normalitas Larutan Standar NaOH
- Perhitungan
Diketahui :
Normalitas Asam Oksalat = 0,1 N
Volume Asam Oksalat = 10 mL = 0,01 L
Volume NaOH = titrasi I = 10,8 mL
titrasi II = 10,7 mL
titrasi III = 10,7 mL
Ditanya :
Normalitas NaOH rata - rata = ?
Jawab :
M C
2
H
2
O
4
. 2 H
2
O =

=


= 0,05 M
mol C
2
H
2
O
4
. 2 H
2
O = M x V C
2
H
2
O
4
. 2 H
2
O
= 0,05 M x 0,01 L
= 0,0005 mol
= 0,5 mmol
Reaksi : C
2
H
2
O
4
. 2 H
2
O + 2 NaOH Na
2
C
2
O
5
+ 2 H
2
O
Awal : 0,5 mmol 1 mmol
15

Reaksi : 0,5 mmol 1 mmol 0,5 mmol1 mmol
Sisa : - - 0,5 mmol 1 mmol
- Untuk mol NaOH yang diperlukan untuk dapat bereaksi dengan
C
2
H
2
O
4
. 2 H
2
O adalah 1 mmol
a. Titrasi I :
Volume NaOH = 10,8 mL
M NaOH =


=

= 0,093 M
Normalitas = 0,093 M x 1 grek/L = 0,093 N
Jadi, Normalitas NaOH pada titrasi I adalah 0,093 N
b. Titrasi II :
Volume NaOH = 10,7 mL
M NaOH =


=


= 0,094 M
Normalitas = 0,094 M x 1 grek/L = 0,094 N
Jadi, Normalitas NaOH pada titrasi II adalah 0,094 N
c. Titrasi III :
Volume NaOH = 10,7 mL
M NaOH =


=


= 0,094 M
Normalitas = 0,094 M x 1 grek/L = 0,094 N
Jadi, Normalitas NaOH pada titrasi III adalah 0,094 N
Normalitas Rata Rata NaOH =


= 0,094 N






No. Titrasi N NaOH N NaOH
rata-rata
(X-X
rata-rata
) (X-X
rata-rata
)
2

1. I 0,093 0,094 0,001 1 x


2. II 0,094 0,094 0 0
3. III 0,094 0,094 0 0
(X-X
rata-rata
)
2
= 1 x


16

Standar devisiasi =


= 7,07 x


Jadi, diperoleh N NaOH sebesar 0,094 N 7,07 x

N
Nilai rSD =


x 100%
=

x 100 %
= 0,75 %
6.2 Menentukan Normalitas Larutan Standar HCl
- Perhitungan
Diketahui :
Normalitas NaOH = 0,094 N
Volume NaOH = 10 mL = 0,01 L
Volume HCl = titrasi I = 8,7 mL
titrasi II = 8,6 mL
titrasi III = 8,6 mL
Ditanya :
N HCl rata - rata = ?
Jawab :
M NaOH =

=


= 0,094 M
mol NaOH = M x V NaOH
= 0,094 M x 0,01 L
= 0,00094 mol
= 0,94 mmol
Reaksi : NaOH + HCl NaCl + H2O
Awal : 0,94 mmol 0,94 mmol
Reaksi : 0,94 mmol 0,94 mmol 0,94mmol0,94mmol
Sisa : - - 0,94mmol 0,94mmol
17

- Untuk mol HCl yang diperlukan untuk dapat bereaksi dengan NaOH
adalah 0,94 mmol
a. Titrasi I :
Volume HCl = 8,7 mL
M HCl =


=


= 0,108 M
Normalitas = 0,108 M x 1 grek/L = 0,108 N
Jadi, Normalitas HCl pada titrasi I adalah 0,108 N
b. Titrasi II :
Volume HCl = 8,6 mL
M HCl =


=


= 0,109 M
Normalitas = 0,109 M x 1 grek/L = 0,109 N
Jadi, Normalitas HCl pada titrasi II adalah 0,109 N
c. Titrasi III :
Volume HCl = 8,6 mL
M HCl =


=


= 0,109 M
Normalitas = 0,109 M x 1 grek/L = 0,109 N
Jadi, Normalitas HCl pada titrasi III adalah 0,109 N
Normalitas Rata Rata HCl =


