Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Makalah ini mencoba untuk memberikan pengenalan praktis mengenai


pengolahan kelapa sawit skala kecil dan menengah kepada berbagai pihak yang
berkepentingan (stakeholder) dalam hal ini. Dalam tulisan ini terdapat kerangka kerja
secara umum mengenai topik yang dibahas dengan ringkasan komponen-komponen
yang umumnya terdapat pada proses pengolahan kelapa sawit.
Dalam lampiran terdapat referensi-referensi yang dapat dijadikan sumber
acuan bagi individu-individu maupun organisasi. Referensi dalam tulisan ini
memberikan tambahan pengetahuan sebagai dukungan bagi mereka yang sedang
mendesain atau mendirikan pabrik pengolahan kelapa sawit. Referensi dalam tulisan
ini bisa sangat membantu dalam berbagai macam area, termasuk: Bantuan Teknis
dalam hal desain dan pembangunan. Proses seleksi dan pencaraian alat-alat yang
sesuai dan bahan-bahan untuk pembangunan. Pembuatan dan instalasi peralatan, dan
sumber-sumber potential untuk pembiayaan.
Tulisan ini juga berusaha mengidentifikasi lokasi-lokasi potensial untuk
pabrik pengolahan kelapa sawit skala kecil, pabrik-pabrik pengolahan bahan bakar
nabati dan percontohan pembangkit listrik. Sebagai penutup, penulis berharap bahwa
Makalah Proses Pengolahan Kelapa Sawit Skala Kecil untuk Produksi Bahan Baku
Bahan Bakar Nabati ini akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang tertarik untuk
menggeluti industri kelapa sawit. Kami yakin sektor ini memiliki banyak potensi
untuk menciptakan keuntungan-keuntungan baik secara ekonomi, lingkungan dan
sosial. Dengan demikian akan mendorong perkembangan ke arah yang lebih baik
disegala bidang. Namun demikian, pandangan-pandangan dan informasi yang
dipaparkan dalam tulisan ini hanyalah semata pendapat pribadi penulis.




BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Di Indonesia tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang banyak
dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan besar, pemerintah, dan swasta. Bahkan
masyarakat juga banyak bertanam kelapa sawit secara kecil-kecilan. Minyak sawit
berasal dari buah pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis), suatu spesies tropis yang
berasal dari Afrika Barat, namun kini tumbuh sebagai hibrida di banyak belahan
dunia, termasuk Asia Tenggara dan Amerika Tengah. Minyak sawit menjadi minyak
pangan yang paling banyak diperdagangkan secara internasional pada tahun 2007.
Permintaan dunia akan minyak sawit telah melonjak dalam dua dasawarsa terakhir,
pertama karena penggunaannya dalam bahan makanan, sabun, dan belakangan ini
sebagai bahan baku mentah bahan bakar nabati. Buah sawit adalah sumber bahan
baku CPO (Crude Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil). CPO dihasilkan dari daging
buah sawit, sedangkan PKO dihasilkan dari inti buahnya.
Sebuah alternatif sumber bahan baku potensial yang cukup banyak tersedia
telah muncul, yaitu produk samping biomassa non-kelas pangan buah kelapa sawit
dan produksi minyak sawit. Ini bukanlah sekedar menggunakan minyak dari buah
kelapa sawit, melainkan mengkonversi seluruh biomassa yang diambil dari
perkebunan kelapa sawit menjadi sumber energi terbarukan. Dengan menggunakan
biomassa dari perkebunan maupun sisa pengolahan dari produksi minyak sawit (serat,
kulit, efluen pabrik minyak sawit, minyak sisa), bioenergi dari perkebunan kelapa
sawit dapat memberikan efek mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tandan buah segar kelapa sawit harus diolah dalam waktu 24-48 jam sejak
dipanen agar tidak mengalami penurunan kualiatas. Jika pengolahan tidak berjalan
secara tepat waktu, maka produknya tidak lagi mememuhi persyaratan kelas pangan
yaitu kandungan Asam Lemak Bebas (FFA) sekitar 5-6%. Bila dibandingkan dengan
Malaysia, mengingat cepatnya perluasan lahan kelapa sawit di Indonesia dalam dua
dasawarsa terakhir, investasi dalam infrastruktur industri khususnya pabrik minyak
telah mengalami kesulitan mengimbangi produksi tandan buah segar. Hal ini terutama
terjadi sementara penanaman diperluas jauh ke arah timur dari Sumatera ke wilayah-
wilayah berlogistik kurang seperti Kalimatan, Sulawesi dan Papua. Jaringan jalannya
buruk dan di beberapa daerah terpencil sarana angkutan untuk pengiriman tandan
buah bersifat terbatas atau melalui sungai. Sebagai akibat langsungnya, tingkat
insiden tinggi, terutama yang tidak dilaporkan secara resmi, atau tandan buah segar
yang tidak terpanen tepat waktu dan dikirim ke pabrik dalam waktu 24-48 jam agar
kadar FFA-nya tidak naik.
Di samping itu, kapasitas pabrik kadang-kadang tidak cukup untuk melayani
produksi petani kecil, karena prioritas diberikan kepada produksi dari perkebunan
yang umumnya merupakan pemilik pabrik tersebut. Dengan perkebunan-perkebunan
ini, selama musim puncak tertentu yang ditandai dengan hujan yang sangat lebat,
evakuasi seluruh kelebihan produksi tandan buah segar menjadi tidak mungkin dan
tandan buah segar tersebut praktis dibuang dan dikubur. Masalah ini telah
mengakibatkan munculnya pabrik skala kecil yang kadang-kadang beroperasi di
kapal tunda, yang memproses tandan buah sawit yang umurnya kurang dari sehari,
sehingga mengakibatkan kadar Minyak Sawit Mentah Asam Lemak Bebas yang
tinggi. Batas waktu praktis untuk menghancurkan tandan buah adalah sekitar dua
minggu sebelum mulai membusuk karena terkena jamur dan terurai menjadi massa
basah yang tidak layak diambil minyaknya. Oleh karena itu, tandan buah segar
dianggap sebagai hasil limbah dari perkebunan kelapa sawit yang tidak sampai masuk
dalam rantai pengolahan makanan. Di samping itu, buah brondol yang terkumpul di
titik pengumpulan rantai pasokan seringkali dibuang atau tidak terbeli. Selain
HFCPO (High Free Faty Acid Crude Palm Oil)/ CPO asam tinggi, masih ada sumber-
sumber minyak limbah lain dari proses produksi minyak sawit pada fasa pabrikasi.
Proses ini menghasilkan bubur dan minyak efluen serta minyak limbah tangki
penyimpanan. Produk-produk ini sudah mulai dikumpulkan dan kadang-kadang
dijual di pasar dalam negeri dan internasional kepada pembeli bahan baku bahan
bakar nabati berupa sabun, steric acid, deterjen dan kadang-kadang bahan baku
nabati. Minyak limbah ini biasanya disimpan dalam drum bekas dan telah memiliki
kadar FAA yang sangat tinggi serta tingkat FFA dan kelembaban yang variatif serta
kadar racun.
Beberapa tahun terakhir ini, amanat untuk mengembangkan bahan bakar
nabati telah meningkat di seluruh dunia dan di Indonesia. Produksi minyak sawit dan
jarak di Indonesia untuk biodiesel dan singkong dan tebu untuk bioethanol
mengalami kemajuan yang tidak stabil, dan menghadapi kritik karena menggunakan
bahan pangan sebagai bahan bakar. Sebuah alternative sumber bahan baku yang
memiliki ketersediaan yang signifikan telah muncul, yaitu produk samping buah
kelapa sawit dan produksi minyak sawit yang bukan kelas pangan. Produk samping
ini relatif berlimpah, dan berpotensi memberikan sumbangan bagi produksi bahan
bakar nabati yang berkelanjutan untuk kebutuhan energi rumah tangga, bahan bakar
industri pedesaan, dan pembangkit tenaga listrik. Pembangkit ini merupakan
penggerak bagi perluasan industri minyak sawit.
Dalam setiap proses industri, baik secara langsung maupun tidak langsung
tentu akan menghasilkan limbah sebagai hasil samping. Oleh karena itu faktor ini
tentunya juga tidak boleh diabaikan, semaksimal mungkin limbah yang dihasilkan
dapat dioleh dan dimanfaatkan baik bagi industri itu sendiri maupun bagi lingkungan
sekitar.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Sebagai bahan kajian mahasiswa mengenai panen dan penanganan pasca
panen pada tanaman kelapa sawit.
2. Sebagai cara untuk mempelajari berbagai cara panen dan penanganan pasca
panen pada tanaman kelapa sawit.
3. Sebagai syarat untuk melaksanakan tugas individu dari dosen.


