Anda di halaman 1dari 7

Nama : Muhammad Ihsan Al Hafiz

NIM : 13/348462/TK/40927
Kelas : TFB
Teknik Fisika, Universitas Gadjah Mada

Coal Gasification dan Coal Liquefaction

Batubara merupakan bahan bakar yang selama ini digunakan dalam bentuk padat. Selain
itu ketersediaannya sangat melimpah, terutama di Kalimantan dan Sumatra hingga mencapai 105
miliar ton per tahun. Pemanfaatan batubara selama ini sebagai bahan bakar padat untuk PLTU,
semen dan briket. Salah satu kekurangan batubara bentuknya yang berupa padatan serta memiliki
massa yang besar dengan densitas yang kecil serta kalori yang kecil pula berbeda dengan minyak
bumi yang memiliki nilai kalori yang besar. Untuk menaikan nilai kalori dari batubara tersebut
maka batubara tersebut harus ditingkatkan nilai kalornya dan salah satunya yaitu dengan
dicairkan sehingga dapat digunakan seperti minyak. Pencairan batu bara sebenarnya adalah
proses perubahan wujud dari batu bara padat ke cair dengan suhu dan tekanan tinggi. Untuk
mendapatkan hasil minyak dengan efisiensi tinggi perlu ditambahkan sejumlah gas hidrogen dan
katalis. Batu bara yang digunakan pada proses pencairan ini adalah batu bara muda yaitu lignit
karena memiliki kalori yang sangat rendah sehingga nilai ekonomisnya rendah. Salah satu teknik
untuk merubah batubara menjadi cairan yaitu dengan metode coal gasification dan coal
liquefaction.

A. Coal Gasification
Proses gasifikasi batubara adalah proses yang mengubah batubara dari bahan bakar padat
menjadi bahan bakar gas. Dengan mengubah batubara menjadi gas, maka material yang tidak
diinginkan yang terkandung di dalam batubara seperti senyawa sulfur dan abu, dapat dihilangkan
dari gas dengan menggunakan metode tertentu sehingga dapat dihasilkan gas bersih dan dapat
dialirkan sebagai sumber energi.
Sebagaimana diketahui, saat bahan bakar dibakar, energi kimia akan dilepaskan dalam
bentuk panas. Pembakaran terjadi saat Oksigen yang terkandung dalam udara bereaksi dengan
karbon dan hidrogen yang terkandung dalam batubara dan menghasilkan CO
2
dan air serta energi
panas. Dalam kondisi normal, dengan pasokan udara yang tepat akan mengkonversi semua energi
kimia menjadi energi panas.
Namun kemudian, jika pasokan udara dikurangi, maka pelepasan energi kimia dari
batubara akan berkurang, dan kemudian senyawa gas baru akan terbentuk dari proses
pembakaran yang tidak sempurna ini (sebut saja pembakaran setengah matang). Senyawa gas
yang terbentuk ini terdiri atas H
2
, CO, dan CH
4
(methana), yang masih memiliki potensi energi
kimia yang belum dilepaskan. Dalam bentuk gas, potensi energi ini akan lebih mudah dialirkan
dan digunakan untuk sumber energi pada proses lainnya, misalnya dibakar dalam boiler, mesin
diesel, gas turbine, atau diproses untuk menjadi bahan sintetis lainnya (menggantikan bahan baku
gas alam). Dengan fungsinya yang bisa menggantikan gas alam, maka gas hasil gasifikasi
batubara disebut juga dengan syngas (syntetic gas). Dengan proses lanjutan, syngas ini dapat
diproses menjadi cairan. Proses ini disebut dengan coal liquefaction (pencairan batubara).
Metodenya ada bermacam-macam, antara lain Fischer-Tropch, Bergius, dan Scroeder.
Untuk dapat menghasilkan gas dari batubara dengan maksimal, maka pasokan oksigen harus
dikontrol sehingga panas yang dihasilkan dari pembakaran setengah matang ditambah energi
yang terkandung pada senyawa gas yang terbentuk setara dengan energi dari batubara yang
dipasok.
Coal gasification adalah sebuah proses untuk mengubah batu bara padat menjadi gas batu bara
yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini karbon
monoksida(CO), karbon dioksida (CO
2
), hidrogen (H), metan (CH
4
), dan nitrogen (N
2
) dapat
digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas
kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat emisi
udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat di dalamnya adalah sulfur dan
nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila
mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan
tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan
asam" acid rain. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur
dengan batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal
combustor, beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama
dengan uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat
kecil setara dengan rambut manusia.
Namun saat ini telah dikenal Teknologi baru dalam proses coal gasification, yang dikenal
dengan teknologi Underground Coal Gasification (UCG), mengkonversikan batubara menjadi gas
bakar pada ruang bawah tanah, tidak pada gasifier atau reaktor pada permukaan tanah. Pada
tahun-tahun awal, UCG dikenal dengan reputasi ugly duckling di USA karena menghasilkan
gas yang kualitas nilai kalornya rendah dengan gas hidrogen yang terlalu banyak. Namun,
sekarang bahan bakar hidrogen telah menjadi salah satu energi alternatif, dan orang telah
menemukan kembali potensi dari teknologi UCG.
Dari kegiatan gasifikasi batubara bawah permukaan (UCG) ini diharapkan dapat :
1. Mengoptimalkan penggunaan batubara nasional yang ramah lingkungan
2. Mendapatkan energi baru yang bersih
3. Menambahkan pasokan energi sehingga ketahanan energi nasional terjamin
4. Untuk itu perlu menjajaki kerjasama dengan pihak lain, baik perusahan yang menangani
Batubara maupun Energi

