Anda di halaman 1dari 21

januar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kuat medan listrik dan kapasitas hantar arus adalah faktor terpenting dalam desain
dan operasi kabel daya listrik sehingga pemilihan jenis tanah dan kedalaman penanaman
kabel berpengaruh terhadap kuat medan listrik, kapasitas hantar arus, dan panas yang
dihasilkan oleh kabel. Medan listrik timbul karena beda potensial antara dua titik. Kuat
medan listrik yang berlebih akan menyebabkan umur bahan isolasi kabel menjadi
berkurang. Kapasitas hantar arus (ampacity) pada kabel menentukan besarnya arus listrik
yang diperbolehkan untuk mengalir sehingga suhu maksimal pada konduktor tidak
melebihi batas suhu yang telah ditentukan.Penentuan kuat medan listrik dan kapasitas
hantar arus maksimal adalah faktor terpenting dalam desain dan operasi kabel daya listrik.
Kuat medan listrik pada kabel akan timbul apabila material dielektrik diberi tegangan.
Kuat medan listrik yang berlebih akan menyebabkan umur bahan isolasi kabel menjadi
berkurang. Permasalahan kapasitas hantar arus
pada kabel adalah menghitung besarnya arus listrik yang diperbolehkan untuk
mengalir sehingga temperature maksimum konduktor kabel tersebut tidak melebihi batas
yang telah ditentukan. Kabel telah digunakan dalam jaringan transmisi dan distribusi sejak
hari-hari awal dari industri tenaga listrik. Umumnya, panjang jarak transmisi listrik
dilakukan melalui saluran udara. Namun, transmisi dan distribusi di daerah perkotaan
yang berpenduduk padat sebagian besar menggunakan kabel bawah tanah. Meskipun
secara signifikan lebih mahal daripada saluran udara, kabel lebih disukai di daerah
perkotaan karena pertimbangan keselamatan, keandalan danestetis. Sebagai hasil dari
pembangunan di isolasi bahan dan teknik manufaktur, teknologi kabeltegangan tinggi
telah meningkat secara signifikan selama bertahun-tahun. Dengan terusmeningkatnya
panjang keseluruhan kabel, pertanyaan mengenai kehandalan jaringan, kegagalanmode
dan diagnostik kabel tersebut telah mengasumsikan makna yang lebih besar.


1.2 Batasan Masalah
Makalah ini membahas tentang berbagai aspek dari kabel listrik
tegangan tinggi

1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai berbagai aspek
dari kabel listrik tegangan tinggi
















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Penyaluran Tenaga Listrik
Bagian-bagian yang terpenting untuk penyaluran tenaga lsitrik antaran lain
sebagai berikut :
1. Sumber Tenaga Listrik
Disini sumber tenaga untuk system jaringan yang kecil diambil dari
pembangkit-pembangkit listrik (misalnya, PLTA, PLTD dll ).
Untuk Sistem jaringan yang besar sumber tenaga listrik diambil; dari
Gardu Induk, karena pada Gardu Induk tempat terkumpulnya tenaga
listrik dari pembangkit-pembangkit listrik.
2. Jaringan Distribusi Tegangan Tinggi
Disini dibagi menjadi dua macam :
a. Teganan Tinggi (30 KV, 70 KV, 150 KV)
b. Tegangan Menengah (6 Kv, 20 KV)
Jaringan Tegangan Tinggi ini dipakai untuk menghubungkan
antara Gardu Induk dengan Gardu Induk; Pembangkit dengan Gardu
Induk.
Jaringan Tegangan Menengah untuk menghubungkan dari Gardu Induk
ke Gardu Bagi.
3. Gardu Induk
Hasil tenaga listrik dari pembangkit-pembangkit dikumpulkan pada
Gardu Induk, dari Gardu Induk ini tenaga listrik akan dibagi-bagikan ke
Gardu Induk lain atau ke Gardu Hubung.