1.2 Perumusan Masalah
Secara umum situasi di Indonesia saat ini adalah masih kurangnya sarana
pengolahan buah sawit sehingga bila panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit
tiba, para petani kerap kesulitan. Banyak tandan yang membusuk sehingga harganya
turun drastis sampai separuh dari harga tandan segar. Pabrik lebih mementingkan
TBS dari perkebunan inti, daripada perkebunan rakyat. Dengan situasi tersebut di
atas, terdapat satu potensi besar yang sangat layak untuk dikembangkan sebagai
bahan bakar nabati atupun bahan baku untuk bahan bakar nabati. Karena khususnya
buah brondolan dan buah restan yang memiliki kadar minyak tinggi tidak layak
diolah sebagi bahan makanan atau disebut juga Non-food grade. Berangkat dari
peluang itulah, penulis membuat satu pilot projek yang nantinya dapat direplikasi
oleh yang lainnya, sehinga akan terbentuk unit-unit lainnya sebagai produsen bahan
bakar nabati yang dapat memasok pangsa pasar domestik maupun internasional, yang
berujung pada peningkatan ekonomi masyarakat dengan membuka peluang usaha dan
lapangan tenaga kerja.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Tanaman Kelapa Sawit
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga
sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12 m, dan merupakan kelapa sawit
tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika. Kelapa sawit didatangkan ke
Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya
ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan
sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat itu
permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri semakin meningkat di
pertengahan abad ke-19. Hal itu kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa
sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenal jenis sawit
"Deli Dura".
Pada awalnya bangsa Portugis mengenal tanaman kelapa sawit saat
melakukan perjalanan ke Pantai Gading (Ghana). Mereka heran ketika menyaksikan
penduduk setempat menggunakannya untuk memasak dan sebagai bahan kecantikan.
Tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain di Asia sekitar
tahun 1848. Daerah pertama di Indonesia yang diketahui sangat cocok untuk
membudidayakan tanaman kelapa sawit ini adalah Sumatera Utara. Perkebunan
kelapa sawit di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa
sawit. Di pulau Sumatera saja hingga tahun 1920 sudah puluhan perusahaan
perkebunan yang menanam kelapa sawit. Masa suram bagi tanaman kelapa sawit
sempat terjadi pada waktu penjajahan Jepang, yang mengakibatkan kebun kelapa
sawit diganti dengan tanaman pangan. Hal itu menyebabkan pabrik-pabrik
pengolahan tidak lagi berproduksi. Potensi areal perkebunan Indonesia masih terbuka
luas untuk tanaman kelapa sawit. Upaya perluasan perkebunan komoditas kelapa
sawit dilaksanakan dengan dengan membangun perkebunan-perkebunan baru di
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

2.2 Perdagangan Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan minyak nabati yang penting selain kelapa, kacang-
kacangan, jagung, dan bunga matahari. Komoditas kelapa sawit merupakan
komoditas perdagangan yang menjanjikan. Minyak kelapa sawit mampu
menghasilkan berbagai hasil industri hilir yang dibutuhkan manusia, seperti minyak
goreng, mentega, sabun, dan kosmetik. Minyak kelapa sawit yang mengandung asam
lemak jenuh dan tidak jenuh dalam proses selanjutnya akan menghasilkan
fraksi olein, stearin, dan fatty acid. Olein dipergunakan untuk pembuatan minyak
goreng, stearin digunakan untuk pembuatan mentega, sedangkan fatty acid dalam
pengembangannya dapat digunakan sebagai bahan dasar oleokimia.
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi yang sangat menguntungkan,
sehingga perluasan areal sangat maju pesat. Industri pengolahan kelapa sawit di
Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejumlah pabrik dengan kapasitas produksi
minyak sawit CPO (Crude Palm Oil) tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Pemasaran produk kelapa sawit pada perkebunan besar negara dilakukan secara
bersama melalui kantor pemasaran yang sudah ditunjuk bersama, sedangkan untuk
perkebunan besar swasta, pemasaran dilakukan oleh masing-masing perusahaan. Pada
umumnya perusahaan besar, baik negara maupun swasta menjual produk kelapa sawit
dalam bentuk olahan, yaitu minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit
(PKO). Penjualan langsung kepada eksportir ataupun ke pedagang atau industri dalam
negeri. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat yang hasil produksinya
terbatas, penjualan sulit dilakukan apabila ingin menjualnya langsung ke industri
pengolah. Oleh karena itu, petani harus menjualnya melalui pedagang tingkat desa
atau melalui KUD, kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga ke industri
pengolah. Penjangnya rantai pemasaran hasil perkebunan rakyat ini menyebabkan
tingkat keuntungan yang diperoleh para petani relatif kecil.

2.3 Prospek Budidaya Kelapa Sawit
Permintaan pasar yang cenderung terus meningkat menyebabkan harga
minyak sawit dalam negeri pun terus menunjukkan peningkatan, walaupun perlu
diperhatikan bahwa harga minyak sawit dalam negeri sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, terutama harga minyak goreng dari bahan lain di dunia.
Produksi minyak kelapa sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri
pangan, terutama industri minyak goreng dan industri nonpangan seperti industri
kosmetik dan farmasi. Potensi pasar yang lebih besar dipegang oleh industri minyak
goreng. Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk yang
membutuhkan minyak goreng dalam proses memasak bahan pangannya. Komoditas
kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat menjanjikan. Pada masa
depan, minyak sawit diyakini tidak hanya mampu menghasilkan berbagai hasil
industri hilir yang dibutuhkan manusia seperti minyak goreng, mentega, sabun,
kosmetik, tetapi juga menjadi subtitusi bahan bakar minyak yang saat ini sebagian
besar dipenuhi dengan minyak bumi.

