Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

Kortikosteroid merupakan obat yang mempunyai khasiat dan indikasi klinis yang
sangatluas. Kortikosteroid sering disebut sebagai
life saving drug.
Manfaat dari preparat ini cukup besar tetapi karena efek samping yang tidak diharapkan
cukup banyak, maka dalam penggunaannyadibatasi termasuk dalam bidang dermatologi
kortikosteroid merupakan pengobatan yang palingsering diberikan kepada pasien.

Kortikosteroid adalah derivat dari hormon kortikosteroid yangdihasilkan oleh kelenjar
adrenal. Hormon ini dapat mempengaruhi volume dan tekanan darah,kadar gula darah, otot
dan resistensi tubuh.

Dalam klinik umumnya kortikosteroid dibedakan menjadi dua golongan besar
yaituglukokortikoid dan mineralokortikoid. Berbagai jenis kortikosteroid sintetis telah dibuat
dengantujuan utama untuk mengurangi aktivitas mineralokortikoidnya dan meningkatkan
aktivitasanti inflamasinya, misalnya deksametason yang mempunyai efek antiinflamasi 30
kali lebih kuatdan efek retensi natrium lebih kecil dibandingkan dengan kortisol. Berdasarkan
cara penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan
kortikosteroidtopikal. Kortikosteroid topikal adalah obat yang digunakan di kulit pada tempat
tertentu danmerupakan terapi topikal yang memberi pilihan untuk para ahli kulit dengan
menyediakan banyak pilihan efek pengobatan yang diinginkan, diantaranya termasuk
melembabkan kulit, melicinkan, atau mendinginkan area yang dirawat.

Sebagian besar khasiat yang diharapkan dari pemakaian kortikosteroid adalah
sebagaiantiinflamasi, antialergi atau imunosupresif. Karena khasiat inilah kortikosteroid
banyak digunakan dalam bidang dermatologi. Dibidang dermatologi pada umumnya lebih
ditekankansebagai obat antialergi.Terapi dengan obat ini bukan merupakan terapi
kausal melainkan terapi pengendalian atau paliatif saja, kecuali pada insufisiensi korteks
adrenal. Sejak kortikosteroiddigunakan dalam bidang dermatologi, obat tersebut sangat
menolong penderita. Berbagai penyakit yang dahulu lama penyembuhannya dapat
dipersingkat, misalnya dermatitis, penyakit berat yang dahulu dapat menyebabkan kematian,
misalnya pemfigus, angka kematiannya dapat
ditekan berkat pengobatan dengan kortikosteroid, demikian pula Sindrom
Stevens-Jhonson yang berat dan Nekrolisis Epidermal Toksik.

Pengobatan berbagai penyakit kulit dengan menggunakan kortikosteroid sudah
menjadikegiatan sehari-hari di setiap poliklinik penyakit kulit. Sejak salap hidrokortison
asetat pertamakali dilaporkan penggunaannya oleh
Sulzberger pada tahun 1952, perkembangan pengobatandengan kortikosteroid berjalan
dengan pesat.Semakin maju ilmu pengetahuan semakin banyak pula ditemukan berbagai
jenis kortikosteroid yang dapat digunakan dengan berbagai keunggulandan efek samping
yang semakin sedikit. Hal ini berkat kemajuan dalam pengetahuan mengenai mekanisme
kerja serta pemahaman patogenesis berbagai penyakit, khususnya mengenai peradangan kulit.
Dengan berbagai kemajuan ini, pemakaian kortikosteroid menjadi semakin rasional dan
efektif.









BAB II

KORTIKOSTEROID

1. DEFINISI

Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagian
kortekskelenjar adrenal sebagai tanggapan atas hormon
Adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskanoleh kelenjar hipofisis. Hormon ini berperan
pada banyak sistem fisiologis pada tubuh, misalnyatanggapan terhadap stres, tanggapan
sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi,metabolisme karbohidrat, pemecahan
protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku.