= 0,1087 N


S
t
a
n
d
a
No. Titrasi N NaOH N NaOH
rata-rata
(X-X
rata-rata
) (X-X
rata-rata
)
2

1. I 0,108 0,1087 -0,0007 4,9 x


2. II 0,109 0,1087 0,0003 9 x


3. III 0,109 0,1087 0,0003 9 x


(X-X
rata-rata
)
2
= 6,7 x


18

Standar deviasi =


= 5,79 x


Jadi, diperoleh N HCl sebesar 0,1087 N 5,79 x

N
Nilai rSD =


x 100%
=

x 100 %
= 0,53 %
6.3 Penetapan Kadar Aspirin
Diketahui :
N NaOH = 0,094 N
N HCl = 0,1087 N
Volume NaOH I = 5 mL
Volume NaOH II = 5,1 mL
Volume NaOH III = 5,1 mL
Volume HCl I = 3,3 mL
Volume HCl II = 3,5 mL
Volume HCl III = 3,5 mL
Tablet Aspirin I = 608 mg
Tablet Aspirin II = 600,5 mg
Tablet Aspirin III = 599,4 mg
Serbuk Aspirin I = 100,7 mg
Serbuk Aspirin II = 100,4 mg
Serbuk Aspirin III = 100,4 mg
NaOH berlebih I, II, III = 5 mL
BM aspirin = 180,16 gram/mol
BJ aspirin = 1,39 gram/mL
Ditanya :
Kada apiin dala % bb dan dala % bv = ?
Jawab :
19

M NaOH =

=


= 0,094 M
M HCl =

=


= 0,1087 M
Reaksi yang terjadi antara aspirin dengan NaOH :
C
9
H
8
O
4
+ 2 NaOH C
7
H
5
O
3
Na + CH
3
COONa + H
2
O
Reaksi yang terjadi antara NaOH berlebih dengan HCl :
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
a. Titrasi I
- Volume NaOH total = V NaOH + V NaOH berlebih
= 5 mL + 5 mL
= 10 mL
- Mol NaOH total = M NaOH x V NaOH total
= 0,094 M x 10 mL
= 0,94 mmol
- Mol HCl = M HCl x V HCl
= 0,1087 M x 3,3 ml
= 0,3587 mmol
- Mol NaOH yang bereaksi dengan aspirin = mol NaOH total mol
NaOH yang bereaksi dengan HCl= 0,94 mmol 0,3587 mmol
= 0,5813 mmol
- Mol aspirin =


x mol NaOH yang bereaksi dengan
aspirin
=

x 0,5813 mmol
= 0,291 mmol
- Massa aspirin dalam sampel = mol aspirin x BM aspirin
= 0,291 mmol x 180,16 gram/mol
= 52,43 mg
- Massa aspirin dalam tablet =


x massa aspirin dalam
sampel
=


x 52,43 mg
20

= 316,56 mg
- Persentase kadar aspirin dalam % b/b =


x
100%
=

x 100 %
= 52,07 % b/b
- Kadar aspirin dalam % b/v = kadar dalam b/b x BJ aspirin x
100%
=


x 1,39 gram/mL x 100%
= 72,38% b/v
b. Titrasi II
- Volume NaOH total = V NaOH + V NaOH berlebih
= 5,1 mL + 5 mL
= 10,1 mL
- Mol NaOH total = M NaOH x V NaOH total
= 0,094 M x 10,1 mL
= 0,949 mmol
- Mol HCl= M HCl x V HCl
= 0,1087 M x 3,5 ml
= 0,38 mmol
- Mol NaOH yang bereaksi dengan aspirin = mol NaOH total mol
NaOH yang bereaksi dengan HCl
= 0,949 mmol 0,38 mmol
= 0,569 mmol
- Mol aspirin =


x mol NaOH yang bereaksi dengan
aspirin
=

x 0,569 mmol
= 0,2845 mmol
- Massa aspirin dalam sampel = mol aspirin x BM aspirin
= 0,2845 mmol x 180,16 gram/mol
21

