Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat dalam lingkungan modern memiliki gaya hidup yang lebih
bervariasi. Terlihat dari meningkatnya kebiasaan anak-anak mengonsumsi
makanan dan minuman instan yang mengandung zat asam. Minuman instan yang
banyak digemari anak-anak adalah minuman berperisa, yaitu jenis minuman rasa
buah yang mengandung sedikit sari buah dengah bahan tambahan asam sebagai
penyempurna rasa (Prasetyo, 2005). Minuman berperisa asam yang beredar di
pasaran rata-rata memiliki pH<4,5. Zat asam yang terkandung dalam makanan
dan minuman merupakan faktor utama penyebab terjadinya erosi gigi (Lussi dkk.,
2005).
Prevalensi erosi gigi dilaporkan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Al-manik pada tahun 2002 terhadap 987 anak usia
5 tahun, hasilnya 31% mengalami erosi dan 12% diantaranya mengalami erosi
sampai ke dentin atau pulpa (Baga dkk., 2010). Prevalensi erosi gigi anak secara
umum di Indonesia tidak diketahui, karena masih kurang perhatian dari para
peneliti.
Erosi gigi merupakan proses demineralisasi atau melarutnya mineral email
secara kimiawi dan bersifat menyeluruh pada permukaan gigi. Demineralisasi
yang terjadi disebabkan karena adanya kontak antara permukaan gigi dengan zat-
2



zat yang bersifat asam dan memiliki pH<5 (Bartlett, 2005). Kecepatan proses
demineralisasi dipengaruhi oleh derajat keasaman (pH), konsentrasi asam,
lamanya berkontak dengan asam dan struktur email. Struktur email berupa
kepadatan dan susunan kristal sangat berpengaruh terhadap proses demineralisasi.
Semakin besar kandungan mineral maka kristal email semakin padat dan resisten
terhadap asam (Barkovitz, 2009).
Kandungan mineral utama dari email adalah hidroksiapatit yang terdiri
dari Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
. Hidroksiapatit reaktif terhadap ion hidrogen dengan pH<
5,2-5,5 yang merupakan pH kritis untuk hidroksiapatit. H
+
bereaksi dengan fosfat
(PO
4
3-
) secara cepat membentuk HPO
4
2-
. HPO
4
2-
kemudian tidak dapat
berkontribusi terhadap keseimbangan hidroksiapatit normal, sehingga kristal
hidroksiapatit larut (Dawes, 2003). Kelarutan hidroksiapatit pada gigi desidui
lebih mudah terjadi, kerena mineral yang terkandung pada gigi desidui lebih
sedikit dibandingkan gigi permanen, sehingga gigi desidui lebih mudah
mengalami demineralisasi jika terpapar oleh asam. Secara kristalografis, susunan
kristal gigi desidui juga tidak sepadat gigi permanen (Avery, 2001), sehingga
perlu dilakukan tindakan preventif untuk menjaga kesehatan gigi desidui.
Tindakan preventif dilakukan dengan cara memberikan agen
remineralisasi, contohnya seperti flour dan casein phosphopeptide amorphous
calcium phosphate (CPP-ACP). CPP-ACP merupakan agen remineralisasi terbuat
dari derivat protein susu yang mengandung kalsium (Ca) dan posfat (P). CPP-
ACP berperan sebagai reservoir Ca dan P saat berada pada permukan gigi
3



sehingga dapat memacu terjadinya remineralisasi. CPP yang menstabilkan ACP
akan menyeimbangkan pH plak dengan menguraikan ion Ca dan P yang terdapat
dalam CaHPO
4

