Anda di halaman 1dari 183

1

Love in sunset






Luqman Taufiq
2

KEPADA MEREKALAH AKU UCAPKAN
TERIMA KASIH

Selepas dari semua yang telah beliau hendaki, tak luput rasanya diriku berterima
kasih pada-Nya. Terima kasih Tuhan. Yang telah memberikan rahmat dan
hidayahnya kepada diriku. Membiarkanku tetap hidup dan bernafas sehat hingga
saat ini. Terima kasih atas kesempatan yang engkau berikan, dalam
menyelesaikan novel ke duaku ini.

Terima kasih kepada ke dua orang tuaku (Luhmiharso dan Kasiatun), para
pembaca, teman-temanku, orang terdekatku, guru-guruku. Terima kasih banyak.
Aku sangat menyayangi kalian semua, hingga sampai sekarang.




3

DAFTAR ISI

Kepada Merekalah Aku Ucapkan Terima Kasih ........................................... 2
Daftar Isi......................................................................................................... 3
Prolog ............................................................................................................. 5
Selamat Pagi ................................................................................................... 7
Samuel Mengenalkan Sahabatnya.................................................................. 17
Pertemuan Kedua Yang Tak Disengaja ......................................................... 22
Fiki Mengajakku Mencari Novel ................................................................... 29
Potongan-Potongan Masa Lalu Yang Menggangguku .................................. 36
Pertemuan Itu Membuatku Jatuh Cinta .......................................................... 48
Secepat Itu Jatuh Cinta, Secepat Itu Aku Terluka.......................................... 55
Aku Menunggu Cinta Yang Tak Pasti ........................................................... 57
Aku Yakin Dengan Perasaanku Dan Aku Akan Menunggunya .................... 60
Harapanku Terwujud, Dia Telah Kembali ..................................................... 62
Aku Mengajaknya Kerumahku ...................................................................... 72
4

Hari Yang Indah Untuk Cinta Yang Telah Bersemi ...................................... 88
Secepat Itu, Fiki Melamarku .......................................................................... 109
Dua Kejutan Yang Tak Pernah Terlupakan .................................................. 118
Menikahi Fika, Adalah Pilihanku .................................................................. 126
Hari Lamaranku Dengan Fiki ........................................................................ 128
Fika Adalah Adik Kandung Fiki .................................................................... 138
Potongan Masa Lalu Itu ................................................................................. 142
Hari Ini Aku Resmi Mengubur Harapan Itu Hidup-Hidup ............................ 147
Aku Mengutuk Diriku, Mengutuk Harapanku ............................................... 151
Fika Jatuh Sakit .............................................................................................. 158
Kuatkan Dirimu Fika...................................................................................... 162
Bertahanlah Fika ............................................................................................ 166
Selamat Jalan Fika.......................................................................................... 175
Epilog ............................................................................................................. 179
Tentang Penulis .............................................................................................. 183

5


prolog

Rembulan malam yang menampakkan dirinya begitu anggun. Dengan
cahaya sinar yang mempesona dikeheningan malam. Angin yang berhebus
lembut menegaskan suatu roman yang sangat indah. Semilir angin itu melukiskan
suatu malam yang sepi abadi. Disertai rintik-rintik gerimis keci yang semakin
membuat malam ini begitu dingin menggigil. Ya memang dipertengahan bulan ini
telah terjadi pergantian musim yang begitu drastis. Terkadang panas dan
terkadang turun hujan tak menentu. Halilintarpun menggelegar memecahkan
keheningan malam. Terlihat gelap di sudut-sudut rumah. Tanpa penerangan, dan
seisi rumah saat itu memamngvtelah tertidur dan mematikan semua lampunya.
Hanya seberkas cahaya rembulan yang menyusup di balik tirai jendela kamar
seorang gadis.
Fika Anggraini terlihat duduk dan menopang dagunya dengan kedua
tangan. Ia menatap kearah luar cendela. Menatap indahnya rembulan yang
menggantung di langit biru yang sedang mendung. Ia hembuskan nafas
panjangnya. Fikirannya begitu kosong. Hanya terdengar suara tik..tik..tik sebuah
jam beker, dan gemericik hujan yang tiada hentinya. Begitu gelap saat itu. Ia
6

memang sengaja tak menghidupkan lampu kamarnya. Ia merasa sangat kelelahan
dengan rutinitas hari ini. Pekerjaannya yang begitu banyak telah menguras
tenaganya. Fika menatap jam beker, sudah menunjukkan pukul 01.15. Entah
mengapa ia tak bisa memejamkan mata. Padahal sebenarnya tenaganya yang telah
terkuras lebih memudahkan ia untuk cepat tertidur.
Tiba-tiba ia merasakan pening di kepalanya. Rasa pening itu lama
kelamaan menjadi rasa sakit yang tak bisa ia tahan. Dadanya sesak bahkan sulit
sekali untuk bernafas. Fikirannya begitu kacau. Bayangan itu datang lagi.
Telinganya tiba-tiba mendengung. Terdengar suara klakson kereta yang sangat
keras di telinganya. Terlihat pula begitu jelas lalu lalang orang yang berlarian dan
menjerit di fikirannya. Pekikkan suara sirine kebakaran, tangisan beberapa orang
dan teriakan, serasa semua suara tersebut memenuhi telinganya dan fikirannya.
Arrggghhhh.... ia menjambak-jambak rambutnya. Ia tak bisa menahan rasa sakit
kepala yang begitu hebat. Serasa diotaknya ada sebuah bom yang siap meledak
saat itu juga. Bayangan dan suara-suara itu datang lagi, dan selalu muncul di
fikirannya. Entah dari mana datangnya suara dan bayangan itu. Setiap malam,
setiap waktu, selalu ia dihantui oleh suara dan bayangan itu. Padahal jarak antara
rumahnya dan stasiun kereta sejauh tiga ratus meter dan tak pernah terdengar
suara kereta sedekat itu. Tapi anehnya suara itu begitu jelas dan selalu menghantui
jiwanya setiap saat. Fika merasa sangat terganggu akan semua itu. Keadaan
kembali normal. Sampai akhirnya Fika tertidur dalam bayang-bayang yang
menakutkan.
7


Selamat pagi

Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat
pagi begitu segar. Ya...cuaca hari ini sangatlah cerah. Terlihat awan putih yang
menggantung indah diatas langit. Burung-burungpun tak ketinggalan meramaikan
pagi yang cerah ini. Fika bangun dan membuka jendela kamarnya. Ia hirup udara
luar dalam-dalam hingga memenuhi rongga perutnya. Kemudian ia hembuskan
secara perlahan-lahan. Segar.. Fika tersenyum.
Minggu pagi yang indah. Fika merapikan kamarnya yang terlihat sedikit
berantakan. Ia melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 08.30. Fika tertegun
sebentar, sepertinya ada yang ia fikirkan. Fika menggaruk-garuk kepala dan
mencoba untuk mengingat-ingat. Jam delapan pagi, apa yang harus ia lakukan?
Apa yang harus ia kerjakan di hari liburnya? Dengan siapa ia akan pergi hari ini?
Ia teringat sesuatu, merangkai potongan-potongan dalam ingatanya. Samuel.
Jam sembilan,Kafe,Dekat tempat kerjanya. Ia mulai merangkai kata-kata
yang ada di fikiranya. Hari ini Fika ada janji dengan Samuel di kafe dekat tempat
kerjanya jam sembilan. Astaga, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya.
8

Ia kembali menatap jam diding pukul 08.35. Mati aku sekarang! Fika bergegas
menuju kamar mandi untuk mandi secepat kilat. Mengejar waktu agar segera bisa
menepati janjinya. Setelah ia keluar kamar mandi, ia melihat jam dinding kembali.
Pukul 08.50. Kurang sepuluh menit lagi. Ini memang sudah pasti telat. Gara-gara
tidur larut malam, sekarang ia bangun kesiangan. Tak hiraukan akan hal itu. Ia
kenakan baju seadanya tanpa pilih-pilih. Pukul 08.55 Fika bergegas
meninggalkan rumah.
***
Di sebuah kafe, terlihat banyak orang yang berlalu lalang disana. Terlihat
sesosok pria yang sedang duduk sendiri. Ia terus memandangi jam tangannya.
Pukul 09.55. Terlihat ia sedang menunggu seseorang. Sudah hampir satu jam,
apakah dia akan kesini? Pria itu menunggu dengan was-was. Ia menyesap teh
hangat yang telah terhidang, untuk menenangkan dirinya. Ahh.. enak sekali teh
ini? Puji pria dengan teh yang telah ia pesan. Ia kembali menatap ponselya. Ia
mencoba menanyakan keberadaan temannya melalui pesan singkat. Mulai
mengetik SMS. Huh.. aku harap tak terjadi apa-apa dengannya. Ia hembuskan
nafas dalam-dalam dan menaruh ponselnya diatas meja.
Dari arah kejauhan ada seorang gadis yang sedang membuka pintu kafe.
Terlihat sedang mencari- cari seseorang. Memandangi sekeliling orang-orang
yang ada di dalam kafe. Melihat ada seorang pria yang duduk di pojok sendiri, ia
melambaikan tangan dan menghapiri pria tersebut.
9

Maafkan aku Samuel, aku terlambat. Ucap Fika yang merasa bersalah
terhadap Samuel. Samuel hanya diam dan menatap wajah Fika, dengan
mengkerutkan keningnya. Kamu marah ya Sam sama aku? Fika menundukkan
kepala dan menekuk wajahnya didepan Samuel. Samuel tetap terdiam dan
menghembuskan nafas dalam-dalam, kemudian ia memperlihatkan wajah
muramnya.
Sudah satu jam aku menunggumu Fik. Aku kira kamu lupa akan
pertemuan kita kali ini. Wajah samuel datar menatap Fika. Kata Samuel yang
sedikit kecewa dengan Fika yang telat datang. Fika hanya terdiam dan tetap
berdiri didepan Samuel. Ia merasa sangat bersalah telah membuat Samuel
menunggu terlalu lama.
Maafkan aku. Fika menundukkan wajahnya. Dirinya masih diliputi
perasaan bersalah. Fika tak berani menatap wajah Samuel. Ia ketuk- ketukkan
jemarinya perlahan di atas meja.
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Tak apa-apa kan
dengan dirimu Fik? Samuel tertawa getir melihat tingkah laku Fika yang
ketakutan dengannya.
Maafkan aku Sam. Aku bangun kesiangan sehingga aku tak bisa datang
tepat waktu. Fika masih ketakutan jikalau Sam memarahinya. Ia masih
membenamkan wajahnya ke bawah.
Sudahlah Fika. Senyum Samuel menyeringai. Ahh kamu ini kayak baru
mengenalku saja. Kita ini sudah kenal lama bukan? Tak sepantasnya kamu takut
10

denganku. Yang terpenting kamu sudah memenuhi janjimu denganku, aku sudah
sangat senang kawan. Hahaha.. Sam tertawa melihat tingkah Fika yang ketakutan
seperti itu. Ayolah, jangan terlalu sungkan. Ini tadi sebagian dari aktingku.
Penasaran saja dengan raut wajahmu jika ketakutan seperti apa?
Fika tersenyum kecut. Ohh.. jadi kamu tuh tadi ngerajain aku ya Sam.
Dasar cowok resek. Fika gantian yang memarahi Sam sambil memperlihatkan
kekesalan wajahnya.
Sudah deh jangan marah. Aku saja tak marah menunggumu hampir satu
jam. Masak kamu baru aku kerjain sedikit sudah mau makan aku hidup-hidup.
Sindir Sam saat itu.
Aku kira kamu marah beneran denganku Sam. Memang sih aku salah
telah datang terlambat? Makanya itu aku merasa bersalah dengan kamu Sam? Fika
langsung mengambil teh Samuel dan meminumnya.Cleguk..clegukk.
Hey, teh siapa itu yang kamu minum? Teriak Samuel yang menyadari
teh yang ia pesan telah di rebut oleh Fika.
Fika tertawa. Haus Sam. Tak apa ya aku habisin? Fika tetap meneruskan
meminum teh Samuel sampai tetes terakhir. Hmmm.. enak Sam? Fika
mengusap bibirnya yang basah oleh air teh.
Enak ya enak. Tapi gak punyaku juga kali yang di minum. Kamu kan
masih bisa pesan. Gerutu Samuel yang melihat Fika dengan sengaja
menghabiskan tehnya. Cepat- cepat Samuel memalingkan muka karena kecewa.
11

Kelamaan Sam. Keburu aku mati kehausan. Sela Fika
Ahh.. kamu itu tetap saja tak berubah dari dulu. Gadis resek. Samuel
Tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya saat itu. Eh bagaimana keadaanmu
setelah selesai keluar dari rumah sakit minggu lalu? Tanya Samuel kepada Fika.
Sebelumnya Fika pernah dirawat di Rumah Sakit. Ia tiba-tiba pingsan
tanpa tau sebabnya. Dokterpun belum mengetahui penyakit apa yang kini Fika
derita.
Sudah membaik. Akupun sudah mulai kerja seperti biasa. Eh dikantor,
aku tak pernah bertemu dengan Bella pacarmu. Kemana dia? Tanya Fika kepada
Samuel.
Samuel tak langsung menjawab pertanyaan Fika. Ia terlihat murung.
Sesekali ia hembuskan nafas panjangnya. Kata-kata mulai muncul di mulut
samuel. Bella sudah keluar dari kantor selama kamu dirawat dirumah sakit. Ia
akan pindah dari kota ini, dan akan melangsungkan pernikahan.
Oh ya, kenapa kamu tak memberitahuku sebelumnya? Kalian berdua mau
menikah. Sungguh ini suatu kejutan hebat. Selamat ya. Fika mengulurkan
tangannya untuk mengucap selamat kepada Sam. Namun Samuel tak membalas
uluran tangannya. Samuel masih terduduk dan memperlihatkan wajahnya yang
murung. Samuel tak bernafsu dengan ucapan itu. Ia tersenyum getir.
Tak perlu Fika!! Kata Sam dengan nada rendah. Fika menurunkan
tangannya dan terlihat bingung.
12

Loh kenapa Sam, ini berita baik antara kalian berdua. Kenapa kamu
bersedih sobat? Fika menanyakan sikap Sam yang terlihat begitu aneh. Kenapa
Samuel menceritakan kabar Bella mau menikah dengan perasaan yang buruk.
Sebenarnya ia harus senang karena mereka berdua akan menikah.
Bukan dengan diriku. Tapi dengan orang lain. Suara Samuel terdengar
serak. Samuel menundukkan wajahnya. Sepertinya ia sangat kecewa.
Ohh.. maafkan aku. Aku tidak mengetahuinya. Fika merasa bersalah. Ia
tak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Ada apa dengan hubungan
kalian Sam? Fika menatap Samuel dengan dingin.
Aku putus dengan Bella. Sam menghela nafas dalam-dalam.
Fika menyipitkan matanya dan memandangi Samuel dalam-dalam
Bukannya hubunganmu dengan Bella baru berjalan tiga bulan? Kenapa
secepat itu?
Ya aku tau. Tapi mungkin aku bukan pilihan tepat dari orang tuanya.
Bella di jodohkan orang tuanya dengan laki-laki. Yang aku dengar seperti itu.
terlihat Samuel begitu sedih menceritakan hubungannya dengan Bella.
Oh.. seperti kisah Siti Nurbaya saja. Tabahkan dirimu sobat. Aku turut
prihatin dengan dirimu sekarang. Fika mencoba menenangkan perasaan sedih
Samuel.
13

Tiba-tiba ponsel Sam berdering memecah keheningan. Sam cepat-cepat
mengambil ponselnya di meja dan mulai mengetik SMS. Sam terlihat senyum-
senyum sendiri saat itu, bahkan tertawa. Begitu aneh, yang tadinya ia muram
sekarang berubah menjadi ceria. Ia meletakkan ponselnya dan masih melihatkan
senyumannya yang tak jelas.
Kamu kenapa Sam? Kamu sehat bukan? Tanya Fika yang merasa aneh
melihat perubahan sikap Samuel yang begitu drastis.
Ah.. tak apa kawan. Oh ya sampai dimana pembicaraan tadi?
Dari perjodohan Bella Sam. Sahut Fika. Tiba-tiba Sam kembali
menunjukkan wajahnya yang muram. Suasana kembali mendung
Aneh!!! Fika menyipitkan mata memandang Samuel.
Kenapa aneh? Samuel masih tak mengerti dengan perkataan Fika.
Memang benar-benar aneh dengan dirimu Sam.
Ada apa dengan diriku Fik? Samuel tak mengerti.
Kamu tuh kayak musim pancaroba. Sebentar-sebentar panas, sebentar-
sebentar hujan. Sahut Fika
Musim pancaroba? Maksudnya?
Tadi kamu bercerita tentang Bella kamu terlihat sangat sedih. Akupun
turut prihatin dengan keadaanmu. Setelah kamu menerima SMS, wajahmu
berubah drastis menjadi ceria. Seperti orang yang menang undian lotre. Terus aku
14

menanyakan lagi tentang hubunganmu dengan Bella, kamu berubah lagi menjadi
muram. Benar-benar aneh bukan?
Itulah bedanya Cintya dengan Bella. Senyum Samuel menyeringai.
Loh siapa lagi itu Cintya? Tanya Fika, yang sepertinya tak pernah
mendengar nama itu.
Cintya adalah pacar baruku sekarang. Nih kalau mau lihat fotonya.
Samuel memperlihatkan Foto Cintya di ponselya. Terlihat seorang cewek berkulit
putih, dan manis sedang berfoto dengan Samuel.
Hmmmm... Gumam Fika. Ia masih bingung dengan sikap Samuel yang
begitu gampang jatuh cinta terhadap wanita. Terus bedanya apa antara Cintya
dengan Bella? Tanya Fika penasaran.
Cintya itu kisah bahagiaku dan Bella adalah kisah kesedihanku.
Bukannya dulu kamu bilang Bella adalah kisah bahagiamu, dan Wanda
adalah kisah kesedihanmu? Celetuk Fika
Itu empat bulan yang lalu. Semua telah berganti topik sobat. Hahaha..
Samuel tertawa lebar. Dan Fika hanya terdiam melihat sifat sahabatnya yang
membingungkan.
Kamu memang belum sadar juga Sam. Kamu masih seperti dulu. Cowok
Play boy. Fika menyipitkan matanya dan mengacungkan jari telunjuknya kearah
Samuel
15

Hehehehe.. yah inilah diriku. Mati satu tumbuh seribu. Hahahha..
Samuel tertawa terbahak-bahak.
Wah kalau Bella tiba-tiba mati terus kamu pacaran sama seribu cewek,
bisa kiamat mendadak ini bumi. Hahahah.... Fika ikut tertawa. Mereka berdua
tertawa lepas saat itu.
Ponsel Sam berdering kembali. Ia secepat kilat mengambil ponselnya dan
mengangkat telfon.
Hallo.., iya... dengan Samuel, ini dengan siapa..., Hai sob sudah lama tak
pernah melihatmu, bagaimana kabarmu.., akupun baik-baik pula..apa..,
benarkah... kapan... oh sudah sampai sini.. aku ada di sebuah kafe, jika kau mau
kesinilah... sama Fika teman baikku. Di jalan anggrek, kafenya di pojok jalan.. ia
aku tunggu ya sekarang.. sama-sama... Sam menutup ponselnya. Dan kembali
menaruh ponselnya diatas meja. Ia kembali menatap Fika.
Sam.. siapa?? Fika bertanya siapa yang telah menelfon Samuel.
Temenku Fika? Samuel tersenyum kerah Fika.
Bukan cewek lain, Bella mungkin? Wanda atau Cintya?
Bukan Fika, ini sahabat lamaku namanya Fiki? Fiki itu temanku dari
SMA dulu. Dia bekerja di Jakarta. Dan sekarang ia akan datang ke Surabaya
untuk menemuiku.
Sekarang??
16

Iya sekarang, maaf ya Fika. Dia aku suruh datang di kafe ini. Aku harap
kamu tak keberatan dengan rencanaku. Aku bisa mengenalkannya ke kamu. Dia
anaknya asyik kok. Aku yakin kamu bakalan suka dengannya. Jelas Samuel.
Sepertinya Fika tak begitu suka dengan kedatangan sahabat Sam. Ia tak
ingin jika pertemuannya dengan Samuel terganggu dengan orang lain. Fika tak
begitu menyukai dengan orang baru. Tapi Fika tak bisa berbuat apa-apa dengan
keputusan Samuel. Dan sepertinya Samuel begitu yakin bahwa ia akan menyukai
sahabatnya. Dengan kata-kata aku yakin kamu bakalan suka dengannya.
Padahal Samuel juga tahu bahwa ia tak gampang bergaul dengan orang. Terlebih
dengan orang asing. Kenapa Samuel Begitu yakin aku akan menyukainya?
Fikiran Fika mengulang-ulang kalimat terakhir Samuel. Baiklah, aku akan
menerima kedatangan sahabatmu. Seru Fika.








17

Samuel mengenalkan
sahabatnya

Tak beberapa lama ada seorang pria bertubuh tinggi, tampan dan berkulit
putih membuka pintu kafe. Ia terlihat sedang mencari seseorang. Ia pandangi
seluruh kafe. Setelah mengetahui orang tersebut, Samuel melambaikan tangan dan
memanggilnya Hai.. kemari. Seru Samuel. Pria tersebut menuju meja samuel
dan berdiri dihadapannya.
Samuel..? Sapa pria tersebut.
Fiki Ramadan..? Samuel bangkit dari tempat duduknya dan berdiri.
Mereka berjabat tangan dan berpelukan. Sudah lama sekali aku tak pernah
mendengar kabarmu sobat. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sambil menepuk-
nepuk bahu Fiki dan terlihat begitu gembira.
Baik sob. Maafkan aku jika aku tak pernah menghubungimu setelah acara
wisuda kelulusan.
18

Ayo silahkan duduk? Samuel manerik kursi dan mempersilahkan Fiki
untuk duduk. Perkenalkan ini temanku, Fika Anggraini, Fika ini kenalkan teman
yang aku ceritakan tadi, Fiki Ramadan.
Fika.. Fika mengulurkan tangannya.
Fiki..., senang berkenalan dengan anda? Fiki membalas jabat tangan
Fika. Ia tersenyum kearah Fika.
Fiki dan Fika. Eh sepertinya nama kalian kembar ya. Kayak saudara
kembar saja. Hahaha..? Samuel tertawa lebar saat itu. Fiki dan Fikapun juga
tertawa melihat celotehan Sam.
Sebelumnya kamu kerja dimana Fik? tanya Samuel.
Fika menyela pertanyaan Samuel Sebentar, maksud kamu itu bertanya
kepada siapa? Fiki, atau diriku. Fika agak bingung dengan panggilan Samuel, ia
bertanya kepada siapa? Fika, atau Fiki. Mengingat nama mereka berdua hampir
sama. Cuma beda huruf belakangnya saja.
Maaf saya ulangi lagi pertanyaannya. Ehemm.. Samuel berdehem.
Sebelumnya kamu kerja dimana FIKI? Samuel mengulangi kalimat tanyanya.
Tapi kali ini ia perjelas. Pertanyaannya menuju pada sahabat lamanya.
Pertanyaannya untuk Fiki.
Setelah menyadari pertanyaannya ditujukan kepadanya, Fiki langsung
menjawab. Ohh. lulus kuliah aku merantau di Jakarta. Aku bergerak di bidang
19

Event Organiser. Ya sudah lama juga sih aku bergelut di bidang itu. Aku
membantu usaha pamanku.
Aku sudah mendengar itu dari teman-temanmu. Tapi aku tak tahu kalau
kamu merantau ke Jakarta Aku kira kamu sudah di boyong dengan ayahmu ke
Singapura. Senyum Samuel menyeringai. Ia sangat senang sekali bisa bertemu
dengan sahabat lamanya.
Ohh.. tidak Sam. Aku begitu mencintai indonesia. Dan aku dari dulu tak
tertarik untuk kerja di Singapura. Aku lebih suka makanan indonesia.
Yang jelas kamu juga lebih suka cewek indonesia bukan. Hahaha. Sam
kembali tertawa, begitu pula dengan Fiki. Eh.. sepertinya Fika juga pernah cerita
punya saudara di Singapura. Benar bukan? tanya Samuel kepada Fika.
Iya ibuku pernah cerita. Kalau aku juga punya saudara di sana. Tapi aku
tak mengenal dia. Soalnya aku tak pernah bertemu dengannya. Fika teringat
bahwa suatu hari ibunya pernah bercerita kalau ada keluarganya yang tinggal di
Singapura. Fika hanya meng iyakan perkataan ibunya. Fika tak tahu persis siapa
keluarganya itu.
Ohh.. mungkin aku bisa mengajakmu ke Singapura untuk mencari
saudaramu disana? Sahut Fiki dengan penuh semangat.
Hey.. Aku saja tak pernah tahu wajahnya seperti apa? Alamatnya
dimana? Bagaimana kalau acara mencari saudaraku diganti dengan acara jalan-
jalan. Itu mungkin lebih asyik? Kata Fika sambil tersenyum kearah Fiki.
20

Enakan di kamu Fika. Baru kenal Fiki saja sudah mau minta diajak jalan-
jalan. Aku saja yang sudah kenal lama tak pernah diajak jalan-jalan kesana?
Protes Samuel saat itu.
Ya itu keunggulanku dari kamu Sam. Hahaha? Fika tertawa lebar.
Boleh-boleh. Nanti kita sekalian jalan-jalan kesana ya? Lihat karapan
sapi? Sahut Fiki.
Fika menyipitkan matanya dan menatap Fiki. Ia memikirkan kalimat
terakhir Fiki melihat karapan sapi. Fika mulai sadar Eh.. bukannya karapan sapi
itu ada di Madura ya? Masak ada karapan sapi di Singapura. Kamu mau ajak aku
kemana? Ke Singapura atau ke Madura? Fika bingung sambil garuk-garuk
kepala.
Ya jalan-jalannya ke Madura saja lah. Lihat karapan sapi. Hahahaa.. Fiki
kembali tertawa lepas melihat tingkah laku Fika saat itu.
Ahh.. dasar kamu. Semua cowok itu sukanya ngerjain aku. Samuel, dan
sekarang kamu, cowok yang baru ku kenal. Dasar cowok-cowok nakal. Gerutu
Fika saat itu. Samuel dan Fiki kembali tertawa. Fika mengerutkan wajahnya kesal.
Hehehe.. senang bertemu denganmu Fika. Kamu itu sangat cerewet
menurutku. Fiki tersenyum kepada Fika.
Aku cerewet. Dari mana? Sepertinya anda salah orang deh? Sanggah
Fika yang tak mau ia di bilang crewet.
21

Betul Fiki, Temanku yang satu ini memang sangat cerewet. Yah maklum
lah sesuai dengan profesinya. Sahut Samuel.
Memang profesimu apa Fika? Tanya Fiki penasaran.
Dia seorang penyiar radio. Tepatya radio satwa. Hahaha.. Cepat-cepat
Samuel menyela pertanyaan Fiki sebelum Fika menjawabnya.
Really. Its interesting job? Hahaha.. Sahut Fiki dengan terus tertawa.
Tidak-tidak. Enak saja Sam kamu bilang aku penyiar radio satwa. Aku itu
penyiar radio rusak. Hahahha.. puas kamu Sam? Fiki memicingkan matanya ke
arah Samuel dan kembali tertawa.
Hahahahha... lucu-lucu. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Terlihat
sangat akrab diantara mereka bertiga.
Fika teringat dengan kata-kata samuel. "aku yakin kamu bakalan suka
dengannya. Mengapa Samuel begitu yakin aku menyukai orang yang baru aku
kenal? Ternyata anggapan Samuel benar. Ia menyukai teman samuel tersebut.
Fika merasa sangat akrab dengan Fiki. Ia begitu mudah bergaul. Semua tak seperti
bayangannya. Ia menganggap orang yang baru dikenal tak pernah menyenangkan.
Ternyata anggapannya itu salah. Setidaknya aku mempunyai teman baru yang
asyik diajak bicara selain Samuel. Gumam Fika dalam hati. Fika terseyum
menatap Fiki.
22

Pertemuan kedua yang tak di
sengaja

Setelah pertemuan tempo hari di kafe itu, Fika tak pernah bertemu lagi
dengan Samuel. Walaupun mereka berdua satu tempat kerja, namun pembagian
sift siaran yang tak pernah sama membuat mereka jarang sekali bertemu, bahkan
sama sekali tak pernah bertemu.
Sore selepas pulang kerja, terlihat Fika sedang menunggu kereta yang
akan membawanya pulang. Ia berdiri di depan jadwal keberangkatan kereta dan
mencocokkan dengan jam tangannya. Pukul 16.15 dan jadwal kereta berangkat
pukul 16.00. Sial.. keretanya sudah berangkat lima menit yang lalu. Huft.. mau
tak mau aku harus menunggu satu jam lagi. Gerutu Fika. Ia balikkan badan dan
duduk di lobby tunggu kereta. Fika duduk dengan memeluk tas rangselnya yang
terlihat begitu besar. Berat banget ini tas. Merasa keberatan Fika menaruh tas
rangselnya di bawah. Fika mengambil buku novel di tasnya dan ia mulain
membaca dengan asyik.
23

Dari arah samping. Terlihat seorang pria yang sedang berjalan agak cepat
dengan membaca sebuah buku. Sepertinya ia tak melihat kedepan. Ia asyik
dengan buku bacaanya. Ia pun terus berjalan.
Gubraakkkk...glodaakk...@#*!!!!!
Pria itu jatuh terjungkal setelah menabrak tas rangsel besar miliknya. Pria
itu meringis kesakitan, tubuhnya terjerembab di lantai, Pria itu berusaha untuk
bangkit dan berdiri. Fika kaget ketika ada seseorang yang terjatuh setelah
menyandung tas besarnya.
Uppss.. sorry. Aku tak melihat tasmu. Pria itu membenarkan posisi tas
Fika yang telah ia tabrak ke posisi semula.
Fiii.. aduh siapa ya, aku lupa. Fika, eh maksudku Fiki. Ya benar, Fiki
temannya Samuel yang tempo hari kita pernah bertemu. Sahut Fika serasa
mengenali wajah orang yang telah menabrak tas rangselnya. Dan memang benar,
Pria itu adalah Fiki Ramadan, teman Samuel. Mereka tak pernah menyangka jika
akan bertemu kembali. Mereka berdua saling melempar senyum dan berjabat
tangan.
Ohh.. Fika, senang bertemu lagi denganmu. Ngomong-ngomong apa
yang kamu lakukan disini? Tanya Fiki yang begitu senang bertemu dengan Fika
saat itu.
Aku sedang menunggu kereta. Aku habis pulang kerja. Apesnya aku
ketinggalan kereta dan harus menunggu satu jam lagi dari sekarang. Terlihat Fika
24

menekuk wajahnya, ia kecewa akan keretanya yang sudah berangkat lima belas
menit yang lalu. Kalau kamu Fiki, kamu ada perlu apa di stasiun ini? Tanya
Fika.
Aku baru saja pulang dari Jakarta setelah mengurusi kepindahan kerjaku.
Besok adalah hari pertamaku bekerja di Surabaya. Fiki tersenyum.
Ohh.. kamu pindah ke Surabaya. Jadi Welcome to Surabaya, Fiki. Fika
membalas senyuman Fiki.
Ehh.. bagaimana kalau aku mengajakmu makan dulu di warung itu. Selagi
kamu juga sedang menunggu kereta satu jam lagi. Aku traktir deh, sebagai
permintaan maafku yang telah menabrak tas rangselmu. Fiki mengajak Fika
untuk makan di warung pojok stasiun sambil menunggu kedatangan kereta satu
jam lagi. Setelah sampai di warung tersebut, Fiki mengambil daftar menu yang di
tawarkan.
Sepertinya makan ini enak. Fiki menunjuk satu menu Rawon Setan.
Fiki tertawa setelah membaca menu itu. Ia menyodorkan daftar menu ke arah
Fika. Bagaimana menurutmu, kamu mau makan apa?
Terserah kamu deh Fiki. Fika menyerahkan keputusan memilih menu
makan siangnya kepada Fiki.
Fiki mengerutkan keningnya, ia bingung memilih menu apa yang cocok
buat Fika. Oke deh. Kalau terserah aku. Kalau salah menu jangan menyesal ya?
Pak pesan Rawon setan dua porsi Level 5 minumnya es degan. Fiki memanggil
25

pelayan warung. Pelayan warung datang dan mencatat pesanan Fiki kemudian
kembali lagi ke dalam.
Sejenak Fika mengerutkan keningnya. Rawon setan level 5 Fika berfikir
sejenak mengingat menu yang di pesan Fiki adalah Rawon setan level 5. Ia tak
menyangka bahwa Fiki akan memesankan menu itu. Memang sudah menjadi
konsekuensinya, menyeraahkan keputusan memilih makanan kepada Fiki. Mau
tak mau ia harus menerimanya. Ia mengingat lagi Level 5. Ia sadar bahwa level 5
adalah level tingakatan pedas, satu mangkuk rawon dengan lima cabai yang begitu
pedas yang akan ia santap. Waaaa... aku tak suka pedas. Fika ingin sekali
menjerit dalam hatinya. Ia mencoba menenangkan diri. Tenang Fika, tak akan
terjadi apa-apa denganmu. All is well Fika menghembuskan nafas panjang. Tak
apalah. Lagian stok obat diareku masih sangat banyak dirumah. Fika mencoba
menenangkan dirinya.
Kamu tak apa-apa? Tanya Fiki yang bingung melihat wajah Fika
mendadak panik.
Secepatnya Fika tersenyum kearah Fiki. Aku tak apa-apa, aku sangat
suka dengan menu pilihanmu Rawon setan level 5. Sepertinya itu menarik,
Hehehehe.. Fika memaksakan senyumannya yang getir. Padahal ia akan
menduga bahwa nantinya ia akan terkena diare berkepanjangan.
Tak beberapa lama seorang pelayan membawakan dua porsi menu
Rawom Setan level 5 yang masih panas dan dua gelas es degan. Fika hanya
memandang makanan tersebut. Ia menelan ludahnya dan berfikir apa yang akan
26

terjadi setelah makan menu tersebut. Baiklah. Aku makan. Gumamnya dalam
hati. Selamat makan. Fika menyendok rawon dan memasukkan ke dalam
mulutnya. Fiki terus memandangi Fika, ia tersenyum melihat wajah Fika yang
mendadak memerah akibat kepedasan. Woww.. pedas. Huh huh. Fika mulai
berkeringat. Ia tak mempedulikan rasa pedas. Yang ia tahu perutnya sudah
keroncongan dari tadi. Fika terus melahap makanannya. Fiki hanya tersenyum
melihat tingkah laku Fika.
Mau tambah makanan lagi? Tanya Fiki.
Hehehe.. ah sudahlah Fiki. Ini sudah cukup menurutku. Sahut Fika
dengan nada agak malu-malu, sambil tetap mengunyah makanannya.
Tak apa.. mumpung ada yang mentraktirmu sekarang.
Bungkus ya.. hehehe..
Oh. Mau bungkus. Ya sudah aku pesankan.
Ehh tak usah.. aku bercanda Fiki. Ini saja belum habis.
Ya siapa tahu orang tuamu tidak masak di rumah. Jadi lumayan kan buat
makan tengah malan nanti.
Makan tengah malam? Emangnya aku kuntilanak? Hahaha... kamu bisa
aja Fiki. Fika tertawa dan masih sambil mengunyah makanan. Sesekali mulutnya
meniup- niup karena kepedesan. Bahkan bibirnya sudah me merah.
27

Ya memang kamu kuntilanak. Yang kamu makan sekarang, itu
makanannya kuntilanak. Rawon Setan. Sindir Fiki yag dari tadi tersenyum
melihat tingkah laku Fika yang kepedesan.
Ehh.. iya juga ya.. tapi enak banget ya rawonnya. Sambil mengusap
keringatnya akibat kepedasan.
Ya enak lah. Kamu sedang kelaparan dan sedang ku traktir pula. Benar
kan?
Siipp.. benar-benar. Hahaha. Fika tertawa sambil masih mengunyah
makanan.
Mereka terlihat sangat akrab saat itu. Mereka saling bertukar cerita satu
sama lain. Setelah mereka makan, Fiki menuju kasir dan membayar menu
makanan yang dipesan. Fika berdiri di samping Fiki dan tersenyum-senyum,
melihat Fiki yang mau mentraktirnya kali ini. Setelah itu, mereka berdua kembali
ke lobby tunggu kereta.
Makasih ya Fiki atas traktirannya. Fika terlihat senang dengan kebaikan
Fiki yang mau mentraktirnya makan.
Oke deh tak apalah. Aku tahu dirimu selepas kerja pasti sedang kelaparan
hebat. Apalagi mengingat pekerjaanmu kan sebagai penyiar radio satwa.
Hahahah.. Fiki tertawa puas mengejek Fika, dan Fikapun terlihat cemberut dengan
ejekan Fiki saat itu. Terlihat sebuah kereta nampak datang dari kejauhan. Juga
terdengar klakson kereta yang meramaikan suasana di dalam stasiun.
28

Ya sudah deh. Tuh keretamu sudah tiba. Cepat kamu naik, jangan sampai
kamu terlambat lagi nanti. Fiki tersenyum kearah Fika, ia mengacak-acak rambut
Fika. Fika membiarkan rambutnya diacak-acak Fiki, ia terus memandangi dan
tersenyum. Fiki begitu tampan. Gumam Fika dalam hati.
Hati-hati dijalan ya. Ucap Fiki. Fika menaiki kereta dan melambaikan
tangannya ke arah Fiki. Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun.






