Anda di halaman 1dari 81

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perawat dalam institusi rumah sakit merupakan suatu bagian dari seluruh
proses pelayanan yang mempunyai peranan sangat besar. Untuk itu pengetahuan,
kemampuan, dan kecerdasan emosi yang mereka miliki merupakan sumber daya
yang sangat penting artinya bagi rumah sakit (Laili, 2009). Selain itu perawat juga
memiliki tempat yang penting dalam presentasi layanan kesehatan, secara alami
perawat mengembangkan model seperti sikap terhadap organisasi rumah sakit dan
profesi keperawatan. Sikap terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja (Sener,
Damiler, and Sarlak, 2009).
Peran perawat secara umum adalah memberikan pelayanan keperawatan
kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah
yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah
yang kompleks dan memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan
klien. Perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari
klien. Kestabilan emosional sangat penting karena seorang perawat mungkin
sering menghadapi keadaan darurat, misalnya orang sakit dengan keluarga yang
tertekan serta situasi sulit lainnya (Pujianyuhono, 2011).
Perawat sebagai profesi kesehatan harus mampu memberikan pelayanan
yang maksimal kepada klien. Dimana perawat tidak hanya memberikan pelayanan
kepada individu saja namun juga pada keluarga dan masyarakat baik dalam
2


keadaan sehat atau sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia yang
mengacu pada standar profesional keperawatan dan menggunakan etika
keperawatan sebagai tuntutan utama (Nursalam, 2007). Agar pelayanan yang
diberikan paripurna meliputi aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual
diperlukan suatu ketrampilan manajemen emosi. Ketrampilan tersebut lebih
dikenal dengan istilah kecerdasan emosional. Kecerdasan emosi yang tinggi akan
berpengaruh terhadap pelayanan pada pasien dan akan dapat mempercepat
kesembuhan pasien. Tanpa adanya kecerdasan emosi maka akan menghambat
pemberian pelayanan perawat terhadap pasien (Laili, 2009).
Pelayanan keperawatan sangat diperlukan oleh sosok perawat yang
memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Kecerdasan emosi sangat dibutuhkan
dalam berinteraksi dengan pasien, keluarga, teman sesama perawat, dokter dan
tim kesehatan yang lain. Saat perawat berinteraksi sangat dibutuhkan sikap
empati, mampu mengenali emosi diri dan emosi orang lain, sehingga akan terjalin
hubungan saling percaya dan saling membantu antara perawat dengan pasien,
perawat dengan keluarga, perawat dengan dokter, perawat dengan tim kesehatan
yang lainnya (Suwardi, 2008). Sikap-sikap tersebut di atas menurut Goleman
(2003) merupakan aspek dari kecerdasan emosi.
Penelitian yang dilakukan Rosalina (2008) mengenai pengaruh kecerdasan
emosional perawat terhadap perilaku melayani konsumen dan kinerja perawat,
menemukan bahwa adanya pengaruh kecerdasan emosional perawat terhadap
perilaku melayani konsumen dan perilaku konsumen berpengaruh terhadap
kinerja perawat. Penelitin Golamen dalam Hutapea (2008) mengungkap bahwa
3


kecerdasan intelektual menyumbang kira-kira 20% bagi faktor yang menentukan
kesuksesan dalam hidup seseorang, sedangkan yang 80% bergantung pada
kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan emosional memainkan peran yang amat penting bagi
seseorang untuk dapat menerapkan pengetahuan yang ia miliki. Kecerdasan emosi
seseorang dapat ditingkatkan dengan cara mengembangkan komitmen yang tinggi
terhadap pengembangan diri sendiri (Mulyani, 2008). Dengan kecerdasan
emosional yang baik seseorang akan dapat bekerja secara efektif dalam tim,
mengenali dan berespon terhadap perasaan sendiri dan orang lain secara tepat
serta dapat memotivasi diri sendiri dengan orang lain Cadman & Brewer, 2001
(dalam Papalia, 2004). Laurence E Syapiro, 1997 dikutip oleh Cahaya, 2008
mengungkapkan bahwa seorang perawat yang mempunyai kecerdasan emosi yang
baik akan dapat dikenali melalui 5 komponen dasar yaitu pengendalian diri,
penguasaan diri, motivasi diri, empati, hubungan yang efektif.
Penelitian Wahyono (2010) tentang hubungan kecerdasan emosional
dengan kinerja perawat di instalasi rawat inap RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto, menemukan bahwa terdapat hubungan yang cukup tinggi antara
kecerdasan emosional dan kinerja perawat di instalasi rawat inap RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto.
Pekerjaan perawat di masing-masing ruangan sangat bervariasi dengan
kondisi pasien yag berbeda-beda. Intensive Care Unit (ICU) merupakan salah satu
pelayanan sentral di rumah sakit dimana bagian pelayanan ICU membutuhkan
sumber daya perawat yang terlatih. Perawat ICU bertanggung jawab untuk
4


mempertahankan homeostasis pasien untuk berjuang melewati kondisi kritis atau
terminal yang mendekati kematian, karakteristik perawat ICU, yaitu memiliki
tingkat pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik daripada perawat lain
dalam menangani pasien yang memiliki kondisi kritis. Perawat ICU minimal
memiliki sertifikasi BTCLS (Basic Training Cardiac Life Support) (Hanafi, 2007).
Instalasi gawat darurat (IGD) merupakan tempat atau unit di rumah sakit
yang memiliki tim kerja dengan kemampuan khusus dan peralatan, yang
memberikan pelayanan pasien gawat darurat. Perawat di IGD harus mampu
memberikan asuhan keperawatan yang membutuhkan kemampuan untuk
menyesuaikan situasi kritis dengan kecepatan dan ketepatan yang tidak selalu
dibutuhkan pada situasi keperawatan lain. perawat IGD minimal memiliki
sertifikat BTCLS (Basic Training Cardiac Life Support) atau PPGD (Pertolongan
Pertama Gawat Darurat) (Rankin. et. All, 2013).
Pelayanan rawat inap merupakan tempat untuk pemeliharan kesehatan
perorangan yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, keperawatan
rehabilitasi medik yang diberikan sebelum pasien pulang ke rumah. Pelayanan
yang diberikan kepada pasien dengan mutu yang sebaik-baiknya dengan tata cara
dan teknik berdasarkan ilmu yang berlaku dan etika yang berlaku dan dapat
dipertanggungjawabkan (Soemardjo Aniroen, 1991, (dalam Mahesa, 2009).
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas merupakan satu-satunya
Rumah sakit terbesar milik pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Banyumas.
Dimana RSUD Banyumas pada tahun 2003 telah diakreditasi penuh tingkat
lengkap dari Departemen Kesehatan RI sebagai yang pertama di Indonesia dan
5


tahun 2001 menjadi rumah sakit Kelas B Pendidikan. RSUD Banyumas juga
memiliki (Tri Sukses RSU Banyumas) yang terdiri sukses peningkatan mutu
(5M) mutu, mudah, murah, mantap, marem, sukses peningkatan disiplin (5R) rapi,
rajin, resik, ramah, rukun. sukses peningkatan efesiensi (CUBIT) cukup, urgen,
baik, irit, terawat. Hal ini dijadikan sebagai budaya kerja di RSUD Banyumas
untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada klien.
Hasil wawancara di pada bulan Mei tahun 2013 dengan melakukan
wawancara dengan pasien dan keluarga pasien tentang penilaian pasien terhadap
perawat dengan 4 orang diperoleh informasi bahwa perawat belum sepenuhnya
menyenangkan. Masih terlihat perawat yang serius sekali dalam perawatan
sehingga pasien takut untuk bertanya tentang perkembangan penyakit yang pasien
derita. Satu dari lima perawat di ruang IGD saat dilakukan penilaian kecerdasan
emosional diperoleh data bahwa masih ada perawat yang mengalami kesulitan
dalam menemukan alternatif penyelesaian masalah, tetapi mereka tidak meminta
bantuan terhadap teman sejawat untuk memberikan solusi terhadap permasalahan
yang dihadapi. Bahkan masih ada perawat di ruang IGD yang tidak menyadari
bahwa tugasnya adalah sebagai pemberi pelayanan secara profesional. Sedangkan
dua dari lima perawat di ruang rawat inap diperoleh data bahwa masih ada
perawat yang merasa belum mampu menyelesaikan permasalhannya dengan
mengambil keputusan yang sesuai terhadap permasalahannya.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti bermaksud meneliti tentang
kecerdasan emosional perawat dengan membedakankan tempat kerja perawat
yaitu di ruang intensive, kegawatdaruratan, dan rawat inap.
6


B. Rumusan Masalah
Tuntutan pekerjaan perawat di ruang intensive, kegawatdaruratan, dan
rawat inap berbeda-beda, dengan kondisi, dan tuntutan dari pekerjaan kadang
membuat perawat mengalami situasi yang mempengaruhi kondisi emosi.
Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah
berbeda kecerdasan emosional perawat di ruang intensive, kegawatdaruratan, dan
rawat inap di RSUD Banyumas?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk
mengidentifikasi perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang intensive,
kegawatdaruratan dan rawat inap.
1. Tujuan Khusus
a. Menganalisis gambaran kecerdasan emosional perawat di ruang intensive,
kegawatdaruratan dan rawat inap
b. Menganalisis hubungan karakteristik responden dengan kecerdasan
emosional perawat di ruang intensive, kegawatdaruratan dan rawat inap
c. Menganalisis tingkat kecerdasan emosional perawat berdasarkan jenis
kelamin, umur, masa kerja, status pekerjaan, di ruang intensive,
kegawatdaruratan dan rawat inap
d. Menganalisis perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang intensive,
kegawatdaruratan dan rawat inap
7