2.1 Produk Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya
Hasil utama tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit atau yang sering
dikenal dengan nama CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit. Minyak sawit dapat
dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang
cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku
adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi. Bahkan minyak sawit telah
dikembangkan sebagai sakah satu bahan bakar.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keuntungan
dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Keunggulan tersebut antara lain:
1. Menjadi sumber minyak nabati termurah karena efisiensi minyak kelapa sawit
ini tinggi;
2. Dibanding minyak lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai produktivitas yang
tinggi;
3. Dibanding minyak nabati lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai manfaat
yang lebih luas, baik pada industri pangan, maupun pada industri non pangan;
4. Kandungan gizi minyak kelapa sawit lebih unggul daripada minyak nabati
lainnya.

2.2 Teknik Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
Syarat Tumbuh
Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan
kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat
berproduksi secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya,
dan penerapan teknologi.

a. Iklim
Curah hujan dan kelembaban
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah
yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per tahun
yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal untuk bertanam
kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas permukaan
laut. Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan
kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya pun akan rendah.

Penyinaran matahari
Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per
hari.pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena berkat iklim
yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup.
Umumnya turun pada sore atau malam hari.

Suhu
Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit.
Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-
27
0
C, yang menghasilkan banyak tandan. Variasi suhu yang baik jangan terlalu
tinggi. Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin
dapat membuat tandan bunga mengalami merata sepanjang tahun.





b. Tanah
Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada
karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis
tanah yang baik untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol, podsolik merah
kuning, hidromorf kelabu, aluvial, dan organosol/gambut tipis.
Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu
sifat-sifat fisis dan kimia tanah.

Sifat fisis tanah
Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang datar atau sedikit
miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur,
permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah.
Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup dan
hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang kurang cocok
adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam menentukan batas-batas
yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di antara tipe-tipe tanah memang
relatif sulit.

Sifat kimia tanah
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH
optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya dijumpai pada
daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah organosol atau gambut
mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan bahan organik
yang belum terhumifikasi lebih lanjut memiliki pH rendah.

c. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman merupakan hal yang sangat penting dalam usaha
budidaya tanaman karena menentukan masa perkembangan dan pertumbuhan
tanaman. Perawatan tidak hanya ditujukan pada tanamannya, tetapi juga pada media
tanah pada lahan pertanaman tersebut. Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi
penyulaman, pembuatan piringan, penanaman tanaman sela, pengendalian gulma,
pemangkasan, pemupukan, dan penyerbukan buatan.
Secara umum hasil pengolahan kelapa sawit dibedakan kedalam 3 kategori,
yang masing-masing ialah :





























BAB III
METODE PENGOLAHAN

3.1 Bahan Baku
Buah sawit merupakan buah yang paling produktif dalam produksi minyak
sayur di dunia. Produksi minyak per satuan luas lahan dari kelapa sawit yang
dipelihara dengan baik jauh lebih besar dari produksi minyak dari rapeseed dan
kedelai yang ditanam secara komersial. Kondisi ini menguntungkan bagi minyak
sawit sebagai alternatif energi bahan bakar nabati terbarukan utama dalam waktu
dekat, sampai teknologi selulosa telah mengalami kemajuan hingga tingkat yang
dapat dioperasikan. Buah sawit yang dikenal dengan bermacam jenis, mempunyai
pola panen yang kita kenal sebagai tingkat kematangan. Kematangan buah sangat
menentukan hasil rendemen minyak yang dihasilkan. Berbagai standar baku mutu
buah tentunya akan menjadi tolak ukur dalam proses pengolahan minyak kelapa
sawit.
Buah yang telah dipanen secepatnya diidstribusikan ke pabrik pengolahan
agar tidak teroksidasi oleh enzim dan udara yang meningkatkan nilai keasaman (salah
satu parameter produk). Sistem distribusi, pola panen dan tidak tersedianya kapasitas
pabrik pengolahan yang memadai mengakibatkan terjadinya buah restant (waste fruit)
dan buah gugur (berondolan).
Pengembangan kelapa sawit untuk produksi bahan baku bahan bakar nabati
ini lebih ditekankan dalam hal pemanfaatan buah restan dan buah berondolan yang
kualitasnya tidak memenuhi standar bahan baku CPO standar bahan pangan. Buah
sawit restan dan berondolan memiliki kandungan Asam lemak bebas lebih dari 6%.
Hal ini akibat dari berlangsungnya proses oksidasi secara alami akibat lamanya buah
diolah di pabrik ataupun logistik dan transportasi yang tidak memadai di lapangan.
Sebagaimana standar pengolahan buah adalah 24-48 jam pasca panen. Dengan
kondisi asam lemak bebas yang tinggi ini tentu tidak memenuhi standar kualitas
pangan yang disyaratkan.
Selain faktor asam lemak bebas yang tinggi, secara kualitas kadar minyak
yang ada pada buah restan dan berondolan tidak jauh berbeda dibanding buah segar
yang diolah untuk bahan pangan, hal ini berbeda jika buah restan dan berondolan
yang ada merupakan buah mentah atau belum memenuhi syarat fisiologis untuk
panen. Tandan Buah Segar (TBS) dengan mutu yang baik akan menghasilkan :
1. Minyak sebanyak 20-25%
2. Inti (kernel) sebanyak 4-6%
3. Cangkang 5-9%
4. Tandan kosong (empty fruit bunch) 20-22%
5. Serat (fiber) 12-14%

Sedangkan Buah Berondolan akan menghasilkan:
1. Minyak sebanyak 30-34%
2. Nut (biji) 15-17%
3. Serat (fiber) 14-30%
4. Sampah 2-10%

Secara matematis, dengan mengolah buah berondolan akan menghasilkan
rendemen minyak yang lebih tinggi. Rendemen yang dihasilkan sangat signifikan,
yakni bisa mencapai 10% lebih tinggi dibanding jika kita mengolah tandan buah
segar (TBS). Hal ini tentu memberikan produksi yang lebih tinggi. Biasanya untuk
harga buah berondolan dilapangan berada dalam kisaran Rp.100,- lebih tinggi dari
harga TBS dan harga CPO Asam Tinggi pada kisaran 75% dari harga CPO standar.
Akan tetapi dengan rendemen 10% lebih tinggi, secara matematis akan menghasilkan
minyak 1,5 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan memproduksi TBS. Dari
aspek penjualan juga akan lebih tinggi sekitar 10-13% dibanding penjualan CPO
standar. Dengan kondisi perkebunan di Indonesia saat ini, dimana banyak buah yang
tidak diproduksi secara tepat waktu akibat dari kurangnya sarana pengolahan serta
proses distribusi yang lama, menjadikan satu potensi pengembangan pabrik yang
berbahan baku berondolan dan buah restan.
Dengan demikian akan dapat menampung buah restan dan berondolan milik
masyarakat dengan harga yang lebih pantas serta peruntukkan produksi yang lebih
terarah. Meningkatkan peluang sumber lowongan pekerjaan, meningkatkan
keterampilan masyarakat dari segi pengetahuan, dan membuka peluang investasi
yang dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

