Anda di halaman 1dari 5

POTENSI PENERAPAN KAWASAN BERBASIS TRANSIT (TRANSIT ORIENTED

DEVELOPMENT) DI KAWASAN METOPOLITAN JABODETABEK


(Studi Kasus : Stasiun Sudirman dan Stasiun Jurangmangu)

Mega Novetrishka Putri (25413024)
Mahasiswa Pasca Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Jabodetabek merupakan kota metropolitan terbesar di Indonesia yang menjadi pusat kegiatan
ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan lain-lain. Mobilitas yang tinggi, cepat dan massal di kota
Jabodetabek mengakibatkan padatnya lalulintas jalan. Dalam kondisi tersebut, Jabodetabek membutuhkan
sistem yang terintegrasi dengan seluruh moda yang ada memungkinkan mendukung mobilitas yang tinggi di
Jabodetabek. Stasiun Sudirman di pusat kota Jakarta merupakan pusat segala aktivitas di Jabodetabek
sedangkan Juranmangu merupakan kawasan pemukiman (daerah asal penglaju). Dalam mengatasi
permasalahan yang dialami Jabodetabek, salah satu alternatif solusi adalah mengadaptasi penerapan
sebuah konsep pembangunan di dalam kota yang berintegrasi dengan kota-kota penyangga dalam satu
kesatuan yang utuh dengan berbasis transit atau yang lebih dikenal dengan Transit Oriented Development
(TOD). Tujuan dari penulisan ini yakni mengidentifikasi potensi penerapan TOD di kota metropolitan
Jabodetabek khususnya di Stasiun Sudirman dan Stasiun Jurangmang. Untuk dapat mengidentifikasi
penerapan konsep TOD salahsatunya dengan mengetahui karakteristik tipologi kawasan penerapan konsep
TOD. Untuk dapat mengetahui karakteristik tipologi TOD yakni dilakukan dengan mengidentifikasi guna
lahan dan aksesbilitas (sistem transportasi umum) di kawasan TOD.. Identifikasi dilakukan dengan
menggunakan metode studi keputustakaan literatur, jurnal dan studi terkait serta melakukan analisis
deskripsi komparasi terhadap negara yang telah menerapkan konsep TOD dapat mengetahui potensi
penerapan dalam adaptasi konsep TOD di Jabodetabek. Penerapan TOD di Stasiun Sudirman dan
Jurangmangu untuk karakterisitik guna lahan campuran dan lokasi stasiun sudah mendekati konsep TOD,
tetapi aksesbilitas yang sulit dikedua stasiun tersebut belum dapat mencerminkan konsep penerapan TOD.

Kata Kunci: Kemacetan, Jabodetabek, TOD, Guna lahan, Aksesbilitas, Stasiun Sudirman, Stasiun
Jurangmangu

I. PENDAHULUAN
Jabodetabek merupakan kota metropolitan yang menjadi tempat menarik untuk melakukan sebuah
kegiatan ekonomi. Konteks sebuah kota metropolitan adalah memiliki skala jumlah penduduk yang relatif
besar (lebih dari 1 juta jiwa penduduk). Jabodetabek mengemban fungsi kota sebagai pusat pemerintahan,
pusat kegiatan ekonomi (perdagangan dan jasa), manufaktur dan pusat pendidikan. Hal ini menyebabkan
Jabodetabek memiliki banyak kegiatan ekonomi dan lokasi permukiman penduduk yang meningkatkan
perkembangan ekonomi, terbukanya lapangan usaha dan pertumbuhan fisik kota yang tinggi. Akibat adanya
hal tersebut menyebabkan tingginya mobilitas Jabodetabek. Mobilitas penduduk Jabodetabek yang tinggi ini
membutuhkan dukungan infrastuktur transportasi yang modern, massal dan dapat berintegrasi dengan
infrastuktur lain. Permasalahan transportasi yang terjadi saat ini di Jabodetabek adalah kapasitas jalan yang
tidak sebanding dengan dengan jumlah kendaraan yang menggunakan jalan di Jabodetabek dan belum
adanya suatu sistem angkutan umum terintegrasi dan memiliki permintaan yang tinggi.
Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada di Jabodetabek, salah satu alternatif solusi yang dapat
dilakukan adalah mengadaptasi sebuah konsep pembangunan berbasis transit seperti yang telah diterapkan di
beberapa Negara maju yang dikenal dengan pembangunan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented
Development (TOD). TOD merupakan sebuah konsep pembangunan transportasi yang bersinergi dengan
tata ruang guna mengakomodasi pertumbuhan baru dengan memperkuat lingkungan tempat tinggal dan
optimalisasi jaringan antar berbagai aktivitas. TOD pada prinsipnya untuk mendekatkan orang ke tempat
tujuan sehingga tingkat pergerakan seolah-olah dapat dikurangi. Kawasan stasiun Sudirman di Pusat Kota
Jakarta dan Stasiun Jurangmangu di kota periurban (Bintaro) merupakan stasiun yang seakan-akan sudah
terintegrasi dengan aktivitas dan sistem transportasi publik seperti pengembangan konsep TOD. Tentunya
kedua stasiun tersebut berbeda dalam hal tipologi. Stasiun Sudirman terletak di pusat kota Jakarta, yakni
terletak di kawasan segitias emas Jakarta yang menjadi pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, perkantoran,
hiburan yang menjadi tujuan dalam melakukan kegiatan, sedangkan Stasiun Jurangmangu terletak di Bintaro
yang merupakan kawasan permukiman terletak di Selatan Kota Jakarta. Bintaro merupakan salah satu tempat
asal para pekerja atau penglaju commuter.
Dengan adanya permasalahan dan sebuah konsep yang akan ditawarkan, maka dibahas mengenai
peluang penerapan konsep TOD dikedua kawasan stasiun tersebut. Fokus penulisan yakni karakteristik
gunalahan dari masing-masing stasiun berdasarkan tipologi TOD dan aksesbilitas dalam menunjang
pelaksanaan konsep TOD. Keluaran dari penulisan ini diharapkan dapat melihat kemungkinan
potensipenerapan konsep TOD menurut tipologi TOD.
Berdasarkan pembasahan di atas, penulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi penerapan
konsep TOD di kawasan perkotaan metropolitan, Jabodetabek khususnya di sekitar Stasiun Kereta Api
Sudirman dan Jurangmangu. Sasaran yang akan dicapai berdasarkan tujuan tersebut adalah: identifikasi
karakteristik guna lahan di sekitar Stasiun Sudirman dan Jurangmangu khususnya dalam radius 800 meter
1 kilometer dari stasiun serta identifikasi aksesbilitas menuju dan/atau dari Stasiun Sudirman dan
Jurangmangu.
Metodelogi yang digunakan dalam penulisan ini terdiri dari metode pengumpulan data dan metode
analisis. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan studi kepustakaan. Dalam studi kepustakaan
pengumpulan data diawali dari kajian teoritis dengan mengumpulkan dan mempelajari literatur terkait yang
diperoleh dari buku,jurnal dan tugas akhir. Metode analisis yang dilakukan adalah metode diskriptif
komparasi, yakni mendeskripsikan hasil temuan dan membandingkan keadaan kawasan yang ditulis dengan
negara yang sudah menerapkan konsep TOD.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Victoria Transport Policy Institute (2008) menyebut New Urbanism dengan berbagai istilah seperti
Smart Growth, New Community Design, Neotraditional Design, Traditional Neighbourhood Development,
Location Efficient Development dan Transit Oriented Development (TOD). Istilah-istilah tersebut merujuk
pada suatu pengertian yaitu suatu praktek pembangunan untuk menciptakan suatu komunitas yang menarik,
efisien dan layak huni. Menurut Renne (2005), Transit-oriented development (TOD) pertama kali
dipopulerkan oleh Peter Calthorpe dalam bukunya The Next American Metropolis (1993). Calthorpe
menyebutkan TOD dalam rangka untuk mengintegrasikan dengan lebih baik antara transportasi dan guna
lahan. Bentuk pembangunan ini bertujuan untuk menciptakan sub pusat di sekitar jaringan angkutan umum.
Sub pusat ini adalah suatu guna lahan campuran, pembangunan yang padat dan terpusat pada stasiun
angkutan. Seseorang dapat berjalan kaki atau bersepeda untuk pergerakan di sekitar lingkungannya
sementara untuk pergerakan ke tempat lain yang relatif jauh dengan menggunakan angkutan umum. Bay
Area Rapid Transit Authority (BART) San Fransico, mendefinisikan TOD Pembangunan dengan kepadatan
sedang hingga tinggi, terletak dalam suatu lokasi yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki dari
perhentian angkutan umum, pada umumnya suatu campuraan antara tempat tinggal, tempat bekerja dan
memungkinkan untuk berbelanja yang didesain untuk pejalan kaki tanpa menghilangkan penggunaan
kendaraan pribadi. TOD dapat berupa suatu pembangunan baru (new development) atau pembangunan
kembali (redevelopment) dari satu atau lebih gedung yang didesain dan berorientasi kepada penggunaan
fasilitas angkutan umum (TCRP, 2004).
Tipologi TOD
Menurut Calthorpe (1993), Tipologi TOD dibagi menjadi Urban TOD dan Neighbourhood TOD. Urban
TOD terletak tepat pada perhentian jaringan utama angkutan kereta atau perhentian bus cepat. Tipe ini cocok
untuk membangkitkan pekerjaan dan penggunaan lahan dengan intensitas tinggi seperti perkantoran, pusat
perdagangan yang melayani lingkungan setempat dan perumahan dengan kepadatan sedang hingga tinggi.
Karena lokasi-lokasi tersebut berada dalam wilayah, pangsa pasar dan guna lahan yang berbeda-beda, TOD
akan memiliki karakteristik guna lahan dan kepadatan yang berbeda. Antar urban TOD berada dalam radiun
! - 1 mill untuk memenuhi persyaratan area transit, sedangkan Neighbourhood TOD merupakan TOD yang
berlokasi pada jalur bus feeder dengan jarak jangkauan 10 menit berjalan (tidak lebih dari 3 mil) dari titik
transit. Neighborhood TOD terletak sepanjang rute bus dengan frekuensi tinggi atau sepanjang lintasan bus
dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit ke perhentian angkutan kereta atau perpindahan bus.
Neighborhood TODs sebagian besar untuk pemukiman dan pertokoan skala lokal. Menurut Reconecting
America and the Center for TOD (2008) membagi tipe TOD berdasarkan beberapa aspek seperti
karakteristik wilayah stasiun, moda angkutan yang melayani, frekuensi pelayanan angkutan, tipe dan
kepadatan guna lahan, karakteristik perdagangan yang ada serta tantangan perencanaan dan pembangunan
pada stasiun-stasiun angkutan umum, yaitu: Regional Center, Urban Center, Suburban Center, Transit Town
Center, Urban Neighborhood, Transit Neighborhood, Special-Use/Employment District, Mixed-Use
Corridor.
Secara teoritis, untuk keberhasilan suatu TOD, proyek TOD harus terletak pada lokasi yang dilayani
dengan baik oleh angkutan yang teratur dan kapasitas tinggi, menghubungkan secara efektif wilayah TOD
tertentu dengan wilayah metropolitan dan menawarkan hubungan pada tujuan-tujuan perjalanan yang
penting (TCRP 2004:463). Adanya pelayanan angkutan umum yang kuat, rencana atau prasarana angkutan
umum yang akan dibangun mengindikasikan lokasi tersebut mendekati kriteria (TCRP 2004, s-12, p462).
Mengingat TOD sangat signifikan terkait dengan inisiatif penggunaan lahan, harus dipastikan bahwa lokasi
potensial TOD menyediakan lahan yang cukup untuk pembangunan. Sebagaimana pada banyak contoh
pembangunan, TOD menciptakan dan membangun di tengah-tengah guna lahan yang telah ada (TCRP
2004:469). Stasiun-stasiun utama dengan lahan yang belum dikembangkan harus dilihat sebagai sasaran
utama untuk pengembangan. Berikut adalah contoh penerapan konsep TOD diberbagai Negara (dalam
Novetrishka, 2011).
1. Amerika : Amerika merupakan Negara dimana teori mengenai TOD pertama muncul. Contoh kawasan
yang akan di jelaskan dalam teori ini Mockingbird Station Dallas. Stasiun Mockingbird Dallas.
Mockingbird termasuk pada tipologi TOD urban neighborhood yang berhasil menangkap pasar. TOD
dikembangkan dengan 211 apartemen loft., 140000 sqf perkantoran, dan 180000 sqf area komersial.
Dalam mengolah elemen penghubung, kawasan ini terhubung langsung dengan Stasiun Dallas Rapid
Transit melalui jembatan penyebrangan, escalator, lift dan jembatan layang.
2. Jepang : Stasiun Kyoto merupakan bentuk penerapan konsep TOD dalam bentuk yang besar dan
tersetruktur. Pembangunan mixed-used dibangun secara vertical, horizontal dan diagonal dalam sebuah
massa yang panjang dan membelah blok-blok kota. Dalam stasiun Kyoto terdapat banyak fungsi dan
dikembangkan di dalamnya seperti hotel, supermarket, bioskop, plaza rekreasi, kantor pemerintahan dan
swasta, gedung konser, teater. Pergerakan yang dilakukan hanya menggunakan kretas api untuk
mencapai stasiun dan untuk menuju kesemua fungsi yang ada di dalam stasiun bisa dilakukan dengan
berjalan kaki.
3. Hongkong : Di Hongkong, Wan Chai dan Admiralty adalah sebuah kawasan komersial yang telah
terbangun dengan vitalitas tinggi. Dalam mempertahankan jarak ideal 10 menit perjalanan kaki dan
mencegah adanya konflik orang dan kendaraan, penghubung dibuat dengan dapat menembus bangunan
pada level lantai dua (upperground). Dapat diambil pelajaran bahwa perencanaan kawasan transit pada
daerah eksisting yang telah aktif tetap harus memudahkan akses akan dengan menghindari crossing.
Salah satu caranya adalah dengan jalur pedestrian menerus di lantai 2 yang dapat mengaktifkan kegiatan
komersial di lantai dua.
Dari beberapa contoh penerapan TOD diatas, Lokasi transit dalam TOD pada implementasi berbasis rel
(kereta api), dikarenakan moda rel tersebut dapat menampung lebih banyak penumpang dibandingkan moda
lain seperti bus. Tetapi menurut Graham Currie (2006), pengembangan konsep TOD yang berbasis bus
memiliki kekuatan yang lebih baik di dalam perkotaan dibandingkan dengan moda lain. Hal ini dikarenakan
dalam perkotaan didesign hanya moda transportasi umum dan dapat menampung banyak penumpang yang
lebih efisien dibandingkan moda lain, tetapi tentunya harus didukung dengan system BRT yang baik seperti
di Curitiba dan Bogota (Cervero, 2013).
Dari Literatur yang telah dipaparkan, penulis menyimpulkan bahwa Transit Oriented Development
adalah sebuah cara atau metode baru dalam pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang kota campuran
dan memaksimalkan penggunaan angkutan massal terintegrasi yang memiliki pusat transit. Lokasi
pengembangan di pusat kota atau pusat kegiatan (Urban TOD) dan permukiman (Neighbourhood TOD) yang
dihubungkan oleh sistem jaringan. Dengan demikian perjalanan/trip akan didominasi dengan menggunakan
angkutan umum yang terhubungkan langsung dengan tujuan perjalanan. Tempat perhentian angkutan umum
mempunyai kepadatan yang relatif tinggi dan biasanya dilengkapi dengan fasilitas parkir, khususnya parkir
sepeda.

IV. ANALISIS POTENSI PENERAPAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT DI KOTA
METROPOLITAN JABODETABEK (STUDI KASUS SUDIRMAN DAN JURANGMANGU)
Potensi penerapan kawasan berbasis transit (TOD) dikawasan Stasiun Sudirman dan Stasiun
Jurangmangu dapat diidentifikasi dengan melihat karakteristik kawasan, baik guna lahan maupun
aksesbilitas kawasan tersebut. Berikut rangkuman identifikasi kawasan dan aksesbilitas kemudahan
menjangkau Stasiun Sudirman dan Jurangmangu
Tipologi Kawasan Stasiun Sudirman Kawasan Stasiun Jurangmangu
Aktivitas Kawasan
Terdiri dari fungsi perumahan dan fungsi
komersial
Terdapat komplek perumahan ( GMBR dan
Terdiri dari fungsi perumahan
Komplek perumahan Golongan Menangan
Bawah dan Atas
Tipologi Kawasan Stasiun Sudirman Kawasan Stasiun Jurangmangu
Menegah Atas)
Komersial terdiri dari perkantoran, pusat
perbelanjaan, pendidikan.
Skala Pusat Kegiatan Primer Pusat Kegiatan Sekunder
Lokasi
Pusat Kegiatan Kota Jakarta
(Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan)
Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan
Guna Lahan
Perumahan, Perkantoran, perdagangan jasa,
pendidikan.
Perumahan
KDB dan KLB
Perkantoran : 80-90%
Perumahan : 50-90%
Perdagangan Jasa : 70-90%
Perumahan : 60-90%
Tipe Kawasan
Terdiri dari berbagai macam fungsi yang
direpresentasikan dalam berbagai macam
bangunan dengan densitas yang tinggi.
dihubungkan dengan sistem pedestrian
Terdiri dari fungsi perumahan, dengan
bangunan densitas rendah dan menengah.
Aksesbilitas
Terhubung Halte bus busway motorway
pangkalan ojek.
Tersedia angkutan : Transjakarta, Buskota,
Kopaja, Metromini, Mikrolet dan Ojek
Pangkalan ojek.
Di dalam stasiun terdapat lapang parkir
yang memudahkan untuk melakukan park
and ride
Sumber : Novetrishka, 2011 dan Hasil Analisis, 2013

Berdasarkan pembahasan karakteristik guna lahan dan aksesbilitas, kedua stasiun tersebut memiliki
potensi dalam penerapan konsep kawasan berbasis transit jika dilihat dari tipologi konsep TOD. Stasiun
Sudirman mendekati tipologi Urban TOD yang terletak di pusat kota dengan memiliki gunalahan yang
mixed-used. Mixed-used yang termasuk dalam kawasan sudirmanTerdapat pusat pemerintahan Jakarta dan
Indonesia, perkantoran swasta, perumahan, pendidikan, perdagangan dan jasa, serta telah terintegrasinya
transportasi umum. Tetapi jika dibandingkan dengan penerapan TOD di Hongkong dan Jepang dan teori
menurut TCRP, tentunya Kawasan Stasiun Sudirman masih belum menggambarkan implementasi yang
sebenarnya dalam konsep. Penerapan TOD di Hongkong ataupun Jepang dalam implementasikan TOD yakni
dengan melihat permasalahan seperti apa dan memecahkannya dengan membangun sebuah kawasan baru
yang menjadikan stasiun transit menjadi pusat kawasan tersebut. Sedangkan untuk kasus Kawasan Sudirman,
seperti yang telah dipaparkan dalam TCRP mengembangkan sebuah konsep pusat transit yang sudah
memiliki stasiun kereta api sebagai pusat transit dan aktivitas sekelilingnya sudah diperuntukan menjadi
pusat kegiatan nasional yang menimbulkan banyaknya pergerakan disekitar kawasan tersebut. Melihat
potensi kondisi guna lahan dan aktivitas, menyebabkan kawasan Sudirman sudah tepat ataupun mendekati
konsep penerapan TOD. Ada beberapa hal yang masih belum baik dalam penerapannya, yakni konsep
walkability masih terabaikan dan kurang baik (lebih terfokus terhadap integrasi transportasi umum
motorize). Jalur pedestrian yang masih terputus (tidak terintegrasi), kenyaman dan kenyamanan pejalan
kaki untuk melakukan pejalanan dar pusat transit menuju tempat tujuan masih sangat kurang baik, seperti
lebar jalur pedestrian yang dibawah standar, cuaca yang panas, keamanan lingkungan sekitar yang membuat
pejalan kaki tidak nyaman serta jangkauan tempat tujuan yang terlalu jauh dari pusat transit (jika dilakukan
berjalan kaki harus menempuh waktu 20-30 menit).
Sedangkan Stasiun Jurangmangu jika dilihat dari gambaran umum diatas, sudah dapat dikategorikan
dalam Neigbourhood TOD. Neighbourhood TOD sendiri yakni sebuah pola yang terkonsentrasi pusat transit
yang berada dalam lingkungan perumahan atau dengan kata lain pusat transit dimana para pekerja/pengguna
moda berasal. Neighbourhood TOD terkonsetrasi pada kenyamanan pejalan kaki serta penggunaan lahan
campuran di lingkungan perumahan. Sama seperti Stasiun Sudirman, untuk penerapan TOD pada Stasiun
Jurangmangu juga dilakukan pengembangan disebuah kawasan yang sudah memiliki gunalahan yans sudah
terbangung sebelum adanya pusat transit dan konsep pengembangan TOD. Jika dibandingkan dengan Stasiun
Mockingbird Dallas, Stasiun Jurangmangu untuk peruntuhkan lahan sudah menyerupai atau mendekati
dengan konsep TOD yang telah diterapkan, yakni didominasi oleh perumahan dengan density menengah dan
rendah. Stasiun Jurangmangu dalam aksesbilitas masih dikatakan kurang baik, baik dalam hal transportasi
umum maupun dalam walkability. Penduduk hanya mengandalkan paratransit (ojek) untuk menuju ke stasiun
tersebut, tidak ada bus atau angkutan kota lain yang melewati lokasi stasiun. Untuk perjalanan non motorize
(jalan kaki dan sepeda), juga tidak dilengkapi dengan penghubung jalan, kenyamanan dan kemanan jalur
pedestrian serta jalur sepeda (yang menjadi konsep utama TOD). Pada stasiun Jurangmangu sudah
menerapkan sebuah konsep park and ride dimana pengguna kereta dapat memakirkan kendaraan pridadi
dilapangan tersebut dan kemudian melakukan perjalanan dengan kereta api dan mendapatkan insentive
dalam biaya parkir. Kawasan jurangmangu seolah-olah sudah menyerupai konsep TOD, tetapi dalam
integrasinya masih jauh dari konsep TOD.

V. KESIMPULAN
Kesimpulan dari pembahasan potensi penerapan kawasan berbasis transit di Stasiun Sudirman dan
Jurangmangu yakni :
1. Karakteristik guna lahan di kawasan Stasiun Sudirman dan Jurangmangu sudah menyerupai konsep TOD
yakni guna lahan campuran (pemukiman, perkantoran, pergadagangan jasa, pusat pemerintahan,
pendidikan) dalam radius 800 meter 1Km dari pusat transit.
2. Pada kedua stasiun tersebut, untuk pengembangan konsep TOD dilakukan dalam kawasan yang sudah
memiliki guna lahan dan aktivitas kegiatan, bukan dari lahan kosong.
3. Aksesbilitas di kawasan stasiun sudirman telah memiliki konsep integrasi antar stasiun dan transportasi
umum, sedangkan untuk di stasiun Jurangmangu masih rendah aksesbilitas terutama dengan transportasi
umum. Untuk aksesbilitas bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda dikedua stasiun tersebut juga masih
rendah. Integrasi dalam mengurangi pergerakan moda motorize ke non-motorize masih rendah untuk
kedua stasiun tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal dan Buku
!"#$%&'()* ,)$)'- !"# %#&' ()#*+,-. /#'*0102+34 5,020678 90)):.+'78 -.; '"# ()#*+,-. <*#-)- .)/
0&'1* .)/ 0&'12 ,'345)$&4 6'5%3$)5$7'"# ,')88* 9::;
Cervero, Robert. Transport Infrastructure and the Environment: Sustainable Mobility and Urbanism. Paper
Prepared for the 2nd Planocosmo International Conference. Bandung Institute of Technology. 2013
Currie, Graham. Bus Transit Oriented Development Stengths and Challenges Relative to Rail. Journal of
Public Transportation, Vol.9, No.4, 2006
Olaru, Doina, Brett Smith, John H.E. Taplin. Residential Location and Transit-Oriented Development in a
New Rail Corridor. Transportation Research Part A 45 (2011) 219-237
Renne. John L. Smart Growth and transit-Oriented Development at the State Level : Lesson from California,
New Jersey and Western Australia. Journal of Transportation Volum 11. No.3, 2008
Reconnecting America and the Center for Transit-Oriented Development, Station Area Planning How To
Make Great Transit-Oriented Places, Federal Transit Administration, New Jersey Avenue SE Washington
D.C, 2008.
Transit Coorporative Research Program, Transit-Oriented Development in The United States: Experience,
Chalanges adn Prospects. 2004
Victoria Transport Policy Institute. New Urbanism, Clustered, Mixed Use, Multi-Modal Neighbourhood
Design, July 2008

Tugas Akhir
Putri, Mega Novetrishka. 2011. Persepsi Pengguna Kereta Api dan Penduduk Perumahan Sekitar Stasiun
Terhadap Keberadaan Stasiun Kereta Api (studi Kasus : Stasiun Sudirman). Institut Teknologi Bandung.
(tidak dipublikasikan).