Anda di halaman 1dari 19

TUGAS 1

EOR INTRODUCING



Disusun Oleh :

Nama : Hasadin
NIM : 1101003
Kelas : TP NR 03/A




TEKNIK PERMINYAKAN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI
BALIKPAPAN
2014

BAB I
METODE EOR

Pada dasarnya definisi Enhanced Oil Recovery adalah suatu metode peningkatan perolehan
minyak bumi dengan cara menginjeksikan material atau bahan lain ke dalam reservoir (Lake, 1989
dalam I Wayan Aris Widarmayana, 1979). Metode ini dikenal dengan nama Tertiary Recovery yang
dapat dibedakan menjadi dua kategori , yaitu tahap perolehan kedua (secondary recovery) dan tahap
perolehan ketiga (tertiary recovery). Metode EOR ini dilakukan setelah tahap perolehan pertama
(primary recovery) tidak mampu lagi mengambil secara optimal sisa minyak yang terdapat di dalam
batuan reservoir. Proses pada EOR ini meliputi beberapa prinsip yang umumnya melibatkan
karakter minyak dan interaksinya terhadap batuan dan air yang terdapat di sekelilingnya. Proses-
proses tersebut termasuk pengurangan gaya tegangsn sntar muka, emulsifikasi minyak dan air,
pengurangsn viskositas driving fluid dan oil oveling (William, D.B., 1993, dalam IWayan
Widarmayana, 1997).Seandainya yang digunakan adalah metode recovery berupa waterflood,
perubahan sifat wettability akan menyebabkan perubahan efisiensi perolehan minyak. Salah satu
cara untuk mengetahui pengaruh wettability terhadap efisiensi perolehan minyak adalah dengan tes
waterflood. Adapun prosedur dari tes waterflood pada core adalah sebagai berikut : Menjenuhi
core dengan air formasi untuk menentukan permeabilita core terhadap air formasi. Mengalirkan
minyak ke dalam core sampai kejenuhan minyak awal (Soi) mencapai 70 % - 80 % serta produksi
air formasi berakhir. Mengalirkan air formasi dengan tekanan tetap (50 psi, untuk mencegah
terjadinya end-effects ). Menghitung permeabilitas relatif.Di dalam aplikasi secara langsung,
wettability digunakan untuk menentukan teknik perolehan minyak sekunder ataupun tersier melalui
injeksi ke dalam reservoir. Pada batuan yang bersifat water-wet seharusnya menggunakan teknik
waterflooding, sedangkan batuan yang bersifat oil-wet sebaiknya menggunakan teknik stem
flooding. Adapun sifat-sifat reservoir pada kodisi awal diperlukannya recovery kedua antara lain :-
Kejenuhsn minyak dalam lubang rendah.- Vikositas dari minyak tinggi.- Formasi volume factor
pada minyak rendah.- Tegangan permukaan pada minyak tinggi.- Tegangan antar muka antara
minyak dan air tinggi.- Awal perbedaan tekanan atau distribusi kejenuhan yang berhubungan
dengan sifat alami batuan.Rendahnya kejenuhan minyak disebabkan oleh kejenuhan gas yang bebas
semakin tinggi, kenaikan dari viskositas minyak menyebabkan hilangnya mobilitas minyak dan
mengurangi kejenuhan minyak. Sedangkan untuk injeksi air atau gas perlu memperhatikan Model
Hysterisis. Hal ini dikarenakan perpindahan minyak oleh air atau gas yang dialirkan adalah
kombinasi dari imbibisi dan proses drainase yang terjadi dalam tiga fase aliran. Kunci mekanisme
dalam meningkatkan efisiensi penyapuan atau dalam profile flooding control adalah proses
terjebaknya gas dalam reservoir. Dalam reservoir water wet dan reservoir yang adanya mixed
wettability, jebakan fase nonwetting oleh tekanan kapiler mengurangi pemisahan gas. Pada waktu
yang sama, sisa minyak setelah waterflooding dapat dipindahkan oleh proses entrapment (adanya
penjebakan hidrokarbon setempat-setempat atau dikontinuitas dari pendesakan saat injeksi fluida
tidak maksimal).Peningkatan perolehan minyak dapat dicapai jika aliran gas tepat pada reservoir
tertentu yang diinjeksi, dalam selang seling diisi dengan air. Kejenuhan gas yang lebih tinggi
ditujukan ada proses waterflooding, jumlah yang banyak dari gas yang dijebak ke atas dalam
jumlah pasti yang dicirikan pada macam-macam property yang diberikan reservoir.

