Anda di halaman 1dari 15

SEMESTA GLORY

Selasa, 17 Juli 2012


MAKALAH LAW & ECONOMIC
Dugaan Kasus Penggelapan Pajak Perusahaan Bakrie Group
ANALISIS EKONOMI ATAS HUKUM | MAGISTER ILMU HUKUM | UNIVERSITAS
TRISAKTI

BAB I
I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKAN
Pajak merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Oleh karena itu peringatan
presiden jika ada orang yang tidak membayar pajak harus ditindak adalah wajar.
Pernyataan Presiden soal pengemplang pajak, tidak diarahkan ke pihak manapun. Namun sudah
jelas diarahkan bagi pihak yang selama ini lalai membayar pajak sebagai wujud partisipasi
pembangunan. Saya berharap (harapan kita semua tentunya) para pengemplang pajak harus
membayar pajak segera, sebelum ada tindakan dari pemerintah. Memang posisi pemerintah serba
salah, memberi peringatan bagi pihak yang belum bayar pajak disalahkan, bahkan dipolitisir. Jika
tidak diingatkan, pemerintah dianggap diam saja dan sebagainya. Masyarakat harus bisa
memahami Pajak adalah salah satu pilar penting perekonomian. Tanpa pajak, negara tidak mampu
membiayai pembangunan. Tanpa pajak, pemerintah mustahil bisa menggaji pegawai dan
menyejahterakan rakyat. Karena itu, pemerintah harus sangat serius menindak pengemplang
pajak. Sayangnya, premis itu jauh lebih gampang diucapkan daripada dilakukan. Faktanya
pemerintah kerap gagal menghadapi para pengemplang dan penggelap pajak.
Munculnya kembali kasus dugaan pengemplangan pajak kelompok usaha Bakrie menambah bukti
empiris betapa sulit bertindak tegas terhadap wajib pajak ukuran besar. Yang cenderung terjadi
adalah pemerintah lebih banyak bersikap longgar terhadap mereka.
Tersebutlah tiga perusahaan Grup Bakrie yang dilaporkan telah lalai membayar pajak sebesar
Rp2,1 triliun. Perusahaan itu adalah PT Bumi Resource, PT Kaltim Prima Coal (KPC), dan PT
Arutmin Indonesia. Bumi menunggak pajak sebesar Rp376 miliar, KPC sebesar Rp1,5 triliun, dan
Arutmin senilai Rp300 miliar.
Kasus itu sebenarnya telah muncul tahun lalu terkait dengan surat pemberitahuan tahunan (SPT)
2007. Namun, pemerintah tidak tegas menyelesaikan kasus itu sehingga kini muncul kembali
dengan spectrum persoalan yang lebih kompleks. Lebih kompleks karena urusan pajak
itu dikait-kaitkan dengan kasus Bank Century, yaitu ditengarai memengaruhi sikap Golkar yang
kini dipimpin Aburizal Bakrie. Setidaknya kasus Bank Century di satu pihak, dan kasus
pengemplangan pajak itu di lain pihak, telah memunculkan ke permukaan penilaian bahwa
ternyata ada perseteruan yang keras antara Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie.

Sebuah perseteruan yang disebut-sebut menyulut adanya kehendak kuat untuk menggusur Sri
Mulyani dari kabinet.
Bahwa pajak merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan, semua prasarana
umum kebanyakan dibangun dari pajak dari masyarakat. Oleh karena itu, duduk perkara harus
dikembalikan. Pengemplang pajak adalah urusan hukum. Status mereka adalah penjahat. Pihak
berwajib semestinya bertindak tanpa kompromi. Usutlah habis-habisan dan bila terbukti, hajarlah
sangat keras.[1]
Dalam kasus dugaan pengemplangan pajak Grup Bakrie, pemerintah seharusnya lebih berani.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, telah menolak gugatan praperadilan PT Kaltim Prima Coal
yang memerkarakan Ditjen Pajak. Itu seharusnya menjadi momentum pemerintah untuk memulai
sikap lebih tegas, lebih keras, dan lebih adil. Jangan sampai pemerintah dinilai diskriminatif
terhadap wajib pajak. Wajib pajak skala kecil dan perorangan dikejar-kejar, sementara wajib pajak
skala besar yang nakal dibiarkan, bahkan dimanjakan.
Sudah tepat langkah Ditjen Pajak untuk memidanakan Grup Bakrie dalam kasus dugaan
pengemplangan pajak itu. Tunggakan pajak sebesar Rp2,1 triliun itu adalah jumlah yang sangat
bernilai bagi rakyat. Sebuah jumlah bisa membeli 4,2 miliar kilogram beras.
Karena itu, jangan sampai kasus ini dipetieskan seperti tahun lalu.
Sejak terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1990 an, masalah
corporate governance mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat dan pemerintah.
Hal ini karena adanya anggapan bahwa masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan yang ada
di Indonesia, yang secara lansung juga menyebabkan terjadinya krisis moneter tersebut, adalah
karena kurang diterapkannya prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate
governance) didalam banyak perusahaan di Indonesia.
Selain itu tuntutan atas adanya penerapan good governance itu juga telah merupakan salah satu isu
untuk menarik minat masuknya modal asing kedalam pasar modal suatu negara. Sehingga makin
baik penerapan prinsip-prinsip good governance juga merupakan indikasi adanya perlakuan yang
baik terhadap pemodal. Salah satu tema utama good governance adalah masalah keterbukaan.
Good corporate governance merupakan konsep yang menekankan pentingnya hak pemegang
saham untuk memperoleh informasi dengan benar, akurat, dan tepat waktu serta kewajiban
perusahaan untuk mengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, dan transparan mengenai
semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder. Prinsip corporate governance
diharapkan dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan, yang pada akhirnya meningkatkan
kepercayaan pemakai laporan keuangan, termasuk investor
Peristiwa jatuhnya harga saham Perusahaan dibawah naungan Bakri Group, telah membuka mata
para investor pasar modal dan memberikan pelajaran berharga, bahwa penerapan Etika Bisnis
sangatlah penting untuk menghindari terjadinya skandal dan berbagai bentuk pelanggaran pada
perusahaan. Kejadian tersebut tidak saja berdampak pada perusahaan, melainkan turut
menimbulkan ketidak percayaan publik terhadap para profesional yang turut menyusun laporan
keuangan yang menyesatkan publik tersebut. Sekali pencipta pasar seperti PT. Bumi Resouces