4. Gardu Hubung
Tenaga listrik yang ada di Gardu Induk dibagi-bagikan ke Gardu
Hubung, disini Gardu Hubung berfungsi membagi-bagikan ke Gardu
Distribusi, biasanya dengan tegangan menengah.
5. Gardu Distrubusi
Tegangan menengah dari Gardu Hubungan tersebut sebelum dibagikan
ke konsumen diturunkan lebih dahulu di Gardu Distribusi.
6. Jaring Distribusi Tegangan Rendah
Tegangannya sama dengan tegangan pada konsumen atau pamakai.
Jaringan ini untuk menyalurkan tenaga listrik dari Gardu Pembagi ke
Pemakai atau Konsumen.
2.2 Klasifikasi Sistem Distribusi
Sistem penyaluran tenaga listrik dapat di klasifikasikan dari bermacam-
macam segi :
1. Berdasarkan Arus Listrik
- Sistem distribusi arus searah (DC Distribution Systems )
- Sistem distribusi arus bolak-balik (AC Distribution Systems )
2. Berdasarkan Ukuran Tegangan
- Sistem penyaluran tenaga tegangan tinggi
Misalnya : 6 KV, 20 KV, tegangan menengah
30 KV, 70 KV, 150 KV, tegangan tinggi
- Sistem penyaluran tenaga tegangan rendah.
Misalnya : 127 / 220 V, 220 / 380 V.
3. Berdasarkan Bentuk Jaringan
- Jaringan radial terbuka
- Jaringan tertutup
- Jaringan Mesh.

J aringan Radial Terbuka
Sistem jaringan yang sederhana seperti pada gambar, adalah dengan system
3 phasa maupun 1 phasa. Adapun system seperti tersebut masih mempunyai
kekurangan-kekurangan yaitu apabila ada gangguan pada system jaringan
tersebut misalnya pada Trafo jaringan tegangan tinggi, maka harus ada
pemadaman, karena hanya ada satu saluran saja. Sehingga kontinuitas
pelayanan kurang terjamin.
2.3 Perlengkapan Sistem Penyaluran Tenaga Listrik
Perlengkapan-perlengkapan utama antara lain sebagai berikut :
1. Transformator
Transformator berfungsi untuk merubah tegangan
listrik. Transformator ini dapat menaikkan (step Up) maupun
menurunkan tegangan (Step Down). Jenis transformator untuk 1 phasa
maupun 3 phasa. Untuk transformator 3 phasa banyak dipakai dengan
hubunan bintang segitiga (Y), maupun segitiga bintang (Y). Ukuran
transformator antara lain sebagai berikut, 3 KVA, 5 KVA, 10 KVA, 25
KVA, 37,5 KVA, 50 KVA, 100 KVA dan lain-lain.
2. Penghantar
Untuk penyaluran tenaga listrik yang kecil (beban kecil) dipakai
penghantar tembaga dan biasanya dipakai kawat tembaga terbuka (Bare
Copper Conductor dan pada tempat-tempat tertentu memakai kawat
penghantar berisolasi. Untuk system penyaluran tenaga yang besar
(beban yag besar) dipakai kawat alumunium (ACSR).
Bentuk penghantar bias bermacam-macam antara lain :
a. Penghantar tembaga untuk ( Solid )
b. Penghantar tembaga bverurat banyak ( strainded )
c. Penghantar tembaga berlobang ( Hallow )
d. Penghantar telanjang ( termasuk No. a, b, c )
e. Penghantar berisolasi atau kabel tanah.
3. Tiang Listrik
Berfungsi untuk menahan penghantar agar dalam penyaluran
tenaga listrik dapat bebas dari gangguan-gangguan.
Dalam system penyaluran tenaga dikenal beberapa macam tiang listrik
antara lain:
Tiang kayu
Tiang besi
Tiang Beton
1) Tiang kayu
Dipakai karena pengerjaannya sederhana dan harga relative lebih
murah dari jenis tiang lainnya. Biasanya dipakai jenis kayu besi, jati
dan lain-lain.
2) Tiang Besi
Tiang besi dipakai jika tiang diinginkan memiliki konstruksi lebih
kuat.
3) Tiang Beton
Jenis tiang ini jarang dipakai karena konstruksinya lebih sukar
dibandingkan dengan jenis lainnya.
4. Alat Pelindung
Untuk melindungi system dari gangguan diperlukan alat-alat
pelindung agar bila ada gangguan tidak akan berakibat fatal terhadap
alat-alat yang penting.
Alat pelindung antara lain berupa :
- Alat pelindung arus / beban lebih
- Alat pelindung tegangan lebih
Untuk bentuk jaringan yang makin sempuran (missal, Mesh) makin
banyak tipe alat pelindung.
Adapun alat pelindung berfungsi :
- Melindungi system dari beban lebih
- Mengisolir bagian system yang kena gangguan
- Melindungi dari gangguan petir
- Melindungi terhadap gangguan fisik dari luar.

