Anda di halaman 1dari 8

Leukemia Mieloblastik Akut

Leukemia mieloblastik akut [acute myelogenous leukemia (AML)] juga disebut


leukemia nonlimfositik akut [acute nonlymphocytic leukemia (ANLL)] adalah keganasan
progresif yang terbentuk dari prekursor hematopoietik, atau sel induk mieloid, yang
kemudian berkembang menjadi granulosit, monosit, eritrosit, dan trombosit.

Perbedaan AML dan ALL
ALL AML
1. Morfologi Limfoblast:
- Kromatin : bergumpal
- Nukleoli : Lebih samar,
lebih sedikit
- Auer rod : negatif
- Sel pengiring : limfosit
Mieloblast:
- Lebih halus
- Lebih prominent
- Lebih Banyak (>2)
-positif
- Netrofil
2 Sitokimia
a. Mieloperoksidase - +
b. Sudan black - +
c. esterase non spesifik - +
d. PAS (kasar) + (monositik)
e. Acid phosphatase +(Thy ALL) + (halus)
f. platelet peroxidase - +(M7)
3. Ensim:
a. Tdt + -
b. Serum lysozime - + (monositik)
Imunofenotip
Petanda AML ALL
Prekusor B T
Mieloid
CD13 + - -
CD33 + - -
Glycophorin +(M6) - -
Platelet antigens, e.g.
CD41
+(M7) - -
Myeloperoksidase +(M0) - -

B Lineage
CD19 - +
cCD22 - + -
CD10 - +/- -
Cig - +(pre B) -

T lineage
CD7 - - -
cCD3 - - -
TdT - + +

Epidemiologi:
dewasa (85%) dan anak (15%)

Tabel 2.8Faktor risiko LMA
Kelainan kromosom Trisomi 21
Sindrom Klinefelter
Sindrom Bloom
Neurofibromatosis
Telangiektasia-ataksia
Kelainan
hematopoiesis
konstitusional
Anemia Fanconi
Sindrom Diamond-Blackfan
Sindrom Shwachman-Diamond
Sindrom Kostmann
Sindrom Thrombocytopenia-absent radii
Trombositopenia familial


Tabel 2.9 Faktor risiko lingkungan terhadap LMA
Konsumsi alkohol/tembakau/obat-obatan maternal
Ingesti makanan yang mengandung topoisomerase II oleh ibu hamil
Radiasi ionisasi*
Kemoterapi sitotoksik (agen alkilasi dan epipodophyllotoxins)*
Produk-produk petroleum
Pestisida
Benzena*
Logam berat
*) faktor risiko yang terbukti

Patogenesis
Blokade maturitas --> diferensiasi sel sel mieloid terhenti pada sel muda (blast)-->
akumulasi sel blast di SST--> gangguan hematopoiesis normal --> gagal sumsum
tulang (Pansitopeni)
Sel blast keluar menuju organ dan merusak organ2

Manifestasi klinis
1. Jumlah leukosit biasanya meningkat pada LMA (50%), Normal (15%) dan menurun
(35), jumlah neutrofil normal biasanya cukup rendah, sehingga menyebabkan neutropenia
yang membuat penderita berisiko tinggi terhadap infeksi bakteri.
Pada pasien leukositosis: terjadi gumpalan leukosit yang menyumbat aliran darh vena
maupun arteri.
Hiperuremia: sel sel leukosit yang berproliferasi secara cepat &dalam jumlah yang besar.
Hipoglikemia
2. Anemia normositik normokromik yang juga umum terjadi menyebabkan :
- sakit kepala, pusing, lemah, pucat, dan kadang gagal jantung kongesti. Pasien LMA
sering mengeluh nyeri tulang, karena penggantian sumsum dengan blas leukemia yang
menyebabkan tekanan dalam periosteum. Hal ini dapat menyebabkan terbangun malam
hari, pincang, atau nyeri punggung.
3. gambaran sel darah tepi sel blast (+)
4. Organomegali yang terdapat pada sekitar setengah pasien LMA terjadi karena infiltrasi
blas leukemia ke hepar dan lien.
5. Manifestasi sama seperti LLA

