Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh penambahan
jaringan kelenjar tiroid itu sendiri. Pembesaran kelenjar tiroid ini ada yang menyebabkan
perubahan fungsi pada tubuh dan ada juga yang tidak mempengaruhi fungsi. Struma
merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari, dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang teliti, struma dengan atau tanpa kelainan fungsi metabolisme
dapat didiagnosis secara tepat.
(1,2)
Surey epidemiologi untuk struma endemik sering ditemukan di daerah
pegunungan seperti pegunungan !lpen, "imalaya, #ukit #arisan dan daerah pegunungan
lainnya. $ntuk struma toksika prealensinya 1% kali lebih sering pada &anita dibanding
pria. Pada &anita ditemukan 2%-2' kasus dari 1.%%% &anita, sedangkan pria 1-( dari
1.%%% pria.
(2)
1
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR TIROID
$ntuk mengetahui penyakit dan kelainan tiroid, perlu diingat kembali tentang
anatomi tiroid. !natomi dan fisiologis normal harus diketahui dan diingat kembali
sebelum terjadi perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat berlanjut menjadi suatu
penyakit atau kelainan.
2.1 !natomi )iroid
*elenjar tiroid terdiri dari tiga lobus, yaitu lobus de+tra, lobus sinistra dan
isthmus yang terletak di bagian tengah. *adang- kadang dapat ditemukan bagian keempat
yaitu lobus piramidalis yang letaknya di atas isthmus agak ke kiri dari garis tengah.
,obus ini merupakan sisa jaringan embrional tiroid yang masih tertinggal.
*elenjar tiroid mempunyai berat sekitar 2( - .% gram dan terletak antara tiroidea
dan cincin trakea keenam. Seluruh jaringan tiroid dibungkus oleh suatu lapisan yang
disebut true capsule.
(1,2,.)
2
/askularisasi kelenjar tiroid berasal dari 0
. 1) !. )iroidea superior yang merupakan cabang dari !. 1arotis 2+terna
2) !. )iroidea 3nferior yang merupakan cabang dari !. Subclaia
.) !. )iroidea 3ma yang merupakan cabang dari !rcus !orta
3
Saraf yang mele&ati tiroid adalah 4erus 5ekurens. Saraf ini terletak di dorsal
tiroid sebelum masuk ke laring.
4
2.2 6isiologi )iroid
*elenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang mensekresikan hormon )iroksin
atau )7, triiodotironin atau ). dan kalsitonin. 8i dalam darah sebagian besar ). dan )7 terikat
oleh protein plasma yaitu albumin, )hyro+in #inding Pre !lbumin ()#P!) dan )hyro+in #inding
9lobulin ()9#). Sebagian kecil ). dan )7 bebas beredar dalam darah dan berperan dalam
mengatur sekresi )S". "ormon tiroid dikendalikan oleh thyroid-stimulating hormone ( )S" )
yang dihasilkan lobus anterior glandula hypofise dan pelepasannya dipengaruhi oleh
thyrotropine-releasing hormone ( )5" ). *elenjar thyroid juga mengeluarkan calcitonin dari
parafolicular cell, yang dapat menurunkan kalsium serum berpengaruh pada tulang.
(2,.,7)
6ungsi hormon tiroid antara lain 0
1) meningkatkan kecepatan metabolisme
2) efek kardiogenik
.) simpatogenik
7) pertumbuhan dan sistem saraf
5
BAB III
PEMBAHASAN
Pembesaran kelenjar tiroid atau struma diklasifikasikan berdasarkan efek
fisiologisnya, klinis, dan perubahan bentuk yang terjadi. Struma dapat dibagi menjadi 0
1) Struma )oksik, yaitu struma yang menimbulkan gejala klinis pada tubuh,
berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi
a. 8iffusa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid meliputi seluruh lobus,
seperti yang ditemukan pada 9rae:s disease.
b. 4odosa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid hanya mengenai salah
satu lobus, seperti yang ditemukan pada Plummer:s disease.