D. Manfat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
a. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam peningkatan kualitas
perawat dari segi Emotional Quetion
b. Mengusulkan dilakukan pelatihan tentang kecerdasan emosional untuk
meningkatkan kualitas dari pelayanan.
2. Bagi Peneliti
Dapat memberikan gambaran atau informasi bagi peneliti berikutnya apabila
akan meneliti tentang kecerdasan emosional perawat.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian kecerdasan emosional perawat sebelumnya telah dilakukan oleh
Kusumawati (2009) mengenai hubungan kecersadan emosional dengan tingkat
stress kerja Perawat di instalasi rawat darurat (IRD). Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif analitik korelasi dengan pendekatan kuantitatif dan metode
cross sectional. Penelitian ini bertujuan unutk mengetahui hubungan antara
kecerdasan emosional dengan tingkat stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan
ada hubungan yang negatif dan bermakna antara tingkat kecerdasan emosional
dengan tingkat stres kerja perawat di IRD RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten.
Rata-rata tingkat kecerdasan emosional dan tingkat stres kerja masing-masing
dalam kategori sedang yaitu 80% dan 76%. Uji hipotesis menggunakan korelasi
Product Moment dengan = 0,05 didapatkan r =-0,465 dan p =0,019.
8


Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah
pada tujuannya, dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara kecerdasan emosional dengan tingkat stres kerja, sedangkan penelitian
yang akan dilakukan mengenai perbandingan kecerdasan emosional di ICU, IGD,
dan instalasi rawat inap. Sedangkan persamaan penelitian yang akan dilakukan
dengan penelitian ini adalah sama-sama dengan pendekatan kuantitatif dan
metode cross sectional.
Penelitian yang dilakukan Astarani (2011) mengenai Hubungan
Kecerdasan Emosional dengan Etos Kerja Perawat Magang di Rumah Sakit
Baptis Kediri. Desain dari penelitian ini adalah cross sectional. Variabel
independent dari penelitian ini adalah kecerdasan emosional sedangkan variabel
dependent adalah etos kerja. Analisis data dengan menggunakan uji statistik
SpearmanS Rho ditetapkan = 0,05 didapatkan p = 0.001 dan r = 0.514. Dari 38
responden didapatkan sebagian besar responden dengan kecerdasan emosional
sedang yaitu 28 responden (73,7 %), dan 38 responden didapatkan lebih dari 50%
responden dengan etos kerja sedang yaitu 22 responden (57,9 %).
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah
pada variabelnya, dimana penelitian yang akan dilakukan hanya meneliti tentang
kecerdasan emosional saja. Dan untuk persamaan penelitian ini dengan penelitian
yang akan dilakukan adalah disain dari penelitian ini adalah sama-sama cross
sectional.
Penelitian tentang kecerdasan emosional juga dilakukan oleh Nurita, 2012
tantang Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Kinerja Perawat Rumah Sakit
9


Pusat Fatmawati Jakarta-Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara kecerdasan emosional (EQ) dengan kinerja perawat pada Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta-Selatan. Untuk mengukur kecerdasan
emosional dengan menggunakan skala yang didasarkan dari komponen-komponen
kecerdasan emosional, sedangkan untuk mengukur kinerja perawat menggunakan
hasil berupa data kinerja perawat pada Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati
Jakarta-Selatan. Hasil analisis validitas item dalam penelitian ini untuk skala
kecerdasan emosional bergerak dari 0,362 sampai 0,861 dengan reliabilitas
sebesar 0,965. Sedangkan untuk pengujian reliabilitas kinerja perawat, dilakukan
dengan jalan atau mengkonsultasikan data dengan ahli dalam bentuk penilaian.
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik
korelasi pearson (1 tailed) diketahui bahwa nilai koefisien korelasi antara
kecerdasan emosional (EQ) dengan kinerja perawat menghasilkan nilai r = 0.229
dengan p=0.046 (p<0,05).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah
penelitian ini merupakan penelitian korelasi dimana kecerdasan emosional
perawat dihubungkan dengan kinerja perawat. Sedangkan penelitian yang akan
dilakukan membandingkan kecerdasan emosional perawat di ruang ICU, IGD
sama instalasi rawat inap. Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian
yang akan dilakukan adalah sama-sama mengukur kecerdasan emosional perawat.

10


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Kecerdasan Emosional
a. Pengertian
Istilah kecerdasan emosional pertama kali diucapkan oleh psikolog
Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of
New Hampshire pada tahun 1990 untuk menerangkan kualitas-kualitas
emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas-kualitas itu
antara lain : empati (kepedulian), mengungkapkan dan memahami perasaan,
mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri,
disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi ketekunan
kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat. Salovey dan Mayer dalam
Salovey and Grewal (2005) mula-mula mendefinisikan kecerdasan
emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan
kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun
pada orang lain (Shapiro, 1997).
Steiner dalam Trisnawati dan Suryaningsum (2003) menyatakan
bahwa kecerdasan emosional mencakup lima komponen, yaitu mengetahui
perasaan sendiri, memiliki empati, belajar mengatur emosi-emosi sendiri,
memperbaiki kerusakan sosial, dan interaktivitas emosional. Cooper dan
Sawaf dalam Trisnawati dan Suryaningsum (2003) merumuskan kecerdasan
11


emosional sebagai sebuah titik awal model empat batu penjuru, yang terdiri
dari kesadaran emosi, kebugaran emosi, kedalaman emosi dan alkimia
emosi.
Kecerdasan emosi sebagai kemampuan dalam menggunakan emosi-
emosi seseorang yang membantu memecahkan masalah-masalah dan
menjalani kehidupan secara lebih efektif (Dann, 2002). Kemampuan ini
saling melengkapi dan berbeda dengan kemampuan akademik murni, yaitu
kemampuan kognitif murni yang diukur dengan Intelectual Questiont (IQ)
(Golamen, 2001). Sedangkan menurut Cooper dan Sawaf (1998) dalam
Melianawati, Prihanto, dan Tjahjoanggoro (2001), kecerdasan emosional
adalah kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan
kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi dan
pengaruh.
Salovely dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai
kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain,
serta menggunakan perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan.
Golamen mengungkap bahwa kecerdasan intelektual menyumbang kira-kira
20% bagi faktor yang menentukan kesuksesan dalam hidup seseorang,
sedangkan yang 80% bergantung pada kecerdasan emosi, kecerdasan sosial
dan kecerdasan spiritual (Golamen, 2005).
Temuan beberapa peneliti, seperti David Wechsler dalam Suryanti dan
Ika (2003), mendefinisikan kecerdasan sebagai keseluruhan kemampuan
seseorang untuk bertindak bertujuan, untuk berfikir rasional, dan untuk
12


berhubungan dengan lingkungannya yang efektif. Aspek-aspek yang terkait
dalam afeksi dan personal dan faktor sosial. Temuan Wechsler ini
mendefinisikan, aspek kognisi berpengaruh dalam mencapai keberhasilan
hidup. Kematangan dan kedewasaan menunjukkan kecerdasan dalam hal
emosi. Bardbary dan Greaves (2007) dalam Lestari (2012) menambahkan
bahwa tingkat kecerdasan emosi cenderung meningkat seiring umur, dan
sebagian besar orang mengalami peningkatan dalam keterampilan kesadaran
diri sepanjang hidup mereka dan memiliki kemudahan dalam megelola
emosi dan perilaku disaat mereka beranjak tua.
Menurut Gardner dalam Mulyani (2008) keragaman kecerdasan terus
berkembang. Gardner menyebut kecerdasan emosi sebagai kecerdasan
pribadi yang terdiri dari kecerdasan antar pribadi dan kecerdasan intra
pribadi. Kecerdasan antar pribadi merupakan kemampuan untuk memahami
orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja,
bagaimana bekerja bahu membahu dengan orang lain. Tenaga-tenaga
penjualan, politisi, guru, dokter, perawat dan pemimpin yang sukses
merupakan orang-orang yang mempunyai tingkat kecerdasan antar pribadi
yang sangat tinggi.
Kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi
terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk
suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan
untuk menggunakan model tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan
secara efektif. Inti kecerdasan pribadi menurut Gardner merupakan
13


kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati,
tempramen, motivasi dan hasrat orang lain. Salovey menempatkan
kecerdasan pribadi Gardner sebagai dasar tentang kecerdasan emosional
yang diteruskannya dengan memperluas kemampuan ini menjadi lima faktor
utama yaitu: (1) Kesadaran emosi, (2) Pengendalian emosi, (3) Motivasi
diri, (4) Empati, (5) Hubungan Sosial (Mulyani, 2008).
Bagan Kecakapan Kecerdasan Emosional
Gambar 2.1

Sumber: Interprestasi bebas dari Goleman (2000) oleh Bulo (2002)
Kecerdasan emosi seseorang dapat ditingkatkan dengan cara
mengembangkan komitmen yang tinggi terhadap pengembangan diri
Kecerdasan
Emosional
Kecakapan Pribadi Kecakapan Sosial
Kesadaran Diri
-Kesadaran Emosional
-Penilaian Diri yang Kuat
-Kepercayaan Diri
Empati
-Memahami Orang Lain
-Mengembangkan Orang
-Orientasi Pelayanan
-Kesadaran Politik
Pengendalian Diri
-Kontrol Diri
-Dapat Dipercaya
-Berhati-hati
-Adaptabilitas
-Inovasi
Hubungan Sosial
-Pengaruh
-Komunikasi
-Manajemen Konflik
-Kepemimpinan
-Katalisator Perubahan
-Membangun Ikatan
-Kolaborasi dan
Kooperasi
-Kemampuan Tim
Motivasi
-Dorongan Berprestasi
-Komitmen
-Inisiatif
-Optimisme
14


sendiri. Kecerdasan emosi merupakan suatu kemampuan psikologis dalam
memahami dan menggunakan informasi emosional, sebagai individu kita
semua memiliki kemampuan bawaan yang berbeda dalam melakukan
sesuatu dan kita bisa belajar dari kehidupan cara-cara memperbaiki
kecerdasan emosi melalui praktek dan pengalaman (Mulyani, 2008).
Reuven Bar-On dalam Armiyanti (2008) menyatakan bahwa
kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan
kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
berhasil memenuhi tuntutan dan tekanan lingkungan. Sedangkan menurut
Cooper dan Sawaf dalam Melianawati, Prihanto, dan Tjahjoanggoro (2001)
berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah kemapuan merasakan,
memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi
sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusiawi.
Karena orang yang sehat biasanya mampu mengenal emosi yang dialaminya
dan dapat mengeksplorasikan sasuai dengan aturan yang berlaku di
lingkungan.
Goleman dalam Zijlmans. et. all (2011) secara garis besar membagi
dua kecerdasan emosional yaitu kompentensi personal yang meliputi
pengenalan diri, motivasi diri dan kompetensi sosial yang terdiri dari empati
dan ketrampilan sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali diri sendiri dan orang
lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik
pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain (Goleman, 2005).
15