BAB II
PENINGKATAN PRODUKSI DENGAN EOR

Produksi minyak bekerja pada dasarnya memiliki tiga fase yaitu pemulihan primer,
sekunder, dan tersier. Selama fase utama awal produksi minyak, minyak didorong ke dalam sumur
bor oleh tekanan alami dari reservoir dan gravitasi. Gerakan alami minyak ditingkatkan dengan
teknik mengangkat buatan seperti pompa. Pemulihan primer biasanya dapat mengarah pada
ekstraksi 10-20% dari minyak yang tersedia bidang itu.
Upaya pemulihan sekunder biasanya akan memanfaatkan air, dalam teknik yang dikenal sebagai
banjir air, atau gas untuk menggantikan minyak dan memaksa ke sumur bor. Sebuah tambahan 10%
-30% dari potensi ladang dapat dipulihkan dalam fase sekunder. Minyak pemulihan tersier, atau
enhanced oil recovery, menggunakan metode tambahan yang mahal dan kadang-kadang tidak dapat
diprediksi, tetapi yang pada akhirnya dapat memungkinkan untuk 30% -60% dari potensi total
minyak lapangan untuk diwujudkan.
Metode EOR dipilih berdasarkan jenis minyak yang ada didalam reservoir.Untuk minyak ringan,
biasanya digunakan gas miscible injection, untuk minyak sedang digunakan chemical injection, dan
untuk minyak berat digunakan thermal injection.Teknik termal bekerja dengan menginjeksikan
fluida bertemperatur tinggi ke dalam formasi untuk menurunkan viskositas minyak sehingga mudah
mengalir. Dengan menginjeksikan fluida tersebut, juga diharapkan tekanan reservoir akan naik dan
minyak akan terdorong ke arah sumur produksi. Merupakan teknik EOR yang paling popular dan
seringnya menggunakan air panas (water injection) atau uap air (steam injection).

2.1 Contoh data peningkatan produksi pada lapangan Duri dengan sistem Injeksi Uap
a. FIELD HISTORY:
Duri Field dioperasikan oleh PT. Caltex Pacific Indonesia (dibawah kontrak dengan
Pertamina)
Minyak diproduksikan dari batuan pasir pada formasi Miocene di kedalaman 200-900 ft
Estimasi OOIP: 5,4 milyar barrel
Mulai diproduksikan tahun 1958
CPI mulai uji coba model eksploitasi injeksi uap pada 1999 dengan mengaplikasikan
teknologi light oil steam flood (LOSF) untuk menyedot minyak yang masih
menempel/tertinggal di reservoir

b. PROBLEM
Produksi memuncak pada pertengahan 1960-an mencapai 65 MBOPD
Kemudian produksi menurun sekitar 13% per tahun
Primary recovery diketahui menggunakan solution gas drive
Dengan cara konvensional lapangan Duri yang mempunyai cadangan minyak yang
sangat besar (kedua di Indonesia setelah lapangan minyak Minas pada waktu itu) hanya
dapat melakukan recovery sekitar 8% dari total cadangan

c. STEAM FLOODING
Steam flooding pilot test dilakukan pada tahun 1975
Injeksi dilakukan dari 16 sumur dengan 5 Spot Pattern
Dari hasil pengamatan selama 3 tahun, disimpulkan bahwa steam memiliki potensial
untuk memindahkan minyak yang cukup banyak
DSF (Duri Steamflood Project) dimulai tahun 1985 dan saat ini termasuk salah satu
proyek steam flooding terbesar didunia
Sampai saat ini, Duri memiliki +- 900 sumur injeksi dan laju injeksi steamnya sebesar
1.25 juta barrel per day

d. HASIL:
Realisasi produksi CPI pada 2008 mencapai 407.466 bph. Sementara itu, hingga 12
Februari 2009, produksi minyak CPI rata-rata 393.084 bph
Saat ini Duri memproduksikan 300.000 BOPD dari 2700+ sumur produksi
Steamflooding diperkirakan mampu menambahkan sebesar 2,5 milyar BBL dari primary
recovery

e. Kesimpulan
Metode EOR sangatlah beragam dan harus disesuaikan pemilihannnya dengan karakteristik
reservoir atau fluida reservoirnya.
Pola injeksi berperan penting dalam keberhasilan pengurasan dari suatu reservoir.
Steamflooding adalah salah satu metode yang ekonomis, aman, dan dapat digunakan dalam
jangka panjang.

BAB III
PEMILIHAN METODE EOR

1. Kedalaman
Kedalaman reservoir merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan suatu EOR dari
segi teknik maupun ekonomi. Dari sudut pandang teknik, jika reservoir cukup dangkal, tekanan
injeksi yang dapat dikenakan pada reservoir juga kecil karena dibatasi oleh tekanan rekah.
2. Kemiringan
Kemiringan memiliki arti yang penting jika perbedaan rapat massa yang didesak cukup besar. Jika
kecepatan pendesakan besar sekali, pengaruh kemiringan tidak terlalu besar. Jika fluida
pendesaknya air, maka cenderung untuk maju lebih cepat di bagian bawah.

3. Tingkat Heterogenitas Reservoir
Heterogenitas reservoir ditentukan oleh :
Tingkat ketidakseragaman ukuran pori
Stratigrafi / jenis batuan
Kontinuitas yang dipengaruhi oleh struktur

4. Sifat Petrofisik
Besaran besaran petrofisik yang mempengaruhi keberhasilan metode EOR atau peningkatan
perolehan ialah :
Porositas
Permeabilitas
Permeabilitas efektif sebagai fungsi saturasi (k
ro
dan k
rw
)
Tekanan kapiler
Kebasahan batuan

5. Mekanisme Pendorong
Peranan mekanisme pendorong sangat penting artinya dalam EOR. Misalnya, jika suatu reservoir
memiliki tenaga pendorong air (waterdrive mechanism) yang kuat, maka injeksi air atau kimiawi
tidak akan memberi dampak yang berarti.
6. Cadangan Minyak Tersisa
Cadangan minyak tersisa reservoir mempunyai hubungan langsung dengan nilai ekonomi
penerapan suatu metode EOR. Makin besar cadangan tersisa, maka makin besar suatu proyek EOR
mendapatkan keuntungan.