29

Fiki mengajakku mencari novel

Tanpa ada kata, bila tak ada niatan untuk berucap. Keindahan itu tak akan
selalu nyata dipelupuk mata. Jikalau semua telah tergambar jelas difikiran. Jiwa
akan selalu bertanya dalam hati yang selalu mengisi. Pertemuan pertama akan
menjadi suatu yang indah. Dan pertemuan ke dua akan menjadi hal yang paling
mengesankan. Jika hati sudah menancap pada satu tujuan. Tak ada sesuatupun
yang dapat menghalanginya. Entah apa yang terjadi pada rasa ini. Yang jelas
pertemuan itu membuat hati ini serasa nyaman. Senyaman hembusan angin
malam yang selalu kutunggu kesegarannya.
Sejak pertemuan saat itu, antara Fiki dan Fika terlihat sangat akrab. Tak
jarang mereka saling berkomunikasi. Entah melalui pesan singkat, ataupun saling
telfon-menelfon.
Ponsel Fika bedering.
Hallo..
Hallo selamat pagi. Seru suara Fiki di sebrang telfon.
Selamat pagi Fiki, ada perlu apa?
Apakah hari ini kamu libur Fika? Tanya Fiki
30

Iya... Jawab Fika singkat
Apakah hari ini kamu tidak ada acara?
Tidak...
Apakah hari ini kamu akan berkumpul dengan keluargamu, ataukah mau
jalan-jalan bersama teman-temanmu? Tanya Fiki lagi.
Sepertinya tidak ada rencana
Apakah kamu sekarang sibuk?
Tidak. Jawab Fika singkat
Apakah kamu sekarang sedang sakit dan tak bisa keluar rumah?
Tidak. Aku sehat-sehat saja? Fika mulai sebal dengan pertanyaan-
pertanyaan Fiki.
Apakah kamu...?
Stop. Langsung saja, Fiki mau apa? Fika menyela pertanyaan Fiki yang
dari tadi selalu berputar-putar.
Suasana hening sejenak. Aku mau pergi ke sebuah toko buku. Tapi aku
tak tahu mau ke toko buku mana? Maklum aku sudah lupa jalan di Surabaya.
Apakah kamu orang yang hafal jalan?
Sepertinya aku cukup tahu jalan? Fika berkata bangga.
31

Bagus. Bisakah kamu mengantarku ke sebuah toko buku? Ada beberapa
buku yang ingin aku baca. Eh maksudku ada beberapa buku yang mau aku beli?
Boleh, ide yang bagus. Memang kamu mau beli buku apa? Tanya Fika
yang selalu ingin tahu.
Aku mau beli beberapa novel. Aku ingin beli novel yang berjudul
Penantian di Ujung Jalan, sherlock holmes, 5 cm, Twilight. dan masih banyak
lagi.
Kamu suka novel ya Fiki? Tanya Fika.
Iya aku sangat suka dengan novel. Dan beberapa film. Aku sangat
menikmati semua itu. Bagaimana denganmu Fika?
Akupun juga begitu. Aku juga sangat menggemari novel sepertimu. Dan
sepertinya novel yang kamu sebutkan itu, aku juga sedang mencarinya. Aku
sedang mencari novel Penantian di Ujung Jalan dan Twiight , bagaimana kalau
kita nanti bagi tugas?
Tugas seperti apa Fika?
Aku nanti yang beli novel yang aku cari. Dan kamu nanti yang beli
sherlock holmes dan 5 cm. Nanti kita bisa tukeran novel. Yah itung-itung irit
biaya juga kan? Usul Fika yang sangat pintar masalah irit-mengirit biaya.
Ya. Itu ide yang sangat bagus Fika. Seru Fiki dalam telfon.
Oke.. kita bertemu dimana?
32

Kita bertemu di stasiun kemarin lusa. Jam 9 tepat. Jangan sampai telat
oke.
Oke deh. Sampai bertemu di stasiun ya Fiki?
Ingat jangan sampai telat ya Fika?
Siaappp.... laksanakan perintah.
Sampai bertemu kembali. Bye-bye?
Bye... Fiki menutup telfonya dan bersiap-siap untuk pergi ketempat yang
sudah mereka janjikan.
***
Di stasiun kereta, sudah terlihat Fiki yang sedang duduk di lobi tunggu
kereta. Fiki melihat jam yang tergantung besar di stasiun menunjukkan pukul
09.05. Untung aku tidak terlambat. Gumam Fiki dalam hati. Ia memandangi
setiap kereta yang baru berhenti. Dari arah kejauhan terlihat seorang wanita yang
berparas sangat cantik. Wanita itu berjalan dan mendekati Fiki.
Hai Fiki. Aku harap kamu tak terlalu lama menungguku disini. Sapa
Fika. Ia melirik jam menunjukkan pukul 09.07. Tak begitu terlambat. Fika
tersenyum.
Ohh.. tidak Fika. Baru saja aku menyandarkan diri di kursi ini untuk
menunggumu. Ya sekitar dua menit yang lalu.
33

Ohh. Aku kira, aku akan terlambat dan tak bisa menjalankan perintahmu
untuk datang jam sembilan tepat, di tempat ini. ya memang telat tujuh menit sih.
Pengecualian jika aku juga terlambat. Hahhaa.. lagian ini juga baru telat
tujuh menit menit. Eh bay the way kita mau ke toko buku mana? Tanya Fiki yang
masih bingung mau ke toko buku mana.
Pokoknya. Nanti setelah stasiun ini kita naik bus umum. Fika mulai
menjelaskan rutenya. Fiki hanya diam dengan seksama dan melihat Fika yang
serius menjelaskan. Turun di Rumah Sakit Islam Surabaya. Setelah itu kita jalan
kaki sebentar sejauh dua ratus meter menuju Royal Plaza Surabaya. Jalan terus,
baru setelah perempatan kita belok kanan. Nah setelah masuk Royal Plaza kita
menuju lantai empat pake eskalator, belok kiri terus ada ATM..... Fika terus
menjelaskan rutenya kepada Fiki secara terperinci. Fiki hanya terlihat garuk-garuk
kepala, ia merasa kebingungan dengan rute yang ditunjukkan Fika.
Terus setelah ada ATM kemana? Tanya Fiki menyela pembicaraan Fika.
Setelah sampai ATM tungguin aku dulu. Aku mau ambil uang di mesin
ATM buat beli buku. Fika tertawa menyeringai.
Ohh. Begitu? Fiki bingung sambil garuk-garuk kepala.
Fika melanjutkan penjelasannya lagi. Setelah dari ATM jalan lurus. Nah
di pojok ada toko buku besar. Disitu nanti kita nyari buku. Jelas Fika.
Jadi bingung. Ya sudah lah. Aku ngikut kamu saja. Lagian yang tahu
jalan kota ini kan cuma kamu? Jadi kamu saja yang jadi petunjuk jalannya.
34

Ok deh. Ayo kita lets go!!. Mereka berdua meninggalkan stasiun dan
menuju toko buku yang akan dituju.
Setelah menaiki sebuah bus kota. Seperti rute yang telah diceritakan oleh
Fika. Mereka berhenti di Rumah Sakit Islam Surabaya. Mereka berjalan sejauh
dua ratus meter menuju Royal Plaza Surabaya. Jalan terus dan setelah perempatan
mereka belok kanan. Masuk ke Royal Plaza dan naik eskalator menuju lantai
empat. Belok kiri dan tak lupa setelah menemui mesin ATM, Fika masuk kedalam
dan mengambil uang. Fiki menunggu Fika keluar dari ATM.
Sudah selesai bobol ATM? Tanya Fiki menyindir.
Sudah. Fika tersenyum.
Mereka melanjutkan perjalanannya, mereka jalan terus menuju ke pojok
dan masuk di sebuah toko buku yang telah ditentukan. (Memang sedikit ribet.
Hehehhe..)
Sesampainya di sebuah toko buku. Terlihat mereka berdua sangat sibuk
memilih buku. Sibuk memilah satu demi satu buku-buku yang ada di rak. Fiki
menuju ke sebuah rak buku novel. Ia terlihat sangat serius dengan pekerjaannya.
Ini dia. Fiki berseru. Ia mengambil buku novel 5 cm dan sherlock
holmes seri terbaru. Membolak balik buku itu dan membaca sinopsis sampul
belakang. Bagus nih buku, eh kamu sudah dapet buku apa? Tanya Fiki kepada
Fika. Novel Twilight dan Penantian di Ujung jalan sudah di tanganku. Jawab
Fika.
35

Bagus!! Fiki tersenyum kearah Fika sambil mengacungkan jempolnya.
Fiki menuju ke sebuah rak buku fiksi. Ia tertarik dengan sabuah buku yang
bersampul rapi dan lucu. Fiki mengambil buku yang berada di rak paling atas.
Saat ia akan mengambil sepertinya buku itu agak tertahan. Ada seseorang yang
juga akan mengambilnya. Sedikit adegan tarik menarik terjadi, namun Fiki
mengalah untuk melepaskan buku itu.
Fika!! Fiki kaget ternyata yang menarik buku yang akan diambil adalah
Fika. Fika juga ingin mengambil buku itu. Mereka saling tertawa dengan
tingkahnya masing-masing.
Kamu menginginkan buku ini ya Fiki? Tanya Fika. Kalau mau, cepat
ambil dari tanganku dan langkahi dulu mayatku. Hahahhahaa! Fika tertawa lebar
layaknya sebuah suara nenek sihir.
Oke.. tunggu aku. Aku akan mengejarmu dan mendapatkan buku itu!
Seru Fiki sambil mengejar Fika yang lari membawa buku itu menuju ke kasir.





36

Potongan-potongan masa lalu
yang menggangguku

Setelah mendapatkan novel yang telah di rencakan sebelumnya, mereka
berdua memutuskan untuk mampir di foodcourt sekedar untuk mengisi perutnya
yang kosong dari tadi sudah meronta-ronta. Setelah beberapa jam tenaganya
terkuras habis didalam toko buku.
Mau makan apa? Tanya Fiki menawarkan.
Rawon setan! Usul Fika.
Uupss.. benar-benar kuntilanak orang ini. Fiki tertawa.
Hahaha.. tak apalah biarin. Fika melihat menu yang di tawarkan, namun
sayang daftar nama menu Rawon Setan tak ada di daftar menu. Fika menekuk
wajahnya kecewa. Yang ada cuma Bebek Mercon dan Mie Akhirat. Seru Fika
sambil menunjuk menu makanan.
Gimana? Tak ada Rawon setan disini, kamu mau pilih apa? Tanya
Fiki.
37

Terserah kamu aja deh. Yang penting makan. Hehehe. lagi-lagi Fika
menyerahkan keputusan memilih menu makanan kepada Fiki.
Ya sudah aku yang pesankan. Mbak... Fiki memanggil pelayan. Saya
pesan Mie akhirat level lima, minumnya es oyen. Pelayanpun mencatat apa
yang di pesan Fiki. Eh.. satu lagi mbak.. Fiki kembali memanggil pelayan.
Apa lagi mas? Tanya pelayan tersebut.
Gak pake lama ya? Hehehhee... Fiki tertawa.
Kamu itu Fiki, dasar. Fika tersenyum getir.
Dasar kenapa? Tanya Fiki bingung.
Cowok resek, kayak Samuel.
Hahaha.. ya pastilah, kan kita satu paket, satu angkatan dengan dia. Fiki
mulai membela diri. Oh.. ya acara apa sih yang kamu siarin di tempatmu itu? aku
ingin mendengar ceritamu.
Ohh.. itu, aku menyiarkan acara remaja.
Remaja satwa kah?
Mulai deh anak ini? Gerutu Fika yang mulai manyun.
Hahhaa.. ya sudahlah sekarang kamu cerita deh, biar aku tak
menganggapmu bekerja sebagai penyiar radio satwa.
38

Oke.. ehem,, hem.. Fika mulai mengeluarkan suara khas penyiar radio.
Hai selamat pagi pemirsa, masih tetap stay on di radio remaja, di saluran 99.9
fm. Bagaimana kabar kalian pemirsa? Semoga kalian semuanya baik-baik saja, ya
mungkin ada yang agak pilek atau meler ingusnya karena kemarin sore kehujanan.
Hahaha. Kali ini saya akan menyiarkan acara yang akan ditunggu-tunggu... Fika
diam. Suasana mendadak hening.
Kok tak dilanjutkan, acara apa? Fiki penasaran.
Fika mulai berbicara lagi. Yups.. kali ini saya akan menyiarkan acara
yang kalian tunggu-tunggu, inilah dia Remawa Remaja Satwa. Saya akan
menyiarkan bagaimana keadaan satwa yang ada di kebun binatang Surabaya.
hahahhaa. Fika tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Fiki.
Sumpah lucu banget Fika. Aku rasa kamu tak cocok jadi penyiar radio,
kamu lebih cocok menjadi seorang komedian, atau ikut Stand up comedy. Fiki
masih tak bisa menahan ketawanya.
Ya itu yang harus dipunyai oleh seorang penyiar, biar acara yang
dibawakan tak pernah garing. Jelas Fika. Tak beberapa lama makanan yang
mereka pesan sudah datang.
Selamat makan! Mereka berdua mulai menyantap makanannya.
Fika? Panggil Fiki.
Iya, kenapa Fiki?
39

Bolehkah aku mengantarmu pulang nanti? Sebagai tanda terima kasih
mau menemaniku mencari buku dan jalan-jalan, aku senang sekali bisa jalan
denganmu. You are interesting woman, smart women and...
And crazy women ya? Hahaha.. sahut Fika
Rigth.. Fiki ikut tertawa.
Mau mengantarku kerumah? Emmm.. Gimana ya.. boleh..
enggak..emmm Fika berfikir sejenak. Boleh deh. Hehehhee... Fika
memperbolehkan Fiki untuk mengantar dirinya pulang.
Setelah selesai makan. Mereka berdua meninggalkan Royal plaza. Mereka
naik bus kota yang akan mengantarnya ke stasiun. Setelah itu, perjalanan di lanjut
dengan menggunakan kereta. Akses kereta itulah yang sering Fika gunakan
sehari-harinya. Setelah naik kereta, mereka turun dan melanjutkan perjalannnya
dengan berjalan kaki. Berjalan melewati tanah lapang yang sangat luas. Terlihat
beberapa anak sedang asyik bermain layangan di dekat stasiun kereta. Tak jauh
dari stasiun kereta, terdapat sebuah taman yang sangat indah. Fika mengajak Fiki
untuk mampir sebentar ke taman.
Setelah berada di dalam taman itu, mereka duduk di sebuah kursi panjang
yang ada di samping pohon mahoni besar.
Fika tersenyum saat itu. melihat keceriawan anak-anak yang berada di
taman. Bunga-bunga yang bermekaran membuat taman itu semakin indah. Bunga
mawar, melati, anggrek, dahlia. Bermacam-macam jenis dan warna.
40

Kenapa kamu tersenyum Fika? Tanya Fiki.
Ahh.. tidak. Aku sering sekali pergi ke taman ini dan duduk di kursi ini.
sekedar melihat anak-anak yang sedang bermain, melihat matahari senja, melihat
kakek nenek yang sedang jalan-jalan sore, ataupun sepasang muda-mudi yang
sedang kencan. Aku senang dengan bunga-bunga yang ada disini. Begitu indah
dan terlihat sangat segar. Hampir setiap hari aku selalu menyempatkan diri, ya
setelah pulang kerja. Fika tersenyum melihat sekeliling taman
Begitu nyaman. Fiki menghela nafasnya lega. Memang taman ini
sangat indah menurutku. Akupun juga menyukainya. Kapan kamu pertama kali
mengunjungi taman ini?
Aku tak ingat kapan, yang aku tau itu sudah sangat lama. Mungkin sudah
belasan tahun yang lalu. Sekitar aku umur empat tahun. Orang tuaku selalu
mengajak aku ke sini. Sekedar aku hanya main-main, dan mereka dengan senang
hati menungguku. Ya, aku sering sekali main disini. Dengan teman-temanku,
dengan Samuel, hehehe.. dia begitu lucu waktu kecil. Selalu aku membuatnya
menangis. Entah aku merebut mainannya bahkan aku mencubitnya. Walaupun dia
cowok. Dia gak pernah berani melawanku, padahal dulu aku sangat nakal.
Hahaha... Fika menceritakan masa kecilnya terhdap Fiki. Menceritakan Samuel
dan semuanya yang berhubungan dengan cerita taman itu.
Hehehe.. pasti kalian berdua sangat lucu ya, dulu.
Tiba-tiba fikiran Fika mulai kalut. Dadanya mulai sesak. Potongan-
potongan kejadian itu datang lagi. Suara itu kembali datang. Suara kereta yang
41

sangat keras. Dengan klakson yang memekik telinganya. Bayangan, lalu lalang
orang silih berganti, dengan teriakan sungguh mengerikan. Juga terdengar sirine
mobil pemadam kebakaran. Tubuh Fika bergetar, mendadak berkeringat dingin. Ia
merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Ia tak henti-hentinya menjambak
rambutnya untuk menahan rasa sakit dikepala. Ia sangat tersiksa dengan
bayangan-bayangan itu. Ia pun mengerang kesakitan. Fiki sangat bingung melihat
keadaan Fika yang tiba-tiba seperti itu.
Fika, kamu kenapa? Kamu sakit? Apa yang terjadi dengan dirimu?
Tenangkan dirimu Fika, tenangkan dirimu. Fiki sangat khawatir melihat keadaan
Fika. Ia mencoba menenangakan Fika. Fika tak menjawab. Ia masih sangat
merasakan kesakitan.
Fika, kamu kenapa? Ada apa dengan dirimu? Fika... Fikka.. Fiki
mendekap tubuh Fika. Fika tenangkan dirimu. Fika tak merespon dengan
panggilan Fiki. Ia terlihat sangat menderita. Ia terus menjambak-jambak
rambutnya sendiri. Sepertinya dia merasakan sakit kepala yang begitu hebat.
Tak berlangsung lama, keadaannya mulai membaik, kepalanya yang tiba-
tiba sakit sekarang sudah tak sakit lagi, nafasnya yang tadinya terasa sesak, kini
sudah mulai teratur. Dan suara itu, suara klakson kereta dan bunyi sirine mobil
pemadam kebakaran, sudah tak terdengar lagi di telinganya. Fika berusaha untuk
menenangkan dirinya sendiri. Huuuuuuuhhhh... ia hembuskan nafasnya dalam-
dalam.
Fika.. kamu kenapa? Tanya Fiki yang masih khawatir dengan Fika.
42

Aku tak apa-apa Fiki. Fika tersenyum. Ia mencoba menenangkan
dirinya.
Sebentar.. ya Fika. Fiki mencoba mencari air mineral untuk Fika. Tak
beberapa lama Fiki datang membawa sebotol air mineral.
Fika, ini minumlah... biar kamu bisa tenang. Fiki menyerahkan sebotol
air mineral, dan Fika meminumnya.
Sudah Fiki, makasih banyak ya.
Iya Fika, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang kamu rasakan?
Tanya Fiki.
Sudah membaik Fiki, entahlah mengapa aku sering sekali mengalami hal
seperti ini. Terlebih akhir-akhir ini, setiap sore, setiap malam, bayangan itu selalu
datang. Entah apa maksud dari semua itu. Fika menyeka air matanya. Tak terasa
ia menangis saat itu.
Apa yang kamu rasakan Fika? Fiki mengusap air matanya dan
mendekap tubuh Fika. Tenangkan dirimu. Fika menangis di dekapan Fiki
Fika melepaskan dekapan Fiki. Ia mengambil tissue di dalam tas dan
kembali menyeka air matanya. Fika mulai menceritakan.
Aku merasakan kepalaku sangat pusing, bahkan rasa sakitnya tak bisa
tertahankan. Akupun sulit sekali untuk bernafas. Pandanganku memburam,
setelah itu muncul dalam fikiranku bunyi-bunyian yang membuatku bingung.
43

Bunyi seperti apa? Tanya Fiki penasaran.
Seperti suara kereta dengan klaksonnya yang begitu keras di telinga, lalu
lalang orang dan jeritan-jeritan yang sangat menakutkan. Tiba-tiba aku mendengar
suara sirine yang sangat keras, dan membuat gendang telingaku serasa mau pecah.
Itu yang aku rasakan selama ini Fiki. Fika mencoba menguatkan dirinya, dari
potongan-potongan kejadian yang belum ia mengerti.
Apakah kamu pernah periksa ke dokter? Tanya Fiki.
Aku sudah pernah memeriksakan ke dokter bahkan Psikiater, mereka tak
menemukan penyakit apa yang aku derita. Kata mereka aku pernah mengalami
suatu trauma hebat dulunya. Masalah kejiwaan. Tapi entahlah, mereka tak
mengetahuinya. Setiap aku mengingat-ingat apa yang pernah aku alami, serasa
kepala ini semakin pusing dan bayangan-bayangan itu semakin jelas. Bahkan aku
sampai pernah dibawa kerumah sakit, karena tak sadarkan diri. Jelas Fika.
Sudahlah Fika. Tenangkan dirimu. Yang terpenting sekarang kamu sudah
membaik. Ya sudah ayo aku antar pulang. Fiki mengajak Fika untuk cepat-cepat
pulang, ia tak tega melihat keadaan Fika seperti itu.
Nah disini aku tinggal dan dibesarkan. Fika menunjuk sebuah rumah
yang berwarna hijau, dan di depannya banyak sekali tanaman, membuat keadaan
rumah terlihat sangat asri.
Oh.. ini rumahmu ya? Tak jauh juga dari stasiun kereta. sahut Fiki
dengan berdecak kagum melihat ke asrian rumah Fika.
44

Mari masuk! Fika mengajak Fiki untuk masuk kerumahnya. Tiba-tiba
ponsel Fiki berbunyi.
Fika permisi sebentar, aku mau mengangkat telfon. Fiki minta ijin
kepada Fika.
Iya silahkan Fiki. Fika tersenyum.
Hallo.. iya ada apa... kamu dimana.. ya sudah secepatnya aku menuju
kesana. Fiki memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.
Emmm.. Fika..? Panggil Fiki.
Iya Fiki?
Maaf aku tak bisa mampir ke rumahmu sekarang, soalnya saudaraku ada
masalah dengan mobilnya. Mobilnya mogok dijalan. Aku harus cepat-cepat
menolongnya. Mungkin aku bisa lain kali menerima tawaranmu untuk
berkunjung. Fiki merasa bersalah, tak bisa menerima ajakan Fika untuk mampir
kerumahnya.
Ohh... tak apa Fiki. Next time kamu bisa kok datang kerumahku. Nanti
aku akan kenalin kamu ke orang tuaku. Dan kucing kesayanganku, si putih.
Hehehe.. Fika tersenyum kearah Fiki.
Iya Fika maaf ya. Fiki membalas senyuman Fika.
Iya Fiki tak apa?
Ya sudah, aku pamit dulu.
45

Iya Fiki makasih banyak ya.
Ee... Fika? Panggil Fiki lagi.
Iya Fiki.
Aku... emmm..Ee... hehehhee... Sudahlah, aku pamit, sampai jumpa.
Fiki terlihat bingung mau ngomong apa.
Sampai jumpa Fiki, hati-hati di jalan. Fikipun undur diri.
***
Sudah selesai, mesin sudah aku perbaiki semuanya. Fiki terlihat begitu
lelah setelah memperbaiki mobil Brian sepupunya. Ia mengelap tangannya yang
kotor dengan lap berwarna hujau. Kemudian ia masuk kedalam mobil. Dan
merebahkan tubuhnya di kursi mobil.
Tuh sudah bener mobilmu. Coba nyalakan mesinnya. Fiki menyuruh
Brian untuk menyalakan mesin mobilnya.
Terima kasih banyak Bang, sudah mau menolongku. Ucap Brian yang
merasa senang mesin mobilnya sudah bisa hidup kembali.
Terus. Maksud kedatanganmu ke Surabaya dalam rangka apa? Tanya
Fiki.
Aku mau menjemputmu sekarang Bang.
46

Menjemputku!! Fiki mendadak kaget mendengar kata-kata Brian. Fiki
menelan ludah. Ada apa kamu menjemputku? Mendadak suasana menjadi
serius.
Brian menghembuskan nafas panjangnya. Sepertinya ada masalah besar
yang harus ia ceritakan. Ayah masuk rumah sakit Bang, ia memintaku untuk
menjemputmu. Ayah ingin kamu membantu menyelesaikan pekerjaanya. Brian
tertunduk lesu menceritakan keadaan ayahnya.
Paman sakit, sakit apa dia? Fiki mendadak tegang, sepertinya memang
ada hal buruk yang telah terjadi.
Stroke Ayah kumat. Ia sekarang di rawat di rumah sakit. Kedatanganku
kali ini untuk menjemputmu Bang, memintamu untuk mengurusi Event Organiser
ayah sementara. Ayah tidak mau kalau acara Konser Artis akbar itu nantinya
dibatalkan karena penyakitnya sekarang. Brian terlihat lesu memikirkan keadaan
ayahnya yang sedang sakit. Brian hanya berharap, Fiki mau membantunya. Brian
belum paham betul masalah bisnis ayahnya. Ia masih duduk di bangku SMA.
Brian menatap kedepan dengan kosong. Fikiranya khawatir dengan keadaan
ayahnya.
Fiki menghela nafas panjang. Baiklah aku akan ikut denganmu, aku akan
kembali ke jakarta.
Fiki akhirnya menyerah, dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tapi
sepertinya ia merasa akan kehilangan sesuatu. Ia akan meninggalkan kenangan
indah yang baru ia rasakan di Surabaya. Bagaimana dengan kepindahannya ke
47

Surabaya. Bagaimana dengan Fika. Haaahh.. Fika, kenapa harus nama itu
muncul di fikiranku. Sudahlah, yang terpenting aku akan membantu pamanku.
Aku akan menyelesaikan tugasku, mensukseskan acara pamanku. Konser Artis
Akbar yang telah lama paman idam-idamkan. Gumam Fiki dalam hati.
Terima kasih banyak Bang. Aku sangat berhutang budi kepadamu. Brian
tersenyum kearah Fiki. Ia mulai menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya.
Mereka berdua menuju ke Jakarta.










48

Pertemuan-pertemuan itu
membuatku jatuh cinta

Pertemuan itu, ya.. siapa sangka jika pertemuan demi pertemuan telah
terjadi. Hati yang selalu bertemu dan bertatap muka. Dan tak bisa dipungkiri, hati
ini telah terpikat oleh sesosok pria yang sekarang menjadi teman baru Fika.
Teman yang di perkenalkan oleh sahabatku Samuel. Dan tak bisa dibohongi. Fika
terpikat oleh Pria yang sangat peduli denganya. Entah apa yang telah melandanya,
seakan fikiran ini hanya tertuju padanya, Fiki. Ya.. orang tersebut baru saja ia
mengenalnya.
Fika masih tak beranjak dari tempat duduknya, ia menatap jam dinding di
pojok ruang kerja. Pukul 16.15 Ia teringat akan sesuatu, ketika ia telat naik
kereta dan tak sengaja bertemu dengan Fiki. Hemm.., kenapa fikiran ini selalu
memikirkan Fiki? Aku tak tahu akan perasaanku, yang aku tahu aku begitu
menyukai cara dia berbicara, aku begitu suka dengan senyumannya. Dan yang
paling aku suka adalah perhatiannya. Apakah aku memang benar benar suuu...
Fika memukul-mukul kepalanya dengan sebatang pensil. Ah.. tidak,
tidak,tidak,tidak. Aku tak boleh terlalu cepat jatuh cinta dengan seorang pria.
49

Apalagi Fiki yang baru beberapa minggu aku mengenalnya. Tapi mengapa aku
selalu memikirkannya? Mengapa aku tak bisa melupakan wajahnya? Huuhh..
Fika menghela nafas panjangnya.
Fika menatap kalender. Pandangannya tertuju pada tanggal 8 Desember. Ia
teringat, pada tanggal 8 Desember itulah Samuel memperkenalkan Fiki
kepadanya. Ya awal mula ia merasa risih dengan kedatangan teman samuel yang
tidak begitu ia kenal. Tapi kenapa Samuel begitu yakin bahwa dirinya akan
menyukai teman lamanya. aku yakin kamu bakalan suka dengannya. Ya aku
teringat dengan kata-kata Samuel waktu itu, kenapa Samuel begitu yakin aku
menyukainya? Padahal aku... huhhhh.. Fika kembali menghembuskan nafas
panjangnya. Memang aku sangat menyukainya. Fika terseyum kegirangan.