Tbk. Kehilangan kredibilitasnya dimata pembeli dan penjual potensialnya, maka pembeli dan
penjual tersebut akan secara cepat memindahkan bisnis mereka kepihak lain yang bisa diandalkan.
Menurut Direktorat Pajak, tiga perusahaan milik grup Bakrie diduga menggelapkan pajak sebesar
Rp 2,1 triliun. Rinciannya, PT Bumi Resources sebesar Rp 376 miliar, PT Kaltim Prima Coal
sebesar Rp 1,5 triliun, dan PT Arutmin Indonesia sebesar US$ 39 juta[2].
Sebagai sebuah perusahaan Publik, ketiga perusahaan tersebut haruslah menjalankan prinsipprinsip good corporate governance agar tudingan-tudingan miring seperti adanya dugaan
penggelapan pajak bisa teratasi yakni dengan melakukan tranparasi dan keterbukaan
informasi. Bagi perusahaan yang telah berstatus sebagai perusahaan yang akan dan telah go-public
di pasar modal, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan merupakan keharusan
mutlak yang telah diatur dalam berbagai regulasi, untuk perlindungan bagi investor di pasar
modal, di samping untuk menunjang keberlangsungan (sustainability) perusahan itu sendiri.
Kejahatan penggelapan pajak sangat merugikan masyarakat karena pembiayaan APBN Indonesia
sangat bergantung pada pemasukan dari sektor pajak. pembiayaan APBN yang menentukan
penghidupan rakyat Indonesia 80 persennya diperoleh dari pemasukan pajak, bukan dari minyak
atau hasil hutan, sehingga kejahatan penggelapan atau manipulasi pajak sangat merugikan
kepentingan rakyat luas. Setiap pelaku penggelapan pajak yang dijatuhi putusan penjara tidak
serta-merta bebas dari kewajibannya membayar pajak. Dikatakan bahwa setelah putusan
dijatuhkan, Ditjen Pajak akan mengeluarkan surat penagihan. Jika kewajiban tidak dipenuhi
pelaku, akan dikeluarkan surat penagihan paksa. Upaya penegakan hukum yang adil dan beribawa
mutlak diperlukan dalam menyelesaikan kasus dugaan penggelapan pajak ini, karena nantinya
public akan mengetahui bagaimana kisah yang sebenarnya dari kasus ini dan public juga
mengetahui bagaimana proses penegakan hukum dibidang pasar modal itu sendiri. Penyelesaian
kasus ini harus dijauhkan dari ketegangan politik yang ada. Mengutip kata teori dari Lawrence M.
freidman, ada tiga faktor penegakan hukum yakni:
- Subtansi hukum terkait dan bersangkut paut dengan peraturan per undang-undangan.
- Struktur hukum terkait dengan bersangkut-paut dengan aparat penegak hukum
- Budaya hukum terkait dengan kesadaran hukum masyarakat[3].
B.

ALASAN MEMILIH TOPIK BAHASAN

Dalam kasus dugaan penggelapan pajak seperti diatas, menarik untuk terus dikaji baik dalam
ruang diskusi perkuliahan maupun non perkuliahan. Hal lain yang tidak lebih penting adalah
bagaiman menciptakan kesadaran hokum bagi masyarakat sebagai komponen penting bagi
tegaknya supremasi hokum Indonesia, terutama dalam mencapai keadilan secara ekonomi
dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang mensejahterakan. Hal tersebut diatas yang
melatar belakangi alas an penngangkatan isu penggelapan pajak oleh bakrie group dalam
penulisan makalah Analisa Ekonomi Atas Hukum sebagai syarat mengikuti ujian akhir
semester program magister ilmu hokum Universitas Trisakti. Masalah pokok lain yang harus
diketahui bersama adalah bagaimana penegakan hukum terhadap masalah penggelapan Pajak yang

terjadi di Perusahaan Bakri Group? Atas alasan seperti diatas, topic ini menjadi pilihan saya untuk
di kaji lebih mendalam.

BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN MASALAH DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK OLEH
PERUSAHAAN BAKRIE GROUP
A. Sekilas Tentang Penggelapan Pajak
Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga wajar jika tidak satupun perusahaan (wajib pajak)
yang dengan senang hati dan suka rela membayar pajak. Karena pajak adalah iuran yang sifatnya
dipaksakan, maka negara juga tidak membutuhkan kerelaan wajib pajak. Yang dibutuhkan
oleh negara adalah ketaatan. Suka tidak suka, rela tidak rela, yang penting bagi negara adalah
perusahaan tersebut telah membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lain halnya
dengan sumbangan, infak maupun zakat, kesadaran dan kerelaan pembayar diperlukan dalam hal
ini.
Mengingat pajak adalah beban yang akan mengurangi laba bersih perusahaan- maka perusahaan
akan berupaya semaksimal mungkin agar dapat membayar pajak sekecil mungkin dan berupaya
untuk menghindari pajak. Namun demikian penghindaran pajak harus dilakukan dengan cara-cara
yang legal agar tidak merugikan perusahaan di kemudian hari. Penghindaran pajak dengan cara
illegal adalah penggelapan pajak. Hal ini perbuatan kriminal, karena menyalahi aturan yang
berlaku. Contoh kasus penggelapan pajak :
a.
Melaporkan penjualan lebih kecil dari yang seharusnya, omzet 10 milyar hanya dilaporkan
dalam laporan keuangan perusahaan sebesar 5 milyar misalnya.
b.
Menggelembungkan biaya perusahaan dengan membebankan biaya fiktif;
c.
Transaksi export fiktif,
d.
Pemalsuan dokumen keuangan perusahaan[4]