3.2 Teknologi Pengolahan
Selama ini pengolahan CPO kebanyakkan dikuasai oleh para pemodal besar,
karena investasi yang diperlukan untuk mengolah kelapa sawit membutuhkan modal
yang tidak sedikit. Pengolahan kelapa sawit ini dimaksudkan untuk mempopulerkan
prinsip prinsip teknologi tepat guna kepada pemodal kecil menengah, atau koperasi-
koperasi petani sawit yang memiliki modal sakit.


1. CPO (Crude Palm Oil)
CPO setelah melalui proses pemurnian akan menghasilkan minyak kelapa
sawit dan berbagai produk sampingan yang antara lain: margarine, shortening,
Vanaspati (Vegetable ghee), Ice creams, Bakery Fats, Instans Noodle, Sabun dan
Detergent, Cocoa Butter Extender, Chocolate dan Coatings, Specialty Fats, Dry Soap
Mixes, Sugar Confectionary, Biskuit Cream Fats, Filled Milk, Lubrication, Textiles
Oils dan Bio Diesel. Khusus untuk biodiesel, permintaan akan produk ini pada
beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya
kebijaksanaan di beberapa negara Eropa dan Jepang untuk menggunakan renewable
energy.

PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI CPO

Pengolahan buah Kelapa Sawit di awali dengan proses pemanenan Buah
Kelapa Sawit. Untuk memperoleh Hasil produksi (CPO) dengan kualitas yang baik
serta dengan Rendemen minyak yang tinggi, Pemanenan dilakukan berdasarkan
Kriteria Panen (tandan matang panen ) yaitu dapat dilihat dari jumlah berondolan
yang telah jatuh ditanah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh (brondolan) dari
tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari
tandan.

Cara Pemanenan Kelapa Sawit harus dilakukan dengan baik sesuai dengan
standar yang telah ditentukan hal ini bertujuan agar pohon yang telah dipanen tidak
terganggu produktifitasnya atau bahkan lebih meningkat dibandingkan sebelumnya.
Proses pemanenan diawali dengan pemotongan pelepah daun yang menyangga buah,
hal ini bertujuan agar memudahkan dalam proses penurunan buah. Selanjutnya
pelepah tersebut disusun rapi ditengah gawangan dan dipotong menjadi dua bagian,
perlakuan ini dapat meningkatkan unsur hara yang dibutuhkan Tanaman sehingga
diharapkan dapat meningkatkan produksi buah. Kemudian buah yang telah dipanen
dilakukan pemotongan tandan buah dekat pangkal, hal ini dilakukan untuk
mengurangi beban timbangan Kelapa Sawit. Berondolan yang jatuh dikumpulkan
dalam karung dan tandan buah segaar (TBS) selanjutnya di angkut menuju tempat
pengumpulan hasil (TPH) untuk selanjutnya ditimbang dan diangkut menuju pabrik
pengolahan Kelapa Sawit.

Pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) menuju pabrik pengolahan kelapa
sawit dilakukan dengan menggunakan alat transportasi berupa Truk atau Traktor.
Sebelum masuk kedalam Loading Ramp, TBS ditimbang terlebih dahulu.
Penimbangan bertujuan untuk mengetahui berat muatan (TBS) yang diangkut
sehingga memudahkan dalam perhitungan atau pembayaran hasil panen serta
memudahkan untuk proses pengolahan selanjutnya. TBS yang telah ditimbang
kemudian di periksa atau disortir terlebih dahulu tingkat kematangan buah menurut
fraksi fraksinya. Fraksi dengan kualitas yang diinginkan adalah fraksi 2 dan 3 karena
pada fraksi tersebut tingkat rendemen minyak yang dihasilkan maksimum sedangkan
kandungan Asam Lemak Bebas (free fatty acid) minimum.

Proses selanjutnya tandan buah segar yang telah disortasi kemudian diangkut
menggunakan lori menuju tempat perebusan (Sterilizer). Dalam tahap ini terdapat tiga
cara perebusan TBS yaitu Sistem satu puncak (Single Peak), Sistem dua puncak
(double Peak) dan Sistem tiga puncak (Triple Peak). Sistem satu puncak (Single
Peak) adalah sistem perebusan yang mempunyai satu puncak akibat tindakan
pembuangan dan pemasukan uap yang tidak merubah bentuk pola perebusan selama
proses peerebusan satu siklus. Sistem dua puncak adalah jumlah puncak yang
terbentuk selama proses perebusan berjumlah dua puncak akibat tindakan
pembuangan uap dan pemasukan uap kemudian dilanjutkan dengan pemasukan,
penahanan dan pembuangan uap selama perebusan satu siklus. Sedangkan sistem tiga
puncak adalah jumlah puncak yang terbentuk selama perebusan berjumlah tiga
sebagai akibat dari tindakan pemasukan uap, pembuangan uap, dilanjutkan dengan
pemasukan uap, penahanan dan pembuangan uap selama proses perebusan satu
siklus. Perebusan dengan sistem 3 peak ( tiga puncak tekanan). Puncak pertama
tekanan sampai 1,5 Kg/cm2, puncak kedua tekanan sampai 2,0 Kg/cm2 dan puncak
ketiga tekanan sampai 2,8 3,0 Kg/cm2.(Polnep,2003)

Adapun tujuan dari proses perebusan adalah menonaktifkan enzim lipase
yang dapat menstimulir pembekuan freefatty acid dan mempermudah perontokan
buah pada tresher. selain itu proses perebusan juga bertujuan untuk memudahkan
ekstraksi minyak pada proses pengempaan. Perebusan juga dapat mengurangi kadar
air dari inti sehingga mempermudah pelepasan inti dari cangkang.

Tahapan selanjutnya adalah proses pemipilan atau pelepasan buah dari
tandan. Pada proses ini, buah yang telah direbus di angkut dengan dua cara yaitu
pertama, dengan menggunakan Hoisting crane dan di tuang ke dalam thresher melalui
hooper yang berfungsi untuk menampung buah rebus. Cara yang kedua adalah
dengan menggunakan Happering yang kemudian diangkut dengan elevator (Auto
Fedder). Pada proses ini tandan buah segar yang telah direbus kemudian dirontokkan
atau dipisahkan dari janjangnya. Pemipilan dilakukan dengan membanting buah
dalam drum putar dengan kecepatan putaran 23-25 rpm. Buah yang terpisah akan
jatuhmelalui kisi-kisi dan ditampung oleh Fruit elevator dan dibawa dengan
Distributing Conveyor untuk didistribusikan keunit-unit Digester.

