Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PROTOZOOLOGI

PARASITOLOGI VETERINER: ENDOPARASIT




TRICHOMONIASIS PADA SAPI



Disusun oleh:

FITRI JATI NURALAM B04110027
DEVI ANIANTI B04110028
RESTI REGIA B04110029









BAGIAN PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI
KESEHATANDEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN
DAN KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sektor peternakan merupakan salah satu alternatif usaha yang
dapat meningkatkan pendapatan dan menampung tenaga kerja tanpa
penambahan lahan. Salah satu hambatan dalam rangka meningkatkan
produktivitas ternak adalah adanya berbagai penyakit reproduksi yang
merupakan faktor yang langsung berpengaruh terhadap populasi dan
pengembangan ternak.
Penyakit reproduksi pada ternak dapat menimbulkan kerugian
ekonomi yang cukup besar bagi peternak khususnya dan masyarakat luas
pada umumnya. Karena selain dapat menghambat perkembangan populasi
juga dapat menular kepada manusia. Kasus gangguan reproduksi ditandai
dengan rendahnya fertilitas induk, akibatnya akan terjadi penurunan angka
kebuntingan dan jumlah kelahiran pedet, sehingga mempengaruhi
penurunan populasi sapi dan pasokan penyediaan daging secara nasional.
Diantara gangguan reproduksi yang cukup mempengaruhi produktivitas
ternak yaitu kemajiran pada ternak betina. Kemajiran ternak betina bisa
disebabkan oleh infeksi penyakit ataupun non infeksi seperti gangguan
hormon, kelainan bawaan, patologi kelamin dan pakan yang kurang
nutrisi.
Kemajiran ternak betina yang disebabkan oleh infeksi penyakit
misalnya pada penyakit Trichomoniasis.Trichomoniasis adalah penyakit
venereal yang disebabkan oleh Trichomonas foetus. Di Indonesia penyakit
ini ditemukan pertama oleh Mansjoer tahun 1967 di Lembang.
Trichomonas foetus menyerang lebih dari 90% sapi betina yang rentan
dapat terinfeksi bila dikawini oleh pejantan yang sakit. Penyakit ini dapat
menyebabkan dayareproduksi menurun (infertility), rahim bernanah
(pyometra) dan abortus pada kebuntingan dini.(Anonimu 2008)



1.2 Tujuan
Sebagai referensi ilmiah mengenai penyakit infeksi yang dapat
menyebabkan kemajiran pada ternak betina khususnya
Trichomoniasis.Serta mengetahui bentuk morfologi, siklus hidup, gejala-
gejala penyakit yang ditimbulkan, cara penularan, dan cara pengobatan
serta penanggulangan dari penyakit Trichomoniasis.


BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Taksonomi
Penyebab penyakit Trichomoniasis salah satunya adalah
Trichomonas foetus. Klasifikasi taksonomi dari spesies tersebut yaitu :
Super dass : Mastigophora
Class : Zoomastigophora
Ordo : Trichomonadidae
Family : Trichomonadidae
Sub family : Trichomonadinae
Genus : Trichomonas
Spesies : Trichomonas foetus

2.2 Morfologi dan Siklus Hidup
Badannya berbentuk kumparan (gelombang) atau seperti buah pir
yang panjangnya 10-25 m dan lebar 3-15 m, mempunyai 3 flagella
anterior dan suatu flagellum posterior yang merata seperti benang yang
panjangnya kira-kira sama dengan flagella anterior. Selaput beralunnya
berjalan hampir sepanjang seluruh panjang badannya dan mempunyai
filament tambang pada bagian pinggirnya. Costa jelas terlihat. Axostyle
tebal dan hialin dan mempunyai kapitulum yang berisi butir-butir
endoaxostyler dan suatu cincin kromatik pada titik munculnya dari ujung
posterior badan. Benda parabasalnya berbentuk sosis atau cincin.

Gambar 1. Morfologi Trichomonas foetus

Trichomonas foetus berkembang biak dengan membelah diri. Pada
preparat natif, organisme ini dalam keadaan segar tampak sangat mortil
dan bergerak tiada beraturan. Parasit ini bergerak tidak beraturan. Parasit
ini tidak tahan terhadap kekeringan, bahan antiseptik, pemanasan dan
kondisi lingkungan lainnya yang tidak sesuai (tidak menguntungkan).[Jane
R. 2004].

2.3 Cara Penularan
Penyakit ini menunjukkan gejala spesifik, baik pada sapi jantan
maupun sapi betina. Gejala yang umum terlihat pada ternak adalah
meningkatnya kemajiran pada ternak betina. Penyakit ini adalah penyakit
venereal (penyakit kelamin) yang ditularkan dengan cara koitus. Dan juga
dapat ditularkan lewat inseminasi buatan. Penularan nonvenereal jarang
terjadi pada keadaan alamiah. Setelah betina ini terinfeksi, trichomonad
mula-mula berkembang biak dalam vagina dan menyebabkan vaginitis.
Trichomonas foetus paling banyak terdapat pada 14-18 hari setelah infeksi.
Mereka memasuki uterus melalui cervix. Trichomonad dapat menghilang
dari dari vagina atau dapat menetap disitu dan menyebabkan peradangan
ringan.