Jika dianalogikan pajak dengan karcis tol, Jika melewati jalan tol namun tidak membayar karcis
tol, maka itulah penggelapan pajak. Sedangkan jika kita menghindari untuk membayar karcis tol
dengan cara memilih lewat jalan biasa, maka itulah penghindaran pajak. Menghindari membayar
tol (pajak) dengan cara tidak lewat jalan tol adalah cara yang legal.
Dalam ketentuan perpajakan, masih terdapat berbagai celah loophole- yang dapat dimanfaatkan
oleh perusahaan agar jumlah pajak yang dibayar oleh perusahaan optimal dan minimum (secara
keseluruhan). Optimal disini diartikan sebagai, perusahaan tidak membayar sesuatu (pajak) yang
semestinya tidak harus dibayar, membayar pajak dengan jumlah yang paling sedikit namun

tetap dilakukan dengan cara yang elegan dan tidak menyalahi ketentuan yang berlaku. Selain
menghindari transaksi yang merupakan obyek pajak, langkah-langkah penghematan pajak yang
dapat dilakukan oleh perusahaan antara lain :
a.
Memilih Bentuk usaha yang memiliki tarif Pajak terendah
b.
Memaksimalkan biaya yang telah dikeluarkan agar dapat dibebankan sebagai pengurang
penghasilan,
c.
Memilih berbagai alternatif transaksi yang memberikan efek beban pajak terendah.
d.
Memaksimalkan kredit pajak yang telah dibayar[5]
Selain wajib membayar pajak atas penghasilan yang diperoleh, perusahaan juga memiliki
kewajiban untuk memotong pajak yang terutang atas penghasilan yang dibayarkan kepada pihak
lainnya, baik kepada karyawan maupun kepada pihak ketiga. Atas pembayaran gaji dan tunjangan
kepada karyawan perusahaan wajib memotong dan menyetor PPh 21 yang terutang. Pembahasan
mengenai PPh 21 akan dilanjutkan pada kesempatan lain.
Sedangkan atas pembayaran kepada pihak ketiga, atas imbalan jasa/ kegiatan, perusahaan juga
memiliki kewajiban memotong PPh 23 yang terutang dan menyetorkannya ke kas negara. Dalam
kondisi yang ideal, PPh pasal 23 yang harus dipotong dari pembayaran kepada pihak ke-3
(vendor) tidaklah menjadi pengurang penghasilan (biaya) bagi perusahaan, karena perusahaan
hanya mengurangi jumlah uang yang akan dibayarkan kepada vendor sebesar tarif PPh 23 yang
berlaku dan menyetorkannya ke kas negara.
Sayangnya, dunia apalagi dunia pajak- tidak selalu indah. Ada saat dimana perusahaan harus
melakukan transaksi dengan vendor yang lebih superior dan tidak bersedia dipotong pajak atas fee
yang akan diterimanya. Ada saat dimana perusahaan dalam posisi sangat membutuhkan jasa
pihak ketiga tersebut karena otoritas yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan
lagi-lagi akan memperhitungkan alternatif mana yang harus dipilih agar pajak tidak semakin
menjadi beban bagi perusahaan. Kadang perusahaan terpaksa memilih untuk melakukan gross up
atas fee yang akan dibayarkan kepada vendor / pihak ketiga yang jasanya sangat dibutuhkan
perusahaan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Adakalanya perusahaan memilih untuk
menanggung pajak yang seharusnya menjadi beban pihak lain, meskipun beban pajak tersebut
pada akhirnya menjadi komponen non deductable item.
Salah satu tujuan sebuah perusahaan didirikan adalah untuk tujuan ekonomi. salah satu tolok ukur
keberhasilan sebuah perusahaan secara ekonomi adalah pencapaian laba bersih setelah pajak yang
tinggi. Laba bersih yang tinggi tentu diawali dengan pencapaian target penjualan yang tinggi,
kemudian diikuti dengan pengeluaran biaya-biaya yang efisien, dan pembayaran pajak yang
optimal, sehingga akan dicapai laba bersih setelah pajak yang maksimal. Ketika penjualan
mencapai target, namun biaya yang dikeluarkan jauh lebih tinggi, maka secara ekonomi hal tsb
hanya akan menjadi sebuah pencapaian yang sia-sia. Demikian pula ketika laba bersih
secara komersial- sudah mencapai angka yang optimal, karena didukung dengan pencapaian target
penjualan yang maksimal dan pengeluaran yang minimal, bisa jadi akan menjadi sia-sia ketika
ternyata laba habis tergerus beban pajak yang tidak seharusnya. Misalnya karena banyaknya biaya
yang merupakan kriteria non deductable expenses.

B. DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK OLEH PERUSAHAAN BAKRIE GROUP


Ada ungkapan big is beautiful. Tapi sepertinya ungkapan itu tidak seluruhnya benar. Hal ini
seperti yang dialami PT Bumi Resources Tbk. Salah satu produsen tambang batu bara terbesar di
Indonesia ini sedang pusing lantaran dituding menggelapkan pajak sebesar Rp2,1 triliun. LSM
Indonesian Corruption Watch (ICW) menilai, jumlah itu membengkak menjadi Rp11,426 triliun
setelah perusahaan diduga kurang membayar royalti pada periode 2003-2008[6].
Seperti diketahui, dugaan penggelapan pajak PT Bumi Resources Tbk, termasuk anak usahanya
PT Arutmin Indonesia, dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar Rp2,1 triliun pada tahun 2007
itu tengah diproses oleh Polda Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Bedanya, untuk dugaan
penggelapan pajak KPC tengah disidik Polda Kaltim. Lalu Polda Kalsel menyelidiki dugaan
penggelapan pajak Arutmin.
Koordinator Monitoring dan Analisa Anggaran ICW, Firdaus Ilyas mengatakan pembengkakan
utang perusahaan tambang milik Aburizal Bakrie itu didapat setelah ICW menelaah data-data
primer seperti laporan keuangan perusahaan, prospektus, laporan pada pemegang saham, data
produksi serta penjualan batu bara perseroan. Data itu juga kami dapat dari hasil audit BPK. Lalu,
setelah sejumlah dokumen tersebut diteliti, ditemukan dua kenakalan yang dilakukan perseroan.
Pertama, ditemukan kekurangan setoran Dana Hasil Penjualan Batubara (DHPB) pada 2003-2008,
mencapai AS$143,189 juta. Tetapi, angka itu belum disesuaikan dengan laporan keuangan
persero 2008 yaitu AS$608,178 juta.[7]
Kedua, emiten berkode saham BUMI itu kurang membayar royalti periode 2003-2008 yang
jumlahnya mencapai AS$477,299 juta. Alhasil, total kewajiban Bumi pada negara mencapai
AS$1,228 miliar. Apabila menggunakan kurs Rp9.300, maka kewajiban BUMI mencapai
Rp11,426 triliun. Atas dasar itu, ICW mendesak Departemen Keuangan memanggil dan
memeriksa kantor akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan BUMI.
Selain itu, Departemen Keuangan juga harus memanggil Direktur Jenderal Mineral Batu Bara dan
Panas Bumi Departemen ESDM. Soalnya, dari Direktur Jenderal ini, bisa diketahui berbagai hal
yang mempengaruhi penerimaan BUMI seperti harga batu bara.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak sendiri tidak tinggal diam. Institusi yang bernaung di bawah
Departemen Keuangan ini terus melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tunggakan
pajak tiga perusahaan Grup Bakrie tersebut. Dirjen Pajak Mochamad Tjiptardjo menegaskan, jika
ingin penyidikan dihentikan maka Grup Bakrie harus membayar kewajiban lima kali lipat dari
total tunggakan. Jadi, harus bayar denda 400 persen. Kalau ditambah pokok tunggakan, jadi 500
persen. Selain harus melunasi kewajibannya, ada prosedur lain yang harus ditempuh Grup Bakrie

jika ingin penyidikan kasus ini dihentikan. Mereka harus mengajukan permohonan ke Menkeu,
kemudian dari Menkeu ke Kejagung untuk minta penghentian penyidikan. Langkah ini tertuang
dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 130/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Penghentian
Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Perpajakan Untuk Kepentingan Penerimaan Negara.
PMK yang berlaku sejak 18 Agustus 2009 itu menyatakan, proses penyidikan kasus tindak pidana
bidang perpajakan dapat dihentikan melalui izin dari Menkeu, setelah wajib pajak (WP) melunasi
pajak yang tidak atau kurang dibayarkan atau yang seharusnya tidak dikembalikan serta setelah
membayar sanksi administrasi berupa denda sebesar empat kali dari pajak yang tidak atau kurang
dibayar atau yang seharusnya tidak dikembalikan.
Kejaksaan Agung (Kejagung) dapat menghentikan penyidikan kasus pidana bidang perpajakan
maksimal selama enam bulan sejak tanggal surat permintaan yang dibuat Menkeu. Sebelumnya,
Dirjen Pajak diminta Menkeu meneliti dan memberi pendapat sebagai bahan pertimbangan. Surat
yang diajukan WP kepada Menkeu harus dilengkapi pernyataan berisi pengakuan bersalah dan
kesanggupan pelunasan pembayaran pajak dan sanksi.

Ditjen Pajak yang mengetahui kasus ini mengatakan kemungkinan penambahan nilai kerugian
negara terjadi karena dalam proses penyidikan yang dilaksanakan, penyidik menemukan
komponen biaya pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang tidak sesuai dengan seharusnya,
sehingga menyebabkan besaran pajak yang dibayarkan menjadi kecil. Itu salah satunya dari biaya
bunga pinjaman. Kami sedang menelusuri, nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Komponen biaya merupakan salah satu komponen yang bisa dikurangkan dari penghasilan bruto
dalam rangka penentuan penghasilan kena pajak (PKP). Namun, berdasarkan ketentuan
perpajakan, tidak semua komponen biaya bisa dikurangkan dari penghasilan bruto.
Saat meminta penjelasan lebih lanjut mengenai komponen biaya apa saja yang dimaksud, dia
enggan menjelaskannya. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Intelijen dan Penyidikan Direktorat
Jenderal Pajak Pontas Pane ketika dikonfirmasi enggan berkomentar banyak soal perkembangan
penyidikan ketiga kasus tersebut. Namun, menurut dia, Ditjen Pajak terus melaksanakan proses
penyidikan meski terjadi resistensi dari pihak saksi maupun tersangka. Kami akan jalan terus,
katanya.
Direktorat Jenderal Pajak saat ini mengusut kasus dugaan pidana pajak oleh tiga perusahaan Grup
Bakrie, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), Bumi, dan PT Arutmin Indonesia. Ketiganya diduga
menyampaikan surat pemberitahuan (SPT) tahunan tahun pajak 2007 secara tidak benar. Untuk
KPC dan Bumi, Ditjen Pajak telah melakukan penyidikan sementara untuk Arutmin masih dalam
proses pemeriksaan bukti permulaan. Terkait pelaksanaan penyidikan tersebut, mengungkapkan
tim penyidik Ditjen Pajak mengalami kesulitan memanggil saksi. Tidak tahu kenapa, tapi memang
informasi yang kami dapat menyebutkan di dalam mereka (Grup Bakrie) sudah ada tekanan.
Menurut dia, pemanggilan terhadap tersangka juga mengalami hambatan karena yang
bersangkutan tidak pernah memenuhi panggilan pemeriksaan yang dilayangkan penyidik pajak

dengan alasan sedang sakit. Kami sudah panggil sekali, nanti tak lama lagi akan kami panggil
kedua kali. Kalau juga tak dipenuhi akan kami panggil paksa dibantu Kepolisian, tegasnya.

