Anda di halaman 1dari 13

1

A. Definisi Infertilitas

Infertilitas ialah pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak
setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa
menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. Infertilitas adalah pasangan
suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan
seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak(sarwono,
2000).

Secara medis, infertilitas dibagi menjadi 2 jenis, yaitu (Djuwantono,2008) Infertilitas
primer berarti pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak
setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa
menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun. Infertilitas sekundar berarti
pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini
belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3
kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk
apapun.


B. Insidensi

Infertilitas merupakan permasalahan global di bidang reproduksi kesehatan yang
sangat kompleks perlu penataan rasional dan terpadu. data menunjukkan bahwa
pasangan infertile di Britain setiap tahun ada 25%, swedia 10%. prevalensi di dunia
yang mengalami masalah fertilitas setiap tahun adalah 1 dari 7 pasangan. pasangan
infertil di Indonesia tahun 2009 adalah 50 juta pasangan atau 15-
20%(Inasoengkowo,2009)

2

Sebanyak 60%-70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada tahun
pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun ke-2 dari
usia pernikahan. Sebanyak 10-20% sisanya akan memiliki anak pada tahun ke-3 atau
lebih atau tidak akan pernah memiliki anak (Djuwantono,2008). Walaupun pasangan
suami-istri dianggap infertile, bukan tidak mungkin kondisi infertile sesungguhnya
hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat dipahami karena
proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia baru
merupakan kerjasama antara suami dan istri.


C. Faktor resiko

(1) Umur

Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini
dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah
masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan
untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang
ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche ) dan munculnya
tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di
sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi
pada umur 11-13 tahun.

Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi
pada umur 45-55 tahun. Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur.
Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami
menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat
mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel
3

telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormone sehingga
kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang
dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada
akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi
alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan
pemeriksaan darah atau USG saat
menstruasi hari ke-2 atau ke-3.

(2) Lama Infertilitas

Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan
masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua,
penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis
pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.

(3) Stress

Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormone
reproduksi.

(4) Lingkungan

Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap,
silikon, pestisida, obat- obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional
(rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein
terkandung dalam kopi dan teh.



4

(5) Hubungan Seksual

Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi,
dan melakukannya tidak pada masa subur.

(6) Frekuensi

Hubungan intim (disebut koitus ) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan
setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang
dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi
sperma dalam jumlah cukup dan matang.

(7) Posisi

Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan
dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi
adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya
akan bertemu sel telur yang menunggu di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila
penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat
menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di
atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar
sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita
berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma
bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.

(8) Masa Subur

Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual
wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur
5

dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak
dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap
menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi
. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-
lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.


D. Patofisiologi

A. wanita

Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan
stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan fsh dan lh tidak
adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium. penyebab
lain yaitu radiasi dan toksik yang mengakibatkan gangguan pada ovulasi. gangguan
bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya
cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi
fertilisasi dari ovum dan sperma. kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi
tidak berkembang normal walaupun sebelumnya terjadi fertilisasi. abnormalitas
ovarium mempengaruhi pembentukan folikel. abnormalitas servik mempengaruhi
proses pemasukkan sperma. faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi
genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak berkembang dengan baik.

Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga
terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga
menyebabkan inflamasi zigot yang berujung pada abortus.



6

B. Pria

Abnormalitas androgen dan testosterone diawali dengan disfungsi hipotalamus dan
hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. gaya hidup
memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas diantaranya merokok.
penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma
dan penurunan libido. konsumsi alcohol mempengaruhi masalah ereksi yang
mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. suhu disekitar areal testis juga
mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. terjadinya ejakulasi retrograt misalnya
akibat pembedahan sehingga menyebabkan sperma masuk ke vesika urinaria yang
mengakibatkan komposisi sperma terganggu.

E. Gejala dan tanda

A. Wanita
terjadi kelainan sistim endokrin
hipomenore dan amenore diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang
tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis
atau aberasi genetik.
wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak
berkembang dan gonadnya abnormal.
traktus reproduksi internal yang abnormal
motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi,
adhesi atau tumor.