5. Isolator
Fungsi Isolator
Fungsi dari segi listrik :
Mengisolasi / menyekat antara :
- Kawat phasa dengan tanah
- Kawat phasa dengan kawat phasa
Fungsi dari segi mekanik :
- Menahan berat dari kondoktor / kawat
- Menahan adanya perubahan konduktor akibat perbedaan temperature
dan angina.
- Mengatur jarak dan sudut antara konduktor / kawat.
Berdasarkan jenis bahan isolator :
- Isolator gelas
- Isolator keramik
Biasanya untuk jaringan distribusi tegangan rendah banyak dipakai
isolator gelas dan untuk tegangan tinggi banyak dipakai isolator
keramik.
Isolator gelas bersifat mengkondansir kelembaban usara, sehingga
lebih sudah debu-debu melekat dipermukaan isolator gelas tersebut,
sehingga kalu dipakai untuk tegangan tinggi makn mudah terjadinya
peristiwa kebocoran arus listrik (leakage currant) lewat permukaan
isolator tersebut yang berarti mengurangi sifat isolasinya.
Kalau isolator keramik sukar dipengaruhi oleh perubahan suhu atau
temperatir dan dibandingkan dengan bahan dari gelas, bahan persolin
lebih kuat.
Menurut kontruksinya, isolator dapat dibagi atas :
1. Isolator gantung (Auspension type insulator)
2. Isolator tarik (Strain type insulator)
3. Isolator pasak (Pin type insulator)
Jenis No. 1 dan No. 2 banyak dipakau untuk tegangan tinggi
(S.U.T.T.) dan untuk tegangan menengah dan tegangan rendah banyak
dipakai isolator jenis pasak dan hanya pada tiang-tiang sudut dan tiang-
tiang achir baru dipergunakan isolator tarik, guna menahan gaya tarik
kesamping dan gaya tarik lurus, disamping itu juga untuk menahan gaya
berat penghantar.
Isolator untuk tegangan menengah