Teknologi UCG tentunya akan dibandingkan dengan metode gasifikasi pada umumnya,
yaitu dengan gasifier pada permukaan. Jika dibandingkan dengan metode gasifikasi pada
umumnya, teknologi UCG tidak memberikan dampak pada lingkungan seburuk metode
umumnya. Selain itu UCG tidak meninggalkan tanah yang terpolusi, yang tentunya akan
membutuhkan harga yang mahal untuk membersihkannya. Creedy (2001) dan Hattingh (2008)
memaparkan beberapa keunggulan UCG:
1. Potensial bagi teknologi gasifikasi yang lebih bersih
2. Mengurangi dampak debu, polusi suara, dan dampak visual pada permukaan tanah
3. Konsumsi air yang lebih sedikit
4. Resiko dari polusi air permukaan lebih kecil
5. Mengurangi emisi metana
6. Tidak ada penanganan yang kotor dan tidak ada pembuangan pada daerah tambang.
7. Tidak ada pencucian batubara
8. Tidak ada penanganan abu (ash)
9. Tidak perlu terdapat stok batubara dan transportasi batubara
10. Daerah pekerjaan yang lebih kecil pada stasiun pembangkit listrik
11. Faktor kesehatan dan keselamatan lebih baik
12. Berpotensi mengurangi biaya kapital dan biaya operasi secara keseluruhan (lebih
ekonomis khususnya untuk skala yang lebih kecil)
13. Tingkat fleksibilitas untuk mengakses mineral tinggi
14. Sumber daya batubara yang dapat dimanfaatkan lebih besar
Namun Hattingh (2008) juga memaparkan beberapa kelemahan teknologi UCG, yaitu:
1. Berpotensi untuk terjadinya kontaminasi
2. Memiliki banyak variasi tekanan operasi dalam rongga reaktor bawah tanah

B. Coal liquefaction
Coal liquefaction adalah terminologi yang dipakai secara umum mencakup pemrosesan
batubara menjadi BBM sintetik (synthetic fuel). Pendekatan yang mungkin dilakukan untuk
proses ini adalah: pirolisis, pencairan batubara secara langsung (Direct Coal Liquefaction-DCL)
ataupun yang secara tidak langsung (Indirect Coal Liquefaction-ICL)

Direct liquefaction (likuifikasi langsung)