B. Pria
Riwayat terpajan benda-benda mutan yang membahayakan reproduksi(panas,
radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu.
7

Riwayat infeksi genitorurinaria
Hipertiroidisme dan hipotiroid
Tumor hipofisis atau prolactinoma
Disfungsi ereksi berat
Ejakulasi retrograt
Hypo/epispadia
Mikropenis
Andensensus testis (testis masih dalam perut/ dalam liat paha)
Gangguan spermatogenesis(kelainan jumlah, bentuk dan motilitas sperma)
Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis)
Varikhokel(Varises pembuluh balik testis)
Abnormalitas cairan semen

F. Diagnosis

a. Anamnesis
Pada pengumpulan data dengan anamnesis akan diketahui tentang keharmonisan
hubungan keluarga, lamanya perkawinan, hubungan seksual yang dilakukan, dll.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik umum untuk pasangan infertil meliputi pemeriksaan tekanan
darah, nadi, suhu tubuh, dan pernapasan. juga dilakukan foto toraks pada kedua
pihak

c. Pemeriksaan laboratorium
Dilakukan pemeriksaan laboratorium dasar secara rutin(darah, urine lengkap,
fungsi hepar dan ginjal, gula darah). pemeriksaan laboratorium khusus terhadap
suami meliputi pemeriksaan dan analisis sperma. untuk pemeriksaan ini
diperlukan syarat yaitu tidak boleh berhubungan seks selama 3-5 hari, ditampung
8

dalam gelas, modifikasi dengan bersenggama memakai kondom yang telah
dicuci bersih, dan bahan yang ditampung harus mencapai laboratorium sampai
1 jam, pemeriksaan setelah ejakulasi dalam waktu 2 jam di dilaboratorium.
jumlah spermatozoa diharapkan minimal 20juta/ml. pemeriksaan sperma untuk
mengetahui jumlah, volume, viskositas bau, fruktosa, kemampuan menggumpal
dan mencair kembali.

d. Pemeriksaan terhadap ovulasi
pemeriksaan ini dilakukan untuk membuktikan ovulasi(pelepasan telur). tindakan
ini dilakukan dengan anggapan bahwa pada pemeriksaan dalam tidak dijumpai
kelainan alat kelamin wanita. untuk membuktikan terjadi ovulasi(pelepasan
telur), dilakukan pemeriksaan suhu basal badan. progestron yang dikeluarkan
oleh korpus luteum dapat meningkatkan suhu basal badan, yang diukur segera
setelah bangun tidur. Dengan terjadinya ovulasi, suhu basal badan rendah atau
meningkat menjadi bifasik. waktu perubahan tersebut dianggap terjadi ovulasi,
sehingga harus dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks dengan
kemungkinan hamil yang besar.

e. Pemeriksaan terhadap saluran telur
saluran telur (tuba fallopi) mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses
kehamilan yaitu tempat saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya
konsepsi(pertemuan sel telur dan spermatozoa), tempat tumbuh dan
berkembangnya hasil konsepsi, tempat saluran hasil konsepsi menuju rahim
untuk dapat bernidasi(menanamkan diri). gangguan fungsi saluran telur
menyebabkan infertilitas, gangguan perjalanan hasil konsepsi menimbulkan
kehamilan di luar kandungan(ektopik) utuh atau terganggu(pecah). gangguan
saluran tuba dapat ditandai dengan keluarnya cairan tersebut kembali ke liang
senggama.

9

G. Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan khusus yang dilakukan untuk dapat menetapkan kelainan pada
pasangan infertile meliputi hal berikut:

-Histeroskopi
pemeriksaaan histeroskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat
optic ke adalam rahim untuk mendapatkan keterangan tentang mulut saluran
telur dalam rahim(normal, edema, tersumbat oleh kelainan dalam rahim),
lapisan dalam rahim(situasi umum lapisan dalam rahim karena pengaruh
hormon, polip atau mioma dalam rahim) dan keterangan lain yang
diperlukan.

-Laparoskopi
pemeriksaan laparoskopi adalah pemeriksaan dengan memasukkan alat optic
ke dalam ruang abdomen (perut), untuk mendapatkan keterangan tentang
keadaan indung telur yang meliputi ukuran dan situasi permukaannya.
adanya graaf folikel, korpus luteum atau korpus albikan, abnormalitas
bentuk, keadaan tuba fallopi(yang meliputi kelainan anatomi atau terdapat
perlekatan); keadaan peritoneum rahim, dan sekitarnya(kemungkinan
endometritis dan bekas infeksi).pengambilan cairan pada peritoneum untuk
pemeriksaan sitologi pewarnaan dan pembiakan.