2.4 Gejala Penyakit
Pada sapi betina, jumlah dan aktifitas trichomonas bervariasi. Hal
ini berhubungan erat dengan siklus birahi dan kebuntingan. Mula-mula
pada saat pertama kali infeksi, organisme ini berkembang baik didalam
vagina, dari sinilah Trichomonas foetus terus berjalan menuju uterus.
Proses peradangan didalam vagina berlangsung terus menerus dan
berakhir sampai kembalinya birahi pertama. Sementara itu reinfeksi di
dalam uterus dapat berlangsung. Selama kebuntingan, parasit dapat
dijumpai didalam uterus, cairan amnion, dan allantois serta di dalam
saluran pencernaan fetus. Bila kebuntingan berakhir, biasanya organisme
ini menghilang dalam waktu 48 jam dari alat kelamin, dan baru muncul
kembali pada fase proestrus berikutnya.
Pada sapi jantan, trichomonas foetus hidup pada permukaan penis,
orifisium uretra bagian anterior dan kantung prepusium (preputium).
Pernah juga dilaporkan adanya trichomonas foetus hidup dalam ampula,
ductus deferens, dan vesika seminalis bersamaan dengan infeksi coryne
bacterium piogenes.
Gejala penyakit ini dibagi menjadi tiga fase akut, sub akut dan
kronis yang dapat dibedakan pada sapi, baik pada sapi induk ataupun sapi
dara.(H. Swygard 2004)

a. Fase akut
Fase ini ditemukan banyak kegagalan perkawinan setelah adanya
pejantan yang baru masuk ke dalam suatu kelompok ternak. Panjang siklus
birahi menjadi bervariasi setrelah terjadi perkawinan gagal, dan dapat
melebihi 30 hari lamanya. Embrio atau foetus yang diabortuskan, karena
masih sangat kecil, jarang dapat dilihat. Dalam waktu dua minggu setelah
terjadi penukaran, dapat ditemukan adanya pembengkakan vulva dan
jaringan sekitarnya yang disertai keluarnya cairan mukopurulen. Pada
pemeriksaan penderita lebih lanjut, mula-mula menunjukkan adanya
peradangan mukosa vagina, kemudian diikuti oleh adanya serpihan-
serpihan nanah didalam cairan yang keluar dari alat kelamin.

b. Fase subakut
Pada penularan fase sub akut, banyak peristiwa yang berhasil dan
hewan menjadi bunting. Akan tetepi sebelum fase ini berakhir terlihat
siklus birahi diperpanjang sampai 70 hari tanpa disertai kejadian abortus
yang terlihat. Akan tetapi cairan mukopurulen dari vagina tiba-tiba
ditentukan pada ternak lain pada pertengahan pertama kebuntingan.
Pembesaran uterus dapat dirasakan melalui palpasi rectal.
Pemeriksaan vagina pada saat ini menunjukkan adanya cairan mukous
yang jernih disertai dengan serpihan nanah berwarna kelabu mengalir
keluar dari alat kelamin. Pada kasus piometra yang lanjut, cairan tersebut
bersifat mukopurulen. Pada umur 3-5 bulan masa kebuntingan, nanah
banyak didapat dalam vagina.
Abortus terjadi antara umur kebuntingan beberapa minggu sampai
tujuh bulan, dan paling banyak terjadi antara umur kebuntingan empat
bulan. Fetus yang terbungkus didalam selaput didalam selaput fetus yang
masih utuh, tanpa disertai pembusukan. Jarang sekali fetus mengalami
pembusukan dan hancur. Dua sampai tiga hari setelah abortus, cairan
mukopurulen masih terlihat mengalir keluar vulva. Setelah abortus, cairan
mukopurulen masih terlihat mengalir keluar vulva. Setelah abortus, siklus
birahi dapat normal kembali.
c. Fase kronis
Pada fase ini penyakit telah menurun dalam suatu usaha
peternakan, namun masih terdapat gejala piometra pada beberapa ekor
ternak penderita. Abortus masih timbul secara sporadic, demikian pula
siklus birahi yang sifatnya tidak teratur masih ditemukan. Perwakilan
dengan pejantan pembawa penyakit, masih dapat berlangsung. Gejala
penyakit yang akut biasanya muncul pada beberapa sapi dara yang belum
pernah tertular dan tidak mendapatkan kekebalan terhadap penyakit ini.
Sesudah beberapa tahun mengalami periode laten atau kronis,
trichomoniasis dapat muncul kembali apabila resistensi hewan menurun.

2.5 Akibat Trichomoniasis
Pada ternak betina, infeksi Trihomonas foetus dapat mengganggu
konsepsi, inplantasi dan menyebabkan abortus atau menyebabkan
kematian embrio atau fetus yang dapat berlanjut menjadi piyometra.
Trichomoniasis jarang menyebabkan luka pada tuba falopii, ovarium
maupun bursa ovarii. Pada tubuh fetus, didapatkan lesio yang spesifik.
Pada sapi jantan, Trichomonas berkembang biak di dalam
prepotium, tetapi tidak menggangu proses spermatogenesis dan
kemampuan berkopulasi, kecuali bila jumlahnya sangat banyak dapat
menimbulkan balanitis purulen disertai udema di sekitar prepusium.