7. Saturasi Minyak Tersisa (S
or
)
Besarnya saturasi minyak tersisa menentukan sulit mudahnya pendesakan atau pengurasan yang
dilakukan oleh fluida injeksi. Hal ini disebabkan oleh dua hal, yaitu pengurasan minyak akan
memerlukan metode yang mahal dan jumlah minyak yang harus menanggung biaya pengurasan
makin sedikit.

8. Viskositas Minyak
Viskositas minyak penting dalam pemilihan metode EOR dan juga dalam penentuan keberhasilan
metode tersebut. Dalam pendesakan tak tercampur, besaran yang menentukan efektifitas
penyapuannya ialah perbandingan mobilitas fluida pendesak dengan minyak didesak. Faktor
Faktor Yang Mempengaruhi EOR

1. Mobilitas Fluida
- Mobilitas merupakan suatu ukuran kemudahan suatu fluida untuk mengalir melalui media berpori
dengan suatu gradient tekanan tertentu.
- Mobilitas fluida merupakan perbandingan antara permeabilitas efektif fluida tersebut terhadap
viskositasnya pada kondisi reservoir.
= k
f
/
f
..(1)
dengan :
= mobilitas fluida, md/cp
k
f
= permeabilitas efektif, md

f
= viskositas fluida, cp
Persamaan ini berlaku baik untuk air, minyak, dan gas.


2. Perbandingan Mobilitas Fluida
- Besaran ini menghubungkan antara mobilitas air yang berada di belakang kontak air-minyak
(front) dengan mobilitas minyak yang berada di dalam oil bank. Apabila harga dari perbandingan
mobilitas fluida ini semakin kecil, maka bagian yang tersapu oleh fluida injeksi akan semakin
besar.
M=(k/)
pendesak
/(k/)
didesak
..(2)
dengan :
M = perbandingan mobilitas
k = permeabilitas efektif fluida, md
= viskositas fluida, cp
Bila proses pendesakannya merupakan pendesakan fluida yang bercampur (miscible), maka
permeabilitas efektif fluida pendesak dan fluida yang didesak sama, sehingga secara lebih
sederhana yang dibandingkan hanya viskositas kedua fluida tersebut saja.
3. Pola Sumur Injeksi
- Pertimbangan dalam penentuannya tergantung pada :
tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah lateral maupun ke arah
vertikal.











Gambar 1. Pola Sumur Injeksi (Latil et.al
8
)

4. Efisiensi Penyapuan (E
S
)
- Efisiensi penyapuan didefinisikan sebagai perbandingan antara luas daerah hidrokarbon yang
telah terdesak di depan front dengan luas daerah hidrokarbon seluruh reservoir.

5. Efisiensi Pendesakan (E
D
)
- Efisiensi pendesakan merupakan perbandingan antara volume hidrokarbon (minyak atau gas)
yang dapat didesak dari sebuah atau banyak pori pori terhadap volume hidrokarbon total yang
terdapat di dalam pori pori tersebut.
Dalam prakteknya, efisiensi pendesakan didefinisikan lebih sederhana, yaitu fraksi hidrokarbon
(minyak atau gas) yang dapat didesak setelah dilalui oleh front dan zona transisinya.
Bila dianggap suatu kasus pendesakan linier pada suatu sampel media berpori yang berbentuk
silinder, kemudian semua pori pori yang terletak di belakang front dapat diisi oleh fluida
pendesaknya, maka sesuai dengan definisi, efisiensi volumetriknya akan mencapai 100% dan
hubungan yang menunjukkan efisiensi pendesakan adalah sebagai berikut :
E
D
=(Soi - Sor)/S
oi
.(3)
dimana :
E
D
= efisiensi pendesakan, fraksi
S
oi
= saturasi minyak mula mula (pada saat awal pendesakan)
S
or
= saturasi minyak sisa

Dalam prakteknya, Sor dan E
D
akan tetap harganya sampai bidang front mencapai titik produksi.
Pada saat dan sebelum waterbreakthrough terjadi, efisiensi pendesakan ditunjukkan oleh persamaan
: (E
D
)
BT
=(Soi - Sor)
BT
)/S
oi
..(4)

Harga S
oi
akan berkurang dan E
D
akan bertambah dengan terus berlalunya zona transisi melewati
sumur produksi. Setelah zona transisi berlalu, maka akan diperoleh harga S
or
minimum yang
merupakan saturasi minyak irreducible dan efisiensi pendesakan akan mencapai suatu harga
maksimum, sesuai dengan persamaan :
(E
D
)
max
=(Sor - Sor
(min)
)/S
oi
..(5)