Kelenjar adrenal terdiri dari 2 bagian yaitu bagian korteks dan medulla, sedangkan
bagiankorteks terbagi lagi menjadi 2 zona yaitu fasikulata dan glomerulosa. Zona fasikulata
mempunyai peran yang lebih besar dibandingkan zona glomerulosa.Zona fasikulata
menghasilkan 2 jenishormon yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid. Golongan
glukokortikoid adalahkortikosteroid yang efek utamanya terhadap penyimpanan glikogen
hepar dan khasiat anti-inflamasinya nyata, sedangkan pengaruhnya pada keseimbangan air
dan elektrolit kecil atautidak berarti.
Prototip
untuk golongan ini adalah kortisol dan kortison, yang merupakan
glukokortikoid alam. Terdapat juga glukokortikoid sintetik, misalnya prednisolon,
triamsinolon,dan betametason.

Golongan mineralokortikoid adalah kortikosteroid yang efek utamanya terhadap
keseimbangan air dan elektrolitmenimbulkan efek
retensi Na dan deplesi K, sedangkan pengaruhnya terhadap penyimpanan glikogen hepar
sangat kecil. Oleh karena itu mineralokortikoid jarang digunakan dalam terapi.

Prototipdari golongan ini adalah desoksikortikosteron.
Umumnya golongan ini tidak mempunyai khasiat anti-inflamasi yang berarti, kecuali 9 alfa
fluorokortisol, meskipun demikian sediaan ini tidak pernah digunakansebagai obat anti-
inflamasi karena efeknya pada keseimbangan air dan elektrolit terlalu besar.Berdasarkan cara
penggunaannya kortikosteroid dapat dibagi dua yaitu kortikosteroid sistemik dan
kortikosteroid topikal.




2. FARMAKOLOGI

Semua hormon steroid sama-sama mempunyai rumus bangun
Siklopentanoperhidrofenantren 17-karbon dengan 4 buah cincin yang diberi label A D

Modifikasi dari struktur cincin dan struktur luar akan mengakibatkan perubahan pada
efektivitas dari steroid tersebut. Atom karbon tambahan dapat ditambahkan pada posisi 10dan
13 atau sebagai rantai samping yang terikat pada C17. Semua steroid
termasuk glukokortikosteroid mempunyai struktur dasar 4 cincin kolestrol dengan 3 cincin
heksana dan 1cincin pentana.

Hormon steroid adrenal disintesis dari kolestrol yang terutama berasal dari
plasma.Korteks adrenal mengubah asetat menjadi kolestrol, yang kemudian dengan bantuan
enzimdiubah lebih lanjut menjadi kortikosteroid dengan 21 atom karbon dan androgen lemah
dengan19 atom karbon. Sebagian besar kolesterol yang digunakan untuk steroidogenesis ini
berasal dariluar (eksogen), baik pada keadaan basal maupun setelah pemberian ACTH.

Dalam korteks adrenal kortikosteroid tidak disimpan sehingga harus disintesis
terusmenerus.Bila biosintesis berhenti, meskipun hanya untuk beberapa menit saja, jumlah
yangtersedia dalam kelenjar adrenal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan normal.Oleh
karenanyakecepatan biosintesisnya disesuaikan dengan kecepatan sekresinya.

Berikut adalah tabel yangmenunjukkan kecepatan sekresi dan kadar plasma
kortikosteroid terpenting pada manusia.


Kecepatan sekresi
dalam keadaan
optimal (mg/hari)
Kadar plasma
(g/100ml)
Jam 08.00

Jam 16.00
Kortisol 20 16 4
Aldosteron 0,125 0,01 -

Pada pemeriksaan sampel dengan tes saliva sebanyak 4 kali dalam satu hari
yaitusebelum sarapan pagi hari, siang, sore hari dan pada malam hari sebelum tidur. Pada
pagi harikadar kortisol yang paling tinggi dibandingkan waktu lainnya yang membuat orang
menjadilebih semangat dalam menjalani aktivitasnya. Orang yang ssehat pengeluaran kortisol
mengikutikurva dimana dapat dibuat grafik mulai menurunnya kadar kortisol hingga kadar
terendah yaitu pada pukul 11 malam dibuktikan dengan seseorang yang dapat beristirahat
dengan cukup.
3. MEKANISME KERJA

Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein.
Molekul hormon memasuki jaringan melalui membran plasma secara difusi pasif di jaringan
target, kemudian bereaksi dengan reseptor steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
bentuk, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini
menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini
merupakan perantara efek fisiologis steroid.

