Anda di halaman 1dari 4

Pemisahan Protein Putih Telur dengan Fraksinasi (NH

4
)
2
SO
4


I. TUJUAN
Menentukan berat molekul protein albumin dari putih telur pada berbagai fraksi
(NH
4
)
2
SO
4
dengan teknik SDS-PAGE

II. TEORI DASAR
Protein merupakan komponen utama penyusun makhluk hidup. Protein juga berperan
dalam metabolisme dalam bentuk enzim. Adapun sifat-sifat protein sendiri yaitu
memiliki tingkat kelarutan berbeda dengan awalnya sebelum ditambahkan dengan
larutan garam dengan konsentrasi tertentu. Proses penambahan garam dalam
pengendapan protein disebut sebagai proses salting. Proses ini dibagi lagi menjadi
dua, yaitu: salting in dan salting out.
Penambahan garam pada konsentrasi rendah dapat meningkatkan kelarutan protein
(salting in), tetapi protein akan mengalami presipitasi garam pada konsentrasi tinggi
(salting out). Endapan yang terbentuk dapat dilarutkan kembali, protein tidak
mengalami denaturasi. Mekanisme salting out terjadi melalu dehidrasi protein akibat
penambahan garam. Ion garam dapat menarik molekul air yang melarutkan protein
sehingga protein menjadi tidak larut.

III. DATA PENGAMATAN
Data migrasi:
- Marker
Jarak migrasi (cm) Mr (kDa) log Mr
0,6
1,5
2,6
3,3
4,4
116
66,2
45
35
25
2,06446
1,82086
1,65321
1,54407
1,39794

- Sampel
Fraksi Jarak Migrasi
0 20 % r1 = 2,1

20 50 %

50 70 %
r2 = 3,7
r1 = 2,0
r2 = 3,6
r1 = 2,1
r2 = 3,5

IV. Pengolohan Data
1. Kurva Jarak migrasi Marker Terhadap log Mr

2. Perhitungan ukuran protein berdasarkan jarak migrasi
Persamaan garis yang diperoleh : y = - 0,1711x + 2,1204
Dengan cara mensubstitusikan nilai migrasi tiap protein sampel sebagai x ke dalam
persamaan, diperoleh ukuran protein.
Bila jarak migrasi protein = 2,1 cm, maka : log Mr = (- 0,1711 x 2,1) + 2,1204 =
1,76109
Mr = 57,6886 kDa
Dengan cara yang sama, diperoleh Mr protein pada berbagai fraksi:
fraksi jarak migrasi log Mr Mr (kDa)
0-20 %
2,1
3,7
1,76109
1,48733
57,6886
30,71355
20-50 %
2,0
3,6
1,7782
1,50444
60,00674
31,94773
50-70 %
2,1
3,5
1,76109
1,52155
57,6886
33,2315

