Anda di halaman 1dari 7

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GADJAH MADA

TUGAS
MATA KULIAH FISIKA GUNUNG API



















DISUSUN OLEH :
SEKAR DIRGANTARI HAYUNINGTYAS
FARDY SEPTIAWAN
FAMANIL YULYENTRI
RIFNANIDA RAHMAWATI


YOGYAKARTA
OKTOBER
2014


VOLCANO EDU 2014, Pengenalan Kegunung Apian dan Mitigasi Bencana Gunung
Api
Volcano Edu adalah acara expo yang diselenggarakan oleh BPPTKG Yogyakarta.
Konsentrasi utama BPPTKG Yogyakarta adalah Gunung Merapi yang termasuk ke dalam wilayah
administratif Daerah Istimewa Yogyakarta. Merapi sebagai salah satu gunung api yang aktitasnya
tinggi serta letaknya yang berdekatan dengan pemukiman penduduk membuat gunung ini
menjadi sangat penting untuk dipelajari. Di Volcano Edu ini ditampilkan segala hal yang
berhubungan dengan gunung api, khususnya Merapi. Mulai dari sejarah letusan gunung Merapi,
monitoring aktifitas vulkanik gunung Merapi, perubahan morfologi gunung Merapi, kandungan
kimia dan mineral gunung hingga dokumentasi saat terjadi bencana erupsi.
Sejarah letusan gunung Merapi disajikan dalam bentuk linimasa (timeline) dari tahun ke
tahun. Dari sini dapat diketahui perubahan sifat letusan gunung Merapi. Sifat letusan merapi
sekarang lebih mengarah ke letusan eksplosif.
1. Monitoring Deformasi Gunung Api
a. Permukaan Gunung Api
Permukaan Gunung Api akan mengalami perubahan bentuk akibat naiknya magma
menuju puncak. Perubahan ini biasanya berupa kenaikan,penurunan perubahan kemiringan
lereng atau pengembangan dan penipisan. Perubahan ini terjadi dalam orde yang sangat kecil
yaitu cm atau mikroradian sehingga tidak dapat terjadi dengan mata telanjang. Dalm bebberapa
kasus perubahn dengan orde besar meter hingga puluhan meter terjadi sebelum gunung api
meletus.
b. Metode Pengukuran Linier
Prinsip instument EDM yaitu mengukur waktu penjalaran pulsa gelombang sejak
dipancarkan dan dipantulkan reflektor. Waktu tersebut lalu dikali dengan kecepatan gelombang
infrared yang telah dikoreksi terhadap efek meteorologi sehingga diperoleh jarak reflektor ke
instrument. Kelemahan alat ini tidak dapat digunakan dalam kondisi cuaca buruk
c. Metode GPS
Metode GPS dapat digunakan untuk mengukur deformasi tubuh gunung api. Dengan
suatu sistem radio navigasi yang dimanfaatkan untuk penentuan posisi dengan menggunakan
sinyal satelit secara stimultan. Deformasi dipengaruhi oleh tekana, kondisi batuan, kondisi
morfologi dan aspek aspek lain yang bekerja saat itu. Penerapan survey GPS di Merapi telah
dilakukan sejak 1993 dengan metode statik menggunakan GPS jenis single frequency.
Pengukuran dilakukan terhadap titik titik jaringan EDM. Pengukuran dilakukan minimal sekali
setahun. Pemantuan di Gunung Merapi menunjukkan adanya peruabhan relatif posisi bujur
dengan kecepatan 27mm/tahun dan perubahan vertikal 2mm/tahun. Terdapat 9 stasiun GPS
online di sekitar Gunung Merapi yaitu KLA, DEL, GRWH, PASB, JRAK, SELO, BABA, PLAW dan BTK.
Keunggulan survey GPS :
a. Ketelitiannya mencapai orde milimeter.
b. Tidak terpengaruh cuaca
c. Titik titk jaringan tidak perlu saling terlihat (intervisible)




Alur Kerja


Gambar 1.Stasiun GPS online Deles (DEL) di sisi timur Gunung Merapi
d. Tiltmeter
Deformasi juga dapat dipantau menggunakan alat tiltmeter. Deformasi dapat terjadi
karena adanya desakan magma yang mengakibatkan tubuh gunung mengembang atai
mengempis. Tiltmeter digunakan untuk mengukur perubahan sudut yang terjadi. Tiltmeter
sangat peka terhadap pengaruh lokal dan kondisi puncak yang penuh asap solfatara,
perubahan suhu siang malam yang drastis sering menyebabkan gangguan transmisi dan
sistem catu daya.
e. Metode Gravitasi
Data
digital
Kaciri for
Akuisisi
Data
TLR.exe
Modem Radio
Data
Stasiun
Lapangan


Metode gravitasi mengukur pergerakan massa magma dan menentukan
kedalamannya. Metode gravitasi mengukur anomali gravitasi yang terjadi akibat adanya
perubahan densitas. Magma yang panas akan membuat densitas batuan berkurang sehingga
terjadi anomali negatif jika dibandingkan dengan sekitarnya.
Dari hasil survey yang dilakukan diperoleh nilai gravitasi di titik titik benchmark yang
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari pengukuran yang dilakukan oleh Jerman pada
periode tahu 1997 sampai 2000. Titik pengukuran sejumlah 16 titik dengan titik ikat pada
stasiun di titik JRA0 atau Pos Jrakah.