Coal Liquefaction Bagian dari plant ini terdiri dari tahap coal cleaning dan preparation
(membuang ash dalam batubara), grinding (penghalusan ukuran, dan drying (pengeringan), coal
liquefaction (tahap pencairan batubara), ekstraksi padatan dan cairan, serta recycle gas hidrogen.
Batubara yang telah dikeringkan kemudian dihaluskan ukurannya dan kemudian dilikuifikasi
pada temperature 750-800
o
F dan tekanan 3200 psig. Kondisi yang sulit tersebut mendorong
proses craking dari batubara untuk menghasilkan liquid dan gas hidrokarbon. Pada umumnya 2
stage system ebulating-bed reactor digunakan dengan feed dan tambahan intermediate dari
hydrogen. Fraksi berat dari liquid produk yang mengandung solid mineral dari batubara
dipisahkan dari nafta dan produk distilat yang kemudian dikirim menuju unit pemisahan liquid-
solid untuk diekstraksi dari solid dengan pelarut superkritis. Fraksi liquid berat kemudian
direcycle menuju liquefaction reactor untuk dikonversi menjadi produk ringan. Hasil Eksraksi
dapat berperan sebagai hidrogen donor yang berfungsi sebagai pelarut dalam proses liquifikasi
batubara direaktor. Gas dikeluarkan langsung dari reaktor dan fraksinasi produk likuifikasi
kemudian dikirim menuju hidrogen dan hydrocarbon gas recovery. Hidrogen yang terecovery
direcyle kembali ke reaktor likuifikasi atau dikirim ke upgarding produk. Gas plant merecover
campuran butane dan propane sebagai produk yang dapat dijual dan menghasilkan fuel gas
(metana dan etana) yang dapat digunakan dalam proses pemanasan dan pembangkit tenaga listrik.
Hydrogen production- Hidrogen dihasilkan dari gasifikasi sebagian feed batubara dan
ekstraksi ash, yang masih mengandung residu karbon. Plant ini terdiri dari unit pembersihan
syngas (syngas clean up) , water-gas shift, dan pemurnian hidrogen untuk menghasilkan hidrogen
dengan kemurnian yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai feed dalam proses likuifikasi
yang terjadi di dalam reaktor. Sebuah unit pemisahan udara (air separation plant) diperlukan
untuk menghasilkan oksigen murni untuk proses gasifikasi. Sebagai alternatif, gas alam dapat
dipakai sebagai penghasil gas hidrogen menggunakan steam methane reforming atau parsial
oksidasi. Harga dan ketersediaan dari gas alam memberikan pilihan terbaik dari generasi
hidrogen.
Product Upgrading - Pada umumnya direct liquid kurang berkualitas jika digunakan
sebagai feed langsung untuk tahap pemurnian petroleum. Oleh karena itu, nafta dan distillate
hidrotreater digunakan untuk meng-upgrade komponen tersebut agar lebih berkualitas. Pengotor
sulfur, nitrogen, dan oksigen didalam raw coal liquid akan dibuang dari proses dan komponen
seperti olefin serta aromatik akan dijenuhkan dan kemudian sebagian lainnya akan dicracking.

I ndirect liquefaction (likuifikasi tidak langsung)