b. Faktor-Faktor yang Mempengeruhi Kecerdasan Emosional
Goleman (2005) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosi individu yaitu:
1) Lingkungan keluarga
Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari
emosi. Kecerdasan emosi dapat diajarkan pada saat masih bayi melalui
ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi pada masa anak-anak akan
melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa. Kehidupan
emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak
dikemudian hari.
2) Lingkungan non keluarga
Hal ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan.
Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik
dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditujukan dalam suatu
aktivitas bermain peran sebagai seseorang diluar dirinya dengan emosi
yang menyertai keadaan orang lain (Goleman, 2005).
c. Ranah Kecerdasan Emosional
Reuven bar-On (2009) dalam Wahyono (2010), kecerdasan emosional
terbagi dalam 5 ranah yang dijabarkan menjadi 15 komponen. Secara
ringkas digambarkan dalam penjelasan berikut:
1) Ranah Intrapribadi
Ranah ini berkaitan dengan apa yang disebut dengan inner self
(diri terdalam, batiniah). Dunia intrapribadi menentukan seberapa
16


mendalamnya perasaan kita, seberapa puas kita terhadap diri sendiri dan
prestasi kita dalam hidup. Sukses dalam ranah ini mengandung arti
bahwa kita bisa mengungkapkan perasaan kita, bisa hidup dan bekerja
secara mandiri, tegar dan memiliki rasa percaya diri dalam
mengemukakan gagasan dan keyakinan kita. Ranah inti terdiri dari 5
komponen, yaitu :
a) Kesadaran diri, yaitu kemampuan untuk mengenal dan memilah-milah
perasaan, memahami hal yang sedang kita rasakan dan mengapa hal
itu kita rasakan, dan mengetahui penyebab munculnya perasaan
tersebut.
b) Sikap asertif, (ketegangan, keberanian menyatakan pendapat), yang
meliputi tiga komponen dasar: (1) kemampuan mengungkapakn
perasaan (misalnya untuk menerima dan mengungkapkan perasaan
marah, hangat dan seksual), (2) kemampuan mengungkapkan
keyakinan dan pemikiran terbuka (mampu menyuarakan pendapat,
menyatakan ketidaksetujuan dan bersikap tegas), (3) kemampaun
untuk mempertahankan hak-hak pribadi (tidak membiarka orang lain
mengganggu dan memanfaatkan kita).
c) Kemadirian, kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri
sendiri dalam berfikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung
pada orang lain secara emosional.
d) Penghargaan diri, yaitu kemapuan untuk menghormati dan menerima
diri sendiri sebagai pribadi yang pada dasarnya baik. Penghargaan diri
17


adalah kemampuan untuk mensyukuri berbagai aspek dan
kemungkinan positif yang kita serap dan juga menerima aspek negatif
dan keterbatasan yang ada pada diri kita dan tetap menyukai diri kita.
Penghargaan diri adalah memahami kelebihan dan kekurangna kita,
dan menyukai diri sendiri, dengan segala kekurangan dan
kelebihannya. Unsur dasar dari kecerdasan emosional ini dikaitkan
dengan berbagai perasaan umum, seperti rasa aman, kekuatan batin,
rasa percaya diri, dan rasa sanggup hidup mandiri. Orang yang
memiliki rasa penghargaan diri yang bagus akan merasa puas dengan
diri mereka sendiri.
e) Aktualisasi diri, yaitu kemampuan untuk mengeksplorasikan
kemampaun kita yang potensial. Unsur kecerdasan emosional ini
diwujudkan dengan ikut serta dalam perjuangan untuk meraih
kehidupan yang bermakna, kaya dan utuh. Aktualisasi diri adalah
suatu proses perjuangan berkesinambungan yang dinamis dengan
tujuan mengembangkan kemampuan dan bakat kita secara maksimal,
dan berusaha dengan gigih dan sebaik mungkin untuk memperbaiki
diri kita secara menyeluruh. Kegairahan terhadap bidang yang kita
minati akan menambah semangat dan motivasi untuk terus memupuk
minat itu. Aktualisasi diri merupakan bagian dari rasa kepuasan diri.
2) Ranah Antarpribadi
Ranah ini berhubungan dengan apa yang dikenal sebagai
keterampilan berinteraksi. Mereka yang berperan dengan baik dalam
18


ranah ini biasanya bertannggungjawab dan dapat diandalkan. Mereka
memahami, berinteraksi, dan bergaul dengan baik dengan orang lain
dalam berbagai situasi. Mereka memabangkitkan kepercayaan dan
menjalankan perannya dengan baik sebagai bagian dari suatu kelompok.
Ranah ini terdir dari 3 komponen , yaitu:
a) Empati, yaitu kemampuan untuk menyadari, memahami, dan
menghargai perasaan dan pikiran orang lain. Empati adalah
menyelaraskan diri (peka) terhadap apa, bagaimana, dan latar
belakang perasaan dan pikiran untuk orang lain sebagaimana orang
tersebut merasakan dan memikirkannya. Bersikap empatik artinya
mampu membaca orang lain dari sudut pandang emosi. Orang
empatik peduli pada orang lain dan memperlihatkan minat dan
perhatian pada mereka.
b) Tanggungjawab sosial, yaitu kemampuan untuk menunjukkan bahwa
kita adalah anggota kelompok masyarakat yang dapat bekerjasama,
berperan dan konstruktif. Unsur kecerdasan emosional ini meliputi
bertindak secara bertanggungjawab, meskipun mungkin kita tidak
mendapatkan keuntungan apapun secara pribadi, melakukan sesuatau
untuk bersama orang lain. Kesadaran sosial dan kemampuannya
memikul tanggungjawab hidup bermasyarakat. Orang yang memiliki
tanggungjawab sosial memiliki kepekaan antarpribadi dan dapat
menerima orang lain, serta dapat menggunakan bakatnya demi
kebaikan bersama, tidak hanya demi dirinya sendiri. Orang yang tidak
19


mempunyai tanggungjawab sosial akan menunjukkan sikap antisosial,
bertindak sewenang-wenang pada orang lain, dan memanfaatkan
orang lain.
c) Hubungan antarpribadi, yaitu kemampuan membina dan memelihara
hubungan yang saling memuaskan yang ditandai dengan keakraban
dan saling memberi serta menerima kasih sayang. Kepuasan bersama
ini mencakup interaksi sosial bermakna yang berpotensi memberikan
kepuasan serta ditandai dengan saling memberi dan menerima.
Keterampilan menjalin hubungan antarpribadi yang positif dicirikan
oleh kepedulian kepada sesama. Unsur kecerdasan emosional ini tidak
hanya berkaitan dengan keinginan untuk membina persahabatan
dengan orang lain, tetapi juga dengan kemampuan merasa tenang dan
nyaman berada dalam jalinan hubungan tersebut, serta kemampuan
memiliki harapan positif yang menyangkut interaksi sosial.
3) Ranah penyesuaian Diri
Ranah ini berkaitan dengan kemampuan kita untuk menilai dan
menanggapi situasi yang sulit. Keberhasilan dalam ranah ini mengandung
arti bahwa kita dapat memahami masalah dan merencanakan pemecahan
yang ampuh, dapat menghadapi dan memecahkan masalah keluarga,
serta dapat menghadapi konflik, baik di lingkungan masyarakat maupun
dilingkungan kerja. Ranah ini terdiri dari 3 komponen, yaitu:
a) Pemecahan masalah, kemampuan untuk mengenali dan merumuskan
masalah, serta menemukan dan menerapkan pemecahan yang ampuh.
20


Memecahkan masalah bersifat multifase dan mensyaratkan
kemampuan menjadi proses berikut : (1) memahami masalah dan
percaya pada diri sendiri, serta termotivasi untuk memecahkan
masalah itu secara efektif; (2) menentukan dan merumuskan masalah
sejelas mungkin (misalnya dengan mengumpulkan informasi yang
relevan); (3) menemukan sebanyak mungkin alternatif pemecahan
(misalnya curah gagasan); (4) mengambil keputusan untuk
menerapkan salah satu alternatif pemecahan (misalnya menimbang-
nimbang kekuatan dan kelemahan setiap alternatif, kemudian memilih
alternatif yang terbaik); (5) menilai hasil penerapan alternatif
pemecahan yang digunakan, dan (6) mengulang proses di atas apabila
masalahnya tetap belum terpecahkan. Pemecahan masalah berkaitan
dengan sikap hati-hati, disiplin, dan sistematik dalam menghadapi dan
memandang masalah. Kemampuan ini juga berkaitan dengan
keinginan untuk melakukan yang terbaik dan menghadapi, bukan
menghindari masalah.
b) Uji realitas, yaitu kemampuan menilai kesesuaian antara apa yang
dialami dan apa yang secara obyektif terjadi. Uji relitas adalah
menyimak situasi yang ada di depan kita. Uji realitas adalah
kemampuan melihat hal secara obyektif, sebagaimana adanya, bukan
sebagaimana yang kita inginkan atau takutkan. Aspek penting unsur
kecerdasan emosional ini meliputi kemampuan berkonsentrasi dan
memusatkan perhatian kita, berusaha menilai dan menghadapi situasi
21


yang ada di depan kita. Uji realitas ini berkaitan dengan tidak menarik
diri dari dunia luar, penyesuaian diri dengan situasi langsung, dan
ketenagan serta kejelasan persepsi dan proses berfikir. Secara
sederahana uji realitas adalah kemampuan untuk menilai situasi
yang ada di depan kita.
c) Sikap fleksibel, yaitu kemampuan menyesuaikan emosi, pikiran dan
perilaku kita dengan perubahan situasi dan kondisi. Unsur kecerdasan
emosioanl ini mencakup seluruh kemampuan kita untuk
menyesuiakan diri dengan lingkungan yang tidak biasa, tidak terduga
dan dinamis. Orang yang fleksibel adalah orang yang tangkas, mampu
bekerjasama yang mengahasilkan sinergi, dan dapat menanggapi
perubahan secara luwes. Orang seperti ini bersedia merubah fikiran
jika ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka salah. Pada
umumnya mereka terbuka dan mau menerima gagasan, orientasi, cara,
dan kebiasaan yang berbeda. Kemampuan mereka untuk merubah
pikiran dan perilaku tidaklah dibuat-buat, melainkan sesuai dengan
umpan balik perubahan yang mereka terima dari lingkungan. Orang
yang tidak memiliki kemampuan ini cenderung kaku dan keras kepala.
Mereka sulit beradaptasi di lingkungan yang baru dan kurang pintar
memanfaatkan peluang baru.
4) Ranah pengendalian Stress
Ranah ini berkaitan dengan kemampuan menanggung stress tanpa
harus ambruk, hancur, kehilangan kendali, atau terpuruk. Keberhasilan
22


