Anda di halaman 1dari 13

MENGHITUNG MIKROORGANISME DENGAN

TEKNIK ANGKA LEMPENG



VERONICA RINI
2011210255
Kelas B

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
8 OKTOBER 2012



BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Jumlah kematian sel pada akhirnya akan melampaui jumlah sel baru yang terbentuk
dan populasi sel memasuki fase kematian atau fase penurunan. Fase ini berlanjut samapi
populasi menyusut menjadi fraksi kecil atau seluruh populasi mati. Beberapa spesies melalui
seluruh rangkaian fase hanya dalam beberapa hari, tetapi spesies yang lain masih menyisakan
sel yang dapat bertahan dalam jumlah yang sangat kecil. Pertumbuhan bakteri dapat diukur
dengan menghitung jumlah sel dengan mengukur massa total populasi yang biasanya
sebandiing dengan jumlah sel. Besarnya populasi mikroorganisme dapat menentukan kualitas
suatu produk, menentukan tata guna suatu sumber daya, menentukan tingkat kesuburan suatu
lahan dan lain-lain. Dan mikroorganisme merupakan salah satu makhluk hidup yang hanya
dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Karena ukurannya yang sangat kecil, maka sukar
sekali untuk menghitung mikroorganisme.
Pada pengujian kali ini akan dilakukan perhitungan terhadap mikroorganisme , setelah
kita mempelajari dan mempraktikkan cara-cara menanam, mengisolasi, dan mengidentifikasi
mikroorganisme pada praktikum yang sebelumnya. Dari pengujian kali ini kita juga dapat
mengetahui kecepatan reproduksi dari mikroba serta menentukan tingkat patogenitas maupun
pencemaran yang diakibatkan oleh cemaran mikroba dalam sampel yang dianalisis. Ada
beberapa metode menghitung bakteri, yaitu metode lempeng, metode langsung, metode
turbidimetri, metode APM/angka paling mungkin (MPN/Most proable Number), metode
kimia serta metode elektrik. Namun pada pengujian kali ini kita menghitung mikroorganisme
dengan teknik angka lempeng total saja.

Tujuan Pratikum
1. Mengetahui tehnik - tehnik menghitung bakteri yang umum dilakukan dalam praktek
mikrobiologi
2. Melakukan teknik teknik menghitung bakteri untuk menentukan jumlah koloni
bakteri dalam suatu biakan atau sampel
3. Melakukan teknik seri pengenceran agar lempeng / angka lmpeng total untuk
menghitung jumlah mikroba viabel
4. Melakukan teknik perhitungan bakteri dengan merode Most Probable Numbering



Manfaat pratikum
Dari pengujian kali ini yaitu menghitung jumlah mikroorganisme dengan teknik
angka lempeng total, kita dapat mempelajari suatu jenis koloni dan sifat mikroorganisme
tersebut. Dan dengan pengujian kali ini kita dapat mengetahui kecepatan reproduksi dari
suatu mikroba dan kita juga dapat mengetahui tingkat patogenitas dari mikroba tersebut. Dari
teknik yang kita lakukan di pengujian kali ini,kita juga dapat menentukan banyaknya mikroba
dalam suatu bahan, sehinnga kita dapat mengetahui sampai seberapa jauh bahan itu tercemar
oleh mikroba. Kita juga dapat mengetahui secara spesifik kemampuan mikroorganisme untuk
melakukan pertumbuhan, sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan kita dapat
mengetahui dan memahami cara perhitungan kuantitas mikroorganisme pada suatu sampel
tertentu.

