sehingga akan meningkatkan hidroksiapatit (Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
)
(McPherson, 2006).
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, CPP-ACP diproduksi dengan
penambahan fluor (F) sehingga menjadi casein phosphopeptide amorphous
calcium fluor phosphate (CPP-ACFP). CPP-ACFP membentuk material baru
dengan flour dalam senyawa nanokompleks. Kelebihan dari CPP-ACFP adalah
peningkatan remineralisasi karena adanya ion F dengan Ca dan P pada permukaan
gigi yang akan berdifusi ke dalam email dan meningkatkan pembentukan
fluoroapatit (Ca
10
(PO
4
)
6
F
2
) (McPherson, 2006). Pembentukan fluoroapatit akan
memperkaya jumlah mineral dalam email, sehingga diharapkan email menjadi
lebih padat dan meningkatkan resistensi kelarutan mineral, serta dapat mencegah
terjadinya demineralisasi (Arnold dkk., 2006).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui
efektifitas aplikasi bahan CPP-ACFP terhadap kelarutan Ca pada gigi desidui
sebagai tindakan preventif terjadinya demineralisasi akibat konsumsi minuman
berperisa asam. Peneliti akan melihat perbedaan kelarutan Ca yang terjadi pada
gigi desidui yang sudah diaplikasikan CPP-ACFP dan tanpa aplikasi CPP-ACFP
dengan pengaliran minuman berperisa asam yang memiliki pH 2,98.


4



B. Perumusan Masalah
Bagaimana pengaruh aplikasi casein phosphopeptide amorphous calcium
fluoride phosphate (CPP-ACFP) terhadap kelarutan Ca gigi desidui pada
minuman berperisa asam?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh aplikasi casein phosphopeptide amorphous
calcium fluoride phosphate (CPP-ACFP) terhadap kelarutan Ca (Ca) gigi
desidui pada minuman berperisa asam.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan nilai kelarutan Ca gigi desidui yang diaplikasikan CPP-
ACFP dan tanpa aplikasi CPP-ACFP pada minuman berperisa asam.
b. Membandingkan nilai kelarutan Ca gigi desidui yang diaplikasikan CPP-
ACFP dan tanpa aplikasi CPP-ACFP pada minuman berperisa asam.
c. Membandingkan mikrostruktur email dari hasil karakterisasi mikrostruktur
dengan menggunakan SEM.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Menambah pengetahuan tentang pencegahan erosi pada gigi desidui.

5



2. Manfaat Praktis
a. Bagi Jurusan Kedokteran Gigi
Memberikan sumbangan informasi dalam rangka mengembangkan
pengetahuan yang berkaitan dengan pencegahan erosi pada gigi desidui.
b. Bagi Peneliti
Menambah wawasan peneliti tentang pengaruh aplikasi CPP-ACFP
terhadap proses remineralisasi gigi desidui yang mengakibatkan gigi
desidui lebih tahan terhadap asam.
c. Bagi Masyarakat
Masyarakat mendapatkan informasi tentang cara pencegahan erosi
pada gigi anak, sehingga akan menurunkan angka kejadian karies dan
meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia.

E. Keaslian Penelitian
Keaslian penelitian yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat
pada tabel berikut (Tabel 1.1).
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No. Judul Pengarang,
Tahun
Persamaan Perbedaan
1.






Pengaruh
Aplikasi Pasta
Casein
Phosphopeptide
Amorphous
Calcium
Phosphate pada
White Spot Gigi
Desidui
Alfia Afanty
Tahun 2009

Menganalisis efek
remineralisasi pada
gigi desidui dengan
penambahan agen
remineralisasi.

Penelitian yang
akan dilakukan
sebagai tindakan
preventif dari erosi
gigi, sedangkan
pada keaslian
penelitian adaah
upaya pengobatan
white spot.
6



Lanjutan Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
2.










Pengaruh
Casein
Phosphopeptide
Amorphous
Calcium
Fluoride
Phosphate
(CPP-ACFP)
dan Lama
Aplikasi Pasca
Pemutihan Gigi
Eksternal
Terhadap
Kekerasan
Email
Jully Rhenny
Tahun 2011
Menggunakan
variabel yang
sama yaitu CPP-
ACFP
Aplikasi pada gigi
yang berbeda
dengan perlakuan
yang berbeda