***

Hari ini selepas dari jadwal siaran, Fika memutuskan untuk tidak langsung
pulang ke rumah. Ia ingin sekali merilekskan pikirannya di salah satu kafe dekat
tempat ia bekerja. Fika duduk seorang diri di salah satu meja pojok kafe. Tak
begitu ramai suasana kafe saat itu. Terlihat ia sedang menikmati secangkir teh dan
memainkan ponselnya. Tak beberapa lama dari arah kejauhan terlihat seseorang
memanggilnya.
50

Fika. Ngapain kamu disitu? Samuel menghampiri Fika. Ia menarik kursi
dan duduk disamping Fika
Ohh.. Samuel. kamu dari mana saja, sudah satu minggu aku tak pernah
melihatmu. Fika menatap samuel dan tersenyum. Ia sangat kengen dengan
Samuel. Sudah beberapa hari ia tak pernah bertemu dengannya.
Maafkan aku Fik. Satu minggu ini aku ditugaskan oleh bosmu ke
Jakarta. Jelas samuel.
Ke Jakarta? Ada acara apa? Tanya Fika penasaran.
Liburan. Samuel tertawa dengan perasaan bangga.
Jahat.. Fika menggerutu iri.
Kenapa? Tanya Samuel.
Jahat kamu gak ngajak aku. Fika terlihat manyun. Ia iri dengan Samuel
yang mendapatkan hadiah dari bossnya jalan-jalan.
Hahahhaa... kamu itu, baru aku tinggal satu minggu aja sudah kangen.
Sindir Samuel.
Bukan kangen, tapi aku ngiri sama kamu, kamu diajak liburan, tapi aku
tidak. Gerutu Fika yang sepertinya tak rela melihat Samuel liburan.
Ahh.. kamu ini Fik. kayak tak pernah kenal pak Handoyo bossmu itu.
Memang kenapa Sam? tanya Fika.
51

Kamu percaya kalau aku liburan ke Jakarta? Tanya Samuel.
Enggak!
Lah makanya itu, sudah tau bossmu itu gak akan pernah ngajak
karyawannya buat berlibur. Pak Handoyo itu kan terkenal pelit dan perhitungan.
Hehehhee.. iya juga, lah terus kamu ke Jakarta ada pekerjaan apa?
Tanya Fika penasaran.
Aku itu di suruh bosmu buat ngawasin bisnis barunya.
Bisnis apa?
Bisnis bakpia goreng. Hahhhaaa..
Emang ada kah bakpia goreng? Tanya Fika.
Ya gak adalah. Kamu itu aku bohongin percaya saja. Begini, aku disuruh
buat ngawasin radionya yang ada di Jakarta, ada renovasi. Jadi aku aku ditugasin
kesana. Jelas Samuel.
Ngawasin atau jadi kuli bangunan di sana? Fika tertawa menyindir.
Awalnya disuruh ngawasin.Tapiakhirnya sih boss nyuruh aku bantu-
bantu. Jadi kuli deh disana. Huuuhh.. Gerutu Samuel.
Hahahahaa... rasain tuh, emang enak di akalin boss. Aku sih gak mau
Sam jadi kuli. Hehehhee.. Fika menertawai Samuel.
52

Resek.. kamu Fik, ngerti gitu aku gak bakalan cerita ke kamu. Gerutu
Samuel lagi.
Siapa suruh kamu pamer ke aku kalau rekreasi. Yah ujung-ujungnya jadi
kuli bangunan tuh di sana. Ini ceritanya naik pangkat atau turun pangkat ya?
Hehehhee.. Fika masih meledek Samuel.
Ahh.. yang penting bagiku tugas di luar kota. Tiba-tiba posel Samuel
berbunyi.
Hallo.. Fiki, ada apa... oh... aku sudah kembali dari Jakarta. Kenapa.. loh
kamu sekarang ke Jakarta. Ada apa kamu kembali ke sana? Kan katanya kamu
pindah ke Surabaya....., oh begitu... tabahkan hatimu ya Fiki, tetap semangat......,
aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu... sampai jumpa. Da.. Pembicaraan
telfon berakhir.
Ada apa? Tanya Fika.
Fiki menelfon. jelas Samuel
Fiki, dia kenapa? Terlihat wajah Fika yang cemas mendengar
pembicaraan Samuel dengan Fiki barusan.
Dia balik ke Jakarta.
Loh... katanya pindah tugas ke Surabaya, kenapa kok tidak jadi? Wajah
ceria Fika mendadak berubah menjadi mendung yang siap menumpahkan air
hujan.
53

Ada masalah dengan kantor pusatnya. Jadi ia disuruh kembali ke Jakarta
untuk menyelesaikanya. Jelas Samuel.
Fika menggigit bibirnya perlahan. Ia syok mendengar kabar tersebut. air
matanya hampir saja jatuh. Tapi ia menahannya.
Sampai kapan Sam? Fika menahan tangis.
Aku tak tahu Fika, yang jelas ia tadi berpamitan denganku.
Ohhh... Tak terasa Fika berlinang air mata mendengar kabar tersebut.
Fika...? Tanya Samuel.
Iya.. Cepat-cepat Fika menyeka air matanya yang telah terjatuh.
Fiki juga menitipkan salam buat kamu.
Sudahlah.. aku pulang Sam. Maaf.. Tiba-tiba Fika meninggalkan Samuel
begitu saja. Perasaannya begitu kacau. Kabar kalau Fiki kembali ke Jakarta
membuat hatinya hancur berkeping-keping. Perasaan cinta yang begitu cerah
mendadak mendung. Dan sekarang air matapun jatuh tetes demi tetes.
Fika... Fika... Samuel berteriak terus memanggil Fika. Tapi tak
sedikitpun Fika mempedulikan panggilannya. Ia terus melangkahkan kakinya
meninggalakan kafe itu.
***
Di jakarta..
54

Fiki menelfon samuel. Hallo Samuel.. sekarang aku ada di jakarta.. ada
masalah penting yang membuatku kembali ke Jakarta.
Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati Fiki yang sedang menelfon.
Gerak-geriknya begitu mencurigakan.
Aku akan menjelaskan nanti.. Salam buat Fika. Ucap Fiki. Tiba-tiba
orang yang mencurigakan itu berlari menuju ke Fiki. Ia menabrak Fiki hingga Fiki
terpental jatuh.
Maaf mas.. maaf, aku tak sengaja. Pria misterius itu meminta maaf dan
terburu-buru meninggalkan Fiki.
Sial.. sudah nabrak tak mau tanggung jawab pula. Padahal aku ingin
sekali ngomong dengan Fika. Mau menjelaskan semuanya ke Fika tentang
kepergianku sementara ini. Ehh.. ngomong ngomong ponselku dimana? Fiki
merogoh saku untuk mencari ponselnya. Ponselku mana? Ponselku. Atau jangan-
jangan. HEEYY MALIIIIINNG... JAMBREETTT.. Fiki berteriak kencang dan
berusaha untuk mengejarnya. Namun sayang ia tak bisa mengejar jambret yang
telah membawa ponselnya itu.




55

Secepat itu jatuh cinta ,
secepat itu aku terluka

Malam ini begitu sunyi. Terlihat Fika duduk di kursi taman favoritnya
seorang diri. Ia melihat kearah langit-langit taman, dimana langit yang sangat
cerah dihiasi oleh bulan dan bintang. Terlihat begitu indah. Namun sayang
keadaan yang indah itu tak seperti hatinya. Ia masih menangis sejak tadi sore. Ia
tak bisa menghentikan air matanya yang terus menerus jatuh. Yang terdengar
hanyalah isak tangisnya dan suara serangga malam di taman itu.
Mengapa dengan diriku. Mengapa aku begitu lemah sekarang. Hanya
karena suatu rasa yang tak penting. Arrrggghhh.. persetan dengan jatuh cinta.
Kenapa aku harus merasakan sakit hati sebelum aku merasakan cinta. Cinta telah
membuat orang bahagia. Tapi cinta telah membuat banyak orang sakit hati.
Kenapa aku, begitu cepat jatuh cinta dengan seorang pria yang baru saja aku
mengenalnya. Pria yang jelas-jelas belum terlalu mengenalnya. Aku begitu cepat
merasakan jatuh cinta. Tapi sebelum bunga itu mekar dan berkembang. Bunga itu
telah hilang. Kenapa dia tak menelfonku, atau sekedar berpamitan? Kenapa harus
lewat Samuel? Setidaknya dia bisa berpamitan denganku. Biar hati ini tak terlalu
56

sakit. Atau aku telfon saja orang itu. Fika mengambil ponselnya dalam tas dan
mengetik nama Fiki. Ahh.. buat apa aku menelfon dia, dia yang pergi, kenapa tak
dia saja yang punya inisiatif buat menelfonku. Tapi... hiks.. hiks. Aku tersiksa
dengan perasaan ini. ibu.... hiks.. hiks.. Fika kembali menangis saat itu. air
matanya terus berlinang.
***

Sesampainya dirumah ia mencari ibunya
Ibu.... hiks.. hiks.. Fika memeluk ibunya dan menangis.
Kamu kenapa nak kok menangis?
Dia ninggalin aku bu... Fika terus menangis.
Dia siapa? Pacarmu? Tanya ibu Fika.
Bukan bu. Dia..
Dia siapa? Tanya ibunya yang masih bingung terhadap Fika.
Sudahlah bu.. Fika mennghapus air matanya.
Ya sudah.. sekarang kamu istirahat gih, tenangin dirimu.
Iya bu.. selamat malam.
Selamat malam anakku sayang Fika menuju kamar dan menutup pintu
kamarnya.
57

Aku menunggu cinta yang tak pasti

Cinta yang telah tumbuh tak bisa dengan mudah untuk dicabut. Meskipun
tumbuhnya cinta tak membuat kita berbesar hati. Semakin kita mencoba untuk
membuang jauh-jauh, semakin kuat fikiran itu melekat. Hari ini adalah hari
dimana Fika merasakan patah hati, meskipun ia belum sempat untuk menyatakan
cintanya kepada Fiki, tapi dengan kepergian Fiki membuat Fika tak punya
harapan lagi atas cintanya.
Seperti hari-hari biasa, Fika disibukkan dengan jadwal siarannya di Radio.
Kejadian kemarin masih menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.
Fika.. kamu sakit ya? Tanya Dewi kepada Fika.
Iya.. aku agak gak enak badan Wi.
Ada masalah apa denganmu? tumben sekali kamu terlihat murung hari
ini. Dan aku rasa hari ini, aku tak melihat Fika yang selalu ceria dan jutek. Tapi
walaupun kemarin kamu sakit, kamu tak semurung hari ini. Ada apa sebenarnya
Fika? Dewi menayakan keadaan Fika yang tiba-tiba berubah tak bersemangat
seperti hari-hari biasa.
Aku tak apa Dewi?
58

Cerita saja ke aku Fika, siapa tau aku bisa menjadi teman curhatmu. Oh
ya.. katanya kemarin kamu sedang jatuh cinta dengan seorang pria, bagaimana
ceritanya? Ayo kamu masih punya hutang cerita ke aku. Dewi membujuk Fika
agar mau bercerita kepadanya.
Sudahlah wi, aku gak jadi jatuh cinta. Fika cemberut.
Loh.. kok gak jadi, secepat itu kamu merubah perasaanmu?
Dia telah pergi wi, dia pergi sebelum aku sempat menyatakan cintaku,
hiks.. hiks.. Fika kembali meneteskan air matanya.
Sudah-sudah. Cup..cup.. cupp, anak cantik, gak usah nangis ya? Dewi
mencoba untuk menenangkan Fika dan menyeka air matanya.
Aku jatuh cinta ke dia, entah mengapa fikiranku penuh dengan namanya.
Tapi apa, dia secepat itu meninggalkanku. Bahkan sebelum aku menyatakan
perasaanku. Fika memeluk Dewi dan menangis tersedu-sedu.
Sudahlah Fika, kalau memang dia jodohmu, nanti dia akan kembali lagi
ke kamu. You must move on! Kayak cowok hanya dia aja. Kamu itu cantik, cewek
baik Fika, pastinya kamu akan mendapatkan cowok yang baik pula. Dewi
mencoba menenangkan Fika.
Tapi aku harus bagaimana Wi? Apa aku harus memendam cinta ini
dalam-dalam? Ataukah aku harus menunggunya dalam ketidak pastian?
59

Berdoalah kepada Tuhan Fika, tenangkanlah dirimu. Tuhan akan
memilihkan jalan yang terbaik untuk umatnya. Jika kamu yakin itu adalah cinta
sejatimu, maka ia akan kembali kepadamu. Percayalah Fika.
Dewi, makasih ya sahabatku. Aku merasa sedikit lega bisa bercerita
denganmu, aku yakin dengan diriku sekarang, jika memang Fiki jodohku. Dia
akan kembali buatku. Aku akan selalu menantinya, menanti cintaku dengan sabar
dan tulus. Aku harap Fiki juga mempunyai perasaan yang sama seperti diriku
sekarang. Aku begitu menyukainya. Fika mulai tersenyum. Dan dalam hatinya ia
sangat yakin bahwa suatu saat nanti Fiki akan kembali, dan akan merajut cinta
dengannya. Menjadi kekasihnya seperti yang Fika idam-idamkan saat ini.




60

Aku yakin dengan perasaanku
dan Aku akan menunggunya

Seperti hari-hari biasa, selepas ia selesai pulang dari kantor, Fika
menyempatkan diri untuk pergi ke taman favorit yang selalu ia kunjungi. Fika
duduk di kursi dekat pohon mahoni. Matanya memandangi keadaan seluruh
taman. Ia melihat beberapa anak yang sangat gembira bermain kejar-kejaran,
muda-mudi yang sedang berpacaran, bahkan seorang anak yang sedang digendong
oleh ayahnya mengitari taman. Setidaknya dengan datang ke taman ini, sedikit ia
bisa melupakan masalahnya.
Fiki.. aku yakin dalam hatiku, kamu akan kembali, aku yakin bahwa
kamu akan menemuiku di taman ini. Ya.. ditaman ini kita pernah bertemu,
ditaman ini kau begitu perhatian padaku, dan ditaman inilah aku mulai jatuh cinta
denganmu. Aku berharap bahwa cintaku tak salah. Aku yakin akan perasaanku.
Aku berharap, kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Semenjak
kepergianmu, aku layaknya bunga yang telah layu, bahkan hampir mati. Tapi
ingat, aku tak akan mati. Karena aku mempunyai harapan besar. Aku mempunyai
cinta, dan aku berharap kamulah cintaku. Aku juga sangat berharap,kamu punya
61

perasaan yang sama denganku. Perasan cinta seperti diriku sekarang. Aku akan
selalu menunggumu ditempat ini. Gumam Fika dalam hati. Ia begitu yakin, Fiki
akan kembali lagi.
Setiap sore, setiap hari, Fika menyempatkan dirinya untuk pergi ke taman
itu. Ia sangat yakin dengan perasaannya, ia yakin jikalau ia akan dipertemukan
lagi dengan cintanya di tempat itu. Ditempat cinta itu mulai tumbuh.
Cinta begitu indah. Seperti bunga-bunga yang ada di taman ini. Merekah
dengan sempurna. Hempasan angin sore yang begitu menggetarkan jiwa. Sunset
yang begitu gagah nampah di cakrawala langit. Sinarnya begitu mempesona
menghiasi langit-langit ditaman ini. Sunset adalah waktu dimana terjadi
pergantian senja menjadi sore. Empat puluh tujuh menit sunset muncul dengan
sangat indah di cakrawala langit, empat puluh tujuh menit setelah itu, sore akan
berganti menjadi malam. Senja yang indah akan berganti menjadi malam yang
gelap dan menakutkan. Seperti adanya sebuah pertemuan dan akhirnya datanglah
perpisahan. Tak ada yang tahu setelah itu. tak ada yang tahu apakah malam itu
akan begitu indah, ataukah berubah menjadi malam yang menakutkan. Dan tak
ada yang tahu, apa yang akan terjadi setelah perpisahaan ini. Perpisahan adalah
senja yang berganti menjadi malam.

62

HARAPANKU TERWUJUD, DIA TELAH
KEMBALI

Aku sudah tak tahu lagi, sudah berapa lama aku menunggumu disini,
huuuhh. Fika menghembuskan nafasnya dalam dalam. Ia masih terbuai dalam
lamunannya.
Setiap setiap sore, setiap senja aku selalu datang di tempat ini hanya
untuk menunggumu. Aku tak tahu dengan diriku sendiri. Aku begitu yakin dengan
perasaanku, aku begitu yakin dengan rasa cintaku. Tapi dalam kenyataannya, aku
tak meyakini diriku. Sampai sekarang, entah sudah seberapa puluh kali, aku
datang ke taman ini hanya untuk menunggumu. Bodohnya, sampai sekarang aku
tak kunjung juga mendapat kabar darimu. Pernah aku berusaha untuk
menghubungimu, namun sial nomermu di kontakku sudah tak ada. Mungkin
karena kemarin aku tak sengaja menghapusnya karena banyak nomor-nomor tak
dikenal masuk di ponselku. Kebodohan keduaku, kenapa aku tak menghubungi
Samuel untuk menanyakan kabar dan keberadaanmu. Aku merasa malu jika harus
jujur pada Samuel akan perasaanku yang suka dengan Fiki. Aku selalu berharap
jika kamu baik-baik saja disana Fiki. Aku begitu menghawatirkan keadaanmu.
Aku ingin bertemu denganmu, dan sekarang aku rindu denganmu Fiki. Aku
63

teringat disaat kita pertama bertemu. Awalnya aku tak begitu menyukaimu, karena
aku menganggap semua orang asing itu menyebalkan. Ternyata anggapanku itu
salah. Awal pertama bertemu denganmu, aku langsung akrab denganmu. Entah
apa yang membuatku menjadi seperti itu. Kamu bukan seperti orang asing
menurutku. Aku seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya, tapi kapan? Aku
rasa itu hanya perasaanku saja. Kedua kalinya tanpa sengaja aku bertemu
denganmu di stasiun kereta. Hehehhee... saat itu kamu mentraktirku, kamu tau gak
kalau aku sebenarnya tak suka dengan makanan Rawon, apa lagi jika makanan
tersebut sangatlah pedas. Dan begitu kamu memesankan untukku. Tak sepatah
katapun aku menolaknya, aku kaget sebenarnya ketika kamu memesan Rawon
Setan level lima. Sumpah, baru kali ini aku makan sepedas itu. Tapi waktu itu aku
tak keberatan dengan menu makanan pilihanmu. Aku begitu lahap bahkan agak
menahan raut mukaku yang kepedesan. Dan sampai rumah aku terkena diare.
Hahhahaa.. untung saja aku punya beberapa obat diare dan obat sakit perut. Aku
sangat mengingat kejadian itu. Dan pertemuan ketiga saat kamu memaksaku
untuk menemanimu jalan-jalan. Walaupun aku tak merasa kamu paksa, dan aku
tak keberatan untuk mengantarmu waktu itu. Ternyata kamu mempunyai
kesamaan denganku, kamu suka membaca novel sama sepertiku. Dan sangat
jarang sekali jika ada seorang cowok yang begitu menggilai novel sepertimu. Aku
seperti mendapatkan seorang teman yang sealiran denganku. Aku bisa dengan
mudah bertukar cerita padamu tentang beberapa novel yang pernah aku baca. Dan
kamu mengerti akan apa yang aku bicarakan. Mungkin karena novelmu yang
terlampau banyak dan kamupun sudah membaca semuanya, membuatmu tak
64

banyak berfikir untuk menjawab pertanyaanku. Itu salah satu alasan mengapa aku
begitu nyaman saat bersama denganmu. Begitu enak mengobrol denganmu. Dan
kamu adalah seorang cowok yang sangat pintar menaruh perhatian dengan
seorang cewek. Ditaman ini kamu menunjukkan perhatianmu padaku. Disaat aku
merasakan sakit, kamu begitu khawatir dengan keadaanku. Itulah yang membuat
aku luluh denganmu. Sayangnya hari itulah terakhir aku bertemu denganmu.
Semenjak hari itu aku tak pernah mendapatkan kabar darimu. Aku rindu kamu
Fiki. Aku kangen kamu. Gumam Fika dalam hati.
Seperti hari-hari kemarin, Fika masih menunggu kehadiran Fiki di taman
itu. Ia sangat berharap jika hari ini ia akan bertemu dengannya. walaupun
sebenarnya bertemu dengan Fiki, tak semudah yang dibayangkan. Kepergian Fiki
sudah masuk pada bulan ke tiga. Ia tak menyangka jika begitu cepat Fiki
meninggalkannya, tanpa kabar dan tanpa pesan. Namun Fika tak putus asa. Ia
selalu berharap dan berdoa agar dipertemukan kembali dengan Fiki di taman itu.
Terlihat langit-langit yang begitu gelap. Mendung telah menutupi senja
sore itu. Begitu gelap. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30. Fika tak
beranjak dari tempat duduknya. Ia masih asyik menunggu dan melamun akan
kehadiran Fiki. Gerimispun mulai turun. Tetes demi tetes air hujan mulai
membasahi tubuhnya. Fika tak langsung memilih untuk cepat-cepat berteduh dari
hujan, ia tetap saja tak beranjak dari tempatnya. Kali ini hujan turun dengan
begitu deras. Tapi tak sedikitpun membuatnya ingin beranjak hanya untuk sekedar
berteduh.
65

Fiki... Fika kembali menangis, bersamaan dengan turunnya air hujan.
Lihatlah sekarang diriku bak seperti orang gila. Aku gila akan perasaanku. Aku
gila akan cintaku. Aku sangat menanti kehadiranmu saat ini. Biarlah saat ini hujan
mengguyur diriku. Setidaknya dengan hujan ini tak membuatku terlihat menangis,
Serta bisa menutupi kesedihanku. Biarkan air mataku ini bercampur dengan air
hujan. Setiap hari, setiap aku mengingatmu, serasa air mata ini tak bisa lagi aku
membendungnya. Aku kangen kamu Fiki. Aku begitu merindukanmu. Aku ingin
bertemu denganmu lagi. Sampai kapan aku harus seperti ini? Aku tersiksa dengan
diriku yang sekarang. Tapi aku tak pernah lelah untuk menunggumu.
Dari arah kejauhan terlihat Niko menghampiri Fika dengan sebuah
payung. Niko adalah salah satu cowok yang berusaha untuk mendekati Fika saat
ini.
Fika sampai kapan kamu harus sepeti ini, ayo kita pulang. Hujan ini
sudah terlampau deras. Aku tak mau kamu sakit nantinya. Teriak Niko.
Aku tak mau pulang Niko, aku mau disini saja. Kamu pulang sana.
Biarkan aku disini. tolak Fika yang tak mau diajak untuk pulang.
Kamu boleh keras kepala. Tapi kamu juga harus peduli dengan dirimu
sendiri. Kamu masih menunggu Fiki? Tanya Niko. Fika hanya mengangguk.
Ahh.. sampai kapan kamu harus keras kepala? Ayo kita pulang! Fiki
mungkin sudah tak peduli denganmu, namamu mungkin sudah ia lupakan dalam
ingatannya. Ayo pulang! Niko tetap memaksa Fika untuk pulang bersama. Hujan
turun dengan begitu lebatnya. Bak seperti air laut yang ditumpahkan ke bumi.
66

Fiki tak mungkin melupakanku, aku yakin itu Niko. sekarang tinggalkan
aku sendiri. Aku tak membutuhkanmu. Percuma kamu memaksaku, karena aku
tak akan ikut pulang bersamamu. Fika tak menerima tawaran Niko untuk pulang
bersamanya.
Baiklah kalau begitu. Aku akan meninggalkanmu sekarang, tunggulah
pangeran impianmun itu. Sampai kapanpun dia tak akan menjemputmu disini!!
Niko meninggalkan Fika ditaman sendirian. Niko kecewa tidak bisa mengajak
Fika untuk pulang.
Hujan yang turun begitu deras. Halilintar dan kilatpun silih berganti
menyambar. Tubuh Fika sudah sangat basah kuyup. Bahkan bibirnya kini mulai
membiru. Fika kedinginan dan tubuhnya menggigil kaku. Kepalanyapun mulai
pusing. Dan akhirnya Fika jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Nampak dari kejauhan ada seorang pria yang melihat Fika jatuh dari kursi
taman ditengah hujan deras. Ia berlari menghampiri Fika, ia menggendong Fika
dan membawanya ke pos taman untuk berteduh dari derasnya air hujan yang
turun. Saat itu Fika masih tak sadarkan diri. Pria itu merebahkan tubuh Fika dan
menyelimutinya dengan jaket yang tebal. Pria itu tersenyum melihat wajah Fika.
Ia berusaha membersihkan wajah serta tangan Fika dari tanah akibat, terjatuh saat
pingsan tadi. Pria itu mengambil sapu tangan untuk mengelap wajah Fika yang
sudah membiru akibat kedinginan.
67

Hujan masih sangat lebat. Pria itu masih menemani Fika sembari
menunggu hujan reda. Fika mulai sadar. Ia mulai membuka matanya perlahan-
lahan.
Fika.... Panggil Pria tersebut. Sepertinya Pria itu mengenali Fika.
Fika masih tak mempedulikan panggilan itu. Kepalanya masih terasa
sangat berat. Penglihatanyapun masih kabur.
Fika, sadarlah.
Fika mulai membaik. Penglihatannya samar-samar sudah mulai terlihat
jelas. Ia melihat sesosok Pria duduk disampingnya yang mencoba
membangunkanya. Setelah ia bisa melihat dengan jelas. Serasa air mata ini tak
bisa di tahan. Begitu deras mengalir seperti derasnya hujan sekarang.
Fika... Panggil Pria itu lagi. Fika terus saja menangis memandang pria
itu. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat. Tak henti-hentinya ia menangis.
Fi..Fiki...apakah itu kamu?
Fika ini aku Fiki. Kenapa kamu pingsan? Ada apa denganmu? Ternyata
Pria yang menolong Fika adalah Fiki. Orang yang selama ini ia nantikan
kehadirannya. Fika masih saja menangis saat itu.
Fiki... Fika terus menangis dan tak bisa membendung tangisannya,
melihat orang yang selama ini ia nantikan ada disampingnya.
Fiki... Panggil Fika.
68

Ia Fika. Ada apa? Jawab Fiki.
Bolehkah aku memelukmu, sebentar saja.
Boleh Fika. Fiki memeluk Fika. Tangan-tangan Fika yang mungil
melingkari tubuh Fiki saat itu. Fikipun memeluk Fika dengan lembut. Fika
kembali menangis dalam pelukan Fiki.
Aku kangen kamu Fiki. Sambil memeluk Fiki, ia masih terus menanis.
Aku juga kangen kamu Fika. Maafkan aku jika kemarin aku
meninggalkanmu tanpa pamit.
Biarkan aku merasakan pelukanmu untuk saat ini. Bahkan aku
menginginkan waktu berhenti berputar. Aku menginginkan momen seperti ini.
Aku kangen dengan kehadiranmu. Aku kangen dengan dirimu Fiki.
Peluk diriku sesuka hatimu, jika memang pelukan ini bisa mengobati
hatimu akibat kebodohanku. Maafkan aku Fika, aku tak bisa memaafkan diriku
sendiri. Meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Fiki terus memeluk Fika
dengan kasih.
Iya Fiki. Terima kasih atas pelukannya. Fika melepaskan pelukan Fiki
dan tersenyum kepadanya.
Fiki...?
Iya Fika?
Kamu jahat.
69

Aku tahu... Maafkan aku.
Kamu jahat Fiki.
Maafkan aku Fika, aku tak bermaksud meninggalkanmu seperti ini.
Kenapa kamu tidak menghubungiku.
Ponselku kecopetan Fika, selepas aku menelfon Samuel malam itu dan
aku tak mempunyai nomermu ataupun nomer Samuel. Semua nomer ada di
ponselku.
Terus kenapa kamu memutuskan untuk balik ke jakarta? Tanya Fika.
Pamanku kritis. Aku harus cepat-cepat menemuinya. Pamanku juga
menyuruhku untuk sementara waktu mengurus perusahaannya. Mengingat kondisi
beliau yang tidak memungkinkan memantau perusahaan.
Terus!
Terus aku dengan senang hati membantu pamanku menyelesaikan
proyek-proyeknya.
Dan sekarang?
Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku. Keadaan pamanku juga
sudah mulai membaik. Sehingga aku kembali lagi ke Surabaya untuk mengurusi
pekerjaanku disini.
Oohhh..
70

Maafkan aku Fika, aku tau kamu pasti marah denganku saat ini.
Iya aku marah..
Aku tau.... Sela Fiki.
Tau dari mana?
Tuh kamu jutek denganku sekarang. Jawab Fiki.
Ohh..
Fika..
Iya...
Aku selalu merindukanmu. Fiki sambil membelai rambut Fika yang
basah dengan air hujan. Aku selalu ingat kamu Fika, setiap malam, bahkan setiap
hari, kamu selalu ada di fikiranku.
Fika hanya diam dan mendengarkan perkataan Fiki. Suasana begitu
hening. Yang terdengar hanyalah suara gemericik hujan.
Fika aku kangen kamu, selalu ingin mengingatmu, aku tak tahu dengan
perasaanku sekarang. Perasan ini sungguh menyiksaku setiap harinya. Aku
mencintaimu Fika. Fiki mengungkapkan perasaannya kepada Fika. Fika tak bisa
berkata apa-apa. Serasa ini semua hanya sebuah mimpi. Apa yang Fika impikan
semua terasa nyata. Dan ini memang terjadi. Tak terasa air mata Fika keluar lagi,
ia sangat senang hari ini. Orang yang selalu ia nanti kehadirannya telah kembali.
Bahkan sekarang ia mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.
71

Fiki..
Iya...
Bolehkah sekali lagi aku memelukmu? Pinta Fika.
Boleh.. Fiki mengulurkan kedua tangannya melingkari tubuh Fika.
mereka berdua saling berpelukan.
Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Ini seperti mimpi. Tahu
nggak setiap sore, setiap senja aku selalu menunggumu di taman ini. Aku seperti
orang gila yang tak mempunyai tujuan hidup. Aku layaknya seorang yang tak
pernah bangun dari mimpinya. Dan sekarang aku tak tau. Apakah aku masih
bermimpi, ataukah aku sudah bangun dari pingsanku dan sekarang memelukmu.
Aku menunggumu selama tiga bulan di taman ini. Aku percaya kamu akan
menemuiku disini. Dan akhirnya kepercayaanku itu terwujud. Kamu datang
menemuiku, dan aku sangat senang hari ini. Hari dimana cintaku telah kembali.
Bunga yang selama tiga bulan telah layu kini mulai mekar dan mulai berkembang.
Terima kasih Fiki, aku begitu mencitaimu, dan sangat mencintaimu.