IIsolator untuk tegangan tinggi





Maka makin tinggi tegangan :
- Besar dan berat lebih besar
- Lekuk / sirip lebih banyak / dalam
2.4 Pengujian Tegangan Tinggi
Tegangan tinggi adalah semua tegangan yang dianggap cukup tinggi
oleh teknisi listrik, sehingga dibutuhkan pengujian dan pengukuran. Standar
tegangan tinggi di dunia umumnya berbeda-beda, tergantung kemajuan
negaranya masing-masing. Di Indonesia, level tegangan dibagi menjadi 4
macam, yakni: Tegangan Rendah (220-380 V), Tegangan Menengah (7-20
kV), Tegangan Tinggi (30-150 kV), dan Tegangan Extra Tinggi (500 kV).
Untuk transmisi biasa digunakan Tegangan Tinggi dan Extra Tinggi
sedangkan untuk distribusi menggunakan Tegangan Rendah dan Menengah.
Pengujian tegangan tinggi perlu dilakukan untuk beberapa tujuan,
diantaranya:
1. Menemukan bahan (di dalam atau yang menjadi komponen suatu alat
tegangan tinggi) yang kurang baik kualitasnya, atau cara pembuatannya
salah.
2. Memberikan jaminan bahwa alat-alat listrik dapat dipakai pada tegangan
normalnya dalam jangka waktu yang tidak terbatas.
3. Memberikan jaminan bahwa isolasi alat-alat dapat tahan terhadap
tegangan lebih (yang didapati dalam praktek operasi sehari-hari) untuk
waktu terbatas.
Pengujian tegangan tinggi dibagi menjadi dua jenis berdasarkan
pengaruhnya terhadap bahan yang diujikan, yakni destruktif (merusak) dan
non destruktif. Pengujian destruktif terdiri dari tiga tahap.
1. Withstand Test (Uji Ketahanan). Pada tes ini, alat/bahan akan diberikan
tegangan dalam jangka waktu tertentu. Jika tidak terjadi lompatan api,
maka pengujian dianggap memuaskan.
2. Discharge Test (Uji Pelepasan). Pada tes ini, alat/bahan diberikan
tegangan yang lebih tinggi daripada tegangan sebelumnya. Tegangan
terus dinaikkan hingga terjadi pelepasan pada benda yang diujikan.
3. Breakdown Test (Uji Kegagalan). Pada tes ini, tegangan yang diberikan
terus dinaikkan hingga terjadi kegagalan pada bahan/alat yang diujikan.
Pengujian non destruktif adalah pengujian yang tidak merusak bahan.
Contohnya Uji tahanan isolasi, faktor rugi-rugi dielektrik, korona,
konduktivitas, medan elektrik, dan lain-lain.
Berdasarkan jenis tegangannya, pengujian tegangan tinggi dibagi
menjadi dua jenis, pengujian tegangan tinggi AC dan pengujian tegangan
tinggi DC. Untuk tegangan AC, dibedakan berdasarkan frekuensi tinggi atau
rendah.
Pengujian tegangan tinggi AC frekuensi rendah dilakukan untuk
menyelidiki apakah peralatan listrik yang terpasang pada jaringan tegangan
tinggi dapat menahan tegangan yang melebihi tegangan operasinya untuk
waktu yang terbatas. Hal ini dilakukan karena tidak selamanya tegangan
yang diberikan ke peralatan tersebut stabil. Ada kalanya tegangan yang
diberikan melebihi batas nominalnya karena putusnya kawat saluran atau hal
lainnya.
Pengujian tegangan tinggi AC frekuensi tinggi dilakukan untuk
berbagai menguji adanya kerusakan-kerusakan mekanis (keretakan, kantong
udara, dan lain-lain) pada isolator, terutama isolator porselen. Tegangan
tinggi ini memungkinkan adanya lompatan api pada isolator tersebut.
Frekuensi tinggi memungkinkan terjadinya rambatan pada kulit isolator
yang diuji. Apabila isolator yang diuji tidak terdapat kerusakan mekanis,
maka arus akan merambat melalui permukaan isolator. Apabila isolator yang
diuji mengalami kerusakan mekanis, tidak akan terlihat percikan api pada
bagian kulit karena arus merambat melalui bagian dalam isolator yang
mengalami keretakan (adanya rongga udara).
Tegangan tinggi DC juga perlu diuji. Meskipun tegangan ini tidak
banyak digunakan pada sistem transmisi karena mahal dan sulit
mentransformasikan level tegangannya, tegangan ini memiliki kelebihan jika
digunakan pada sistem transmisi, antara lain:
1. Dengan tegangan puncak dan rugi daya yang sama kapasitas penyaluran
dengan tegangan searah lebih tinggi diibandingkan dengan tegangan
bolak balik
2. Pengisolasian tegangan searah lebih sederhana
3. Daya guna (efisiensi) lebih tinggi karena faktor dayanya = 1
4. Pada penyaluran jarak jauh dengan tegangan searah tidak ada persoalan
perubahan frekuensi dan stabilitas
5. Untuk rugi korona dan radio interferensi tertentu tegangan searah dapat
dinaikkan lebih tinggi daripada tegangan bolak balik
Pada tegangan tinggi, terdapat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi,
diantaranya:
1. Sparkover, merupakan peristiwa pelepasan benda akibat tegangan tinggi
yang tidak melalui permukaan. Contohnya pada isolasi cair.