Di dalam digester buah diaduk dan dilumat untuk memudahkan daging buah
terpisah dari biji. Digester terdiri dari tabung silinder yang berdiri tegak yang di
dalamnya dipasang pisau-pisau pengaduk sebanyak 6 tingkat yang diikatkan pada
pros dan digerakkan oleh motor listrik. Untuk memudahkan proses pelumatan
diperlukan panas 90-95 C yang diberikan dengan cara menginjeksikan uap 3 kg/cm2
langsung atau melalui mantel. Proses pengadukan/ pelumatan berlangsung selama 30
menit. Setelah massa buah dari proses pengadukan selesai kemudian dimasukan ke
dalam alat pengepresan (screw press).

Pengepresan berfungsi untuk memisahkan minyak kasar (crude oil) dari
daging buah (pericarp). Massa yang keluar dari digester diperas dalam screw press
pada tekanan 50-60 bar dengan menggunakan air pembilas screw press suhu 90-95 C
sebanyak 7 % TBS (maks) dengan hasil minyak kasar (crude oil) yang viscositasnya
tinggi. Dari pengepresan tersebut akan diperoleh minyak kasar dan ampas serta biji.

Minyak kasar (crude oil) yang dihasilkan kemudian disaring menggunakan
Vibrating screen. Penyaringan bertujuan untuk memisahkan beberapa bahan asing
seperti pasir, serabut dan bahan-bahan lain yang masih mengandung minyak dan
dapat dikembalikan ke digester. Vibrating screen terdiri dari 2 tingkat saringan
dengan luas permukaan 2 m2 . Tingkat atas memakai saringan ukuran 20 mesh,
sedangkan tingkat bawah memakai saringan 40 mesh.

Minyak yang telah disaring kemudian ditampung kedalam Crude Oil Tank
(COT). Di dalam COT suhu dipertahankan 90-95C agar kualitas minyak yang
terbentuk tetap baik.
Tahap selanjutnya minyak dimasukkan kedalam Tanki Klarifikasi (Clarifier Tank).
prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam tangki pemisah adalah melakukan
pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran minyak kasar
dapat terpisah dari air. Pada tahapan ini dihasilkan dua jenis bahan yaitu Crude oil
dan Slude . Minyak kasar yang dihasilkan kemudian ditampung sementara kedalam
Oil Tank. Di dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75-80C) dengan tujuan untuk
mengurangi kadar air.

Minyak kemudian dimurnikan dalam Purifier, Di dalam purifier dilakukan
pemurnian untuk mengurangi kadar kotoran dan kadar air yang terdapat pada minyak
berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal, dengan
kecepatan perputarannya 7500 rpm. Kotoran dan air yang memiliki densitas yang
besar akan berada pada bagian yang luar (dinding bowl), sedangkan minyak yang
mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudu-sudu
untuk dialirkan ke vacuum drier. Kotoran dan air yang melekat pada dinding di-
blowdown ke saluran pembuangan untuk dibawa ke Fat Pit.

Slude yang dihasilkan dari Clarifier tank kemudian di alirkan ke dalam
Decanter. Di dalam alat ini terjadi pemisahan antara Light phase, Heavy phase dan
Solid. Light phase yang dihasilkan kemudian akan di alirkan kembali ke dalam crude
oil tank sedangkan Heavy phase akan di tampung dalam bak penampungan (Fat Pit).
Solid atau padatan yang dihasilkan akan diolah menjadi pupuk atau bahan penimbun.

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk
mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak
disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut
akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana
minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke bawah dan
kemudian dialirkan ke storage tank.

Crude Palm Oil yang dihasilkan kemudian dialirkan ke dalam Storage tank
(tangki timbun). Suhu simpan dalam Storage Tank dipertahankan sntara 45-55C. hal
ini bertujuan agar kualitas CPO yang dihasilkan tetap terjamin sampai tiba waktunya
pengiriman.

Pemanfaatan CPO oleh industri dalam negeri digunakan sebagai bahan baku
industri turunan CPO, yaitu industri pangan(antara lain minyak goreng, margarin,
shortening, Cocoa Butter Substitutes, Vegetable Ghee)dan industri non pangan antara
lain oleokimia (fatty acids, fatty alcohol, dan glycerin)dan biodiesel. Peran ekonomi
perkebunan kelapa sawit cukup strategis,seperti: peningkatan ekspor, penyerapan
kesempatan kerja, menekan jumlah penduduk miskin, mendorong pusat pertumbuhan
wilayah, tercukupinya kebutuhan konsumsi dalam negeri,dll.

Menguatnya permintaan CPO sbg bahan baku industri pangan dan
oleochemical, ditambah permintaan sbg bahan baku bahan bakar nabati (biodisel),
semakin menambah kuatnya permintaan terhadap hasil produksi perkebunan kelapa
sawit. Minyak kelapa sawit tersusun atas asam lemak tak jenuh dan asam lemak
jenuh. Minyak kelapa sawit juga mengandung beta karoten atau pro-vitamin A,
antioksidan, dan pro-vitamin E (tokoferol dan tokotrienol) yang sangat diperlukan
dalam proses metabolisme dan untuk kesehatan tubuh manusia.
Produk kelapa sawit dapat dikelompokkan menjadi jenis bahan makanan
(oleofood), bahan non makanan (oleochemical), serta bahan kosmetika dan farmasi.
Minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan pangan
diperoleh melalui proses fraksinasi, rafinasi, dan hidrogenisasi. Umumnya CPO
sebagian besar difraksinasi sehingga menghasilkan fraksi olein (cair) dan fraksi
sterain (padat). Fraksi olein digunakan untuk bahan pangan, sedangkan fraksi sterain
untuk keperluan non pangan. Bahan pangan dengan bahan baku olein antara lain
minyak goreng, mentega (margarine), lemak untuk masak (shortening) bahan pengisi
(adatif), industri makanan ringan, dan sebagainya.
Minyak kelapa sawit sebagai bahan bukan pangan dapat dipakai untuk bahan
industri berat maupun ringan. Pada industri berat antara lain untuk industri
penyamakan kulit agar menjadi lembut dan fleksibel, industri tekstil sebagai minyak
pelumas yang tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi, industri perak sebagai bahan
flotasi pada pemisahan bijih tembaga dan cobalt. Sedangkan pada industri ringan
yaitu bahan baku sabun, deterjen, semir sepatu, lilin, tinta cetak, dan sebagainya.
Dalam industri farmasi dan kosmetik, minyak kelapa sawit dipakai untuk
pembuatan shampo, krim, minyak rambut, sabun cair, lipstik, dan sebagainya.
Penggunaan tersebut disebabkan sifat minyak kelapa sawit yang mudah diabsorbsi
kulit.

