Anda di halaman 1dari 4

1.

Metode Presipitasi
Metode presipitasi (pengendapan) merupakan salah satu metode pengolahan
limbah yang banyak digunakan untuk memisahkan logam berat dari limbah cair.
Dalam metode presipitasi kimia dilakukan penambahan sejumlah zat kimia tertentu
untuk mengubah senyawa yang mudah larut ke bentuk padatan yang tak larut.
Presipitasi kimiawi dapat dipakai untuk mengolah limbah encer yang
mengandung bahan beracun, yang dapat diubah menjadi bentuk tak larut, misalnya
limbah yang mengandung arsen, cadmium, chrom, cuprum, plumbum,
hidrargyrum, nikel, argentum, dan zink.
Proses presipitasi tidak hanya melibatkan proses kimia saja , tetapi juga
melibatkan proses fisik . proses fisik yang ada antara lain adalah perubahan bentuk
padatan terlarut yang relatif berukuran kecil menjadi padatan tersuspensi yang
relatif berukuran besar sehingga mudah diendapkan. Faktor fisik lainya adalah
pengadukan untuk mempercepat proses presipitasi kimia .
Metode presipitasi kimia pun digunakan pada pengolahan air limbah yang
mengandung ion logam seperti Cu
2+
perlu dilakukan suatu reaksi pengendapan
(presipitasi) dengan suatu raegen kimia dengan didasarkan atas apakah suatu kation
Cu
2+
yang bereaksi dengan beberapa reagensia yang ada akan membentuk endapan
atau tidak. Menurut Vogel (1985), pengendapan (presipitasi) adalah suatu proses
pemisahan diri suatu fase padat keluar dari larutan. Endapannya mungkin berupa
kristal atau koloid dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau
pemusingan (centri-fuge).
Adapun beberapa reaksi-reaksi ion Cu
2+
yaitu sebagai berikut:
a. Natrium hidroksida dalam larutan dingin akan terbentuk endapan biru tembaga
(II) hidroksida:
Cu
2+
+ 2OH

Cu(OH)
2

Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan. Bila dipanaskan, endapan diubah
menjadi tembaga (II) oksida hitam oleh dehidrasi.
Cu(OH)
2
CuO + H
2
O

Dengan adanya asam tartrat/asam sitrat dalam larutan, tembaga (II) hidroksida
tak diendapkan oleh larutan basa alkali, tetapi larutan jadi berwarna biru.
Larutan garam tembaga (II) yang bersifat basa, yang mengandung asam tartrat,
biasa dikenal orang sebagai larutan Fehling, ia mengandung ion kompleks
[Cu(COO.CHO)]
2

b. Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit timbul
endapan biru suatu garam basa (tembaga sulfat biasa) :
2Cu
2+
+ SO
4
2
+ 2NH
3
+ 2H
2
O Cu(OH)
2
.Cu(SO
4
) + 2NH
4
+

yang larut dalam reagensia berlebihan sehingga terjadi warna biru tua yang
disebabkan oleh terbentuknya ion kompleks tetrae-monikuprat (II).
Cu(OH)
2
.Cu(SO
4
) + 8NH
3
2[Cu(NH
3
)
4
]
2+
+ SO
4
2
+ 2OH


c. Kalium iodida: mengendapkan tembaga (II) iodida yang putih, tetapi larutannya
berwarna coklat tua karena terbentuk ion-ion tri-iodida (Iod):
2Cu
2+
+ 5I

2CuI + I
3


dengan menambahkan natrion tiosufat berlebihan kepada larutan, ion triiodida
direduksi menjadi ion iodida yang tak berwarna, dan warna putih dari endapan
menjadi terlihat. Reduksi dengan tiosulfat menghasilkan ion tetrationat:
I
3

+ 2S
2
O
3
2
3I

+ S
4
O
6
2

Reaksi ini dipakai dalam anlisis kualitatif untuk penentuan tembaga secara
iodometri.
d. Kalium sianida (racun): bila ditambahkan dengan sedikit sekali, mula-mula
terbentuk endapan kuning tembaga (II) sianida:
Cu
2+
+ 2CN