2. Flashover, merupakan peristiwa pelepasan benda akibat tegangan tinggi
yang melalui permukaan.
3. Korona, merupakan peristiwa ionisasi molekul-molekul udara diantara
dua kawat sejajar bertegangan tinggi, karena medan listrik yang kuat.
Medan listrik itu akan mempercepat elektron, sehingga menumbuk
molekul-molekul lain dan mengakibatkan terlepasnya ikatan muatan
positif dan muatan negatif.
4. Skin effect, merupakan peristiwa mengalirnya arus di kulit konduktor,
akibat tegangan dengan frekuensi tinggi.
Salah satu peralatan yang digunakan untuk pengujian ini adalah
transformator penguji. Trafo ini berbeda dengan trafo daya. Ciri-ciri trafo
penguji antara lain: perbandingan jumlah lilitan lebih besar dibandingkan
dengan trafo daya, kapasitas kVA-nya kecil dibandingkan dengan kapasitas
trafo daya. Biasanya dipakai transformator satu fasa, karena pengujian
dilakukan fasa demi fasa.
Karena udara merupakan media isolasi yang paling banyak digunakan
dalam teknik tegangan tinggi, perlu diteliti bagaimana karakteristik udara
akibat kenaikan tegangan yang diberikan. Hal ini berguna untuk
perencanaan instalasi listrik. Kegagalan yang terjadi pada isolasi disebabkan
oleh beberapa hal, seperti kerusakan mekanis, isolator yang sudah lama
dipakai sehingga berkurang kekuatan dielektriknya, atau karena tegangan
lebih. Tegangan tembus dari isolasi udara ini dipengaruhi bentuk elektroda
dan juga jarak antar dua elektroda tersebut. Nilai tegangan tembus akan
semakin tinggi apabila jarak antar elektroda semakin besar. Tegangan
tembus juga lebih besar saat elektroda yang digunakan bertipe bola-flat.
Pada tipe bola-flat, tegangan tembusnya lebih besar karena bentuk
geometris elektroda bola. Bentuknya yang seperti itu menyebabkan
distribusi muatan tersebar di seluruh permukaan bola. Elektron akan sulit
terlepas dari elektroda ini. Dan untuk melepaskan elektronnya
(menyebabkan terjadinya lompatan api), dibutuhkan energi yang besar. Oleh
sebab itulah tegangan tembusnya juga semakin besar.
Pada tipe jarum-flat, tegangan tembusnya lebih kecil karena bentuk
geometrisnya. Elektron-elektron memiliki kecenderungan untuk berkumpul
di titik sudut. Karenanya, tipe jarum ini sangat memungkin elektron-elektron
berkumpul di bagian ujung elektrodanya. Elektron akan lebih mudah
terlepas dari elektroda dan menimbulkan lompatan api. Sehingga energi
yang dapat menyebabkan terjadinya lompatan api tidak terlalu besar
dibandingkan bentuk bola, tegangan tembusnya pun lebih kecil.
Untuk pengaruh jarak antar elektroda dan tegangan tembus, berkaitan
dengan medan listrik yang berada diantara elektroda. Seperti yang diketahui,
medan listrik secara matematis merupakan perbandingan antara tegangan
antar elektoda dengan jaraknya. Nilai medan listrik yang menyebabkan
terjadinya lompatan api, dipengaruhi oleh karakteristik suhu dan kerapatan
udara, sehingga nilainya cenderung tetap. Oleh karena itu, apabila jarak
antar elektroda semakin kecil, maka tegangan tembusnya juga semakin
kecil. Apabila jarak antar elektroda semakin besar, maka tegangan
tembusnya juga besar. Penjelasan lain adalah, apabila jarak antar elektroda
kecil, energi yang diperlukan untuk mendorong terjadinya ionisasi diantara
dua elektroda itu kecil. Jadi hanya dibutuhkan tegangan tembus yang kecil
agar bisa menyebabkan terjadi lompatan api. Sebaliknya jika jarak antar
elektroda besar, molekul-molekul udara yang harus diionisasi agar bisa
menciptakan lompatan api sangat banyak, membutuhkan energi besar untuk
mesinya. Sehingga tegangan tembusnya tinggi.
2.5 Klasifikangionisasi Saluran Transmisi
Selama ini ada pemahaman bahwa yang dimaksud transmisi adalah
proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi saja.
Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran
energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran
udara (over head line). Namun sebenarnya, transmisi adalah proses
penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, yang besaran
tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV), Tegangan Ekstra Tinggi
(EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah (MHV), dan Tegangan
Rendah (LV).
Transmisi Tegangan Tinggi, adalah:
Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu
induk lainnya.
Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower)
melalui isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.
Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70
KV dan 150 KV.