Pada beberapa jaringan, misalnya hepar, hormon steroid merangsangtranskripsi dan
sintesis protein spesifik; pada jaringan lain, misalnya sel limfoid dan fibroblashormon steroid
merangsang sintesis protein yang sifatnya menghambat atau toksik terhadap sel-sel limfoid,
hal ini menimbulkan efek katabolik.

Metabolisme kortikosteroid sintetis sama dengan kortikosteroid alami. Kortisol
(jugadisebut hydrocortison) memiliki berbagai efek fisiologis, termasuk regulasi
metabolisme perantara, fungsi kardiovaskuler, pertumbuhan dan imunitas. Sintesis dan
sekresinya diregulasisecara ketat oleh sistem saraf pusat yang sangat sensitif terhadap umpan
balik negatif yangditimbulkan oleh kortisol dalam sirkulasi dan glukokortikoid eksogen
(sintetis). Pada orang dewasa normal, disekresi 10-20 mg kortisol setiap hari tanpa adanya
stres. Pada plasma, kortisolterikat pada protein dalam sirkulasi. Dalam kondisi normal sekitar
90% berikatan dengan globulin alfa 2 (CBG/corticosteroid-binding globulin), sedangkan
sisanya sekitar 5-10% terikatlemah atau bebas dan tersedia untuk digunakan efeknya pada sel
target. Jika kadar plasmakortisol melebihi 20-30%, CBG menjadi jenuh dan konsentrasi
kortisol bebas bertambah dengancepat. Kortikosteroid sintetis seperti dexametason terikat
dengan albumin dalam jumlah besar dibandingkan CBG.

Waktu paruh kortisol dalam sirkulasi, normalnya sekitar 60-90 menit, waktu paruh
dapatmeningkat apabila hydrocortisone
(prefarat farmasi kortisol) diberikan dalam jumlah besar, atau pada saat terjadi stres,
hipotiroidisme atau penyakit hati. Hanya 1% kortisol diekskresi tanpa perubahan di urin
sebagai kortisol bebas, sekitar 20% kortisol diubah menjadi kortison di ginjaldan jaringan
lain dengan reseptor mineralokortikoid sebelum mencapai hati.Perubahan struktur kimia
sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja juga
mempengaruhiafinitas terhadap reseptor, dan ikatan protein. Prednison adalah prodrug yang
dengan cepatdiubah menjadi prednisolon bentuk aktifnya dalam tubuh.


Kortisol dan analog sintetiknya dapat mencegah atau menekan timbulnya gejala
inflamasiakibat radiasi, infeksi, zat kimia, mekanik, atau alergen. Secara mikroskopik obat
inimenghambat fenomena inflamasi dini yaitu edema, deposit fibrin, dilatasi kapiler,
migrasileukosit ke tempat radang dan aktivitas fagositosis. Selain itu juga dapat
menghambatmanifestasi inflamasi yang telah lanjut yaitu proliferasi kapiler dan fibroblast,
pengumpulankolagen dan pembentukan sikatriks. Hal ini karena efeknya yang besar terhadap
konsentrasi,distribusi dan fungsi leukosit perifer dan juga disebabkan oleh efek supresinya
terhadap cytokyne dan chemokyne inflamasi serta mediator inflamasi lipid dan glukolipid
lainnya. Inflamasi, tanpa memperhatikan penyebabnya, ditandai dengan ekstravasasi dan
infiltrasi leukosit kedalam jaringan yang mengalami inflamasi. Peristiwa tersebut diperantarai
oleh serangkaian interaksiyang komplek dengan molekul adhesi sel, khususnya yang berada
pada sel endotel dan dihambatoleh glukokortikoid. Sesudah pemberian dosis tunggal
glukokortikoid dengan masa kerja pendek, konsentrasi neutrofil meningkat, sedangkan
limfosit, monosit dan eosinofil dan basofildalam sirkulasi tersebut berkurang jumlahnya.
Perubahan tersebut menjadi maksimal dalam 6 jam dan menghilang setelah 24 jam.
Peningkatan neutrofil tersebut disebabkan oleh peningkatan.
aliran masuk ke dalam darah dari sum-sum tulang dan penurunan migrasi dari pembuluh
darah,sehingga menyebabkan penurunan jumlah sel pada tempat inflamasi.