dalam ranah ini berarti bahwa kita biasanya dapat tetap tenang, jarang
bersifat impulsif, dan mampu menghadapi tekanan. Di lingkungan kerja,
kemampuan ini sangat vital jika kita selalu menghadapi pekerjaan yang
membutuhkan banyak tenaga dan fikiran dan karena harus jungkir balik
memenuhi berbagai macam tuntutan yang menyita waktu. Di rumah,
kemampuan ini memungkinkan kita tetap dapat menjalankan tugas
rumah tangga yang padat sambil sekaligus menjaga kesehatan. Ranah ini
terdiri dari 2 komponen, yaitu:
a) Ketahanan menanggung stress, yaitu kemampuan untuk menghadapi
peristiwa yang tidak menyenangkan dan situasi yang penuh tekanan
tanpa menjadi berantakan, dengan secara aktif dan pasif menghadapi
stress. Kemampuan ini didasarkan pada: (1) kemampuan memilih
tindakan untuk menghadapi stres (banyak akal dan efektif, dapat
menemukan cara yang pas, tahu apa yang harus dilakukan dan
bagaimana melakukannya); (2) sikap optimis menghadapi pengalaman
baru dan perubahan pada umumnya dan optimis pada kemampuan
sendiri untuk menghadapi masalah yang tengah dihadapi; dan (3)
perasaan bahwa kita dapat mengendalikan atau berperan dalam
menangani situasi stress dengan tetap tenang dan memegang kendali.
Ketahanan menanggung stress berarti memiliki tanggapan yang sesuai
untuk menghadapi situasi yang menekan. Ketahanan ini berkaitan
dengan kemampuan untuk tetap tenang dan sabar, serta kemampuan
mengahadapi kesulitan dengan kepala dingin, tanpa terbawa emosi.
23


Orang yang tahan menghadapi stress akan menghadapi, bukan
menghindari, krisis dan masalah, tidak menyerah pada rasa tidak
berdaya atau putus asa. Perasaan cemas, yang sering muncul ketika
ketahanan ini luntur, akan berdampak buruk pada kinerja secara
umum karena kecemasan akan menurunkan konsentrasi, sulit
mengambil keputusan, dan muncul masalah somatik seperti gangguan
tidur.
b) Pengendalian impuls, yaitu kemampuan menolak atau menunda
impuls, dorongan, atau godaan untuk bertindak. Pengendalian impuls
ini mencuatkan kemampuan menampung impuls agresif, tetap sabar
dan mengendalikan sikap agresif, permusuhan, serta perilaku yang
tidak bertanggungjawab. Masalah dalam hal pengendalian impuls ini
akan muncul dalam bentuk sering merasa frustasi, impulsif, sulit
mengendalikan amarah, bertindak kesal, kehilangan kendali diri,
menunjukkan perilaku yang meledak-ledak dan tak terduga.
5) Ranah Suasana Hati Umum
Ranah ini berkaitan dengan pandangan kita tentang kehidupan,
kemampuan kita bergembira sendiri dan dengan orang lain, serta
keseluruhan rasa puas dan kecewa yang kita rasakan. Ranah ini terdiri
dari 2 komponen, yaitu :
a) Kebahagiaan, yaitu kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan
kita, bergembira sendirian dan dengan orang lain, serta bersenang-
senang. Kebahagian adalah gabungan dari kepuasan diri, kepuasan
24


secara umum dan kemampuan menikmati hidup. Orang yang bahagia
sering merasa senang dan nyaman, baik selama bekerja maupun pada
waktu luang; mereka menikmati hidup dengan bebas, dan menikmati
kesempatan untuk bersenang-senang. Kebahagian berhubungan
dengan perasaan riang dan penuh semangat. Kebahagiaan adalah
produk sampingan dan/atau barometer yang menunjukkan derajat
kecerdasan dan kinerja emosional kita. Orang yang derajat
kebahagiaannya rendah dapat menderita gejala depresi, seperti
cenderung merasa cemas, merasa tidak pasti akan masa depan,
menarik diri dari pergaulan, kurang semangat, berfikiran murung,
merasa bersalah, tidak puas pada hidup, dan dalam kasus yang
ekstrim, memikirkan dan berperilaku mengarah ke bunuh diri.
b) Optimisme, yaitu kemampuan melihat sisi terang kehidupan dan
memelihara sikap positif, sekalipun berada dalam kesulitan. Optimis
mengasumsikan adanya harapan dalam cara orang menghadapi
kehidupan. Optimis adalah pendekatan yang positif terhadap
kehidupan sehari-hari. Optimis adalah lawan pesimis, yang
merupakan gejala umum depresi.
d. Ciri-ciri Individu Yang Memiliki Kecerdasan Emosi Tinggi
Golamen (2009) mengemukakan ciri-ciri individu yang memiliki
kecerdasan emosi tinggi, yaitu:
1) Memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan dapat bertahan
dalam menghadapi frustrasi.
25


2) Dapat mengendalikan dorongan-dorongan hati sehingga tidak melebih-
lebihkan suatu kesenangan.
3) Mampu mengatur suasana hati dan dapat menjaganya agar beban stress
tidak melumpuhkan kemampuan berpikir seseorang.
4) Mampu untuk berempati terhadap orang lain dan tidak lupa berdoa.
Kecerdasan emosi mempengaruhi semua aspek yang berhubungan
dengan pelayanan. Ketika bekerja seorang diri, keberhasilan sangat
bergantung pada seberapa tingkat kedisiplinan dan motivasi diri sendiri.
Aspek-aspek kecerdasan emosi secara praktis disajikan dalam perilaku yang
meliputi: kerajinan, kedisiplinan, tanggungjawab, perasaan percaya diri,
kesadaran diri, optimis, pengendalian diri, tidak menunda pekerjaan,
kerendahan hati, berani menghadapi kenyataan, kerjasama, komunikasi,
proaktif, berpikir panjang, memiliki etika, menghargai waktu, berani
mengambil keputusan, tidak mengikuti arus, tidak memikirkan diri sendiri,
dan seterusnya, yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang
dalam menjalani kehidupannya (Mulyadi, 2005).
Zohar (2000) mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan hidup lebih
banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional, yaitu aspek-aspek yang
berkait dengan kepribadian, yang di dalamnya setidaknya ada empat ciri
pokok. Pertama, kemampuan seseorang memahami dan memotivasi potensi
dirinya. Kedua, memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang lain.
Ketiga, senang bahkan mendorong melihat anak buah sukses, tanpa dirinya
merasa terancam. Keempat, asertif, yaitu terampil menyampaikan pikiran
26


dan perasaan dengan baik, lugas, dan jelas tanpa harus membuat orang lain
tersinggung.
Golamen (2002) dalam Wahyono (2010) menjelaskan tentang
kecerdasan emosional pada kaum pria dan wanita, dimana kaum pria yang
tinggi kecerdasan emosionalnya secara sosial mantap, mudah bergaul dan
jenaka serta tidak mudah takut atau gelisah. Mereka berkemampuan besar
untuk melibatkan diri dengan orang-orang atau permasalahan, untuk
memikul tanggungjawab, dan mempunyai pandangan moral. Mereka
simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka. Kehidupan
emosional mereka kaya tetapi wajar, mereka merasa nyaman dengan dirinya
sendiri, dengan orang lain, dan dunia pergaulan lingkungannya. Sedangkan
kaum wanita yang cerdas secara emosional cenderung bersikap tegas dan
mengungkapkan perasaan mereka secara langsung, dan memandang dirinya
secara positif serta memberi makna kehidupan bagi mereka. Sebagaimana
kaum pria, mereka mudah bergaul dan ramah serta mengungkapakan
perasaan mereka dengan takaran yang wajar. Mereka mampu menyesuaikan
diri dengan beban stress. Kemantapan pergaulan mereka membuat mereka
mudah menerima orang baru, mereka cukup nyaman dengan dirinya sendiri
sehingga selalu ceria, spontan, dan terbuka terhadap pengalaman-
pengalaman kaum pria.



27


2. Kecerdasan Emosional Perawat Di Tempat Kerja
Menurut Oginska-Bulik (2005) kecerdasan emosi, merupakan faktor
penting dalam bertanggungjawab atas keberhasilan dalam hidup dan psikologis
yang memainkan peran penting dalam membentuk interaksi antara individu
dan lingkungan kerja. Pekerjaan pelayanan manusia jelas terkait dengan emosi.
Salah satu aspek emosi di tempat kerja yang berhubungan dengan stres, adalah
kebutuhan untuk mengekspresikan perasaan positif dan kadang-kadang negatif
terhadap emosi pelanggan.
Tugas utama perawat adalah untuk melayani klien atau pasien secara
fisik atau psikologis. Dalam pelayanan manusia, pengetahuan, keterampilan,
motivasi karyawan, kondisi kerja, harapan dan perilaku pelanggan menciptakan
proses pelayanan (Dollar, 2003). Untuk menciptakan pelayanan yang baik
tidak hanya membutuhkan pengetahuan, keterampilan, motivasi karyawan,
kondisi kerja, harapan dan perilaku pelanggan saja, namun pengaturan tempat
kerja juga dapat meningkatkan kinerja perawat untuk memberikan yang terbaik
untuk klien. Pengaturan tempat kerja buruk juga akan meningkatkan stres pada
perawat dalam memberikan pelayanan. Kinerja perawat melekat pada
ketegangan dan emosi, yang dapat menyebabkan perawat merasakan stres
(Oginska-Bulik, 2005).
Perbaikan lingkungan rumah sakit memegang peranan penting untuk
kualitas perawatan pasien, keamanan dan konsistensi perawat profesional.
Hubungan antara lingkungan kerja, kurangnya kerjasama tim, kepuasan dan
burnout perawat di rumah sakit akan mempengaruhi kinerja perawat. Ruang
28


kerja yang dirancang buruk, akan mempengaruhi ketidakefisienan perawatan,
proses perawatan yang lama dengan kondisi ruang kerja yang buruk akan
membuang banyak waktu perawat dalam proses perawatan. Semua faktor ini
mengurangi kemampuan perawat profesional untuk memberikan pelayanan
yang aman, efisien, efektif pada pasien (McCusker, et all, 2004).
Menurut Salovey dan Mayer (1990) dalam Oginska-Bulik (2005)
menjelaskan bahwa kemampuan untuk mengenali emosi orang dan untuk
mengatur emosi sendiri tampaknya sangat penting dalam pekerjaan pelayanan
manusia. Kemampuan ini didefinisikan sebagai Emotional Intelllegnce (EI).
Hal ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk menyadari perasaan
sendiri, untuk menyadari perasaan lain, untuk membedakan antara mereka, dan
menggunakan informasi tersebut untuk memandu pemikiran sendiri dan
perilaku (Nikolau, 2002).