72

Aku mengajaknya kerumahku

Tiba-tiba ponsel Fika berdering.
Hallo.. iya ibu ada apa... aku baik-baik saja ibu...aku tak apa-apa.. aku
pulang nanti saja ibu, aku seneng banget hari ini. hehehe.. nanti aku ceritakan...
iya bu aku memang sangat terlihat senang... iya bu aku jaga diri baik-baik..... aku
juga sayang ibu.. da ibu... Fika menutup telfonnya.
Siapa Fika, ibumu ya?
Iya itu ibuku, ibuku yang paling aku sayang didunia ini. hehhee.. Fika
tersenyum kearah Fiki.
Hanya ibumu?
Iya aku sayang dengan Ibu dan ayahku.
Hanya mereka? Tanya Fiki.
Tapi sekarang ada seseorang lagi yang aku sayang, untuk hari ini dan
selamanya.
Siapa itu?
73

Namanya itu F.I.K.I. hehehehhe... jawab Fika sambil mengayun-
ayunkan kakinya dan tersenyum kearah Fiki.
Fika.. Panggil Fiki.
Iya Fiki?
Aku juga sangat menyayangimu. Setelah ini dan seterusnya, kamu harus
janji. Kamu harus kembali menjadi Fika yang ceria seperti dahulu, entah kamu
sakit atau apapun yang terjadi. Aku selalu ingin melihat senyumanmu. Aku tidak
mau melihat kamu yang selalu murung dan keras kepala seperti tadi. Aku selalu
mengkhawatirkanmu sayang. Pinta Fiki sambil membelai rambut Fika.
Iya Fiki, aku seperti itu juga karena kamu. Kamu ninggalin aku begitu
saja. Aku tak mau kamu ninggalin aku untuk kedua kalinya. Aku ingin ini yang
terakhir buat aku. Iya Fikiku sayang. Aku berjanji. Untuk hari ini, dan detik ini,
aku akan menjadi Fika yang selalu ceria, Fika yang tak keras kepala seperti dulu,
dan yang pasti, aku akan menjadi Fika yang selalu mencintaimu.
Terima kasih Fika. Janji ya? Fiki mengulurkan jari kelingking kearah
Fika.
Janji. Fika mengulurkan jari kelingking dan melingkarkannya satu sama
lain sebagai simbol perjanjian mereka berdua.
Ehh.. hujan sudah reda. Fika melihat ke luar pos taman dan melihat
keadaan diluar.
74

Benarkah? Senyum Fiki menyeringai.
Iya...Sudah terang hujannya, eh liat itu dilangit. Ada pelangi bagus
banget. Kata Fika sambil menunjuk kearah langit. Begitu indah pelangi saat itu,
mejikuhibiniu adalah singkatan untuk ketujuh warna yang menghiasi pelangi
yang indah itu.
Ayo keluar dan jalan-jalan bersama mengitari taman. Fika mengajak
Fiki untuk keluar dan mengitari taman, sambil menikmati indahnya pelangi saat
itu.
***
Fiki, kenapa pelangi itu begitu indah? Tanya Fika. Mereka berdua
mengayunkan langkahnya mengitari taman sambil memandang pelangi yang
begitu indah yang menggantung dilangit.
Fiki menghentikan langkahnya dan memandang ke langit. Banyak warna
yang membuat dirinya begitu anggun. Fiki tersenyum kearah Fika. Fikapun
membalas senyuman Fiki.
Bukan itu jawabannya. Sahut Fika.
Terus apa sayang?
Pelangi itu indah karena sebelum pelangi itu muncul pasti ada hujan
deras terlebih dahulu, bahkan disertai halilintar dan kilat seperti tadi. Dan setelah
semua itu terlewati ia mulai menampakkan diri. Pelangi adalah simbol keindahan
75

langit. Seperti filososfi sebuah hidup, kadang hidup selalu banyak permasalahan,
harapan yang tak kunjung datang, bahkan penyesalan. Tapi jika semuanya telah
terlewati, akan menjadi indah pada akhirnya. Seperti penantianku terhadap
cintamu sekarang. Fika tersenyum kearah Fiki. Sebelumnya aku sangat tersiksa
dengan perasanku, aku menganggap diriku adalah orang yang tak beruntung.
Belum sempat merasakan cinta, tapi terlebih dahulu sakit hati. Tapi didalam hati
kecilku, aku peraya akan kekuatan cinta. Aku rela dengan sabar menantimu
kembali. Padahal sebenarnya aku ragu akan kehadiranmu. Dan akhirnya hati
kecilku menang, ia menuntunku dalam sebuah kesabaran. Kini kesabaranku telah
membuahkan hasil. Kamu sudah kembali padaku. Pelangi itu kini telah muncul,
setidaknya keindahannya telah tersimpan dihatiku. Jelas Fika. Fiki terenyuh
dengan perkataan Fika. Ia begitu senang sekali, ia telah dipertemukan dengan
orang yang begitu tulus mencintainya. Begitu sabar menanti cintanya.
Fika... Fiki memandang Fika dan menggenggam tangannya. Maafkan
aku.
Fika membalas senyuman Fiki Sebelum kamu minta maaf aku sudah
terlebih dahulu memaafkanmu. Yang terpenting, pelangi itu sudah kembali dan
tersimpan dihatiku. Aku sudah melupakan itu semua. Yang ku ingat hanya satu,
yaitu dirimu sekarang, dan cintamu seutuhnya.
Aku berjanji Fika. Didalam hati kecilku, aku akan selalu menjaga cinta
sucimu, seperti kamu yang begitu sabar menanti kehadiranku. Aku sangat
mencintaimu. Terima kasih kamu begitu tulus mencintaiku. Fiki tersenyum ke
76

arah Fika Tapi aku harap cintamu tak akan seperti pelangi. Sahut Fiki. Fika
menoleh ke arah Fiki. Ia begitu kaget mendengar perkataan Fiki.
Kenapa? Tanya Fika penasaran.
Aku tak mau jika cintamu seperti pelangi yang hanya sesaat ada di langit,
yang aku inginkan cintamu seperti matahari yang tak pernah lelah untuk
menyinari. Bahkan sampai kiamat nantinya. Jelas Fiki.
Ah.. kamu so sweet sayang. Fika tersenyum mendengar kata-kata
romantis dari Fiki.
Lihat senja itu, begitu indah bukan? Fiki menunjuk kearah langit, dan
terlihat senja yang indah diufuk barat. Sinarnya memancar dengan anggun,
Semilir angin sore membuat jiwa ini semakin tenang. Bersama tiupan cinta yang
sekarang berkembang. Mereka berdua terbuai oleh keindahan senja sore. Mereka
terus memandang matahari yang kian lama kian tenggelam. Dan sore itupun kini
berganti menjadi malam.
***
Fika.. Pulang yuk? Sudah malam, aku tak mau ibu dan ayahmu
menghawatirkanmu nantinya. Ajak Fiki untuk pulang. Fika menatap jam
tangannya menunjukan pukul 19.30.
Malam ini begitu indah. Selepas hujan yang turun begitu lebat, langit-
langit menunjukkan formasi bintang yang sangat anggun. Langit biru yang terang
membuat malam ini begitu indah dan mempesona.
77

Tapi aku takut pulang Fiki? celetuk Fika dengan nada yang manja.
Halaah.. alasan saja, biasanya juga kamu sendirian pulangnya. Iya-iya
aku anterin kamu sampai rumah. Dasar anak bandel. Fiki mencubit hidung
mungil Fika. Fika hanya tersenyum dengan cubitan Fiki.
hehehe.. tau aja kamu sayang? Fika senyum-senyum kearah Fiki. Dan
akhirnya Fiki mengantarnya pulang kerumah.
***
Sesampainya dirumah.
Assalamualaikum. Fika mengetuk pintu rumahnya. Tak beberapa lama
terdengar suara ibu Fika dari dalam.
Waalaikumsalam. Ibu Fika membukakan pintu.
Ibu.... Fika langsung memeluk ibunya saat itu.
Loh. Kenapa Fika? Ibu Fika bingung, melihat Fika tiba-tiba
memeluknya.
Aku seneng Bu, hari ini. Oh ya aku kenalkan. Ini Fiki bu.
Fiki... Fiki mengulurkan tangannya dan mencium tangan Ibu Fika.
Kamu temennya Fika ya? Tanya ibu Fika.
Bukan bu, coba tebak dia siapa? Fika menyuruh ibunya mengira-ngira.
Siapa loh Fika?
78

Fiki itu pacar baru Fika bu. Hehehee.. terlihat wajah Fika yang berseri-
seri bahagia. Ia sangat senang bisa mengenalkan Fiki kepada ibunya.
Oalah.. nak Fiki ini pacar barunya Fika toh? Pantesan dari tadi dia terlihat
sangat senang sekali, beda dengan hari-hari sebelumnya. Ia terlihat cuek dan jutek
kepada semua orang. Syukur deh dapat pacar. Apalagi kalau cepet-cepet dapet
menantu ganteng. Celetuk ibu Fika. Fika hanya tersenyum getir mndengar
perkataan ibunya.
Husst.. ibu itu, malu tahu sama Fiki. Fika menyela pembicaraan Ibunya.
Fiki hanya tersenyum mendengarkan perkataan ibu Fika.
Ayo mari silahkan masuk nak Fiki, Fika ambilkan handuk nak, baju nak
Fiki basah kuyup. Ayo kamu juga cepetan ganti baju. Nak Fiki silahkan duduk
dulu. Suruh ibu Fika.
Ia Bu, terima kasih. Fiki duduk di kursi sofa ruang tamu sambil sesekali
memandangi foto-foto Fika dan kedua orang tuanya yang menempel di dinding.
Begitu cantik. Gumam Fiki setelah melihat foto-foto Fika yang terpajang.
Fika jangan lupa bawakan baju buat nak Fiki ya, baju bapakmu
kelihatannya pas dengan nak Fiki. Terus setelah itu kamu buatkan teh hangat ya?
Suruh Ibunya kepada Fika.
Iya ibuku cerewet, beres deh. Tak beberapa lama Fika membawakan
handuk dan satu baju ganti untuk Fiki.
79

Fiki kamu bisa ganti di kamar ayahku. Fika menyerahkan pakaian
ayahnya untuk Fiki. Ayo aku antar kamu ke kamarnya. Ia mengajak Fiki
menuju kamar ayahnya.
Setelah beberapa menit Fiki keluar dengan mengenakan baju ayah Fika
yang agak kebesaran.
Hahahaha.. kamu lucu kalau pakai baju itu. Tak apalah yang penting
kamu gak masuk angin nanti. Fika tertawa setelah melihat baju yang dipakai Fiki
ternyata agak kedodoran.
Ini sudah sangat pas menurutku, terimakasih ya. Fiki tersenyum kearah
Fika. Fiki melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Sementara Fika
menyibukkan dirinya di dapur untuk membuatkan teh hangat.
Bagaimana nak Fiki, apa baju ayahnya Fika pas dengan nak Fiki? Tanya
Ibu Fika, sembari tertawa kecil melihat baju yang dikenakan Fiki agak kebesaran.
Alhamdulillah agak pas Bu, yang penting tidak masuk angin. Terima
kasih banyak ya Bu. Fiki berterima kasih kepada Ibu Fika yang sangat baik
kepadanya. Sambutan kedatangan Fiki sangatlah hangat. Ia serasa mempunyai ibu
kandung sendiri. Mengingat Ibu kandungnya telah meninggal saat ia masih kecil.
Iya nak Fiki, tak usah sungkan dengan Ibu, anggap Ibu seperti orang
tuamu sendiri. Sering-seringlah main kesini ya nak Fiki
80

Iya bu. Saya akan sering-sering main kesini. Saya senang berada disini.
Fiki tersenyum kerah Ibu Fika. Ia sangat senang mendapatkan kasih sayang dari
orang tua Fika yang begitu hangat.
Fika... tehnya sudah jadi apa belum? Panggil Ibu Fika.
Iya ibu. Ini sudah jadi? Sahut Fika dari dalam dapur. Tak beberapa lama
Fika keluar dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat ceret dan beberapa
buah gelas.Fiki ayo ikut aku, ayo minum teh di teras rumah saja. Kelihatannya
suasananya mendukung. Fika mengajak Fiki menuju ke teras rumah. Fika
meletakkan nampannya di sebuah meja, dan mereka berdua duduk di kursi rotan.
Sambil memandang langit yang nampak biru dan indah. Melihat dengan jelas
kemilau bintang dengan formasi yang begitu anggun.
Heheheheheee... Fiki tertawa sendiri.
Kamu kenapa Fik? kamu sehat kan? Tanya Fika yang agak kaget
melihat Fiki tertawa sendiri. Apa obat gilamu sudah habis? Fika tersenyum
menyindir.
Enggak Fika, aku begitu senang hari ini. Jelas Fiki.
Senang karena jadian dengan aku bukan? Senyum Fika melebar.
Iya itu juga salah satunya. Yang paling aku senang adalah aku bisa
bertemu dengan keluargamu, bertemu dengan ibumu yang sangat baik denganku.
Jelas Fiki sambil menyesap teh hangatnya.
81

Tapi keluargamu juga baik seperti keluargaku bukan? Tanya Fika.
Ayahku sangat baik, tapi kalau Ibuku.
Memangnya kenapa dengan Ibumu Fiki? Tanya Fika yang penasaran
dengan kata-kata Fiki yang terhenti.
Ibuku sudah lama meninggal, sejak aku masih berusia empat tahun. Dia
meninggal akibat kecelakaan kereta. Fiki meneteskan air matanya ketika
menceritakan ibunya. Dan aku begitu senang bisa bertemu denga ibumu. Aku
seperti mendapatkan kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah aku dapatkan dari
dulu, setelah kepergian beliau
Fika menundukkan wajahnya. Aku turut prihatin dengan ceritamu Fiki?
Fika menurunkan nada bicaranya. Ia terlihat simpati mendengar cerita Fiki.
Ibuku meninggal bersama dengan adik kandungku, mereka kecelakaan
saat menaiki kereta yang akan membawanya menuju Surabaya. Sahut Fiki.
Tenanglah Fiki, mungkin Ibumu sekarang tersenyum di surga, ia sangat
senang melihat anaknya sudah tumbuh menjadi pria yang baik. Aku yakin itu,
beliau pasti bangga denganmu Fiki. Fika tersenyum kearah Fiki dan menghapus
air mata Fiki yang menetes di pipinya.
Ayolah Fiki, tersenyum. Lihatlah sekarang, kamu masih punya ayahmu,
masih punya aku dan masih punya keluargaku. Fika berusaha menenangkan Fiki
saat itu. Melihat tingkah Fika seperti itu, Fiki mulai tersenyum.
82

Terdengar suara kereta melintas.
Fika, rumahmu dekat dengan rel kereta ya? Tanya Fiki yang mendengar
suara kereta sedang melintas.
Iya Fiki. Jarak antara rumahku ke stasiun tak jauh dari sini. Mungkin
hanya berjarak tiga ratus meter. Makanya itu aku sering berpergian menggunakan
kereta. Yang pasti kereta lebih murah dari pada alat transportasi lainnya. Itulah
alasan aku. Hehehe...
Dasar kamu perhitungan. Ledek Fiki.
Biarin, kan hemat itu pangkal kaya. Wek..! Fika menjulurkan lidah ke
arah Fiki.
Yang aku tau hemat itu pangkal pelit. Weekk...! Fiki juga membalas
juluran lidah kepada Fika.
Hahahahaa... kamu bisa aja Fiki. Mereka berdua tertawa bersama-sama.
Tiba-tiba terlihat ayah Fika yang baru pulang dari bekerja.
Assalamualaikum.
Waalaikumsalam.
Ehh.. ada tamu ya? Tanya ayah Fika.
Iya Ayah, ini kenalin pacar baru Fika. Namanya Fiki. Fika
memperkenalkan Fiki kepada ayahnya.
83

Fiki.. Fiki memperkenalkan diri dan berjabat tangan dengan ayah Fika.
Saya ayahnya Fika, ya sudah saya masuk dulu. Saya gak mau
mengganggu kencan pertama kalian. Saya juga pernah muda. Lebih-lebih jika
suasana sangat mendukung seperti ini, tuh liat langit sangat cerah. Disertai
formasi bintang-bintang yang begtu indah. Bulanpun tak kalah gagahnya
memperlihatkan pesonanya. Ya.. ini memang waktu yang pas untuk pasangan
yang sedang menjalin cinta. Aku tak mau menjadi pihak ketiga. Lebih baik aku
masuk dulu. Silahkan dilanjutkan. Hahahhaa. Mereka bertiga tertawa bersama.
Dan akhirnya ayah Fika memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Ia tak mau
mengganggu momen spesial anaknya saat itu.
Lucu juga ya ayahmu, pintar betul dia membuat kata-kata indah. Fiki
memuji kepintaran ayah Fika.
Ya tak heran juga, ayahku itu dulu waktu mudanya seorang penulis dan
penyair. Jadi tak kaget bila ia mempunyai kosakata banyak akan cinta. Itulah yang
membuat ibuku terpesona dengannya. Akhirnya mereka jadian, terus mereka
menikah deh. Itulah yang aku dengar dari mereka. Hahahhaa.. jelas Fika, mereka
berdua tertawa lepas.
Ohh.. berarti kepandaianmu merangkai kata-kata yang tadi ditaman itu
dan membuat aku terenyuh, adalah warisan dari ayahmu?
Bisa dibilang begitu. Hehehe.. jawab Fika.
84

Tapi benar juga sih apa yang ayahmu katakan. Malam ini begitu indah.
Langit begitu cerah, bahkan bintang-bintang yang jumlahnya ribuanpun ikut
menghiasi malam ini. Rembulan dengan anggunnya ikut menjadi penerang yang
agung. Semilir angin ini telah membawa jiwa kedalam suatu keabadian.
Keabadian cinta yang kini aku rasakan. Hari ini seperti hari terindah yang pernah
aku alami. Langit bumi, pelangi, bintang, bahkan rembulanpun menjadi saksi.
Mereka akan selalu menghiasi bumi dan langit. Aku juga akan berusaha seperti
mereka. Menjadi penerang, menjadi penghias dalam kehidupan cinta kita. Aku
akan berusaha menjadi imam yang baik. Dan semoga aku akan menjadi suamimu
kelak. Yang ada hanya aku, kamu dan cinta kita.
Ahh.. so sweet. Bagus sekali puisimu. Fika memuji Puisi Fiki.
Terima kasih sayang.
Ternyata tak hanya ayahku yang pandai menggombali wanita, sekarang
pacarku sendiri ternyata pandai menggombal juga. Hahahaha..
Aku dulu pernah menjadi penyair, dan pernah mendapatkan piala
penghargaan karena aku memenangkan juara satu lomba cipta puisi. Jelas Fiki
yang memamerkan prestasinya kepada Fika.
Oh ya.. wah selamat ya sayang. Ternyata kamu hebat juga. Kapan kamu
memenangkan lomba itu?
85

Aku memenangkan lomba saat aku masih kelas empat Sekolah Dasar.
Aku menang lomba tingkat Kecamatan. Ya senang sekali aku dapat hadiah yang
tak terkira.
Hebaattt.. hadiah apa?
Dua buah buku tulis dan satu pensil 2B.
Hahahhaaa... hadiah yang sangat mahal ya sayang waktu itu. hahaha..
terlihat mereka berdua tertawa lepas saat itu.
Aku teringat akan kawan lamaku? Fiki kembali bercerita.
Apa? Aku ingin mendengar ceritamu. Fika tersenyum. Tak sabar
mendengar cerita dari Fiki.
Waktu aku kuliah, aku berteman dengan orang yang mempunyai nama
mirip denganku. Fiki membenarkan posisi duduk dan menatap langit-langit.
Selagi ia menyusun kata-kata untuk bercerita.
Nama mirip denganmu, maksudnya? Fika sangat penasaran dengan ceita
Fiki.
Ia bernama Fiki Irwan bagaskara dan namaku Fiki Ramadan. Mirip
bukan. Senyum Fiki menyeringai.
Terus? Fika tak sabar mendengar cerita dari Fiki.
Fiki adalah orang yang sangat mencintai pacarnya, ia relakan dirinya
untuk pacarnya. Bahkan ia relakan nyawanya. Menyumbangkan ginjalnya untuk
86

kesembuhan pacarnya. Padahal ia sendiri tahu, jika keselamatan menjadi
taruhannya. Fiki menghela nafas panjangnya. Ia kembali mencoba merangkai
kata untuk bercerita kepada Fika.
Terus bagaimana kabar temanmu itu? tanya Fika yang semakin
penasaran dengan cerita Fiki.
Dia meninggal. Jawab Fiki.
Ohh.. Fika terlihat sedih dengan cerita Fiki. Fika tersenyum ke arah Fiki.
Sayang, kamu tak harus berkorban seperti temanmu yang hebat itu. Aku suka
dengan Fikiku ini. Fika menggenggam tangan Fiki dan tersenyum manis. Tak
perlu kamu korbankan dirimu. Yang terpenting kamu selalu menjaga cintaku. itu
saja sudah cukup menurutku.
Fiki menatap Fika dengan perasaan haru. Ia sangat senang Tuhan telah
mempertemukannya dengan Fika. Orang yang begitu mencintainya. Ia Fika, aku
akan berjanji untuk selalu menjaga cintamu. Gumam Fiki dalam hati. Fiki
membalas senyuman Fika.
Hari ini adalah hari yang paling spesial untuk mereka berdua. Mulai
menjalin cinta, dan merajut sebuah harapan. Harapan untuk saling bersama, saling
setia dan saling menjaga. Cinta adalah suatu kesucian yang tiada tara. Cinta
adalah kasih sayang tulus dari dua insan yang saling mengasihi. Dan selamanya
cinta akan sangat diperlukan oleh semua manusia didunia ini. Tanpa adanya cinta,
pastinya akan banyak sekali pertentangan dan peperangan dimana-mana. Tanpa
87

adanya cinta, tak akan ada bayi yang dilahirkan didunia ini. Sampai sekarang cinta
akan menjadi suatu yang agung. Dan dihari inilah cinta mreka telah dipertemukan.















88

Hari yang indah untuk cinta
yang telah bersemi

Pagi ini cahaya matahari menyusup dari tirai jendela, awan yang begitu
indah menggantung diatas bumi. Langit-langit yang begitu cerah disertai
hembusan angin semilir, membuat jiwa ini semakin tenang. Kicauan burung
menambah pagi semakin damai. Ditambah dengan aroma semangat cinta yang
baru dipupuk tadi malam. Ya, pagi ini adalah pagi terindah untuk mengawali
semua aktifitas. Mengingat semalam mimpi itu telah terwujud menjadi sebuah
kenyataan. Mimpi akan datangnya cinta dan sebuah harapan.
Terdengar bunyi SMS di ponsel Fika. Fika membaca pesan dari Fiki.
Dear my love. Selamat pagi cintaku. Pagi ini terlihat begitu cerah.
Secerah hatiku, dan hubungan kita. Lihatlah ke langit. Awan begitu indah,
bahkan aku melihat awan membentuk wajahmu. Apakah itu hanya hayalanku
belaka? Jaga kesehatanmu! Selamat beraktifitas. Satu pesan dari Fiki. Fika
hanya senyam-senyum setelah membaca SMS dari Fiki. Cepat-cepat ia menuju ke
jendela dan melihat awan yang menggantung di langit.
89

Mana ada awan yang membentuk wajahku. Gak ada tuh! Fika kembali
ke tempat tidur dan membalas SMS Fiki.
Pagi juga cinta, aku sudah melihat langit-langit pagi ini, dan aku tak
menjumpai awan yang menyerupai diriku. Aku rasa kamu sekarang lagi sakit.
Tepatnya sakit akibat cinta. Aku akan selalu menjaga kesehatanku. Dan aku akan
sekuat tenaga menjaga cinta kita. Fika memencet tombol send, dan SMS
terkirim ke nomornya Fiki.
Pagi ini begitu indah, pagi dengan sejuta cinta dari orang terkasih. Satu
pesan dari Fiki membuatnya sangat bersemangat untuk menjalani aktifitas hari ini.
Terlihat senyuman indah di bibir Fika.
***
Hai, selamat pagi buat para pendengar, bertemu lagi dengan saya Fika di
acara Salam Pagi. Seperti biasa Fika mengisi acara On Air di radio.
Di hari yang cerah ini, Fika harap semua pendengar diberi kesehatan
yang berlimpah, sehingga dapat menjalankan aktifitas dengan lancar. Oh ya.. sore
kemarin terlihat cuaca sangat buruk sekali bukan? Hujan deras telah mengguyur
kota Surabaya. Tetapi setelah hujan reda, terlihat pelangi yang sangat indah
menggantung di langit. Apakah dari sahabat pendengar ada yang sempat melihat
pelangi? Hahaha.. pada kesempatan kali ini, saya akan membuka sesi curhat
kawula muda. Tema yang diambil adalah? Peristiwa apa yang terjadi setelah
hujan deras kemarin? seperti contoh, hari kemarin setelah hujan deras, aku
disibukkan dengan mengepel lantai rumah, membersihkan selokan dan lain-lain,
90

atau hari kemarin setelah hujan deras, aku disuruh untuk datang ke rumah sang
pacar untuk membetulkan atap genting yang bocor. Hahaha.. semua bisa terjadi di
hari kemarin. Silahkan dibuka untuk semua sahabat pendengar menceritakan
pengalamannya. Untuk via telfon bisa menghubungi (031)897030. Saya tunggu
curhatan anda sekarang juga. Tak beberapa lama telfon berbunyi.
Hallo.. Salam Pagi?
Hallo salam pagi juga?
Dengan siapa dimana?
Dengan Erni di jalan Diponegoro.
Ia silahkan ceritanya mbak Erni!
Hari kemarin setelah hujan deras aku melakukan berbagai hal, seperti
mengepel lantai, menguras bak mandi dan membereskan tanaman yang
berantakan akibat terkena angin kencang, tapi dibalik itu semua aku sangat senang
kemarin.
Senang kenapa mbak Erni? Tanya Fika kepada Sahabat pendengar.
Aku melakukan aktifitas itu tak seorang diri. Suamiku tercinta ikut
membantuku. Kami melakukan aktifitas itu berdua. Kami saling membantu dan
begitu romantis. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, saya membuatkan
secangkir kopi untuk suami tercinta. Setelah kopi saya hidangkan, saya memasak
nasi goreng kesukaannya, dengan dua telur ceplok mata sapi dengan irisan
91

bawang goreng diatasnya. Setelah matang, kami berdua makan di meja makan
keluarga. Waktu mencicipi makanan yang baru saya masak, saya agak deg-degan.
Apakah yang akan terlontar dari mulutnya? Setelah mencicipi makanan yang
selesai saya buat? Ternyata dia memuji masakan saya. Alhamdulillah hari itu saya
menjadi istri yang baik bagi suami saya. Saya begitu sangat mencintainya.
Wah.. wahh.. so sweet mbak Erni ceritanya.
Hehhee.. terima kasih.
Oh ya anda mau titip salam kah kali ini?
Saya titip salam kepada suami saya tercinta, selamat bekerja ya sayang di
Kalimantan. Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu menunggumu di sini.
Peristiwa tadi malam adalah peristiwa terakhir, sebelum ia berpamitan untuk pergi
ke Kalimantan.
Semoga suami anda mendengarkan curhatan mbak disini. Ada lagi mbak
yang perlu disampaikan? Tanya Fika kepada sahabat pendengar.
Sudah cukup terima kasih banyak ya mbak Fika.
Sama-sama mbak Erni. Setelah itu telfon terputus. Itulah tadi curhatan
dari sahabat pendengar yang sangat bagus. Cerita yang bagus untuk mengawali
sesi curhatan kali ini. Dia begitu mencintai suaminya, dan ia telah menjadi istri
yang baik bagi suaminya. Oke ditunggu satu penelfon lagi untuk acara ini. hallo?
Hallo.. Salam Pagi?
92

Salam Pagi, dengan siapa dimana?
Dengan Vino di Jalan Pahlawan.
Ia Vino silahkan bercerita.
Sore itu aku melihat awan begitu mendung. Langit-langit begitu gelap.
Kulihat beberapa kilatan-kilatan dilangit membuat diri ini takut berlama-lama
untuk keluar dari rumah. Waktu itu aku baru pulang dari jakarta. Setibanya dari
stasiun aku tak langsung pulang, aku teringat suatu tempat dimana aku
menemukan cinta yang pernah aku tinggalkan disana. Aku menuju tempat itu.
Fika mendengarkan curhatan sahabat pendengar dengan seksama, entah mengapa
cerita dari Vino membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Tak jauh dari stasiun untuk menuju ke tempat itu, sekitar seratus kilo
meter. Vino kembali meneruskan ceritanya. "Aku jalan kaki. Ku lihat lagit begitu
gelap. Hujan mulai turun dengan derasnya. Aku tak mempedulikan itu. Aku lebih
mementingkan fikiran yang selalu mengusikku setiap harinya. Aku melangkahkan
kaki menuju tempat itu. Hujan deras telah membuatku sangat basah kuyup.
Bahkan seperti diriku telah tercebur kedalam lautan. Aku melihat seorang gadis di
tempat itu. Gadis itu duduk disebuah kursi seorang diri. Jantung Fika semakin
berdegup kencang dengan cerita Vino, kejadian tersebut seperti apa yang Fika
alami sore kemarin.
Tiba-tiba terlihat seorang cowok yang membawakan payung untuknya.
Tapi kenapa ia menolak ajakan cowok untuk meninggalakan tempat itu? Hujan
deras sempat mengaburkan penglihatanku, bahkan aku tak mendengar percakapan
93

mereka. Aku melihatnya dari jauh. Tak beberapa lama, cowok itu
meninggalkannya sendirian di taman, dan si cewek tetap saja tak mau beranjak
dari tempat duduknya. Ia memilih untuk kehujanan. Aku sangat iba melihatnya.
Tak selang beberapa lama aku melihat cewek itu terjatuh dari kursi taman. Aku
tak melihat seorangpun ada di sekitar sana. Aku berlari cepat saat itu, beruasaha
menolong cewek yang telah terjatuh pingsan. Aku membawanya ke pos taman
untuk berteduh. Aku tersenyum saat melihat wajahnya. Cewek yang aku tolong
adalah cewek yang selama ini selalu mengganggu fikiranku, dan aku senang, aku
bisa menemuinya di taman itu. Instingku benar, membawaku ke tempat itu. Aku
membersihkan tanah yang menempel ditangan dan wajahnya, saat ia terjatuh tadi.
Aku membelai rambutnya yang basah. Aku sangat kangen dia saat itu. Dia belum
juga sadarkan diri. Aku berikan jaket tebal yang aku simpan di tas rangsel untuk
menyelimutinya, agar ia tidak kedinginan.Tak beberapa lama cewek itu sadarkan
diri. Aku begitu senang. Ternyata dia menungguku sekian lama di tempat itu. Aku
begitu menyesal telah meninggalkannya, tanpa memberi kabar apapun. Sekarang
aku telah menemukan cintaku ditaman itu. Kami berdua saling berpelukan, saling
melepas rindu. Aku utarakan isi hatiku ke dia. Dan akhrinya dia menerima
cintaku. Cerita dari Vino. Tak terasa Fika meneteskan air matanya. Ia teringat
akan kejadian sore itu, hujan deras, di taman itu dan bertemu dengan Fiki.
Cerita itu sama seperti apa yang dialaminya sore kemarin. Apakah sahabat
pendengar yang telah menelfon itu adalah Fiki? Ternyata benar. Fiki yang
menelfon. Fika tak menyangka jika Fiki ikut menceritakan kejadian sore itu di
acaranya. Fika tak bisa berkata apa-apa waktu itu itu.
94

Mbak Fika? panggil Vino didalam telfon.
Iya mas Vino. Maaf saya sangat menikmati alur cerita mas Vino. Cerita
mas Vino sangat romantis, bahkan aku saja menangis mendengarnya. Mungkin
anda mau nitip salam kali ini? Tanya Fika terhadap sahabat pendengar.
Ohh iya. Aku nitip salam kepada orang yang sekarang sangat aku cintai,
Selamat pagi cintaku. Pagi ini terlihat begitu cerah. Secerah hatiku, dan
hubungan kita. Lihatlah ke langit. Awan begitu indah, bahkan aku melihat awan
membentuk wajahmu. Apakah itu hanya hayalanku belaka? Jaga kesehatanmu,
selamat beraktifitas. Salam dari sahabat pendengar. Fika teringat akan pesan
yang dikirim Fiki pagi tadi. Pesan itu sama seperti salam yang di sampaikan
sahabat pendengar yang bernama Vino. Dan tak salah lagi, Vino adalah Fiki
pacarnya yang saat ini ikut On Air dalam siarannya. Hemmm.. awas saja ya Fiki
kalau ketemu aku, bakalan aku cakar-cakar mukamu. Gumam Fika dalam hati.
Ohh.. so sweet mas Vino, terima kasih banyak, telah mau berbagi cerita
di acara ini. Sukses selalu. Telfon terputus. Demikian tadi acara curhat sahabat
pendengar kali ini. Acara akan kami lanjutkan setelah pemutaran satu single lagu
romantis dari Ada band dengan lagunya surga cinta. Tetap stay di radio
kesayangan anda.
***
Setelah beberapa jam Fika On Air, akhirnya pekerjaan yang
melelahkanpun usai. Fika bersiap-siap untuk pulang. Tak lupa ia ber make-up,
sekedar menyapukan bedak tipis di pipinya. Dan menulis indah dengan lipstik di
95

bibir mungilnya. Setelah dirasa cukup cantik, ia memasukkan alat make-upnya
kedalam tas. Fika mengambil ponselnya. Satu pesan masuk dari Fiki.
Selamat sore cinta, aku harap kamu tak keberatan untuk makan
bersamaku kali ini. Aku tahu kamu sedang kelaparan. Jadi aku harap kamu tak
menolak dengan ajakanku. Satu pesan dari Fiki.
Fika tersenyum didepan layar ponselnya. Tahu saja kalau aku sedang
kelaparan. Okey... Fika berfikir sejenak. Hemm.. awas saja kalau bertemu
denganku, siapa suruh kamu ngerjain aku. Gumam Fika dalam hati. Ia masih
dendam dengan Fiki yang menyamar menjadi Vino saat On Air tadi.
Fika memencet tombol nama My Love dan mulai menelfonnya
Hallo.. Aku menerima ajakanmu. Ketemuan dimana? Sahut Fika dalam
telfon.
Dihatimu... Nanti aku kabari lagi. Bye-bye. Sahut Fiki, kemudian
telfonpun terputus. Fika memasukkan ponselnya di dalam tas dan bersiap untuk
pulang. Fika melangkahkan kaki keluar dari tempat kerjanya. Ia buka pintu dan
melihat sekeliling jalan, ia melihat Fiki sudah berdiri di sebrang jalan untuk
menunggunya. Terlihat Fiki melambaikan tangan kearah Fika. Fika membalas
lambaian tangannya dan dengan cepat ia mengayunkan langkahnya menuju
sebrang jalan. Awas saja nanti Gumam Fika dalam hati.
Fiki.. Sudah lama ya? Tanya Fika.
Ahh.. tak lama juga, baru sampai kok ditempat ini.
96