Glukokortikoid juga menghambat fungsi makrofag jaringan dan sel penyebab
antigenlainnya. Kemampuan sel tersebut untuk bereaksi terhadap antigen dan mitogen
diturunkan. Efek terhadap makrofag tersebut terutama menandai dan membatasi
kemampuannya untuk memfagosit dan membunuh mikroorganisme serta menghasilkan
tumor nekrosis factor-a, interleukin-1,
Metalloproteinase dan activator plasminogen.Selain efeknya terhadap fungsileukosit,
glukokortikoid mempengaruhi reaksi inflamasi dengan cara menurunkan
sintesis prostaglandin, leukotrien dan platelet-aktivating factor.

Efek katabolik dari kortikosteroid bisa dilihat pada kulit sebagai gambaran dasar dan
sepanjang penyembuhan luka. Konsepnya berguna untuk memisahkan efek ke dalam sel
ataustruktur-struktur yang bertanggung jawab pada gambaran klinis; keratinosik (atropi
epidermal,re-epitalisasi lambat), produksi fibrolas mengurangi kolagen dan bahan dasar
(atropi dermal,striae), efek vaskuler kebanyakan berhubungan dengan jaringan konektif
vaskuler (telangiektasis, purpura ), dan kerusakan Angiogenesis (pembentukan jaringan
granulasi yang lambat). Khasiat glukokortikoid adalah sebagai anti radang setempat, anti-
proliferatif, dan imunosupresif.
Melalui proses penetrasi, glukokortikoid masuk ke dalam inti sel-sel lesi, berikatan dengan
kromatin gentertentu, sehingga aktivitas sel-sel tersebut mengalami perubahan. Sel-sel ini
dapat menghasilkan protein baru yang dapat membentuk atau menggantikan sel-sel yang
tidak berfungsi,menghambat mitosis (anti-proliferatif), bergantung pada jenis dan stadium
proses radang. Glukokotikoid juga dapat mengadakan stabilisasi membran lisosom, sehingga
enzim-enzim yangdapat merusak jaringan tidak dikeluarkan.

Glukokortikoid topikal adalah obat yang paling banyak dan tersering dipakai.
Efektifitaskortikosteroid topikal bergantung pada jenis kortikosteroid dan penetrasi. Potensi
kortikosteroidditentukan berdasarkan kemampuan menyebabkan vasokontriksi pada kulit
hewan percobaandan pada manusia. Jelas ada hubungan dengan struktur kimiawi. Kortison,
misalnya, tidak berkhasiat secara topikal, karena kortison di dalam tubuh mengalami
transformasi menjadi dihidrokortison, sedangkan di kulit tidak menjadi proses itu.
Hidrokortison efektif secara topikalmulai konsentrasi 1%. Sejak tahun 1958, molekul
hidrokortison banyak mengalami perubahan. Pada umumnya molekul hidrokortison yang
mengandung fluor digolongkan kortikosteroid poten. Penetrasi perkutan lebih baik apabila
yang dipakai adalah vehikulum yang bersifat tertutup. Diantara jenis kemasan yang tersedia
yaitu krem, gel, lotion, salep, fatty ointment (paling baik penetrasinya). Kortikosteroid hanya
sedikit diabsorpsi setelah pemberian pada kulit normal,misalnya, kira-kira 1% dari dosis
larutan hidrokortison yang diberikan pada lengan bawahventral diabsorpsi. Dibandingkan
absorpsi di daerah lengan bawah, hidrokortison diabsorpsi 0,14 kali yang melalui daerah
telapak kaki, 0,83 kali yang melalui daerah telapak tangan, 3,5 kaliyang melalui tengkorak
kepala, 6 kali yang melalui dahi, 9 kali melalui vulva, dan 42 kalimelalui kulit scrotum.
Penetrasi ditingkatkan beberapa kali pada daerah kulit yang terinfeksidermatitis atopik ; dan
pada penyakit eksfoliatif berat, seperti psoriasis eritodermik, tampaknyasedikit sawar untuk
penetrasi.
Efektivitas kortisteroid bisa akibat dari sifat immunosupresifnya.
Mekanisme yangterlibat dalam efek ini kurang diketahui. Beberapa studi menunjukkan
bahwa kortikosteroid bisamenyebabkan pengurangan sel mast pada kulit. Hal ini bisa
menjelaskan penggunaankortikosteroid topikal pada terapi urtikaria pigmentosa.
Mekanisme sebenarnya dari efek anti-inflamasi sangat kompleks dan kurang dimengerti.
Dipercayai bahwa kortikosteroid menggunakan efek anti-inflamasinya dengan
menginhibisi pembentukan prostaglandin dan derivat lain pada jalur asam arakidonik.
Mekanisme lain yangturut memberikan efek anti-inflamasi kortikosteroid adalah menghibisi
proses fagositosis danmenstabilisasi membran lisosom dari sel-sel fagosit.
4. KLASIFIKASI