6. Efisiensi Invasi
Efisiensi invasi didefinisikan sebagai besarnya perbandingan antara volume hidrokarbon dalam pori
pori yang telah didesak oleh fluida terhadap volume hidrokarbon yang tertinggal di belakang
front.
Dalam pembicaraan mengenai efisiensi penyapuan, seolah olah proses pendesakan memiliki sifat
sifat yang merata secara vertikal. Tetapi pada kenyataannya hal tersebut jarang sekali terjadi di
dalam reservoir. Agar pengaruh aliran ke arah vertikal turut diperhitungkan, maka perlu ditentukan
terlebih dahulu efisiensi invasinya. Besar kecilnya efisiensi invasi dipengaruhi oleh adanya
pelapisan serta pengaruh gravitasi.
Hubungan efisiensi secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai berikut :
E=E
s
xE
D
xE
i
(6)


BAB IV
JENIS JENIS DARI BEBERAPA MACAM EOR
4.1 Immiscible Displacement

INJEKSI AIR (WATER FLOOD)
Injeksi air merupakan salah satu metoda EOR yang paling banyak dilakukan sampai saat
ini. Biasanya injeksi air digolongkan ke dalam injeksi tak tercampur. Alasan-alasan sering
digunakannya injeksi air ialah:
- Mobilitas yang cukup rendah
- Air cukup mudah diperoleh
- Pengadaan air cukup murah
- Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak
mengurangi besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan; jika
dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi ini berat air sangat menolong.
- Air biasanya mudah tersebar ke seantero reservoir, sehingga menghasilkan efisiensi
penyapuan yang cukup tinggi.
- Effisiensi pendesakan air juga cukup baik. sehingga harga Sor sesudah injeksi air =
30% cukup mudah didapat.


















Gambar Pattren Water Flooding

Pemakaian injeksi air sebagai meloda untuk menaikan peralehan minyak dimulai pada tahun
1880 setelah John F. Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari lapisan yang lebih dangkal dapat
membantu produksi minyak. Secara tidak sengaja, hal telah terjadi sebelum di Pennsylvania opada
tahun 1865. Tujuan Injeksi air adalah mengimbangi penurunan tekanan reservoir dengan
menginjeksikan air ke dalam reservoir.
4.2 Miscible Displacement
Injeksi tercampur didefinisikan sebagai pendesakan suatu fluida terhadap minyak yang
menghasilkan pencampuran antara fluida pendesak terhadap minyak sehingga hasil campuran ini
dapat keluar dari pori-pori dengan mudah sebagai satu fluida. Dalam hal efisiensi pendesakan
dalam pori-pori sangat tinggi.
Yang termasuk injeksi tercampur adalah injeksi gas kering pada tekanan tinggi (vaporizing
gas drive), injeksi gas diperkaya (condensing gas drive), injeksi dinding fluida yang dapat
bercampur dengan minyak (gas), injeksi dinding alkohol (dapat bercampur dengan minyak dan air),
injeksi CO2 atau gas-gas yang tidak bereaksi (inert gas) dapat bercampur dengan minyak dan air.
Gambar 3.1 memperlihatkan Diagram Terner. Pada diagram tersebut terdapat sistim tiga kelompok
komponen yang terdiri atas metana (C1), komponen-komponen menengah (C2-C6) dan komponen-
komponen berat (C7+).
4.2.1 Injeksi Gas CO2
Injeksi gas CO2 atau sering juga disebut sebagai injeksi gas CO2 tercampur yaitu dengan
menginjeksikan sejumlah gas CO2 ke dalam reservoir dengan melalui sumur injeksi sehingga dapat
diperoleh minyak yang tertinggal.
Perubahan Sifat Kimia Fisika Yang Disebabkan Oleh CO2 Perubahan sifat kimia fisika yang
disebabkan oleh adanya injeksi CO2 adalah sebagai berikut : a. Pengembangan volume minyak b.
Penurunan viscositas c. Kenaikan densitas d. Ekstraksi sebagian komponen minyak A.
Pengembangan volume minyak Adanya CO2 yang larut dalam minyak akan menyebabkan
pengembangan volume minyak. Pengembangan volume ini dinyatakan dengan suatu swelling
factor, yaitu : Perbandingan volume minyak yang telah dijenuhi CO2 dengan volume minyak awal
sebelum dijenuhi CO2, bila besarnya SF ini lebih dari satu, berarti menunjukkan adanya
pengembangan. Oleh Simon dan Crue, dikatakan bahwa SF dipengaruhi oleh fraksi mol CO2 yang
terlarut dalam minyak (X CO2) dan ukuran molekul minyak yang dirumuskan dengan perbandingan
berat molekul densitas (M/ Injeksi CO2 dan air secara simultan. Untuk gas yang dibawa dengan
menginjeksikan terus menerus gas CO2 ke dalam reservoir maka diharapkan gas CO2 ini dapat
melarut dalam minyak dan mengurangi viskositasnya, dapat mengembangkan volume minyak dan
merefraksi sebagian minyak, sehingga minyak akan lebih banyak terdesak keluar dari media
berpori.
4.2.2 . Injeksi Gas Kering Pada Tekanan Tinggi
Pada tekanan tinggi, ketercampuran pendorong gas dapat dicapai dengan gas hidrokarbon kering (lean
hydrocarbon), fuel gas dan nitrogen. Perencanaan pendorong gas yang menguapkan biasanya hanya
memerlukan perhatian supaya ketercampuran antara minyak dan gas injeksi tercapai dan terpelihara.
Perkiraan Proses Injeksi Injeksi gas kering biasanya memerlukan daerah injeksi yang luas. Diperlukan
injeksi dalam jumlah yang besar (5 10 MCF gas untuk memproduksi satu STB minyak). Injeksi
alternatif slug CO2 dan air memerlukan sistem injeksi ganda dan hal ini akan menambah biaya dan
kerumitan sistem. CO2 denan air akan membentuk asam karbonik yang sangat korosif.


