Anda di halaman 1dari 17

Bab 8 Materialitas, Resiko, dan Strategi Audit Pendahuluan

Materialitas adalah besarnya suatu pengabaian atau salah saji informasi akuntansi di luar
keadaan sekitar, memungkinkan pertimbangan seseorang yg bergantung pada informasi
tersebut akan berubah. (8.1 a)

Syarat Auditor mempertimbangkan materialitas: (8.1 b)
Situasi yg berkenaan dengan entitas
Informasi yg dibutuhkan pihak yg bergantung pada laporan keuangan yg di audit

Pertimbangan Pendahuluan Mengenai Materialitas (Materialitas perencanaan):
Auditor membuat pertimbangan pendahuluan mengenai materialitas dalam merencanakan
audit.

Perbedaan materialitas perencanaan dengan tingkat materialitas yg digunakan pada
penyelesaian audit dalam mengevaluasi temuan audit: (8.3)
Situasi yg ada di sekitar mungkin berubah
Informasi tambahan mengenai klien akan diperoleh selama pelaksanaan audit

`Dalam merencanakan suatu audit, auditor harus menilai materialitas pada dua tingkat
berikut: (8.2 a)
Tingkat Lapoan Keuangan
Krn pendapat auditor mengenai kewajaran meluas sampai lapkeu secara keseluruhan.
Tingkat Saldo Akun
Krn auditor menguji saldo akun dalam memperoleh kesimpulan keseluruhan atas
kewajaran lapkeu

Materialitas Laporan Keuangan
Salah saji agregat minimum dalam suatu lapkeu yg cukup penting untuk mencegah laporan
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yg berlaku umum.

Dalam perencanaan audit, auditor harus mengakui bahwa terdapat lebih dari satu tingkat
materialitas yg berhubungan dengan lapkeu. (8.4 a)
Karena setiap laporan keuangan memiliki beberapa tingkatan. Untuk laporan laba rugi,
materialitas dapat di hubungkan dengan total pendapatan, laba operasi, laba sebelum
pajak/laba bersih.

Peraturan Keputusan Untuk Tujuan Perencanaan: (8.4 b)
Tingkat agregat terkecil dari salah saji yg dipertimbangkan seebagai material untuk setiap
laporan keuangan.
Peraturan Keputusan Tepat Karena:
Lapkeu saling berkaitan
Banyak prosedur audit berkaitan dengan lebih dari satu lapkeu

Pedoman Kuantitatif: (8.5 b)
5%-10% dari laba bersih sebelum pajak. (10% untuk laba lebih kecil, 5% lebih besar)
% - 1% dari total aktiva
1% dari ekuitas
% - 1% dari pendapatan kotor
Suatu persentase variabel berdasarkan mana yg lebih besar antara total aktiva/total
pendapatan

Pertimbangan Kualitatif (8.6 b)
Pertimbangan kualitatif berhubungan dengan penyebab salah saji. Salah saji yg secara
kuantitatif tidak material, secara kualitatif material. Terjadi akibat
ketidakberesan/pelanggaran hukum oleh klien.

Materialitas Saldo Akun (8.7 a)
Salah saji minimum yg dapat muncul dalam suatu saldo akun hingga dianggap mengandung
salah saji material. Salah saji tingkat tsb disebut salah saji yg dapat ditolelir. (8.7 b)

Perbedaan antara saldo akun material dengan materialitas: (8.7 c)
Saldo akun material merujuk pada ukuran dari suatu saldo akun yg tercatat, materialitas
berhubungan dengan jumlah salah saji yg dapat mempengaruhi keputusan seorang pemakai.

Dalam membuat pertimbangan mengenai materialitas pada tingkat saldo akun, auditor harus
mempertimbangkan hubungan antara materialitas pada tingkat saldo akun dan materialitas
pada tingkat lapkeu.

Auditor merencanakan audit guna mendeteksi salah saji yg mungkin tidak material secara
individual, tetapi jika diagregasi dengan salah saji pada saldo akun lainnya akan material
erhadap lapkeu secara keseluruhan.

Pertimbangan auditor dalam membuat alokasi materialitas lapkeu: (8.8 a)
Mempertimbangkan kemungkinan salah saji dalam akun
Biaya yg mungkin untuk menguji akun

Hubungan materialitas dan bukti audit:
Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yg diperlukan.
Semakin besar/semakin signifikan suatu saldo akun maka semakin besar jumlah bukti yg di
perlukan.

Resiko audit adalah resiko bahwa auditor tanpa sengaja gagal untuk memodifikasi pendapat
secara tepat mengenai lapkeu yg mengandung salah saji material.
Semakin tinggi kepastian yg ingin diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat yg
benar, semakin rendah resiko audit yg diterima.