Meskipun kortikosteroid mempunyai berbagai macam aktivitas biologik,
umumnya potensi sediaan alamiah maupun yang sintetik ditentukan oleh besarnya efek
retensi natrium dan penyimpanan glikogen di hepar atau besarnya khasiat anti-
inflamasinya.Sediaan kortikosteroidsistemik dapat dibedakan menjadi tiga golongan
berdasarkan masa kerjanya, potensiglukokortikoid, dosis ekuivalen dan potensi
mineralokortikoid.

Tabel perbandingan potensi relatif dan dosis ekuivalen beberapa sediaan kortikosteroid

Kortikosteroid Potensi
Mineralkortikoid

Glukokortikoid
Lama
kerja
Dosis
ekuivalen
(mg)*
Glukokortikoid
Kortisol (hidrokortison) 1 1 S 20
Kortison 0,8 0,8 S 25
6-alfa-metilprednisolon 0,5 5 I 4
Prednisone 0,8 4 I 5
Prednisolon 0,8 4 I 5
Triamsisolon 0 5 I 4
Parametason 0 10 L 2
Betametason 0 25 L 0,75
Deksametason 0 25 L 0,75
Mineralokortikoid
Aldosteron 300 0,3 S -
Fluorokortison 150 15,0 I 2,0
Desoksikortikosteron
asetat
20 0,0 - -

Keterangan:
* hanya berlaku untuk pemberian oral atau IV
S = kerja singkat (t1/2 biologik 8-12 jam)
I = intermediate, kerja sedang (t1/2 biologik 12-36 jam)
L = kerja lama (t1/2 biologik 36-72 jam)




Pada tabel diatas terlihat bahwa triamsinolon, parametason, betametason,
dandeksametason tidak mempunyai efek mineralokortikoid. Hampir semua golongan
kortikosteroidmempunyai efek glukokortikoid. Pada tabel ini obat disusun menurut kekuatan
(potensi) dariyang paling lemah sampai yang paling kuat.Parametason, betametason, dan
deksametasonmempunyai potensi paling kuat dengan waktu paruh 36-72 jam.Sedangkan
kortison danhidrokortison mempunyai waktu paruh paling singkat yaitu kurang dari 12 jam.
Harus diingatsemakin kuat potensinya semakin besar efek samping yang terjadi.

Efektifitas kortiksteroid berhubungan dengan 4 hal yaitu
vasokonstriksi,antiproliferatif, immunosupresif dan antiinflamasi. Steroid topikal
menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah di bagian superfisial dermis, yang akan
mengurangi eritema. Kemampuan untuk menyebabkan vasokontriksi ini biasanya
berhubungan dengan potensi anti-inflamasi, dan biasanya vasokontriksi ini digunakan sebagai
suatu tanda untuk mengetahui aktivitas klinik darisuatu agen. Kombinasi ini digunakan untuk
membagi kortikosteroid topikal mejadi 7 golongan besar, diantaranya Golongan I yang paling
kuat daya anti-inflamasi dan antimitotiknya (super poten). Sebaliknya golongan VII yang
terlemah (potensi lemah).

