Anda di halaman 1dari 3

Mekanisme Perancangan Undang-undang yang berdasarkan PROLEGNAS dengan

tahapan sebagai berikut:


1. Pemrakarsa dalam menyusun RUU dapat terlebih dahulu menyusun naskah
akademik yang dilakukan secara bersama-sama dengan departemen yang tugas
dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan yang hendak
dibuat.
2. Di dalam penyudunan RUU ,pemrakarsa membentuk panitia antar departemen
yang terkait dengan lingkup substansi RUU.
3. Ketua Panitia antar departemen melaporkan perkembangan penyusunan RUU
dan atau permasalahan yang dihadapi kepada pemrakarsa untuk memperoleh
keputusan atau arahan.
4. Ketua panitia antar Departemen menyampaikan perumusan akhir RUU kepada
pemrakarsa disertai dengan penjelasan secukupnya.
5. Pemrakarsa menyampaikan RUU kepada pimpinan lembaga/menteri terkait
dalam rangka harmonisasi konsepsi dan teknik perancangan perundang-
undangan dan selanjutnya memnerikan pertimbangan dan paraf persetujuan
paling lambat 14 hari sejak RUU diterima
6. Jika pemrakarsa melihat adanya perbedaan diantara pertimbangan yang
diberikan ,maka pemrakarsa beserta menteri/pimpinan lembaga menyelesaikan
perbedaan tersebut.
7. A[abila upaya penyelesaian tidak membawa hasil ,maka menhukham
melaporkan secara tertulis kepada presiden untuk memperoleh keputusan dan
perumusan ulang RUU dilakukan pemrakarsa bersama menhukham.
8. Apabila RUU tersebut tidak memiliki permasalahan lagi baik dari segi substansi
maupun dari segi perancangan perundang-undangan ,pemrakarsa mengajukan
RUU tersebut kepada Presiden guna disampaikan kepada DPR.
9. Setelah Presiden menerima RUU dan jika Presiden berpendapat bahwa masih
mengandung permasalahan,maka presiden menugaskan Menhukham dan
prakarsa mengordinasikan kembali penyempurnaan RUU dalam jangka waktu 30
hari kerja sejak penugasan RUU disampaikan kepada Presiden








A. TAHAP PERANCANGAN PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

1. Tahap Perencanaan
Tahap pertma pembentukan UU atau Perda pada dasarnya adalah sama,yakni
diawali dengan tahap perencanaan yang dituangkan dalam bentuk program
legislasi.
2. Tahap Perancangan
a. Perumusan
1) Raperda dilakukan dengan mengacu kepada naskah akademik
2) Hasil naskah akademik akan menjadi bahan pembahasan di dalam rapat
konsultasi dan
3) Pembahasan di dalam rapat konsultasi adalah untuk memantapkan
konsepsi terhadap Raperda yang direncanakan pembentukannya secara
menyeluruh (holistis)
b. Pembentukan Tim Asistensi
c. Konsultasi Raperda dengan pihak-pihak terkait
d. Persetujuan Raperda oleh Kepala Daerah

3. Tahap Pembahasan
a. Rapat Paripurna 1.
Apabila Raperda berasal dari DPRD ,maka pada Rapat Paripurna 1 agendanya
adalah penyampaian keterangan/penjelasan DPRD atas Raperda
b. Rapat Paripurna II
Agendanya adalah tanggapan kepala Daerah atas Raperda yang berasal dari
DPRD dan jawaban DPRD atas tanggapan kepala daerah.
c. Rapat Paripurna III
Mencakup pembahasan Raperda dalam komisi ,atau gabungan komisi atau
oleh Panitia Khusus bersama dengan kepala daerah .
d. Rapat Paripurana IV
Mencakup:
-Laporan hasil pembahsan Raperda pada Rapat Paripurna III
-Pendapat akhir Fraksi-fraksi di DPRD
-Pengambilan Keputusan Oleh DPRD
-Sambutan Gubernur ,bupati/walikota sebagai kepala daerah.



4. Tahap Pengundangan
Pengundangan PERDA didalam Lembaran Daerah dimaksudkan sebagai syarat
hukum agar semua orang mengetahuinya.
5. Tahap Sosialisasi
Memberitahukan kepada masyarakat baik melalui media elektronika maupun
media lainnya.
6. Tahap Evaluasi
Menguji kembali sejauh mana pengaruh sebuahg Perda setelah diberlakukan.