Model Resiko Audit
3 Komponen Resiko Audit:
Resiko Bawaan
Kerentanan suatu asersi terhadap salah saji material dengan mengasumsikan tidak
terdapat pengendalian.
Contoh hal-hal yg memiliki dampak mendalam:
- Profitabilitas entitas
- sensitivitas dari hasil operasi terhadap faktor ekonomi
- masalah going concern
- perputaran manajemen

contoh hal yg hanya berkaitan dengan akun spesifik:
- akun transaksi yg sulit di audit
- masalah akuntansi yg suliit di perdebatkan
- kerentanan terhadap penyalahgunaan
- kompleksifitas penghitungan

Resiko bawaan muncul secara independen dari audit lapkeu, auditor tidak dapat
mengubah tingkat aktual dari resiko bawaan tetapi dapat mengubah tingkat resiko
bawaan yg dinilai.

Faktor-faktor Resiko Bawaan:
- manajemen, tujuan manajemen, sumberdaya perusahaan
- produk, jasa, pasar, pelanggan, pesaing
- proses inti dan siklus operasi
- hasil dari proses inti
- keputusan pembiayaan dan investasi

Resiko Pengendalian (fungsi dari efektivitas pengendalian intern klien)
Resiko bahwa salah saji material yg dapat terjadi dalam suatu asersi tidak akan dapat
dicegah/dideteksi dengan tepat waktu oleh pengendalian intern entitas.

Pengendalian intern yg efektif atas suatu asersi akan mengurangi resiko pengendalian,
pengendalian intern yg tidak efektif meningkatkan resiko pengendalian.

Beberapa tingkat resiko pengendalian oleh auditor:
- Prosedur yg di gunakan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang struktur
pengendalian intern berhubungan dengan asersi
- Prosedur yg digunakan untuk melaksanakan pengujian pengendalian

2 macam penilaian auditor:
- Tingkat resiko pengendalian yg direncanakan
Didasarkan pada asumsi mengenai efektivitas dari rancangan dan pengoprasian
bagian pengendalian intern klien yg relevan.

- Tingkat resiko pengendalian aktual
Berdasarkan bukti yg diperoleh dari studi dan evaluasi penegndalian intern selama
pekerjaan interim dalam tahap pengujian pada audit berjalan.

2 Jenis salah saji yg relevan mengenai kecurangan (SAS No 82):
- Pelaporan keuangan yg curang
Salah saji yg disengaja/penghilangan suatu jumlah pengungkapan dalam lapkeu
untuk menipu para pengguna lapkeu.
Contoh:
a. manipulasi, pemalsuan catatan akuntansi
b. interpretasi yg salah/penghilangan data yg disengaja
c. penerapan yg salah secara sengaja

- Penyalahgunaan aktiva
Pencurian atas aktiva entitas yg menyebabkan lakpeu disajikan tidak sesuai
dengan prinsip akuntansi.
Contoh:
a. Penyeludupan penerimaan
b. Pencurian aktiva
c. Menyebabkan perusahaan membayar barang/jasa yg tidak diterima

Resiko Deteksi(kombinasi dr resiko prosedur analitis dan pengujian terinci)
Resiko bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji material yg ada dalam suatu
asersi.

Resiko prosedur analitis dan pengujian terinci merupakan fungsi dari efektivitas
prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.

Cara untuk mengurangi aspek resiko deteksi:
a. Perencanaan yg cukup
b. Pengawasan yg tepat
c. Mengacu pada standar akuntansi intern

Tingkat resiko deteksi direncanakan dapat di terima, dengan menggunakan model
resiko di atas.

Resiko audit penting ketika auditor mempertimbangkan tingkat resiko deteksi yg tepat untuk
resiko deteksi ketika merencanakan prosedur untuk mengaudit suatu asersi.

Pemahaman mengenai hubungan istilah kuantitatif dengan nonkuantitatif penting:
Untuk menentukan tingkat resiko deteksi yg direncanakan dapat di terima

Model Resiko Audit
AR = IR x CR x DR atau DR= AR/(IrxCR)

AR= resiko analitis
TD= resiko pengujian
IR= resiko bawaan
CR= resiko pengendalian
DR= resiko deteksi

Matriks Komponen Resiko( alat ekspresi nonkuantitatif untuk resiko)
Mengasumsikan bahwa resiko audit dibatasi pada suatu tingkat yg rendah.
Contoh:
Jika resiko bawaan dinilai berada pada tingkat maksimum, resiko pengendalian pada tingkat
sedang dan resiko prosedur analitis pada tingkat sedang maka tingkat resiko deteksi yg
diterima rendah.

Hubungan antara Resiko Audit dan Bukti Audit
Hubungan terbalik antara resiko audit dengan bukti audit.
Untuk klien, semakin rendah tingkat resiko audit yg ingin dicapai, semakin besar jumlah
bukti yg diperlukan (berlaku untuk resiko deteksi).
Semakin rendah tingkat yg dapat diterima dr resiko prosedur analitis yg ditentntukan
auditor, semakin besar kecukupan dan kompetensi pengujian substansial yg diperlukan untuk
membatasi resiko deteksi keseluruhan pada tingkat tersebut.