Berikut tabel penggolongan kortikosteroid topikal berdasarkan potensi klinis.

Klasifikasi Nama Dagang Nama Generik
Golongan 1 : (super poten)







Golongan II : (potensi tinggi)

















Golongan III : (potensi tinggi)











Golongan IV : (potensi medium)
Diplorene ointment
Diplorene AF cream
Psorcon ointment
Temovate cream
Olux foam
Ultravate ointment
Ultravate cream

Cyclocort ointment
Diprosone ointment
Elocon ointment
Florone ointment
Halog ointment
Halog cream
Halog solution
Lidex ointment
Lidex cream
Lidex gel
Lidex solution
Maxiflour ointment
Maxivate ointment
Maxivate cream
Topicort ointment
Topicort cream
Topicort gel

Aristocort A ointment
Cultivate ointment
Cyclocort cream
Cyclocort lotion
Diprosone cream
Flurone cream
Lidex E cream
Maxiflor cream
Maxivate lotion
Topicort LP cream
Valisone ointment

Aristocort ointment
0,05% betamethason dipropionate

0,05% diflorasone diacetate
0,05% clobetasol propionate

0,05% halobetasol propionate


0,1% amcinonide
0,05% bethametasone dipropionate
0,01% mometasone fluorate
0,05% diflorasone diacetate
0,01% halcinonide


0,05% fluocinonide



0,05% diflorasone diacetate
0,05% bethamethasone dipropionate

0,25% desoximetasone

0,05% desoximetasone

0,1% triamcinolone acitonide
0,005% fluticasone propionate
0,1% amcinonide

0,05% betamethasone dipropionate
0,05% diflorosone diacetate
0,05% fluocinonide
0,05% diflorosone diacetate
0,05% bethametashone dipropionate
0,05% desoximetasone
0,01% betametasone valerate

0,1% triamnicolone acetonide








Golongan V : (potensi medium)











Golongan IV : (potensi medium)











Golongan VII : (potensi lemah)
Cordran ointment
Elocon cream
Elocon lotion
Kenalog ointment
Kenalog cream
Synalar ointment
Wescort ointment

Cordran cream
Cutivate cream
Dermatop cream
Diprosone lotion
Kenalog lotion
Locoid ointment
Locoid cream
Synalar cream
Tridesilon ointment
Vasilone cream
Westcort cream

Aclovate ointment
Aclovate cream
Aristocort cream
Desowen cream
Kenalog cream
Kenalog lotion
Locoid solution
Synalar cream
Synalar solution
Tridesilon cream
Valisone lotion

Obat topical dengan
hidrokortison,
deksametason,
glumetalone,
prednisolone, dan
metilprednisolone
0,05% flurandrenolide
0,1% mometasone furoate

0,1% triamcinolone acetonide

0,025% fluocinolone acetonide
0,2% hidrocortisonevalerate

0,05% flurandrenolide
0,05% fluticasone propionate
0,1% prednicarbate
0,05% betamethasone dipropionate
0,1% triamcinolone acetonide
0,05% desonide

0,025% fluocinolone acetonide
0,05% desonide
0,1% betamethasone valerate
0,2% hydrocortisone valerate

0,05% aclometasone

0,1% triamcinolone acetonide
0,05% desonide
0,025% triamcinolone acetonide

0,1% hydrocortisone butyrate
0,01% fluocinolone acetonide

0,05% desonide
0,1% betamethasone valerate

5. PEGGUNAAN KLINIK

Kortikosteroid topikal dengan potensi kuat belum tentu merupakan obat pilihan
untuk suatu penyakit kulit. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid topikal bersifat paliatif
dan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan merupakan pengobatan kausal. Biasanya
pada kelainan akutdipakai kortikosteroid dengan potensi lemah contohnya pada anak-anak
dan usia lanjut,sedangkan pada kelainan subakut digunakan kortikosteroid sedang contonya
pada dermatitis kontak alergik, dermatitis seboroik dan dermatitis intertriginosa. Jika kelainan
kronis dan tebaldipakai kortikosteroid potensi kuat contohnya pada psoriasis, dermatitis
atopik, dermatitisdishidrotik, dan dermatitis numula.

