Anda di halaman 1dari 8

Hari/Tanggal : Senin/ 10 Oktober September 2011

Jam : 11.30 14.00 WIB




LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI
PENENTUAN DOSIS LETAL (Ld
50
)


Oleh :
Kelompok 2

Oktipa sari (B04080010) (__________)
Melinda kusumadewi (B04080011) (__________)
Iin nuraeni (B04080012) (__________)
Wyanda Arnafia (B04080014) (__________)
Kadek Dwi Setiawan (B04080015) (__________)







FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Pendahuluan
Keamanan suatu obat ditentukan dengan penghitungan dosis lethal 50 (LD
50
)
dan dosis efektif 50 (ED
50
)
.
Dosis efektif 50 (ED
50
) adalah dosis suatu obat yang
dapat berpengaruh terhadap 50% dari jumlah hewan yang diuji, sedangkan, dosis
lethal 50 (LD
50
) adalah, dosis suatu obat atau bahan kimia yang dapat menyebabkan
kematian sampai 50% dari jumlah hewan yang diuji. Makin besar jarak antara LD50
dengan ED50, berarti obat tersebut lebih aman dibandingkan dengan obat lain yang
jarak antara ED50 dan LD50 lebih kecil. Jarak antara keduanya dinamakan Margin
of Safety atau batas keamanan , sedangkan perbandingannya (LD
50
:ED
50
) dinamakan
indeks terapi. Semakin besar indeks terapi suatu obat, berarti obat terseebut semakin
aman.
LD
50
(lethal dose 50%) dihitung untuk menentukan daya toksisitas atau dosis
letal suatu obat. Metoda penentuan LD
50
yang sering digunakan adalah metoda
Thomson dan Weil (1952). Hal ini dikarenakan metoda Thomson dan Weil tidak
memerlukan hewan percobaan yang terlalu banyak dan mempunyai tingkat
kepercayaan atau confidence level yang cukup tinggi.
Nilai LD50 dari suatu obat bukan suatu konstanta biologis karena banyak
sekali faktor-faktor yang mempengaruhi nilainya. Beberapa faktor yang
mempengaruhinya adalah: spesies hewan, faktor endogen, diet, cara pemberian,
temperatur, dan musim. Hewan dengan spesies, strain atau galur yang berbeda akan
memberikan nilai LD
50
yang berbeda. Umur, berat badan, jenis kelamin, dan
kesehatan hewan juga akan mempengaruhi LD50. Komposisi pakan dan difisiensi
salah satu zat makanan tertentu dapat berpengaruh pada nilai LD50 dari berbagai
obat. Rute pemberian secara intravena akan memberikan nilai LD
50
yang berbeda
dengan rute subkutan atau per oral. Selain itu juga, pada obat-obat tertentu temperatur
sangat berpengaruh misalnya Amfetamin menunjukkan toksisitas yang lebih tinggi
pada temperatur yang lebih tinggi pula.
Nilai LD
50
yang didapat hanya menunjukkan dosis yang menyebabkan
kematian pada 50% hewan percobaan. Untuk melengkapi data toksisitasnya, maka
untuk suatu obat, penting untuk diamati perubahan-perubahan yang terjadi pada dosis
sub-letal. Pemeriksaan ini sebaiknya meliputi pemeriksaan fisiologis, biokimia,
patologis, histopatologis dan lain-lain, sehingga memberikan informasi yang lebih
luas mengenai toksisitas yang dapat ditimbulkan oleh obat tersebut.

Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah setelah melakukan percobaan diharapkan
mahasiswa dapat menguasai salah satu metoda yang dapat dipakai untuk menentukan
LD50 secara akut, dapat menjelaskan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi nilai
LD50 dari salah satu obat atau racun, dan dapat mengetahui manfaat penentuan LD50
dari suatu obat atau racun.