Hubungan Timbal Balik Antara Materialitas, Resiko Audit, dan Bukti Audit
Jika ingin mengurangi resiko audit maka: menaikan tingkat materialitas, menaikan bukti
audit, membuat kenaikan yg lebih kecil untuk jumlah bukti audit dan tingkat materialitas.

Peringatan akan Adanya Resiko Audit
Tujuannya untuk memberikan suatu tinjauan mengenai perkembangan ekonomi saat ini pada
auditor, perkembangan profesional dan perkembangan peraturan yg mungkin akan
mempengaruhi audit untuk klien dalam banyak industri.

Strategi Audit Pendahuluan
Tujuan Utama Auditor dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Audit:
Untuk mengurangi resiko audit hingga tingkat rendah yg sesuai untuk mendukung suatu
pendapat mengenai kewajaran penyajian lapkeu dalam segala hal yg material.

Strategi Audit Pendahuluan adalah merepresentasikan pertimbangan pendahuluan auditor
mengenai suatu pendekatan audit dan didasarkan pada asumsi tertentu mengenai pelaksanaan
audit.

4 Komponen Strategi Audit Pendahuluan:
1. Tingkat resiko bawaan yg dinilai
2. Tingkat resiko pengendalian yg direncanakan untuk dinilai
3. Tingkat resiko prosedur analitis yg direncanakan untuk dinilai
4. Tingkat pengujian rincian yg direncanakan bila di kombinasikan dengan prosedur lain
dapat mengurangi resiko audit

2 Strategi Audit Utama yg Equivalen menurut AICPA
1. Suatu pendekatan substantif utama yg menekankan pengujian rincian
2. Suatu tingkat resiko pengendalian yg dinilai lebih rendah

Komponen Strategi Audit Menurut Pendekatan Substantif Utama yg Melaksanakan pada
Pengujian Terinci:
a. Gunakan tingkat resiko prosedur analitis yg direncanakan untuk dinilai pada tingkat
yg tinggi
b. Gunakan tingkat resiko pengendalian yg direncanakan untuk dinilai pada tingkat
maksimum
c. Memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian relevan dari pengendalian intern
d. Rencanakan sedikit jika ada pengendalian intern
e. Rencanakan pengujian substantif yg luas atas transaksi dan saldo pada resiko deteksi

Komponen Strategi Audit Menurut Pendekatan Tingkat Resiko Pengendalian yg Dinilai
Lebih Rendah:
a. Menggunakan tingkat resiko prosedur analitis yg direncanakan untuk penilaian pada
tingkat yg tinggi
b. Menggunakan tingkat resiko pengendalian yg direncanakan untuk penilaian pada
tingkat sedang
c. Merencanakan pengujian pengendalian
d. Merencanakan pengujian substantif atas transaksi/saldo terbatas berdasarkan tingkat
resiko deteksi yg direncanakan


Strategi Audit Tambahan: menyatakan bahwa model resiko audit bukan model yg memiliki
dua dimensi. Pilihan auditir tidak hanya bergantung pada pengendalian intern.

Komponen strategi audit tambahan:
Tingkat resiko prosedur analitis yg direncanakan untuk dinilai
Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yg diperoleh
Keyakinan yg diperoleh dr prosedur analitis(kecukupan bukti)
Tingkat pengujian substantif yg direncanakan dilaksanakan untuk mengurangi resiko
audit

Komponen Strategi Audit Menurut Pendekatahn Substantif Utama yg Menekankan Pada
Prosedur Analitis:
Memperoleh pengetahuan yg luas mengenai proses bisnis klien yg relevan dengan
asersi
Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dr prosedur
analitis
Menggunakan tingkat resiko pengendalian yg direncanakan untuk penilaian pada
tingkat maksimum
Merencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai bagian
relevan dr pengendalian intern
Merencanakan pengujian substantif atas transaksi dan salso yg lebih sempit

2 tipe prosedur audit:
Top-down
Bottom-up

Pengetahuan auditor mengenai bisnis dan industri membantu pemberian jasa bernilai tambah
lainnya.

Penekanan Pada Resiko Bawaan dan Prosedur Analitis
Resiko bawaan dinilai pada tingkat maksimum.
Penilaian dr beban di bayar dimuka, kewajiban gaji akrual, biaya historis pabrik dan peralatan
yg mewakili contoh-contoh dr asersi dimana resiko bawaan dapat dinilai dibawah maksimum.

Penekanan pada resiko bawaan dan prosedur analitis:
Mengasumsikan bahwa prosedur analitis lebih murah daripada prosedur audit lainnya.

Hubungan antara Strategi dan Siklus Transaksi
Suatu strategi yg serupa diterapkan pada sekelompok asersi yg dipengaruhi oleh Golongan
Transaksi dalam suatu Siklus Transaksi.