2. PKO (Palm Kernel Oil).

PKO juga merupakan bahan baku minyak kelapa sawit yang disebut dengan
istilah minyak Inti Sawit. Selain menghasilkan minyak inti sawit PKO juga
mempunyai produk sampingan yang antara lain: Shortening, Cocoa Butter
Substitute, Specialty Fats, Ice Cream, Coffee Whitener/Cream, Sugar Confectionary,
Biscuit Cream Fats, Filled Mild, Imitation Cream, Sabun dan Detergent, Shampoo
dan Kosmetik.

Palm kernel Oil (PKO) adalah minyak yang dihasilkan dari inti sawit. Proses
awalnya sama seperti pengolahan kelapa sawit menjadi CPO. Pada pengolahan kelapa
sawit menjadi PKO setelah proses pengepresan maka terjadi pemisahan antara
minyak sawit dengan kernel, sabut dan ampasnya.


PROSES PENGOLAHAN KELAPA SAWIT MENJADI PKO

Biji yang masih bercampur dengan Ampas dan serabut kemudian diangkut
menggunakan Cake breaker conveyor yang dipanaskan dengan uap air agar sebagian
kandungan air dapat diperkecil, sehingga Press Cake terurai dan memudahkan proses
pemisahan menuju depericarper. Pada Depericaper terjadi proses pemisahan fibre dan
biji. Pemisahan terjadi akibat perbedaaan berat dan gaya isap blower. Biji tertampung
pada Nut Silo yang dialiri dengan udara panas antara 60 80C selama 18- 24 jam
agar kadar air turun sekitar 21% menjadi4%.

Sebelum biji masuk ke dalam Nut Craker terlebih dahulu diproses di dalam
Nut Grading Drum untuk dapat dipisahkan ukuran besar kecilnya biji yang
disesuaikan dengan fraksi yang telah ditentukan. Nut kemudian dialirkan ke Nut
Craker sebagai alat pemecah. Masa biji pecah dimasukkan dalam Dry Seperator
(Proses pemisahan debu dan cangkang halus) untuk memisahkan cangkang halus, biji
utuh dengan cangkang/inti. Masa cangkang bercampur inti dialirkan masuk ke dalam
Hydro Cyclone untuk memisahkan antara inti dengan cangkang dengan menggunakan
prinsip perbedaan massa. Cara lain untuk memisahkan inti dengan cangkang adalah
dengan menggunakan Hydro clay bath yaitu pemisahan dengan memanfaatkan
lumpur atau tanah liat. Cangkang yang terpisah kemudian digunakan sebagai bahan
bakar boiler.

Inti kemudian dialirkan masuk ke dalam Kernel Drier untuk proses
pengeringan sampai kadar airnya mencapai 7 % dengan tingkat pengeringan 50C,
60C dan 70C dalam waktu 14-16jam. Selanjutnya guna memisahkan kotoran, maka
dialirkan melalui Winnowing Kernel (Kernel Storage), sebelum diangkut dengan truk
ke pabrik pemproses berikutnya.

3. Oleochemicals kelapa sawit.
Dari produk turunan minyak kelapa sawit dalam bentuk oleochemical dapat
dihasilkan Methyl Esters, Plastic, Textile Processing, Metal Processing, Lubricants,
Emulsifiers, Detergent, Glicerine, Cosmetic, Explosives, Pharmaceutical Products
dan Food Protective Coatings.

2.3. Manajemen Panen Kelapa Sawit

Tujuan manajemen budidaya kelapa sawit adalah untuk menghasilkan
produksi kelapa sawit yang maksimal per hektar areal dengan biaya produksi
serendah mungkin, menjaga perkebunan beserta infrastrukturnya dengan
menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan secara sosial dapat
dipertangung-jawabkan, mempertahankan produktivitas tinggi secara
berkesinambungan dalam beberapa generasi pertanaman serta mempertahankan
kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Tahapan akhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit adalah panen tandan buah segar
(TBS) yang menjadi salah satu kunci penentu produktivitas kelapa sawit.
Produktivitas kelapa sawit ditentukan oleh seberapa banyak kandungan minyak yang
diperoleh dan seberapa baik mutu minyak yang dihasilkan. Hasil minyak yang
diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah tata cara
panen kelapa sawit.
Pada makalah ini akan dibahas tentang bagaimana manajemen panen kelapa sawit
agar diperoleh tingkat produktivitas yang tinggi.

2.4. Identifikasi Tanaman Siap Panen

Dalam budidaya kelapa sawit panen merupakan salah satu kegiatan penting
dan merupakan saat-saat yang ditunggu oleh pemilik kebun, karena saat panen adalah
indikator akan dimulainya pengembalian inventasi yang telah ditanamkan dalam
budidaya. Melalui pemanenan yang dikelola dengan baik akan diperoleh produksi
yang tinggi dengan mutu yang baik dan tanaman mampu bertahan dalam umur yang
panjang.
Berbeda dengan tanaman semusim, pemanenan kelapa sawit hanya akan mengambil
bagian yang paling bernilai ekonomi tinggi yaitu tandan buah yang menghasilkan
minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit dan tetap membiarkan tanaman
berproduksi secara terus menerus sampai batas usia ekonomisnya habis. Secara
umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25 tahun, dan dapat berkurang
bergantung dari tingkat pemeliharaan yang dilakukan termasuk cara pemananen.
Pemanen kelapa sawit yang salah akan mengakibatkan rendahnya produksi
dan pendeknya usia ekonomis. Oleh karena itu, pemanenan harus dilakukan dengan
tepat agar tanaman tetap berproduksi baik dan diperoleh mutu yang baik. Selain itu
setelah panen harus segera dilakukan penanganan pasca panen menginggat tandan
buah kelapa sawit akan cepat mengalami penurunan mutu dalam waktu 24 jam
setelah panen. Pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benak pemilik kebun
kepala sawit adalah kapan panen pertama/perdana dilakukan agar segera diperoleh
hasil (baca uang) dan tidak merusak tanaman kelapa sawit. Penentuan panen pertama
secara umum dilakukan berdasarkan umur tanaman dan dikoreksi melalui performa
tanaman. Hal ini bermakna meskipun tanaman telah memiliki umur yang cukup untuk
menghasilkan tandan buah sawit, tetapi bilamana performa tanaman, khususnya
bonggol dan ukuran tandan buah terlaku kecil (kurang ari 3 kg) maka umur pertama
panen di tunda dengan membuang bunga dan bakal buah yang ada. Kelapa Sawit
sudah mulai berbunga, tetapi tandan buah segar yang dihasilkan belum mencapai 3 kg
sehingga tanaman belum dapat dikategorikan sebagai tanaman menghasilkan.
Bilamana performa/penampilan bonggol batang belum cukup kekar tetapi sudah
berbunga, maka pada tanaman tersebut harus diablasi yaitu pembuangan bunga untuk
membuang tandan kecil (kurang dari 3 kg) pada tanaman baru berbuah dan untuk
mendorong pertumbuhan tanaman agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang
seragam. Secara normal kelapa sawit yang tumbuh subur sudah dapat menghasilkan
buah serta siap dipanen pertama pada umur sekitar 3,5 tahun jika dihitung mulai dari
penanaman biji kecambah di pembibitan. Namun jika dihitung mulai penanaman di
lapangan maka tanaman berbuah dan siap panen pada umur 2,5 tahun.