Puas kamu ngerjain aku hari ini, berpura-pura menjadi Vino, dan
menceritakan semua kejadian yang kita alami kemarin sore. Puas kamu hampir
membuatku menangis Fiki? Fika berbicara dengan nada yang sangat tinggi. Ia
meluapkan kekesalannya kepada Fiki. Fiki hanya tersenyum tipis.
Dan akhirnya menangis, bukan? Fiki tertawa menyindir. Hehehhee..
awalnya aku tak mempunyai fikiran untuk On Air di acaramu saat itu. Kebetulan
waktu itu aku mendengar siaranmu, aku tertarik dengan acara itu. Yah itung-itung
aku berkirim salam untuk dirimu. Hehehehe.. Fiki terlihat membela diri dan
tersenyum kecut.
Fika tersenyum mendengar pembelaan dari Fiki. Ahh.. kamu sayang,
membuatku bisu diacaraku sendiri. Tapi terimakasih ya sayang. Berkat kamu
menelfon tadi, rating penyiaran ikut naik. Banyak orang yang menyukai
ceritamu.
Tuh kan, itu semua juga buat kebaikanmu. Gara-gara aku, ratingmu naik
kan? Fiki terus saja memuji dirinya.
Ia sayang, sudah deh jangan memuji diri berlebihan. Eh.. Mau kemana
kita kali ini? Bye the way ini hari kencan pertama kita ya? Seru Fika yang terlihat
senang.
Emmm.. kan kemarin kita sudah kencan pertama, yang ini yang kedua
lah? Jawab Fiki dengan senyum yang melebar.
97

Terserahlah. Yang penting perutku sudah keroncongan, sudah pada maen
mercing band ini lambung. Ayo cari tempat makan! Fika mengajak Fiki untuk
makan.
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengawali kencannya dengan
mengisi perut terlebih dahulu. Fiki mengajak Fika ke restauran bergaya eropa
klasik. Terlihat restauran dengan gedung yang sangat megah dan artistik. Di
depan restauran tergantung beberapa lukisan-lukisan eropa yang sangat indah.
Mereka berdua duduk dikursi bernomor 14. Fika melihat sekeliling restauran.
Terlihat begitu ramai. Suasana begitu romantis. Dengan dua lilin yang ada dimeja
dan asbak yang berbentuk hati yang sangat indah menghiasai meja makan yang
mereka duduki. Tak beberapa lama terlihat pelayan laki-laki datang membawa
nampan dan menyerahkan setumpuk menu yang disajikan restauran itu. Telinga
ini masih mendengarkan alunan live music yang dibawakan group band restauran
itu.
Silahkan tuan menunya. Pelayan itu menyerahkan setumpuk menu
kepada Fiki.
Terima kasih. Fiki tersenyum kearah pelayan. Fiki mulai memilih menu
yang ditawarkan. Fika juga sibuk memutuskan sendiri menu pilihannya. tak
seperti biasa, ia menentukan sendiri menunya kali ini. Fika terlihat bingung dan
akhirnya menyerah.
Kamu saja sayang, yang memilih menuku. Dan seperti biasa, ia
menyerahkan sepenuhnya menu pilihannya kepada Fiki. Fiki hanya tersenyum.
98

Fiki memberitahu menu yang akan mereka pesan. Pelayanpun mencatat menu
yang Fiki pesan.
Oke. Selamat menikmati suasana di restauran ini. Selamat bersenang-
senang. Pelayan laki-laki itu meninggalkan meja Fika dan Fiki.
Terdengar alunan musik yang menggema. Begitu indah dan merdu. Live
music itu membawakan lagu Reason yang dijadikan sountrack film korea
Autumn in my heart, mereka memainkannya not-not yang indah. Fika kembali
melihat sekeliling ruangan di restauran itu. Melihat beberapa perabot antik dan
klasik. Beberapa lukisan yang indah juga nampak menghiasi diding yang terbuat
dari kayu jati. Terlihat artistik dan menawan. Gumam Fika dalam hati. Fika
kembali mendengarkan alunan musik, sungguh enak didengar. Not-not yang
keluar dari piano itu telah menggetarkan hati seisi raungan.
Fika.. Panggil Fiki yang tersenyum ke arahnya.
Senyum Fika merekah. Iya sayang. Fika menatap Fiki. Ia terlihat senang
dengan suasana restauran ini.
Bagaimana menurutmu dengan restauran ini? Fiki takut jika Fika tak
menyukai restauran pilihannya.
Aku begitu menyukainya. Fika tersenyum indah. Fiki hembuskan nafas
leganya.
Syukurlah kamu menyukainya. Fiki tersenyum senang. Fika bagaimana
kalau orang yang kamu cintai menyatakan cintanya didepan banyak orang dan
99

menyanyikan sebuah lagu di panggung itu? Fiki menunjuk ke arah grup band
yang sedang memainkan Live Music.
Fika memandang panggung itu dan tersenyum. Dan aku tak akan pernah
lupakan itu.
Baiklah.. Fiki merapikan baju dan kerahnya. Ia beranjak berdiri.
Tunggu sebentar. Fiki menuju ke atas panggung dan membisik ke salah satu
pemain band. Hanya terlihat anggukan dari salah satu pemain band.
Apa yang akan dilakukan Fiki? Jangan-jangan.. ahhh.. Fika tersenyum
malu melihat Fiki yang akan siap-siap tampil di atas panggung.
Anggukan dari salah satu pemain band menandakan ia setuju apa yang
yang Fiki utarakan. Seluruh personil band turun dari panggung. Tinggal terlihat
Fiki yang ada di atas panggung. Ia menuju piano. Ia duduk tepat di depannya
piano klasik yang begitu indah. Fiki meletakkan tangannya di atas tuts-tuts
piaono. Fiki mulai memainkan dengan nada yang terdengar pelan dan lembut,
kemudian iya menambah power supaya banyak orang mendengar permainannya.
Jemarinya memainkan dengan penuh irama. Sangat piawai Fiki merangkai not-not
yang indah untuk didengarkan. Fika hanya bisa berdecak kagum melihat
penampilan dari pacarnya. Serasa ia ingin sekali menangis haru. Begitu romantis
saat itu. Nada-nada permainan Fiki telah membius semua yang pengunjung
restauran. Semua mata tertuju padanya. Begitupun Fika, ia ingin sekali menangis.
Melihat pacarnya yang begitu romantis didepan panggung.
100

Permainan piano Fiki dihentikan. Tepuk tangan begitu riyuh didengar,
menandakan semua pengunjung suka dengan penampilannya. Fikapun juga
antusias ikut tepuk tangan. Ia kerahkan seluruh tenaganya supaya tepuk tangannya
didengar oleh Fiki. Dari atas panggung Fiki menatap Fika dan tersenyum.
Fiki mengambil microphone. Ia benarkan posisi stand mic. Ehemm..
Fiki mulai bersuara. Terima kasih. Ucap Fiki diatas panggung. Pengunjung
kembali bertepuk tangan sebagai simbol kepuasan. Fiki kembali membenarkan
posisi stand mic. Fiki kembali bersuara dalam microphonnya Sebuah lagu akan
saya nyanyikan untuk seseorang yang sangat aku sayangi. Fiki menatap Fika
yang duduk sedang memperhatikannya diatas panggung. Orang yang aku cintai
lebih dari apapun. Dia ada di sana. Fiki menunjuk kearah Fika. Semua
pengunjung menoleh kearah Fika. Fika dengan malu-malu menundukkan
wajahnya. Pengunjung kembali bertepuk tangan dan bersiul. Suasana restauran
sangat meriah.
Wajah Fika memerah. Ia sangat malu ketika semua pengunjung tertuju
padanya. Tepuk tangan pengunjung seperti air es yang tiba disiram ke seluruh
tubuhnya. Nyeesss.... Fika tak menyangka jika apa yang Fiki ucapkan barusan
adalah suatu kebenaran. Fiki memang akan mengungkapkan perasaan cintanya di
atas panggung itu. serasa tubuh Fika membeku. Wajahnya memerah malu.
Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia tersipu malu. Suara piano itu terdengar
lagu. Nada-nada yang begitu indah.
101

Fiki kembali memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano. Intro lagu yang
sangat indah. Ia membawakan lagu Pelangi di matamu dari Jamrud. Tepuk
tangan yang riuh kembali terdengar.
Tiga puluh menit kita disini, tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.
Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini.
Fika kembali menatap panggung, ia tersenyum. Memang benar-benar Fiki
telah membuat hati Fika menjadi mencair saat ini. Sungguh sangat romantis.
Jam dindingpun tertawa, karna ku hanya diam, dan membisu.
Ingin ku maki diriku sendiri, yang tak berkutik didepanmu
Pengunjung begitu menikmati lagu yang dibawakan Fiki. Begitu indah dan
enak sekali didengar.
Ada yang lain disenyummu
Yang membuat lidahku, gugup tak bergerak
Ada pelangi, di bola matamu
Yang memaksa diri tuk bilang
Aku sayang padamu...
102

Aku sayang padamu...
Fika tersipu malu, hatinya telah mencair saat itu. Penampilan Fiki
dipanggung telah memukau banyak orang, termasuk dirinya.
Aku sayang padamu...
Fiki menyelesaikan lagu itu dengan sangat apik.
Special for my girl friend, Fika. Ucap Fiki di atas panggung.
Semua mata pengunjung mengarah pada tempat duduk Fika, disertai tepuk
tangan yang sangat meriah. Fika hanya bisa menundukkan kepala dan malu.
Hatinya sudah mencair, seperti air es. Fiki menghentikan permainanya dan
kembali di meja Fika. Tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar memeriahkan
seisi restauran.
Bagaimana sayangku? Fiki tersenyum ke arah Fika.
Aku tak bisa berkata apa. Aku gugup. Komentar Fika yang masih
merasa malu.
Nah loh.. yang tampil kan aku, kenapa kamu yang gugup. Tawa Fiki
menyindir. Fika hanya tersenyum getir dengan wajah yang masih memerah malu.
Aku senang dengan penampilanmu. Terima kasih sayang, kamu membuat
diriku mencair. Fika tersenyum ke arah Fiki, yang masih memperlihatkan wajah
yang malu-malu. Aku sayang kamu Fiki. Begitu sangat menyayangimu. Fika
meremat erat tangan Fiki.
103

Aku juga begitu mencintaimu Fika. Fiki tersenyum dan mengecup
tangan Fika.
Tak beberapa lama, pelayan laki-laki datang membawa menu yang Fiki
pesan. Ia meletakkan makanan beserta minuman di atas meja. Makanan yang
begitu menggoda, sepertinya enak. Gumam Fika dalam hati setelah melihat
makanan yang telah terhidang di atas meja.
Pelayan laki-laki itu tersenyum ke arah Fika dan Fiki. Pasangan yang
serasi. Pelayan laki-laki itu menepuk bahu Fiki. Permainanmu piano sangat
mengagumkan anak muda. Begitu romantis. Ucap pelayan itu sembari tersenyum
manis ke arah Fiki. Senyuman seorang laki-laki sekitar berumur lima puluh enam
tahun, yang sangat mengagumi permainan piano Fiki diatas panggung tadi.
Beruntunglah kamu nona, kamu mempunyai pacar seperti dia. Ucap pelayan itu
kepada Fika. Pelayan laki-laki itu terus memuji. Fika hanya tersenyum malu
dengan pujian-pujian itu.
Terima kasih. Fiki membalas senyuman pelayan laki-laki itu. Pelayan
itu meninggalkan meja mereka berdua.
Makanan yang lezat sudah terhidang di atas meja. Begitu banyak yang Fiki
pesan. Dari makanan dessert sampai makanan inti. Mata Fika mengerjap-ngerjap.
Ia bingung mulai dari mana ia makan. Semuanya begitu enak, dan menurutnya
asing baginya.
Sayang ini nama makanannya apa? Fika menunjuk ke dessert yang
terlihat enak.
104

Oh ini namanya Baklava adalah makanan khas Balkan, Turkey. Fiki
mengambil roti dessert dan menjelaskan setiap detail makanan tersebut. Baklava
adalah kue yang sangat manis dengan kenari atau pistacio cingcang dengan sirup
gula atau madu sebagai bahan utama.
Ohh.. terus kalau ini apa sayang. Fika menunjuk satu makanan yang
begitu menggoda selera. Terlihat beberapa daging sapi, wortel serta potongan roti.
Kalau ini namanya Beef Bourguignon. Fiki kembali menjelaskan
dengan detail makanan tersebut. Jika indonesia punya Rendang makan
Perancis punya makanan Beef Bourguignon. Kelebihan dari makanan ini adalah
daging sapinya yang mempunyai tekstur yang sangat lembut, karena dimasak
dengan anggur merah dan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Kali ini Fika berdecak kagum. Rasa penasarannya kembali muncul. Ini
apa sayang, ini, ini dan ini. Fika menanyakan semua makanan yang terhidang di
meja saat itu. Fiki hanya tersenyum, Fika memang mempunyai rasa ingin tau yang
cukup tinggi.
Nicoise sallad, Foie gras, coq auvin. Semua makanan ini adalah
makanan Eropa, sayang. Fiki tersenyum. Ia mengambil Beef Bourguignon. Dan
menaruh diatas piring Fika. Cobalah, pasti kamu suka. Fika tersenyum. Ia
mengambil garpu, mengiris tipis daging sapi itu dan memasukkannya ke dalam
mulut mungilnya.
Hhhmmm... Nyummy.. enak sayang. Aku tak pernah makan daging
selembut ini. Fika sangat suka makanan ala Eropa tersebut. Mulutnya terlihat
mengunyah perlahan. Ia begitu sangat menikmati.
Syukur kalau kamu juga menyukainya. Fiki mengambil Nicoise sallad.
Selamat makan.
Mereka berdua makan dengan begitu lahap. Dessert dan makanan inti,
semua disantap dalam waktu sekejap. Makanan di restauran ala Eropa yang
mereka kunjungi memang terkenal enak dan romantis. Banyak orang yang
105

mengunjungi restauran itu. restauran ala Eropa buka setiap harinya mulai jam
08.00 sampai tengah malam. Begitu mempesona restauran itu. gaya klasik dan
artistik, Live Music yang menemani selagi menyantap hidangan. Juga makanan
yang semuanya enak. Itulah mengapa banyak orang yang selalu memadati meja-
meja di restauran itu. Fiki sebelumnya sudah memesan satu meja untuk mereka
tempati. Kalau saja ia tak memesan hari sebelumnya, pasti tak akan dapat tempat
untuk makan di restauran yang hebat itu.
Enak sekali sayang. Fika tertawa kecil, bahkan ia bersendawa pelan.
Fiki tertawa melihat sendawa Fika. Sayang, kamu begitu tahu soal makanan
Eropa ini.
Pamanku mempunyai restauran Eropa, dan aku sering mengunjunginya.
Jadi secara tak langsung aku menghafalnya. Terkadang aku juga ikut membantu
paman menyiapkan makanan-makanan itu kepada para pengunjung disana.
Ikut memasak juga kah? Tanya Fika sambil mengelap bibirnya
menggunakan tissue.
Ya.. benar sekali. Terkadang aku juga menjadi koki. Memasak makan ini.
iseng-iseng aku belajar masak juga. Hahhaha.. Fiki tertawa renyah
menyombongkan dirinya yang bisa masak makanan Eropa.
Hebat kamu sayang. Sekali-kali kamu harus masakin aku makanan Eropa
se enak makanan di restauran ini ya? Fika menghardik Fiki supaya mau
memasakkan makanan Eropa nanti. Fiki hanya tersenyum.
Oke sayang. Siap dengan tantangan memasakmu. Fiki mengambil tissue
dan mengelap mulut Fika yang clemotan dengan es krim. Fika tersenyum dengan
perhatian Fiki. Begitu romantis. Fika tertawa kecil. Aku begitu mencintaimu
Fiki. Gumam Fika dalam hati.
Kemana lagi kita? Tanya Fiki.
106

Ke taman yuk, lihat Sunset.Ajak Fika. Ia mengajak Fiki untuk pergi ke
taman. Dan akhirnya kencan mereka dilanjut ke taman yang sering Fika kunjungi.
Sesampainya ditaman. Terlihat begitu ramai saat itu, seperti hari-hari yang
lain, taman ini tak pernah sepi pengunjung, mungkin karena pesonanya yang
begitu anggun. Bunga-bunga yang sangat indah menghiasi seisi taman. Hembusan
anginpun membuat jiwa ini semakin tenang. Bahkan suasana senja yang begitu
indah. Matahari terbenam adalah peristiwa yang sangat ditunggu-tunggu oleh para
pengunjung. Mereka bisa melihat keindahan sunset dengan jelas di tempat ini.
Sayang, lihat.. sebentar lagi matahari yang perkasa itu akan terbenam.
Keindahannya, cahaya yang ada disekelilingnya, sungguh begitu anggun. Senja
yang penuh dengan rasa cinta dan kehangatan. Aku ingin cinta kita seperti
matahari itu. Yang akan terus bersinar hingga Tuhanlah yang nanti akan
memisahkan cinta kita. Fika menujuk kearah matahari yang akan terbenam.
Fiki tersenyum kearah Fika, ia kembali memandang sunset yang begitu
indah. Lihatlah kearah matahari itu, begitu mempesona. Sebentar lagi, matahari
itu akan menuju peristirahatannya. Senja ini akan menjadi malam yang begitu
gelap. Fiki menghela nafas panjangnya. Menyusun kata-kata indah yang akan di
ucapkan kepada Fika. Jangan takut akan malam, jika nantinya malammu akan
menjadi indah. Janganlah takut akan perpisahan, jikalau nantinya ada perjumpaan
setelah itu.Fiki tersenyum dan menggenggam erat tangan Fika. Fika membalas
senyumannya. Tak kuasa Fika meneteskan air matanya, Fika tak bisa berkata apa-
107

apa saat itu, ia memeluk Fiki dan Fiki membalas pelukan Fika dengan penuh kasih
sayang.
Fiki, aku tak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ke dua kalinya. Aku
tak mau secepat itu senja menjadi malam. Aku belum siap untuk itu. Aku masih
butuh kamu, cintamu dan kasih sayangmu. Aku masih rapuh akan semuanya. Aku
belum sekuat matahari. Maka aku mohon kamu jangan meninggalkanku lagi.
Tetaplah disini bersamaku, merajut cinta dan kasih sayang. Hanya ada aku, kamu
dan cinta kita. Ungkap Fika dengan terus memeluk Fiki dengan tulus.
Aku berjanji dengan diriku, aku tak akan meninggalkanmu sendiri, aku
akan selalu bersamamu. Karena diriku sudah menjadi satu denganmu. Tepatnya
disini. Fiki menunjuk hati Fika.
Terima kasih Fiki. I Love You.
I Love you to. Balas Fiki. Dan akhirnya mereka mengakhiri kencannya
kali ini. Fiki mengantarkan Fika untuk pulang kerumahnya.
Keindahan cinta memang begitu mempesona, seperti keindahan senja yang
akan berganti dengan malam. Matahari dengan gagahnya akan menuju
peristirahatannya. Empat puluh tujuh menit sunset yang mengesankan. Empat
puluh tujuh menit, matahari sempura menuju peristirahatannya. Bulan dan
bintanglah yang akan menggantikan tugasnya, menjadikan langit begitu indah saat
malam. Ribuan bintang yang bersinar menambah malam-malam ini begitu
romantis. Bulanpun dengan sinarnya yang cerah telah membius hati dan perasaan
108

menjadi damai. Cinta akan selalu terpancar keindahannya. Tak ada cinta, tak kan
ada lagi keindahan dan kedamaian.







109

Secepat itu, fiki melamarku

Sore itu, setelah Fika pulang dari bekerja. Seperti biasa ia meneyempatkan
diri untuk pergi ke Taman. Ia duduk seorang diri. Terlihat Fiki tak bersamanya. Ia
duduk di kursi taman yang dekat dengan pohon mahoni besar. Ia menatap kearah
langit dengan tatapan yang kososng.
Tiba-tiba bayangan itu muncul kembali, terlihat begitu jelas difikirannya
kereta yang melaju cepat, terdengar pula klakson kereta yang berbunyi sangat
kencang. Kepalanya mulai pusing dan tak tertahankan. Nafasnya kian tersengal-
sengal dan pandangannya mulai kabur. Fika terus menjambak-jambak rambutnya
untuk menahan rasa sakit dikepalanya. Tak ada yang tau keadaan Fika saat ini.
Fika masih merasakan sakit yang begitu hebat dikepalanya. Arrggg... ia
menggerang kesakitan. Terlihat lalu lalang orang difikirannya, terdengar jeritan
orang-orang bahkan suara sirine mobil pemadam kebakaran membuat telinganya
mau pecah. Seperti ada bom yang akan meledak. Fika terus menjambak-jambak
rambutnya, dan mengerang kesakitan. Dan tak lama bayangan itupun hilang
difikirannya. Nafasnya pun mulai kembali normal. Bahkan penglihatannya sudah
tidak kabur. Fika mengambil air mineral di tasnya, ia meneguk air itu untuk
menenangkan jiwanya. Ia terlihat meneteskan air mata, ia selalu dihantui oleh
fikiran itu. Entah dari mana bayangan-bayangan tersebut. Semakin ia mencoba
110

mengingat-ingat, bayangan itu semakin kuat. Fika sangat tersiksa dengan semua
itu. Ia terus menangis. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Padahal, pernah ia pergi ke psikiater maupun dokter untuk menanyakan
penyakitnya. Tak ada satupun dari mereka yang tau penyakit penyakit apa yang
Fika derita. Mereka hanya mengatakan bahwa Fika hanya trauma pada suatu
kejadian. Tapi kejadian apa? Kapan? Dan dimana? Pertanyaan itu sering muncul
difikirannya. Hingga akhirnya ia biarkan bayangan itu muncul dan menyiksa
dirinya.
Fika masih memandang langit-langit sore saat itu. Begitu indah ia
pandang. Sesekali ia mengusap air matanya akibat tangisannya tadi. Tiba-tiba dari
belakang ada seseorang yang menutup mata Fika dengan tangannya.
Siapa sih ini? Fika penasaran dengan orang yang menutupi matanya.
Orang tersebut tak menjawab pertanyaan Fika. Ia terus menutupi mata Fika
dengan tangannya.
Ohh.. aku tau siapa orang ini. orang yang paling jahil dikehidupanku.
Siapa lagi kalau bukan. FIIIIKIIIII....... Fika berteriak keras.
Wow.. wow.. gak usah berteriak begitu neng. Fiki kaget dengan teriakan
Fika. Hampir saja jantungku copot dengerin teriakanmu. Fiki mengelus
dadanya yang kaget akibat teriakan Fika. Setelah itu Fiki duduk disamping Fika.
Sayang maaf ya aku telat. Banyak sekali pekerjaan yang aku selesaikan di
hari ini.
111

Tak apa-apa sayang. Aku nyaman kok ditempat ini. Baru nungguin kamu
satu jam aja kok. Aku pernah menunggumu disini tiga bulan lamanya. Hahaha..
Balas Fika menyindir.
Iya-iya sayang, gak bisa berkutik deh kalau begitu. Eh.. sayang, kamu
habis nangis ya? Kok aku menutup matamu terasa basah? Tanya Fiki yang
merasa Fika baru saja menangis.
Tak apa sayang, aku baru saja membaca novel yang aku beli kemarin.
Ceritanya sungguh mengharukan. Fika menutupi apa yang baru ia alami. Tentang
bayangan itu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, ia menunjukkan novel
itu kepada Fiki. Ia tak mau jika apa yang ia alami akan membebani Fiki juga.
Ohh.. aku kira, kamu lagi ada masalah makanya kamu menangis. Sayang,
kalau ada masalah, ada sesuatu yang perlu diceritakan, kamu boleh kok curhat
semuanya ke aku. Fiki tersenyum kearah Fika. Ia membelai rambut Fika dengan
lembut. Fikapun membalas senyumannya dan menyandarkan kepalanya di pundak
Fiki.
Iya sayang, makasih banyak kamu sudah sangat perhatian denganku. Aku
sangat mencintaimu. Fika tersenyum lembut saat itu. Ia senang bahwa Fiki
sangat mengkhawatirkan dirinya. Kekawatiran dirinya menunjukkan bahwa ada
rasa cinta yang besar di dalamnya.
Aku juga sangat mencintaimu sayang, ada yang perlu aku tunjukkan ke
kamu. Ikutlah denganku sekarang. Fiki mengajak Fika untuk ikut dengannya.
112

Apa sayang. Fika penasaran.
Ayolah nanti kamu akan mengetahui sendiri. Fiki mengajak Fika untuk
mengikutinya. Ada sesuatu yang akan ia tunjukkan. Fiki terus menggandeng
tangan Fika untuk menju kesuatu tempat. Mereka menuju ke bagian taman paling
belakang. Hanya terlihat rumput-rumput dan padang ilalang disekitarnya. Bahkan
tak ada pengunjung yang menjangkau tempat itu. terlihat dua buah kursi, satu
meja bundar di bawah pohon mahoni besar, dan terdapat danau yang tak jauh dari
situ. Sepertinya Fiki telah mempersiapkan semuanya, karena sebelumnya tak ada
kursi ataupun meja ditempat itu.
Sayang aku minta kamu menutup mata. Fiki memberikan kain kepada
Fika untuk menutup matanya.
Buat apa sayang? Fika penasaran.
Kamu akan tahu nanti, tenang saja aku tak akan berbuat macam-macam
denganmu. Akhirnya Fika mau untuk ditutup matanya. Fiki membantunya untuk
memasangkan kain yang akan menutupi mata Fika. Setelah itu tangan Fika ia
gandeng dan membawanya ketempat kursi dan meja tersebut. Fiki mendudukkan
Fika yang masih tertutup matanya. Fiki ikut duduk didepannya.
Sayang, kamu boleh membuka penutup matamu sekarang. Fiki sudah
memperbolehkan Fika untuk membuka penutup matanya. Fikapun membuka
penutup matanya.
Sayang... iituu... Fika sungguh tak percaya.
113

Iya sayang ini semua aku persembahkan untukmu. Fiki menunjuk
kearah danau. Terlihat begitu indah panorama disana. Matahari bersiap untuk
menepi dari cakrawala. cahayanya dipantulkan oleh air danau dan menyebar
kemana-mana. Cahayanya yang berwarna orange membuat serasa jiwa ini begitu
tenang, seperti rasa dahaga yang terbayar oleh tegukan air segar. Hembusan angin
yang lembut sekaan membuat hati ini merinding. Keindahan itu sungguh
terpancar indah di sore itu.
Sayang, lihatlah pesona itu, itulah yang ingin aku tunjukan kepadamu
saat ini, senja akan berganti menjadi malam, dan malampun akan indah untukku
dan untukmu. Fiki terus memandang Fika dengan seulas senyuman yang tak
putus-putus ia berikan. Fika tak bisa berkata-kata, air matanya berlinang saat
melihat semua itu, keindahan itu bak seperti obat bius yang telah membius
jiwanya. Ia melihat keindahan senja yang begitu mempesona. Sesekali ia
menghela nafas panjangnya sambil tersenyum indah kearah Fiki.
Terima kasih sayang, kamu sudah menunjukkan ini kepadaku, aku sangat
menyukainya. Tak pernah aku melihat keindahan itu disini. Aku merasa terenyuh
melihatnya. Betapa megah alam raya ini, betapa indah suasana kali ini. Senja ini
akan selalu mengingatkanku pada dirimu yang telah membawaku kesini. Aku
akan selalu mengingatnya, mengingat cintaku disini. Fika meletakkan kedua
tangannya didadanya. Dihati ini sayangku. Fika memberikan senyumannya tak
henti henti, ia mengagumi keindahan senja itu.
114

Fika, ada yang mau aku ungkapkan sekarang. Sepertinya Fiki akan
mengatakan sesuatu yang sangat penting. Ia hembuskan nafasnya panjang.
Sesekali ia harus menelan ludahnya untuk mengatasi kegugupannya. Fika juga
agak kaget mendengarnya, ia penasaran apa yang akan dikatakan oleh Fiki.
Mendadak tubuhnya panas dingin. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Fika memandang dengan seksama kearah Fiki. Ia menunggu satu kata terucap
pada bibirnya.
Apa sayang? Fika terlihat agak gusar oleh semua itu. Ia terus
memandangi Fiki. Entah mengapa iya begitu deg-degan saat ini. Benar-benar
beberapa kata itu telah membuatnya penasaran dan tak karuan. Ia menanti Fiki
mengucapkan seseuatu dari bibirnya.
Fiki terlihat sibuk mencari sesuatu. Ia merogoh saku bagian belakang
celananya. Ia agak kesulitan mengeluarkannya. Fiki berusaha tetap tenang di
hadapan Fika. Ia melempar senyum kearah Fika, seolah-olah semuanya baik-baik
saja. Setelah ia mendapatkan sesuatu itu. Ia mengeluarkannya dan menunjukkan
kearah Fika. Sebuah kotak kecil berwarna merah tua. Fiki memperlihatkan kotak
itu kepada Fika.
Aku begitu mencintaimu Fika, maukah kamu menikah denganku? Fiki
membuka kotak itu. Terlihat didalamnya terdapat satu cincin berlianS yang sangat
indah. Tak terasa Fika berlinang air mata menyaksikan itu semua. Fiki telah
melamarnya. Fika tak henti-hentinya menangis. Rasa bahagianya tak bisa ia
bendung. Orang yang sangat ia cintai akan menikahinya. Ia sangat terharu. Fika
115

memegang pipinya dengan satu tangan. Apakah ini sebuah mimpi? Ia bertanya
pada hatinya. Linangan air mata terus membasahi pipnya.
Maukah kamu menikah denganku? Tegas Fiki lagi dengan tetap
memperlihatkan cincin indah itu dihadapannya. Are you marry me? Fiki
tersenyum kearah Fika. Tapi tetap saja Fika tak berkata apa-apa. Tak tau harus
bagaimana ia mengungkapkan perasaan bahagianya. Ia hanya menangis dan
sesekali menunjukkan senyumannya.
Fika... Panggil Fiki dengan senyuman yang indah kearahnya
Iya sayang, aku bersedia menikah denganmu. Rasanya air mata Fika
sudah semuanya tumpah. Suaranya terisak-isak saat ini. Tak tahu apa yang harus
ia katakan. Fika langsung memeluk Fiki dengan tangisan yang semakin keras. Fiki
membalas pelukan Fika dengan lembut dan hangat.
Fika, aku sangat berharap kamu nantinya bisa menjadi istriku, aku
menginginkanmu untuk selamanya. Menjadi pendamping hidupku. Menyiapkan
makanan dan sarapan untukku, menyambut kedatanganku setelah selesai bekerja.
Menemani anak-anak kita mengerjakan PR. Membawa anak kita keluar rumah
untuk melihat bulan dan bintang yang indah. Itu semua yang harus kamu lakukan
jika nanti kamu menikah denganku. Aku begitu mencintaimu, dan aku ingin
mencintaimu seumur hidupku. Menikahlah denganku, dan aku akan berusaha
menjadi suami yang akan menjadi imam terbaikmu. Dan aku sangat yakin, kamu
akan menjadi istri terbaikku dan ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti. Fiki
terus memeluk Fika. Sesekali Fiki membelai rambutnya dengan lembut. Fika
116

masih tak bisa berkata-kata. Ia hanya terisak-isak dalam tangisannya. Tak tau ia
harus berkata apa, perkataan Fiki, lamaran Fiki telah membiusnya saat ini. Bahkan
sesekali ia memegang pipinya dengan satu tangan dan menanyakan, apakah ini
hanya sebuah mimpi? Ia masih tak percaya akan semua ini. Air matanya sudah
sering ia hapus dengan tangannya, tapi air mata itu tak henti-hentinya keluar. Dan
tak ada habis-habisnya. Air mata bahagia.
Fiki melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Fika. Ia
melihat wajah Fika yang basah dengan air mata, ia terlihat terisak-isak dan
mengatur nafasnya. Sesekali ia menghembuskan nafas panjangnya. Fiki menatap
wajahnya cantik yang menangis itu, ia tersenyum kearah Fika.
Fika jangan menangis. Fiki memegang pipi Fika dan menghapus air
matanya. Fika terus menangis. Serasa ia tak punya kekuatan untuk menghentikan
tangisannya. Fika sudahlah, ini hanya sebuah lamaran biasa. Fiki mencoba
menenangkan Fika. Ia mengambil cincin yang ada di dalam kotak merah tua itu
dengan jemarinya. Ia lihat sebentar, Fiki meraih tangan kiri Fika. Ia memegang
jari-jari indah Fika, tepatnya ia memilih untuk memegangi jari manisnya. Ia
pasangkan cincin yang indah itu di tangan Fika.
Aku sangat mencintamu, untuk saat ini dan selamanya. Ucap Fiki
setelah melingkarkan cincin itu di jari manis Fika. Fika tak bisa berkata apa-apa.
Tangisannya semakin deras, kedua tangannya menutupi mulutnya. Serasa ia tak
bisa membendung perasaan bahagianya saat itu. Fikapun memeluk Fiki untuk
yang kedua kalinya. Fiki membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang.
117

Senja itu telah menjadi saksi antara cinta mereka berdua, bahkan
keindahan itu telah menghiasi cinta mereka. Mataharipun dengan gagahnya undur
diri, dan menuju peristirahatannya. Empat puluh tujuh menit yang mengesankan.
Dan senja itu telah berubah menjadi malam yang indah.