4 Alternatif strategi Audit:
1. Tingkat resiko bawaan
2. Resiko pengendalian
3. Resiko prosedur analitis
4. Resiko pengujian terinci yg di rencanakan



Tujuan auditor mengembangkan strategi audit:
a. Memperoleh keyakinan yg memadai
b. Mendukung nilai tambah sementara meminimalkan biaya pekerjaan audit

Bab 9 Pemahaman Mengenai Pengendalian Intern
Faktor-faktor penyebab pentingnya pengendalian intern:
Lingkup dan ukuran bisnis entitas telah menjadi sangat kompleks dan tersebar luas
Pengujian dan penelaahan yg melekat dalam sistem pengendalian intern yg baik
Tidak praktis bagi auditor untuk melakukan audit atas kebanyakan perusahaan dengan
pembatasan biaya ekonomi

2 tujuan utama menurut COSO:
1. Menetapkan suatu definisi yg umum tentang penegndalian intern yg memenuhi
kebutuhan dr berbagai pihak yg berbeda
2. Menyediakan suatu standar pengukuran sistem pengendalian bagi bisnis dan entitas
lain dan cara meningkatkan sistem pengendalian tsb

Definisi dan Komponen
Pengendalian intern adalah suatu proses yg dilaksanakan oleh dewan direksi, manajemen,
personel lainnya dalam suatu entitas yg dirancang untuk menyediakan keyakinan yg memadai
berhubungan dengan pencapaian tujuan.

Pencapaian tujuan mencakup:
Keandalan pelaporan keuangan
Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yg berlaku
Efektivitas dan efisiensi operasi

Konsep Fundamental COSO:
Pengendalian internal merupakan suatu proses
Pengendalian internal dilakukan oleh orang
Pengendalian intrn dapat diharapkan untuk menyediakan keyakinan yg memadai
Pengendalian intern diarahkan pada pencapaian tujuan yg saling berkaitan

5 Komponen Pengendalian Intern COSO:
Lingkungan Pengendalian
Menetapkan suasana organisasi yg mempengaruhi kesadaran akan pengendalian dari
orang-orangnya. Merupakan fondasi komponen yg menyediakan disiplin dan struktur

Penilaian Resiko
Pengidentifikasian dan analisis entitas mengenai resiko yg relevan terhadap
pencapaian tujuan entitas

Aktivitas Pengendalian
Kebijakan dan prosedur yg membantu meyakinkan bahwa perintah manajemen telah
dilaksanakan

Informasi dan Komunikasi
Pengidentifikasi, penangkapan, pertukaran informasi dalam suatu bentuk/kerangka
waktu yg membuat orang bertanggungjawab atas tugasnya.

Pemantauan
Suatu proses yg menilai kualitas kinerja pengendalian intern pada suatu waktu

Tujuan Entitas dan Pengendalian Intern yg Relevan dengan Suatu Audit
3 Tujuan entitas dan pengendalian intern:
1. Keandalan dari informasi keuangan
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yg berlaku
3. Efektivitas dan efisiensi dari operasi

Contoh data yg relevan dengan data yg digunakan auditor:
Data nonkeuangan yg digunakan dalam prosedur analitis
Contoh: jumlah karyawan, kapasitas manufaktur entitas dan volume barang yg
diproduksi

Data keuangan tertentu yg dikembangkan terutama untuk tujuan internal
Contoh: anggaran dan data kinerja, yg digunakan auditor untuk memperoleh bukti

Keterbatasan Pengendalian Intern Suatu Entitas
Macam Identifikasi Keterbatasan yg Melekat Pada Pengendalian Intern:
Kesalahan dalam pertimbangan
Manajemen dan personal lainnya melakukan pertimbangan yg buruk dalam membuat
keputusan bisnis

Kemacetean
Personal salah memahami instruksi/membuat kekeliruan akibat kecerobohan,
kebingungan, atau kelelahan

Kolusi
Individu yg bertindak bersama, melaksanakan suatu pengendalian penting menutupi
kecurangan sehingga tidak dapat dideteksi oleh pengendalian intern.

Penolakan Manajemen
Manajemen dapat mengesampingkan kebijakan atau prosedur tertulis untuk tujuan
tidak sah seperti keuntungan pribadi.

Biaya versus manfaat
Biaya pengendalian intern suatu entitas seharusnya tidak melebihi manfaat yg
diharapkan untuk diperoleh.

Tanggungjawab dan Peran Organisasi Terhadap Pengendalian Intern Menurut COSO:
Manajemen
Untuk menciptakan pengendalian intern yg efektif (CEO merancang kesadaran akan
pengendalian di seluruh organisasi)

Dewan Direksi dan Komite Audit
Bagian dari pengaturan umum dan tanggungjawab terhadap kekeliruan, menentukan
bahwa manajemen telah memenuhi tanggungjawabnya untuk menciptakan dan
memelihara pengendalian intern.
Auditor Internal
Memeriksa dan mengevaluasi kecukupan pengendalian intern suatu entitas secara
periodik dan membuat rekomendasi untuk perbaikan

Personal Entitas Lainnya
Tanggungjawab untuk mengkomunikasikan masalah apapun yg tidak sesuai dengan
pengendalian/tindakan melawan hukum.

Auditor Independen
Mengkomunikasikan pada manajemen akan temuan kekurangan dalam pengendalian
intern

Pihak Eksternal Lainnya
Menetapkan persyaratan minimum untuk pengadaan pengendalian intern.

5 Komponen Pengendalian Intern menurut COSO:
Lingkungan pengendalian
Menetapkan suasana dari suatu organisasi yg mempengaruhi kesadaran akan
pengendalian dari orang-orangnya

Faktor-Faktor Membentuk Lingkungan Pengendalian:
a. Integritas dan nilai etika
Hal-hal untuk mencapai integritas dan nilai etika:
- menetapkan suasana
- mengkomunikasikan kepada semua karyawan
- Memberikan bimbingan moral
-mengurangi/menghilangkan insentif yg dapat mengarahkan individu melakukan
tindakan yg tidak jujur

b. Komitmen terhadap kompetensi
Mencakup pertimbangan manajemen mengenai pengetahuan dan keahlian yg
diperlukan dan bauran intelegensi, pelatihan, pengalaman yg dibutuhkan untuk
mengembangkan kompetensi tersebut.

c. Dewan direksi dan komite audit
Faktor-Faktor yg mempengaruhi efektifitas dewan direksi dan komite audit:
- independensi manajemen
- pengalaman dan status anggota
- yg berhubungan dengan proporsi direksi dari luar perusahaan
- sifat dan luasnya keterlibatan dalam aktivitas manajemen

d. Filosofi dan gaya operasi manajemen
Karakteristiknya:
- pendekatan untuk mengambil dan memonitor resiko bisnis
- mengandalkan pertemuan informal secara langsung dengan manajer kunci
- sikap dan tindakan terhadap pelaporan keuangan
-pemilihan secara selektif dari prinsip akuntansi
- Kesadaran dan konservatisme dalam mengembangkan estimasi akuntansi
- kesadaran dan pemahaman terhadap resiko yg di hubungkan dengan IT

e. Struktur organisasi
Berkontribusi terhadap kemampuan suatu entitas untuk memenuhi tujuan dengan
menyediakan kerangka kerja menyeluruh atas perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian dan pemantauan aktivitas suatu entitas.

Penetapan Wewenang dan Tanggungjawab: merupakan perpanjangan dari
pengembangan suatu struktur organisasi.

Kebijakan dan Praktik SDM
Menjamin bahwa personel entitas memiliki tingkat integritas, nilai etika, kompetensi
yg diharapkan.

Penilaian resiko
Identifikasi analisis dan pengelolaan resiko suatu entitas yg relevan dengan
penyusunan lapkeu yg disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi.

Macam-macam penilaian resiko oleh manajemen yg muncul dr perubahan kondisi:
- Perubahan dalam lingkungan operasi
- Personel baru
- SI yg baru
- Pertumbuhan yg cepat
- Teknologi baru

Informasi dan komunikasi
Sistem Informasi: terdiri dari metode dan catatan yg diciptakan untuk
mengidentifikasi, mengumpulkan, menganalisis, klasifikasi, mencatat dan melaporkan
transaksi entitas dan memelihara akuntabilitas aktiva dan kewajiban yg berhubungan.

Komunikasi: penyediaan suatu pemahaman yg jelas mengenai peran dan
tanggungjawab individu berkaitan dengan pengendalian intern atas pelaporan
keuangan.

Langkah-langkah menciptakan sistem akuntansi yg efektif:
a. Identifikasi transaksi yg valid (asersi keberadaan)
b. Identifikasi dan mencatat semua transaksi yg valid (asersi kelengkapan)
c. Memastikan aktiva dan kewajiban hasil dr transaksi (asersi hak dan kewajiban)
d. Mengukur nilai transaksi (asersi penilaian)
e. Memperoleh rincian yg mencukupi dr seluruh transaksi untuk penyajian lapkeu yg
tepat (asersi penyajian)

Jejak Audit/Jejak Transaksi
Suatu rantai dari bukti yg disediakan oleh pengkodean, referensi silang,
pendokumentasian yg menghubungkan saldo akun dan hasil ikhtisar lain dengan data
transaksi original.
Fungsinya: untuk melakukan tracing dan vouching

Dokumen dan catatan: mewakili suatu aspek dari sistem informasi dan komunikasi yg
menyediakan bukti audit yg penting.
Dokumen:
Menyediakan bukti atas keterjadian transaksi
Catatan:
Catatan penghasilan karyawan, data gaji kumulatif dan catatan persediaan perpetual.

Aktivitas pengendalian
Kebijakan dan prosedur yg membantumemastikan bahwa perintah manajemen telah
dilaksanakan untuk pencapaian tujuan entitas.

Cara untuk aktivitas pengendalian yg relevan dengan audit lapkeu:
1. Pemisahan Tugas
Pemastian bahwa individu tidak melaksanakan tugas yg tidak seimbang.

Contoh Pemisahan Tugas Mempengaruhi Resiko Pengendalian Untuk 3 Asersi:
- penjagaan aktiva dari pemeliharaan catatan akuntansi aktiva (asersi Keberadaan)
- pemisahan tugas untuk pemrosesan transaksi pengeluaran kas dan rekonsiliasi
bank (asersi kelengkapan)
- pemisahan tanggungjawab untuk menyetujui kredit dari pengajuan pesanan
penjualan (asersi penilaian/alokasi)

2. Pengendalian Pemrosesan Informasi: mengacu pada resiko yg berhubungan
dengan otorisasi, kelengkapan, akurasi transaksi.
a. Pengendalian Umum:
Untuk mengendalikan pengembangan program, perubahan program, operasi
komputer, mengamankan akses terhadap data dan program.

5 Jenis pengendalian umum yg di akui:
- pengendalian organisasi dan operasi:
Berhubungan dengan faktor lingkungan pengendalian dan struktur organisasi

Posisi dan tanggungjawab dalam departemen TI:
o Manajer TI: melaksanakan semua pengendalian, mengembangkan
rencana jangka pendek dan jangka panjang dan menyetujui sistem.
o Pengembangan Sistem:
Analisis Sistem: mengevaluasi sitem yg ada, merancang sistem baru
Programer: membuat logika badan alur untuk program komputer
o Operasi Teknologi Informasi:
Operator Komputer: mengoperasikan hardware
Pustakawan: memelihara penjagaan dokumentasi sistem, program, file
Adm Jaringan: merencanakan dan memelihara hubungan jaringan, file
o Pengendalian Data:
Kelompok pengendalian data: penghubung antara dept pemakai
informasi, memonitor imput, proses, output.
Adm Database: merancang isi, mengendalikan akses database
o Keamanan Informasi:
Adm Keamanan: Mengelola keamanan sistem TI termasuk hardware
software dll

- pengendalian pengembangan sistem dan dokumentasi
bagian integral dr komponen pengendalian intern informasi komunikasi
Berhubungan dengan:
Review pengujian, pengendalian perubahan program, prosedur dokumentasi
- Pengendalian hardware dan software
Dirancang untuk mendeteksi kerusakan peralatan.
Kategori dalam pengendalian tsb:
o Pembacaan dua kali
o Pengujian keseimbangan
o Pengujian gema
o Baca setelah tulis

- Pengendalian Akses
Mencegah penggunaan yg tidak terotorisasi dr peralatan TI, data, program
komputer. Penjagaan khusus (penjagaan fisik, software, prosedur)

- Pengendalian data dan prosedur
Menyediakan kerangka kerja untuk mengendalikan operasi komputer,
meminimalkan kemungkinan kekeliruan pemrosesan, memastikan
kelanjutan operasi dari kejadian kehancuran fisik.

Fungsi:
o Penerimaan dan pemilihan semua data yg akan diproses
o Akuntansi untuk semua data masukan
o Penindaklanjutan dari pemrosesan kekeliruan
o Pemeriksaan distribusi output dengan tepat

b. Pengendalian Aplikasi
3 Kelompok pengendalian aplikasi:
o Pengendalian input
Pengendalian program yg dirancang untuk mendeteksi dan melaporkan
kekeliruan dalam data yg dimasukan untuk di proses.

Pengendalian Khusus:
Pengendalian Verifikasi
Mengunci semua/suatu bagian data input
Editing Komputer
Untuk mendeteksi data yg tidak lengkap, tidak benar, dll.
Pengecekan Tanda yg Valid
Untuk menentukan tanda dari data
Pengujian Kode g Valid
Untuk menyesuaikan klasifikasi
Digit pengecekan
Untuk menentukan suatu akun, dll telah benar di input

o Pengendalian pemrosesan
Di rancang untuk menyediakan keyakinan yg memadai bahwa
pemrosesan komputer telah dilaksanakan seperti yg ditujukan untuk
aplikasi tertentu.

o Pengendalian output
Dirancang untuk memastikan bahwa hasil pemrosesan telah benar dan
hanya personel yg memiliki otorisasi yg menerima output

3. Pengendalian Fisik
2 jenis pembatasan akses ke aktiva dan catatan penting:
a. Akses fisik langsung
b. Akses tidak langsung melalui pemrosesan dokumen

4. Review Kinerja
Meliputi review dan analisis manajemen terhadap:
- Laporan yg mengikhtisarkan secara rinci saldo akun seperti neraca saldo
dll
- Kinerja aktual di bandingkan dengan anggaran, peramalan/jumlah periode
sebelumnya
- Hubungan dari data yg berbeda seperti data operasi nonkeuangan &
keuangan.

Pemantauan
Suatu proses yg menilai kualitas kinerja pengendalian intern pada suatu waktu.
Pemantauan dapat dilaksanakan melalui aktivitas berkelanjutan.
Contoh: masalah pengendalian dapat diterima manajemen melalui keluhan dari
pelanggan atas kekeliruan tagihan dll.

Aplikasi Komponen Terhadap Entitas Kecil dan Sedang
Faktor-faktor Pengimplementasian Setiap Komponen:
Ukuran Entitas
Karakteristik Organisasi
Sifat dari Usaha
Keanekaragaman dan Kompleksitas dari Operasi
Metode Pemrosesan Data
Persyaratan Hukum dan peraturan yg berlaku

3 Aktivitas Utama dalam Memenuhi Standar Pekerjaan Lapangan:
1. Memperoleh pemahaman yg cukup
2. Menilai resiko pengendalian
3. Merancang pengujian substantif

Fungsi Pengendalian Intern
Mengidentifikasi jenis salah saji yg potensial
Mempertimbangkan faktor yg mempengaruhi resiko salah saji yg material
Merancang pengujian substantif untuk menyediakan keyakinan yg memadai

Faktor yg harus di pertimbangkan mengenai tingkat pemahaman:
Pengetahuan mengenai klien dr audit terdahulu
Penilaian pendahuluan mengenai resiko bawaan dan materialitas
Suatu pemahaman mengenai industri dimana entitas beroperasi
Kompleksifitas serta kecanggihan sistem dan operasi entitas

4 fungsi ekonomi yg dihubungkan dengan transaksi:
1. Pelaksanaan transaksi
2. Pengiriman/penerimaan barang dan jasa
3. Pencatatan transaksi
4. Penerimaan kas/pengeluaran kas

Prosedur untuk Memperoleh Suatu Pemahaman:
Review pengalaman masa lalu dengan klien
Mengajukan pertanyaan kepada manajemen, pengawas dll
Memeriksa dokumen dan catatan
Mengamati aktivitas dan operasi entitas

Metode Alternatif untuk Mendokumentasikan Pemahaman Mengenai Pengendalian:
Mendokumentasikan Pemahaman
Kuesioner
Terdiri dari serangkaian pertanyaan mengenai pengendalian intern yg perlu
dipertimbangkan auditor untuk mencegah salah saji yg material dalam lapkeu.

Bagan Arus
Suatu diagram skematik dengan menggunakan simbol terstandarisasi, garis arus yg
saling berhubungan, langkah dalam proses informasi melalui sistem akuntansi

Tabel Keputusan
Sebuah matriks yg digunakan untuk mendokumentasikan logika dr suatu program
komputer.
3 Komponen Penting:
a. Kondisi yg berhubungan dengan transaksi akuntansi
b. Tindakan yg diambil oleh program komputer
c. Peraturan keputusan untuk mengatasi kondisi dengan tindakan selanjutnya

Memorandum Naratif
Terdiri dari komentar tertulis berkenaan dengan pertimbangan auditor atas
pengendalian intern.

3 Komponen Penting TI:
Hardware: perangkat keras yg dihubungkan dengan sistem
Software: terdiri dr program dan rutinitas yg memfasilitasi program dan operasi komp
Organisasi data dan metode pemrosesan:
Metode Organisasi Data: mengacu pada cara data di organisasikan dalam suatu file
komputer.

2 metode prinsip dalam pengorganisasian data:
a. Metode file tradisional (digunakan dalam banyak aplikasi akuntansi)
Terdiri dari 2 jenis file:
- File master, berisi informasi terbaru mengenai golongan tertentu dr data
- File transaksi, berisi detail mengenai transaksi individual dr golongan yg
sama

b. Metode database (alternatif utama dr metode file tradisional)
Didasarkan pada penciptaan dan pemeliharaan dari file akses langsung umum
tunggal untuk semua aplikasi dengan menggunakan data biasa.

Metode Pemrosesan Data: mengacu padacara data dimasukan ke dalam dan di proses
oleh komputer.
3 metode yg digunakan:
Pemasukan batch/pemrosesan batch
Data diakumulasikan menurut golongan transaksi seperti
penjualan/penerimaan kas dan keduanya diproses dalam batch.

Pemasukan online/pemrosesan batch
Transaksi individual dimasukan secara langsung ke dalam komputer melalui
terminal ketika transaksi terjadi

Pemasukan online/pemrosesan online
File master diperbaharui dengan pemasukan data, log transaksi yg diproduksi
terdiri dr catatan kronologis dr semua transaksi.

Manfaat dari sistem TI
1. Menyediakan konsistensi yg lebih besar dalam pemrosesan dr pada sistem manual
2. Laporan akuntansi yg dihasilkan oleh komputer dengan tepat menyediakan
manajemen cara yg lebih efektif untuk menganalisa, mengawasi, review operasi
perusahaan

Resiko dari Sistem TI
1. Menghasilkan jejak transaksi untuk audir hanya selama periode waktu yg singkat
2. Sering terdapat sedikit bukti dokumentasi dr kinerja prosedur pengendalian dalam
sistem komputer
3. File dan catatan dalam sistem TI biasanya dalam bentuk yg dapat di baca oleh mesin
tetapi tidak dapat dibaca tanpa komputer
4. Berkurangnya keterlibatan manusia dalam pemrosesan komputer dapat mengaburkan
kekeliruan
5. Sistem TI lebih rentan terhadap bencana fisik

Bab 13 Sampling Audit Dalam Pengujian Substantif
Fungsi dari Rencana Sampling untuk Pengujian Substantif:
1. Memperoleh bukti bahwa saldo akun tidak mengandung salah saji yg material
2. Membuat estimasi independen mengenai jumlah tertentu

Resiko Sampling yg Berkaitan dengan Pengujian Substantif:
Resiko Kesalahan Penerimaan (resiko beta)
Resiko bahwa sampel yg mendukung kesimpulan bahwa saldo akun yg dicatat tidak
salah saji secara material ketika sebenarnya saldo akun tsb salah saji secara material.

Resiko Kesalahan Penolakan (resiko alfa)
Resiko bahwa sampel yg mendukung kesimpulan bahwa saldo akun yg dicatat adalah
salah saji secara material ketika sebenarnya saldo akun tsb tidak salah saji secara
material.

Resiko kesalahan penerimaan berkaitan dengan efektifitas audit dan resiko kesalahan
penolakan berkaitan dengan efisiensi audit.

Resiko kesalahan penerimaan berhubungan dengan resiko deteksi yg berkaitan dnegan
pengujian substantif terinci yg spesifik yg diterapkan pada pemilihan item sampel.
Dapat di tentukan secara kuantitatif dengan model resiko audit TD
TD = AR/(IR x CR x AP)

2 Pendekatan Sampling Statistik:
1. Sampling PPS (probability proportional to size)
Pendekatan yg menggunakan teori sampling atribut untuk membuat kesimpulan
dalam jumlah nominal, bukan dalam tingkat penyimpangan.
Bisa digunakan dalam pengujian substantif atas transaksi dan saldo.

Langkah-langkah dalam rencana sampling PPS:
Menentukan Tujuan Rencana
Untuk memperoleh bukti saldo akun yg dicatat tidak salah saji secara material.
Tujuannya: memperoleh bukti dr prosedur konfirmasi atas sampel piutang.

Menetapkan populasi dan unit sampling
Populasi: terdiri dr kelompok transaksi/saldo akun yg di uji
Unit Sampling: dalam samoling PPS adalah dollar dan populasinya (jumlah
dollarnya).
Unit Sampling Logis: item (akun, dokumen, dll)

Menentukan ukuran sampel
n = (BV x RF)/TM (AM x EF)

Faktor Rliabilitas pertimbangan auditor untuk Resiko Kesalahan Penerimaan:
o Tingkat resiko audit yg dapat diterima auditor mungkin salah material
dalam akun tsb yg dapat diterima auditor ada salah saji material dalam
akun tsb yg tidak terdeteksi.
o Penilaian tingkat resiko pengendalian
o Hasil pengujian rincian dan prosedur analitis

Salah Saji yg Dapat Di Toleransi:
Salah saji maksimum yg terjadi dalam sebuah akun sebelum salah saji tsb
dianggap material.

Salah saji yg diantisipasi:
Berhubungan terbalik dengan resiko kesalahan penolakan dan berhubungan
langsung dengan ukuran sampel.

Faktor Ekspansi:
Diperlukan hanya saat salah saji di antisipasi. Menggunakan resiko kesalahan
penerimaan yg dispesifikasi. Semakin kecil resiko penerimaan yg
dispesifikasi, semakin besar EF nya.

Menentukan metode pemilihan sampel
Metode Sistematis: memisahkan total populasi dalam dollar ke interval yg
sebanding dengan dollar. Unit logis dipilih secara sistematis dr tiap interval.

Melaksanakan rencana sampling
Auditor menggunakan prosedur auditing yg sesuai untuk menentukan nilai
audit setiap unit logis yg ada dalam sampel.

Mengevaluasi hasil sampling
Auditor memperhitungkan batas atas salah saji dr data sampel dan
membandingkan dengan salah saji yg dapat ditoleransi dalam perancangan
sampel. Jika UML lebih kecil dr atau sama dengan salah saji yg dapat
ditoleransi maka nilai buku populasi tidak dicatat melebihi TM pada resiko
kesalahan penerimaan yg di tetapkan

Cadangan resiko sampling, terdiri dr 1 komponen yaitu ketepatan dasar.

Cadangan inkremental untuk resiko sampling:
Auditor harus mempertimbangkan secara terpisah setiap unit logis dengan
nilai buku yg kurang dr interval samplingnya dan dengan nilai buku yg
sama/lebih besar dr interval samplingnya.

Langkah-langkahnya:
o Menentukan perubahan inkremental
o Mengurutkan proyeksi salah saji untuk unit logis yg kurang dr interval
sampling
o Mengalikan proyeksi salah saji yg sudah diurutkan dengan faktor yg
sesuai dan menjumlah hasilnya.

Pertimbangan Aspek Kualitatif Salah Saji Moneter:
a. Perbedaan dalam prinsip/penerapan
b. Kesalahan/ketidaksesuaian dengan ketentuan

2. Sampling Variabel Klasik (classical variable sampling)




Perbedaan utama kedua pendekatan tsb adalah bahwa sampling PPS di dasarkan pada teori
sampling atribut sedangkan sampling variabel klasik didasarkan pada teori distribusi normal.

Anda mungkin juga menyukai