Anda di halaman 1dari 9

Hakikat Evaluasi Pembelajaran

(Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran)








Disusun oleh :

Kelompok 2 :
Rahma Siska Utari
Dinal Ulya
Al Nindu Bunga Sabrina

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Ratu Ilma Indra Putri
Dr. Budi Santoso


Program Studi Magister Pendidikan Matematika
Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya
2014
1

Hakikat Evaluasi Pembelajaran

1. Pengertian Evaluasi
Terdapat beberapa istilah dalam kegiatan evaluasi, yaitu evaluasi
(evaluation), penilaian (asssessment), pengukuran (measurement), dan tes
(test). Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat 1,evaluasi pendidikan
diartikan sebagai kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penerapan suatu
pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur,
jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban
penyelenggaraan pendidikan. Menurut Ilma (2011 : 2) evaluasi adalah
sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana
keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat
dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Dalam bahasa
Inggris istilah evaluasi sering kali dikenal dengan evaluation adalah suatu
proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai
sejauh mana tujuan program telah tercapai (Gronlund dalam Djaali dan
Muljono, 2008:1).
Djaali dan Muljono (2008:1) juga mengartikan evaluasi sebagai proses
menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang
selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objek yang
dievaluasi. Evaluation is a process which determines the extent to which
objectives have been achieved(Cross, dalam Ilma 2010). Sejalan dengan
pengertian sebelumnya Suharsimi Arikunto (2004 :1) mengartikan evaluasi
sebagai kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya
sesuatu yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan
alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Dari pendapat-pendapat diatas evaluasi dapat diartikan sebagai suatu
proses yang dilakukan orang atau sekelompok orang untuk melihat sejauh
mana keberhasilan suatu program berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan.
2

Setelah dilakukan evaluasi biasanya diikuti dengan pengambilan keputusan atas
objek yang dievaluasi yaitu penilaian. Berbeda dengan evaluasi, penilaian yang
dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah assessment berarti mengukur sesuatu.
Menilai berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada
ukuran tertentu, sepeti menilai baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau
bodoh, tinggi atau rendah, dsb (Djaali dan Muljono, 2008:2). Penilaian merupakan
suatu tindakan atau proses menentukan nilai sesuatu objek. Penilaian adalah suatu
keputusan tentang nilai. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran
atau dapat pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran. Selanjutnya dalam PP 19/2003
tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan bahwa penilian adalah proses
pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik.
Sehubungan dengan evaluasi dan penilaian (Arifin, 2010) mengemukakan
bahwa antara evaluasi dan penilaian memiliki persamaan dan perbedaan.
Persamaannya adalah baik evaluasi ataupun penilaian mempunyai pengertian
menilai atau menentukan nilai sesuatu. Adapun perbedaannya terletak pada
konteks pengunaannya. Penilaian (assessment) digunakan dalam konteks yang
lebih sempit dan biasanya yang biasanya dilaksanakan secara internal, yaitu oleh
orang-orang yang menjadi bagian atau terlibat dalam system yang bersangkutan,
sepeti guru menilai hasil belajar siswa. Adapun evaluasi digunakan dalam konteks
yang lebih luas dan biasanya dilaksanakan secara eksternal, seperti konsultan
yang disewa untuk mengevaluasi suatu program baik pada level terbatas maupun
pada level yang luas. Sejalan dengan pernyataan di atas Djaali dan Muljono
(2008:2) menyatakan bahwa penilaian dan evaluasi hamper sama, perbedaannya
dalam evaluasi berakhir dengan pengambilan keputusan sedangkan penilaian
hanya sebatas mengambil nilai saja.
Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
measurement adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti
member angka terhadap sesuatu yang disebut objek pengukuran atau objek ukur
(Djaali dan Muljono, 2008:2). Selanjutnya dikatakan bahwa menukur pada
hakikatnya adalah pemasangan atau korespondensi 1-1 antara angka yang
3

diberikan dengan fakta dan diberi angka atau diukur. Selanjutnya, (Warn and
Brown, dalam Arifin, 2010) menyatakan pengukuran adalah the act or process of
ascertaining the extent or quantity of something. Sementara itu Hopkins and
Antes (dalam Arifin, 2010) menyatakan bahwa pengukuran merupakan suatu
proses yang menghasilkan gambaran berupa angka-angka berdasarkan hasil
pengamatan mengenai beberapa cirri (attributes) tentang suatu objek orang atau
peristiwa.
Dengan demikian evaluasi dan penilaian terbatas dengan kualitas daripada
sesuatu. Sementara pengukuran berkenaan dengan kuantitas (yang menunjukkan
angka-angka daripada sesuatu) (Arifin, 2010). Alat yang dipergunakan dalam
pengukuran dapat beruapa alat yang baku secara internasional, seperti: meteran,
timbangan, stopwatch, thermometer, dsb, serta dapat beruapa alat yang dibuat dan
dikembangkan sendiri dengan mengikuti proses pengembangan atau pembakuan
instrument.
2. Karakteristik dan Fungsi Evaluasi
Menurut Ilma (2011 : 7) Kegiatan evaluasi dalam proses belajar mengajar
mempunyai beberapa karakteristik penting diantaranya sebagai berikut
a. Memiliki implikasi yang tidak langsung terhadap siswa yang dievaluasi.
Hal ini terjadi misalnya seorang guru melakukan penilaian terhadap
kemampuan yang tidak tampak dari siswa. Apa yang dilakukan adalah ia
lebih banyak menafsir melalui beberapa aspek penting yang diizinkan
seperti melalui penampilan, keterampilan, atau reaksi mereka terhadap suatu
stimulus yang diberikan secara terencana.
b. Lebih bersifat tidak lengkap.
Dikarenakan evaluasi tidak dilakukan secara kontinu maka hanya
merupakan sebagian fenomena saja. atau dengan kata lain, aa yang
dievaluasi hanya sesuai dengan pertanyaan item yang direncanakan oleh
seorang guru.
c. Mempunyai sifat kebermaknaan relatif.
4

Ini berarti, hasil penilaian tergantung pada tolaj ukur yang digunakan oleh
guru. disamping itu evaluasi pun tergantung dengan tingkat ketelitian alat
ukut yang digunakan.
Kemudian evaluasi mempunyai fungsi sebagai berikut.
a. sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai
pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang
guru.
b. untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan
kegiatan belajar.
c. mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
d. sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
e. sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
f. sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
3. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Adapun prinsip evaluasi dalam bidang pendidikan (Ilma, 2011 : 10) sebagai
berikut.
a. Evaluasi harus masih dalam kisi-kisi kerja tujuan yang telah ditentukan
b. Evaluasi seharusnya dilakukan secara komprehensif.
c. Evaluasi diselenggarakan dalam proses yang kooperatif antara guru dan
peserta didik.
d. Evaluasi dilaksanakan dalam proses kontinu.
e. Evaluasi harus peduli dan mempertimbangkan nilai-nilai berlaku.
4. Cakupan Evaluasi Pendidikan
Secara garis besar evaluasi pembelajaran dibedakan menjadi tiga macam
luasan (Ilma, 2011 : 12) yaitu pencapaian akademik, kecakapan (aptitude), dan
penyesuaian personal sosial.
a. Evaluasi Pencapaian Akademik.
Evaluasi pencapaian akademik mencakup semua instrumen evaluasi yang
direncanakan secara sistematis guna mementukan derajat di mana seorang
siswa dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya
oleh para guru. Evaluasi pencapaian akademik merupakan cakupan yang
5

paling luas dan bervariasi sesuai dengan tujuan pendidikan yang hendak
dicapai. Contoh kegiatan evaluai pencapaian akademik yaitu tes dan nontes
untuk mengukur perubahan siswa.
b. Evaluasi Kecakapan atau Kepandaian
Evaluasi kecakapan adalah mencari informasi yang berkaitan erat dengan
kemampuan atau kapasitas belajar peserta didik yang dievaluasi. Instrumen
evaluasi kecakapan yang diperoleh dari siswa dapat digunakan oleh para
guru untuk memprediksi prospek keberhasilan siswa di masa yang akan
datang, jika ia belajar secara intensif dengan fasilitas pembelajaran yang
baik. Kecakapan siswa pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu
general aptitude (kecakapan umu) dan specific aptitude (Kecakapan
spesifik). Contoh tes intelegensi.
c. Evaluasi Penyesuaian Personal Sosial.
Cakupan evaluasi penyesuaian atau adaptasi personal sosial di antaranya
yaitu kemampuan, emosi, sikap dan minat siswa yang dimilki sebagai
pengalaman lalu dari siswa tersebut. contoh kegiatan evaluasi penyesuaian
personal sosial yaitu menggunakan angket dengan pilihan ganda.
5. Syarat dan Tujuan Evaluasi
Suatu evaluasi perlu memenuhi bebrapa syarat sebelum diterapkan kepada
siswa yang kemudian direfleksikan dalam bentuk tingkah laku. Evaluasi yang
baik mempunyai syarat sebagai berikut (Ilma,2011: 17).
a. valid
b. andal
c. objektif
d. seimbang
e. membedakan
f. norma
g. fair
h. praktis
Adapun tujuan evaluasi secara umum tujuan evaluasi pembelajaran adalah
untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
6

Indikator efektivitas dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang terjadi pada
peserta didik. Perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan kompetensi,
tujuan, dan isi program pembelajaran. Arifin (2010) menyatakan tujuan evaluasi
secara khusus, yakni:
a. Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang
telah ditetapkan.
b. Mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses
belajar sehingga dapat dilakukan diagnosis dan kemungkinan memberikan
remedial teaching.
c. Mengetahui efesiensi dan efektivitas strategi pembelajaran yang digunakan
guru baik yang menyangkut metode, media maupun sumber-sumber belajar.
Selanjutnya Depdinkas (2003) mengemukakan tujuan evaluasi pendidikan:
a. Melihat produktivitas dan efektivitas kegiatan belajar mengajar
b. Memperbaiki dan menyempurnakan kegiatan guru
c. Memperbaiki, ,emyempurnakan, dan mengembangkan program belajar-
mengajar
d. Mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi oleh siswa selama
kegiatan belajar dan mencari jalan keluarnya
e. Menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai
dengan kemampuannya
Tujuan evaluasi dalam kaitannya dengan belajar mengajar (Ilma,2011 :17) sebagai
berikut.
a. Menilai ketercapaian tujuan
b. Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi.
c. Sebagai sarana untuk mengetahui apakah siswa telah mengetahui.
d. Memotivasi belajar siswa.
e. Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling.
f. Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum.

6. Manfaat Evaluasi
7

Arifin (2010) menyatakan beberapa manfaat dari evaluasi ditinjau dari
beberapa aspek, yakni:
a. Secara psikologis, peserta didik perlu mengetahui prestasi belajarnya,
sehingga ia merasakan kepuasan dan ketenangan. Untuk itu,, seorang guru
harus melakukan pendataan terhadap prestasi belajar peserta didiknya.
b. Secara, sosiologis untuk mengetahui apakah peserta didik sudah cukup
mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu dalamarti dapat berkomunikasi
dan beradaptasi dengan seluruh lapisan masyarakat dengan segala
karakteristiknya.
c. Menurut didaktis-metode, evaluasi berfungsi untuk membantu guru/
instruktur dalam menempatkan peserta didik dalam kelompok tertentu,
sesuai dengan kemmapuan dan kecakapannya masing-masing
d. Untuk mengetahui kedudukan peserta didik diantara teman-temannya,
apakah ia termasuk anak yang pandani, sedang, atau kurang.
e. Untuk mengetahui taraf peserta didik dalam menempuh program
pendidikannya
f. Untuk membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi baik
dalam rangka menemukan jenis pendidikan, jurusan maupun kenaikan
tingkat/ kelas.
g. Secara administrative, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang
kemampuan peserta didik kepada pemerintah, pimpinan/ kepala sekolah,
guru/ instruktur, termasuk peserta didik itu sendiri.
Disamping itu, fungsi evaluasi dapat dibuat berdasarkan jenis evaluasi itu sendiri,
yakni:
a. Formatif, yaitu memberikan feedback bagi guru/ instruktur sebagai dasar
untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial
bagi peserta didik yang belum menguasai sepenuhnya materi yang
dipelajari.
b. Sumatif, yaitu mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi
pelajaran, menemukan nagka (nilai) sebagai bahan keputusan, kenaikan
8

kelas, dan laporan perkembangan belajar serta dapat meningkatkan motivasi
belajar.
c. Diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang peserta didik (psikologi,
fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar.
d. Seleksi atau penempatan, yaitu hasil evaluasi dapat dijadikan dasar untuk
menyeleksi dan menempatkan peserta didik sesuai dengan minat dan
kemampuannya.
Daftar Pustaka

Arifin, Z. 2010. Evaluasi Pembelajaran (Teori dan Praktik). Tersedia pada
dualmode.kemenag.go.id/file/dokumen/34EvaluasiPembelajaran.pdf .
Diakses tanggal 18 agustus 2014.
Djaali dan Muljono.2008. Pengukuran dalam bidang pendidikan. Jakarta:
Grasindo.
Ilma, Ratu. 2011. Assesment in Mathematics Education. Unit Perpustakaan PPS
Universitas Sriwijaya