Tinjauan pustaka
Pengujian toksisitas bertujuan untuk mengetahui keamanan zat-zat yang
digunakan dalam terapi. Pengujian toksisitas biasanya dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu uji toksisitas akut, uji toksisitas jangka pendek (subakut), dan uji toksisitas
jangka panjang (kronis). Pengujian LD
50
merupakan pengujian toksisitas akut. Uji ini
dilakukan dengan memberikan zat kimia yang sedang diuji sebanyak satu kali atau
bebeapa kali dalam jangka waktu 24 jam. Uji toksisitas subkronis dilakukan dengan
memberikan zat kimia berulang-ulang, setiap hari atau lima kali seminggu selama
jangka waktu kurang lebih 10% masa hidup hewan, yaitu 3 bulan untuk tikus dan 1
atau 2 bulan untuk anjing. Uji toksisitas kronis mencakup pemberian zat kimia secara
berulang selama 3-6 bulan atau seumur hidup hewan. Uji toksisitas akut terutama
bertujuan untuk mencari efek toksik, sedangkan uji toksisitas kronis bertujuan untuk
menguji kaamanan obat (Harmita, Radji M 2006).
Letal Dosis 50% (LD
50
) adalah dosis suatu zat berhasiat yang mematikan satu
kelompok hewan percobaan 50% dari jumlah hewan yang digunakan. Sedangkan
efektif dosis 50% (ED
50
) adalah dosis suatu zat berkhasiat yang menunjukkan efek
yang diinginkan pada 50% dari jumlah hewan yang digunakan (Schmitz G, Lepper H,
Heidrich M 2003). LD
50
secara statistik menyatakan bahwa dosis ini akan membunuh
binatang-binatang dengan sensitivitas yang rata-rata hampir sama. LD
50
merupakan
hasil dari suatu pengujian dan bukan hasil pengukuran kuantitatif. LD
50
bukan nilai
mutlak, dan akan bervariasi dari suati=u laboratorium ke laboratorium lainnya,
bahkan laboratorium yang sama bisa berbeda hasilnya tiap kali pengujian. Oleh
karena itu kondisi-kondisi pada pengujian harus dicatat(Kamaludin MT, Munaf S
2004).
Indeks terapeutik (TI) adalah perkiraan batas keamanan obat dengan
mengukur rasio dosis terapeutik efektif pada 50% hewan percobaan (ED
50
) dan dosis
letal pada 50% hewan percobaan (LD
50
) (Kee dan Hayes 1993). TI dapat dirumuskan
sebagai:
TI


Semakin dekat rasio suatu obat dengan angka 1, semakin besar bahaya toksisitasnya.
Indeks terapeutik ini berhubungan erat dengan batas keamanan (margin of savety).

Gambar 1. Hubungan indeks terapeutik dengan batas keamanan obat (Sumber: Kee
dan Hayes 1993).
Obat dengan indeks terapeutik rendah mempunyai batas keamanan yang
sempit. Dosis obat yang terdapat dalam serum perlu dipantau karena sempitnya jarak
keamanan antara dosis efektif dengan dosis letal. Obat-obat dengan indeks terapeutik
yang tinggi mempunyai batas keamanan yang lebar dan tidak begitu berbahaya dalam
menimbulkan efek toksik. Kadar obat dalam plasma tidak perlu dimonitor secara
rutin (Kee dan Hayes 1993).