118

Dua kejutan yang tak pernah
terlupakan

Fika menuju kearah kamar madi untuk mebersihkan wajahnya. Ia melihat
wajahnya di kaca. Ia terlihat tak karuan, kusam, bahkan linangan air mata itu
mengering dan menimbulkan suatu bekas putih-putih dipipinya. Ia tertawa melihat
wajahnya dikaca. Begitu jelek saat ini, dengan matanya yang bengkak akibat lelah
menangis dan masih terlihat memerah. Fika mulai membasuh mukanya dengan
air. Ia usapkan facial soap ke wajahnya dan mulai membersihkan mukanya. Ia
bilas wajahnya dengan air lagi untuk menghilangkan facial soap yang ada
diwajahnya. Ia raih handuk yang tak jauh dari kaca itu. Ia tempelkan wajahnya ke
handuk itu dan mulai mengusap-usapkan. Ia pandangi wajahnya lagi di kaca itu.
Nah ini sudah agak lumayan. Ia tersenyum kearah kaca. Melihat wajahnya yang
sudah bersih seperti semula.
Setidaknya Fiki telah mengantarkannya untuk pulang kerumah. Fiki tahu
bahwa Fika harus beristirahat saat ini. Ia tahu kondisinya, yang tak henti-hentinya
menangis saat itu.
119

Fika menuju kamarnya, ia sandarkan kepalanya pada kasur
kesayangannya. Ia hembuskan nafas panjang itu. Ia terus memegang pipinya
dengan satu tangan, apakah ini mimpi? Benar, ini bukan mimpi, Fiki telah
melamarku, yeeee.. Fika berdiri dan jingkrak-jingkrak dikamarnya. Tak beberapa
lama ponselnya berdering. Satu pesan dari Fiki.
Fika, ayo cepat tidur, aku tahu kamu perlu istirahat sekarang. Dalam
hati Fika bertanya, kenapa ia harus disuruh cepat tidur? Ia memandang jam
dinding yang menempel di tembok kamarnya. Masih pukul 19.30, kenapa harus
menyuruhku untuk tidur secepat itu? Fika melanjutkan membaca pesan dari
kekasihnya.
Ayo tak usah menggerutu seperti itu, sekarang kamu ambil selimutmu
dan tidur secepatnya. Have nice dream my love, bye-bye..
Fika hanya mengangkat kedua alisnya. Ia terlihat tersenyum picik setelah
membaca pesan darinya, apa maksud dari semua ini? mengapa aku disuruh tidur
lebih cepat dari biasanya? Padahal setiap malam ia pasti disuruh untuk
menemaninya begadang, sekedar untuk menemaninya melihat acara bola. Ia
kembali merik jam dinding itu. Masih pukul 19.32. Ah sudahlah lagian aku juga
sudah sangat capek hari ini. Tangisanku dari tadi telah menghabiskan semua
tenagaku untuk hari ini. Memang benar juga saran Fiki untuk menyuruhku tidur
cepat-cepat. Setidaknya aku bisa bangun lebih pagi dan lebih segar untuk hari
esok. Ia meletakkan ponselnya ke meja. Dan merebahkan dirinya ke atas kasur
yang empuk. Tak beberapa lama Fika terlelap tidur.
120

***
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang berdering keras. Fika masih enggan
untuk membuka matanya. Ia biarkan ponselnya berdering. Dering ponsel itu
terdengar lagi, bahkan sudah berkali-kali berdering. Fika masih memejamkan
matanya. Matanya enggan untuk membuka, apalagi untuk meraih ponsel itu dan
mengangkat telfon. Ah.. siapa sih malam-malam menelfonku. Gerutu Fika yang
masih memejamkan matanya. Ponsel itu berdering lagi, entah sudah berapa kali
ponsel itu berdering. Fika agak terganggu dengan suara posel tersebut. Ia
kumpulkan tenaganya mencoba membuka matanya lebar-lebar dan berniat untuk
mematikan ponselnya. Setelah dirasa ia bisa membuka matanya, ia menuju ke
arah posel yang diletakkannya dimeja. Ia raih ponsel itu. Ia melihat layar
ponselnya, dua puluh panggilan masuk dari Fiki. Tak lama ia melihat layar ponsel
tersebut, ponsel itu berdering lagi. Kali ini Fika mengangkat telfon itu.
Hallo..
Hallo sayang? Ternyata Fiki yang menelfon.
Ada apa Fiki?
Tak ada apa-apa, aku mau menanyakan tentang kabarmu. Sahut Fiki.
Hanya itu, huuuhhh.. Fika menghembuskan nafas panjangnya. Ia
kecewa Fiki menelfon hanya untuk menanyakan kabarnya saat ini. Aku baik-
baik saja sayangku? jawab Fika dengan ketus.
121

Hehehee.. syukurlah kamu baik-baik saja sekarang. Temui aku di depan
rumahmu sekarang.
Apa? Fika terbelalak matanya. Ia menelan ludahnya serasa tak mengerti
ucapan Fiki.
Iya temui aku sekarang di depan rumahmu. Fiki memerintahkan Fika
untuk menemuinya di depan rumahnya.
Iya, iya tunggu. Serasa Fika tak percaya. Ia tak pedulikan
pertanyaannya. Cepat cepat ia berlari menuju pintu depan untuk melihat
keberadaan Fiki, apakah sudah berada di depan rumah ataukah belum. Ia
menyalakan semua lampu di bagian teras dan ruang tamu. Ia membuka pintu. Ia
melihat sekeliling luar rumahnya. Ia tak melihat Fiki didepan rumahnya, bahkan
tak satupun orang dia lihat sedang melewati jalan rumahnya.
Huuhh.. sudah kuduga. Ia pasti ngerjain aku. Fika menutup pintunya
kembali. Setelah ia menutup pintunya, tiba-tiba lampu ruang tamu mati. Tak tau
siapa yang mencoba mematikannya. Ataukah sedang terjadi konsleting atau
pemadaman bergilir? Dari kejauhan terdengar suara goresan korek api, srreeekk..
jesss. Tiba-tiba ada seseorang yang menghidupkan lilin di ruang tengah. Ahh
mungkin ibu atau ayah mencoba menyalakan lilin karena lampu telah mati. Ia
terus mengamati cahaya lilin tersebut. Semakin lama-cahaya itu semakin
mendekatinya. Dan tak begitu jelas siapa yang membawa lilin itu menuju kearah
Fika. Setelah beberapa meter dari arah Fika orang tersebut berhenti, Fika masih
122

tak melihat siapa yang membawa lilin tersebut, apakah ibunya? ataukah ayahnya?
Mengapa tak bersuara? Tiba-tiba lampu menyala.
Surpraiissssee... selamat ulang tahun. Kali ini Fika bisa melihat dengan
jelas siapa yang telah membawa lilin tersebut. Terlihat Fiki membawa kue ulang
tahun dan diatasnya terdapat lilin bernomor 21.
Selamat ulang tahun Fika. Terlihat pula ibu dan ayah Fika muncul dari
belakang Fiki dan memberikan selamat kepada anaknya.
Fika tak bisa berkata apa-apa. Kali ini ia menangis lagi melihat kejutan
dari Fiki. Tangannya menutupi mulutnya. Serasa tak percaya. Ia mengingat-ingat
dalam memori otaknya. Hari ini tepat jam 00.15, tanggal 6 mei 2013, ia teringat di
tanggal ini ia berulang tahun. Kenapa secepat ini? bahkan ia sempat lupa dengan
hari ulang tahunnya. Ia masih tak percaya, Fika masih berdiri dan tanpa suara.
Fiki mendekati Fika. Selamat ulang tahun kekasihku. Happy birthday.
Fiki tersenyum kearah Fika sambil menyodorkan kue ulang tahunnya.
Fika teringat kenapa hari ini ia disuruh untuk tidur lebih awal oleh Fiki.
Mungkin ini semua taktik Fiki agar bisa mempersiapkan kejutan di hari ulang
tahunnya. Ia menelfon tengah malam dan menyuruhku untuk menemuinya di
depan rumah. Dan ternyata... ia mengakui kecerdikan Fiki saat ini. Bahkan hari ini
Fika disuguhkan oleh dua buah kejutan. Yang pertama di tepi danau itu Fiki
melamarnya, dan yang kedua ia menemuiku dirumah dan memberi ucapan ulang
tahun.
123

Selamat ulang tahun Fika, kenapa melamun. Fiki mengagetkan lamunan
Fika saat itu. Fika tersenyum kearah Fiki. Juga kearah Ayah dan Ibu Fika. Fika
hanya tertawa kecil melihat semua itu. Fiki menyanyikan sebuah lagu selamat
ulang tahun, dari band jamrud.
Hari ini, hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun, usiamu, bahagialah kamu
Yang ku beri, bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga, atau puisi, juga kalung hati
Maaf bukannya pelit, atau tak mau bermodal dikit
Yang ingin aku beri padamu, doa setulus hati

Semoga tuhan melindungi kamu,
Agar tercapai semua angan dan cita-citamu
Mudah mudahan diberi umur panjang
Sehat selama-lamanya
selamat ulang tahun
Terlihat pula ayah dan ibu Fika antusias dengan bertepuk tangan
mengiringi Fiki menyanyi.
124

Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday happy birthday..
Happy birthday to you.
Ibu dan ayah Fika juga ikut menyanyi saat itu, membuat kejutan itu
semakin meriah.
Tiup lilinya, tutup lilinya, tiup lilinya sekarang juga
Sekarang juga
Sekarang juga..
Fika bersiap-siap untuk meniup lilin ulang tahunnya.
Stop... sebelum kamu meniup lilin itu. Alangkah baiknya kamu
mengajukan permohonan dan harapanmu di hari ulang tahunmu ini. sahut Fiki.
Emmm.. baiklah.. Fika memejamkan matanya dan menggenggam kedua
tangan didepan dadanya. Fika mulai mengajukan permohonnya didalam hati.
Sudah selesai.. Fika meniup lilin ulang tahunnya.
Horeee... hahhahaa... Kemeriahan terjadi saat itu. Fiki dan kedua orang
tua Fika tertawa, Fikapun juga ikut tertawa seperti mereka.
Kalau boleh aku tau, apa permohonanmu tadi? Fiki menanyakan apa
yang diucapkan dalam hati Fika sebelum meniup lilin.
125

Ohh.. rahasia. Hahahhaa.. Fika tertawa terbahak-bahak. Seraya ia tak
mau menceritakan permohonan apa yang diucapkan tadi. Semuapun ikut tertawa
juga saat itu.














126

Menikahi fika adalah pilihan
terbaiku

Fika, aku sudah menceritakan semuanya kepada kedua orang tuamu, saat
kamu masih tidur tadi. Terlihat Fiki dan Fika duduk di teras rumah sambil
memandangi langit yang terdapat bulan dan bintang. Hanya terdapat Fika dan Fiki
saat itu.
Apa maksudmu? Cerita tentang apa? Fika kaget dengan perkataan Fiki.
Ia masih bingung, Fiki menceritakan tentang apa kepada kedua orang tuanya.
Aku telah bercerita kalau aku tadi melamarmu. Fiki berusaha
menjelaskan kepada Fika. Suasanapun mendadak serius.
Ohh.. baguslah. Maaf aku belum sempat memberi tahu mereka soal itu.
Bagaimana tanggapan mereka? Pandangan Fika mengarah pada Fiki. Terlihat ia
mengkerutkan keningnya, seraya cemas apa yang akan Fiki sampaikan kepadanya.
Menurut mereka, mereka senang aku telah melamarmu. Dan mereka
memperbolehkanu untuk menikah denganmu. Fiki tersenyum kearah Fika. Fika
bernafas lega saat itu. kedua orang tuanya telah menyetujui lamaran Fiki.
127

Terus.. apa rencanamu selanjutnya? Tanya Fika yang masih
menginginkan Fiki melanjutkan ceritanya.
Aku juga sudah menelfon Ayahku yang ada di Singapura. Fiki terlihat
serius menceritakannya. Terlihat sesekali ia hembuskan nafas panjangnya dan
berfikir sejenak, dan tersenyum kearah Fika.
Apa yang ayahmu katakan Fiki? Fika merasa sangat penasaran dengan
sikap Fiki yang mendadak seperti itu.
Ayahku bilang..... ia akan secepatnya datang ke Surabaya, melamarmu
untukku. Fiki tersenyum lebar kearah Fika. Serasa beban hidup telah terlepas. Ia
kembali menghembuskan nafas panjangnya.
Teruss...
Dia akan ke Surabaya lusa. Jelas Fiki.
Secepat itu?
Kenapa? Bukannya lebih cepat lebih baik. Fiki menatap Fika dengan
serius.
Hehehee.. aku senang mendengarnya. Aku akan menjadi istrimu nanti.
Fika tersenyum tak henti-henti kearah Fiki. Ia sangat senang akhirnya impiannya
untuk menikah dengan Fiki sudah didepan mata. Harapannya hanya tinggal
menghitung hari.

128

Hari lamaranku dengan fiki

Hari ini adalah hari dimana impian dan harapan antara dua insan akan
terwujud. Hari ini adalah gerbang rencana untuk sebuah pernikahan akan disusun.
Semua tergambar indah saat itu. Ayah Fiki yang berada di Singapura akan datang
ke Surabaya untuk melamarkan anak kesayangannya. Tepat jam 06.00 WIB,
pesawat ayah Fiki telah mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Keinginannya
untuk melihat Fiki akan menikah dengan orang yang dicintainya sudah didepan
mata. Semua harapan Ayah Fiki hanyalah kepada anak satu-satunya, yaitu Fiki. Ia
terlihat sangat senang hari ini. Sesekali dalam perjalanannya ia tersenyum sendiri.
Membayangkan anak kesayangannya akan secepatnya melangsungkan
pernikahan. Dan tak lama lagi iya akan menjadi seorang kakek, yang mempunyai
beberapa cucu yang sangat lucu. Fikiran ayah Fiki saat ini melayang-layang jauh.
Betapa bahagianya dia nantinya. Bahkan ia akan berjanji untuk selalu
menyempatkan waktu untuk cucunya. Mengingat ia sekarang hidup sendiri sejak
kematian Ibu Fiki dua puluh dua tahun yang lalu. Bayangan tentang kecelakaan
yang telah menewaskan Istri dan anak perempuannya masih terbayang dalam
ingatanya. Tapi Ayah Fiki tak mempedulikan semua itu. yang ia fikirkan sekarang
adalah Fiki akan menikah. Hanya itu, seulas senyum selalu tergambar pada ayah
Fiki saat ini.
129

Terlihat lalu lalang orang yang ada di bandara saat itu. Terlihat pula
kerumunan orang yang sedang mengurus tiket penerbangan, atau bahkan hanya
melihat jadwal penerbangan selanjutnya. Pria yang mempunyai perawakan tinggi
besar, menggunakan jas berdasi dengan warna rambut agak memutih sedang
menggeret kopernya. Lima menit yang lalu ia baru mendarat dari pesawatnya. Ia
melihat sekeliling bandara, ia mencari orang yang akan menjemputnya. Sesekali
tawaran sopir taksi tak ia hiraukan. Ia sedang menunggu seseorang saat itu.
Dari arah kejauhan terlihat seorang anak muda melambaikan tangan
kearahnya. Ia membalas dengan lambaian tangan juga. Terlihat anak muda itu
sedang menuju kemari.
Ayah.. sudah lamakah? Tanya Fiki kepada ayahnya yang baru saja turun
dari pesawat. Fiki melihat penampilan ayahnya saat itu. Tak beberapa lama Fiki
memeluk ayahnya. Ayah, aku merindukanmu, bagaimana keadaanmu ayah?
Fiki menanyakan kabar ayahnya.
Aku baik-baik saja anakku. Ayah baru saja turun dari pesawat sekitar
lima menit yang lalu. Bagaimana kabarmu? Ayah Fiki melempar senyuman itu
kepada anaknya. Ia sangat senang melihat anaknya sekarang sudah tumbuh
menjadi dewasa. Dengan perawakan yang begitu tampan, ia teringat saat masih
muda. Bahkan menurutnya wajah Fiki tak jauh beda dengan waktu mudanya dulu.
Ia tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Fiki. Fiki kamu sudah sangat dewasa
sekarang. Aku rasa sudah saatnya kamu menjadi ayah, seperti ayahmu sekarang
130

yang sudah berhasil membesarkanmu. Fiki hanya tersenyum dengan ucapan
ayahnya.
Oh ya.. mana calon istrimu Fiki. Kelihatannya ia sedang mencari-cari
seseorang.
Dia dirumah Ayah, Fika sedang mempersiapkan diri saat ini. Ulasan
senyum tergambar di wajah Fiki saat itu. Ia sangat senang ayahnya mau datang ke
Surabaya, melamarkan Fika untuknya.
Hahaha.. aku kira kamu mengajaknya untuk menjemputku. Ya sudah ayo
segera kita melamarnya untukmu. Aku sudah tak sabar melihatmu menikah
dengan perempuan pilihanmu. Aku juga sudah tak sabar ingin bermain dengan
cucu-cucuku nanti.
Emmm.. baiklah ayah. Fiki membawakan koper Ayahnya. Mereka
berdua menuju ke lobi Bandara. Dan menaiki taksi untuk menuju ke rumah Fika.
***
Terlihat Fika sibuk dengan pakaiannya. Ia harus benar-benar terlihat cantik
dihadapan calon mertuanya. Sesekali ia memandang wajahnya di depan cermin,
dan mengoleskan bedak ke pipinya. Sungguh paras Fika sangat cantik kali ini.
Balutan busana kebaya berwarna coklat dengan corak batik khas jawa, namun
sangat elegan dan modis. Membuatnya terlihat lebih anggun. Rambut yang di ikat
kemudian disanggul, dengan make up yang terlihat oriental tanpa terlihat fulgar.
Bibirnya yang tipis dan berwarna merah matang dengan sentuhan lipstik yang
131

terang membuatnya semakin menawan. Sesekali ia tersenyum ke arah cermin
hanya untuk mengagumi kecantikannya sendiri.
Kamu memang terlihat sangat cantik anakku. Terlihat Ibu Fika yang
memuji kecantikan anaknya saat ini. Ia melihat kearah kaca dan meletakkan kedua
tangannya ke pundak Fika. Ia tersenyum melihat Fika sudah tumbuh menjadi
wanita dewasa. Bahkan sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dan ibu bagi
anak-anaknya nanti. Ulasan senyum itu terpancar pada wajah Ibu Fika. Ia sangat
senang di hari ini akan merencanakan pernikahan anaknya.
Ohh.. ibu, terima kasih atas pujiannya. Fika menoleh kearah Ibunya dan
terseyum lebar. Kalau Ibu tak cantik, aku juga tak akan secantik ini. Fika terus
menebar senyumannya ke arah ibunya, sambil mengangkat alis-alisnya.
Fika, pakailah liontin ini. Mungkin liontin ini bisa membuat dirimu
semakin cantik dihadapan calon mertuamu. Ibu Fika menyerahkan sebuah liontin
yang sangat indah kepada Fika. Fika menerimanya dengan senang hati. Ibu Fika
membantunya untuk memakaikan liontin itu. Dan benar, Fika terlihat sangat
cantik dari sebelumnya. Liontin itu sangat cocok dengan Fika. Ia terlihat sangat
anggun dan menawan. Di tambah dengan balutan busana dan make-up yang cocok
dengan dirinya sat ini. Memang wajah Fika dari awal sudah cantik. Walaupun
diapa-apain tetap cantik. Ibu Fika masih memberikan senyumannya kepada Fika
tiada henti.
Dari luar rumah, terlihat sebuah taksi berwarna biru berhenti tepat di
depan rumah Fika. Terlihat Fiki turun dari taksi dan membantu sesorang untuk
132

membukakan pintunya. Setelah pintu taksi terbuka, terlihat seorang Pria dengan
postur yang gagah, mengenakan jas dan dasi yang sangat rapi, terlihat rambut-
rambutnya sudah memutih. Kelihatan pria itu sudah sangat mapan.
Ayah.. silahkan turun. Fiki membukakan pintu taksi dan
mempersilahkan ayahnya untuk turun. Rasa hormat memang dimiliki oleh Fiki
sejak kecil. Dari kecil ayahnya selalu mengajarkannya untuk memiliki sopan
santun terhadap orang tua. Tak heran jika anaknya sekarang sangat
menghormatinya.
Pria itu turun dari taksi. Terima kasih anakku. Melempar senyum
kearah Fiki.
Silahkan masuk ayah. Ini rumah calon menantumu. Fiki menuju rumah
Fika. Setelah sampai didepan pintu, Fiki mengetuk pintu dan memberikan salam.
Assalamualaikum.. Fiki mengetuk pintu.
Assalamualaikum. Salam Fiki. Dari jarak kejauhan terdengar suara yang
menjawab salam Fiki.
Waalaikumsalam.. tak beberapa lama pintu yang terkunci itu terbuka.
Terlihat Ayah Fika yang membukakan pintu itu. Ayah Fika menjabat tangan Fiki
serta Ayahnya. Ayo mari silahkan masuk. Ayah Fika menyuruh mereka untuk
masuk.
133

Ayo silahkan duduk pak. Suruh ayah Fika saat itu. Akhirnya Fiki dan
ayahnya duduk dikursi sofa ruang tamu. Ayah Fiki memandang Ayah Fika. Ia
melempar senyum kearahnya. Ayah Fika membalas senyumannya.
Dari arah dalam tiba-tiba ibu Fika menuju ke ruang tamu. Ehh.. ayahnya
Fiki sudah datang ya? Bagaimana perjalananya? Perkenalkan saya ibunya Fika.
Ibu Fika memperkenalkan dirinya. Terlihat ayah Fiki berdiri dan menjabat tangan
Ibu Fika saat itu.
Alhamdulillah lancar bu, Benar saya adalah ayahnya Fiki. Dan maksud
kedatangan saya kali ini, yaitu melamarkan Fika untuk Fiki anak saya. Ayah Fiki
tersenyum kearah ibu Fika. Dan ibu Fika membalas senyuman itu dan tertawa
kecil.
Ahh saya sudah tau semuanya. Jangan khawatir kalau kami berdua tidak
menerima tawaran anda untuk menikahkan anak-anak kita. Hahahhaa. Orang tua
Fika dan Fiki tertawa. Tergambar jelas raut wajah mereka yang bahagia saat itu.
Ayo pak, mari silahkan masuk kedalam, ada jamuan sederhana disini. Ibu Fika
menyuruh Ayah Fiki untuk menuju ruang makan.
Wah.. wah.. wahh.. jadi saya disini merepotkan kalian ceritanya.
Hehehe.. Terlihat Ayah Fiki senyam-senyum sambil garuk-garuk kepala
mendengar tawaran Ibu Fika. Sudahlah saya tak bisa menolak tawaran anda.
Mereka semua akhirnya menuju ke ruang makan. Setelah itu mereka duduk di
kursi masing-masing. Ibu Fika terlihat sangat repot saat itu. Ia terlihat
membagikan beberapa piring. Setelah semua yang ada di meja makan
134

mendapatkan piring, ibu Fika melihat kearah meja makan sambil tersenyum. Yah
inilah seadanya yang bisa kami berikan pak. Ibu Fika merendah saat itu. Tiba-
tiba Fika datang sambil membawakan gelas-gelas dan ceret yang berisi sirup
strawberry. Parasnya begitu anggun saat itu, ia berjalan menggunakan busana
kebaya berwarna coklat. Senyumannya menghiasi setiap langkahnya menuju meja
makan. Fiki tak bisa memalingkan pandangannya, ia melihat orang yang sangat ia
cintai begitu cantik. Begitu juga dengan ayah Fiki. Ia melihati Fika dengan
seksama, ia berdehem saat itu. Ayah Fiki juga sangat mengagumi kecantikan Fika.
Fika, ayo nak bawakan sirup itu kemeja ini. suruh Ibu Fika. Fika
membawakan sirup itu dan meletakkan beberapa gelas ke meja makan beserta
ceret yang telah berisi sirup strawberry. Kemudian Fika duduk di kursi makan.
Sambil tersenyum kearah Fiki dan ayahnya.
Ini Fika ya? Tanya Ayah Fiki saat itu.
Iya pak, saya Fika. Fika tersenyum malu kearah ayah Fiki.
Hahahah.. pintar juga kamu Fiki memilih calon istri secantik Fika. Ayah
Fiki menyenggol bahu anaknya dan sambil tersenyum kearah Fika. Fiki hanya
tersenyum melihat ayahnya saat itu. Ia senang ternyata ayahnya juga menyukai
Fika.
Maka dari itu ayah, aku ingin cepat-cepat menikahi dia, sebelum
keduluan orang lain. Hahahaha... Fiki membela diri. semua orang yang berada di
meja makan tertawa mendengar perkataan Fiki.
135

Ayo makan dulu. Silahkan.. Ibu Fika mempersilahkan untuk makan.
Fika membantu memberikan nasi kepada Ayah Fiki.
Cukup pak? Fika memberikan nasi yang ia sendok menggunakan
centong ke piring Ayah Fiki. Cukup nak, Balas ayah Fiki yang merasa nasi
yang ada di piring nya telah terisi penuh.
Cukup.. Fika memberikan nasi ke piring Fiki. Cukup Fika,
terimakasih. Fiki tersenyum kearah Fika yang telah selesai memberikan nasi ke
piringnya.
Semuanya makan saat itu, Fiki dan ayahnya sangat menikmati jamuan
makanan yang dihidangkan saat itu. Fika ikut tersenyum melihat ternyata semua
orang menyukai masakannya.
Ehh.. ngomong-ngomong siapa yang memasak se enak ini? Tanya Ayah
Fiki. Kelihatannya ia sangat menyukai makanan yang dihidangkan dimeja makan
itu.
Fika yang memasak semuanya pak? sahut Ibu Fika dengan tersenyum
kearah Ayah Fiki.
Aku sudah mengira calon menantuku yang memasak. Seru ayah Fiki. Ia
kedua kalinya menyenggol bahun anaknya. Tuh istrimu pintar masak. Awas saja
kalu sering-sering makan di luar rumah. Hahahha. Fiki hanya tersenyum
mendengar ucapan ayahnya. Dan ayah Fiki tetap tak memalingkan pandangannya
136

kearah Fika. Ia sangat tertarik dengan kecantikan menantunya. Terlebih dengan
liontin yang Fika pakai sekarang.
Setelah semua selesai makan, Fika membereskan semuanya dan menaruh
piring-piring tersebut ke dapur. Setelah itu ia cuci tangannya dan bergegas untuk
menuju ke ruang tamu.
Duduk sini nak. Ibu Fika menyuruh anaknya untuk duduk
disampingnya. Terlihat saat itu semua orang telah menunggunya. Ayah Fiki yang
terlihat duduk di sofa disebelah Fiki. Fika tersenyum kearah Ayah Fika.
Jadi, kapan kita langsungkan pernikahan anak-anak kita? Ayah Fiki
mulai angkat bicara. Mendadak semuanya menjadi serius. Begitupun dengan Fika
saat ini. Bahkan ia sampai mengerutkan dahinya dan menghela nafas dalam-
dalam. Aku mengusulkan untuk secepatnya. Sahut ayah Fiki. Ia menginginkan
untuk pernikahan Fiki dan Fika untuk segera dilangsungkan.
Aku terserah dengan usulan bapak. Masalah perlengkapan pernikahan
nanti keluarga kami yang mengurusi. Ayah Fikapun akhirnya angkat bicara
menanggapi usulan Ayah Fiki.
Ayah Fiki tetap tak berpaling dari pandangannya ke arah Fika. Ia sangat
mengagumi paras calon menantunya. Sesekali ia lempar senyum kearah Fika. Fika
memang begitu cantik dengan liontin yang sekarang ia kenakan. Pandangan ayah
Fiki tertuju pada liontin itu. Begitu manis dan anggun dirinya saat itu.
137

Kamu begitu cantik dan anggun nak sekarang. Kata ayah Fiki yang
mengagumi kecantikan Fika sat itu.
Terima kasih pak atas pujiannya. Fika hanya bisa tersenyum malu
mendengar pujian calon mertuanya.
Mata Ayah Fiki tak bisa berpaling dari liontin itu. Mendadak ia
mengerutkan keningnya. Sepertinya ia pernah melihat liontin itu sebelumnya. Ia
mulai mengingat-ingat semua yang ada diotaknya. Sambil menyipitkan mata ia
mulai berfikir. Sesekali ia menghela nafas.
Nak.. bolehkah saya melihat liontin itu? Aku begitu tertarik dengan
liontin yang kamu kenakan. Ayah Fiki ingin sekali melihat liontin itu lebih dekat.
Supaya ingatan yang ada di kepalanya dapat kembali. Fika melepas liontin itu dan
menyerahkannya kepada ayah Fiki.
Ini pak. Fika menyerahkan liontin itu kepada ayah Fiki. Ayah Fiki
menerimanya dengan senyuman lebar kearah Fika. Ia mulai melihat liontin yang
indah itu. Liontin yang berwarna merah, begitu mewah dan mempesona. Ayah
Fiki tersenyum kearah Fika. Ia tetap memandangi liontin. setelah itu ia membuka
liontin yang indah.