BAB II
STUDI PUSTAKA
A. STUDI PUSTAKA
Di alam terdapat banyak mikroorganisme yang hidup. Mikroorganisme yang
terdapat di alam tersebut terdapat dalam bentuk kumpulan massa sel/ koloni. Untuk
mempelajari suatu jenis koloni dan sifat mikroorganisme tersebut, kita memerlukan
teknik pembiakan mikroorganisme terlebih dahulu. Setelah di biakan, kita perlu
menghitung atau menentukan banyaknya mikroba untuk mengetahui seberapa jauh
sampel itu tercemar oleh mikroba. Menghitung jumlah total tanpa merinci kelompok atau
jenis disebut Enumerasi. Metoda yang digunakan untuk menghitung jumlah
mikroorganisme bermacam-macam dengan tingkat ketelitian dan peruntukan yang
berbeda. Metoda pengenceran lempeng tuang, digunakan untuk mengetahui perkiraan
jumlah sel dengan anggapan satu koloni berasal dari satu sel. Enumerasi dengan metoda
ini memerlukan keterampilan dan kecerdasan yang sungguh-sungguh (Nurhayati dan
Pingkan, 1993). Pada metoda pengenceran cawan tuang, cawan yang dipilih untuk
menghitungkan koloni adalah yang mengandung 30-300 koloni.
Kuantitasi mikroba menunjukan jumlah koloni yang mampu di bentuk oleh mikroba
tertentu. Beberapa koloni bakteri ini, bagi tubuh manusia akan menyebabkan penyakit.
Seteril dari bakteri untuk maknan terutama minuman, sangat perlu di ketahui demi
menjaga kesehatan. Air minum dari berbagai tempat mempunyai jenis-jenis bakteri yang
tidak sama untuk air minum hasil penyulingan diharapkan sudah terbebas dari bakteri
(Dwidjoseputro, 1994). Pertumbuhan sering kali dinyatakan secara singkat sebagai
kemampuan untuk menghasilkan 2 sel baru dan hidup. Sel dikatakan hidup bila dapat
menghasilkan sel baru. Bila tidak mempunyai kemampuan ini lagi, Maka sel dinyatakan
tidak hidup lagi atau mati. Analisis pertumbuhan bakteri dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu, membandingkan jumlah sel, berat kering, konsentrasi protein atau
nitrogen dan kekeruhan (Dwidjoseputro, 1994).
Perhitungan jumlah mikroba dapat dilakukan dengan perhitungan langsung maupun
tidak langsung. Perhitungan secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan, pada suatu saat tertentu tanpa memberikan
perlakuann terlebih dahulu, sedangkan jumlah mikroorganisme yang diketahui dari cara
tidak langsung terlebih dahulu harus memberikan perlakuan tertentu sebelum dilakukan
perhitungan. Perhitungan secara langsung dapat dilakukan dengan beberapa cara antara
lain adalah memebuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana di warnai atau tidak
di warnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber), sedangkan perhitungan
cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme dalam suatu bahan
yang masih hidup saja. (Dwidjoseputro, 1994).
Perhitungan secara tidak langsung didasarkan pada kekeruhan,aktivitas metabolik,
atau bobot kering. Menghitung jumlah mikoroorganisme dengan mengukur aktivitas
metabolik populasi bakteri, jumlah hasil metabolisme diasumsikan tertentu,seperti asam
atau karbon dioksida, menunjukan proporsi keberadaan bakteri. Untuk bakteri berfilamen
dan kapang, metode pengukuran biasa tidak memuaskan. Metode lempeng hitung sulit
untuk mengukur peningkatan jumlah bakteri berfilamen. Pada penghitungan
Actinomycetes dan kapang menggunakan lempeng hitung, justru jumlah spora aseksual
yang terhitung. Salah satu cara penghitungan yang lebih baik adalah penentua bobot
kering. Pada metode ini, bakteri atau kapang dipindahkan dari media pertumbuhan,
disaring untuk menghilangkan materi pengganggu lain, dikeringkan, kemudian
ditimbang.
Berikut beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah
mikroorganisme adalah metode lempeng, metode langsung, metode turbidimetri, metode
APM/angka paling nungkin,metode kimia serta metode elektrik.
1. Metode lempeng
Pada metode ini dibuat seri pengenceran suspensi bakteri ataupun sampel yang
kemudian ditanamkan pada media pertumbuhan padat yang sesuai. Prosedur
pengenceran yang benar sangat berpengaruh pada keseluruhan proses perhitungan.
Suspensi bakteri ditanamkan dengan cara disebar pada permukaan media lempeng dalam
cawan petri (cara sebar) ataupun dengan cara dicampurkan dengan agar cair bersuhu
45-

C dan dibiarkan hingga memadat (cara tuang). Lempeng kemudian diinkubasikan


selama 16-24 jam pada suhu 35-

C sehingga bakteri tumbuh menjadi koloni-koloni.


Kemudian jumlah koloni bakteri tiap lempeng dihitung dan dikalikan dengan faktor
pengencerannya. Jumlah koloni yang dinyatakan dengan angka adalah yang berkisar
antara 30-300. Jika lebih dari 300 koloni,dinyatakan dengan TNTC (too numerous to
count), dan jika kurang dari 30 dinyatakan dengan TFTC (too few to count). Jumlah
koloni dinyatakan dengan satuan cfu (colony forming unit).
Metode ini memiliki beberapa keuntungan yaitu hanya sel hidup saja yang
terhitung serta dapat memudahkan proses isolasi untuk mendapatkan isolat murni.
Kelemahan metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama karena adanya proses
inkubasi, mengunakan peralatan gelas yang banyak seta adanya faktor-faktor kesalahan
yang sangat mumgkin terjadi seperti kesalahan dalam pengenceran dan proses transfer.