Pada dermatitis atopik yang penyebabnya belum diketahui, kortikosteroid dipakai
denganharapan agar remisi lebih cepat terjadi. Yang harus diperhatikan adalah kadar
kandungansteroidnya. Dermatosis yang kurang responsif terhadap kortikosteroid ialah lupus
eritematoususdiskoid, psoriasis di telapak tangan dan kaki, nekrobiosis lipiodika
diabetikorum, vitiligo,granuloma anulare, sarkoidosis, liken planus, pemfigoid, eksantema
fikstum. Erupsi eksematosa biasanya diatasi dengan salep hidrokortison 1%. Pada penyakit
kulit akut dan berat serta padaeksaserbasi penyakit kulit kronik, kortikosteroid diberikan
secara sistemik.

Pada pemberian kortikosteroid sistemik yang paling banyak digunakan adalah
prednisonkarena telah lama digunakan dan harganya murah.Bila ada gangguan hepar
digunakan prednisolon karena prednison dimetabolisme di hepar menjadi prednisolon.
Kortikosteroid yangmemberi banyak efek mineralkortikoid jangan dipakai pada pemberian
long term (lebih daripadasebulan). Pada penyakit berat dan sukar menelan, misalnya toksik
epidermal nekrolisis dan sindrom Stevens-Jhonson harus diberikan kortikosteroid dengan
dosis tinggi biasa secaraintravena. Jika masa kritis telah diatasi dan penderita telah dapat
menelan diganti dengan tablet prednison.

Pengobatan kortikosteroid pada bayi dan anak harus dilakukan dengan lebih hati-
hati.Penggunaan pada anak-anak memiliki efektifitas yang tinggi dan sedikit efek
sampingterhadap pemberian kortikosteroid topikal dengan potensi lemah dan dalam jangka
waktu yangsingkat.Sedangkan pada bayi memiliki risiko efek samping yang tinggi karena
kulit bayi masih belum sempurna dan fungsinya belum berkembang seutuhnya. Secara
umum, kulit bayi lebihtipis, ikatan sel-sel epidermisnya masih longgar, lebih cepat menyerap
obat sehingga kemungkinan efek toksis lebih cepat terjadi serta sistem imun belum berfungsi
secara sempurna. Pada bayi prematur lebih berisiko karena kulitnya lebih tipis dan angka
penetrasi obat topikalsangat tinggi. Pada geriatri memiliki kulit yang tipis sehingga penetrasi
steroid topikalmeningkat. Selain itu, pada geriatric juga telah mengalami kulit yang atropi
sekunder karena proses penuaan. Kortikosteroid topikal harus digunakan secara tidak sering,
waktu singkat dandengan pengawasan yang ketat.


Kortikosteroid topikal tidak seharusnya dipakai sewaktu hamil kecuali dinyatakan
perluatau sesuai oleh dokter untuk wanita yang hamil. Pada kasus kelahiran prematur, sering
digunakan steroid untuk mempercepat kematangan paru-paru janin
(standar pelayanan).Percobaan pada hewan menunjukkan penggunaan kortikosteroid pada
kulit hewanhamil akan menyebabkan abnormalitas pada pertumbuhan fetus. Percobaan pada
hewan tidak ada kaitan dengan efek pada manusia, tetapi mungkin ada sedikit resiko apabila
steroid yangmencukupi di absorbsi di kulit memasuki aliran darah wanita hamil terutama
pada penggunaandalam jumlah yang besar, jangka waktu lama dan steroid potensi tinggi.
Analisis yang baru sajadilakukan memperlihatkan hubungan yang kecil tetapi penting antara
kehamilan terutamatrisemester pertama dengan bimbing sumbing. Kemungkinannya 1 %
dapat terjadi cleft lip ataucleft palate saat penggunaan steroid selama kehamilan.
Kortikosteroid sistemik yang biasadigunakan pada saat kehamilan adalah prednison dan
kortison. Sedangkan untuk topikal biasadigunakan hidrokortison dan betametason.Begitu
juga pada waktu menyusui, penggunaankortikosteroid topikal harus dihindari dan
diperhatikan. Belum diketahui dengan pasti apakahsteroid topikal diekskresi melalui ASI,
tetapi sebaiknya tidak digunakan pada wanita sedangmenyusui.

Kortikosteroid dapat menyebabkan gangguan mental bagi penggunanya. Rata-rata
dosis yang dapat menyebabkan gangguan mental adalah 60 mg/hari, sedangkan dosis
dibawah 30mg/hari tidak bersifat buruk pada mental penggunanya. Bagi pengguna yang
sebelumnyamemiliki gangguan jiwa dan sedang menggunakan pengobatan kortikosteroid
sekitar 20% dapatmenginduksi timbulnya gangguan mental sedangkan 80% tidak.

DOSIS DAN MEKANISME PEMBERIAN
Pada saat memilih kortikosteroid topikal dipilih yang sesuai, aman, efek samping sedikitdan
harga murah, disamping itu ada beberapa faktor yang perlu di pertimbangkan yaitu
jenis penyakit kulit, jenis
vehikulum,
kondisi penyakit yaitu stadium penyakit, luas/tidaknya lesi,dalam/dangkalnya lesi dan
lokalisasi lesi. Perlu juga dipertimbangkan umur penderita
3,11
Steroid topikal terdiri dari berbagai macam
vehikulum
dan bentuk dosis.Salep (
ointments
)ialah bahan berlemak atau seperti lemak, yang pada suhu kamar berkonsistensi
sepertimentega.Bahan dasar biasanya vaselin, tetapi dapat pula lanolin atau minyak.Jenis ini
merupakanyang terbaik untuk pengobatan kulit yang kering karena banyak mengandung
pelembab.Selain

itu juga baik untuk pengobatan pada kulit yang tebal contoh telapak tangan dan
kaki.Salepmampu melembabkan stratum korneum sehingga meningkatkan penyerapan dan
potensiobat.Krim adalah suspensi minyak dalam air.Krim memiliki komposisi yang
bervariasi dan biasanya lebih berminyak dibandingkan
ointments
tetapi berbeda pada daya hidrasi terhadapkulit.Banyak pasien lebih mudah menemukan krim
untuk kulit dan secara kosmetik lebih baik dibandingkan ointments.
M
eskipun itu, krim terdiri dari emulsi dan bahan pengawet yangmempermudah terjadi reaksi
alergi pada beberapa pasien.Lotion (bedak kocok) tediri atascampuran air dan bedak, yang
biasanya ditambah dengan gliserin sebagai bahan perekat, lotionmirip dengan krim.
Lotion
terdiri dari
agents
yang membantu melarutkan kortikosteroid dan lebihmudah menyebar ke kulit.
S
olution
tidak mengandung minyak tetapi kandungannya terdiri dariair, alkohol dan
propylene glycol
. Gel komponen solid pada suhu kamar tetapi mencair pada saatkontak dengan kulit. Lotion,
solution, dan gel memiliki daya penyerapan yang lebih rendahdibandingkan
ointment
tetapi berguna pada pengobatan area rambut contoh pada daerah scalpdimana lebih
berminyak dan secara kosmerik lebih tidak nyaman pada pasien.
2,6
Pada umumnya dianjurkan pemakaian salep 2-3 x/hari sampai penyakit
tersebutsembuh.Perlu dipertimbangkan adanya gejala
takifilaksis
.
Takifilaksis
ialah menurunnya responskulit terhadap glukokortikoid karena pemberian obat yang
berulang-ulang berupa toleransi akutyang berarti efek vasokonstriksinya akan menghilang,
setelah diistirahatkan beberapa hari efek vasokonstriksi akan timbul kembali dan akan
menghilang lagi bila pengolesan obat tetapdilanjutkan. Lama pemakaian kortikosteroid
topikal sebaiknya tidak lebih dari 4-6 minggu untuk steroid potensi lemah dan tidak lebih dari
2 minggu untuk potensi kuat.