= 51,256 mg
- Massa aspirin dalam tablet =


x massa aspirin dalam
sampel
=


x 51,256 mg
= 306,56 mg
- Persentase kadar aspirin dalam % b/b =


x
100%
=


x 100%
= 51,05% b/b
- Kadar aspirin dalam % b/v = kadar dalam b/b x BJ aspirin x
100%
=


x 1,39 gram/mL x 100%
= 70,96% b/v
c. Titrasi III
- Volume NaOH total = V NaOH + V NaOH berlebih
= 5,1 mL + 5 mL
= 10,1 mL
- Mol NaOH total = M NaOH x V NaOH total
= 0,094 M x 10,1 mL
= 0,949 mmol
- Mol HCl = M HCl x V HCl
= 0,1087 M x 3,5 ml
= 0,38 mmol
- Mol NaOH yang bereaksi dengan aspirin = mol NaOH total mol
NaOH yang bereaksi dengan HCl
= 0,949 mmol 0,38 mmol
= 0,569 mmol
- Mol aspirin =


x mol NaOH yang bereaksi dengan
aspirin
22

=

x 0,569 mmol
= 0,2845 mmol
- Massa aspirin dalam sampel = mol aspirin x BM aspirin
= 0,2845 mmol x 180,16 gram/mol
= 51,26 mg
- Massa aspirin dalam tablet =


x massa aspirin dalam
sampel
=


x 51,26 mg
= 306,03 mg
- Persentase kadar aspirin dalam % b/b =


x
100%
=


x 100%
= 51,056 % b/b
- Kadar aspirin dalam % b/v = kadar dalam b/b x BJ aspirin x
100%
=


x 1,39 gram/mL x 100%
= 70,97 % b/v
- Kadar rata rata aspirin dalam mg/tab =


= 309,7 mg/tab








No. Titrasi Kadar
(mg/tab)
Kadar
(mg/tab)
rata-rata
(X-X
rata-
rata
)
(X-X
rata-
rata
)
2

1. I 316,56 309,7 6,86 47,06
2. II 306,56 309,7 -3,14 9,86
3. III 306,03 309,7 -3,67 13,47
(X-X
rata-rata
)
2
= 70,39
23

Standar deviasi =


= 5,93 mg/tab
Jadi diperoleh kadar aspirin dalam mg/tab sebesar 309,7 mg/tab
5,93 mg/tab
Nilai rSD =


x 100%
=

x 100 %
= 1,9 %
Kadar rata rata aspirin dalam % b/b=


= 51,39 % b/b

No. Titrasi Kadar (%
b/b)
Kadar (% b/b)
rata-rata
(X-X
rata-
rata
)
(X-X
rata-
rata
)
2

1. I 52,07 51,39 0,68 0,46
2. II 51,05 51,39 -0,34 0,12
3. III 51,056 51,39 -0,33 0,11
(X-X
rata-rata
)
2
= 0,69

Standar deviasi =


= 0,59% b/b
Jadi diperoleh kadar aspirin dalam % b/b sebesar 51,39% b/b
0,59% b/b
Nilai rSD =


x 100%
=

x 100 %
24

= 1,15 %
Kadar rata rata aspirin dalam % b/v =


= 71,44% b/v







Standar deviasi =


= 0,8 % b/v
Jadi diperoleh kadar aspirin dalam % b/v sebesar 71,44% b/v
0,8% b/v
Nilai rSD =


x 100%
=

x 100 %
= 1,12 %
- Perolehan Kembali atau % Recovery
Diketahui :
Massa I = 316,56 mg/tab
Massa II = 306,56 mg/tab
Masaa III = 306,03 mg/tab
Massa pada kemasan 1 tablet aspirin = 500 mg/tab
Ditanya :
% Recovery = ?
Jawab :
No. Titrasi Kadar (%
b/v)
Kadar (%
b/v) rata-rata
(X-X
rata-
rata
)
(X-X
rata-
rata
)
2