4.3 Thermal Recovery
Injeksi thermal adalah salah satu metode EOR dengan cara menginjeksikan energi panas ke
dalam reservoir untuk mengurangi viskositas minyak yang tinggi yang akan menurunkan mobilitas
minyak sehingga akan memperbaiki efisiensi pendesakan dan efisiensi penyapuan
Injeksi panas dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu injeksi fluida panas (injeksi air panas dan
injeksi steam) dan in-situ combustion (pembakaran di tempat).
Sebelum membicarakan tentang injeksi thermal lebih lanjut, maka perlu mengetahui dasar-dasar
perpindahan panas dan beberapa faktor yang berpengaruh dalam injeksi thermal.
A. Injeksi Air Panas
Injeksi air panas merupakan salah satu metode thermal recovery yang digunakan untuk
reservoir yang mempunyai viscositas tinggi. Metode ini juga banyak digunakan untuk
reservoir-reservoir dangkal yang mempunyai range viscositas antara 100 1000 cp. Injeksi
air panas akan mempengaruhi mobility ratio water drive dalam reservoir dan karena itu akan
menambah efisiensi recovery.

Prinsip Dasar Injeksi Air Panas
Air yang diinjeksikan pada reservoir dipanaskan terlebih dahulu sampai temperatur lebih
tinggi dari pada temperatur reservoir mula-mula, tetapi lebih rendah dari temperatur
penguapan air. Air panas yang diinjeksikan menjadi dingin saat kontak dengan batuan dan
fluida in situ dan dibawah kondisi steady state, akan membentuk dan daerah utama yang
dapat dibedakan berdasarkan profil temperatur dan saturasi. (lihat gambar 3.47).
a. Zona I :
Massa dari minyak yang terperangkap berkurang selama temperatur bertambah. Kehilangan
panas dari daerah panas ke sekeliling formasi mengakibatkan berkurangnya temperatur yang
banyak dalam arah aliran, tetapi tidak mempengaruhi laju kemajuan zona tersebut.

b. Zona II :
Minyak ditempat didesak oleh air pada temperatur yang sama. Saturasi minyak sisa dari
zone II sama dengan jika dilakukan injeksi air dingin. Penambahan keuntungan dari injeksi
air panas biasanya terjadi setelah break through air dingin pada sumur produksi, dan
kenaikan recovery minyak biasanya disertai dengan tingginya WOR (water oil ratio).

Mekanisme Pemanasan Fluida Dalam Reservoir
Mekanisme pemanasan fluida di dalam reservoir dapat diterangkan sebagai berikut. Air
yang diikjeksikan dalam reservoir dipanaskan terlebih dahulu sampai temperatur air lebih
tinggi dari pada temperatur penguapan air. Di dalam reservoir, air panas akan mengalir
secara kontinyu ke lapisan yang lebih dingin kemudian secara berangsur-angsur akan terjadi
kehilangan panas sehingga akhirnya temperatur mendingin sampai tercapai temperatur
reservoir mula-mula pada daerah yang terpanasi.

Zona yang terpanasi dan bagian atau bank air yang mendingin akan segera terakumulasi
setelah injeksi air panas dimulai. Bank air yang mendingin secara kontinyu akan terbentuk
di depan zona yang terpanasi, tetapi dengan laju yang lebih lambat. Hal ini terjadi karena
perpindahan panas hampir terjadi seketika dan rasio kapasitas panas air dengan batuan
sekitar dua atau tiga unit PV air panas yang harus diinjeksikan untuk memanaskan satu
volume bulk reservoir. Distribusi temperatur dalam zone yang terpanasi tergantung kepada
kehilangan panas di cap rock dan base rock, tetapi kecepstan leading edge tidak bergantung
pada kehilangan panas. Kecepatan ini berbanding lurus dengan flux air dan tergantung pada
kapasitas panas air dan batuan.

Perencanaan dan Pelaksanaan Injeksi Air Panas
Pelaksanaan dari injeksi ini adalah setelah sejumlah air yang diperlukan untuk injeksi,
dipanaskan dalam pemanas air yang telah disediakan, sampai lebih tinggi daripada
temperatur reservoir mula-mula tetapi lebih kecil daripada temperatur penguapan air.
Kemudian dengan bantuan kompresor fluida diinjeksikan ke dalam sumur injeksi menuju
reservoir sebagai target. Setelah sampai pada target yang diharapkan, maka panas yang
terkandung dalam air panas akan berpindah ke sebagian besar fluida reservoir itu, sehingga
temperatur fluida reservoir akan naik. Dengan naiknya temperatur fluida temperatur fluida
reservoir, maka viscositas minyak akan mengecil dan mobilitas fluida reservoir akan naik
lebih besar dari fluida pendesak. Sehingga fluida yang didesak akan lebih mudah bergerak
ke sumur produksi.