3. I ntensive care Unit (I CU), Instalasi gawat Darurat (IGD) dan Instalasi
rawat Inap (IRNA)
a. I ntensive care Unit (I CU)
Ruang ICU adalah ruang rawat di Rumah Sakit yang dilengkapi
dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien yang
terancam jiwa oleh kegagalan atau disfungsi satu organ atau ganda akibat
penyakit, bencana atau komplikasi yang masih ada harapan hidupnya
(reversible).
29


Pekerjaan di ruang ICU stress pada pekerja. Faktor-faktor yang
menyebabkan stres kerja pada Perawat ICU adalah konflik intarpersonal
dengan perawat, memberi perawatan pada pasien, isu-isu mengenai
administrator dan manajer keperawatn, kurangnya dukungan dari
administrator dan manajer keperawatan, pola komunikasi, pemantauan dan
perencanaan staf, politik interdisiplin pada tingkat manajer keperawatan dan
dokter, penghargaan (termasuk gaji, promosi, dan kesempatan untuk
memeperoleh pendidikan), penyedia dukungan dari departemen lain di luar
bidang keperawatan, serta isu etika yang berhubungan dengan pasien-pasien
menjelang kematian (Agung, 2009).
Salah satu pelayanan yang sentral di rumah sakit adalah pelayanan
Intensive Care Unit (ICU). Saat ini pelayanan di ICU tidak terbatas hanya
untuk menangani pasien pasca-bedah saja tetapi juga meliputi berbagai jenis
pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu disfungsi/gagal organ.
Kelompok pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi,
Ruang Perawatan, ataupun kiriman dari Rumah Sakit lain (Hanafi, 2007).
Perawat ICU dapat mengalami burnout (kondisi emosional dimana
seseorang merasa lelah dan jenuh secara mental ataupun fisik akibat
tuntutan pekerjaan yang meningkat) bila memiliki persepsi yang sia-sia
terhadap pemberian asuhan keperawatan pada pasien dalam keadaan
terminal yang lama, bahkan sampai berbualan-bulan tetapi tidak mengalami
perubahan kondisi kesehatan. Persepsi yang sia-sia dapat menyebabkan
kelelahan emosional yang mengarah terjadinya burnout. Hal ini dibuktikan
30


dari penelitian yang dilakukan oleh Meltzer & Huckabay (2004) (dalam
Agung, 2009) dari 60 perawat ICU pada dua buah rumah sakit di California
Selatan. Meltzer & Huckabay menemukan hubugan yang positif dan
signifikan dari uji korelasi Product moment Pearson (r = 0,317, p=0.05).
b. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Instalasi Gawat darurat merupakan unit penting dalam operasional
suatu rumah sakit, yaitu sebagai pintu masuk bagi setiap pelayanan yang
beroperasi selama 24 jam selain poliklinik umum dan spesialis yang hanya
melayani pasien pada saat jam kerja. Sebagai ujung tombak dalam
pelayanan keperawatan rumah sakit, IGD harus melayani semua kasus yang
masuk ke rumah sakit. Dengan kompleksitas kerja yang sedemikian rupa,
maka perawat yang bertugas di ruangan ini dituntut untuk memiliki
kemampuan lebih di banding dengan perawat yang melayani pasien di
ruang yang lain.
Perawat yang bertugas di ruang IGD wajib membekali diri dengan
ilmu pengetahuan, keterampilan, bahkan dianggap perlu mengikuti
pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan perawat dalam menangani
pasien secara cepat dan tepat sesuai dengan kasus yang masuk ke IGD.
Perawat juga dituntut untuk mampu bekerjasama dengan tim kesehatan lain
serta dapat berkomunikasi dengan pasien dan keluarga pasien yang
berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus di ruang tersebut, kebutuhan
akan sarana dan peralatan yang menunjang pelayanan merupakan hal
31


penting lain yang harus diperhatikan oleh penyelenggara rumah sakit
(RSUD Banyumas, 2012).
c. Instalasi rawat Inap (IRNA)
Instalasi rawat inap merupakan unit pelayanan non struktural yang
menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rawat
inap. Pelayanan rawat inap adalah suatu kelompok pelayanan kesehatan
yang terdapat di rumah sakit yng merupakan gabungan dari beberapa fungsi
pelayanan. Kategori pasien yang masuk rawat inap adalah pasien yang perlu
perawatan intensif atau observasi ketat karena penyakitnya.
Jacobalis (1990) menjelaskan kualitas pelayanan kesehatan di ruang
rawat inap rumah sakit dapat diuraikan dari beberapa aspek, diantaranya
adalah:
1) Penampilan keprofesian menyangkut pengetahuan, sikap dan perilaku
2) Efisiensi dan efektifitas, menyangkut pemanfaatan sumber daya
3) Keselamatan Pasien, menyangkut keselamatan dan keamanan pasien
4) Kepuasan Pasien, menyangkut kepuasan fisik, mental, dan sosial
terhadap lingkungan rumah sakit, kebersihan, kenyamanan, kecepatan
pelayanan, keramahan, perhatian, biaya yang diperlukan dan sebagainya.
Muslihuddin (1996), menjelaskan Mutu asuhan pelayanan rawat inap
dikatakan baik apabila perawat dapat memberikan rasa tentram kepada
pasiennya yang biasanya orang sakit, dan menyediakan pelayanan yang
profesional. Dari kedua aspek ini dapat diartikan bahwa petugas harus
mampu melayani dengan cepat, penanganan pertama dari perawat dan
32


dokter profesional harus mampu membuat kepercayaan pada pasien,
ruangan yang bersih dan nyaman, dan peralatan yang memadai dengan
operator yang profesional memberikan nilai tambah.

4. Karakteristik Responden
a. Jenis kelamin
Menurut Hungu (2007) jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara
perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks
berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki
memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan
secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan
biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak dapat
dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsinya tetap dengan laki-laki dan
perempuan pada segala ras yang ada di muka bumi.
b. Usia atau Umur
Usia atau umur adalah lamanya waktu hidup yaitu terhitung sejak lahir
sampai dengan sekarang. Penentuan umur dilakukan dengan menggunakan
hitungan tahun (Chaniago, 2002 ). Menurut Elisabeth yang dikutip
Nursalam (2003), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai berulang tahun. Pembagian umur berdasarkan psikologi
perkembangan (Hurlock, 2002) bahwa masa dewasa terbagi atas :
1) Masa Dewasa muda, berlangsung antara usia 18 - 40 tahun
2) Masa Dewasa Madya, berlangsung antara usia 41 - 60 tahun
33


3) Masa Lanjut Usia, berlangsung antara usia > 61 tahun
Menurut Hurlock (2002) semakin cukup umur, tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari
segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya
dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini dilihat dari
pengalaman dan kematangan jiwanya. Umur merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang. Menurut Suryabudhi
(2003) seseorang yang menjalani hidup secara normal dapat diasumsikan
bahwa semakin lama hidup maka pengalaman semakin banyak, pengetahuan
semakin luas, keahliannya semakin mendalam dan kearifannya semakin
baik dalam pengambilan keputusan tindakannya.
c. Pendidikan
Menurut Daryanto (1997), pendidikan adalah upaya peningkatan
manusia ke taraf insani itulah yang disebut mendidik. Pendidikan adalah
segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan
manusia secara jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik di
dalam maupun di luar sekolah dalam rangka pembangunan persatuan
Indonesia dan masyarakat (Hasibuan, 2005).
Koentjoroningrat (1997), mengatakan pendidikan adalah kemahiran
menyerap pengetahuan, pendidikan seseorang berhubungan dengan sikap
seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya. Semakin tinggi tingkat
pendidikan semakin mudah untuk dapat menyerap pengetahuan. Pendidikan
34


merupakan unsur karakteristik personal yang sering dihubungkan dengan
derajat kesehatan seseorang atau masyarakat.
d. Lama kerja
Siagian (2008) menyatakan bahwa, lama kerja menunjukkan berapa
lama seseorang bekerja pada masing-masing pekerjaan atau jabatan.
Kreitner dan Kinicki (2004) menyatakan bahwa, masa kerja yang lama
akan cenderung membuat seorang pegawai lebih merasa betah dalam
suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena telah beradaptasi
dengan lingkungannya yang cukup lama sehingga seorang pegawai akan
merasa nyaman dengan pekerjaannya. Penyebab lain juga dikarenakan
adanya kebijakan dari instansi atau perusahaan mengenai jaminan hidup di
hari tua.
e. Status Pekerjaan
Status Pekerjaan adalah kedudukan seseorang dalam melakukan
pekerjaan di suatu unit usaha/kegiatan. Indikator status pekerjaan pada
dasarnya melihat empat kategori yang berbeda tentang kelompok penduduk
yang bekerja yaitu tenaga kerja dibayar (buruh), pekerja yang berusaha
sendiri, pekerja bebas dan pekerja keluarga. Berusaha sendiri umumnya
dibedakan menjadi dua yaitu mereka yang berusaha (memiliki usaha)
dengan dibantu pekerja dibayar dan mereka yang berusaha tanpa dibantu
pekerja dibayar, sementara pekerja keluarga juga dikenal dengan pekerja tak
dibayar (Hungu, 2007).
f. Lingkungan
35


Menurut Mardiana (2005) lingkungan kerja adalah lingkungan dimana
pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari. Lingkungan kerja yang
kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk
dapat berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi
pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja,
maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan
aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis
prestasi kerja pegawai juga tinggi.
Lingkungan kerja mencakup hubungan kerja yang terbentuk antara
sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan atasan serta
lingkungan fisik tempat pegawai bekerja. Menurut Nitisemito (2001)
Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja
yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang
diembankan.