2.4. Identifikasi Tandan Buah Masak

Jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan kelapa sawit bergantung dari
berbagai faktor, dan salah satu faktor terpenting adalah kematangan buah pada saat
dipanen dan penangananya sampai di PKS. Panen harus menghasilkan tandan buah
segar pada kematangan optimal, pemanenan pada tandah buah mentah (belum
optimal) cenderung akan mengakibatkan berkurangnya jumlah minyak yang
dihasilkan, dan sebaliknya pemanenan yang terlalu matang dan penanganan yang
lambat atau busuk akan menghasilkan minyak dengan kandungan Free Fatty Acid
(asam lemak bebas) yang tinggi.Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah
20-22 tandan/tahun. Pada tanaman yang semakin tua produktivitasnya semakin
menurun menjadi 12 14 tandan/tahun. Banyaknya buah yang terdapat dalam satu
tandan tergantung pada faktor genetik, umur, lingkungan dan teknik budidaya.
Jumlah buah pertandan pada tanaman yang cukup tua mencapai 1600 buah. Matang
panen kelapa sawit dapat dilihat secara visual dan secara fisiologi. Secara visual dapat
dilihat dari perubahan warna kulit buah menjadi merah jingga, sedangkan secara
fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang maksimal dan kandungan asam
lemak bebas yang minimal. Pada saat matang tersebut dicirikan pula oleh
membrondolnya buah. Kriteria tandan buah yang masak pada tanaman muda dan
tanaman menghasilkan sedikit berbeda. Pada tanaman muda yang baru pertama kali
dipanen, kriteria matang tandan matang panen berupa 1-2 brondolan per tandan perlu
digunakan mengingat tandan masih kecil dan cepat masak. Standar ini harus
disesuaikan berdasarkan kondisi iklim setempat dan pengalaman pekerja. Ciri tandan
matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang
beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang
beratnya 10 kg atau lebih.
Ciri-ciri lain yang digunakan adalah apabila sebagian buah sudah membrondol (jatuh
di piringan). Secara alamiah dan bobot rata-rata tandan sudah mencapai 3 kg. Jumlah
brondolan buah inilah yang dijadikan dasar untuk memanen tandan buah, yaitu
tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kurang lebih 10 butir
dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir.
Namun secara praktis digunakan kriteria umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah
segar (TBS) terdapat 2 brondolan.
Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah mencapai
fraksi kematangan 13 dimana persentase buah luar yang jatuh sekitar 12,5 %-75 %.
Ada dua jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap.

2.5. Persiapan Panen

Teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak
maksimum dengan kualitas yang paling baik. Untuk mencapai maksud ini perlu
kematangan buah yang optimum, selang panen yang tepat, metode pengumpulan
buah, dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan buah sawit. Aspek
yang paling penting diperhatikan dalam panen dan pengangkutan buah adalah hal-hal
yang mempengaruhi kualitas akhir dari minyak sawit, khususnya menyangkut kadar
asam lemak bebas. Jadi, untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi
sebaiknya dibuat persiapan panen yang baik. Tanaman kelapa sawit mulai berbunga
dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6
bulan setelah penerbukan. Agar panenan berjalan lancar, tempat pengumpulan hasil
(TPH) harus dipersiapkan dan jalan pengangkutan hasil (pasar pikul) diperbaiki untuk
memudahkan pengangkutan hasil panen dari kebun ke pabrik. Para pemanen juga
harus mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan kelapa sawit perlu
memperhatikan beberapa ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang
dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu baik.

2.6. Kriteria Tanaman Menghasilkan

Agar tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat digolongkan menjadi
tanaman menghasilkan (TM), maka perlu diperhatikan kriteria berikut.
a) Kerapatan panen telah mencapai 60% atau lebih
b) Bobot tandan rata-rata lebih berat daripada 3 kg.
c) Angka sebaran panen lebih banyak daripada 5.

2.6.1 Kerapatan

Kerapatan panen adalah angka persentase jumlah pohon yang memiliki tanda
buah yang sudah matang panen dalam suatu areal pertanaman belum menghasilkan
(TBM). Untuk mengetahui kerapatan panen tersebut, maka dilakukan pemeriksaan
dan pencatatan jumlah pohon yang sudah memiliki tandan buah matang panen dari
setiap petak tanaman yang terdapat dalam areal TBM tersebut. Bila terdapat lebih dari
60% atau lebih pohon yang mempunyai tandan matang panen, maka petak tersebut
dinyatakan menjadi tanaman menghasilkan (TM).

2.6.2 Bobot rata-rata tandan

Setiap tandan yang sudah matang panen diambil secara acak dari setiap hektar
tanaman kemudian ditimbang. Jika rata-rata bobot telah lebih dari 3 kg maka panenan
dapat dilakukan dan diteruskan dengan pemeriksaan penyebaran panen. Bila bobot
rata-rata tandan masih di bawah 3 kg, panen harus ditangguhkan, karena tandan kecil
secara teknik tidak dapat diolah pabrik sehingga tidak mempunyai nilai ekonomis.
Kriteria matang panen yang dijadikan patokan di perkebunan kelapa sawit adalah bila
sudah ada 2 brondolan (buah yang lepas dari tandannya) untuk tiap kilogram tandan
yang beratnya kurang dari 10 kg atau satu brondolan untuk tiap kilogram tandan
beratnya lebih dari 10 kg. Melihat adanya brondolan yang jatuh ke piringan, maka
panenan dapat dilakukan.

2.6.3 Kerapatan sebaran panen

Kerapatan sebaran panen adalah angka yang menyatakan jumlah pohon yang
telah memiliki tandan matang panen dalam baris tanaman pada satu petak (blok)
tanaman sawit. Angka ini penting diketahui untuk efisiensi pemanenan, karena
menyangkut jarak (ruang) dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen.