2. Metode langsung
Dengan metode ini, perhitungan bakteri dpat dilakukan secara langsung tanpa
harus menumbuhkan bakteri terlebih dahulu dalam media pertumbuhan . sejumlah
volume tertentu pengenceran sampel diamati secara langsung di bawah mikroskop dan
dihitung jumlah sel-sel bakterinya (konsentrasi bakteri dalam sampel). Digunakan
chamber hitung khusus seperti hemositometer atau chamber Petroff-Hausser. Kelemahan
metode ini adalah sel-sel yang hidp dan mati terhitung semua.

3. Metode turbidimetri (Turbidometric Procedure)
Jika serbekas cahaya dilewatkan melalui suatu suspensi bakteri, maka jumlah
cahaya yang ditransmisikan/diteruskan akan berkurang yang berkaitan dengan tingkat
kekeruhan suspensi tersebut. Pengukuran jumlah cahaya yang ditransmisikan oleh
suspensi mikroorganisme menggunakan alat spektrofotometer ataupun alat optik yang
lain dapat digunakan untuk memperkirakan massa sel karena jumlah cahaya yang
diabsorpsi leh suspensi mikroorganisme tersebut sebanding dengan kepadatan sel.
Metode spektrofotometer memberikan perkiraan hasil yang akurat dan proses yang cepat
untuk menghitung berat kering atau massa bakteri per unit volume biakan.

4. Matode Angka Paling Mungkin/ APM (Most Proable Number Procedure/MPN)
Metode angka paling mungkin adalah suatu metode stastik berbasis teori
kemungkinan/probabilitas. Dibuat seri pengenceran suspensi bakteri bertingkat dalam
sejumlah tabung berisi media cair (biasanya digunakan 9 tabung atau 15 tabung dalam 3
kelompok tingkat pengenceran), kemudian dilihat terbentuknya turbiditas/kekeruhan
yang terjadi setelah seluruh media diinkubasi yang menunjukan adanya pertumbuhan
mikroba. Pola positif/negatif dari hasil uji digunakan untuk memperkirakan konsentrasi
bakteri dalam sampel dengan cara membandingkan pola tersebut dengan suatu tabel
statistik probabilitas jumlah paling mungkin untuk hasil tersebut.

5. Metode Kimia
Pada metode ini, jumlah sel dihitung secara tidak langsung dengan perbandingan
korelasi dari parameter-parameter yang ada seperti hasil metabolik tertentu, jumlah
konsumsi oksigen, produksi karbon dioksida, produksi DNA, konsentrasi protein, dll.

6. Penghitung sel elektronik
Coulter counter adalah salah satu contoh alat yang dapat dengan cepat
menghitung jumlah sel-sel tersuspensi dalam cairan penghantar yang melewati sebuah
ruang di mana terdapat aliran arus listrik. Sel-sel bersifat non-konduktor, akan
meningkatkan hambatan listrik dari cairan penghantar. Hambatan listrik yang dihasilkan
akan direkam yang berkolerasi dengan jumlah organisme yang terdapat dalam cairan
penghantar tersebut. Kelemahan metode ini adalah tidak dapat membedakan partikel
yang bersifat inert di dalam komponen selular.




























BAB III
METODE PENELITIAN

A. Alat dan bahan
Untuk praktikum kali ini alat-alat yang digunakan adalah tabung-tabung reaksi
steril, cawan-cawan petri steril, pipet-pipet volume steril, rak tabung reaksi, pembakar
bunsen. Dan pada pengujian kali ini digunakan suspensi bakteri Bacillus subtillis
dalam nutrient broth , nutrient agar dan aquadest.