1. I 72,38 71,44 0,94 0,88
2. II 70,96 71,44 -0,48 0,23
3. III 70,97 71,44 -0,47 0,22
(X-X
rata-rata
)
2
= 1,33
25

a. % Recovery =



=



= 63,31%
b. % Recovery =



=



= 61,31%
c. % Recovery =



=



= 61,20%
VII. PEMBAHASAN
Penetapan kadar aspirin dalam tablet dilakukan dengan menggunakan
metode titrasi balik. Dipilihnya metode titrasi balik dalam penetapan kadar
aspirinini karena penetapan kadar aspirin akan sulit apabila menggunakan
titrasi langsung karena aspirin merupakan asam lemah dan reaksinya
berjalan dengan sangat lambat. Sedangkan apabila menggunakan titrasi
balik, titik akhir titrasi lebih mudah diamati karena merupakan reaksi antara
asam kuat dan basa kuat. Reaksi ini terjadi pada tingkat tinggi dengan
demikian menghasilkan titik akhir titrasi yang mudah dilihat. Kesetaraan
reaksi ini akan menghasilkan pH 7, sehingga indikator PP dapat
digunakan(Liakatas, 2008).
Berikut adalah reaksi hidrolisis senyawa ester secara umum pada
suasana basa, yang terdiri dari reaksi adisi yang berlangsung lambat dan
dilakhiri dengan reaksi eliminasi protonasi dan reaksi NaOH dengan
aspirin.
C
9
H
8
O
4(s)
+ 2 NaOH
(aq)
C
7
H
5
O
3
Na
(aq)
+ CH
3
COONa
(aq)
+ H
2
O
(l)


Natrium Asetat Natrium Salisilat
Aspirin
26

Gambar 4. Reaksi Hidrolisis Gugus Ester pada Suasana Basa(Solomon dan
Fryhle, 2011)
Dalam praktikum ini disediakan tablet aspirin yang kemudian akan
ditentukan kadarnya. Dibuat beberapa larutan antara lain NaOH 0,1 N, HCl
0,1N dan asam oksalat 0,1N. NaOH dan HCl digunakan sebagai titran
sedangkan asam oksalat sebagai larutan baku primer. NaOH merupakan
larutan baku sekunder maka agar dapat digunakan untuk menetapkan kadar
asam salisilat, NaOH harus distandardisasi terlebih dahulu. NaOH perlu
distandardisasi agar kadar atau konsentrasinya dapat diketahui secara teliti.
Konsentrasi NaOHyang dapat berubah-ubah selama penyimpanan dapat
disebabkan oleh reaksi oksidasi selama penyimpanan karena NaOH mudah
bereaksi dengan CO
2
di udara membentuk Na
2
CO
3
dan melepaskan air. Hal
ini menyebabkan kadar NaOH menjadi bervariasidan juga disebabkan oleh
sifat NaOH yang higroskopis sehingga dapat mengubah konsentrasinya
selama penyimpanan. Berikut adalah reaksi NaOH dengan CO
2
.
2 NaOH
(s)
+ CO
2(g)
Na
2
CO
3(aq)
+ H
2
O
(l)

Standardisasi larutan NaOH dilakukan dengan menggunakan larutan
baku primer asam oksalat (C
2
H
2
O
4
). Asam oksalat bertindak sebagai baku
primer dimana larutan yang ingin digunakan sebagai larutan baku haruslah
memiliki persyaratan murni, mudah diperoleh, mudah larut, tidak berubah
saat penimbangan dan tidak teroksidasi oleh udara (Gandjar dan
Rohman,2007).
Dalam standardisasi NaOH digunakan indikator phenolphthalein
untuk mendeteksi titik akhir titrasi. Titrasi dilakukan hingga larutan
berwarna merah muda stabil dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali
untuk mendapatkan hasil yang valid. Volume NaOH yang diperlukan untuk
27

mencapai titik akhir titrasi berturut-turut adalah 10,8 mL; 10,7 mL; dan 10,7
mL. Dari volume tersebut didapatkan rata-rata konsentrasi baku dari NaOH
yaitu (0,094 7,07 x

Ndengan persentase standar deviasi relatif 0,75
%yang berarti presisi kadar yang diperoleh sudah baik karena berada
dibawah 2%.
Larutan NaOH yang telah distandardisasi kemudian digunakan untuk
mentitrasi larutan HCl sebanyak 3 kali. Standardisasi larutan HCl dilakukan
untuk memastikan kadar HCl ketika digunakan saat penetapan kadar aspirin.
Selain itu standardisasi dilakukan karena kemungkinan terjadinya peruraian
pada HCl atau asam klorida dimana HCl memiliki sifat sebagai larutan baku
sekunder (Gandjar dan Rohman, 2007). Titrasi dihentikan ketika warna
merah pada titrat berubah menjadi warna bening yang menandakan telah
terjadinya kesetimbangan pH antara asam dan basa pada proses
standardisasi. Volume HCl yang diperlukan adalah 8,7 mL; 8,6 mL; dan 8,6
mL. Dengan perhitungan diperoleh kadar HCl (0,1087 5,79 x