Cu(CN)
2

Endapan dengan cepat teruarai menjadi tembaga (I) sianida putih dan sianogen
(gas yang sangat beracun):
2Cu(CN)
2
2CuCN + (CN)
2





2. Kesadahan Air

Kesadahan air adalah keadaan dimana suatu perairan mengandung ion-ion
Ca
2+
dan Mg
2+
. Air yang sadah perlu diolah sebelum dikonsumsi , pengolahannya
adalah dengan cara softening (penyabunan) yang terdiri atas dua macam yaitu
pertukaran ion dan presipitasi . Air bawah tanah (groundwater) pada umumnya
lebih sadah daripada air permukaan. Kesadahan yang tinggi dapat ditemukan di
daerah yang keadaan geografisnya adalah batuan berkapur. Contohnya di daerah
Gunung Kidul, Yogyakarta . Hal ini disebabkan CO
2
yang ada didalam tanah akan
melarutkan batu kapur tersebut dan batu kapur tersebut akan menguraikan ion
kalsium (Ca
2+
). Kesadahan dinyatakan dalam satuan Meq/L (mili Equivalen per
Liter) atau mg/L sebagai CaCO
3
Pengolahan kesadahan:
Proses kapur soda abu
CaCO
3
+ H
2
O CO
2
+ Ca(OH)
2
Reaksi Kalsium karbonat
2 CaCO
3
+ 2 H
2
O Ca(HCO
3
)
2
+ Ca(OH)
2
Reaksi Magnesium Karbonat
CaCO
3
+ MgCO
3
+ 2 H
2
O Mg (HCO
3
)
2
+ Ca(OH)
2
Mg(OH)
2
+ CaCO
3
MgCO
3
+ Ca(OH)
2

Reaksi Magnesium Non Karbonat
Mg(OH)
2
+ CaSO
4
MgSO
4
+ Ca(OH)
Reaksi Kalsium Non Karbonat
CaCO
3
+ Na
2
SO
4
CaSO
4
+ Na
2
CO
3

3. Proses pertukaran ion
Proses pertukaran ion adalah proses kimia yang reversible dari media penukar
ion dengan air limbah dan reaksi berlangsung secara stokiometris. Faktor faktor
yang berpengaruh dalam proses pertukaran ion meliputi : selektivitas ion, ukuran
media ion dan konsentrasi ion dalam air limbah.
Pada konsentrasi ion yang rendah, pertukaran ion akan meningkat dengan
meningkatnya valensi ion
sebagai berikut : Al > Ca > Na ; PO4 > MnO4 > Cl,sedangkan valensi
ion yang sama, pertukaran ion dapat meningkat dengan meningkatnya bilangan
atomnya : Cs > Rb > K > Na ; Ca > Mg > Be Pada kondisi konsentrasi ion
cukup tinggi kemungkinan ion dengan valensi kecil mempunyai kemampuan
selektivitas lebih tinggi tinggi.



Pertukaran Ion Pada Proses Demineralisasi Air (Sumber)
Sedikit berbeda dengan proses demineralisasi air, pada ujung rangkaian,
molekul resin berikatan dengan ion H
+
dan OH
-
. Pada saat air melewati gugusan
resin, akan terjadi pengikatan ion-ion mineral yang terlarut di dalam air karena
molekul resin memiliki gaya tarik-menarik lebih besar dengan ion molekul daripada
ion H
+
dan OH
-
. JikaR, K
2+
, dan A
2-
adalah berturut-turut molekul ion resin, ion
mineral positif, dan ion mineral negatif, maka reaksi ion exchange yang terjadi pada
proses demineralisasi air yakni sebagai berikut:
2 R-H + K
2+
R
2
K + 2 H
+

2 R-OH + A
2-
R
2
A + 2 OH
-

Nampak pada reaksi di atas bahwa pada proses demineralisasi air, resin akan
mengikat ion-ion mineral dan melepas ion-ion H
+
dan OH
-
. Selanjutnya ion-ion
tersebut akan salin berikatan untuk membentuk molekul H
2
O baru.
H
+
+ OH
-
H
2
O