Dengan adanya masalah ini, kita bisa melihat bahwa sebagai perusahaan yang telah Go Publik
masih adanya indikasi bahwa perusahaan-perusahaan tersebut masih belum menerapkan prinsipprinsip good corporat governance, walaupun masih sebatas dugaan tetapi asumsi-asumsi negative
telah mengarah kesana. Untuk bisa memastikannya lebih jauh maka harus dilakukan penyidikan
lebih lanjut, tetapi untuk dampak sementara akibat adanya dugaan ini, investor sudah mulai ragu
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan-perusahaan tersebut.
Didalam konsep good governance setiap informasi yang hendakkan disampaikan harus terbuka
dan akurat, jauh dari manipulasi dan hal-hal yang menyesatkan, sebab dengan diterapkannya
Prinsip corporate governance diharapkan dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan, yang
pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pemakai laporan keuangan, termasuk investor.

BAB III
ANALISA TEORITIK DAN KAJIAN AKDEMIS
I.
TEORI EFISIENSI DALAM KASUS PENGGELAPAN PAJAK PERUSAHAAN
BAKRIE GROUP
Dalam kasus dugaan penggelapan pajak oleh perusahaan Bakrie Group, perusahaan
mengemukakan bahwa dalam menghadapi masa sulit diperlukan efisiensi. Berkaitan dengan hal
tersebut, efisiensi yang paling cepat untuk dapat dilakukan adalah dengan mengurangi
pengeluaran, seperti memanipulasi laporan pajak, mengurangi tenaga kerja, dan lain-lain. Alasan
efisiensi tersebut tak lain adalah konsekuensi dari globalisasi yang memadatkan jarak dan waktu
memang menuntut kompetisi ekonomi global menjadi kian sengit dengan tenggat waktu yang
amat cepat. Dengan demikian, sebuah transaksi bisnis tak lagi memakan waktu yang lama seperti
dahulu kala. Kini, untuk melakukan transaksi bisnis antar benua bahkan cukup memakan waktu
dalam hitungan detik saja. Hal tersebut tentu menuntut perusahaan pada situasi yang amat
kompetitif yang menimbulkan konsekuensi ketat bahwa kegagalan berefisiensi akan membuat
perusahaan ketinggalan dan kehilangan kesempatan.
Efisiensi menjadi kata kunci bagi perusahaan untuk mengejar keuntungan yang berpacu dalam
persaingan global tersebut. Namun menurut Robert Cooter, sesungguhnya efisiensi bukan sekadar
dipacu oleh persaingan global terlebih memang sejak awalnya sudah menjadi sifat pengusaha
untuk melakukan efisiensi dan maksimalisasi hasil usaha
Secara umum, kita dapat mengatakan bahwa ekonomi menghasilkan sebuah teori tingkah
laku/perilaku untuk memprediksi bagaimana respon manusia terhadap perubahan-perubahan
dalam hukum. Teori ini melampaui intuisi, hanya sebagai ilmu sains yang melampaui akal biasa
(common sense). Ilmu Ekonomi memprediksi efek kebijakan terhadap efisiensi. Efisiensi selalu

berhubungan dengan pembuatan kebijakan, karena akan selalu lebih baik mencapai semua
kebijakan-kebijakan yang ada dengan biaya yang rendah daripada dengan biaya yang tinggi.
Pejabat umum tidak pernah menyokong uang yang siasia/pemborosan.

Selain efisiensi, Ilmu ekonomi yang juga memprediksi efek dari kebijakan-kebijakan dalam nilai
penting lainnya adalah distribusi. Diantara penerapan ilmu ekonomi itu terhadap kebijakan publik
adalah penggunaannya untuk memprediksi siapa sebenarnya yang dibebankan berbagai macam
pajak. Lebih daripada penelitian ilmu-ilmu sosial, ahli ekonomi memahami bagaimana hukum
memberi dampak terhadap distribusi pendapatan dan kesejahteraan disegala lapisan sosial.
Sementara ahli ekonomi seringkali merekomendasikan perubahan untuk peningkatan efisiensi,
mereka mencoba menghindari sengketa tentang distribusi, biasanya memberikan rekomendasi
tentang distribusi kepada pengambil kebijakan (policy makers) atau pemilih (voters).
II.

UPAYA PENEGAKAN HUKUM TERHADAP DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK

Pajak adalah salah satu tiang yang sangat penting bagi perekonomian di sebuah Negara. Tanpa
pajak, Negara tidak mampu membiayai pembangunan. Tanpa pajak pula, pemerintah mustahil bisa
menggaji para pegawai dan mensejahterakan rakyatnya. Karena itu, pemerintah harus sangat
serius dalam menindak para pengemplang pajak. Tapi, apa buktinya, premis itu jauh lebih
gampang diucapkan dari pada dilakukan. Faktanya pemerintah kerap gagal menghadapi para
pengemplang dan penggelap pajak.
Munculnya kembali kasus dugaan pengemplangan pajak yang dilakukan oleh kelompok usaha
Bakrie, menambah bukti yang kuat betapa sulitnya bertindak tegas terhadap wajib pajak (WP)
ukuran besar. Yang cenderung terjadi adalah pemeerintah lebih banyak bersikap longgar terhadap
mereka. Tersebutlah 3 perusahaan group Bakrie yang dilaporkan telah lalai membayar pajak
sebesar Rp 2,1 Triliun. Perusahaan itu adalah PT.Bumi Resource, PT Kaltim Prima Coal (KPC),
dan PT Arutmin Indonesia. PT Bumi menunggak pajak sebesar Rp 376 Milyar, KPC sebesar 1,5
Triliun, dan PT Arutmin senilai 300 Milyar.
Kasus tentang itu sebenarnya telah muncul tahun lalu terkait dengan Surat Pemberitahuan
Tahunan (SPT) 2007. Namun, pemerintah tidak tegas menyelesaikan kasus itu, sehingga kini
muncul kembali dengan persoalan yang lebih kompleks karena urusan pajak itu di kait-kaitkan
dengan kasus Bank Century, yang ditenggarai mempengaruhi sikap golkar yang kini dipimpin
Aburizal Bakrie. Sudah tepat langkah Ditjen Pajak untuk memidanakan group Bakrie dalam kasus
dugaan pengemplangan pajak itu. Tunggakan pajak sebesar 2,1 Triliun itu adalah jumlah yang
sangat bernilai bagi rakyat.(Media Indonesia) Anak perusahaan group Bakrie itu terancam
membayar denda tunggakan pajak sebesar 4 kali lipat dari nilai pokok tunggakan / diwajibkan
membayar sebesar 10,5 Triliun.
Pengemplang pajak biasanya disebut juga dengan korupsi, kejahatan pajak, mengemplang hutang
yang ditanggung oleh rakyat. Terkait dengan masih tingginya tunggakan pajak yang dilakukan