V. Pembahasan
y = -0.1711x + 2.1204
R = 0.9789
0
0.5
1
1.5
2
0 1 2 3 4
l
o
g

M
r

jarak migrasi marker (cm)
Jarak Migrasi Marker terhadap log Mr
Series2
Linear (Series2)
Percobaan fraksinasi protein pada putih telur menggunakan prinsip salting out, yaitu
dengan menambahkan garam pada larutan protein. Garam memiliki kelarutan yang
lebih tinggi di dalam air dibandingkan dengan protein. Maka ketika ditambahkan
garam, lalu disentrifugasi, sebagian protein akan mengendap karena garam lebih
mudah untuk terhidrasi dibandingkan protein. Pada percobaan ini garam yang dipakai
adalah garam amonium sulfat karena garam tersebut yang memiliki kelarutan yang
tinggi dalam air, dan juga mudah didapat, murah, serta tidak berbahaya. Pada
dasarnya garam lain pun dapat dipergunakan dalam percobaan ini, namun tetap harus
memiliki 4 kriteria tersebut.
Pada percobaan ini digunakan 3 kondisi pengendapan, yaitu 0-20% jenuh, 20-50%
jenuh, dan 50-70% jenuh. Pada pengendapan yang pertama, protein yang paling tidak
larut dalam air akan mengendap, dan seterusnya Kelarutan protein dalam air
ditentukan oleh sifat hidrofobik dan hidrofiliknya. Jika sifat hidrofobiknya besar,
maka protein akan lebih kecil kelarutannya dalam air. Sifat hidrofobik dan
hidrofiliknya ditentukan oleh gugus R yang terikat pada asam amino tsb. Endapan
yang dihasilkan kemudian dilarutkan dalam buffer, dan diberi larutan staining untuk
memberikan warna pada protein agar ketika di suntikkan ke dalam gel elektroforesis,
warnanya bisa dilihat, dibaca, dan dihasilkan data. Setelah semalam direndam dalam
larutan staining, baru pita protein dapat terlihat, karena larutan staining peka terhadap
keberadaan protein.
Elektroforesis SDS-PAGE adalah elektroforesis yang didasarkan pada prinsip ukuran
molekul. Dalam proses ini, gel dibuat dari poliacrylamida yang juga berperan sebagai
fasa diam. Di kedua ujung gel tersebut diberi beda tegangan sehingga, protein yang
bermuatan dapat bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain sesuai hukum coulomb
(muatan yang sejenis akan tolak menolak, dan sebaliknya). Maka, pertama-tama
protein diberi muatan negatif, agar ketika sudah dinyalakan elektrodanya, larutan
protein dapat bergerak menyusuri gel elektroforesis dengan kecepatan yang berbeda
berdasarkan besar dari molekul proteinnya. Semakin besar molekul proteinnya,
semakin lambat dia berjalan, dan menghasilkan jarak migrasi yang lebih kecil. Data
jarak migrasi ini kemudian dibandingkan dengan marker SDS-PAGE melalui kurva
kalibrasi sehingga akan diperoleh data massa molekul protein dalam masing-masing
fraksi.
Pada pembuatan gel pada SDS-PAGE, ada 2 jenis gel, yaitu stacking gel dan
seperating gel. Stacking gel adalah tempat untuk menginjeksi serta menata sampel
protein sebelum proses running dimulai. Terbuat dari 40% akrilamid sebagai
pembentuk pori-pori untuk memisahkan protein berdasarkan ukurannya. Bahan ini
juga bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan protein yang diinjeksikan. Pada gel
ini ditambahkan buffer tris pH 6,8 untuk memberi muatan negatif pada protein, dan
mempertahankan pH protein agar tidak berubah (fungsi umum buffer). Terdapat juga
10% H2O yang berperan sebagai pelarut polar dan media polar untuk aliran listrik
dalam gel. Reagen SDS digunakan sebagai surfaktan yang dapat memutus ikatan pada
protein (denaturasi), lalu menyelubungi protein dengan muatan negatif. 10% APS
pun dimasukkan sebagai katalisator dalam polimerasi gel poliakrilamid, dibantu
dengan TEMED sebagai katalisator pembentukan radikal bebas dari APS, serta
sebagai pemadat sehingga percampurannya dilakukan terakhir, agar larutan tidak
menjadi padat terlebih dahulu sebelum bahan tercampur.
Selanjutnya adalah seperating gel yang berfungsi untuk memisahkan protein
berdasarkan berat/ ukuran molekulnya. Komposisinya tidak berbeda jauh dengan
stacking gel. Perbedaannya ada pada volume dari setiap zat yang digunakan. Pada
pembuatan gel ini, buffer tris yang digunakan adalah pada pH 8,8 yang berfungsi agar
muatan protein negatif.
Larutan gel yang sudah dibuat dicetak menggunakan plate, lalu diberikan aquades
pada seperating gel yang setengah padat agar permukaannya datar, setelah padat
aquades tsb diserap, baru setelah itu stacking gel ditambahkan di atas seperating gel.
Hasil yang didapat dari data tahun lalu adalah pada setiap persentase kejenuhan
protein terdapat 2 jenis protein dengan berat molekul berkisar 55-60 kDa dan 30-33
kDa.

VI. KESIMPULAN
Protein yang paling banyak terdapat dalam putih telur adalah albumin dengan
berat molekul sekitar 57,6886 kDa

VII. DAFTAR PUSTAKA
Boyer, Rodney F. 1993. Model Experimental Biochemistry, 2
nd
ed. Michigan: The
Benjamine/ Cummings Publishing Company, Inc. Page: 248-249
Lehninger, Albert L. 1993. Dasar-dasar Biokimia, jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Page: 144-145
http://www.seoulin.co.kr/shop/products/product_01.php?category=11865A000000000
diakses pada 5 Oktober 2014

Anda mungkin juga menyukai