6
2) Struma 4ontoksik, yaitu struma yang tidak menimbulkan gejala klinis pada
tubuh, berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi
a. 8iffusa, seperti yang ditemukan pada endemik goiter
b. 4odosa, seperti yang ditemukan pada keganasan tiroid
Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh 0
1) "iperplasia dan "ipertrofi
Setiap organ apabila dipicu untuk bekerja akan mengalami kompensasi
dengan cara memperbesar dan memperbanyak jumlah selnya. 8emikian
juga dengan kelenjar tiroid pada saat pertumbuhan akan dipacu untuk
bekerja memproduksi hormon tiroksin sehingga lama kelamaan akan
membesar, misalnya saat pubertas dan kehamilan.
2) 3nflamasi atau 3nfeksi
Proses peradangan pada kelenjar tiroid seperti pada tiroiditis akut,
tiroiditis subakut (de ;uerain) dan tiroiditis kronis ("ashimoto)
3) 4eoplasma
(2,.,7)
<inak dan ganas
Struma menimbulkan gejala klinis dikarenakan oleh perubahan kadar hormon
tiroid di dalam darah. *elenjar tiroid dapat menghasilkan hormon tiroid dalam kadar
berlebih atau biasa disebut hipertiroid maupun dalam kadar kurang dari normal atau biasa
disebut hipotiroid. 9ejala yang timbul pada hipertiroid adalah 0
Peningkatan nafsu makan dan penurunan berat badan
)idak tahan panas dan hiperhidrosis
7
Palpitasi, sistolik yang tinggi dan diastolik yang rendah sehingga
menghasilkan tekanan nadi yang tinggi (pulsus celler) dan dalam jangka
panjang dapat menjadi fibrilasi atrium
)remor
8iare
3nfertilitas, amenorrhae pada &anita dan atrofi testis pada pria
2+ophtalmus
9ejala yang timbul pada hipotiroid adalah kebalikan dari hipertiroid 0
4afsu makan menurun dan berat badan bertambah
)idak tahan dingin dan kulit kering bersisik
#radikardi, tekanan sistolik yang rendah dan tekanan nadi yang lemah
9erak tubuh menjadi lamban dan edema pada &ajah, kelopak mata dan
tungkai
3.1 Struma Difusa T!si!
"#$
..1.1 8efinisi
Struma difusa toksik dapat kita temukan pada 9rae:s 8isease. Penyakit ini juga biasa
disebut #asedo&. )rias #asedo& meliputi pembesaran kelenjar tiroid difus, hipertiroidi dan
eksoftalmus. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda dengan gejala seperti
berkeringat berlebihan, tremor tangan, menurunnya toleransi terhafap panas, penurunan
berat badan, ketidakstabilan emosi, gangguan menstruasi berupa amenorrhea, dan
polidefekasi ( sering buang air besar ). *linis sering ditemukan adanya pembesaran
kelenjar tiroid, kadang terdapat juga manifestasi pada mata berupa exophthalmus dan
miopatia ekstrabulbi. =alaupun etiologi penyakit 9raes tidak diketahui pasti,
8
tampaknya terdapat peran dari suatu antibodi yang dapat ditangkap reseptor )S", yang
menimbulkan stimulus terhadap peningkatan hormon tiroid. Penyakit ini juga ditandai
dengan peningkatan absorbsi yodium radiokatif oleh kelenjar tiroid.
9ambar 0 penderita penyakit 9raes
..1.2 Patofisiologi
9rae:s 8isease merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kelainan system
imun dalam tubuh, di mana terdapat suatu >at yang disebut sebagai Thyroid Receptor
Antibodies. ?at ini menempati reseptor )S" di sel-sel tiroid dan menstimulasinya secara
berlebiham, sehingga )S" tidak dapat menempati reseptornya dan kadar hormone tiroid
dalam tubuh menjadi meningkat.
..1.. 9ejala *linis
(1,2)
9ejala dan tanda yang timbul merupakan manifestasi dari peningkatan
metabolisme di semua sistem tubuh dan organ yang mungkin secara klinis terlihat jelas.
Peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan kalori, dan seringkali
9
asupan ( intake) kalori tidak mencukupi kebutuhan sehingga terjadi penurunan berat
badan secara drastis.
Peningkatan metabolisme pada sistem kardioaskuler terlihat dalam bentuk
peningkatan sirkulasi darah, antara lain dengan peningkatan curah jantung@ cardiac
output sampai dua-tiga kali normal, dan juga dalam keadaan istirahat. 3rama nadi
meningkat dan tekanan denyut bertambah sehingga menjadi pulsus celerA penderita akan
mengalami takikardia dan palpitasi. #eban pada miokard, dan rangsangan saraf autonom
dapat mengakibatkan kekacauan irama jantung berupa ektrasistol, fibrilasi atrium, dan
fibrilasi entrikel.
Pada saluran cerna sekresi maupun peristaltik meningkat sehingga sering timbul
polidefekasi dan diare.
"ipermetabolisme susunan saraf biasanya menyebabkan tremor, penderita sulit
tidur, sering terbangun di &aktu malam. Penderita mengalami ketidakstabilan emosi,
kegelisahan, kekacauan pikiran, dan ketakutan yang tidak beralasan yang sangat
menggangu.
Pada saluran napas, hipermetabolisme menimbulkan dispnea dan takipnea yang
tidak terlalu mengganggu. *elemahan otot terutama otot-otot bagian proksimal, biasanya
cukup mengganggu dan sering muncul secara tiba-tiba. "al ini disebabkan oleh gangguan
elektrolit yang dipicu oleh adanya hipertiroidi tersebut.
(1,2,.)
9angguan menstruasi dapat berupa amenorea sekunder atau metrorhagia.
*elainan mata disebabkan oleh reaksi autoimun berupa ikatan antibodi terhadap reseptor
pada jaringan ikat dan otot ekstrabulbi dalam rongga mata. <aringan ikat dan jaringan
lemaknya menjadi hiperplastik sehingga bola mata terdorong ke luar dan otot mata
terjepit. !kibatnya terjadi eksoftalmus yang dapat menyebabkan kerusakan bola mata
akibat keratitis. 9angguan gerak otot akan menyebabkan strabismus.
10
9ambar 0 Skema patogenesis penyakit 9raes
..1.7 )atalaksana
(2,.)
)erapi penyakit 9raes ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas@
hipertiroidi dengan pemberian antitiroid, seperti propil-tiourasil ( P)$ ) atau karbima>ol.
)erapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan
yodium radiokatif, atau tiroidektomi. Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi
dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid
besar. Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen
meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.
3.# Struma N%sa T!si!
"#&3$
11
..2.1 8efinisi
Struma nodosa toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus yang
disertai dengan tanda-tanda hipertiroid. Pembesaran noduler terjadi pada usia de&asa muda
sebagai suatu struma yang nontoksik. #ila tidak diobati, dalam 1(-2% tahun dapat menjadi toksik.
Pertama kali dibedakan dari penyakit 9rae:s oleh Plummer, maka disebut juga Plummer:s
disease.
..2.2 Patofisiologi
Penyakit ini dia&ali dengan timbulnya pembesaran noduler pada kelenjar tiroid yang
tidak menimbulkan gejala-gejala toksisitas, namun jika tidak segera diobati, dalam 1(-2% tahun
dapat menimbulkan hipertiroid. 6aktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dari nontoksik
menjadi toksik antara lain adalah nodul tersebut berubah menjadi otonom sendiri (berhubungan
dengan penyakit autoimun), pemberian hormon tiroid dari luar, pemberian yodium radioaktif
sebagai pengobatan.
..2.. 9ejala *linis
Saat anamnesis, sulit untuk membedakan antara 9rae:s disease dengan Plummer:s
disease karena sama-sama menunjukan gejala-gejala hipertiroid. Bang membedakan adalah saat
pemeriksaan fisik di mana pada saat palpasi kita dapat merasakan pembesaran yang hanya terjadi
pada salah satu lobus.