N
dengan nilai persen standar deviasi relatif 0,53%, yaitu kurang dari 2%, hal
ini menunjukkan presisikadar yang diperoleh dari penetapan cukup baik.
Setelah semua titran yang akan digunakan distandardisasi selanjutnya
dilakukan penetapan kadar aspirin dalam tablet aspirin. 100 mg serbuk
aspirin dilarutkan dengan 10 mL etanol karena sifatnya yang mudah larut
dalam etanol (Depkes RI, 1995). Kemudian dilakukan pengadukan
ultrasonik selama 5 menit dan ditambahkan dengan aquadest serta 3 tetes
indikator phenolphthalein. Ultrasonikasi ini dilakukan untuk mempercepat
dan meratakan proses pelarutan. Sampel kemudiandititrasi terlebih dahulu
dengan menggunakan larutan baku NaOH hingga terbentuk warna merah
muda stabildengan pengulangan sebanyak 3 kali. Volume yang digunakan
yaitu 5 mL; 5,1 mL; dan 5,1 mL. Selanjutnya pada sampel ditambahkan
NaOH dengan volume berlebih sebanyak 5 mL. Karena NaOH diberikan
secara berlebih menyebabkan seluruh molekul aspirin habis bereaksi secara
ekivalen dan menyisakan NaOH secara berlebih dalam larutan yang
28

memberikan suasana basa yang berwarna merah akibat keberadaan indikator
phenolphthalein pada larutan.
Kelebihan NaOH kemudian dititrasi kembali dengan larutan standar
HCl 0,1 N. Larutan HCl yang bersifat asam sebagai lawan dari NaOH yang
bersifat basa yang tersisa dalam larutan. Titrasi dengan titran larutan HCl
baku dilakukan sampai larutan berwarna bening. Jika diperhatikan, titrasi
yang kedua dengan titran HCl merupakan titrasi asam kuat basa kuat
sehingga titik ekivalen secara teoritis berada pada pH 7, hal ini menjadi
alasan penggunaan phenolphthalein yang mana mengalami perubahan warna
(titik akhir titrasi) pada pH 8,4 10,4 mendekati titik ekuivalen tersebut
(Depkes RI, 1995; Skoog, dkk., 2007).
Reaksi yang terjadi pada proses penetapan kadar aspirin terdiri
daridua tahap yaitu:
1. Reaksi antara aspirin dengan NaOH, yaitu:
2. Reaksi antara NaOH dengan HCl, yaitu:
NaOH + HCl NaCl + H
2
O
(Kar, 2005)
Berdasarkan hasil pengamatan, volume HCl yang digunakan yaitu 3,3
mL; 3,5 mLdan 3,5 mL. Dari volume-volume ini maka dapat diketahui
kadar aspirin dalam tablet dimana mol total NaOH yang digunakan
dikurangi dengan mol HCl yang digunakan sehingga didapatkan kadar rata-
rata aspirin dalam tablet. Melalui perhitungan tersebut praktikan
memperoleh kadar aspirin dalam tablet dari hasil titrasi ketiga sampel dalam
mg/tablet, yaitu sebanyak (309,7 5,93) mg/tablet dengan persen standar
deviasi relatif sebesar 1,9 %. Dalam %b/b diperoleh kadar asam salisilat
sebesar (51,39 0,59) % b/b dengan nilai persen standar deviasi relatif 1,15
%. Sedangkan dalam % b/v diperoleh kadar asam salisilat sebesar (71,44
0,8) % b/v dengan persen standar deviasi relatif sebesar 1,12 %. Dari ketiga
29