138

Fika adalah adik kandung fiki

Tiba-tiba keringat dingin mulai mengucur di tubuh Ayah Fiki. Serasa dada
ini begitu sesak. Bahkan untuk mernafas saja sangat sulit. Jantungnya berdetak
lebih cepat dari biasanya. Ia melihat foto yang ada diliontin itu. Ayah Fiki
tersenyum dan mendadak meneteskan air matanya. Ia menangis memandang foto
itu. Ia tak kuasa menahan tangisannya. Semua orang yang melihat ayah Fiki
merasa kaget melihatnya seperti itu. Tiba-tiba pria itu menangis tanpa sebab.
Ayah Fiki tetap memandangi foto yang ada di liontin itu. Tangisanya tak bisa ia
hentikan. Serasa ia tak bisa mempercayai semua itu.
Liana... Terlontar nama itu di bibir ayah Fiki. Ayah Fiki masih menangis
sambil memandang foto diliontin itu. Fiki bingung dan kaget, kenapa nama
ibunya disebut ayahnya? Fikipun mulai bertanya-tanya. Ada hubungan apa
dengan ibu?
Liana... Ayah Fiki masih memandangi liontin itu. Ia tak kuasa
menghentikan tangisannya. Ternyata foto yang ada di liontin itu adalah foto
istrinya, ibu Fiki.
139

Ayah ada apa? Kenapa dengan dirimu saat ini? Tanya Fiki yang
penasaran melihat ayahnya yang mendadak menangis. Ada apa dengan liontin
itu? Tanya Fiki penasaran.
Ayah Fiki tak bisa berkata. Ia mencoba untuk mengumpulkan tenaganya.
Ia menghapus air mata yang keluar saat itu.
Fika, dari mana kamu mendapatkan liontin itu? Pertanyaan itu keluar
dari mulut Ayah Fiki. Ia memberanikan diri untuk menanyakan akan perihal
liontin itu. Ia sangat bingung, kenapa liontin itu sama mirip dengan liontin yang
istrinya pakai? Kenapa sampai Fika bisa memakainya sekarang?
Fika tak bisa berkata apa-apa. Fikirannya bingung dengan pertanyaan
Ayah Fiki. Aku baru memakainya tadi pak. Ibu yang memberikanku. Jawab
Fika.
Liana.. apa yang terjadi saat ini. sungguh ini tak mungkin. Ayah Fiki
masih saja menangis. Padahal ia berusaha untuk menghentikan deraian air
matanya. Serasa ia tak bisa menutupi semuanya.
Fika anakku, anak kandungku? mendadak suasana menjadi tegang.
Ayah Fiki memanggil Fika anaknya. Semua yang ada di ruang tamu tak mengerti
dengan ucapan ayah Fiki. Begitu mencengangkan. Apa maksud dari semua ini?
apa maksud dengan ucapan ayah Fiki? Semua bingung saat itu.
140

Wajah Fiki mendadak sangat serius. Ia memandang kearah ayahnya. Ia
mengkerutkan keningnya. Ia tak mengerti dengan ucapan ayahnya yang baru
terlontarkan.
Fika, kamu adalah anakku. Anak kandungku. Ayah Fiki tak bisa
membendung kesedihannya saat ini. Ia terus menangis dan memandang kearah
Fika. Liontin ini, foto ini, memang benar-benar foto istrinya. Terdapat Foto
perempuan yang sangat cantik di liontin itu. Ayah Fiki masih memandangi foto
itu dengan isakan tangis. Benar, ini foto istrinya. Foto orang yang paling ia
sayangi. Yang telah lama meninggal akibat kecelakaan kereta itu. didalam liontin
itu juga terdapat sebuah nama Fika. Fika adalah nama yang ia berikan saat
seorang anak perempuannya lahir. Ia teringat dua puluh dua tahun yang lalu,
sebelum kecelakaan itu terjadi, istrinya mengenakan liontin itu.
Ayah, apa maksud perkataanmu itu, mengapa ayah tiba-tiba menyebut
nama ibu, kenapa dengan ibu? Kenapa tiba-tiba memanggil Fika seperti itu? apa
yang telah terjadi? Setelah ayah melihat liontin itu, kanapa ayah mendadak
menangis? Ada apa dengan semuanya ayah? Aku harap ayah menceritakan
semuanya. Fiki merasa tak bisa mengendalikan rasa penasarannya saat itu. Ia
memberanikan diri untuk menanyakan kepada ayahnya.
Ayah Fika masih tak bisa menghentikan tangisannya, tapi ia berusaha
mengumpulkan seluruh tenaganya. Ini liontin ibumu Fiki, ia kenakan sebelum ia
pergi meninggalkan ayahmu selama-lamanya.
141

Fika terlihat tak bisa berkata apa-apa. Ia bingung akan perkataan ayah Fiki
saat itu. Kalimat itu serasa sulit untuk memahaminya.
Mendadak ibu Fika ikut menangis. Ia menangis tak henti-henti. Ada apa
dengan semua ini? pertanyaan itu muncul di fikiran Fika saat itu. Ada apa dengan
semua orang hari ini? Begitu aneh.
Suasanapun agak membingungkan. Yang semula suasana sangat
menggembirakan, mendadak berubah. Ibu Fika masih menangis. Ia melihati Fika
yang masih kebingungan tentang apa yang telah terjadi. Tatapan ibu Fika
menegaskan ada sesuatu yang telah disembunyikan. Ibu Fika membelai rambut
anaknya dan terus menangis. Ia berusaha untuk menghentikan tangisannya.
Ada yang perlu aku utarakan disini. Ibu Fika mulai angkat bicara. Ia
memandang kearah Ayah Fiki yang tak henti-hentinya menangis. Ibu Fika
mengimpulkan sekuat tenaganya untuk menceritakan semuanya.






142

Potongan masa lalu itu

Dua puluh dua tahun yang lalu, seperti biasa. Aku masih menjajakan
makanan kecilku di stasiun dekat sini. Waktu itu suasana masih terlihat biasa-
biasa. Lalu lalang kereta datang dan pergi sesuai dengan keberangkatannya.
Terlihat dari arah kejauhan terdapat kereta yang melaju dengan kencangnya. Aku
sempat berfikir, kenapa kereta itu tak mengurangi kecepatannya, padahal sebentar
lagi kereta itu akan menuju stasiun dan berhenti. Mataku masih melihat laju kereta
yang sangat cepat. Kereta itu kian lama kian mendekati stasiun. Ada apa dengan
kereta itu? apa yang sedang terjadi dengan kereta itu. Semakin lama kereta itu
melaju semakin cepat. Bunyi dari klakson kereta itu begitu keras. Sepertinya
menandakan ada sesuatu yang telah terjadi. Tak henti-hentinya masinis itu
membunyikan klakson kereta itu. ya.. terdengar sangat jelas walaupun masih
terlihat jauh. Kereta itu terus mendekat, dan memang benar. Ada masalah dengan
kereta itu. Alarmpun mulai terdengar. Semua orang panik saat itu. kereta itu
hampir sampai di stasiun dengan kecepatan tinggi. Ia terus melaju dan akhirnya
kereta itu menabrak stasiun. Kereta itu terbalik. Ibu Fika menghela nafas
panjangnya.
143

Semua orang menjerit saat itu. Akupun ikut panik. Aku berusaha
membereskan daganganku. Aku melihat banyak jeritan dan lalu lalang orang-
orang. Kereta itu telah terguling dan terbakar. Sungguh sangat terlihat kacau.
Peristiwa itu adalah kecelakaan dahsyat yang pernah saya lihat didepan mata.
Kereta api itu terbakar hebat. Mobil pemadam kebakaran, tak henti-hentinya
membunyikan sirine dan mencoba memadamkan api tersebut. Aku masih tertegun
ditempat itu. Ibu Fika berhenti bercerita. Ia kembali menghela nafas dalam-
dalam. Ia ambil tissue yang ada dimeja untuk mengusap air matanya. Kemudia ia
kembali bercerita.
Aku melihat begitu jelas lalu lalang orang saat itu. jeritan orang petugas
kereta api yang membawa beberapa mayat dari korban kecelakaan kereta. Aku
memberanikan diri untuk mendekati kereta tersebut. Sungguh ini adalah kejadian
yang sangat mengerikan. Aku melihat mayat-mayat bergelimpangan di stasiun
kereta. Aku juga melihat beberapa pemadam kebakaran dan aparat kepolisisan
mencoba menyelamatkan korban. Aku melihat seorang Ibu dengan menggendong
anak bayinya keluar dari kereta dengan bantuan petugas kereta. Petugas kereta
membopong ibu itu menuju pinggir kereta. Setelah itu petugas kembali
menyelamatkan korban yang masih didalam. Aku melihat wanita itu sudah terluka
parah. Bajunya sudah sobek-sobek. Bahkan badannya memar semua. Dengan
darah yang ada di kepalanya. Aku merasa bahwa kepalanya terbentur sesuatu
yang sangat keras. Aku memberanikan diri untuk meuju ke arah ibu itu. Ia terlihat
menangis. Aku sangat iba saat itu. sepertinya ibu itu sudah tak bisa apa-apa lagi,
dan anak perempuannya masih dalam gendongannya. Begitu lucu anak
144

perempuan itu, bahkan ia terlihat pulas tidurnya. Tanpa tangisan dan rengekan
sedikitpun. Aku melihat ibu itu terus saja menangis. Sepertinya ia melihat akan
kehadiranku. Ia menangkat tangannya dan sepertinya menyuruhku untuk
mendekat. Aku memberanikan diri untuk mendekati koraban kecelakaan itu. Tak
terasa air mata ini tak henti-hentinya menangis melihat keadaan ibu tersebut. Ia
sangat terluka parah. Darah dikepalanya tak henti-hentinya keluar dengan
menggendong anak perempuannya yang sangat cantik dan lucu.
Ag.....rhhhh..
Sepertinya ia memanggilku. Akupun mendekatinya. Aku iba melihat bayi
perempuan itu. Aku cepat-cepat menggendongnya. Kemudian aku mendengar
suara terbata-bata itu lagi.
Jjja...gaaa..lahh.. aaanan.. aaaku. itulah kata-kata yang aku dengar saat
itu. jagalah anakku. Akupun mengangguk dan terus menangis sambil
menggendong bayi lucu itu. Terlihat ibu itu berusaha untuk melepaskan
liontinnya. Dan menggenggam liontin itu dengan tangan yang penuh dengan
darah.
Ttee..riimaaal....aahhh. Ibu itu terlihat menyerahkan liontin itu
kepadaku. Akupun menerima liontin itu. Aku melihatnya saat itu, begitu indah.
Liontin yang berwarna merah dan anggun telah aku pegang. Aku membuka liontin
itu. Aku melihat terdapat foto ibu itu yang sangat cantik. Aku melihat ada satu
nama didalam foto tersebut. Fika. Aku fikir ibu itu bernama Fika. Aku
mendengar lagi ucapan ibu itu dengan terbata-bata.
145

Ffiikkka...aannaakku..jaaa..gaalah Diia. Perempuan itu menghembuskan
nafas terakhirnya, ia menutup matanya dan terlihat senyuman ada di wajahnya
yang penuh dengan darah.
Aku menangis tak henti henti saat itu. melihat Ibu itu sudah tak
bernyawa. Kemudian aku melihat bayi yang ada di tanganku, ia begitu lucu.
Ternyata bayi itu bernama Fika. Aku tersenyum kearahnya. Aku memebelai
kepalanya. Ia terlihat sangat lucu. Bayi itu masih pulas dalam tidurnya. Tak henti-
henti aku berlinang air mata saat itu. Ibu Fika telah menceritakan semuanya. Air
matanya terus saja mengalir dan membasahi pipinya. Sudah berapa tissue telah ia
gunakan.
Ibuu.. terlihat Fika menangis saat itu. Ia memeluk ibunya. Serasa ia tak
percaya akan apa yang telah terjadi.
Fiki juga tak percaya tentang apa yang telah terjadi saat ini, wanita yang
sangat ia cintai, wanita yang akan ia nikahi, adalah adik kandungnya sendiri. Ia
tak bisa membendung kesedihannya. Serasa dunia ini berhenti berputar, jantung
nya berdegup lebih kencang. Keringat dinginpun keluar dari tubuhnya.
Fika.. anakku. Panggil Ayah Fiki.
Maafkan aku Fika, tak seharusnya aku menyembunyikan ini dari kamu.
Terlihat ibu Fika menyesali kejadian ini. Tak seharusnya ia terlambat untuk
menyembunyikan semua itu. Semua telah terlambat, cinta telah tumbuh diantara
mereka. Tapi ternyata hubungan ini tak boleh diteruskan. Hubungan saudara
kandung tak bisa diteruskan sampai ke jenjang pernikahan. Seketika Fika melepas
146

pelukan ibunya. Ia berdiri, pandangannya kosong, tak tau apa yang harus
dilakukan. Tangisan itu tak bisa serta merta mewakili kesedihannya yang teramat
dalam. Tiba-tiba ia meninggalkan rumah dengan perasaan gamang. Setidaknya ia
bisa menenangkan dirinya sebentar. Itu yang ada difikirannya sekarang.
Fika.., Fika.... Panggil ibu Fika yang melihat Fika meninggalkan rumah.
Fika tak mempedulikan teriakan ibunya. Hatinya terlalu hancur, bahkan hancur
berkeping-keping. Tak tahu siapa yang harus disalahkan, ia tak bisa menyalahkan
kedua orang tuanya karena tak menceritakan dari awal. Ia juga tak bisa
menyalahkan Fiki yang tiba-tiba menanam cintanya, dan ternyata cinta itu tak
memperbolehkan untuk diteruskan. Fika terus melangkahkan kakinya keluar
rumah, tak tahu kemana tujuannya sekarang. Itulah keputusan terbaiknya,
menenangkan dirinya sendiri.






147

Hari ini aku resmi mengubur
harapan itu hidup-hidup

Di taman itu, Fika duduk seorang diri. Ia masih tak bisa mengehentikan air
matanya sekarang. Masalahnya terlalu berat. Ternyata bayangan-banyangan yang
selama ini menghantuinya, bayangan kereta dan semuanya yang mengerikan. Ada
hubungan dengan masa lalunya. Isak tangis belum juga berhenti. Serasa hidup ini
begitu berat. Harus menerima apa yang telah terjadi. Cinta ini sudah terlanjur
tumbuh. Cinta ini sulit untuk dihilangkan. Orang yang paling ia sayangi adalah
kakak kandungnya, bahkan ia sendiri tak tahu harus bagaimana. Cinta antara Fiki
dan Fika memang tak boleh diteruskan, apalagi sampai dibawa ke pelaminan.
Mereka adalah saudara kandung. Mereka berdua adalah adik-kakak. Mereka tak
boleh menikah.
Tubuhnya serasa lemas, setelah kejadian tersebut. Serasa tak berdaya. Fika
tak tau harus bagaimana. Untuk mengumpulkan tenaga-tenagapun ia rasa susah.
Fikirannya begitu kacau. Bahkan ia merasa pening dikepala. Rasa pening itu kian
terasa hebat, menjadi rasa sakit dikepala yang tak tertahankan. Dadanya sulit
148

sekali bernafas, berkali-kali ia mencoba untuk mengambil nafas dalam-dalam.
Serasa ada yang menututpi jalan nafasnya. Ia bahkan terengah-engah saat itu.
Lebih tepatnya bayangan itu kembali lagi. Kereta itu terlihat begitu jelas
melaju, ia merasa berada dalam kereta yang melaju dengan cepat, seketika itu juga
terdengar beberapa kali bunyi klakson kereta yang sangat keras, bahkan sangat
memekakkan telinga. Suasana panik terlihat, banyak orang-orang yang lalu lalang
sedang menyelamatkan diri. Terasa hawa sangat panas, api itu menjalar kemana-
mana. Terlihat suara sirine pemadam kebakaran yang berulang-ulang. Jeritan
orang-orang minta tolong dan semua kekacauan itu, ia juga melihat mayat-mayat
bergelimpangan disekitarnya. Semua terlihat jelas di fikirannya. Fika hanya bisa
menangis dan menahan rasa sakit kepalanya. Tangisan itu membuat dadanya
semakin sesak. Seketika itu bayangan mulai hilang. Sakit kepalanya bahkan telah
mereda, dan nafasnya sudah kembali lega. Fika hanya pasrah dengan datangnya
bayangan-bayangan itu. Ia masih terduduk lesu di kursi taman itu.
Fika... terlihat Fiki menghampiri Fika yang duduk di taman. Fiki melihat
Fika masih menangis dan bahkan tak mempedulikan kedatangan Fiki.
Fika, kamu tak kenapa-kenapa kan? Tanya Fiki yang khawatir dengan
keadaan Fika. Setelah Fika memilih untuk meninggalkan rumah, Fiki berusaha
untuk mengejarnya. Walaupun ia sangat terpukul dengan peristiwa itu, ia tak bisa
meninggalkan Fika seorang diri, otak warasnya masih sangat berfungsi, ia masih
sangat mengkhawatirkan keadaan Fika. Terlebih ia mengetahui, Fika adalah adik
149

kandungnya sendiri. Dan ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk
menikah dengan Fika.
Fika masih tak mempedulikan kehadiran Fiki. Ia masih terus menangis
saat itu. Ia begitu terpukul dengan kejadian ini.
Fika.. aku tahu kamu pasti terpukul dengan kejadian ini. Fiki membelai
rambut Fika. Aku juga sangat terpukul, orang yang akan aku nikahi adalah adik
kandungku sendiri. Aku begitu mencintaimu Fika, bahkan sampai saat ini. Tak
kurang satupun bagian rasa sayangku kepadamu. Aku masih seperti dulu, ku
masih menjadi Fiki yang sangat mencintaimu Fika. Fiki memeluk pundak Fika,
dan Fika menyandarkan kepalanya ke pundak Fiki. Fika masih tak bisa berkata
apa-apa. Ia masih terus menangis. Didekapan pundak Fiki, ia teteskan air
matanya.
Fika, berhentilah menangis. Aku disini bukan untuk tangisanmu, aku
disini adalah bahagiamu. Tersenyumlah sayang. Aku begitu mencintaimu, dan
sekarang aku begitu mengkhawatirkanmu. Fiki menahan kesedihannya,
setidaknya ia bisa menutupi kesedihannya dihadapan Fika.
Aku juga mencintaimu Fiki. Sahut Fika. Suaranya terdengar serak,
bahkan hampir tak terdengar. Fikapun memeluk Fiki. Fiki juga memeluknya
dengan kasih. Tak kuasa Fiki menahan air matanya, tak kuasa ia menutupi
kesedihannya, akhirnya pria itu menangis juga dalam pelukan Fika. Ia tak bisa
membayangkan bila cintanya yang telah menggebu-gebu akhirnya akan hilang.
150

Cinta yang terlarang dan tak bisa diteruskan. Mereka berdua menangis dalam
pelukan.








151

Aku mengutuk diriku, mengutuk
harapanku

Sore itu langitpun terlihat sangat indah, hembusan angin yang semilir
membuat jiwa ini semakin tentram. Matahari tak begitu panas menyengat, karena
sudah condong ke arah barat. Terlihat pula di sekitar taman beberapa burung
gereja yang sedang berkejaran. Terlihat Fika dan Fiki masih duduk di tempat itu,
mereka saling diam satu sama lain. Fika terlihat menyandar kepalanya ke pundak
Fiki. Tak ada percakapan saat itu. Mereka hanya melihat kedepan, mungkin
tatapan keduanya sama-sama kosong. Mereka tak tahu apa yang harus diperbuat,
cerita itu, kenyataan itu, serasa semuanya itu tak mungkin. Tapi apa daya, ia tak
bisa menghindari kenyataan yang telah ada.
Fiki... Satu kata akhirnya terlontar dari mulut Fika. Ia menghela nafas
dalam-dalam. Tatapannya masih kosong. Bahkan suaranya masih serak akibat
tangisannya tadi yang tak henti-henti.
Iya Fika.. Jawab Fiki. Sama halnya dengan Fiki. Ia masih sangat syok
dengan apa yang telah terjadi. Pandangannya juga kosong, sesekali ia hembuskan
nafasnya, serasa ada masalah besar yang harus dipikulnya.
152

Maukah kamu mengajakku jalan-jalan hari ini, setidaknya aku bisa
menenangkan diriku saat ini. Fika mengajak jalan-jalan Fiki. Ia jenuh dengan
semua ini. Setidaknya dengan berjalan-jalan, ia bisa sejenak melupakan
masalahnya. Sekali ini saja, jadilah orang yang terakhir aku sayang. Fika
tersenyum getir.
Baiklah... Aku juga sedikit bosan berada disini. Fiki bangun dari tempat
duduknya. Iya meraih tangan Fika, dan Fikapun ikut berdiri. Fiki dan Fika akan
jalan-jalan, sekedar untuk menenangkan dirinya saat ini.
Bawalah aku ketempat yang menurutmu bisa membuatku senang.
Sehingga aku bisa mengurangi sedikit rasa sedihku. Pinta Fika kepada Fiki.
Baiklah. Fiki mengajak Fika untuk meninggalkan taman itu. Ia menuju
ke pinggir jalan untuk menyetop sebuah taksi. Mereka berdua menaiki taksi.
Fiki mengajak Fika untuk mengunjungi Taman Bermain. Setidaknya
banyak wahana permainan yang ditawarkan disana. Dia berharap tempat itulah
yang bisa mengusir rasa kesedihannya saat ini.
Empat puluh lima menit taksi itu membawa mereka menuju Taman
Bermain. Tak ada percakapan antara keduanya didalam taksi itu. mereka berdua
sama-sama diam. Menatap ke luar, melihat sekililing jalan raya dengan tatapan
kosong. Taksi itu sampai di Taman Bermain.
Terlihat begitu ramai saat itu. Fiki melihat jam tangannya, pukul 15.00.
terik matahari masih terasa panas. Namun tak menyurutkan antusias dari
153

pengunjung Taman Bermain itu. Dari nampak kejauhan terlihat beberapa
permainan, roller coster, biang lala, jet coster, badut, penjual pop corn semua
memenuhi tempat wahana itu.
Fiki membeli dua karcis untuk masuk di Taman Bermain itu. ia
menggandeng tangan Fika. Fika menoleh dan tersenyum datar. Fiki menyerahkan
tiket itu ke petugas. Petugas mempersilahkan masuk.
Mereka berdua melihat sekeliling taman. Sangat ramai sekali, pengunjung
begitu antusias memadati tempat ini. Terlihat ada badut yang mendekati mereka
berdua. Badut dengan wajah micky mouse terlihat lucu. Terlihat sedang melambai-
lambai ke arah Fika dan mengajaknya bersalaman. Fika tertawa. Fiki senang
akhirnya gadis cantiknya mulai tertawa. Sedikit rasa sakitnya mulai memudar.
Fiki menggandeng fika menuju wahana permainan. Yaitu Roller coster.
Permainan yang membutuhkan adrenalin yang tinggi. Permainan yang setinggi 11
meter membuat bulu kuduk pengunjung berkidik sebelum menaikinya.
Naik yuk.. Fiki mengajak Fika untuk naik ke wahana roller coaster.
Fika hanya menggelengkan kepalanya, pertanda ia tak menyukai permainan itu.
Ayolah sayang, sekali ini saja, luapkan emosimu di atas sana. Fiki membujuk.
Akhirnya Fika menyerah dengan bujukan Fiki. Fika memutuskan untuk
naik di wahana tersebut. Ia menuju petugas roller coaster. Dan bersiap untuk
mengantri dengan pengunjung-pengunjung yang lain. Setelah pintu stasiun
dibukakan. Fika dan Fiki memilih tempat duduk. Petugas memasangkan sabuk
pengaman dengan benar. Memastikan sabuk tersebut sudah terkunci dengan baik.
154

Kereta mulai berjalan lambat. Jantung kini terasa berdebar kencang.
Kereta menyusuri rel-rel dan meliuk liuk dan naik ke atas. Sangat tinggi, sampai-
sampai seluruh Taman Bermain bisa terlihat dari atas kereta roller coaster.
Setelah sampai cukup atas, kira-kira berapa puluh kaki dari tanah, kereta itu turun
dengan cepat. Serasa kereta itu dijatuhkan begitu saja dari atas. Pengunjungpun
semua berteriak. Begitupun dengan Fika. Ada belokan, kereta itu belok menukik.
Seperti tubuh ini dibanting-banting oleh permainan tersebut. Kembali keatas, dan
dijatuhkan kembali dengan cepat. Fika begitu keras berteriak. Begitupun juga
dengan Fiki. Kembali berbelok dengan cepat, kembali turun dan naik keatas.
Dihempaskan lagi kebawah. Kereta meliuk-liuk mengikuti relnya. Dua puluh
menit telah berlalu kereta berhenti di stasiun pemberhentian. Seorang petugas
membuka sabuk pengaman. Mereka berdua bersiap meninggalkan wahana roller
coaster itu.
Kemana lagi kita? Fiki bertanya kepada Fika. Ia masih bingung tujuan
wahana yang akan dituju selanjutnya.
Kesana saja yuk.. Fika menunjuk satu tempat, yaitu wahana Rumah
Boneka. Fika tersenyum ringan, sambil sesekali ia mengusap keringat di dahinya.
Oke deh siap laksanakan. Fiki menggandeng tangan Fika. Mereka
berdua memasuki wahana Rumah Boneka.
Setelah membeli tiket masuk, tak beberapa lama kereta yang akan
ditumpangi untuk mengitari sekeliling wahanapun tiba. Petugas mempersilahkan
Fika dan Fiki untuk menaiki kereta. Kereta berbentuk Unta yang mereka naiki
155

berjalan dengan lambat.. Kereta itu menyisiri rel-rel yang mengantarnya menuju
pos-pos wahana. Kereta itu menuju kehidupan dongeng. Terlihat beberapa boneka
yang mirip seperti abu nawas, dan aladin, bahkan beberapa tokoh-tokong
dongeng disuguhkan. Fika tertawa saat melihat boneka aladin muncul dengan
perut yang sangat besar. Kereta menuju kehidupan kartun. Banyak tokoh tokoh
kartun yang di tampilkan disana. Ada Micky mouse, winnie the poh, bahkan
telletubies. Tak henti-hentinya Fika tertawa melihat boneka-boneka lucu itu
bergerak dengan sendirinya. Akhirnya wajah ceria gadis cantik itu kembali
menyeruak. Fiki tersenyum, ia mengecup kening Fika, tanpa Fika menyadarinya.
Fiki sangat senang melihat Fika kembali lagi tertawa, setelah kejadian siang tadi.
padahal sebelumnya ia telah mengutuk-ngutuk akan nasibnya sendiri.
Menganggap kehidupan sudah tak adil lagi. Namun di wahana ini Fika bisa
tertawa kembali. Aku sangat senang melihatmu tertawa kembali, Fika Gumam
Fiki dalam hati. Dua puluh menit telah berlalu. Keretapun kembali menuju stasiun
pemberhentian. Mereka berdua meninggalkan Rumah Boneka itu.
Fiki mengajak Fika untuk membeli kembang gula. Fika tak mengelak
ajakan Fiki sedikitpun. Mereka berdua rela mengantri bersama dengan anak-anak.
Fikapun terlihat sering tertawa menatap wajah Fiki.
Perjalanan mereka lanjutkan untuk menaiki wahana Biang lala. Wahana
yang berbentuk seperti sangkar burung itu akan membawa mereka berputar naik
ke angkasa. Tingginya entah berapa puluh kaki. Sangat tinggi. Bahkan seperti
melihat seluruh kota diatas Biang Lala tersebut. Begitu nampak kecil-kecil dari
156

atas. Jalan,rumah-rumah, bahkan gedung0gedung pencakar langit terlihat kecil
jika dilihat dari atas Biang Lala.
Fiki menatap jam tanganya. Sudah pukul 17.15. Matahari sore sudah
menuju kearah barat. Mungkin beberapa detik lagi akan melihat keindahan Sunset
diatas wahana Biang lala.
Fiki.. Fika memanggil. Hampir dari tadi Fika tak pernah memanggil
Fiki. Ia hanya diam dan sesekali tertawa terbahak-bahak. Fika memendam
perasaan yang begitu sakit, sejak Ibu Fika menceritakan kejadian dua puluh tahun
silam.
Iya Fika. Fiki tersenyum. Fika menyandarkan kepalanya di pundak Fiki.
Ia menghela nafas panjangnya.
Aku lelah Fiki. Aku lelah dari tadi menangis. Fika mencurahkan isi hati
yang ia rasakan. Fiki hanya tersenyum dan mencium kening Fika dengan lembut.
Aku tahu sayang, semua terasa tak adil buat kita. Aku berharap dengan
kejadian ini. Kita tak sedikitpun saling membenci. Saling membuang perasaan
cinta kita. Walaupun cinta kita sekarang harus diubah dengan makna yang
berbeda.
Fika kembali menangis. Aku sayang kamu Fiki, aku begitu mencintaimu.
Tapi apa, semua terasa tak adil bagiku. Aku harus melepaskanmu. Aku bukan
seperti matahari yang kuat seperti bayanganmu. Aku tak mau berpisah denganmu
Fiki. Isak tangis Fika, membuat Fiki tak terasa juga ikut meneteskan air mata.
157

Matahari sudah condong ke barat. Sunset benar-benar telah terlihat.
Cahayanya begitu mempesona. Berwarna orange di seluruh cakrawala. Begitu
nampak jelas di atas wahana Biang Lala. Burungpun membentuk formasi terbang
diatas langit. Mereka akan menuju tempat peristirahatannya.
Sayang, aku juga begitu mencintaimu, hingga saat ini dan sampai
kapanpun. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu.
Walaupun dengan kondisi dan cara pandang yang berbeda. Fiki tersenyum dan
menggenggam tangan Fika. Percayalah, aku tak akan meninggalkanmu. Fika
tersenyum mendengar kalimat Fiki. Sebuah harapan baru. Cinta akan selalu
terjaga walaupun dalam kondisi yang berbeda.
Tepat empat puluh lima menit senja telah berganti menjadi malam.
Matahari dengan gagahnya meninggalkan cakrawala yang begitu indah.
Fiki mengantarkan Fika pulang kerumahnya. Dirumah Fika masih ada
ayah Fiki, mungkin dia akan menginap dirumah orang tua angkat Fika. Fiki tak
menerima ajakan orang tua angkat Fika untuk menginap dirumahnya. Setidaknya
dengan dia pulang di apartemennya, ia bisa menenangkan dirinya sendiri, dan bisa
memberi Fika kesempatan untuk menenangkan dirinya juga. Ia tak mau dengan
kehadirannya, membuat Fika merasa terbebani nantinya.



158

Fika jatuh sakit

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun mengapa
mata ini sangat sulit untuk dipejamkan. Fiki berdiri di depan kaca toliet
apartemennya. Ia melihat keadaannya saat itu. Matanya begitu merah dan
wajahnya pun tak karuan. Sepertinya masalah ini membuatnya sangat acak-
acakan. Satu jam, dua jam, ia masih bergelut dengan masalahnya. Ia berusaha
untuk menenangkan dirinya dan fikirannya. Namun apa daya, ia tak bisa
menyelesaikan secepat ini. Melupakan semua kejadian itu, dan menerima kejadian
ini dengan apa adanya. Merubah orang yang paling ia cintai dan sayangi menjadi
seorang adik kandungnya. Itu semua bukan perkara yang mudah. Butuh proses
untuk mengubah semua itu. Ia masih bergelut dalam fikiran dan egonya. Sesekali
ia hembuskan nafas panjang. Ia kembali menatap matanya di kaca itu Apa yang
harus saya lakukan, bahkan aku tak tau harus bagaimana. Itulah fikiran yang
selalu menghantui dirinya sekarang.
***
Fika masih menatap keluar jendela rumahnya, ia membiarkan kamarnya
dalam keadaan gelap gulita. Hanya sinar rembulan yang mencoba menerangi
dengan menyusup masuk dari balik tirai jendela. Fika anggraini masih terjaga
159

dalam lamunannya malam ini. ia biarkan dirinya hanyut dalam buaian malam. Ia
melihat di langit terdapat sebuah bulan yang sangat indah. Disertai kilauan
bintang-bintang yang menghiasi keindahan sang malam. Semilir angin malam
juga terasa sangat dingin. Sepertinya Fika belum sempat menghentikan
tangisannya saat ini. Malam ini begitu sunyi, hanya terdengar suara serangga
malam, dan tangisan Fika yang lirih tiada henti. Serasa memecahkan keheningan
malam itu.
Fikirannya benar-benar kalut. Ia tak tau harus bagaimana mengakhirinya.
Terasa berat di fikirannya. Sepertinya ada sebuah bom yang siap meledak. Iapun
ingin menjerit keras-keras, sekedar melampiaskan kesedihan dan kekesalan pada
dirinya sendiri. Isak tangisnya tak juga berhenti. Seketika itu fikirannya mulai
kacau, bayangan itu muncul lagi, begitu hebat dan begitu nyata. Kepalanya
mendadak pusing dan tak bisa ia menahan sakitnya. Ia terus saja menjambak-
jambak rambutnya. Ia tak kuasa menahan kesakitan itu. Nafasnya mulai terengah-
engah. Ia mulai sesak nafas. Satu tangan menjambak-jambak kepalanya, dan satu
tangan memegang dadanya yang sesak. Matanya mulai berkunang-kunang.
Penglihatannya mulai buram. Rasa sakit dikepalanya membuat ia tak bisa
bertahan. Penglihatannya yang buram sekarang mendadak menjadi gelap. Gelap
dan tak terlihat apa-apa. Fika jatuh dan tak sadarkan diri.
Sirine ambulans malam benar-benar telah membuat telinga ini menjerit.
Pagi-pagi buta seperti ini, tepatnya masih jam setengah dua dini hari. Suara sirine
itu bahkan seperti alarm untuk membangunkan orang-orang tidur. Serasa
160

menyebalkan. Kenapa harus sepagi ini sirine itu berbunyi? Serasa mata ini masih
sulit untuk bagun.
Terlihat ambulans berhenti di depan rumah Fika. Beberapa lelaki yang
berpakaian serba putih sangat tergesa-gesa. Ia buka pintu mobil dan menarik
bangsal untuk diseretnya keluar. Dua orang dengan sigap masuk ke rumah Fika.
Tak beberapa lama lelaki dengan pakaian serba putih itu membawa Fika dalam
keadaan tak sadarkan diri. Terlihat kedua orang tua angkat Fika dan ayah Fiki
mengikuti dari belakang. Mereka semua terlihat menangis, daun raut kesedihan
sangat tergambar jelas. Lelaki serba putih itu memasukkan bangsal itu kedalam
mobil, dan kemudian menutup pintu mobil. Kedua orang tua angkat Fika dan
Ayah Fiki juga ikut masuk kedalamnya. Sirine mobil ambulans tersebut kembali
dibunyikan, kali ini telinga benar-benar muak dengan suara itu. Memekikkan
telinga. Akhirnya mobil ambulans itu meninggalkan rumah Fika, dan suara sirine
itu sudah tak terdengar lagi. Semuanya kembali hening.
***
Kring....kring...., suara telefon rumah itu mengagetkan lamunan Fiki, Fiki
beranjak dari depan cermin. Siapa malam-malam begini yang menelfon tak tau
diri? Gerutu Fiki saat mendengar bunyi telfon apartemennya itu. Fiki menuju
datangnya sumber bunyi tersebut. Ia menghela nafas dalam-dalam. Fiki mulai
mengangkat ganggang telfon. Fiki mengerutkan keningnya, dan berusaha
menangkap suara yang ada di dalam telfon.
161

Hallo.........., ia dengan Fiki....., Ayah, kenapa ayah?...... Astaga, itu tak
mungkin...., Fika.........!!! Fiki melepaskan telfonnya, dan telfon rumah itu jatuh
ke lantai. Serasa ia sudah menjadi lumpuh fikiran, kabar yang ada di telefon telah
membuat dirinya mati tak berdaya. Ia masih tak sadarkan diri dari fikirannya itu,
seperti kosong, namun tak kosong, ada kekhawatiran besar saat itu. Fiki masih
belum beranjak, dengan telfon yang jatuh di lantai. Sepertinya didalam telfon
masih ada suara orang memanggil. Pandangannya kosong. Ia menatap lurus, tapi
tak tahu apa yang ia lihat. Ia sadar dalam fikirannya. Cepat-cepat ia bergegas
meninggalkan apartemennya. Ia menuju kerumah sakit untuk melihat keadaan
Fika.