B. Cara Kerja
Dalam pratikum mikrobiologi ini haruslah bersifat aseptik dengan nyala api
disekitar pembakar Bunsen. Isikan suatu tabung dengan suspensi bakteri dan beri
nomor 1 kemudian disiapkan 4 buah tabung steril dn diberi nomor 2-7. Semua tabung
diisi oleh 9 mL aquadest. Kemudian secara aseptik, pindahkan 1 mL suspensi bakteri
ke dalam tabung nomor 2, homogenkan. Maka dalam tabung no.2 terdapat
pengenceran suspensi bakteri 1/10 untuk bahan berupa sampel yang akan dianalisis
dan telah dibuat homogenat 10
-1
, langsung dipindahkan 1 mL suspensi bakteri dari
tabung no.2 ke taabung no.3. homogenkan. Maka dalam tabung no.3 terdapat
pengenceran suspensi bakteri 1/100. Demikian seterusnya sampai tabung no.7
sehingga dalam tabung no. 8 terdapat pengeceran bakteri 1/10
6
.
Lalu siapkan 3 cawan petri setril beri nomor 1 sampai 3 dan tuliskan
konsentrasi masing-masing suspensi bakteri atau sampel mulai 10
-4
sampai dengan
10
-7
. Dengan pipet steril secara aseptik pindahkan 1 mL pengenceran 10
-5
ke dalam
cawan petri no.1. lakukan hal yang sama untuk pengenceran selanjutnya. Kemudian
tuangkan Nutrient agar steril bersuhu 45
o
C sebanyak 20mL kedalam setiap ccawan
petri. Goyongkan cawan pada permukaan meja kerja searah atau berlawanan arah
jrum jam untuk menghomogenkan campuran pengenceran bakteri dan Nutrient Agar.
Biar kan hingga memadat. Lalu inkubasi semua cawan petri dalam inkubator bersuhu
35-37
o
C selam 18-24 jam dengan posisi terbalik. Amati perubahan koloni dan hitung
jumlah koloni yang tumbuh di masing-masing perbenihan agar lempeng.















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

kelompok Cawan ke pengenceran Jumlah koloni
Jumlah
mikroba per ml
sampel
B8
1

285
2

8
3

3
B7
1

156
2

6
3

4
B3
1

123
2

21
3

3

Dari data yang dihasillkan, setiap hasil koloni di tiap cawan harus berbanding 1 : 10 dengan
hasil cawan sebelumnya. Dalam kelompok B8 untuk ketiga cawan yaitu cawan 1,2, dan 3
menghasilkan jumlah koloni yaitu 285, 8, dan 3. Data ketiga data tersebut di lakukan
pengenceran tiap cawan dibagi 1/10 dari data yang dihasilkan. Cawan pertama 285/10 = 28,5
; cawan kedua 8/10 = 0.8 ; cawan ketiga 3/10 = 0,3. Dapat kita lihat perbandingan setiap
cawan tidak sesuai dengan perbandingan 1 : 10.Oleh karena data kelompok B8 tidak didapat
digunakan.
Kemudian pada kelompok B7 untuk ketiga cawan 1,2, dan 3 menghasilkan jumlah koloni
yaitu 156, 6, dan 4. Dari ketiga data tersebut dilakukan pengenceran tiap cawan dibagi 1/10
dari data yang dihasilkan. Cawan pertama 156/10 = 15,6 ; cawan kedua 6/10 = 0,6 ; cawan
ketiga 4/10 = 0,4. Dapat kita lihat perbandingan setiap cawan tidak sesuai dengan
perbandingan 1 : 10. Oleh karena data kelompok B7 tidak didapat digunakan.
Lalu pada kelompok B3 untuk ketiga cawan 1,2, dan 3 menghasilkan jumlah koloni yaitu
123, 21, dan 3. Dari ketiga data tersebut diakukan pengenceran tiap cawan dibagi 1/10 dari
data yang dihasilkan. Cawan pertama 123/10 = 12,3 ; cawan kedua 21/10 = 2,1 dan cawan
ketiga 3/10 = 0,3. Dari ketiga data tersebut dapat disimpulkan bahwa ketiga data tersebut
menghasilkan rentang yang jauh. Oleh karena itu data kelompok B2dapat digunakan sebagai
perkembangan mikroba. Pada data kelompok B3 menghasilkan rata-rata sebanya 123 x 10
5
.
Terdapat gambar dari masing-masing cawan untuk membuktikan koloni mikroba yang hidup.
(LAMPIRAN)




BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat dilakukan perhitungan untuk koloni mikroba. Data yang
didapat akan diambil nilai yang mendekati rata-rata. Dengan hasil perhitungan data
yang ada dapat disimpulkan bahwa menghitung jumlah bakteri atau mikroorganisme
diperlukan untuk mengetahui kecepatan reproduksi mikroba serta menentukan tingkat
patogenitas maupun pencemaran yang diakibatkan oleh cemaran mikroba dalam
sampel yang dianalisis.


































BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.
Pelczar, J Michael.1986.Dasar-Dasar Mikrobiologi.Universits Indonesia.Jakarta





































LAMPIRAN



Gambar B8 cawan 1



Gambar B8 cawan 2


Gambar B8 cawan 3





Gambar B7 cawan 1




Gambar B7 cawan 2




Gambar B7 cawan 3


Gambar B3 cawan 1




Gambar B3 cawan 2


Gambar B3 cawan 3