Klasifikasi
Klasifikasi morfologik komprehensif untuk LMA adalah klasifikasi French-
American-British (FAB) yang dikemukakan tahun 1976 dan direvisi tahun 1985.
Walaupun klasifikasi ini hanya berdasarkan morfologi dan analisis histokimia sel maligna
tapi tetap menjadi kerangka berguna untuk mengklasifikasikan subtipe LMA. Klasifikasi
FAB membagi LMA menjadi 8 subtipe berdasarkan morfologi setelah pewarnaan dengan
Wright, Wright-Giemsa, atau May-Grunwald. Kecuali subtipe subtipe M6-M7, klasifikasi
asli mengandung 30% mieloblas pada sumsum tulang untuk menjadikan diagnosis LMA.
Pada tahun 1997 WHO merevisi klasifikasi FAB dengan menambahkan analisis
sitogenetik kepada klasifikasi subtipe LMA. Selain itu, klasifikasi WHO menurunkan
presentase sel blas maligna pada sumsum tulang untuk diagnosis LMA.
13,15



Gambar 2.5. Klasifikasi AML menurut FAB (dikutip dari
15

Tabel 2.10.Klasifikasi LMA oleh FAB
M0 Leukemia mieloblastik akut dengan diferensiasi minimal
M1 Leukemia mieloblastik akut tanpa maturasi
M2 Leukemia mieloblastik akut dengan maturasi
M3 Leukemia promielositik hipergranuler
M4 Leukemia mielomonositik akut
M4Eo Bervariasi, dengan peningkatan eosinofil sumsum
M5 Leukemia monositik akut
M6 Leukemia eritroblastik (eritroleukemia)
M7 Leukemia megakariosit akut

Tabel 2. 11.Klasifikasi LMA oleh WHO
LMA dengan translokasi sitogenetik
LMA dengan displasia multilineage
LMA dan sindrom mielodisplasia, terkait terapi
LMA tak ter-kategorikan

Pengobatan LMA
Tiga puluh tahun yang lalu, hampir setiap anak dengan LMA meninggal dan tidak ada
kelompok yang teridentifikasi. Saat ini dilaporkan gambaran survival hidup lebih dari 40%.
Perubahan terjadi pada tahun 70-an dengan dikenalnya sitarabin (AraC) dan antrasiklin.
Dengan kombinasi obat yang berbeda, remisi bisa berpengaruh pada 75-85% anak, namun
tanpa terapi lanjut kebanyakan anak relaps dalam 1 tahun.
1


Tabel 2.13. Protokol kemoterapi LMA
22

Fase induksi MTX+AraC IT h1
Ara-C 50mg/m
2
infus 24 jam h12, AraC 50mg/m
2
bolus/12 jam h3-4;
Ara-C 75mg/m
2
bolus/12 jam h56; AraC 100mg/m
2
bolus/12 jam h-7-8
Dauborubisin 30 mg/m
2
infus/12 jam h3,4,5
Etoposid 150 mg/m
2
infus/hari h6,7,8
Fase
konsolidasi
Deksametason 4 mg/m
2
po, h1-28
6-MP 50 mg/m
2
po, h1-28
Vinkristin 1,5 mg/m
2
bolus, h1,8,15,22
Adriamisin 30 mg/m
2
bolus, h1,8,15,22
Ara-C 75 mg/m
2
bolus, h24, h912, h1619, 2326, h3033, h3740
Siklofosfamid 500 mg/m
2
infus h29,43
MTX+AraC IT h1,15,29,43
Fase
intensifikasi
Ara-C 3 g/m
2
infus/12 jam h1-3
Etoposid 125 mg/m
2
infus h2-5

