Anda di halaman 1dari 2

Struktur Protein

Protein mempunyai struktur yang sangat kompleks. Struktur protein memegang peranan penting dalam
menentukan aktivitas biologisnya. Struktur protein dapat dibedakan ke dalam 4 tingkatan, yaitu struktur
primer, sekunder, tersier dan kuartener.
Struktur primer adalah urut-urutan asam amino dalam rantai polipeptida yang menyusun
protein. Protein pertama yang berhasil ditentukan struktur primernya adalah insulin, yaitu hormon yang
berfungsi mengatur kadar gula darah.
Sebagai contoh insulin sapi terdiri dari dua rantai polipeptida, yang ditandai dengan rantai A (terdiri dari
21 asam amino) dan rantai B (terdiri dari 30 asam amino). Kedua rantai disatukan oleh ikatan silang
disulfida (SS) yang berasal dari unit sistein (Cys). Selama bertahun-tahun, insulin yang diekstraksi
dari pankreas sapi digunakan untuk terapi bagi orang-orang yang menderita kekurangan insulin
(Diabetes). Kini insulin manusia telah dapat diproduksi melalui industri genetika.

Struktur sekunder berkaitan dengan bentuk dari suatu rantai polipeptida. Oleh karena gaya-gaya
nonkovalen, seperti ikatan hidrogen atau gaya dispersi, suatu rantai polipeptida menggulung seperti
spiral (alfa heliks) atau seperti lembaran kertas continues form (beta-pleated sheet), atau bentuk triple
heliks.

Struktur tersier protein merupakan bentuk tiga dimensi dari suatu protein. Bagaikan seutas mie
yang diletakkan di dalam cawan, suatu rantai polipeptida dapat melipat atau menggulung sehingga
mempunyai bentuk tiga dimensi tertentu. Struktur tersier protein dikukuhkan oleh berbagai macam gaya,
sepert ikatan hidrogen, ikatan silang disulfida, interaksi hidrofobik atau hidrofilik, serta jembatan garam.

Setiap protein mempunyai bentuk tiga dimensi tertentu. Jadi semua molekul hemoglobin sebagai contoh,
mempunyai bentuk tiga dimensi yang sama. Bentuk tiga dimensi protein sangat berperan dalam
menentukan fungsi biologis protein tersebut. Sering kali sutatu molekul organik bukan protein terikat
pada rantai polipeptida dalam struktur tersiernya.
Sebagian protein hanya mengandung rantai tunggal polipeptida, tetapi yang lain, yang disebut protein
oligomer, terdiri dari dua atau lebih rantai. Sebagai contoh, hemoglobin mempunyai empat rantai.
Masing-masing rantai merupakan satu subunit protein. Susunan subunit-subunit dalam protein oligomer
disebut struktur kuartener.
Mengapa Pada PH Netral ion Zwitter dapat bermuatan negatif maupun positif?

Sebagaimana kita ketahui, gugus karboksil (COOH) adalah gugus yang bersifat asam (dapat melepas
H+), sedangkan gugus NH2 adalah gugus yang bersifat basa (dapat menyerap H+). Oleh karena itu,
molekul asam amino dapat mengalami reaksi asam-basa intramolekul membentuk suatu ion dipolar yang
disebut ion zwitter. Oleh karena mempunyai gugus asam dan gugus basa, maka asam amino bersifat
amfoter (dapat bereaksi baik dengan asam maupun dengan basa). Jika direaksikan dengan asam maka
asam amino akan menjadi suatu anion, sebaliknya jika direaksikan dengan basa maka asam amino
menjadi kation.

Dalam larutan, muatan asam amino bergantung pada pH larutan. Jika suatu asam amino yang
bermuatan positif ditetesi dengan suatu basa (dinaikkan pHnya), maka muatan positifnya akan turun
hingga menjadi netral dan seterusnya menjadi bermuatan negatif. pH pada saat asam amino itu tidak
bermuatan disebut titik isolistrik (TIL). Di bawah titik isolistriknya asam amino bermuatan positif, dan
sebaliknya bermuatan negatif di atas titik isolistriknya.