Gambar 2. Kontur selisih nilai gravitasi antara pengukuran gravitasi VII Desember 2012 dengan pengukuran VI Juli
2012
f. Metode Geomagnetik
Metode geomagnetik mengukur keberadaan magma juga. Suhu magma yang tinggi hingga
mencapai suhu Curie akan mengurangi sifat kemagnetan batuan. Dari hasil pengukuran
geomagnetik diperoleh anomali berkisar -800nT hingga 200nT. Anomali tersebut ddindikasikan
sebagai struktur berupa magma chamber, pipa conduit maupun sesar. Setelah proses kontinuasi
diperoleh anomali dipole regional di sekita puncak Merapi sebesar -400 nT sampai -150 nT
dengan strike N130E dan panjang 3 km yang diperkirakan sebagai magma chamber ataupun vent.
Hasil dari reduksi ke kutub diperoleh anomali sekitar puncak Merapi sebesar -84 nT dengan
strike N130E dan panjang 5 km yang diperkirakan sebagai magma chamber ataupun vent.
Pengukuran kadar gas secara geokimia dilakukan di laboratorium dengan mengambil
sampel gas yang ada di puncak Merapi.
Perubahan morfologi puncak Merapi dari tahun ketahun juga ditampilkan. Setiap kali
kejadian erupsi akan menghasilkan morfologi puncak yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh sifat
letusan dan kekuatan letusan itu sendiri.








2. Metode Umum Pemantauan Lahar
Pada umumnya lahar dapat diamati dengan mudah karena terjadi dipermukaan namun apabila
terlalu jau dan cuaca berkabut maka dibutuhkan suatu cara untuk mendeteksi lahar tersebut.
Berbagai macam cara dan peralatan telah dikembangkan dalam membantu pemantauan
diantarnya:
a. Radar rain gauge
Alat ini memberikan informasi kejadian, pergerakan, dan wilayah yang terdamapak
hingga seluas 60 km x 80 km, namun alat ini relatif mahal dan membutuhkan perawatan intensif
dalam pengoperasian.
b. Curah hujan telemetri radio
Alat ini mengirim data setiap 10 menit digabung dengan pengukuran paras air dan
kecepatan aliran lahar serta diperkuat dengan kamera untuk memberi informasi magnitude dari
lahar.
c. Bentang kawat teflar
Kawat tersebut dibentang diatas sungai secara melintang,apabila terjadi lahar maka
secara otomatis akan membunyikan sirine. Alat ini dapat putus oleh suatu hal yang bukan karena
lahar sehingga memberikan sinyal yang keliru dan harus sering diganti jika lahar tidak hanya
sekali.
d. Acoustic Flow Monitor
Digunakan untuk merekam getaran tanah akibat aliran lahar
e. Pemantauan dengan kamera
Data berupa gambar akan dikirim secara telemetri,pada awalnya alat ini cukup rumit karena
masih menggunakan teknologi analog dengan seiring kemajuan teknologi digital dan protocol
internet membuat pemantaun secara visual lebih mudah.
f. Pemantauan curah hujan
Pemantauan ini digunakan untuk mengetahui intensitas hujan disekitar area yang dipasang
sensor.


Pada expo ini juga ditampilkan dokumentasi dari kejadian erupsi Merapi tahun 2010.
Ditayangkan rekaman berita tv nasional serta foto foto dokumentasi lainnya. Juga ditayangkan
film dokumenter yang berisi tentang kejadian erupsi Merapi.
Acara pendidikan seperti ini sebaiknya diteruskan untuk tahun tahun mendatang.
Bencana Merapi adalah sebuah siklus yang akan terus berulang. Pengenalan mitigasi bencana
perlu dilakukan agar dapat ditanamkan rasa peduli dan sadar bencana sejak dini.





Gambar 3. Model Merapi yang digunakan untuk praktek membuat lava dari soda kue dan asam cuka

Gambar 4. Anak anak antusias membuat noise getaran mikroseismik

Gambar 5. Ruang monitoring seismik dan pemodelan



Gambar 6. Linimasa erupsi Merapi 2010

Gambar 7. Poster aktifitas Gunung Merapi