sejumlah wajib pajak di Indonesia dan penyalahgunaannya maka hal tersebut seharusnya segera
dituntaskan karena dinilai merugikan perekonomian Negara.
Diharapkan pemerintah segera menangani setiap pelanggaran pajak dan diberi sanksi pidana pajak
yang tegas.
Hukum merupakan cermin yang memantulkan kepentingan masyaraat. Karena kepentingan
masyarakat selalu berubah, maka secara operasional hukum juga dituntut untuk selalu mengubah
dirinya. Dewasa ini, dunia hukum di Indonesia sedang dalam masa disintegrated. Disatu satu
pihak, tatanan hukum lama yang berasal dari hukum kolonial dan hukum adat, bahkan hukum
yang telah dibentuk setelah kemerdekaan banyak yang telah usang. Dan dilain pihak, tatanan
alternatif dari hukum baru belum juga terbentuk. Bahkan platform yang jelas belumpun diketahui,
ditambah dengan sector pengetahuan ekonomi yang semangatnya digenjot menggebu-gebu,
tercipalah distorsi kedalam sektor bisnis dan ekonomi itu sendiri[8].
Konsekuensi logisnya, tidak terlalu mengherankan jika dewasa ini sangat merajalela
terjadinya praktek bisnis yang tidak fair. Seperti persaingan curang, monopoli, ologopoli, kartel,
pemberian fasilitas dan akumulasi sumber daya ekonomi di tangan satu atau dua konglomerat,
bisnis dan perizinan yang dilandasi pada koneksi, suap menyuap dan lobi yang kental, birokrasi
dan prosedur yang berbelit-belit dan termasuk juga adanya dugaan skandal penggelapan pajak
yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dibawah naungan Bakri Group. Hal ini menandakan
hukum bisnis tidak berperan, baik karena kevakuman, kebobrokan atau ketidak jelasan aturan
main, atau karena Law Enforcement nya yang kurang sigap kalaupun tidak dibilang lumpuh total.
Bila terdapat pelanggaran, konsekuensinya akan berhadapan dengan sanksi hukum sesuai dengan
jenis dan kualitas pelanggaran. Upaya untuk melakukan penegakan hukum harus berlangsung
secara konsisten dengan tetap memperhatikan kepentingan perkembangan Pasar Modal. Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
memiliki kewenangan yang sangat besar untuk melakukan pembinaan, pengaturan dan
pengawasan kepada industri pasar modal diharapkan mampu menjalankan fungsinya sesuai
dengan yang diamanatkan UU tersebut.
Disamping itu, untuk menjalankan pengawasan secara represif, Bapepam diberi kewenangan
melakukan pemeriksaan, penyelidikan dan penyidikan seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 46 Tahun 1995 tentang tata cara pemeriksaan di Pasar Modal. Dalam rangka itulah maka
sesuai dengan amanah yang digariskan dalam Undang-Undang Pasar Modal, bahwa dalam rangka
menyempurnakan pengaturan pasar modal telah dikeluarkan serangkaian peraturan yang
memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi para pelaku pasar modal.
Dilihat dari format disclosure, yang seharusnya dilarang secara tegas adalah:
a.
keterangan yang salah
b.
keterangan setengah benar
c.
sama sekali diam terhadap fakta material[9]

Sedangkan didalam Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 pada umumnya adalah
pemalsuan dan penipuan, pernyataan tidak benar atau menyembunyikan fakta, manipulasi pasar,
insider trading, dan larangan yang bersangkutan dengan Reksa dana.

Mengenai tingkat kesalahan yang disyaratkan adalah berupa kesengajaan(mengetahui), dan