..2.7 )atalaksana
)erapi yang diberikan pada Plummer:s 8isease juga sama dengan 9rae:s yaitu
ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas@ hipertiroidi dengan pemberian
antitiroid, seperti propil-tiourasil ( P)$ ) atau karbima>ol. )erapi definitif dapat dipilih
antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radiokatif, atau
tiroidektomi. Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika
pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar. Pembedahan yang
baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai
terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.
12
3.3 Struma Difusa N't!si!
"1&#&3$
....1 8efinisi
Struma endemik Struma endemik adalah penyakit yang ditandai dengan
pembesaran kelenjar tiroid yang terjadi pada suatu populasi, dan diperkirakan
berhubungan dengan defisiensi diet dalam harian. 2pidemologi 2ndemik goiter
diperkirakan terdapat kurang lebih (C pada populasi anak sekolah dasar@preadolescent
(D-12 tahun), seperti terbukti dari beberapa penelitian. 9oiter endemik terjadi karena
defisiensi yodium dalam diet. *ejadian goiter endemik sering terjadi di derah pegnungan,
seperti di himalaya, alpens, daerah dengan ketersediaan yodium alam dan cakupan
pemberian yodium tambahan belum terlaksana dengan baik
....2 Patofisiologi
$mumnya, mekanisme terjadinya goiter disebabkan oleh adanya
defisiensi intake iodin oleh tubuh. Selain itu, goiter juga dapat disebabkan oleh kelainan
sintesis hormon tiroid kongenital ataupun goitrogen (agen penyebab goiter
seperti intake kalsium berlebihan maupun sayuran familiBrassica).

*urangnya iodin
menyebabkan kurangnya hormon tiroid yang dapat disintesis. "al ini akan memicu
peningkatan pelepasan )S" (thyroid-stimulating hormone) ke dalam darah sebagai efek
kompensatoriknya. 2fek tersebut menyebabkan terjadinya hipertrofi dan hiperplasi dari
sel folikuler tiroid, sehingga terjadi pembesaran tiroid secara makroskopik. Pembesaran
ini dapat menormalkan kerja tubuh, oleh karena pada efek kompensatorik tersebut
kebutuhan hormon tiroid terpenuhi. !kan tetapi, pada beberapa kasus, seperti defisiensi
iodin endemik, pembesaran ini tidak akan dapat mengompensasi penyakit yang ada.
*ondisi itulah yang dikenal dengan goiter hipotiroid. 8erajat pembesaran tiroid
mengikuti leel dan durasi defisiensi hormon tiroid yang terjadi pada seseorang.
Git(r Difus
9oiter difus adalah bentuk goiter yang membentuk satu buah pembesaran yang
tampak tanpa membentuk nodul. #enttuk ini biasa ditemukan dengan sifat non-toksik
(fungsi tiroid normal), oleh karena itu bentuk ini disebut juga goiter simpel. 8apat juga
13
disebut sebagai goiter koloid karena sel folikel yang membesar tesebut umumnya
dipenuhi oleh koloid. *elainan ini muncul pada goiter endemik dan sporadik.
9oiter endemik muncul di tempat yang tanah, air, maupun suplai makanannya
mengandung sedikit iodin, sehingga terjadi defisiensi iodin secara meluas di daerah
teresebut. 1ontoh daerahnya adalah daerah pegunungan !lps, !ndes atau "imalaya.
Sementara itu, goiter sporadik muncul lebih jarang dan dapat disebabkan oleh
berbagai hal, yaitu konsumsi bahan yang menghambat sintesis hormon tiroid atau
gangguan en>im untuk sintesis hormon tiroid yang turun secara herediter.
Pada goiter simpel, terdapat dua fase eolusinya, yaitu hiperplastik dan inolusi koloid.