Suatu blok diagram alir untuk sebuah plant indirect liquefaction yang memanfaatkan
sintesis Fisher-Tropsch untuk menghasilkan bahan bakar liquid. Komponen utama dari plant ini
adalah :
Syngas Production Bagian ini terdiri dari coal handling, drying dan grinding yang
kemudian diikuti dengan gasifikasi. Unit pemisahan udara menyediakan oksigen untuk gasifier.
Syngas cleanup terdiri dari proses hydrolysis, cooling, sour-water stripping, acid gas removal,
dan sulfur recovery. Gas dibersihkan dari komponen sulfur dan komponen lain yang tidak
diinginkan sampai pada level yang terendah untuk melindunginya dari downstream catalysts.
Panas yang dipindahkan pada gas-cooling step direcover sebagai steam, dan digunakan secara
internal untuk mensuppli kebutuhan power plant. Proses sour-water stripping akan
menghilangkan ammonia yang dihasilkan dari nitrogen yang ada pada batubara. Sulfur dalam
batubara akan dikonversikan menjadi hydrogen sulfide (H
2
S) dan carbonyl sulfide (COS). Proses
hidrolisis digunakan untuk mengkonversikan COS dalam syngas menjadi H
2
S, yang direcover
pada acid-gas removal step dan dikonversikan menjadi elemental sulfur pada sebuah Claus sulfur
plant. Sulfur yang diproduksi biasanya dijual sebagai low-value byproduct.
Synthesis Gas Conversion Bagian ini terdiri dari water-gas shift, a sulfur guard bed,
synthesis-gas conversion reactors, CO
2
removal, dehydration dan compression, hydrocarbon dan
hydrogen recovery, autothermal reforming, dan syngas recycle. A sulfur guard bed dibutuhkan
untuk melindungi katalis konversi gas sintesis yang dengan mudah diracuni oleh trace sulfur pada
cleaned syngas. Clean synthesis gas dipindahkan untuk mendapatkan hydrogen/carbon monoxide
ratio yang diinginkan, dan kemudian secara katalitik dikonversikan menjadi bahan bakar gas.
Dua cara utama melibatkan konversi ke hight-quality diesel dan distillate menggunakan
Fischer-Tropsch route, atau konversi ke high-octane gasoline menggunakan proses metanol
menjadi gasoline (MTG) . Fischer-Trosch (F-T) syntesis menghasilkan spektrum dari
hidrokarbon paraffin yang ideal untuk diesel dan bahan bakar.
Katalis yang digunakan dalam Fischer-Trops adalah besi atau cobalt. Keuntungan katalist
besi dengan cobalt berlebih untuk mengkonversi coal-derived syngas yang mana besi memiliki
kemampuan mengaktivasi reaksi water-gas shift dan secara internal mengatur low H2/CO ratio
dari coal derived syngas yang diperlukan dalam reaksi Fischer-Trops. Jenis reactor yang
digunakan dalam reaksi F-T adalah fixed-bed tubular reactor dan teknologi ini diaplikasikan di
Shells Malaysian GTL. Sasol juga mengkomersialisasikan teknologi CTL di Afrika Selatan yang
menggunakan Fixed bed reactor, circulating-fluidized bed dan fixed-fluidized bed reactor.
Syngas dan produk F-T yang tidak terkonversi harus dipisahkan setelah langkah sintesis F-T.
CO
2
dapat dipisahkan dengan menggunakan teknik absorbsi. CO
2
dengan kemurnian tinggi
biasanya dibuang langsung ke udara bebas.
Proses pendinginan digunakan untuk memisahkan air dan hidrokarbon ringan (terutama
metana, etana, dan propane) dari produk liquid hydrocarbon yang dihasilkan pada proses sintesis
F-T. Gas hidrokarbon ringan dan gas sintesis yang tidak terkonversi dikirim ke proses hydrogen
recovery.Purge dari fuel gas digunakan untuk menyuplai bahan bakar pada proses CTL. Akhirnya
sisa gas dialirkan ke autothermal reforming plant untuk mengkonversi hidrokarbon ringan
menjadi syngas untuk direcycle ke reaktor F-T.
Product Upgrading - FT liquid dapat dimurnikan menjadi LPG, gasoline, dan bahan
bakar diesel. Pilihan lain adalah melalui partial upgrading seperti yang ditunjukkan dari gambar
2.4 untuk menghasilkan F-T syncrude. Kandungan wax yang tinggi di raw F-T liquid
memerlukan hidroprosessing untuk membuat syncrude yang dapat dialirkan melalui pipa . Pilihan
upgrading minimum termasuk hidrotreating dan hidrocracking dari F-T wax. Produk yang
dihasilkan adalah F-T LPG dan F-T syncrude, yang dapat dikirim ke conventional petroleum
refinery untuk difraksinasi menghasilkan produk yang dapat diolah lebih lanjut.


Referensi:
http://silentdiamlovetekim.blogspot.com/2012/02/proses-liquefaction.html
http://rivarivamaulidya.blogspot.com/2012/10/klasifikasi-sumber-daya-dan-cadangan.html
http://www.geoservices.co.id/silabus%202013/Brosur%20Gasifikasi%20Batubara%20dan
%20UCG.pdf