Kualitas remisi harus diperbaiki dengan konsolidasi intensif, namun intensitas remisi
juga bisa mempengaruhi hasil yang tidak berharga dari tipe terapi konsolidasi yang
digunakan. Tiga metode konsolidasi adalah dengan kemoterapi sendiri, transplantasi sumsum
tulang autologus, atau transplantasi alogenik dari donor dengan HLA yang identik.
Transplantasi sel induk adalah terapi yang dilakukan pada LMA remisi pertama. Tingkat
disease-free-survival (DFS) berkisar antara 55-83% untuk SCT saudara kandung yang cocok
selama remisi komplit pertama. Saat ini nampaknya transplantasi sumsum tulang autologus
menunjukkan hasil yang baik, namun transplantasi alogenik dari donor dengan HLA yang
identik masik merupakan yang terbaik untuk kesembuhan.

Kemoterapi:
1. Induksi remisi
a. "Three plus seven regimen" :
- Daunorubicin: 60 mg/M2/hari, i.v , hari 1-3 Ara-C:200mg/m2/hari kontinu selama 7
hari
b. Ada juga yang memakai regimen DAT (daunorubicin, Ara-C, 6Thioguanin =6TG)
c. Sekarang dipakai mitoxantrone atau etopiside pada kasus dengan cadangan jantung
yang compromise
d. Pilihan lain adalah " high dose Ara-C= HIDAC. Ara-C diberikan 1-3 g/m2 setiap 12
samapi 24 jam sampai dengan 12 dosis. HIDAC dapat diberikan setelah regimen 7:3
yaitu 8-10 hari, disebut regimen 3+7+3
e. Untuk induksi remisi untuk kasus AML-M3 (leukimia promielositik akut)
daunorubisin digabung dengan ATRA(all-transretinoic acid). untuk kasus yang relap
dibeikan arsenic trioxide.

2. Terapi post remisi
a. Konsolidasi/intensifikasi
2-6 siklus Ara-C dan 6TG dengan atau tanpa DNR dapat juga diberikan ara-C dosis
tinggi ataupun amsacrine

3. Transplantasi sumsum tulang
a. terapi postremisi yang memberi harapan penyembuhan
b.hasil baik jika usia <40thn

Terapi suportif
1. Untuk anemia : Transfusi PRC (pertahankan hb 9-10)
2. Terapi mengatasi infeksi : antibiotik adekuat
3. Terapi pencegah perdarahan:
a. Transfusi konsentrat trombosit untuk pertahankan trombosit minimal 10x10
6
ml idealnya
di atas 20x10 6/ml
b. Pada M3 diberikan heparin untuk mengatasi DIC

1. Faktor prognostik LMA
a. Umur saat diagnosis tidak terlalu penting. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa
bayi mempunyai prognosis yang lebih baik.
b. Leukosit tinggi (tapi tidak pada semua studi).
c. FAB M3 (promielositik leukemia) bereaksi pada asam retinoik, sebaiknya diterapi
dengan kombinasi vitamin dan kemoterapi.
d. Anak-anak dengan Sindrom Down terdapat pada 10% kasus. Sebagian besar
merupakan FAB M7 dan mempunyai respon baik dengan kemoterapi. Translokasi
kromosom adalah faktor penting. Prognosis baik berhubungan dengan t(8;21),
t(15;17) dan inversi 16.
e. Respon awal terhadap terapi.

Dengan pemeriksaan analisis sitogenetik dan DNA microarray, dapat diketahui informasi
prognostik untuk LLA seperti yang tercantum pada tabel 2.14 berikut.


Tabel 2.14.Risiko LMA berdasarkan perubahan sitogenetik
8

Risiko baik M2: t(8;21)
M3: t(15,17)
M4 eosinofilia: inversi 16
Risiko buruk Monosomi 5, monosomi 7
Kariotipe kompleks
Kelainan 11q23
Mutasi FLt-3
Risiko standar Semua kasus lain. Kasus-kasus ini lebih lanjut dapat dibagi menjadi
kelompok prognostik menggunakan teknik DNA microarray