Beberapa hal yang perlu diketahui:
Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-
angsur mulai ditiadakan (tidak digunakan).
Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di
Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera.
Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.
Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari :
Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah,
tegangan menengah dan tegangan tinggi.
Menggunakan kabel udara untuktegangan tinggi dan tegangan ekstra
tinggi.


Saluran Transmisi Udara


Underground Cable
Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari
klasifikasi tegangannya:
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 200 Kv 500 Kv
Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di
atas 500 MW.
Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat
direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang
efektif dan efisien.
Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi
tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang
luas, memerlukan isolator yang banyak, sehingga pembangunannya
membutuhkan biaya yang besar.
Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET adalah
masalah sosial, yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan,
antara lain: Timbulnya protes dari masyarakat yang menentang
pembangunan SUTET, Permintaan ganti rugi tanah untuk tapak
tower yang terlalu tinggi tinggi, Adanya permintaan ganti rugi
sepanjang jalur SUTET dan lain sebagainya.
Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai
dengan 500 km.

2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 30 Kv 150 Kv
Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV.
Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit,
dimana 1 sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya
hanya 3 kawat dan penghantar netralnya digantikan oleh tanah
sebagai saluran kembali.
Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada
masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau
Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor.
Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling
efektif adalah 100 km.
Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop
voltaje) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi
rendah.
Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan
secara ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan
di Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya
di Indonesia.
3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) 30 Kv 150 Kv
SKTT dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau
Jawa), dengan beberapa pertimbangan :
Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena
sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari
masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung
tinggi.
Pertimbangan keamanan dan estetika.
Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.

Jenis kabel yang digunakan:
Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis
Cross Link Poly Etheline (XLPE).
Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan
minyak (oil paper impregnated).
Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan:
Single core dengan penampang 240 mm2 300 mm2 tiap core.
Three core dengan penampang 240 mm2 800 mm2 tiap core.
Pertimbangan fabrikasi.
Pertimbangan pemasangan di lapangan.
Kelemahan SKTT:
Memerlukan biaya yang lebih besar jika dibanding SUTT.
Pada saat proses pembangunan memerlukan koordinasi dan
penanganan yang kompleks, karena harus melibatkan banyak pihak,
misal : pemerintah kota (Pemkot) sampai dengan jajaran terbawah,
PDAM, Telkom, Perum Gas, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan
lain-lain.
Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300
meter. Untuk desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa
dibuat tanpa sambungan sesuai kebutuhan.
Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub
Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu:
Sub marine cable 150 KV Gresik Tajungan (Jawa Madura).
Sub marine cable 150 KV Ketapang Gilimanuk (Jawa Bali).
Beberapa hal yang perlu diketahui:
Sub marine cable ini ternyata rawan timbul gangguan.
Direncanakan akan didibangun sub marine cable Jawa Sumatera.
Untuk Jawa Madura, saat ini sedang dibangun SKTT 150 KV yang
dipasang (diletakkan) di atas Jembatan Suramadu.
2.6 Gangguan Pada Transmisi Tenaga Listrik
Didalam penyaluran tenaga listrik dari pembangkit sampai ke
pemakai tenaga listrik atau konsumen, sering dijumpai bermacam-macam
gangguan.
Kurang lebih 2/3 bagian dari seluruh gangguan adalah terletak pada
saluran transmisinya.
Gangguan-gangguan tersebut antara lain disebabkan oleh karena sbb. :
- Gangguan mekanis
- Gangguan thermis
- Gangguan yang diakibatkan oleh tegagan lebih listrik.
Gangguan seperti tersebut diatas antara lain dapat menyebabkan :
- Gangguan hubung singkat
- Gagguan ketanah
- Konduktor putus
- Isolator retak, dll
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada saluran
transmisi tegangan tinggi antara lain sbb :
1) Petir
Gangguan dari petir ini dapat menyebabkan terjadinya tegangan lebih
yag dikenal dengan nama surya petir (lightning surge).
2) Burung-burung atau daun-daun
Jika burung-burung ataupun daun-daun yang berterbangan dan
mendekati isolator gantung maka akan terjadi berkurangnya
CLEARACE (kelonggaran) sehingga akan timbul FL OVER.
3) Polusi ( debu )
Debu menempel pada isolator yang berarti akan mengurangi sifat
isolasi dari isolator tersebut dan juga dapat menyebabkan FLASH
OVER
4) Keretakan isolator yang mungkin diakibatkan oleh karena peristiwa
mekanis maupun thermi, ini dapat mengakibatkan terjadinya BREAK
DOWN apabila ada petir yang menyambar.
Gangguan Hubung Singkat
Pada peristiwa gangguan hubung singkat akan menimbulkan arus lebih (
over courant )
Arus lebih tersebut atau arus gangguan besarnya tergantung dari pada :
- Jenis dan sifat gangguan hubung singkat tersebut
- Kapasitas dari power atau tenaga pada sistem
- Methode hubungan netral dari transformator
- Jarak terjadinya hubung singkat tersebut.
Macam-macam gangguan hubung singkat yag mugkin terjadi antara lain :
- Gangguan satu phasa ke tanah
- Ganguan antara phasa dengan phasa
- Gangguan dua phasa ke tanah
- Gangguan tiga phasa.