36


B. Kerangka Teori
Berdasarkan penjabaran teori dari Nursalam (2002), Galoman (2009),
Dann (2002), Al-Uqsari, (2005), Bullo (2002), Shapiro (2003), dan Cooper &
Sawan (2001), Chaniago (2002), Nursalam (2003), Hurlock (2002), Daryanto
(1997), siagian (2008), Hungu (2007), dan Mardian (2005), maka didapat
kerangka teori sebagi berikut:
















Gambar 2.2. kerangka teori
- Kesehatan individu
- Lingkungan (tempat
kerja)
- Stimulasi kejenuhan
- Pengalaman
Faktor yang mempengaruhi
kecerdasan emosional :
1. Usia
2. Pendidikan
3. Lama kerja
4. Status pekerjaan
5. Jenis kelamin


Kecerdasan Emosional
Ruang Kerja Perawat
- ICU
- IGD
- IRNA
Ranah kecerdasan emosional
menurut Reuven Bar-On (2009)
dalam Wahyono (2010)
- Ranah intarapribadi
- Ranah antarpribadi
- Ranah penyesuaian diri
- Ranah pengendalian stress
- Ranah suasana hati

Faktor kecerdasan emosional
menurut Golamen (2000) oleh
Bolu (2002)
1. Kesadaran emosi
2. Pengendalian emosi
3. Motivassi diri
4. Empati
5. Hubungan sosial

37


C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan fokus penelitian yang akan diteliti,
kerangka konsep ini terdiri dari variabel bebas (independent variable). Adapun
kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.3. kerangka konsep
Keterangan:
: variabel yang diteliti

: variabel yang tidak diteliti

Ruang kerja
- ICU
- IGD
- IRNA
Faktor yang
mempengaruhi kecerdasan
emosional :
1. Usia
2. Lingkungan (tempat
kerja)
3. Pendidikan
4. Lama kerja
5. Status pekerjaan
6. Jenis kelamin

Kecerdasan emosional di ruang
ICU, IGD dan IRNA
7. Kesehatan individu
8. Pengalaman
9. Stimulasi kejenuhan

Faktor kecerdasan emosional
menurut Golamen (2000) oleh
Bolu (2002)
1. Kesadaran emosi
2. Pengendalian emosi
3. Motivassi diri
4. Empati
5. Hubungan sosial
Ranah kecerdasan emosional
menurut Reuven Bar-On
(2009) dalam Wahyono (2010)
- Ranah intarapribadi
- Ranah antarpribadi
- Ranah penyesuaian diri
- Ranah pengendalian stress
- Ranah suasana hati


38


D. Hipotesis
Ha : ada perbedaan kecerdasan emosional perawat di ICU, IGD, dan instalasi
Rawat inap setelah dikontrol dengan karakteristik individu.

39


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif. Adapun
rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, dimana
peneliti hanya melakukan observasi dan pengukuran variabel pada saat tertentu
saja (Saryono, 2011). Metode ini digunakan untuk mengetahui kecerdasan
emosional perawat di ruang ICU, IGD dan rawat inap.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUD Banyumas pada bulan Juni sampai bulan
Juli 2013.
B. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Saryono (2011) mendefinisikan populasi merupakan keseluruhan sumber
data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah
seluruh perawat di RSUD Banyumas yang bekerja di ruang ICU, IGD, dan
instalasi rawat inap.
2. Sampel
a. Kriteria Inklusi
Perawat yang bekerja di ruang intensive, kegawatdaruratan, dan ruang rawat
inap RSUD Banyumas
40


b. Kriteria Eksklusi
1) Perawat yang menolak menjadi responden
2) Perawat yang sedang cuti
Penentuan besar sampel menurut Saryono (2011) besar sampel dapat
didasarkan pada prosentase dari besarnya populasi. Jika populasi lebih dari
100 maka dapat mengambil 25% sampai 30%. Besar sampel dalam
penelitian ini menggunakan rumus sebagai berikut:
n = 25% x N + (10%x (25% x N))
Keterangan:
n = besar sampel minimal
N = jumlah populasi
Dari rumus di atas maka penentuan besar sampel untuk instalasi
rawat inap adalah sebagai berikut:
n = 25% x N + (10%x (25% x N))
n = 25% x 188 + (10%x (25% x 188))
n = 47 + 4,7
n = 51,7 52 perawat
Besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan teknik total
sampling yaitu dengan melakukan pengambilan pada seluruh kelompok
untuk ruang intensive yang diwakili ruang ICU = 17 perawat dan ruang
kegawatdaruratan yang diwakili ruang IGD = 18 perawat. Jumlah total dari
responden penelitian ini adalah 87 orang.

41


C. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas (independent variable) merupakan variabel yang menstimulasi
variabel target (Saryono, 2011). Variabel bebas dalam penelitian yang akan
dilakukan yaitu kecerdasan emosional
2. Variabel penganggu (confounding variable) yang akan diteliti dalam penelitian
yang akan diteliti meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan terakhir, masa
kerja, ruang tempat kerja.
D. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi
operasional
Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
1. Kecerdasan
emosional
kemampuan
mengenali diri
sendiri dan orang
lain, kemampuan
memotivasi diri
sendiri dan
mengelola emosi
dengan baik pada
diri sendiri dan
hubungannya
dengan orang lain
Kuesioner Dibagi dalam
dua kategori
yaitu:
- Cukup baik
dengan nilai
136
- Baik dengan
nilai 136-
160
- Baik sekali
dengan nilai
160
Ordinal
2. Jenis kelamin Jenis kelamin
adalah status
responden yang
membedakan
antara laki-laki
dan perempuan
Melihat
identitas
responden
pada
jawaban
kuesioner
Dibedakan
antara:
Laki-laki
perempuan
Nominal
3. Usia Usia adalah
Banyaknya tahun
yang dihitung
sejak kelahiran
sampai
pelaksanaan
penelitian
Melihat
identitas
responden
pada lembar
kuesioner
Dibagi dalam
2 kategori:
Dewasa muda
18-40 tahun,
dan dewasa
madya 41-60
tahun
Ordinal
4. Pendidikan Jenjang
pendidikan
Melihat
identitas
D3
S1
Ordinal
42


terakhir lulus responden
pada lembar
jawaban
kuesioner
dan data di
bagian
kepegawaian
di RSUD
Banyumas
S2
5. Masa kerja Lama kerja
merupakan masa
kerja perawat
dimulai dari
masuk menjadi
perawat di RSUD
Banyumas
sampai dengan
waktu penelitian
dilakukan
Melihat
identitas
responden
pada
jawaban
kuesioner
dan data di
bagian
kepegawaian
Dibagi dalam
dua kategori
yaitu:
- < 11 tahun
- 11 tahun
Ordinal
6. Status pekerjaan Status pekerjaan
merupakan
tingkatan
pekerjaan yang
dimiliki oleh
perawat
Melihat
identitas
responden
pada lembar
kuesioner
Dibagi dalam
2 kategori:
PNS dan Non
PNS
Nominal

E. Intstrumen Penelitian
Saryono (2011) mengungkapkan instrumen penelitian merupakan alat
atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data. Instrumen
penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah penelitian karena
menentukan keakuratan data yang diperoleh. Instrumen yang digunakan untuk
mengukur kecerdasan emosional adalah menggunakan skala likert. Dalam skala
likert terdapat 5 gradasi seperti : selalu, sering, jarang, ragu-ragu dan tidak pernah.
Namun dalam pembuatan kuesioner peneliti hanya menggunakan 4 gradasi
dimana ragu-ragu tidak digunakan karena dapat membuat keraguan dalam
jawaban kuesioner. Kuesioner kecerdasan emosionl diadopsi dari penelitian
43


sebelumnya oleh Wahyono (2010) yang mengadopsi ranah kecerdasan emosional
oleh Reuvan Bar-On (2009). Kecerdasan emosinal dibagi dalam 5 ranah yang
dijabarkan lebih detail menjadi 15 komponen.
Distribusi item pertanyaan tentang kecerdasan emosional dapar dilihat
dari tabel berikut ini:
Tabel.3.2. Aspek dan distribusi item kecerdasan emosional
Aspek Nomor item Jumlah
Antarpribadi
Intrapribadi
Penyesuaian diri

Pengendalian stress
Suasana hati umum
1, 2, 3,4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11
12, 13, 14 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21
22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32,
33, 34, 35, 36
37, 38, 39, 40, 41, 42
43, 44, 45, 46, 47
11
10
15

6
5
Total 47
Gradasi yang digunakan dalam kuesioner penelitan ini adalah:
SL : Selalu dengan skor 4
SR : Sering dengan skor 3
JR : Jarang dengan skor 2
TP : Tidak pernah dengan skor 1
Cara penilaian untuk menentukan skala yang digunakan dalam penelitian
ini pada awalnya dikategorikan dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi dengan
cara menjumlah item dari indikator dalam variabel tersebut dengan dicari nilai
tertinggi, nilai terendah dan nilai tengah. Jumlah item dikalikan dengan skor
tertinggi untuk menentukan batas atas, jumlah item pertanyaan dikalikan dengan
skor item terendah untuk menentukan batas bawah, kemudian nilai tengah
diperoleh dari batas atas dan batas bawah dibagi dua, sehingga diperoleh sekala
sebagai berikut :