Pada fase hiperplastik, kelenjar tiroid membesar secara difus dan simetris, &alaupun
pembesarannya tidak terlalu besar (hingga 1%%-1(% gram). 6olikel-folikelnya dilapisi
oleh sel kolumner yang banyak dan berdesakan. !kumulasi sel ini tidak sama di
keseluruhan kelenjar. !pabila setelah itu konsumsi iodin ditingkatkan atau kebutuhan
tubuh akan hormon tiroid menurun, terjadi inolusi sel epitel folikel sehingga terbentuk
folikel yang besar dan dipenuhi oleh koloid. #iasanya secara makroskopik tiroid akan
terlihat coklat dan translusen, sementara secara histologis akan terlihat bah&a folikel
dipenuhi oleh koloid serta sel epitelnya gepeng dan kuboid.
..... 9ejala *linis
(.,7)
Sebagian besar manifestasi klinik berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid.
Sebagian besar pasien tetap menunjukkan keadaan eutiroid, namun sebagian lagi mengalami
keadaaan hipotiroid. "ipotiroidisme lebih sering terjadi pada anak-anak dengan defek biosintetik
sebagai penyebabnya, termasuk defek pada transfer yodium.
....7 )atalaksana
)ujuan dari pengobatan struma endemik adalah untuk mengecilkan struma dan mengatasi
hipotiroidisme yang mungkin ada, yaitu dengan pemberian So, ,ugoli selama 7-D bulan. #ila ada
perbaikan, pengobatan dilanjutkan sampai tahun dan kemudian tapering off dalam 7 minggu.
#ila D bulan sesudah pengobatan struma tidak juga mengecil maka pengobatan medikamentosa
tidak berhasil dan harus dilakukan tindakan operatif.
14
3.) Struma N%sa N't!si!
"1&#&3$
..7.1 8efinisi
Struma nodosa nontoksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik
teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. 3stilah struma
nodosa menunjukkan adanya suatu proses, baik fisiologis maupun patologis yang menyebabkan
pembesaran asimetris dari kelenjar tiroid. *arena tidak disertai tanda-tanda toksisitas pada tubuh,
maka pembesaran asimetris ini disebut sebagai struma nodosa nontoksik. *elainan ini sangat
sering dijumpai sehari-hari, dan harus di&aspadai tanda-tanda keganasan yang mungkin ada.
..7.2 Patofisiologi
Struma nodosa nontoksik dapat juga disebut sebagai goiter sporadis. <ika goiter endemis
terjadi 1%C populasi di daerah dengan defisiensi yodium, maka goiter sporadis terjadi pada
seseorang yang tidak tinggal di daerah endemik beryodium rendah. Penyebabnya sampai
sekarang belum diketahui dengan jelas, bisa terdapat gangguan en>im yang penting dalam sintesis
hormon tiroid atau konsumsi obat-obatan yang mengandung litium, propiltiourasil, fenilbuta>one,
atau aminoglutatimid.
..7.. 9ejala *linis
Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak
ada hipo- atau hipertiroidisme. Bang penting pada diagnosis Struma nodosa nontoksik
adalah tidak adanya gejala toksik yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid,
dan pada palpasi dirasakan adanya pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus.
#iasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular
pada saat de&asa. *arena pertumbuhannya berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar
tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian besar penderita dengan struma nodosa
dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan.
=alaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke
depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya
bilateral. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah
15
kontra lateral. Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan
pernafasan. Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai
akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar.
*eluhan yang ada ialah rasa berat di leher. Se&aktu menelan trakea naik untuk menutup
laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi pada trakea.
..7.7 )atalaksana
)indakan operatif masih merupakan pilihan utama pada Struma nodosa nontoksik.
Eacam-macam teknik operasinya antara lain 0
a. ,obektomi, yaitu mengangkat satu lobus, bila subtotal maka kelenjar disisakan
seberat . gram
b. 3sthmolobektomi, yaitu pengangkatan salah satu lobus diikuti oleh isthmus
c. )iroidektomi total, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar tiroid
d. )iroidektomi subtotal bilateral, yaitu pengangkatan sebagian lobus kanan dan
sebagian kiri, sisa jaringan 2-7 gram di bagian posterior dilakukan untuk
mencegah kerusakan pada kelenjar paratiroid atau 4. 5ekurens ,aryngeus
3.* Karsi'ma Tiri%
"#&3&)$
..(.1 8efinisi
*arsinoma tiroid adalah suatu keganasan (pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang
terjadi pada kelenjar tiroid. *anker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 7 tipe
yaitu0 papiler, folikuler, anaplastik dan meduller. *anker tiroid jarang menyebabkan pembesaran
kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar
nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan
*anker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi
kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon
tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.