Keuntungan Dan Kerugian Injeksi Air Panas
A. Keuntungan
1. Proses pendesakan panas sangat simpel dan dapat berfungsi sebagai water flood.
2. Design dan operasinya sebagian besar dapat menggunakan fasilitas water flood.
3. Efisiensi pendesakan lebih baik dari water flood conventional.

B. Kerugian
1. Air mempunyai kapasitas panas yang rendah dibanding steam.
2. Perlu adanya treatment khusus untuk mengontrol korosi, problem scale, swelling maupun
problem emulsi.
3. Pada sand yang tipis, sejumlah panas akan hilang pada overburden dan underburden, hal
ini akan menjadi kritis apabila formasi underburden dan overburden berupa shale.
4. Kehilangan panas cukup besar pada rate injeksi rendah dan formasi sand yang tipis.

B. Injeksi Uap (Steam Flooding)
Injeksi uap adalah menginjeksikan uap ke dalam reservoir minyak untuk mengurangi viskositas
yang tinggi supaya pendesakan minyak lebih efektif sehingga akan meningkatkan perolehan
minyak.

Proses pelaksanaan Injeksi uap hampir sama dengan injeksi air. Uap diinjeksikan secara terus-
menerus melalui sumur injeksi dan minyak yang didesak akan diproduksikan melalui sumur
produksi yang berdekatan

Sifat-Sifat
Uap di panaskan pada tekanan konstan Ps (pasia), akan didapat temperatur maksimal ts,
yang disebut temperatur saturasi, sebelum berubah menjadi uap. Jumlah panas yang diserap
air, hw, diberikan dalam persamaan :Jika 1 lb pada temperatur awal ti
(F.............................................................................(3.12) 32 hw = Cw(ts ti), ti F) dalam
range temperatur antara ti sampai ts.Cw adalah panas spesifik air (BTU/lb-
Dengan suplai panas yang kontinyu, temperatur air tidak berubah sampai seluruh air diubah
menjadi uap. Jumlah panas 1 (BTU/lb) yang diperlukan untuk mengubah air dari air cairan
pada temperatur ts dan tekanan Ps menjadi uap pada temperatur dan tekanan yang sama
disebut entalpi penguapan atau panas laten penguapan. Uap pada ts dan Ps disebut uap
tersaturasi. Kandungan panasnya merupakan entalpi uap dan diberikan dalam persamaan :
hs = hw + 1

4.4 Chemical Recovery
Injeksi polimer merupakan salah satu teknik kimiawi yang digunakan dalam
proses perolehan minyak atau enhanced oil recovery (EOR). Injeksi polimer banyak
digunakan dalam teknik EOR karena teknik aplikasinya relatif sederhana dan recovery yang didapat
relatif besar dibandingkan dengan injeksi air secara konvensional. Dalam proses produksi dengan
injeksi air biasanya sering terjadi fenomena air mengalir terlebih dahulu daripada minyak secara
tidak merata dan biasanya terjadi pada reservoir yang heterogen.
Polimer dapat meningkatkan viskositas fluida (air) dan berperan dalam mendorong dan mendesak
minyak supaya lebih optimal. Injeksi polimer dapat menurunkan mobilitas fluida dan meningkatkan
viskositasnya. Polimer yang terlarut dalam air digunakan sebagai viscosifying agent yang dapat
mengontrol mobilitas fluida injeksi (water base) untuk meningkatkan efisiensi penyapuan. Polimer
mengurangi efek negatif karena adanya variasi permeabilitas dan rekahan dalam reservoir
heterogen. Injeksi polimer terdiri atas beberapa tahap, yaitu preflush (pengondisian reservoir),
additional oil recovery (oil Bank), injeksi larutan polimer untuk mengontrol mobilitas fluida,
injeksi air bebas mineral (fresh water buffer) untuk melindungi polimer, dan injeksi
fluida pendorong (driving fluid) berupa air. Gambaran sistem Injeksi Polimer dapat di lihat di
bawah ini

Gambaran Sistem Injeksi Polimer
Dalam produksi minyak dengan menggunakan teknik EOR, polimer berperan sebagai berikut di
antaranya :
1. Sebagai agen untuk meningkatkan performa air yang diinjeksikan ke reservoir dengan cara
menghalangi daerah yang memiliki konduktivitas tinggi.
2. Sebagai agen pengikat silang (cross-linked) di daerah konduktivitas tinggi di dalam sumur di
reservoir. Dalam proses ini polimer diinjeksikan dengan suatu kation logam anorganik yang akan
dicross-link sehingga molekul polimer akan mengeliling permukaan logam tersebut.
3. Sebagai agen untuk memurunkan mobilitas air atau rasio mobilitas air-minyak (water-oil).
2. Pemanfaat Injeksi Polimer untuk EOR
Karakteristik polimer yang dapat diaplikasikan dalam teknik EOR di antaranya harus larut dalam
air, memiliki viskositas yang tinggi pada konsentrasi yang rendah, memiliki ketahanan termal yang
baik (tidak terdegradasi pada suhu tinggi), dan juga memiliki kestabilan mekanik, dan salinitas yang
baik.1 Ada dua jenis polimer yang dapat digunakan dalam aplikasi EOR yaitu polimer sintetis
seperti hydrolized polyacrylamide (HPAM) dan biopolimer seperti polisakarida dan turunannya
misalnya xanthan gum, kitosan, selulosa, sodium carboxymethyl cellulose (CMC), dan hydroxyl
ethyl cellulose (HEC).