kelalaian (kurang hati-hati). Ini berarti sebagai General Law dapat dikatakan bahwa setiap
pihak yang terlibat di pasar modal dapat dimintakan pertanggung jawab hukum, apabila padanya
terdapat unsur kesalahan.
Dalam hukum pidana kesalahan dapat terwujud kejahatan dan pelanggaran, sedangkan dalam
hukum perdata, jika tanggung jawab tersebut berasal dari perbuatan melawan hukum (in casu
Pasal 1365 BW) atau malpraktek, maka wujudnya dapat berupa perbuatan dengan unsur
kesengajaan (on purpose), atau kurang hati-hati (negligence). Jika perbuatan tersebut bersumber
dari suatu perjanjian (vide buku ke-III BW), maka kesalahan tersebut akan berwujud ingkar janji
(on default). Disamping itu kesalahan dapat pula dalam bentuk kesalahan moral, sehingga mereka
harus tunduk pada masing-masing kode etik profesi, ataupun kesalahan yang ancamannya hanya
berupak sanksi administrasi.
Bersalah tidaknya para pelaku di Perusahaan-perusahaan bakri Group juga dapat dikukur dengan
kriteria dalam bidang apakah akibat dari kesalahan itu terjadi. Kalau terjadi kekeliruan dalam
bidang keuangan, maka akuntan public ikut bertanggung jawab, dan kalau dalam bidang hukum,
konsultan hukumnya dan layak diminta tanggung jawab. Tanggung jawab profesi penunjang juga
terbatas mengingat mereka pada prinsipnya hanya mempunyai tanggung jawab berasumsi
atau tanggung jawab di atas kertas. Artinya, tanggung jawab mereka hanya beralaskan asumsi
bahwa seluruh dokumen yag tersedia adalah benar. Misalnya jika ada diantara dokumen tersebut
yang tidak benar isinya atau palsu sehingga analisis mereka menjadi tidak akurat, maka hal
tersebut berada diluar tanggung jawab mereka. Pihak yang memalsukan dokumenlah yang lebih
bertanggung jawab.
Pihak penjamin emisi juga penyandang tanggung jawab yang berat, mengingat dialah yang sangat
jauh terlibat dalam proses emisi saham, dan dia pulalah yang memegang komando dan
menentukan policy. Disamping itu, Bapepam, sebagai badan pengawas juga tidak bisa dilepaskan
tanggung jawab hukumnya. Dalam ilmu hukum dikenal prinsip siapa yang bersalah harus
dihukum. Kalau Bapepam yang besalah, yaitu adanya unsur kesengajaan atau keteledoran,
maka tidak reasonable jika Bapepam dilepaskan dari tanggung jawabnya, sungguhpun ada
kewajiban menempatkan kalimat dalam prospectus yang berbunyi Bapepam tidak memberikan
pernyataan menyetuju dan seterusnya.
Pada saat ini upaya berkesinambungan dilakukan oleh Pemerintah dan masyarakat agar hukum
dapat mengayomi dan menjadi landasan bagi kegiatan masyarakat dan pembangunan. Adanya
kepastian hukum merupakan wahana untuk timbulnya kepercayaan kepada pasar. Salah satu syarat
agar pasar modal mampu mengembangkan perekonomian Indonesia adalah kejahatan di pasar

modal khususnya penggelapan pajak harus dapat ditemukan dan diselesaikan melalui hukum yang
berlaku baik itu kebiasaan maupun karena telah diatur dalam aturan di pasar modal.
Walaupun media sedang gencar-gencarnya memberitakan skandal penggelapan dana pajak yang
paling besar dalam sejarah yang ada, namun perlawanan dari pihak Bakri Group terhadap hal
tersebut tetap ada, yakni upaya PT Kaltim Prima Coal (KPC) untuk menghentikan penyidikan
yang dilakukan Ditjen Pajak, harus kandas setelah PN Jakarta Selatan menyatakan permohonan
praperadilan KPC tak dapat diterima. Hakim tunggal sidang praperadilan Prasetyo tersebut
menyatakan permohonan praperadilan KPC tak masuk obyek praperadilan sebagaimana diatur
dalam Pasal 77 KUHAP.
Seperti diketahui, KPC mengajukan permohonan praperadilan untuk menghentikan
penyidikan Ditjen Pajak atas dugaan penggelapan pajak yang dilakukan KPC sebesar Rp1,5
trilyun. Dalam putusannya, hakim menyebutkan Pasal 77 KUHAP telah mengatur tegas bahwa
obyek praperadilan terbatas pada sah tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan,
penghentian penuntutan, serta permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau
keluarga atau pihak lain[10]. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Departemen Keuangan ternyata
telah meningkatkan status kasus pajak perusahaan Bakrie menjadi penyidikan. Dugaannya adalah
penggelapan pajak. Kalau sudah masuk penyidikan berarti sudah pidana.

Pihaknya belum memutuskan kapan akan mengirimkan berkas perkara ini ke Kepolisian atau
Kejaksaan[11].
Dirjen Pajak dan Departemen Keuangan harus segera menyelesaikan kasus dugaan penggelapan
pajak yang terjadi dalam kurun waktu 2003-2008 oleh PT Bumi Resources Tbk. Jika berlarut-larut
justru menimbulkan kecurigaan proses penyelesaiannya telah disusupi oleh mafia hukum. Selain
itu BEI (Bursa Efek Indonesia) harus aktif melakukan penyelidikan dugaan penggelapan pajak,
karena ini menyangkut perusahaan publik, yang seharusnya semua laporan keuangannya terbuka.
Kalau benar ada penggelapan pajak, berarti ada yang disembunyikan dari publik.

BAB IV
KESIMPULAN
Dengan adanya isu dugaan penggelapan dana pajak yang cukup besar pada sebuah perusahaan
publik, menjadi sebuah tanda bahwasanya walaupun perusahaan besar tetapi masih lemah dalam
menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance terutama dalam hal menyampaikan berita
yang akurat serta prinsip responsibility berupa kurang dipatuhinya peraturan serta ketentuan yang
berlaku[12]. Hal ini juga merupakan bukti bahwa kurangnya pengawasan dari pihak-pihak yang
terkait di pasar modal sehingga menyebabkan kerugian negara yang cukup besar. Walaupun hanya
sebatas dugaan, ini sudah menjadi bukti awal bahwa dalam menjalankan bisnis itikad baik dalam
menjalankan bisnis tidak ada.

