Anda di halaman 1dari 5

Kulit kelinci yang segar merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembang

biaknya mikroorganisme, oleh karena itu setelah ditanggalkan dari hewannya harus segera
dilakukan penyamakan, namun popularitas daging kelinci yang masih rendah dan skala
pemeliharaan yang kecil menyebabkan masih rendahnya ketersediaan kulit kelinci dan sulitnya
kontinuitas penyediaannya, sehingga tidak ekonomis untuk segera melakukan proses
penyamakan. Oleh karena itu sebelumnya harus dilakukakan proses pengawetan. Sebelum
dilakukan proses pengawetan, kulit harus dalam keadaan bersih dari kotoran, feses, urine, darah,
tanah dan sebagainya yang dapat mempercepat proses pembusukan. Proses ini harus segera
dilakukan paling lama lima jam setelah proses pengulitan dengan cara pengeringan atau dengan
pemberian bahan pengawet. Penyamakan adalah rangkaian proses pengerjaan pada kulit dengan
zat-zat atau bahan-bahan penyamak, sehingga kulit yang semula labil terhadap pengaruh kimia,
fisis, dan biologis menjadi stabil pada tingkat tertentu Proses penyamakan kulit kelinci pada
umumnya sama dengan penyamakan kulit dari hewan lainnya lainnya, tetapi untuk mendapatkan
nilai ekonomis yang tinggi sebaiknya hanya dilakukan pada kelinci khusus penghasil fur, yaitu
Rex dan Satin.Terdapat tiga kelas fur, yaitu kualitas 1 (pluckers dan shearears), kualitas 2 (long
hairs) dan kualitas 3 (hatters) (CHEEKE et al., 1987) Menurut YURMIATY (1991), bahwa
biaya yang dikeluarkan untuk penyamakan fur, yaitu Rp. 4.712 sampai Rp. 5.9777 untuk setiap
lembar kulit kelinci Rex.
Kulit bulu memerlukan perhatian yang lebih daripada kulit lain karena kerusakan sedikit
saja dapat menyebabkan lepasnya bulu dan menjadi botak. Pisau pengulitan harus berbentuk
bundar dan ujungnya harus tumpul. Pengulitan harus segera dilakukan, sebaiknya sewaktu
hewan masih hangat. Pemompaan ialah cara yang paling baik karena caraini menimbulkan
kerusakan yang terkecil terhadap bulu. (Judoamijojo,1981)
Hasil yang baik dapat diperoleh bila bulu sampai di pabrik penyamakan dalam keadaan
segar dan dalam waktu empat jam setelah pengulitan. Tetapi pada umumya keadaan tersebut
hampir tidak pernah tercapai maka digunakan bahan pengawet sementara, seperti penggaraman.
Pertama-tama kulit harus dicuci bersih untuk membuang semua darah, kemudian dihamparkan di
meja atau lantai dan taburi garam hingga merata. Bagian perut dilipat kedalam hingga saling
bertemu. Kulit lalu digulung dengan permukaan bulu keluar dan digulung dari kepala sampai
ekor dan diikat dengan baik agar keamanannya terjamin. Kulit yang diawetkan dengan cara ini
mampu bertahan 10 hari(Judoamijojo,1981)
Tujuan penyamakan ialah untuk memperoleh kulit bulu yang indah dan menarik.
Kerusakan yang dapat menyebabkan botak botak harus dihindari. Penyamakan kulit bulu tidak
dilakukan pengapuran karena dapat merusak epidermis dan bulu. (Judoamijojo,1981)
Perandaman harus berhati hati dan dilakukan secepat mungkin untuk menghindari
kemungkinan rontoknya rambut. Di sini hanya digunakan air dingin. Periode perandaman bagi
kulir bulu yang dikeringkan udara, lebih lama daripada kulit yang digarami kering atau basah.
Maka dapat ditambahkan garam 3-5% didalam airnya untuk mempercepat periode perendaman.
Kulit yang besar dapat diinjak injak dengan kaki, diangkat dan digerut daging dengan pisau kulit
tumpul. Untuk kulit bulu kecil, larutan garam hanya dinerikan pada muka daging saja untuk
menghindari kerusakan bulu. (Judoamijojo,1981)
Pemikelan untuk kulit bulu berbeda dengan kulit tanpa bulu, karena kulit bulu tidak
dicelupkan dalam cairan tetapi hanya dilaburkan pada bagian atau permukaan daging kulit yang
dihamparkan pada bingkai atau di ayas meja. Konsentrasi pemikelan adalan 3,6 kg garam dan
0,3 kg asam sulfat pada 40 liter air. (Judoamijojo,1981)
Menurut Judoamijojo(1981), macam penyamakan kulit bulu yaitu menggunakan chrom
dan menggunakan bahan penyamak nabati dan sintetik.
PENYAMAKAN DENGAN CHROM
Dibandingkan dengan penyamakan alum, penyamakan chrom dapat diperoleh kulit bulu
yang tahan lama, tahan kelembaban serta panas. Sifat kulit bulu chrom ternyata sangat
menguntungkan, khusus bagi proses pewarnaan. Kini telah dimungkinkan mewarnai segala
macam kulit bulubdengan terlebih dahulu dikerjakan dengan chrom. Bahan penyamak chrom yan
digunakan untuk kulit biasa antara lain chrom alum dan garam chrom yang dapat juga digunakan
untuk kulit bulu. Metode penyamakn chrom yang disarankan yaitu.
a. Aplikasi cairan chrom hanya pada muka daging
b. Pencelupan ke dalam cairan chrom dalam tong
(Judoamijojo,1981)
Aplikasi cairan chrom pada permukaan daging hanya dilakukan jika kulit yang akan
diproses tidak banyak. Makan konsentrasi cairan chrom menjadi 30 sampai 40 gram chrom dan
60 sampai 100 gram garam biasa dalam tiap 100 liter air.Konsentrasi bahan penyamak yang
digunakan dalam tong harus 4 sampai 6 gram garam chrom dan 30 sampai 40 gram garam biasa
tiap 1 liter air. Adapun perbandingan antara kulit dan cairan adalan 1 : 10. (Judoamijojo,1981)
PENYAMAKAN DENGAN BAHAN PENYAMAK NABATI DAN SINTETIK
Penyamakan nabati kulit bulu jika dilakukan tersendiri, tidak akan menghasilkan kulit yang
sama kualitasnya dengan yang disamak dengan bahan penyamak lain. Hasil kulit samak nabati
biasanya mempunyai cirri-ciri agak keras, tidak berdaya lentur dan tidak supel. Karena itu bahan
penyamak nabati jarang dipakai untuk menyamak kulit bulu. Sifat lain yang kurang disukai ialah
bahan penyamak nabati akan memberi sedikit warna pada kulit dan untuk pwarnaan lain dapat
dilakukn dengan suhu rendah saja. (Judoamijojo,1981)
Tetapi hasil ayng baik dapat diperoleh dengan menggunakan kombinasi bahan penyamak
nabaati dan sintetik. Bila yang diinginkan ialah kulit terang, maka lebih baik menggunakan
bahan penyamakk sintetik saja. Kulit harus dipikel terlabih dahulu dalam larutan asam sulfat dan
garam dapur, dilanjutkan dengan penrisan sentriffugal dan akhirnya harus disamak dalm larutan
penyamak sintetik 30
o
40
o
Bkr. Bahan penyamak sintetik digunakan dengan cara sebagai
berikut :
a. Sebagai penyamak pendahuluan sebalum penyamakan dengan bahan penyamak nabati;
atau
b. Tercampur dengan bahan penyamak nabati pada waktu proses penyamakan; atau
(Judoamijojo,1981)
Bahan penyamak sintetik diperlikan untuk kulit yang telah dipekel kira-kira 4 5 % dari
bobot kulit bulu pikel yang telah ditiriskan. Bahan penyamak sintetik yang belum dilarutkan
dibubuhkan langsung pada kulit didalam drum, lalu diputar selama 30 menir. Waktu tersebut
dianggap cukup sampai tannin diambil seluruhnya oleh substansi kulit. Kulit bulu selanjutnya
dicuci bersih dengan air untuk membersihkan garam dan asam berlebih. (Judoamijojo,1981)