2.6 Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan terhadap trichomonas harus mencakup pengetahuan
tentang efisiensi produksi, kelompok ternak, asal pejantan dan
pemeriksaanyang telah diteliti terhadap pejantan sebelum digunakan
sebagai pemacek di dalam suatu peternakan. Perkawinan harus dilakukan
dengan IB, kawin alam harus di hentikan. Semua pejantan yang dibeli oleh
balai inseminasi buatan harus bebas dari semua jenis penyakit termasuk
trichomoniasis, dan perlu dilakukan pemeriksaan secara periodik untuk
mencegah terjadinya infeksi.(Tom Hairgrove 2004)
Penanggulangan trichomoniasis sebaiknya ditujukan pada
kelompok ternak yang terinfeksi, pengobatan tidak dilakukan individual.
Kelompok ternak yang sehat dipisahkan, dan hanya dikawinkan dengan
pejantan yang bebas trichomoniasis, dilakukan istirahat kelamin selama
tiga bulan sampai induk sapi yang menderita menunjukkan siklus birahi
yang normal. Sedangkan induk sapi yang mengalami pyometra,
ditanggulangi dengan menyuntikkan estrogen, atau prostaglandin dengan
maksud agar terjadi kontraksi uterus, sehingga isi dalam uterus dalam
bentuk nanah dapat dikeluarkan. Kemudian diikuti dengan irigasi rongga
uterus dengan larutan antiseptic ringan.
Menurut Sudarisman, 2003pemberian obat dimetridazole yang
diberikan secara peroral, dan metroniadazole dengan nama peradangan
secara intervenous atau interuterin memberikan hasil yang memuaskan.
Walaupun terdapat laporan adanya strain tertentu yang resisten
terhadapobat ini. Pemberian 50mg/kg BB dimetrizole peroral setiap hari
selama lima hari berturut-turut atau secara intravenous dengan dosis
tunggal, memberikan hasil cukup baik
Pada ternak jantan pengolahannya lebih rumit lagi, merepotkan,
dan memakan waktu yang lama. Pejantan tau yang tertulatr dan sudah
menjadi kronis, jarang sembuh kembali, dan disarankan untuk di potong.
Usaha pengobatan dilakuakan dengan mengoleskan salep bavoflavin yang
mengandung trippaflavin atau akriflavin dengan kadar 1% pada mukosa
penis dan preputiumnya. Perlu juga dilakukan penyuntikan 30ml
larutan1% acriflavin kedalam urethranya. Pengobatan dengan
metronidazole dan dimetridazole juga memberikan hasil yang memuaskan
dengan larutan berenil 1 % sebanyak 100-150 ml untuk mencapai
preputium memberikan hasil yang memuaskan.(Sudarisman, 2003)


BAB 3
SIMPULAN

Trichomoniasis pada sapi adalah penyakit veneral yang ditandai dengan
sterilitas, abortus muda dan pyometra, yang disebabkan oleh Trichomonas foetus.
Abortus terjadi antara mingggu pertama dan minggu ke 16 umur
kebuntingan.Gejala penyakit ini antara lain siklus estrus yang pendek tidak
teratur, dan pada umumnya menyebabkan infertilitas yang bersifat sementara.
Penularan dari sapi betina ke betina lainya dapat melalui pejantan yang
mengawininya. Pada tingkatan lanjut penyakit ini menyebabkan peradangan pada
preputium sapi jantan.Penanggulangan dapat dilakukan dengan pengobatan
antibiotik secara lokal pada betina terinfeksi. Sedangkan pada pejantan terinfeksi
dilakukan pembilasan kantong penis dengan antibiotik atau antiseptika ringan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2008. Penularan Kongenital Penyakit Infectious Bovine Rhino
Tracheitis pada Sapi dan Kerbau di Indonesia http://peternakan.Iitbang.
deptan.go.id.
H Swygard, A C Sea, M M Hobbs, et al.Trichomoniasis: clinical
manifestationsdiagnosis and managementSex Transm Infect 2004 80: 91-95
Jane R. Schwebke and Donald BurgessClin. Microbio (Trichomoniosis)l. Rev.
2004, 17(4):794. DOI: 10.1128/CMR.17.4.794-803.2004.
Sudarisman, 2003. Penularan Kongenital Penyakit Infectious Bovine
Rhinotracheitis (IBR) pada Sapi dan Kerbau di Indonesia. Wartazoa Vol. 17 No. 1
Th. 2007
Sudarisman, 2003. Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) pada Sapi di
Lembaga Pembibitan Ternak di Indonesia. Wartazoa Vol. 13 No. 3 Th. 2003.
Tom Hairgrove and Ron Gill.Bovine Trichomoniasis.2004.E581/8-09.