Pemanfaatan Polimer untuk EOR
Alasan lebih banyak dipakainya polimeruntuk EOR adalah:
a. identik dengan waterflooding
b. teknik aplikasinya relative sederhana
c. biaya yang diperlukan relative kecil
d. recovery yang didapat relative besar.
Polimer yang baik harus memiliki karakteristik berikut, yaitu :
Tidak memiliki ikatan -O- di rantai utama (backbone) untuk meningkatkan stabilitas termal
Memiliki gugus ionik hidrofilik yang bermuatan negatif untuk mengurangi absorpsi polimer pada
permukaan batuan
Memiliki viskositas yang tinggi
Memiliki gugus hidrofilik nonionik untuk meningkatkan ketahanan terhadap zat kimia.
Polimer turunan selulosa yang sering digunakan untuk aplikasi EOR adalah carboxymethyl
cellulose (CMC) dan hydroxyl ethyl cellulose (HEC) dan xanthan gum. HEC dan CMC memiliki
ketahanan yang baik terhadap shear rate dan temperatur yang tinggi. Xanthan gum memiliki
ketahanan termal yang baik karena strukturnya yang komplek akibatnya penurunan
viskositas xanthan gum sangat kecil seiring dengan meningkatnya temperatur. Xanthan gum
juga memiliki ketahanan terhadap salinitas yang baik sehingga xanthan lebih sering dipakai dalam
aplikasi EOR dibandingkan polimer lain meskipun harganya mahal. Jenis polimer lain yang bisa
digunakan untuk aplikasi EOR adalah poliakrilat yang memiliki ketahanan terhadap shear rate dan
memiliki kestabilan termal yang lebih baik dibandingkan polimer lainnya, namun ketahanan
terhadap salinitas rendah akibat adanya gugus karboksil.
Tahapan Polymer flooding:
a. Pre flush (pengkondisian reservoir)
b. Oil bank (Recovery target)
c. Polymer solution (mobility control)
d. Fresh Water buffer (Polymer protection)
e. Driving Fluid (water)
Faktor yang mempengaruhi kualitas polymer:
a. Salinity
Tingkat keasaman suatu reservoir. Hal ini bisa merusak ikatan kimia polymer
b. Hardness
Jumlah kation dalam campuran polymer dan reaksi dengan fluida di reservoir

4.5 MICROBIAL EOR
Bioteknologi dan aplikasinya sedang dikembangkan hampir di seluruh dunia dan
diantaranya untuk mengeksploitasi sumber energy, dan salah satu yang menjanjikan dari
perkembangan Bioteknologi adalah teknologi MEOR (Mikrobial Enhanced Oil Recovery). Proses
peningkatan perolehan minyak dengan menggunakan mikroba (MEOR) telah mencapai kemajuan
yang begitu pesat di beberapa negara.
Sedangkan teknologi MEOR itu sendiri adalah teknologi berbasis biologis teknologi yang
terdiri dalam fungsi atau struktur memanipulasi (atau keduanya) dari lingkungan mikroba yang ada
dalam reservoir minyak. Tujuan dari MEOR adalah untuk meningkatkan recovery minyak yang
terperangkap dalam media berpori sambil meningkatkan keuntungan ekonominya. MEOR
menggabungkan bidang multidisiplin antara lain geologi, kimia, mikrobiologi, mekanika fluida,
teknik perminyakan, teknik lingkungan dan teknik kimia.

Mikroba itu sendiri adalah mikroorganisme hidup yang bisa diumpakan sebagai mesin hidup
yang metabolit, ekskresi produk dengan sel-sel baru dapat berinteraksi dengan satu sama lain atau
dengan lingkungannya. Dalam kehidupan, pertumbuhan dan pembiakannya mikroba berinteraksi
dan beradaptasi dengan lingkungannya dan dapat memberi efek positif maupun negatif. Salah satu
efek positif aktivitas mikroba di lingkungan sumur minyak bumi adalah kemampunannya untuk
dimanfaatkan sebagai peningkat produksi minyak terutama melalui peningkatan perolehan minyak
secara mikrobiologi. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa di antara mikroba itu ada yang
mampu menghasilkan bahan kimia berupa biosurfaktan, biopolimer, biofilm, biosolven, bioasam
yang diharapkan dapat membebaskan fraksi minyak yang masih tertinggal dalam reservoir. Selain
itu, penyebab lain dari peningkatan produk minyak bumi adalah karena bakteri dalam
metabolismenya menghasilkan CO2 dalam jumlah besar di dalam reservoir dan gas CO2 ini akan
bereaksi sebagian dengan minyak bumi serta menyebabkan minyak bumi mengembang dan
berkurang viskositasnya.