Tabel. Tingkatan TBS yang dipanen
Tingkat Jumlah Brondolan Kematangan
0.
1.
2.
3.
4.
5.
1-12,5% buah luar membrondol
12,5-25% buah luar membrondol
25-50% buah luar membrondol
50-75% buah luar membrondol
75-100% buah luar membrondol
Buah dalam juga membrondol, dan
Mentah
Kurang matang
Matang I
Matang II
Lewat matang I
Lewat matang II
ada buah yang busuk
Sumber: Pusat Penelitan Marihat, 1983

Jadi, berdasarkan tingkat TBS yang dipanen tersebut di atas, maka derajat
kematangan yang baik adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada tingkat 1,2,
dan 3.
Secara ideal dengan mengikuti ketentuan dan kriteria matang panen dan
terkumpulnya brondolan serta pengangkutan yang lancar, maka dalam suatu panenan
akan diperoleh komposisi tingkat tandan segar sebagai berikut.
1) Jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya.
2) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah
tandan.
3) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 1 maksimal 20% dari jumlah tandan.
4) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 4 dan 5 maksimal 15% dari jumlah
tandan.
Untuk memperoleh tingkat kematangan tandan perlu diatur frekuensi panen
atau putaran panen di suatu kebun. Dalam keadaan yang tidak terhindarkan, dapat
saja hasil panenan dari tingkat kematangan tandan yang lebih tinggi, sehingga
komposisi tandan buah segar (TBS) dengan tingkat kematangan (3 dan 4) : 65%,
mulai matang (2) : 20%, dan lewat matang (5) : 15%. Dengan komposisi demikian
akan diperoleh produksi minyak maksimum dengan biaya minimum dan asam lemak
bebas (ALB) masih berada di bawah 5%

2.6.4 Frekuensi panen

Untuk memperoleh keseragaman kematangan pada standar yang dikehendaki,
maka suatu areal pertanaman harus dipanen setiap hari. Karena hal seperti ini tidak
ekonomis, maka perlu diadakan putaran atau rotasi panen.
Untuk menentukan selang atau interval panen yang tepat perlu dievaluasi kekurangan
setiap panen serta kualitas dan kuantitas maksimum. Sebaiknya memanen tidak perlu
terlalu singkat dan terlalu lama untuk memperoleh kuantitas dan kualitas hasil serta
biaya panen yang optimal. Umumnya putaran panen yang dianjurkan adalah 7-10
hari. Jika selang waktu kurang dari 7 hari, banyak buah kurang matang; tetapi jika
selang waktu lebih dari 10 hari, maka banyak buah kelewat matang; sehingga tandan
buah segar tidak merata matangnya.

2.6.5 Pengolahan Hasil Panen

Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus
segera diangkut ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil minyak kelapa sawit
yang bermutu tinggi. Proses pengolahan hasil panen ini berlangsung cukup panjang,
dimulai dari pengangkutan TBS dari lahan pertanaman ke pabrik pengolahan sampai
menghasilkan minyak kelapa sawit dan hasil sampingannya.
Hasil olahan utama TBS pada pabrik pengolahan adalah:
1) Minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah,
2) Minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit.

2.6.6 Pengangkutan TBS ke Pabrik Pengolahan

Tandan buah segar (TBS) yang baru dipanen harus segera diangkut ke pabrik
dapat segera diolah. Buah yang tidak dapat segera diolah akan mengalami kerusakan
atau akan menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas tinggi, sehingga
sangat berpengaruh tidak baik terhadap kualitas minyak yang dihasilkan.
Salah satu upaya untuk menghindari terbentuknya asam lemak bebas adalah
pengangkutan buah dari kebun ke pabrik harus dilakukan secepatnya dan
menggunakan alat angkut yang baik, seperti lori, traktor gandengan, atau truk.
Sebaiknya dipilih alat angkut yang besar, cepat, dan tidak terlalu banyak membuat
guncangan selama dalam perjalanan. Hal ini untuk menjaga agar perlukaan pada buah
tidak terlalu banyak.
Segera setelah sampai di pabrik, pengolahan harus secepatnya ditimbang dulu,
kemudian memasuki tahap-tahap pengelolaan selanjutnya. Tandan buah segar yang
diterima dari kebun harus ditimbang dengan cermat yang nantinya perlu di dalam
proses pengendalian mutu, rendemen hasil yang diperoleh.
TBS yang sudah diterima dari kebun dan sudah ditimbang harus secepat
mungkin masuk pengolahan tahap pertama agar gradasi mutu dapat ditekan sekecil
mungkin, yaitu tahap perebusan atau sterilisasi tanda buah.

2.7. Hasil Produksi Tanaman kelepa Sawit

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak
makan, margarin, sabun,kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan
industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya
karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi,
mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya,
mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh
dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit
adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentahyang
diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan
minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki
kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga
dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna
merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung
minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin.
Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti
sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam.
Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang. Buah diproses dengan
membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 C. Daging yang telah
melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing
pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan
pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa
cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.








BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tanaman kelapa sawit adalah tanaman yang sangat berperan penting dalam
kehidupan kita. Dari berbagai produk yang diproduksi industri dari bahan baku
kelapa sawit ternyata masih banyak kegunaan-kegunaan lain yang membantu
meringankan masyarakat.
Selama ini kita tertutup atas informasi mengenai kelapa sawit, buktinya masih
banyak dari kita yang berpikir bahwa hanya minyak yang dapat dihasilkan dari
tanaman kelapa sawit, ternyata kelapa sawit dapat diolah menjadi berbagai macam
kebutuhan manusia maupun hewan. Contohnya seperti sabun, kosmetika,
industri baja, kawat, radio,kulit, industri farmasi, dan makanan ikan. Buah kelapa
sawit dapat digunakan sebagai bahan bakar tradisional itu berarti ada kemungkinan
dapat diolah menjadi bahan bakar umum.
Pengolahan kelapa sawit menjadi CPO pada intinya Melalui 4 Proses utama
yaitu pemisahan brondol dengan janjang, Pencacahan dan pelumatan daging,
pengepresan, dan pemurnian minyak. Sedangkan pengolahan kelapa sawit menjadi
kernel (inti sawit) melalui proses pemisahan brondol dengan janjang, Pencacahan dan
pelumatan daging, pengepresan, pemisahan serabut dengan inti dan pemisahan
cangkang dengan inti.

























DAFTAR PUSTAKA

1. http://hendrasagio.blogspot.com/2010/10/blog-post.html. Diakses pada tanggal
20 Maret 2012.
2. http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2122285-panen-
kelapa-sawit/. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
3. http://isroi.com/2009/07/29/foto-foto-sawit/. Diakses pada tanggal 20 Maret
2012.
4. http://kabarsawit.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
5. http://rony-bujangjumendang.blogspot.com/2012/01/manajemen-panen-kelapa-
sawit-tujuan.html. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
6. http://sawitgembala.blogspot.com/2010/08/kegiatan-panen-buah-segar-kelapa-
sawit.html. Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.
7. http://sawitku.wordpress.com/2009/10/31/berbagai-hasil-olahan-dari-kelapa-
sawit/. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
8. http://wwwbutonutara.blogspot.com/2011/09/kelapa-sawit-butur-untuk-
kepentingan.html. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012.
9. Tim Bina Karya Tani. 2009. Pedoman Bertanam Kelapa Sawit. Yrama Widya.
Bandung.
10. Arif,Habibillah.2010. PASCA PANEN DAN STANDAR PRODUKSI KELAPA
SAWIT
11. http//:www.habibiezone.wordpress.com/pasca-panen-dan-standar-produksi-
kelapa-sawit.html
12. Panca wardanu,Adha.2009.Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit.
13. http://apwardhanu.wordpress.com/2009/03/20/teknologi-pengolahan-kelapa-
sawit.html
14. http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/07/serba-serbi-kelapa-sawit.html