44


- Rendah : 47 - 94
- Sedang : 95 - 142
- Tinggi : 143 - 188
Penelitian yang akan dilakukan menggunakan instrumen penelitian yang terdiri
dari:
1. Kuesioner karakteristik responden
Kuesioner karakteristik responden berisi jenis kelamin, usia, lama kerja, status
pekerjaan, dan ruang tempat kerja.
2. Kuesioner pengukuran kecerdasan emosional
Pengukuran kecerdasan emosional menggunakan kuesioner yang sudah teruji
validitas dan reliabilitasnya.
F. Validitas Dan Reliabilitas Instrumen
Validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat itu benar-
benar mengukur apa yang diukur (Saryono, 2011). Alat ukur yang akan
digunakan pada penelitian ini adalah lembar kuesioner untuk mengukur
kecerdasan emosional. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner kecerdasan emosional yang telah teruji validitasnya, diperoleh nilai
0,725 sehingga tidak perlu dilakukan uji validitas lagi.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Saryono, 2011). Uji
reliabilitas dalam penelitian ini tidak dilakukan dengan alasan bahwa kuesioner
ini telah teruji reliabilitasnya sehingga tidak perlu dilakukan uji reliabilitas.
Dari penelitian sebelumnya diperoleh hasil uji reliabilitas kuesioner kecerdasan
45


emosional diperoleh nilai 0,828 yang artinya item dari kecerdasan emosional
adalah reliabel. Sedangkan penelitian yang saya lakukan setelah di uji
reliabilitasnya terdapat satu item pertanyaan yang tidak reliabel. Tetapi
instrumen ini tetap digunakan dalam penelitian karena pada penelitian
sebelumnya telah terstandar.
G. Teknik Pengumpulan Data dan Jalannya Penelitian
1. Teknik pengumpulan data
Jenis data yang digunakan adalah
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh peneliti secara langsung dari
responden dengan mengisi kuesioner.
b. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari catatan kepegawaian dan
mengisi kuesioner berupa usia, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan,
lama kerja dan tempat kerja.
2. Penelitian yang akan dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Tahap Persiapan
1) Persiapan materi dan konsep yang mendukung jalannya penelitian.
2) Studi pendahuluan penelitian untuk mendapatkan datadata yang
mendukung penelitian.
3) Penyusunan proposal penelitian dan konsultasi dengan dosen
pembimbing.
4) Seminar proposal penelitian.
46


5) Permohonan ijin dari Ketua Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran
dan Ilmuilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman, kepada Badan
Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbang Pol
dan Linmas) Kabupaten Banyumas, Badan Perencanaan dan
Pembangunan Daerah (Bappeda) dan RSUD Banyumas.
b. Tahap Pelaksanaan
a. Menentukan sampel penelitian
b. Ijin kepeda responden dengan terlebih dahulu membuat persetujuan pada
lembar persetujuan untuk menjadi responden.
c. Mengumpulkan data primer kecerdasan emosional
c. Tahap Penyelesaian
1) Melakukan pengecekan data (editing), apakah data sudah sesuai.
2) Data yang sudah lengkap seleksi, kemudian diolah menggunakan bantuan
komputer meliputi tahap coding dan tabulating.
3) Data yang telah diolah kemudian dianalisis hasilnya meliputi analisis
univariat dan analisis bivariat.
4) Membuat laporan hasil penelitian.
5) Seminar hasil penelitian.
6) Pengumpulan hasil penelitian skripsi.
H. Analisa Data
1. Pengolahan dan analisa data
Pengolahan data menggunakan program statistik komputer dan
dianalisis dengan uji statistik yaitu non parametrik yang merupakan teknik
47


analisis data dalam penelitian analitik komparatif numerik menggunakan
statistik inferensial (menarik kesimpulan), yaitu menyimpulkan parameter
berdasarkan statistik (Saryono, 2011).
2. Cara analisa
Analisis data dilakukan setelah data terkumpul agar perbandingan
antar variabelnya dapat diketahui. Data di analisis menggunakan prosedur
statistik yang memungkinkan peneliti untuk menyimpulkan, mengorganisasi,
mengevaluasi, menginterpretasi, dan menyajikan informasi yang jelas dengan
angka-angka yang berarti. Peneliti melakukan tabulasi data menggunakan
komputer (Nursalam, 2009).
a. Analisa univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian.
Analisa ini bermanfaat untuk memberi gambaran karakteristik subyek
penelitian dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsi setiap
variabel. Pada penelitian ini analisa univariat dilakukan dengan
menggunakan analisa deskriptif dalam bentuk presentase pada karakteristik
usia, pendidikan, lama kerja, jenis kelamin, ruang kerja dan status
pekerjaan.
b. Analisa bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mencari perbedaan antara kecerdasan
emosional perawat di ruang intensive, kegawatdaruratan, dan rawat inap.
Kemudian setelah diketahui hasilnya, kecerdasan emosionalnya di
hubungkan dengan karakteristik responden yaitu, jenis kelamin, usia, lama
48


kerja, status pekerjaan, dan pendidikan. Uji statistik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah uji Kruskal-Wallis dan chi-squere.
Tabel 3.3. Uji Penelitian Analisa Bivariat
Variabel Analisis
Perbedaan Kecerdasan emosional
dengan ruang kerja (ICU, IGD, dan
IRNA)
uji Kruskal-Wallis
Hubungan kecerdasan emosional
ruang ICU, IGD, dan IRNA dengan
jenis kelamin
Chi-square
Hubungan kecerdasan emosional
ruang ICU, IGD, dan IRNA dengan
usia
Chi-square
Hubungan kecerdasan emosional
ruang ICU, IGD, dan IRNA dengan
pendidikan
Chi-square
Hubungan kecerdasan emosional
ruang ICU, IGD, dan IRNA dengan
lama kerja
Chi-square
Hubungan kecerdasan emosional
ruang ICU, IGD, dan IRNA dengan
status pekerjaan
Chi-square

Data yang telah terkumpul akan diolah dengan proses pengolahan data
sebagai berikut:
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh. Peneliti melakukan pengecekan terhadap kelengkapan data. Jika
terdapat data yang salah dan yang tidak lengkap maka data tersebut tidak
dipakai.
2. Coding
Coding merupakan penglasifikasian hasil observasi/pemeriksaan yang
sudah ada menurut jenisnya, dengan cara memberi tanda pada masing-
49


masing kolom dengan kode berupa angka/huruf/simbol lainnya. Peneliti
membuat daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk
memudahkan kembali melihat lokasi dan arti kode tersebut.
Karena data penelitian hampir semua dalam kategori baik yang tidak
memungkinkan untuk dilakukan analisa maka perlu dikategorikan setelah
uji normalitas. Data yang telah terdistribusi normal dikaegorikan
berdasarkan nilai mean (153,3) dan SD (17,2). Rerata (< mean SD)
kategori cukup baik, ( mean SD) dikategorikan baik, dan (> mean + SD)
kategori sangat baik, sehingga diperoleh sekala sebagai berikut :
- Baik dengan nilai 136-160 ( mean SD)
- Baik sekali dengan nilai 160 (> mean + SD)
Data yang akan dilakukan Coding meliputi kecerdasan emosional
yaitu Dibagi dalam dua kategori 1 = baik (136-160), dan 2 = baik sekali
(>160) , pendidikan yaitu 1 = D3, 2 = S1/Ners, 3 = S2. Dan Coding untuk
lama kerja dibagi menjadi dalam dua kategori yaitu 1 = < 11 tahun, dan 2 =
11 tahun. Usia dibagi dalam 2 kategori yaitu dewasa muda 18-40 tahun
dan dewasa madya 41-60 tahun. Data yang telah di coding kemudian diolah
dengan menggunakan SPSS 16.
3. Tabulasi/entry data
Tabulasi adalah suatu kegiatan memasukkan data dari hasil penelitian ke
dalam master tabel/database komputer berdasarkan kriteria yang telah ada.
Tabulasi merupakan membuat tabel hasil observasi yang sudah diberi skor
dan dimasukkan ke dalam tabel. Tabulasi juga dilakukan untuk menyusun
50


dan menghitung data hasil pengkodean untuk disajikan dalam tabel sesuai
kategori variabel.
I. Etika Penelitian
Etika penelitian menurut Hidayat (2007), terdiri dari 4 macam yaitu:
1. Informed Consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden,
dengan bentuk lembar persetujuan. Lembar persetujuan diberikan sebelum
penelitian kepada responden yang akan diteliti. Lembar ini dilengkapi dengan
judul penelitian dan manfaat penelitian, sehingga subjek mengerti maksud dan
tujuan penelitian. Bila subjek menolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan
harus tetap menghormati hak-hak subjek.
2. Anonomity
Anonimity digunakan untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan
mencantumkan nama responden, tetapi pada lembar tersebut diberikan kode
pengganti nama responden.
3. Confidentiality
Informasi yang telah dikumpulkan dari responden akan dijamin kerahasiaanya
oleh peneliti, dan hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu.
4. Asas Keadilan (Justice)
Prinsip ini bertujuan untuk menjunjung tinggi keadilan responden dengan
menghargai hak-hak dalam memberikan informasi, dan hak menjaga privasi
responden.

51


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Penelitian dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan
emosional perawat di ruang intensif, kegawatdaruratan, dan ruang rawat inap
telah dilakukan selama dua minggu di RSUD Banyumas dan diperoleh 89
responden. Terdiri dari ruang ICU 17 orang, IGD 18 orang dan ruang rawat
inap sebanyak 52 orang. Dari 18 responden yang tersebar di ruang IGD
terdapat dua responden yang gugur. Hal ini karena keterbatasan waktu dari
peneliti dan tidak adanya respon dari perawat yang peneliti hubungi. Dua
perawat yang tidak mengembalikan kuesioner di eksklusi. Tabulasi dan hasil
penelitian akan diuraikan dengan analisis univariat dan bivariat, meliputi
karakteristik responden, gambaran kecerdasan emsional di ruang kerja, dan
hubungan kecerdasan emosional perawat dengan karakteristik responden.

1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dipaparkan berdasarkan tempat kerja, pendidikan,
lama kerja, jenis kelamin, usia, masa kerja dan lama kerja dapat dilihat
pada tabel 4.1.