Adapun yang dilakukan oleh mikroba MEOR adalah menghasilkan gas hasil metabolisme,
yang membantu mendorong gas CO yang beracun ke luar sumur. Produk lainnya selain gas adalah
biosurfaktan. Biosurfaktan yang dihasilkan oleh mikroba hidrokarbonoklastik memiliki banyak
fungsi, yaitu :
Menurunkan viskositas (kekentalan/ kesulitan untuk mengalir)
Menurunkan tegangan permukaan
Meningkatkan kelarutan CO dalam air
Meningkatkan fluiditas (aliran) CO keluar sumur
Mengubah porositas batuan. (Pori batuan yang terlalu besar dapat "disumbat" secara
selektif dengan biosurfaktan sehingga ukurannya mengecil, Karena Penurunan
volume pori akan meningkatkan tekanan sehingga CO dapat keluar dengan lebih
mudah)
Untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut, terdapat beberapa karakteristik yang harus dimiliki
oleh mikroba MEOR yaitu mampu mengolah senyawa hidrokarbon, menghasilkan biosurfaktan,
menghasilkan gas, ukuran kecil, Barofilik (kuat terhadap tekanan tinggi), thermofilik (kuat terhadap
suhu tinggi), halofilik, tidak patogen (berbahaya bagi manusia) dan indigen (berasal dari lingkungan
lokasi penambangan minyak tersebut, bukan mikroba asing). Oleh mikroba MEOR, senyawa
hidrokarbon dari minyak mentah yang ada akan dipecah menjadi senyawa yang lebih sederhana
sehingga lebih mudah dikeluarkan dan diolah lebih lanjut.
Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen untuk memperoleh kembali sisa-sisa minyak
yang terperangkap dalam media berpori pertama kali di usulkan oleh Beckam pada tahun 1926. Dan
setelahnya hal tersebut mulai memicu minat besar dalam penelitian MEOR. Dan pada era 1930-an,
orang mulai memahami korelasi antara mikroba dan minyak bumi, namun saat itu peran mikroba
dianggap merugikan proses penambangan minyak. Kemudian pada tahun 1946, ZoBell melakukan
eksperimen pelepasan minyak dari endapan pasir aspal di Athabaska, Amerika Serikat. Akhirnya
diketahui bahwa mikroba tertentu dapat digunakan untuk meningkatkan produksi minyak. Menurut
hasil penelitian Lazar, mikroba lokal yang diisolasi dari air formasi reservoar lebih efektif untuk
diaplikasikan ke dalam MEOR ketimbang mikroba eksogen (yang berasal dari lingkungan lain).
Di Indonesia pengaplikasian teknologi MEOR ini sudah mulai dilakukan dipelopori oleh
LEMIGAS. Di Indonesia Pengembangan teknologi MEOR dilakukan dengan menginkubasi,
mengembangbiakan bakteri yang menurut literatur telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas
minyak bumi dan melakukan uji coba injeksi bakteri-bakteri tersebut ke dalam sumur minyak yang
sudah tua.
Reservoir minyak adalah lingkungan yang mengandung mikroorganisme dan faktor non
mikroorganisme (mineral) yang berinteraksi satu sama lain dalam jaringan dinamis yang rumit dari
nutrisi dan energi fluks. Karena reservoir heterogen, sehingga melakukan berbagai ekosistem yang
mengandung mikroba beragam komunitas yang pada gilirannya mampu mempengaruhi perilaku
dan mobilisasi reservoir minyak.
Di samping meningkatkan perolehan minyak bumi dari penambangan, mikroba MEOR bisa
digunakan untuk mengatasi pencemaran minyak bumi tentu saja. Dengan MEOR, limbah minyak
bumi yang tadinya tidak bisa diapa-apakan lagi, hanya ditampung dan mencemari tanah bisa
dimanfaatkan kembali dan diolah menjadi bahan bakar yang memiliki nilai komersil tinggi
Keuntungan MEOR
Injeksi mikroba dan nutrisi yang murah, mudah di tangani di lapangan, meningkatkan
produksi minyak, ekonomi menarik untuk lapangan minyak sebelum ditinggalkan, fasilitasnya tidak
memerlukan modifikasi yang banyak, aplikasi mudah, lebih efisien daripada metode EOR lain
ketika diterapkan pada minyak karbonat aktivitas mikroba, aktivitas mikroba meningkat dengan
pertumbuhan mikroba ini, iniberlawanan dengan kasus EOR lain aditif dalam waktu dan jarak, dan
produk seluler biodegradable dan karenanya juga di anggap ramah lingkungan. Biodegradasi
molekul besar menurunkan viskositas; produksi surfaktan mengurangi ketegangan antarmuka;
produksi gas memberikan tekanan tambahan tenaga penggerak; mikroba metabolit atau mikroba
sendiri dapat mengurangi permeabilitas oleh pengaktifan jalur aliran sekunder.

Kekurangan MEOR
Oksigen dikerahkan Di MEOR yang bergerak, dapat bertindak sebagai agen korosif non
resisten. Mikroba oksogen memerlukan fasilitas untuk bududaya mereka, mikroba memerlukan
kerangka kerja standar untuk mengevaluasi aktivitas mikroba misalnya coring dan teknik samling,
pertumbuhan mikroba terjadi apabila lapisan permeabilitas lebih besar dari 50md.
Biologis yang dihasilkan hidrogen sulfida, yaitu souring, menyebabkan korosi pipa dan mesin;
konsumsi hidrokarbon oleh bakteri mengurangi produksi bahan kimia yang diinginkan.