-Ultrasonografi
pemeriksaan ultrasonografi(USG) sangat penting pada pasangan infertil
terutama ultrasonografi vaginal yang bertujuan mendapatkan gambaran yang
lebih jelas tentang anatomi alat kelamin bagian dalam, mengikuti tumbuh
kembang folikel de graaf yang matang, sebagai penuntun
aspirasi(pengambilan) telur(ovum) pada folikel d graaf untuk pembiakan
10

bayi tabung. ultrasonografi vaginal dilakukan pada sekitar waktu ovulasi dan
didahului dengan pemberian pengobatan dengan klimofen sitrat atau obat
perangsang indung telur lainnya.

-Uji pasca-senggama
pemeriksaan uji pasca-senggama dimaksudkan untuk mengetahui
kemampuan tembus spermatozoa dalam lendir serviks. pasangan dianjurkan
melakukan hubungan seks di rumah dan setelah 2 jam datang ke rumah sakit
untuk pemeriksaan. lendir servik diambil dan selanjutnya dilakukan
pemeriksaan jumlah spermatozoa yang dijumpai dalam lendir tersebut.
pemeriksaan ini dilakukan sekitar perkiraan massa ovulasi yaitu hari ke 12,
13, dan 14, dengan perhitungan menstruasi hari pertama dianggap ke-1.
namun hasilnya masih belum mendapat kesepakatan para ahli.

-Pemeriksaan hormonal
setelah semua pemeriksaan dilakukan, apabila belum dapat dipastikan
penyebab infertilitas dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk
mengetahui hubungan aksis hipotalamus, hipofise, dan ovarium. hormon
yang diperiksa adalah gonadotropin (follicle stimulation hormone(FSH) dan
hormon luteinisasi(LH)) dan hormon (estrogen, progestron, dan prolactin).
pemeriksaan hormonal ini dapat menetapkan kemungkinan infertilitas dari
kegagalannya melepaskan telur(ovulasi). semua pemeriksaan harus selesai
dalam waktu 3 siklus menstruasi, sehingga rencana pengobatan dapat
dilakukan. oleh karena itu pasangan infertilitas diharapkan mengikuti
rancangan pemeriksaan sehingga kepastian penyebabnya dapat ditegakkan
sebagai titik awal pengobatan selanjutnya.



11


H. Penatalaksanaan

Penanganan pasangan infertilitas atau kurang subur merupakan masalah medis yang
kompleks dan menyangkut beberapa disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan
konsultasi dan pemeriksaan yang komplek pula.

A. wanita
Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir servik puncak
dan waktu yang tepat untuk coital
Pemberian terapi obat, seperti
stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh
supresi hipotamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh.
terapi penggantian hormon
glukokortikoid jika terdapat hyperplasia adrenal
penggunaan antibiotika yang sesuai dengan untuk pencegahan
dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat
GIFT(Gemete intrafallopian transfer)
Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak
secara luas
Pengangkatan tumor atau fibroid
Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi
Pembuahan di luar rahim, In Vitro Fertilization, Cytoplasmic sperm
injection

B. Pria
Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi
autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat
agen antimikroba
12

testosteron enantat dan testosterone spionat untuk simulasi kejantanan
HCG secara i.m memperbaiki hipoganadisme
FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis
Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau
hipotalamus
Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik
perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma
perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. seperti,
perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas
dan ketat.
perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan mengandung
spermatisida.

I. Prognosa

Menurut Behrman & Kistner, Prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur
suami, umur istri dan lamanya dihadapkan pada kemungkinan kehamilan, yaitu
frekuensi senggama dan lamanya perkawinan.











13

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Mc Donald PC, Grant NF. Williams Obstetrics 21
th
Ed.
Connecticut, Appleton and Lange, Prentice Hall International Inc, 2001.
2. Danforths Obstetrics and Gynecology. 9
th
Ed. Lippincott Williams&Wilkins
Publishers. 2003.
3. Pernoll ML. Late pregnancy Complication. In DeCherney AH, Pernoll ML, eds.
Current Obstetrics & Gynecologic Diagnosis & Treatment. 8
th
ed. London:
Prentice-Hall International Inc. 1994.
4. Krisnadi SR, Mose JC, Effendi JS. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi RSUP DR. Hasan Sadikin. Edisi pertama. Bandung. 2005.
5. Manuaba, Ida Ayu Chandradinata, dkk.2009. Memahami kesehatan Reproduksi
Wanita. Jakarta : EGC.
6. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. ilmu kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka.
7. Rahmani, Dyah p, dkk. 1999 infertilitas Dalam perspektif jender. Yogyakarta:
Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gajah Mada.
8. Wiknjosastro, prof. dr, Hanifa, SpOG.2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.