Anda di halaman 1dari 3

!"#$% '%($ )*$ +,--.

"/,$ 01232333441456
7/8"% )93
PR PRAKTIKUM BIOLOGI ORAL II UJI BIOKOMPATIBILITAS
SOAL
1. Apakah fungsi penggunaan laminar flow pada uji biokompatibilitas ?
2. Bagaimanakah mekanisme reaksi jaringan terhadap penggunaan bahan MTT ?
3. Bagaimanakah cara menghitung jumlah sel hidup pada uji MTT ?
4. Jelaskan, kapan suatu bahan dikatakan tidak toksik terhadap jaringan sekitar dengan
menggunakan uji MTT !
JAWABAN
1. Laminar Flow digunakan sebagai ruangan untuk pengerjaan secara eseptis.
Prinsip kerja Laminar flow yaitu membunuh dan menghilangkan bakteri yang
terbawa dari udara pada ruangan untuk membuat suasana ruangan menjadi steril.
Alat ini berfungsi untuk membentuk udara steril dan tetap bersih agar tidak ada
kontaminasi bakteri yang terdapat di udara pada saat percobaan (Soetarto, 2008)
2. Uji MTT assay merupakan salah satu metode kolorimetrik yang digunakan dalam
uji sitotoksik. Uji ini memiliki kelebihan yaitu relatif cepat, sensitif, akurat,
digunakan untuk mengukur sampel dalam jumlah besar. Dasar uji enzimatik MTT
adalah dengan mengukur kemampuan sel hidup berdasarkan aktivitas mitokondria
sel fibroblas dari kultur sel, dimana pereaksi MTT [3-(4,5-dimetiltiazol-2-yl)-2,5-
difeniltetrazolium bromide] ini merupakan garam tetrazolium yang dapat dipecah
menjadi kristal formazan melalui reaksi reduksi oleh enzim suksinat tetrazolium
reduktase yang terdapat dalam jalur respirasi sel pada mitokondria yang aktif pada
sel yang masih hidup. Enzim mitokondrial suksinat dehidrogenase yang bekerja
mengkonversi MTT menjadi kristal formazan berwarna biru dan warna biru
terbentuk karena perubahan ikatan rangkap menjadi ikatan selang seling dari
senyawa MTT menjadi formazan yang menandai bahwa sel tersebut hidup.
(Doyle dan Griffith, 2000).
!"#$% '%($ )*$ +,--."/,$ 01232333441456
7/8"% )93

Gambar 1. Reaksi reduksi MTT menjadi formazan (Nevi, 2009)
3. Cara menghitung jumlah sel hidup pada uji MTT adalah warna biru yang
terbentuk pada konversi MTT menjadi formazan. Konsentrasi formazan yang
berwarna biru dapat ditentukan secara spektrofotometri visibel dan berbanding
lurus dengan jumlah sel hidup karena reduksi hanya terjadi ketika enzim
reduktase yang terdapat dalam jalur respirasi sel pada mitokondria aktif. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin banyak MTT yang diabsorbsi ke dalam sel hidup
dan dipecah melalui reaksi reduksi oleh enzim reduktase dalam rantai respirasi
mitokondria, sehingga formazan yang terbentuk juga semakin banyak. Semakin
besar absorbansi menunjukkan semakin banyak jumlah sel yang hidup.
(Mosmann, 2000)
4. Uji sitotoksik digunakan untuk menentukan parameter nilai IC
50
. Nilai IC
50
menunjukkan nilai konsentrasi yang menghasilkan hambatan proliferasi sel
sebesar 50% dan menunjukkan potensi ketoksikan suatu senyawa terhadap sel.
Nilai ini merupakan patokan untuk melakukan uji pengamatan kinetika sel. Nilai
IC
50
dapat menunjukkan potensi sitotoksik suatu senyawa. Semakin besar harga
IC
50
maka senyawa tersebut semakin tidak toksik. Akhir dari uji sitotoksik dapat
memberikan informasi % sel yang mampu bertahan hidup. (Meiyanto, 2003)
Cara Perhitungan IC50 (Dyaningtyas, 2012)
(1) Melihat perbedaan absorbansi kontrol pelarut dengan kontrol sel. Apakah
absorbansi kontrol pelarut lebih rendah dari kontrol sel atau sama dengan control
!"#$% '%($ )*$ +,--."/,$ 01232333441456
7/8"% )93
(2) Jika absorbansi kontrol pelarut sama dengan kontrol sel maka hitung
prosentase sel hidup dengan rumus berikut : Jika absorbansi kontrol pelarut lebih
rendah dari absorbansi kontrol sel maka hitung prosentase sel hidup dengan
rumus berikut :


DAFTAR PUSTAKA
Doyle, A., dan Griffiths, J. B. 2000. Cell and Tissue Culture for Medical Research. John
Willey and Sons Ltd. : NewYork.
Dyaningtyas. 2012. Cancer Chemoprevention Research Center Fakultas Farmasi UGM.
Meiyanto BS Sugiyanto, , AE Nugroho, UA Jenie. 2003. Aktivitas antikarsinogenik
senyawa yang berasal dari tumbuhan. Majalah Farmasi Indonesia 14 (4), 216- 225
Nevi Y. 2009. Perbedaan biokompatibilitas saponin dari buah sapindus rarak DC dengan
larutan NaOCl 5% sebagai bahan irigasi saluran akar. Proceedings RDM&E-III FKG-
USU. Medan.
Suharni, T. T, S.J. Nastiti, dan A.E.S. Soetarto, 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit
Universitas Atma Jaya. Yogyakarta.