persen standar diviasi relatif yang diperoleh menunjukkan hasil bahwa kadar
yang diperoleh dalam mg/tablet, dalam % b/b dan dalam % b/v
menunjukkan presisi yang cukup baik dimana presisi yang baik ditunjukkan
dengan nilai RSD di bawah 2%. Kemudian ditinjau dari segi akurasi
perolehan kadar, dapat dilihat dari persen perolehan kembali rata-rata
sebesar 61,94%, ini menunjukkan adanya kehilangan sekitar 38,06%, yaitu
lebih dari 10%.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, aspirin atau asam
asetilsalisilat atau asetosal mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak
lebih dari 100,5% C
9
H
8
O
4
, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan,
maka hasil yang didapat tidak sesuai dengan pustaka. Penyimpangan ini
mungkin disebabkan karena ketidakhomogenan serbuk aspirin yang telah
digerus dan aspirin yang ditetapkan kadarnya kurang larut sempurna. Selain
itu kesalahan mungkin disebabkan karena pada titrasi balik digunakan dua
macam titran, yaitu titran NaOH dan HCl baku yang menyebabkan
kesalahan yang diperoleh semakin besar (Gandjar dan Rohman, 2007).

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan
8.1.1 Penetapan kadar aspirin dalam tablet dilakukan dengan
menggunakan metode titrasi balik dimana suatu senyawa yang
akan ditetapkan kadarnya direaksikan dengan suatu reagen
dengan volume berlebih, kemudian kelebihan volume ini
dititrasi kembali dengan pereaksi yang sesuai.
8.1.2 Normalitas rata-rata NaOH yang diperoleh saat standarisasi
adalah sebesar 0,094 N dengan standar deviasi sebesar 7,07 x


dan persentase standar deviasi relatif 0,75 % yang berarti
presisi kadar yang diperoleh sudah baik karena berada dibawah
2%.
8.1.3 Normalitas rata-rata HCl yang diperoleh adalah sebesar 0,1087
N dengan standar deviasi sebesar 5,79 x

dan nilai persen


30

standar deviasi relatif 0,53%, yaitu kurang dari 2%, hal ini
menunjukkan presisi kadar yang diperoleh dari penetapan cukup
baik.
8.1.4 Kadar rata-rata aspirin dalam tablet adalah (309,7 5,93)
mg/tablet atau (51,39 0,59) % b/b atau (71,44 0,8) % b/v.
Dari ketiga data diperoleh persen standar deviasi relatif di
bawah 2% yang menunjukkan presisi kadar yang diperoleh
cukup baik.
8.1.5 Dari segi akurasi perolehan kadar, dapat dilihat dari persen
perolehan kembali rata-rata sebesar 61,94%, ini menunjukkan
adanya kehilangan sekitar 38,06%, yaitu lebih dari 10%.

8.2 Saran
Sebaiknya pada praktikum titrasi balik ini alat-alat untuk
keperluan titrasi perlu diperbanyak lagi, salah satunya adalah buret dan
statif. Dalam titrasi balik ini, diperlukan buret lebih banyak (dua kali
lipat) agar saat selesai titrasi dengan suatu titran tidak perlu lagi
meminjam ke kelompok sebelah untuk menitrasi dengan titran lainnya.
Secara tidak langsung, hal ini akan mengefisienkan waktu dalam proses
titrasi.



31

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Gandjar, I. G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kar, A. 2005. Pharmaceutical Drug Analysis. New Delhi: New Age International
Publishers.
Liakatas. 2008. Titration and Back Titration. Pretoria: American International
School of Johannesburg.
Oxtoby, D. W. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Edisi Keempat. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Roth, H. J. dan G. Blaschke. 1994. Analisis Farmasi. Yogyakarta: Universitas
Gajah Mada.
Skoog, Douglas A., F. James Holler, dan Stanley R. Crouch. 2007. Principles of
Instrumetal Analysis, Sixth Edition. California: Thomson Brooks/Cole.
Solomon, T. W. Graham dan Fryhle, Craig B. 2011. Organic Chemistry (Study
Guide and Solutions Manual), Fourth Edition. Chichester: John Wiley &
Sons.
Thompson, R.B. 2008. Illustrated Guide To Home Chemistry Experimentist.
Canada: OReilly Media Inc
Watson, David G. 2007. Analisis Farmasi: BA Untuk Mahasiswa Farmasi dan
Praktisi Kimia Farmasi, Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Widiarto, S. 2009. Kimia Analitik. Lampung: Umila Press.