Peminyakan atau perlemakan liker
Jika waktu penyamakan kulit bulu tidak diberi minyak yang disatukan denganpasta alum,
maka kulit bulu tersebut perludilakukan perlemakan liker. Proses ini dilakukan setelah
penyamakn chrom, netralisai, pencucian dan penirisan. Tujuan peminyakan ialah untuk restorasi
lemak alami yang telah hilang waktu proses sebelumnya dengan harapan memperoleh sifat supel
dan lemas kembali. Bahan lemak yang cocok intuk keperluan ini umumnya berbantuk cairan
seperti minyak ikan, minyak mineral, minyak nabati atau juga glyserin yang dicampur minyak.
(Judoamijojo,1981)
Sebagian besar minyak tersulfon kini telah menggantikan minyak-minyak konvensional
karena minyak tersulfon dapat lebih mudah meresap ke dalam jaringan kulit serta menyebar
labih merata. Emulsinya dapat lebih stabil dalam air sadah. (Judoamijojo,1981)
Perlemakan liker biasa dilakukan pada muka kulitnya dan harus dijaga agar tidak mengenai
rambutnya. Setelah perlemakan liker, kulit bulu ditumpuk dalam keadaan terlipat sepanjang
tulang punggung dan permukaan daging ke dalamselama beberapa jam. Kemudian kulit bulu
digantung pada tonggak dalam ruangan teduh cukup ventilasi, dimana suhunya tidak lebih dari
30
o
C. Kulit tersebut jangan dibiarkan terlalu kering karena masinh memrlkan proses lebih lanjut.
Sebaiknya pada waktu dikeringkan sesekali dilakukan peregangan(Judoamijojo,1981)
Perlakuan lebih lanjut adalah pembersihan kulit bulu dari segala kotoran, terutama pada
wol atau rambutnya menggunakan serbuk gergaji. Kulit dimasukkan atau dikuburkan ke dalam
serbuk gergajo lembab selama 24 jam. Serbuk gergaji lembab akan mengabsorbsi kotoran
diantara rambut dan memisahkan rambutnya. Proses selanjutnya ialah pengetunan dengan pisau
ketun yang berbantuk setengah bulan atau dengan alat pengetun lutut. Dengan cara ini serat-
serat kulit akan terpisah satu sama lain sehingga akan menjadi supel(Judoamijojo,1981)





DAFTAR PUSTAKA
Judoamidjojo, R Muljono.1981. Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan. Bandung :
Angkasa
Suradi, Kusmajadi.2009. Potensi Dan Peluang Teknologi Pengolahan Produk Kelinci.
http://etd.eprints.ums.ac.id/2233/1/K100040006.pdf . 1 Oktober 2011