162

Kuatkan dirimu fika

Fika masih tak sadarkan diri, beberapa perawat telah mendorong bangsal
itu melewati koridor rumah sakit dengan berlari kecil. Di susul kedua orang tua
Fika dan Ayah Fiki dibelakangnya. Mereka bertiga terlihat menangis di depan
ruang Unit Gawat Darurat. Setelah masuk ruangan yang di depan pintunya
terdapat tulisan Emergency. Kedua perawat tersebut membawa masuk Fika, dan
menutup pintu ruangan itu. Salah satu perawat melarang ketiga orang tersebut
masuk dan menyuruh agar tetap menunggu diluar, selagi ada penanganan lebih
lanjut dari tim dokter. Terlihat ibu Fika yang terus menangis tiada henti melihat
anak angkatnya saat ini sedang kritis.
Dari kejauhan terlihat Fiki berlari sangat cepat. Ia menyusuri koridor-
koridor rumah sakit, ya memang keadaan saat itu masih sangat sepi. Waktu masih
menunjukkan jam setengah tiga. Hanya terlihat satu atau dua perawat yang
melakukan visite malam terhadap pasien. Ia terus menyusuri koridor rumah sakit
dalam keadaan gontai. Dari arah kejauhan ia melihat ayah dan kedua orang tua
angkat Fika yang sedang duduk termenung di depan sebuah ruangan. Terlihat pula
ibu angkat Fika yang tak henti-hentinya menangis saat itu. Fiki menuju kesana.
163

Ayah.. bagaimana keadaan Fika saat ini? Tanya Fiki dengan cemas
kepada ayahnya. Ia tak tau bagaimana dengan dirinya sendiri. Mendengar kabar
Fika yang tiba-tiba jatuh pingsan dan sekarang masuk di ruang UGD membuat
dirinya mati rasa. Kacau balau hari ini fikirannya. Bahkan hampir membuat
dirinya gila. Ayah Fiki menyuruhnya untuk menenangkan diri dan duduk di kursi
panjang itu. Fiki belum bisa tenang, Ia masih sibuk dengan pertanyaannya.
Bu.. bagaimana keadaan Fika saat ini? Dia baik-baik saja bukan? Dia tak
apa-apa kan bu? Fiki melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. Namun ibu
angkat Fika tak menjawab pertanyaan Fiki. Ia tak kuasa untuk menjawabnya. Air
matanya terus mengalir. Dan tak henti-hentinya ia menangis.
Fiki kesal dengan dirinya saat itu, tak ada yang mempedulikan
pertanyaannya. Ia mencoba menenangkan dirinya saat itu. Ia memilih untuk
duduk dikursi panjang. Ia tampak tak karuan, ia menangis tapi tak sedikitpun air
matanya keluar. Mungkin karena ia terlalu sering untuk meneteskan air matanya.
Terlihat wajahnya yang kusam dan sedih. Ia menjambak rambutnya, dan keringat
dingin mengucur dibadannya. Ia memandangi terus pintu UGD. Ia berharap
dibalik pintu tersebut tak terjadi apa-apa. Fika.. aku tau kamu kuat, bertahanlah
sayang. Kata Fiki dalam hati.
Ayampun berkokok, bertanda malam ini akan menjadi pagi, terdengar pula
bunyi berisik dibeberapa ruangan. Ya mungkin aktifitas pagi sudah dimulai,
beberapa perawat dan petugas rumah sakit mulai mempersiapkan dirinya. Fiki
masih memandangi pintu itu. Tak ada yang keluar dari pintu yang bertuliskan
164

Emergency. Sesekali Fiki berdiri dan menghela nafasnya dalam-dalam untuk
menenagkan diri. Matanya begiru merah, hari ini ia tak tidur sama sekali,
kepalanya sangat pening, tapi ia tak pedulikan rasa pening itu. Fiki kembali duduk
sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya.
Pandangannya tak lepas dari pintu tersebut. Sudah hampir tiga jam ia menunggu,
tak satupun keluar dari balik pintu itu. Tiba-tiba ada seseorang yang mencoba
membuka pintu itu dari dalam. Terlihat gagang pintu yang tertarik kebawah.
Sontak membuat semua orang yang menunggu Fika berdiri semua. Kemudian
terdengar decitan pintu yang akan terbuka. Dan akhirnya satu dokter keluar dari
balik pintu tersebut. Mereka bertiga menyerbu dokter dan menanyakan perihal
keadaan Fika saat itu. Dokter tak banyak memberikan komentar. Ia berkata Fika
akan baik-baik saja nantinya, ada sesuatu yang disembunyikan dokter itu. Namun
ia rasa belum saatnya untuk mengatakan semuanya. Dokter itu meninggalkan
UGD.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, namun semua yang menunggui
Fika tak diperbolehkan untuk masuk, jam besuk belum dibuka. Dan Fika masih
perlu mendapatkan perawatan yang intensif. Terlihat Fiki masih gelisah dengan
fikirannya. Bahkan wajahnya kini benar-benar kusut. Matanya begitu berat untuk
melihat. Fiki berdiri dan meninggalkan ruang UGD. Ia menuju toilet, sekedar
untuk mencuci wajahnya yang terlihat sangat mengantuk. Ia sapukan air ke
wajahnya. Begitu segar ia rasakan, iapun berkumur untuk membersihkan bagian
dalam mulutnya. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke ruang UGD untuk
menunggui Fika.
165

Setelah jam menunjukkan pukul setengah delapan, ada seorang suster yang
keluar dari balik pintu UGD, ia memperbolehkan masuk dan melihat keadaan
Fika. Fiki dan Orang tuanya masuk kamar UGD. Tercium bau obat suntik dan
alkohol saat itu. Fiki tak mempedulikan apa-apa, fikirannya hanya tertuju pada
bangsal yang terletak di pojok ruangan. Bangsal tersebut diatasnya telah terbaring
seorang perempuan cantik, dengan pakaian kebaya yang belum ia copot dari
kemarin. Fiki dan ketiga orang Tua Fika menuju bangsal tersebut. Ia melihat Fika
sedang tak sadarkan diri. Tangannya tergantung selang yang terhubung oleh infus.
Mulutnya juga tertutup oleg selang yang menghubungkan ke tabung oksigen. Fiki
menangis histeris saat melihat keadaan Fika seperti itu. Ia tak tega bila orang yang
paling ia cintai menderita seperti ini. tetapi tetap. Ia membelai rambut Fika dengan
tangisannya. Ia cium kening Fika dengan lembut. Ia berharap Fika tak terjadi apa-
apa. Dan ia berharap bahwa Fika akan cepat sadar dan bisa kembali sehat seperti
semula.





166

Bertahanlah fika

Sudah satu minggu Fika dirawat di rumah sakit. Walaupu Fika sudah
sadarkan diri, namun keadaanya kian hari kian memburuk. Menurut dokter, Fika
mengidap suatu penyakit yang sangat menakutkan. Penyakit yang telah merenggut
nyawa ratusan orang di dunia. Fika terkena penyakit kanker otak stadium akhir.
Keluarga Fika sangat menyayangkan keadaan ini. Mengapa mereka semua tak
mengetahuinya dari awal? Setidaknya mereka dapat dengan berusaha keras
menyembuhkan Fika. Mungkin sakit kepala begitu hebat yang dirasakan Fika,
adalah gejala timbulnya kanker otaknya. Fikapun tak mengetahui semua ini. Ia
fikir semua hanya sebuah trauma biasa. Waktu itu ia juga pernah menanyakan
penyakitnya kepada dokter, bahkan psikiater. Namun dugaan mereka salah, bukan
sebuah trauma yang dialami Fika. Melainkan kanker otak yang telah menjalar di
dirinya. Dan menurut dokter, umur Fika sudah tak lama lagi. Bahkan bisa dibilang
tinggal hitungan hari.
Pagi ini seperti biasa, ke tiga orang tua Fika dan Fiki sendiri, masih berada
di dalam ruang ICU, terlihat Fika yang membuka matanya. Ia melihat sekeliling.
Ia tersenyum kearah Fiki dan ketiga orang tuanya.
167

Ayahh.. ibu... Panggil Fika saat itu. Cepat-cepat mereka berdiri
disamping Fika.
Ia nak.. ada apa? Bagaimana keadaanmu nak? Sahut Ibu angkat Fika
dengan membelai rambut anaknya.
Masih sedikit pusing bu ini kepala.. aduh sakit. Fika merasakan sakit
dikepalanya. Tak kuasa mereka semua menahan kesedihannya, melihat Fika
merintih kesakitan. Terlebih Fiki saat itu. Ia tak kuasa melihat orang yang paling
ia sayangi menderita.
Ayah panggilkan dokter ya nak? Ayah kandung Fika keluar dari kamar
ICU dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Fika saat itu. Tak beberapa
lama ayah Fika kembali, dan di ikuti seorang dokter laki-laki yang mengalungkan
stetoskop di lehernya.
Fika.. buka ya mulutmu. Dokter menyuruh Fika untuk membuka
mulutnya. Dokter mulai menyalakan senter dan melihat keadaan rongga dalam
mulut Fika. Ayo sekarang kamu buka matamu lebar-lebar. Fika menuruti semua
perkataan dokter. Dokter kembali menyalakan senternya, ia menyoroti bola mata
Fika.
Dokter aku sudah sehatkan? Aku sudah sembuh kan? Fika menanyakan
keadaanya kepada dokter itu. Dokter hanya tersenyum mendengar pertanyaan
Fika. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dokter itu. Mengingat
pasiennya, hidupnya sudah tak lama lagi.
168

Iya Fika. Kamu sudah berangsur membaik. Dokter mencoba menghibur
Fika dengan senyumannya. Semua yang hadir disana tak kuasa untuk menahan
kesedihannya melihat Fika seperti itu.
Tuh.. dengar kan kata dokter bu.. aku sudah sembuh sekarang. Fika
tersenyum ke arah ibunya. Ibunya tak kuasa menahan tangisannya saat itu. Sambil
mengangguk Ibu Fika terus menangis tanpa henti.
Ayah.. aku sudah sehat. Ayah ayo main-main. Aku kangen main-main
dengan ayah. Mungkin aku sudah lupa masa-masa itu. Ayah Fiki tersenyum
kearah anak kandungnya. Ia tak bisa berkata apa-apa saat itu.
Kakak... Fika memanggil Fiki.
Iya Fika, ada perlu apa? Ada yang bisa kakak bantu? Fiki berdiri di
samping ranjang Fika. Ia membelai rambut Fika dengan lembut. Kemudian Fiki
memegang erat tangan Fika. Fiki menahan kesedihannya melihat Fika.
Kakak aku mau jalan-jalan bersama kakak sekarang, aku ingin pergi ke
taman itu bersama kakak. Aku ingin mendengar suara merdu kakak seperti di
restauran dulu. Fika mengajak Fiki untuk menemaninya jalan-jalan.
Fika.. kamu masih sakit, nanti saja kalau kamu sudah sembuh akan kakak
ajak jalan-jalan sepuasmu. Fiki merasa tak bisa menuruti permintaan Fika. Ia
masih sangat mengkhawatirkan keadaan Fika.
169

Kakak.. aku sudah sembuh loh. Aku mau kakak menemaniku sekarang.
Fika terlihat kesal melihat Fiki tak mau menemaninya jalan-jalan. Fiki hanya bisa
meneteskan air matanya.
Ayahnya membisikkan sesuatu ke telinga Fiki. Begitu lirih bahkan tak bisa
terdengar jelas.
Baiklah Fika.. Kakak akan mengajak kamu untuk pergi ketaman dan
restauran itu. Tapi kamu harus janji, setelah kakak ajak jalan-jalan, kamu harus
sembuh seperti sedia kala. Fiki menyanggupi permintaan Fika setelah ayahnya
membisikkan sesuatu ke telinganya.
Siapp.. kakak. Setelah jalan-jalan, aku akan sehat seperti sedia kala. Fika
terlihat senang Fiki mau menuruti keinginannya saat itu. Ia mengangkat
tangannya dan hormat kearah Fiki. Siap komandan. Ia tersenyum kearah Fiki.
Fiki hanya bisa menahan kesedihannya. Melihat orang yang paling ia kasihi
hidupnya sudah tak lama lagi.
Fiki mengambil kursi roda, Fika turun dari ranjangnya dengan bantuan
ayah dan ibunya. Fika sudah duduk di kursi roda itu. Terlihat senyuman indah di
wajah Fika. Seperti tidak ada apa-apa dengannya. Semuanya serasa baik-baik saja.
Fiki mulai mendorong kursi roda itu meninggalkan ruang ICU. Serasa ke tiga
orang tuanya ingin menjerit keras-keras melihat Fika meninggalkan ruang ICU
bersama Fiki.
170

Fiki terus mendorong kursi roda Fika, menyusuri koridor-koridor rumah
sakit. Kakak.. aku senang bisa jalan-jalan sama kamu. Sahut Fika, ia merasa
sangat senang hari ini.
Iya Fika.. hari ini kakak akan mengajakmu jalan-jalan kemana saja,
sesukamu? Fiki terus mendorong kursi roda itu. Ia ayunkan langkah kakinya
untuk meninggalkan rumah sakit. Kemudian ia menyetop taksi dan masuk
menaiki taksi tersebut bersama Fika.
Taksi itu berhenti di restauran bernuansa Eropa yang pernah mereka
kunjungi dulu. Dibantu oleh sopir taksi, Fika turun dari mobil dan kembali
menaiki kursi rodanya. Fiki membayar taksi dan mengucapkan terima kasih telah
membantunya menurunkan Fika saat itu.
Fiki mendorong kursi roda Fika masuk ke restauran Eropa yang begitu
artistik. Terlihat tak jauh berbeda dengan kunjungan terakhirnya dulu. Hanya ada
beberapa ornamen dan lukisan yang diganti dengan yang baru. Setelah pelayan
restauran membukakan pintu, terdengar Live Music yang begitu indah. Alunan
suara membuat siapa yang berkunjung akan mencair hatinya. lagu yang
dibawakan kali ini adalah instrumen You Rise me Up. Begitu enak didengar.
Fiki menuju meja Resepsionis untuk menanyakan ada meja yang kosong
atau tidak. Mengingat meja disitu selalu habis dipesan pengunjung. Memang
keberuntungan ada di pihak mereka. Ada satu meja kosong yang bisa mereka
pesan saat itu. Fiki mendorong ke meja 14.
171

Fiki menggendong Fika untuk duduk di kursi. Fika tersenyum ke arah
Fiki. Ia senang sekali Fiki selalu perhatian denganya. Tak pernah sedikitpun Fiki
mengeluh tentang Fika. Ia begitu sabar menyayangi Fika, hingga detik ini. Saat
Fiki membungkuk untuk meletakkan Fika dikursinya, Fika membelai rambut Fiki.
Fika menangis saat itu.
Kenapa kamu menangis Fika? Tanya Fiki yang kaget melihat Fika yang
tiba-tiba menangis.
Kakak, aku begitu mencintaimu. Sampai detik ini. Fika terseyum dengan
air matanya yang menetes mengenai tangan Fiki. Fiki membalas senyuman Fika
dengan getir. Fiki menahan kesedihannya saat itu. Ia tak mau kelihatan lemah di
mata Fika. Ia ingin menjadi kakak yang tegar dan tak cengeng.
Aku juga mencintaimu Fika. Ucap Fiki. Tak lama kemudian pelayan
laki-laki itu datang. Ia membawa setumpuk menu, dan menyerahkan kepada Fiki.
Tak beberapa lama Fiki menyebutkan menu yang akan ia pesan. Pelayan itu
mencatat dan setelah itu meninggalkan meja Fika dan Fiki.
Kakak menyanyilah didepanku seperti dulu. Pinta Fiki untuk segera
menuruti keinginannya. Fiki tersenyum kearah Fika. Fiki beranjak dari kursinya
dan kembali bernegosiasi kepada salah satu personil band yang ada di atas
panggung. Tanpa banyak basa-basi mereka turun.
Fiki mengambil alih acara Live Music di restauran tersebut. Baru saja ia
duduk di depan piano klasik itu, banyak pengunjung yang bertepuk tangan.
Sepertinya para pengunjung tak melupakan permainan indahnya waktu itu.
172

Fiki memainkan intro lagu dengan begtu indah. Tangan-tangannya
menekan tuts piaono dengan gemulai. Rangkaian nada indah keluar dari piano
klasik. Fiki membawakan lagu kesukaan Fika Pelangi Di matamu seperti yang
Fiki nyanyikan waktu itu.
Tiga puluh menit kita disini, tanpa suara
Dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu.
Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara
Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini.
Fiki memainkan lagu itu begitu indah. Suaranya begitu merdu. Fiki
menatap kearah meja Fika. Fika begitu senang saat itu. Fiki teringat akan bayang-
bayang masa lalu. Saat mereka mengunjungi restauran ini. Fika banyak bertanya
soal menu-menu makanan Eropa. Fiki menjawab semua pertanyaan Fika. Dan
akhirnya Fiki memutuskan untuk menyanyikan lagu ini di atas panggung. Fika
sangat senang . Bahkan dengan wajah yang malu-malu karena pujian dari
beberapa orang. Namun saat ini Fiki teringat, bahwa mungkin lagu yang ia
nyanyikan sekarang adalah lagu terakhirnya untuk Fika. Serasa Fiki tak bisa
menahan kesedihannya. Ia ingin sekali menangis. Orang yang sangat ia sayangi
harus berpisah dengannya. Bahkan untuk selama-lamanya.
Jam dindingpun tertawa, karna ku hanya diam, dan membisu.
Ingin ku maki diriku sendiri, yang tak berkutik didepanmu
173

Fiki tak bisa menahan kesedihannya. Tak terasa air matanya menetes di
tuts-tuts piano. Namun ia berusaha untuk mengendalikan suara dan permainannya.
Ia kembali menatap Fika. Ia begitu cantik saat ini. Fiki tak ingin berpisah dengan
Fika. Fiki ingin sekali melihat senyuman Fika. Bahkan ia tak rela jika hari ini
adalah hari terakhirnya bersama dengannya. Melihat senyuman yang terpancar di
wajah Fika.
Ada yang lain disenyummu
Yang membuat lidahku, gugup tak bergerak
Ada pelangi, di bola matamu
Yang memaksa diri tuk bilang
Aku sayang padamu...
Aku sayang padamu...
Sempurna. Fiki menagis tersedu-sedu diatas panggung. Ia tak bisa
meneruskan bait-bait terakhir lagu. Suaranya sudah terlalu serak. Namun ia
berusaha untuk konsentrasi dengan permainannya. Nada-nadanya piano telah ia
susun dengan indah, bahkan masih sangat indah untuk didengar. Fiki berhasil
mengakhiri lagunya. Tepuk tangan yang meriah terdengar begitu riuh. Semua
pengunjung menyukai lagu dan permainan Fiki. Ia kembali menatap Fika. Dan
Fika begitu antusias untuk bertepuk tangan.
174

Fiki turun dari atas panggung dan menuju kursi Fika. Fika menyambutnya
dengan gembira. Senyuman indah terpancar di wajah Fika. Terima kasih kakak
atas lagunya. Aku suka sekali dengan suara dan permainan kakak. Fika
tersenyum. Fiki membalas seyuman Fika dan meyeka air matanya.
Kakak, mengapa menagis? Fika mengusap pipi Fiki yang penuh dengan
air mata. Tak kuasa Fiki menahan kesedihannya. Ia memeluk tubuh Fika dengan
erat. Ia menagis dengan sepuasnya. Tak pedulikan orang-orang yang ada
direstauran. Ia terus saja menagis, tak mau Fika pergi secepat itu. Fika
melingkarkan tangan mungilnya di pinggang Fiki.
Kakak, jangan menagis. Aku baik-baik saja kok. Fika menepuk-nepuk
pundak Fiki yang masih memeluk Fika dengan erat. Fiki melepaskan pelukannya.
Ia mengusap air matanya. Fiki tersenyum ke arah Fika.
Jadi, sekarang kita kemana lagi sayang. Fiki menggenggam tangan Fika.
Fika membalas dengan senyuman yang indah.
Ke taman biasanya, kakak. Fika mengajak Fiki untuk pergi ke taman.
Tempat dimana Fika sering mengunjunginya. Bahkan Fika pernah menunggu Fiki
selama 3 bulan dalam ketidak pastian. Fika kangen dengan keadaan Sunset di
taman itu.


175

Selamat jalan Fika

Fiki mendorong kursi roda Fika masuk kedalam taman. Tak banyak orang
yang ada di taman tersebut. Seperti biasa, taman itu begitu indah dengan bunga
yang beraneka ragam, hembusan angin yang semilir membuat hati ini terasa sejuk.
Fika tersnyum kearah Fiki.
Kakak... panggil Fika.
Iya Fika..
Terima kasih banyak ya, sudah mau menemani aku ke sini. Aku kangen
jalan-jalan dengan kakak. Fika kangen bisa berdua-duaan sama kakak. Sahut
Fika. Fiki masih mendorong Fika mengitari taman itu. Ia tak bisa menahan
kesedihannya saat ini. Fiki tak bisa berkata apa-apa saat itu.
Kakak tahu gak, kita pernah bertemu disini. Disinilah aku pertama suka
dengan kakak. Heheheh.. aku masih ingat saat kakak menghawatirkan diriku yang
sakit, kakak meberiku sebotol air mineral untuk menenagkan diriku. Dan alhasil
perhatianmu telah meluluhkanku. Aku jatuh cinta kepada kakak. Fika tersenyum
menceritakan kejadian waktu dulu. Fiki masih tak bersuara saat itu, ia masih
mendorong kursi roda Fika mengitari taman.
176

Kakak.. inget gak aku pernah menanti kehadiran kakak disini, ya selama
tiga bulan aku selalu menanti kehadiranmu disini, hehehe.. aku seperti orang gila
kakak saat itu. Waktu itu hujan sangat deras, dan aku pingsan. Kakak menolongku
saat itu. Aku seneng kakak bisa kembali lagi menemuiku. Dan yang paling
membuatku senang, kakak mengungkapkan perasaan cintanya. Kakak menembak
aku. Heheheh.. aku senang sekali waktu itu. Fika terlihat senang menceritakan
semuanya kepada Fiki. Sesekali tangan Fika memegang kepalanya yang terasa
sakit. Fiki masih tak bisa berkata apa-apa. Ia meneteskan air matanya mendengar
cerita-cerita Fika.
Kakak.. bawa aku ke danau itu. Aku ingin melihat matahari tenggelam
seperti dulu. Fika mengajak Fiki untuk menuju pinggir danau. Fiki mendorong
kursi roda Fika menuju ke pinggir danau. Ia menyusuri jalan menuju ke tempat
itu. Tak beberapa lama mereka berdua sampai di tepi danau. Memang benar, saat
itu matahari sudah condong ke arah barat, dan sinarnya sudah memantul di air
danau. Sunset telah mennjukkan keindahanya. Mereka berdiri di pinggir danau
dekat pohon mahoni yang besar.
Kakak.. indah ya matahari itu. Fika menatap keindahan matahari senja
dicakrawala, dan tersenyum ke arah Fiki.
Ia sayang.. matahari itu sangat indah. Matahari itu seperti kamu, sinar
cintanya tak akan pernah hilang. Kakak harap kamu bisa kuat seperti matahari.
Kakak harap kamu bisa sembuh seperti sedia kala. Dan bisa sering jalan-jalan
dengan kakak. Fiki tersenyum kearah Fika. Fika membalas senyuman itu dengan
177

indah. Kemudian Fika mencoba untuk berdiri, Fiki dengan sigap membantunya
untuk berdiri. Ia menuju ke arah pohon mahoni besar. Ia mengeluarkan pisau kecil
yang ia kantongi. Ia mulai menggambar sesuatu dipohon mahoni besar itu.
Sudah selesai, indah bukan? Fika tersenyum dengan hasil gambaranya di
pohon. Ia menggambar sebuah hati, dan di dalamnya terapat tulisan nama. Fika
Love Fiki.
Kakak.. bagus ya gambaranku, aku harap cinta kita sekokoh pohon
mahoni ini yang selalu menjaga tulisan nama kita, Dan aku harap tulisan ini akan
selalu menjadi kisah kenangan cinta kita nanti. Fika tersenyum sambil
membawa pisau kecil itu. Fiki tak bisa berkata apa-apa. Serasa air matanya ingin
membanjiri tempat itu, setelah melihat tulisan Fika dipohon. Fiki terus
memandangi Fika yang terlihat begitu ceria. Fiki tak bisa menahan kesedihannya
saat itu.
Kakak.. jangan menangis. Tersenyumlah kakak, gambaranku indah
bukan? Fika melempar senyum kearah Fiki. Fiki mengangguk dan memaksakan
senyumannya kepada Fika. Kakak aku ingin kakak menggendongku sekarang.
aku ingin berkeliling danau ini. Mau kan kakak menggendongku? Fika meminta
Fiki untuk menggendongnya saat itu. Fiki hanya menagangguk kepalanya.
Kemudian Fika naik kepunggung Fiki, dan Fiki menggendongnya.
Fiki menggendong Fika mengitari tepi danau. Selama Fika digendong, ia
selalu bercerita dan meyakinkan Fiki kalau dirinya tak apa-apa. Fiki hanya bisa
mendengarkan Fika bercerita. Ia tak bisa berkata apa-apa saat itu.
178

Kakak, aku ingat di saat Samuel berkata bahwa aku akan menyukaimu di
caffe itu. Padahal aku tak begitu akrab dengan orang-orang asing yang baru aku
kenal. Tapi keyakinan Samuel memang benar. Aku begitu menyukaimu saat
pertama bertemu. Fika tertawa ringan sambil memeluk erat di gendongan Fiki.
Kakak berhenti. Fika menyuruh Fiki untuk berhenti. Fiki mengehentikan
langkahnya. Lihatlah kakak, matahari itu akan tenggelam. Cakrawalanya
sungguh indah. Aku suka sunset, aku suka suasananya. Matahari tenggelam itu
begitu indah kakak. Fika menunjuk kearah sunset yang terlihat berada diseberang
danau. Begitu indah dan mempesona. Cahaya orange telah membuat hati ini terasa
sejuk. Disertai semilir angin sore yang membuat fikiran menjadi tenang. Fiki
hanya tersenyum getir saat itu, dan terus menggendong Fika.
Aku sangat mencintaimu kakak, hari ini dan seterusnya. Fika
menghembuskan nafas terakhirnya. Itulah kata-kata terakhir sebelum ia
menghembuskan nafasnya. Fiki meneteskan air mata tak henti-hentinya. Ia tak
menyangka orang yang paling ia kasihi telah tiada.



179

EPILOG

Cinta ini telah pergi, cita ini telah tiada untuk selama-lamanya. Keindahan
sunset itu sungguh mempesona. Cahayanya, cakrawalanya, bahkan hembusan
anginnya. Keindahan sunset bisa membius fikiran siapapun untuk menjadi tenang
dan damai. Cinta mereka berdua seperti sunset. Indah bahkan tak bisa terlukiskan
oleh apapun. Matahari itu telah menuju peristirahatannya. Matahari itu telah
menyelesaikan tugas sucinya. Mencintai setulus hati. Mencintai sampai mati.
Selamat jalan Fika. Cintamu akan selalu terkenang, cintamu adalah matahari
penerang yang tak akan penah padam di hati ini. Aku akan selalu menjaga cinta
sucimu itu. Sampai nanti, bahkan sampai mati. I Love you Fika, Good bye...
~ Fiki ~
***




180

Pagi tadi, di rumah sakit
Kakak.. aku sudah sembuh loh. Aku mau kakak menemaniku sekarang. Fika
terlihat kesal melihat Fiki tak mau menemaninya jalan-jalan. Fiki hanya bisa
meneteskan air matanya.
Ayahnya membisikkan sesuatu ke telinga Fiki. Begitu lirih bahkan tak bisa
terdengar jelas.
Baiklah Fika.. Kakak akan mengajakmu untuk pergi ketaman dan
restauran itu. Tapi kamu harus janji, setelah kakak ajak jalan-jalan, kamu harus
sembuh seperti sedia kala. Fiki menyanggupi permintaan Fika setelah ayahnya
membisikkan sesuatu ke telinganya.
Siapp.. kakak. Setelah jalan-jalan, aku akan sehat seperti sedia kala. Fika
terlihat senang Fiki mau menuruti keinginannya saat itu. Ia mengangkat
tangannya dan hormat kearah Fiki. Siap komandan. Ia tersenyum kearah Fiki.
Fiki hanya bisa menahan kesedihannya. Melihat orang yang paling ia kasihi
hidupnya sudah tak lama lagi.
Aku tahu kamu begitu mencintainya, aku juga sangat mencintainya Fiki.
Sudah lama aku merindukannya, sejak 20 tahun yang lalu. Antarkan dia menuju
kebahagiaanya sekarang. Ayah tahu mungkin hari ini adalah hari terakhirnya
bersama kita. Namun Ayah ingin sekali Fika bisa tersenyum kembali, setelah
kejadian itu. Setidaknya ia bahagia sebelum ia pergi
~Bisik Ayahnya kepada Fiki~
181

6 Mei 2013
Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday happy birthday..
Happy birthday to you.
Ibu dan ayah Fika juga ikut menyanyi saat itu, membuat kejutan itu
semakin meriah.
Tiup lilinya, tutup lilinya, tiup lilinya sekarang juga
Sekarang juga
Sekarang juga..
Fika bersiap-siap untuk meniup lilin ulang tahunnya.
Stop... sebelum kamu meniup lilin itu. alangkah baiknya kamu
mengajukan permohonan dan harapanmu di hari ulang tahunmu ini.sahut Fiki.
Emmm.. baiklah.. Fika memejamkan matanya dan menggenggam kedua
tangan didepan dadanya. Fika mulai mengajukan permohonnya didalam hati.
Sudah selesai.. Fika meniup lilin ulang tahunnya.
Horeee... hahhahaa... Kemeriahan terjadi saat itu. Fiki dan kedua orang
tua Fika tertawa, Fikapun juga ikut tertawa seperti mereka.
182


Tuhan aku begitu menyayangi mereka, aku begitu mencintai Fiki. Jagalah Fiki
selalu untukku. Sayangilah dia. Seperti aku sekarang yang begitu menyayanginya.
I Love You Fiki.

~ permohonan Fika saat ulang tahun ~



THE END



183

TENTANG PENULIS

LUQMAN TAUFIQ HIDAYAH lahir di Gresik pada tanggal 8 Desember
1992. Ia dibesarkan di kota Bojonegoro dan setelah lulus SMK Farmasi
Bojonegoro, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Katolik Widya
Mandala, Surabaya.
Untuk menghubungi penulis dapat melalui email:
luqman_taufiq@ymail.com. Atau akun facebook Luqman Taufiq. Anda bisa
mengunjungi blog: Fikistory.blogspot.com. Kami mengharapkan kritik dan saran
anda, untuk kesempurnaan tulisan kami mendatang. Terima kasih..:)

Anda mungkin juga menyukai