Gambar 2. Margin of savety obat yang memiliki IT rendah (A) dan Margin of savety
obat yang memiliki IT tinggi (B). (Sumber: Kee dan Hayes 1993)
Caffeine adalah suatu obat stimulasi yang bersifat psikoaktif dari golongan
xanthine-alkaloid yang berwarna putih. Caffeine dimetabolisme di hati oleh sitokrom
P450 oksidasemenjadi tiga metabolit, yaitu paraxanthine, theobromine dan
theophyline. Obat ini dapat menembus sawar otak dan mempengaruhi pembuluh
darah di otak, sehingga badan dan otak tidak bisa tidur, menyebabkan pelepasan
adrenalin ke tubuh dan membuat sel-sel selau aktif dan terjaga. Obat ini juga
memanipulasi pelepasa dopamine di otak dan membuat perasaan menjadi tenang dan
melayang.
Penambahan caffeine terus menerus akan memblokade kerja adenosine karena
molekul caffeine yang mirip dengan adenosine dan menempati reseptor adenosine
(hormone ini melambatkan kerja syaraf menjelang waktu istirahat). Gejal overdosis
caffeine tidak seperti obat stimulansia yang lain. Dimulai dari tingkat yang paling
rendah adalah halusinasi, disorientasi dan disinhibisi. Pada dosis yang lebih tinggi
lagi akan menyebabkan rhabdomyolisis (kerusakan dari jaringan otot).
Striknin merupakan stimulan sistem syaraf pusat (SSP). Obat ini merupakan
obat konvulsan kuat dengan sifat kejang yang khas. Pada hewan coba konvulsi ini
berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak. Sifat khas lainnya dari
kejang striknin ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh
rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan dan perabaan. Striknin bekerja
dengan cara mengadakan antagonisme kompetitif terhadap transmiter penghambatan
yaitu glisin di daerah penghambatan pascasinaps, dimana glisin juga bertindak
sebagai transmiter penghambat pascasinaps yang terletak pada pusat yang lebih tinggi
di SSP (Louisa, Dewoto 2007).
Medula oblongota hanya dipengaruhi oleh striknin pada dosis yang
menimbulkan hipereksitabilitas seluruh SSP. Striknin tidak langsung mempengaruhi
sistem kardiovaskuler, tetapi bila terjadi konvulsi akan terjadi perubahan tekanan
darah berdasarkan efek sentral striknin pada pusat vasomotor. Bertambahnya tonus
otot rangka juga berdasarkan efek sentral striknin (Louisa, Dewoto 2007).
Gejala keracunan striknin yang mula-mula timbul ialah kaku otot muka dan
leher. Setiap rangsangan sensorik dapat menimbulkan gerakan motorik hebat. Pada
stadium awal terjadi gerakan ekstensi yang masih terkoordinasi, akhirnya terjadi
konvulsi tetanik. Pada stadium ini badan berada dalam sikap hiperekstensi
(opistotonus), sehingga hanya occiput dan tumit saja yang menyentuh alas tidur.
Semua otot lurik dalam keadaan kontraksi penuh. Napas terhenti karena kontraksi
otot diafragma, dada dan perut. Episode kejang ini terjadi berulang; frekuensi dan
hebatnya kejang bertambah dengan adanya perangsangan sensorik. Kontraksi otot ini
menimbulkan nyeri hebat, dan pesien takut mati dalam serangan berikutnya.
Kematian biasanya disebabkan oleh paralisis batang otak karena hipoksia akibat
gangguan napas. Kombinasi dari adanya gangguan napas dan kontraksi otot yang
hebat dapat menimbulkan asidosis respirasi maupun asidosis metabolik hebat, yang
terakhir ini mungkin akibat adanya peningkatan kadar laktat dalam plasma (Louisa,
Dewoto 2007).

Material dan Metode
A. Meterial
Enam belas ekor katak dibagi empat kelompok setiap kelompokmendapatkan
empat katak, bahan uji xenobiotika yaitu striknin, caffein kardiazol, timbangan hewan
dan spuit.

B. Metode
Katak ditimbang dan tiap kelompok disuntikan secara subkutan (saccus
limphaticus). Setiap kelompok akan menguji LD50 dari bahan uji dengan dosis yang
ditentukan dimana:
Kelompok 1, menguji LD50 pada dosis terendah
Kelompok 2, menguji LD50 pada dosis 2x lipat dosis terendah
Kelompok 3, menguji LD50 pada dosis 4x lipat dosis terendah
Kelompok 4, menguji LD50 pada dosis 8x lipat dosis terendah
Dosis yang diberikan merupakan suatu dosis kelipatan biometrik. Kematian
yang terjadi dalam 3 jam dicatat dan perhitungan LD50 dilakukan berdasarkan rumus
berikut:
Log LD50 = log D + d (f+1)_
Untuk mengetahui kisaran LD50 dugunakan rumus: log LD50 2 d. Df
Keterangan: D = dosis terkecil yang digunakan
d = logaritma kelipatan
f = faktor pada tabel (n=4, k=3, n= jumlah mencit/kelompok)
k = jumlah kelompok mencit 1
df = dicari pada tabel n=4, k=3

Hasil dan Pembahasan
A. Hasil
B. Pembahasan
Kesimpulan

Daftar Pustaka
Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Gaya Baru
Harmita, Radji M. Uji Toksisitas. Di dalam: Manurung J, editor. 2006. Buku Ajar
Analisis Hayati, Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Kamaludin MT, Munaf S. Penelitian, Pengembangan, dan Penilaian Obat. Di dalam:
Raharjo R, editor. 2004. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Kee JL, Hayes RH. 1993. Farmakologi, Pendekatan Proses Keperawatan. Anugerah
P, penerjemah: Asih Y, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.
Louisa M & Dewoto HR . 2007. Perangsangan Susunan Saraf Pusat . Dalam :
Farmakologi dan Terapi, edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta, hal. 247-248
Schmitz G, Lepper H, Heidrich M. 2003. Farmakologi dan Toksikologi, Edisi 3.
Setiadi L, penerjemah: Sigit JI, Hanif A, editor. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG.