Anda di halaman 1dari 5

Penelusuran Aset dan Pemulihan Kerugian

Penelusuran Aset (asset tracing) dan sekaligus pemulihan kerugiannya (loss recovery)
merupakan bagian penting dari praktik forensik di kantor-kantor akuntan semacam the Big
Four dan di perusahaan Internasional yang berkecimpung dalam penelususran aset, seperti
Kroll & Associated, Pinkerton, dan Interclaim.
Pemberantasan korupsi sering kali memberi kesan bahwa satu-satunya tujuan
investigasi adalah menjebloskan pelaku ke penjara. Kesan lain adalah ketidakkonsistenan
atau kebingungan siapa yang mau diseret ke meja hijau, apakah kita mau menjebloskan
pelaku ke penjara atau mau mendapatkan kembali kerugian yang telah diderita negara, atau
tetorika penjarakan dan sita hartanya. Namu yang sering terjadi, hal tersebut berakhir dengan
membebaskan pelakunya dan membiarkan keluarga dan kroninya menikmati dan mewariskan
harta negara kepada anak cucunya.
Penelusuran aset sangat diperlukan jika pelaku tindak pidana korupsi (TPK) atau
pihak yang harus membayar tuntutan ganti rugi sengaja menolak membayar dan
menyembunyikan hartanya sehingga tidak dapat dilakukan penyitaan. Pada kasus dimana
pelaku mempunyai inisiatif untuk mengembalikan harta, maka penelusuran aset tidak
diperlukan. Penelusuran aset diharapkan membawa penyelidik, penyidik, atau penuntut
kepada informasi dimana harta itu disembunyikan.

AUTOKRAT DAN KLEPTOKRAT
Dengan menggunakan data Transparency International tahun 2004 dan Data Bank Dunia
(World Bank) dari beberapa tahun, diketahui informasi mengenai 10 mantan autokrat dan
kleptokrat, berikut datanya :
Tolong fotoin tabel 28.1 ya halaman 802-803 atau kalo gak perlu ya hapus
aja keterangannya
Koruptor terbesar di dunia mempunyai beberapa kesamaan. Mereka adalah pemimpin
politik, presiden, atau perdana menteri dengan kekuasaan yang sangat besar. Mereka
menguasai semua unsur trias politika. Pers dan oposisi dibungkam atau dihabisi : keamanan
negara menjadi pembenaran, pemilihan umum menjadi panggung sandiwara. Koruptor
terbesar adalah autokrat.
Kekuasaan absolut memungkinkan mereka menguasai seluruh sumber perekonomian,
kekuasaan absolut memungkinkan mereka untuk menjarah kekayaan negara, termasuk
kekayaan negara yang dibelanjai hasil utang luar negeri. Mereka adalah autokrat dan
kleptokrat, dua sisi dari mata uang yang sama. Kaum kleptokrat mempunyai kesamaan lain,
yaitu mereka menyimpan jarahan mereka di luar negeri di tempat yang mereka persepsikan
aman, sehingga dapat dinikmati sanak saudara dan kroninya sampai mereka meninggal.
Setelah mereka tidak lagi berkuasa, mereka mungkin terjerat hukum dan dihukum,
atau penguasa baru yang ingin melanjutkan praktik korupsi tersebut tidak mau menghukum
dengan alasan bagaimanapun mereka telah mengabdi dan berjasa terhadap negara. Atau
kemungkinan lain yang terjadi adalah para kleptokrat tersebut melarikan diri dan bermmukim
di luar negeri, menikmati jarahan mereka, dan tetap mengendalikan bisnis yang mereka
tinggalkan di Tanah Air.
Korupsi merupakan opportunity cost untuk program kesehatan, pendidikan,
kesejahteraan rakyat, keamanan negara (alat utama sistem senjata, alutsista), dll.

TAKSIRAN NILAI JARAHAN
Berbagai kajian telah dilakukan untuk menaksir banyaknya uang yang dicuci secara
global. Karena menaksir angka tersebut tidaklah mudah, maka taksiran terbaik yang bisa
dilakukan merupakan perkiraan kasar. Taksiran mengenai nilai jarahan dapat memberikan
indikasi mengenai rentang terendah dan tertinggi, berikut taksiran-taksiran tersebut :
1. 2% - 5% dari GDP Global sekitar US$ 800 miliar US$ 2 triliun dari segala macam
kegiatan melawan hukum.
2. US$20 miliar US$40 miliar, merupakan taksiran aset yang dijarah pemimpin korup
dari negara-negara miskin, khususnya di Afrika yang disimpan di luar negaranya.
3. US$500 miliar dalam kegiatan kriminal, US$ 20 miliar US$40 miliar uang hasil
korupsi, dan US$500 miliar dalam penyelundupan pajak per tahun. Jumlah total
melampaui US$1 triliun, separuhnya dari negara berkembang dan negara yang baru
meningkat dari perekonomian berkembang.
4. 25% dari GDP negara-negara Afrika hilang dikorupsi setiap tahunnya, atau sekitar
US$148 miliar. Ini meliputi semua jenis korupsi, termasuk suap yang diterima pegawai
negeri tingkat rendah sampai kickback dalam pengadaan barang di sektor publik, dan
sampai penjarahan uang negara secara terbuka oleh pemimpin politik.
PELAJARAN DARI KASUS MARCOS
BANTUAN UNTUK PENYELAMATAN KRISIS KEUANGAN 1997
PENELUSURAN ASET
Penelusuran aset dapat dilakukan dengan banyak cara. Beberapa terlihat terlalu
sederhana untuk seorang investigator. Pada kenyataannya cara yang sederhana dan relatif
murah dengan upaya yang pantang menyerah justru akan memberikan hasil. Informasi
mengenai aset yang disembunyikan dapat diperoleh dari sumber-sumber berikut :
1. Laporan Transaksi Keuangan yang mencurigakan dan Transaksi Keuangan Tunai yang
dikirim penyedia Jasa Keuangan kepada PPATK. Dari laporan tersebut didapatkan
informasi yang bermanfaat untuk pembekuan rekening bank dan penelusuran lebih lanjut
dari arus dana berikutnya.
2. Pihak PPATK juga mempunyai jaringan kerja sama dengan lembaga serupa di luar
negeri, yang menjadi counterpart-nya dan pihak Interpol. Informasi dari dalam dan luar
negeri dapat digunakan untuk maksud penelusuran aset sesuai dengan peraturan
perundang-undangan tindak pidana pencucian uang.
3. Informasi lain adalah dari hasil penelitian dari orang-orang yang mengkhususkan diri
dalam perburuan harta haram. Tulisan mereka merujuk pada referensi lain dan
wawancara mereka dengan orang-orang yang sangat mengetahui, tetapi lebih suka
identitas mereka tidak diungkapkan. Kelemahan informasi ini adalah kemungkinan ia
menjadi basi ketika buku diterbitkan. Namun dalam hal aset tidak mudah dipindahkan
secara fisik atau ganti nama, informasi ini bisa dimanfaatkan.
4. Ada bermacam-macam kantor pendaftaran yang informasinya terbuka untuk umum
karena memang bermaksud melindungi kepentingan umum, yang bisa dimanfaatkan
untuk mendapatkan informasi.
5. Khusus untuk penyelenggara negara, Keputusan Presiden Nomor 127 tahun 1999
mengatur tentang pembentukan komisi pemeriksa kekayaan penyelenggara negara dan
sekretaris jenderal komisi pemeriksa kekayaan penyelenggara negara.
6. Pembocoran informasi oleh orang dalam. Alasannya bermacam-macam, mulai dari
kekecewaan atau sakit hati dengan partner dagangnya, sampai harapan untuk
memperoleh keringanan hukuman karena bekerja sama dengan penegak hukum untuk
membongkar suatu kasus.
7. Persengketaan diantara anggota keluarga terkadang berakhir dengan pengungkapan harta
yang disembunyikan. Pengungkapan tersebut terjadi ketika anggota keluarga membawa
masalahnya ke pengadilan. Contohnya adalah ketika salah seorang petinggi pertamina
mewariskan deposito yang ditempatkan di Bank Sumitomo cabang Singapura.
8. Mengetahui kebiasaan etnik tertentu akan sangat membantu penelusuran aset. Etnik
perantau umumnya akan mengembalikan hasil jerih payah mereka ke kampung halaman,
bisa membangun rumah, membeli tanah, membangun pabrik, dsb. Tingkah laku tersebut
bisa diamati penyidik dengan dugaan bahwa ia membenahi dokumen kepemilikan tanah.
9. Psikologi manusia yang mendadak kaya, atau mendadak kaya dengan jalan pintas terlihat
dari pola pengeluaran yang biasanya cenderung untuk menunujukkan bahwa ia kaya dan
ingin diakui oleh orang sekitar, sehingga gaya hidup mereka cenderung mewah. Pola
konsumsi mewah tersebut seharusnya merupakan tanda-tanda ada indikasi fraud.
10. Kalau birokrat menyembunyikan harta hasil korupsi, bentuk hartanya adalah deposito
dan uang tunai dalam bentuk valas, khususnya US dolar. Karena itu penggerebekan
rumah dan di kantor pejabat yang menjadi tersangka kasus korupsi sering kali membawa
hasil.
11. Kecapaian psikologis, usia lanjut, dan faktor-faktor lain dapat mendorong seseorang
untuk menyerah. Untuk itu negara sering menjanjikan keringanan tertentu sebagai
imbalan untuk mengungkapkan keberadaan dan penyerahan asetnya.
12. Lembaga-lembaga tertentu dapat melakukan covert operations untuk menelusuri aset
tersembunyi.

PEMULIHAN KERUGIAN
Pemulihan kerugian merupakan proses menguban aset yang sudah ditemukan lewat
penelusuran aset menjadi aset untuk diserahkan kepada pihak yang dimenangkan dalam
penyelesaian sengketa. Proses ini, baik didalam maupun di luar negeri, antara lain meliputi
penyelidikan atas bukti-bukti mengenai kepemilikan harta, pembekuan atau pemblokiran
rekening di perbankan dan lembaga keuangan lainnya, dan penyitaan.
Dari kasus-kasus BLBI, diketahui bahwa pelaku dapat melarikan diri ke luar negeri dan
menyembunyikan hasil korupsi mereka di luar negeri. Untuk itu Indonesia harus bekerja
sama dengan negara lain untuk mengembalikan pelaku kejahatannya ke Indonesia (ekstradisi)
dan untuk prosedur-prosedur lain seperti penyelidikan, pemblokiran rekening, penyitaan, dll.
Kerjasama tersebut dikenal sebagai perjanjian mengenai Ekstradisi dan Mutual Legal
Agreement (MLA).
Karena banyak konglomerat kita melarikan kita melarikan diri ke dan
menyembunyikan harta mereka di Singapura, kerja sama dengan Singapura menjadi sangat
penting. Beberapa pejabat Indonesia meragukan kerja sama dengan Singapura. Mereka
mencurigai bahwa Singapura sengaja menampung koruptor Indonesia untuk kepentingan
ekonomi Singapura.
Hal tersebut dibantah secara resmi oleh pemerintah Singapura. Kita seharusnya tidak
memungkiri kesalahan kepolisian, kejaksaan, dan kantor imigrasi kita yang meloloskan
koruptor-koruptor itu. Selama kelemahan dalam bidang penegakan hukum masih terus
berlangsung, kita tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan berada di pihak Singapura.

Anda mungkin juga menyukai