..(.2 *lasifikasi karsinoma tiroid
16
1. *arsinoma papiler, karsinoma ini berasal dari sel-sel tiroid dan merupakan jenis paling umum
dari karsinoma tiroid. ,ebih sering terdapat pada anak dan de&asa muda dan lebih banyak pada
&anita. )erkena radiasi semasa kanak ikut menjadi sebab keganasan ini. Pertama kali muncul
berupa benjolan teraba pada kelenjar tiroid atau sebagai pembesaran kelenjar limfe didaerah
leher. Eetastasis dapat terjadi melalui limfe ke daerah lain pada tiroid atau, pada beberapa kasus,
ke paru.
2. *arsinoma folikuler, karsinoma ini berasal dari sel-sel folikel dan merupakan 2%-2( C dari
karsinoma tiroid. *arsinoma folikuler terutama menyerang pada usia di atas 7% tahun.*arsinoma
folikuler juga menyerang &anita 2 sampai . kali lebih sering daripada pria. Pemaparan terhadap
sinar F semasa kanak-kanak meningkatkan resiko jenis keganasan ini. <enis ini lebih infasif
daripada jenis papiler.
.. *arsinoma anaplastik, karsinoma ini sangat ganas dan merupakan 1%C dari kanker tiroid.
Sedikit lebih sering pada &anita daripada pria. Eetastasis terjadi secara cepat, mula-
mula disekitarnya dan kemudian keseluruh bagian tubuh. Pada mulanya orang yang hanya
mengeluh tentang adanya tumor didaerah tiroid. 8engan menyusupnya kanker ini disekitar,
timbul suara serak, stridor, dan sukar menelan. "arapan hidup setelah ditegakkan diagnosis,
biasanya hanya beberapa bulan.
7. *arsinoma parafolikular, karsinoma parafolikular atau meduller adalah unik diantara kanker
tiroid. *arsinoma ini umumnya lebih banyak pada &anita daripada pria dan paling sering di atas
(% tahun. *arsinoma ini dengan cepat bermetastasis, sering ketempat jauh seperti paru, tulang,
dan hati. 1iri khasnya adalah kemampuannya mensekresi kalsitonin karena asalnya. *arsinoma
ini sering dikatakan herediter.
..(.. Perbedaan 4odul )iroid <inak dan 9anas
Sekitar (C struma nodosa mengalami keganasan. 8i klinik perlu dibedakan nodul tiroid
jinak dan nodul ganas yang memiliki karakteristik 0
1. *onsistensi keras pada beberapa bagian atau menyeluruh pada nodul dan sukar
digerakkan, &alaupun nodul ganas dapat mengalami degenerasi kistik dan kemudian
menjadi lunak.
2. Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak, &alaupun nodul yang
mengalami kalsifikasi dapat ditemukan pada hiperplasia adenomatosa yang sudah
berlangsung lama.
17
.. 3nfiltrasi nodul ke jaringan sekitarnya merupaka tanda keganasan, &alaupun nodul ganas
tidak selalu melakukan infiltrasi. <ika ditemukan ptosis, miosis, dan enoftalmus
merupakan tanda infiltrasi ke jaringan sekitar
7. 2%C nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multipel jarang yang ganas.
(. 4odul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurigai ganas terutama yang
tidak disertai nyeri. !tau nodul lama yang tiba-tiba membesar progresif
D. 4odul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
atau perubahan suara menjadi serak.
'. Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang muskulus sternokleidomastoideus
karena desakan pembesaran nodul (#erry:s Sign)
3.+ La',!a-./a',!a- P('(,a!!a' Dia,'sis Struma
"#&3&)$
..(.1 !namnesis
Pada anamnesis, keluhan utama yang diutarakan oleh pasien bisa berupa benjolan di leher
yang sudah berlangsung lama, maupun gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroidnya. <ika pasien
mengeluhkan adanya benjolan di leher, maka harus digali lebih jauh apakah pembesaran terjadi
sangat progresif atau lamban, disertai dengan gangguan menelan, gangguan bernafas dan
perubahan suara. Setelah itu baru ditanyakan ada tidaknya gejala-gejala hiper dan hipofungsi dari
kelenjer tiroid. Perlu juga ditanyakan tempat tinggal pasien dan asupan garamnya untuk
mengetahui apakah ada kecendrungan ke arah struma endemik. Sebaliknya jika pasien datang
dengan keluhan ke arah gejala-gejala hiper maupun hipofungsi dari tiroid, harus digali lebih jauh
ke arah hiper atau hipo dan ada tidaknya benjolan di leher.
..(.2 Pemeriksaan 6isik
18
Pada pemeriksaan fisik status lokalis pada regio coli anterior, yang paling pertama
dilakukan adalah inspeksi, dilihat apakah pembesaran simetris atau tidak, timbul tanda-tanda
gangguan pernapasan atau tidak, ikut bergerak saat menelan atau tidak.
Pada palpasi sangat penting untuk menentukan apakah bejolan tersebut benar adalah
kelenjar tiroid atau kelenjar getah bening. Perbedaannya terasa pada saat pasien diminta untuk
menelan. <ika benar pembesaran tiroid maka benjolan akan ikut bergerak saat menelan, sementara
jika tidak ikut bergerak maka harus dipikirkan kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening
leher. Pembesaran yang teraba harus dideskripsikan 0
- ,okasi0 lobus kanan, lobos kiri, ismus
- $kuran0 dalam sentimeter, diameter panjang
- <umlah nodul0 satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa)
- *onsistensinya0 kistik, lunak, kenyal, keras
- 4yeri0 ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi
- Eobilitas0 ada atau tidak perlekatan terhadap trakea, muskulus sternokleidomastoidea
- *elenjar getah bening di sekitar tiroid 0 ada pembesaran atau tidak
..(.. Pemeriksaan Penunjang
(1,2,.)
Pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam mendiagnosis penyakit tiroid
terbagi atas 0
1. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid. Pemeriksaan untuk
mengetahui kadar ). dan )7 serta )S" paling sering menggunakan
teknik radioimmunoassay (53!) dan 2,3S! dalam serum atau
plasma darah. *adar normal )7 total pada orang de&asa adalah (%-
12% ng@dl. *adar normal untuk ). pada orang de&asa adalah %,D(-
1,' ng@dl.
2. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid.
!ntibodi terhadap macam-macam antigen tiroid yang ditemukan
19
pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. Seperti
antibodi tiroglobulin dan thyroid stimulating hormone antibody
.. Pemeriksaan radiologis
6oto rontgen dapat memperjelas adanya deiasi trakea atau
pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis
pun sudah bisa diduga. 6oto rontgen leher posisi !P dan lateral
biasanya menjadi pilihan.
$S9 tiroid yang bermanfaat untuk menentukan jumlah nodul,
membedakan antara lesi kistik maupun padat, mendeteksi adanya
jaringan kanker yang tidak menangkap iodium dan bisa dilihat
dengan scanning tiroid.
Scanning )iroid dasarnya adalah presentasi uptake dari 3 1.1
yang didistribusikan tiroid. 8ari uptake dapat ditentukan teraan
ukuran, bentuk lokasi dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian
tiroid (distribusi dalam kelenjar). $ptake normal 1(-7%C dalam 27
jam. 8ari hasil scanning tiroid dapat dibedakan . bentuk, yaitu cold
nodule bila uptake nihil atau kurang dari normal dibandingkan
dengan daerah disekitarnya, ini menunjukkan fungsi yang rendah
dan sering terjadi pada neoplasma. #entuk yang kedua adalah &arm
nodule bila uptakenya sama dengan sekitarnya, menunjukkan fungsi
yang nodul sama dengan bagian tiroid lain. )erakhir adalah hot
nodule bila uptake lebih dari normal, berarti aktifitasnya berlebih
dan jarang pada neoplasma.