Upaya penegakan hukum yang adil dan beribawa mutlak diperlukan dalam menyelesaikan kasus
dugaan penggelapan pajak ini, karena nantinya public akan mengetahui bagaimana kisah yang
sebenarnya dari kasus ini dan public juga mengetahui bagaimana proses penegakan hukum
dibidang pasar modal itu sendiri. Penyelesaian kasus ini harus dijauhkan dari ketegangan politik
yang ada.Pasar modal merupakan salah satu sumber pendanaan yang sangat penting dalam era
globalisasi ini, dan oleh karena itu harus dipupuk terus. Pasar modal harus menarik bagi emiten
maupun investor. Oleh karena itu, pemerintah, pengawas pasar modal, bursa, dan para pialang
mempunyai tugas masing-masing yang berkaitan guna menciptakan pasar modal yang sehat,
bersih, dan memiliki daya saing yang tinggi. Pasar modal yang demikian akan menjadi sumber
pencarian dana yang menarik bagi perusahaan. Pada saat yang bersamaan menyediakan alternatif
investasi yang menjanjikan bagi para investor.
Dalam kasus dugaan penggelapan pajak oleh perusahaan Bakrie Group, perusahaan
mengemukakan bahwa dalam menghadapi masa sulit diperlukan efisiensi. Berkaitan dengan hal
tersebut, efisiensi yang paling cepat untuk dapat dilakukan adalah dengan mengurangi
pengeluaran, seperti memanipulasi laporan pajak, mengurangi tenaga kerja, dan lain-lain. Alasan
efisiensi tersebut tak lain adalah konsekuensi dari globalisasi yang memadatkan jarak dan waktu
memang menuntut kompetisi ekonomi global menjadi kian sengit dengan tenggat waktu yang
amat cepat. Dengan demikian, sebuah transaksi bisnis tak lagi memakan waktu yang lama seperti
dahulu kala. Kini, untuk melakukan transaksi bisnis antar benua bahkan cukup memakan waktu
dalam hitungan detik saja. Hal tersebut tentu menuntut perusahaan pada situasi yang amat
kompetitif yang menimbulkan konsekuensi ketat bahwa kegagalan berefisiensi akan membuat
perusahaan ketinggalan dan kehilangan kesempatan.
Jadi, dalam kasus diatas, efisiensi menjadi kata kunci bagi perusahaan untuk mengejar keuntungan
yang berpacu dalam persaingan global tersebut. Namun menurut Robert Cooter, sesungguhnya
efisiensi bukan sekadar dipacu oleh persaingan global terlebih memang sejak awalnya sudah
menjadi sifat pengusaha untuk melakukan efisiensi dan maksimalisasi hasil usaha

DAFTAR PUSTAKA
Buku-Buku
1.
Ikhsanuddin Noorsy, Indonesia Dalam Arus Kartel Ekonomi Politik, Galang Press,
Yogyakarta, 2010
2.
Adi Sulistiyono dan Muhammad Rustamaji, Hukum Ekonomi Sebagai Panglima, PT.
Masmedia Buana Pustaka, Surakarta, 2009
3. Andi Abu Ayyub Saleh, Tamasya Perenungan Hukum, Yarsif Watampone, Jakarta, 2006
4.
Hilman Hamdani, Oposisi Demokrasi Dan Kesejahteraan Ekonomi Indonesia, Pinus 2004
5.
Politik Ekonomi Dan Struktur Perpajakan BUMN, Gramedia Pustaka, 2009
6.
Hamud M. Balfas, Hukum Pasar Modal, PT. Tatanusa, Jakarta, 2006
7.
H.R. Daeng Naja, Pengantar Hukum Bisnis Indonesia, Pustaka Yusticia, Jakarta, 2009
8.
Ishak Rafick, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Ufuk Publishing House, Jakarta, 2008

9.
Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2002
10. M.Irsan Nasarudin dkk. Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta, 2003
11. Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum, Genta Publishing, Yogyakarta, 2009
Internet
1.
Dikutip dari http://www.tempointeraktif.com dengan judul posting Mahasiswa Tuntut
Skandal Pajak Bakrie Diusut Tuntas yang diakses pada tanggal 10 februari 2010
2.
Dikutip dari http://www.tempointeraktif.com dengan judul posting Mahasiswa Tuntut
Skandal Pajak Bakrie Diusut Tuntas yang diakses pada tanggal 10 februari 2010
3.
Dikutip dari www. akuntanpublikindonesia.com dengan judul posting Mewujudkan Laporan
Keuangan Emiten Yang Berkualitas yang diakses pada tanggal 11 Februari 2010
4.
Dikutip dari www. triyani.wordpress.com, dengan judul Posting Penghindaran Pajak Vs
Penggelapan Pajak yang diakses pada tanggal 11 Februari 2010
5.
Dikutip dari www.hukumonline.com dengan judul posting Utang Pajak BUMI Melangit
yang diakses pada tanggal 10 Februari 2010

[1] Opini Kompas, hal 5-7, Kebangkrutan Pajak Negara, Aviliani


[2] Dikutip dari http://www.tempointeraktif.com dengan judul posting Mahasiswa Tuntut
Skandal Pajak Bakrie Diusut Tuntas yang diakses pada tanggal 10 februari 2010
[3] Andi Abu Ayyub Saleh, Tamasya Perenungan Hukum, Yarsif Watampone, Jakarta, 2006,hlm.9
[4] Dikutip dari www. triyani.wordpress.com, dengan judul Posting Penghindaran Pajak Vs
Penggelapan Pajak yang diakses pada tanggal 11 Februari 2010
[5] Ibid
[6] Dikutip dari www.hukumonline.com dengan judul posting Utang Pajak BUMI Melangit yang
diakses pada tanggal 10 Februari 2010
[7] Ibid
[8] 4 Dikutip dari www.hukumonline.com dengan judul posting Utang Pajak BUMI Melangit
yang diakses pada tanggal 10 Februari 2010
[9] Ibid, hlm. 83
[10] Dikutip dari www.hukumonline.com dengan judul posting Penggelapan Pajak di Perusahaan
Bakri Group yang diakses pada 12 Februari 2010
[11] Ibid
[12] Jurnal Parlemen,AKuntabilitas Pajak BUMN dalam sitem administrasi negara, Edisi IV, hal
47, 2011
adhiwignyanagara di 03.05

Berbagi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Tulisan ini adalah hasil kesimpulan bacaan dari beberapa sumber media> Monggo silahkan
berkomentar. Salam

Beranda
Lihat versi web
Mengenai Saya
adhiwignyanagara
Jakarta, DKI, Indonesia
Sir.. Tidak ada talenta atau bakat individu yang harus dianggap sepele, sebab setiap individu
adalah sumber daya potensial, bahkan mungkin harus diberi kesempatan yang sama untuk
meritokrasi sebuah keadaan.
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger