Anda di halaman 1dari 7

Cross Sectional

A. Pengertian Studi Cross Sectional


Studi potong lintang (cross sectional) adalah rancangan epidemiologi yang
mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status
paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada satu saat
atau periode. Karakter pokok dari rancangan ini adalah bahwa status paparan dan status
penyakit diukur pada saat yang sama. Sedangkan studi potong lintang itu sendiri dapat
berlangsung satu saat, atau satu periode waktu. Yang dimaksudkan dengan satu periode
misalnya satu tahun kalender dilangsungkannya penelitian. Studi ini dapat juga dilakukan pada
satu peristiwa penting yang dialami individu, misalnya saat masuk perguruan tinggi,
pemeriksaan kesehatan pegawai baru, menjelang pension dan sebagainya. Dalam hal ini
waktu actual yang disebut suatu saatbervariasi antara satu orang dengan orang lainnya.

Studi cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan
data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya
diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel
subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati
pada waktu yang sama.
Penelitian cross sectional ini sering juga disebut penelitian transversal, dan sering
digunakan dalam penelitian-penelitian epidemiologi. Dibandingkan dengan penelitian-penelitian
yang lain, metode penelitian ini merupakan yang paling lemah karena penelitian ini paling
mudah dilakukan dan sangat sederhana. Pengertian-pengertian yang perlu dipahami dalam
penelitian cross sectional, dan juga untuk jenis penelitian analitik yang lain, di antaranya adalah
penyakit, atau efek, faktor risiko untuk terjadinya penyakit tersebut, dan agen penyakit
(penyebab penyakit).

B. Langkah langkah dalam melakukan Cross Sectional
Adapun langkah-langkah dalam melakukan penelitian cross sectional adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis
a. Pertanyaan penelitian yang akan dijawab harus dikemukakan dengan jelas.
b. Dalam studi cross-sectional analitik hendaklah dikemukakan hubungan antar variabel
yang diteliti.
2. Mengidentifikasikan variabel penelitian
Semua variabel yang diteliti dalam studi prevalen harus diindentifikasikan dengan cermat.
3. Menetapkan subyek penelitian
a. Menetapkan populasi penelitian
Bergantung kepada tujuan penelitian, maka ditentukan dari populasi terjangkau mana
subyek penelitian yang akan dipilih, apakah dari rumah sakit / fasilitas kesehatan, atau
dari masyarakat umum.
b. Menentukan sampel dan memperkirakan besar sampel
Besar sampel harus diperkirakan dengan formula yang sesuai dan pemilihan sampel
harus dilakukan dengan cara yang benar, agar dapat mewakili populasi terjangkau.

4. Melaksanakan pengukuran
a. Pengukuran faktor risiko
Penetapan faktor risiko dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, tergantung pada
sifat faktor risiko. Dapat digunakan kuesioner, catatan medik, uji laboratorium,
pemeriksaan fisik, atau prosedur pemeriksaan khusus.
b.Pengukuran efek (penyakit)
Terdapatnya efek atau penyakit tertentu dapat ditentukan dengan kuesioner,
pemeriksaan fisik, ataupun pemeriksaan khusus, bergantung kepada karakteristik
penyakit yang dipelajari. Harus ditetapkan kriteria diagnosisnya dengan batasan
operasional yang jelas.
5. Melakukan analisis
Analisis ini dapat berupa suatu uji hipotesis ataupun analisis untuk memperoleh
risiko relatif. Hal yang terakhir inilah yang lebih sering dihitung dalam studi cross-sectional
untuk mengidentifikasi faktor risiko.

C. Cross Sectional Untuk Penelitian Deskriptif
Studi potong lintang untuk penelitian deskriptif adalah studi yang bertujuan untuk
menggambarkan mengenai fenomena yang ditemukan, baik berupa faktor risiko (paparan),
ataupun efek (penyakit/masalah kesehatan), dengan peneliti melakukan observasi atau
pengukuran variabel hanya satu kali pada satu saat. Misalnya, penelitian mengenai pemberian
ASI eksklusif di suatu masyarakat, penelitian mengenai gambaran kejadian anemia pada
remaja putri, dan penelitian tentang pengetahuan siswa SMA mengenai kesehatan reproduksi
remaja.

D. Cross Sectional Untuk penelitian Analitik
Studi potong lintang untuk penelitian analitik adalah studi yang mempelajari hubungan
faktor risiko (paparan) dan efek (penyakit/ masalah kesehatan) dengan cara mengamati faktor
risiko dan efek secara serentak pada banyak individu dari suatu populasi pada satu saat.
Misalnya, penelitian mengenai perbedaan pemberian ASI eksklusif pada berbagai tingkat
pendidikan ibu, penelitian mengenai beda proporsi hiperlipidemia pada pria dan wanita, dan
penelitian mengenai hubungan berbagai faktor risiko dalam menyebabkan terjadinya penyakit
tertentu..
Dalam studi potong lintang untuk penelitian analitik tiap subjek hanya diobservasi satu
kali dan pengukuran variabel penelitian, yaitu variabel bebas (faktor risiko) dan variabel terikat
(efek / penyakit / masalah kesehatan) dilakukan pada saat yang sama. Dari pengukuran
tersebut, dapat diketahui jumlah subjek yang mengalami efek (efek +), baik pada kelompok
subjek yang mempunyai faktor risiko (faktor risiko +) maupun pada kelompok tanpa faktor
risiko (faktor risiko -). Skema studi potong lintang dapat dilihat pada skema berikut.




Gambar. Skema Studi Potong Lintang

E. Analisis Data hasil Penelitian
Hasil observasi atau pengukuran variable penelitian pada studi potong lintang untuk
epenlitian deskriptif kemudian dilakukan analisis, yaitu dengan menentukan jumlah atau
frekuensi dan distribusi berdasarkan variable orang, tempat dan waktu. Sedangkan hasil
observasi atau pengukuran factor risiko dan efek pada penelitian analitik kemudian dianalisis
adanya hubungan atau perbedaan prevalens antar kelompok yang diteliti. Analisis ini dapat
berupa suatu uji hipotesis (uji statistic) seperti uji Chi Square (X
2
), uji t (t-test), regresi dan
korelasi atau analisis untuk memperoleh faktor risiko, yaitu dengan menggunakan prevalence
ratio (PR).
PR adalah perbandingan antara prevalensi efek ( penyakit / masalah kesehatan) pada
kelompok subjek yang memiliki faktor risiko dan prevalensi efek pada kelompok tanpa faktor
risiko. Prevalence Ratio (PR) menunjukkan peran faktor risiko dalam terjadinya efek pada studi
potong lintang. PR dapat dihitung secara sederhana, yaitu dengan menggunakan tabel 2x2
sebagai berikut.

Tabel kontingensi 2x2
Populasi Sampel
Faktor Risiko +
Faktor Risiko -
Efek +
Efek -
Efek +
Efek -
Faktor Risiko Penyakit Total
Ya Tidak
Terpapar A b a+b
Tidak terpapar C d c+d
Total a+c b+d a+b+c+d = N

Dari definisi PR di atas, rumus untuk menghitung prevalence ratio adalah sebagai berikut
PR =
/( + )
/( + )

PR harus selalu disertai nilai interval kepercayaan (confidence interval) yang dikehendaki,
misalnya interval kepercayaan 95%. Interpretasi hasil PR adalah
1. Jika nilai PR =1berarti variabel yang diduga sebagai faktor risiko tidak ada pengaruh dalam
terjadinya efek,atau dengan kata lain bukan sebagai faktor risiko terjadinya efek
(penyakit/masalah kesehatan).
2. Jika nilai PR>1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti variabel
tersebut sebagai faktor risiko terjadinya efek (penyakit/masalah kesehatan).
3. Jika nilai PR<1 dan rentang kepercayaan interval tidak mencakup angka 1, berarti faktor
yang diteliti merupakan faktor protektif terjadinya efek.
4. Jika nilai interval kepercayaan PR mencakup nilai 1 maka berarti mungkin nilai
prevalensi=1, sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor yang kita teliti sebagai
faktor risiko atau faktor protektif.

F. Kelebihan dan Kekurangan
1. Kelebihan Manfaat Penelitian Cross Sectional :
a. Mengetahui prevalens atau rasio prevalens
b. Mengetahui hubungan antara risiko dan penyakit
c. Keuntungan yang utama dari desain cross sectional adalah memungkinkan penggunaan
populasi dari masyarakat umum, tidak hanya para pasien yang mencari pengobatan,
hingga generalisasinya cukup memadai.
d. Desain ini relatif mudah, murah, dan hasilnya cepat dapat diperoleh.
e. Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih konklusif.
Misalnya suatu laporan cross-sectional tentang hubungan antara kadar HDL kolesterol dan
konsumsi alkohol (atau eksperimen) untuk dapat memastikan adanya hubungan sebab
dan efek.
f. Hasil segera diperoleh
g. Dapat menjelaskan hubungan antara fenomena kesehatan yang diteliti dengan faktor-
faktor terkait (terutama karakteristik yang menetap)
h. Dapatkan dimasukan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian cohort atau eskperimen,
tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya.
2. Kekurangan Peneltian Cross Sectional
a. Hanya kasus prevalens dan/atau yang tidak terkena dampak tertentu yang diteliti
b. Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek
dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas).
c. Studi prevalens lebih banyak menjaring subjek yang mempunyai masa sakit yang panjang
dari pada yang mempunyai masa sakit pendek, karena individu yang cepat meninggal
memepunyai kesempatan yang lebih terjaring dalam studi.
d. Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang dipelajari
banyak
e. Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang, misalnya kanker lambung, karena
pada populasi usia 45-49 tahun diperlukan paling tidak 10.000 subyek untuk mendapatkan
suatu kasus.
f. Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens maupun prognosis
g. Membutuhkan skema sampling yang terencana baik sehingga dapat memberikan
kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk terpilih
G. Cara menghitung Besarnya Sampel
Untuk penelitian survei, biasanya rumus yang bisa dipakai menggunakan
proporsi binomunal (binomunal proportions). Jika besar populasi (N) diketahui, maka
dicari dengan menggunakan rumus berikut:

Dengan jumlah populasi (N) yang diketahui, maka peneliti bisa melakukan
pengambilan sampel secara acak). Namun apabila besar populasi (N) tidak diketahui atau (N-
n)/(N-1)=1 maka besar sampel dihitung dengan rumus sebagai berikut :


Keterangan :
n = jumlah sampel minimal yang diperlukan
= derajat kepercayaan
p = proporsi anak yang diberi ASI secara eksklusif
q = 1-p (proporsi anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif
d = limit dari error atau presisi absolut
Jika ditetapkan =0,05 atau Z1- /2 = 1,96 atau Z2
1- /2 = 1,962 atau dibulatkan menjadi 4, maka rumus untuk besar N yang diketahui kadang-
kadang diubah menjadi:






H. Contoh Penggunaan Peneltian Cross Sectional
Studi untuk Mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan Berat Badan
Bayi Lahir (BBL), dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross sectional.
Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukanya masing-
masing.
- Variabel dependen (efek ) : BBL
- Variebel independen (risiko ) : anemia besi.
- Variabel independent (risiko) yang dikendalikan : paritas, umur ibu, perawatan kehamilan, dan
sebagainya.
Tahap kedua : menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya.
Subjek penelitian : ibu-ibu yang baru melahirkan, namun perlu dibatasi daerah mana ereka
akan diambil contohnya lingkup rumah sakit atau rumah bersalin. Demikian pula batas waktu
dan cara pengambilan sampel, apakah berdasarkan tekhnik random atau non-random.
Tahap ketiga : Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel
dependen-independen dan variabel-variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam
waktu yang sama).
Caranya mengukur berat badan bayi yang sedang lahir, memeriksa Hb ibu, menanyakan umur,
paritas dan variabel-variabel kendali yang lain.
Tahap keempat : Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan. Bandingkan
BBL dengan Hb darah ibu. Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya
hubungan antara anemia dengan BBL.

Daftar Pustaka
Murti, Bhisma.2011. Desai Studi
Beaglehole (2006). Principle Of Epidemiologi. World Health Organization, Switzerland.
Timmerk, Thomas. 2004. Introduction to epidemiologi.

Anda mungkin juga menyukai