7. 64!#. Pemeriksaan histopatologis akurasinya G%C. "al ini perlu
diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya
berdasarkan hasil 64!# saja.
..(.7 )indakan Pembedahan
20
3ndikasi operasi pada struma adalah 0
1. Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa
2. Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan
.. Struma dengan gangguan kompresi
7. *osmetik
*ontraindikasi pada operasi struma 0
1. Struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya
2. Struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik lain yang
belum terkontrol
.. Struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit
digerakkan yang biasanya karena karsinoma. *arsinoma yang
demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosisnya.
Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukanreseksi
trakea atau laringektomi, tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher
yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik.
Pertama-tama dilakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan apakah
nodul tiroid tersebut suspek maligna atau suspek benigna. #ila nodul tersebut
suspek maligna, maka dibedakan apakah kasus tersebut operable atau inoperable.
#ila kasus yang dihadapi adalah inoperable maka dilakukan tidakan biopsi
insisi untuk keperluan pemeriksaan histopatologis. 8ilanjutkan dengan tindakan
debulking dan radiasi eksterna atau kemoradioterapi. #ila nodul tiroid suspek
maligna yang operable atau suspek benigna dapat dilakukan tindakan
isthmolobektomi atau lobektomi. <ika setelah hasil P! membuktikan bah&a lesi
tersebut jinak maka operasi selesai, tetapi jika ganas maka harus ditentukan
terlebih dahulu jenis karsinoma yang terjadi.
*omplikasi pembedahan tiroid 0
21
a. Perdarahan dari !. )iroidea superior
b. 8ispneu
c. Paralisis 4. 5ekurens ,aryngeus. !kibatnya otot-oto laring terjadi
kelemahan
d. Paralisis 4. ,aryngeus Superior. !kibatnya suara penderita menjadi
lenih lemah dan sukar mengontrol suara nada tinggi, karena terjadi
pemendekan pita suara oleh karena relaksasi E. *rikotiroid.
*emungkinan nerus terligasi saat operasi
8ata yang kami peroleh dari Poli #edah 5S )k. 33 dr. Soepraoen sebagai berikut 0
22
BAB I0
KESIMPULAN
Struma adalah suatu penyakit yang sering kita jumpai sehari-hari. Sangat penting untuk
melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti dan cermat untuk mengetahui ada
tidaknya tanda-tanda toksisitas yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid dalam
tubuh. #egitu juga dengan tanda-tanda keganasan yang dapat diketahui secara dini.
(1,2)
Selanjutnya adalah menentukan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk menentukan
diagnosis pasti dari jenis struma yang ada. 8engan menegakkan diagnosis pasti maka kita dapat
mnentukkan tatalaksana yang tepat bagi struma yang dialami oleh pasie. !pakah memerlukan
tindakan pembedahan, atau cukup diberi pengobatan dalam jangka &aktu tertentu.
(1,2)
23
DAFTAR PUSTAKA
1. =idjosono, 9aritno, Sistem 2ndokrin 0 #uku !jar 3lmu #edah. 2ditor Syamsuhidayat
5.<ong =#, 2disi 5eisi, 291, <akarta, 1HH' 0 H2(-H(2.
2. *ariadi *S Sri "artini, Sumual !., Struma 4odosa 4on )oksik I "ipertiroidisme 0 #uku
!jar 3lmu Pneyakit 8alam, 2disi *eiga, Penerbit 6*$3, <akarta, 1HHD 0 '('-''G.
.. Schteingert 8aid 2., Penyakit *elenjar )iroid, Patofisiologi, 2disi *eempat, #uku 8ua,
291, <akarta, 1HH( 0 1%'1-1%'G.
7. ,iberty *im ", *elenjar )iroid 0 #uku )eks 3lmu #edah, <ilid Satu, Penerbit #inarupa
!ksara, <akarta, 1HH' 0 1(-1H.
24