52


Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Kerja,
Pendidikan, Jenis Kelamin, Usia, Masa Kerja dan Status
Pekerjaan (N=87)
Karakteristik responden Frekuensi Persentase (%)
Jenis kelamin
Laki-laki 40 46,0
Perempuan 47 54,0
Umur
Dewasa muda 18-40 tahun 82 94,3
Dewasa madya 41-60 tahun 5 5,7
Tingkat Pendidikan
D3 65 74,7
S1 22 25,3
S2 0 0
Masa kerja
< 11 tahun 48 55,2
11 tahun 39 44,8
Statsu pekerjaan
PNS 76 87,4
Non PNS 11 12,6
Total 87 100

Mayoritas responden dalam penelitian bekerja di ruang rawat inap
sebanyak 52 orang (59,8%), persentase ini tidak berimbang dengan ruang
ICU, dan IGD yang hanya terdiri masing-masing satu ruang. Ruang rawat
inap terdiri dari beberapa ruang sehingga perawat yang bekerja di ruang
rawat inap lebih banyak daripada ICU dan IGD.
Komposisi jenis kelamin relatif seimbang dengan persentase
perempuan (54,0%) dan laki-laki (46,0%). Sebaliknya berdasarkan
kelompok umur tidak seimbang dimana mayoritas responden berusia
dewasa muda 18-20 tahun (94,3%). Mayoritas pendidikan responden yaitu
D3 (74,7%) dengan masa kerja mayoritas perawat kurang dari 11 tahun
(55,2%) dan mayoritas statusnya PNS (87,4%).
53


2. Gambaran Kecerdasan Emosional Perawat Di RSUD Banyumas
Kecerdasan emosional dalam penelitian ini dibagi menjadi 2
kategori yaitu baik dan baik sekali yang dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kecerdasan Emosional Perawat ruang ICU,
IGD, dan ruang rawat inap (N=87)

Ruang
kerja
Frekuensi
kecerdasan
emosional

Presentase (%)

Persentase
total
Baik Baik
Sekali
Baik Baik
sekali
ICU 6 11 6,9 12,6 19,5
IGD 15 3 17,2 3,4 20,7
IRNA 33 19 37,9 21,8 59,8
Total 54 33 62,1 37,9 100


Tabel 4.5 menunjukkan bahwa kecerdasan emosional responden di
ruang ICU memiliki skor kecerdasan emosional dalam kategori baik
sebanyak 6 orang (6,9%), kategori baik sekali 11 orang (12,6%).
Responden IGD memiliki skor kecerdasan emosional dalam kategori baik
sebanyak 15 orang (17,2%), kategori baik sekali 3 orang (3,4%).
Responden IRNA memiliki skor kecerdasan emosional dalam kategori
baik sebanyak 33 orang (37,9%), kategori baik sekali 19 orang ( 21,8%).
Total responden yang memiliki kecerdasan emosional baik 54 orang
(62,1%), sedangkan responden dengan kecerdasan emosional baik sekali
33 orang (37,9%).



54


3. Hubungan Karakteristik Responden dengan Kecerdasan Emosional
Perawat Di Ruang I CU, IGD, Rawat Inap Rsud Banyumas
Hubugan karakteristik responden dengan kecerdasan emosional dapat
dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3. Hasil Uji Chi-Square Hubungan Karakteristik Responden
dengan Kecerdasan Emosional (n=87)


Karakteristik
responden
Kecerdasan
Emosional


Sig


Keterangan


Total Baik Baik
sekali
Jenis kelamin
- Laki-laki

26

14

0,603

Tidak
bermakna

40
- perempuan 28 19 47
Umur
- Dewasa muda
18-40 tahun

51

31

0,992

Tidak
bermakna

82
- Dewasa madya
41-60 tahun
3 2 5
Pendidikan
- D3

42

23

0,400

Tidak
bermakna

65
- S1 12 10 22
Masa kerja
- 11 tahun

36

12

0,006

Bermakna

48
- 11 tahun 18 21 39
Status pekerjaan
- PNS


44


32


0,035


Bermakna


76
- Non PNS 10 1 11


Hubungan karakteristik responden meliputi ruang tempat kerja,
masa kerja dan status pendidikan menunjukkan hubungan yang bermakna
tetapi, karakteristik responden jenis kelamin, umur, dan pendidikan
menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.

55


4. Perbedaan kecerdasan emosional perawat di ICU, IGD, IRNA RSUD
Banyumas
Perbedaan kecerdasan emosional perawat di ICU, IGD, dan IRNA dapat
dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.4 Hasil uji Krusskall-Wallis Perbedaan Kecerdasan Emosional
Perawat Di ICU, IGD dan IRNA (N=87)

Variabel
bebas
Uji Ruang kerja Sig Keterangan
Kecerdasan
emosional
Krusskal-
Wallis
ICU,IGD, dan
IRNA
0,014 Bermakna

Hasil uji dengan menggunakan uji Krusskal-Wallis pada variabel
kecerdasan emosional pada ruang diperolah ada variabel yang bermakna
dengan nilai p = 0,014 yang berarti Ha diterima Ho ditolak. Dimana dalam
hal ini berarti ada perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang ICU,
IGD, dan ruang rawat inap. Selanjutnya untuk mengetahui kelompok mana
yang paling perbedaan maka dilakukan analisa Post Hoc dengan
menggunakan uji Man-Wetney antara kecerdasan emosional Perawat ICU,
IGD, dan IRNA. Maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.5 Hasil uji Mann-Wetney Perbedaan Kecerdasan Emosional
Perawat Di ICU, IGD dan IRNA (N=87)
Variabel
bebas
Uji Ruang kerja Sig Keterangan

Kecerdasan
emosional

Mann-
Wetney
ICU
IGD
0,014 Bermakna
ICU
IRNA
0,043 Bermakna
IGD
IRNA
0,120 Tidak
bermakna

56


Dari hasil uji Man-Wetney diperoleh hasil ICU-IGD p = 0,014,
ICU-IRNA p = 0,043 dan IGD-IRNA p = 0,120.

B. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa perawat dengan
jenis kelamin perempuan berjumlah 47 orang (54,0%), sedangkan
responden laki-laki berjumlah 40 orang (46,0%). Sedikit selisih jumlah
perawat antara laki-laki dan perempuan. Hal ini tidak sejalan dengan
penelitian Sujono dan Hari (2007) bahwa perawat yang bekerja di RSD
Dr. H Moh Anwar Sumenep Madura paling banyak perempuan (71%)
dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak (29%). Dilihat dari
sejarah perkembangan keperawatan dengan adanya perjuangan seorang
Florence Nightingale sehingga dunia keperawatan identik dengan
pekerjaan seorang perempuan. Namun demikian kondisi tersebut
sekarang sudah berubah, banyak laki-laki yang menjadi perawat, tetapi
kenyataannya proporsi perempuan masih lebih banyak daripada laki-
laki (Utami & Supratman, 2009).
b. Usia atau Umur
Hasil uji statistik diperoleh bahwa usia responden tertinggi pada
kelompok dewasa muda yaitu 82 orang (94,3%). Pada kelompok umur
tesebut seseorang sudah mulai memainkan peranan baru baik dalam hal
57


pergaulan, dan pekerjaan. Kondisi tersebut akan menunjang kinerja
perawat yang berkaitan dengan kebutuhan pengembangan diri atau
karir. Bagi sebagian usia dewasa muda merupakan masa paling
produktif yang biasanya berada pada puncak karir mereka (Wahyono,
2010).
Havighurst (Turner dan Helms, 1995) dalam Dario (2003)
mengemukakan perkembangan sosioemosional pada masa dewasa
muda adalah meniti karier dalam rangka rnemantapkan kehidupan
ekonomi rumah tangga. Salah satu tugas perkembangan seseorang yang
telah memasuki masa dewasa awal adalah memasuki dunia kerja dan
karier. Dalam proses perjalanan dalam fase ini, seseorang ditunutut
untuk dapat menentukan jenjang karier yang tepat bagi dirinya. Seorang
individu dalam menjalani hidupnya ditengah fase ini diharapkan sudah
memiliki pekerjaan yang layak dan menjamin. Menurut Jackofsky dan
Petter (dalam Novliandi, 2007) untuk memiliki pekerjaan tetap
seseorang harus mampu berkomitmen terhadap pekerjaannya sehingga
perkerja tidak mengalami turnover (perpindahan karyawan dari
pekerejaanya yang sekarang) dalam pekerjaannya.
Ketika orang dewasa sudah memasuki dunia kerja, biasanya
orang dewasa cenderung merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan yang
mereka jalani. Mereka biasanya kurang setia atau memiliki loyalitas
terhadap perusahaan yang rendah dan cenderung mencari pekerjaan lain
yang dianggap lebih memuaskan dan lebih dapat menjamin atas
58


kelangsungan hidupnya (Dario, 2003). Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Novliandi (2007) yang menyatakan bahwa seorang
pekerja dengan usia lebih tinggi biasanya juga akan bertahan lebih lama
dalam pekerjaannya dibandingkan dengan pekerja dengan usia lebih
muda.
Goleman seorang pakar psikologi mengatakan bahwa kecerdasan
emosional berkembang sejalan dengan bertambahnya usia seseorang
dari masa kanak-kanak hingga dewasa, dan yang lebih penting lagi
kecerdasan emosional itu dapat dipelajari karena sifatnya yang tidak
permanen. Kecerdasan emosional tidak menetap secara genetis,
melainkan dapat ditingkatkan sepanjang kita masih hidup. Hal ini
berarti semakin bertambah usia atau kedewasaan seseorang maka
semakin bertambah pula pengalaman hidupnya, yang pada akhirnya
akan menambah tingkat kecerdasan emosionalnya (Goleman, 2009).
c. Pendidikan
Hasil uji statistik diketahui bahwa pendidikan responden yang
terbanyak yaitu D3 yang berjumlah 65 orang (74,7%), sedangkan
responden dengan tingkat pendidikan S1 berjumlah 22 orang (25,3%).
Pendidikan adalah salah satu sarana belajar untuk mengembangkan
kecerdasaan emosional. Individu mulai dikenal dengan berbagai bentuk
emosi dan bagaimana mengelola emosi melalui pendidikan. Hasil
penelitian yang dilakukan Putra, Supriati, dan Safrida (2011)
didapatkan hasil bahwa responden dengan pendidikan paling banyak
59


adalah D3. Kecenderungan ini dapat disimpulkan semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasan
emosinya.
d. Masa Kerja
Berdassarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa masa kerja
responden terbanyak adalah masa kerja < 11 tahun yaitu 48 orang
(55,2%), sementara >= 11 tahun sebesar 39 orang (44,8%). Masa kerja
yang relatif sama ini mungkin dikarenakan RSUD Banyumas
melakukan seleksi kepegawaian dilakukan serempak pada setiap
ruangnya.
Masa kerja perawat yang sebagian besar adalah masa kerja < 11
tahun dimana hasil ini menunjukkan perawat sudah cukup memiliki
pengalaman dalam melaksanakan tugasnya. Berbagai pengalaman
hidup baik yang berupa kebahagiaan maupun kesedihan akan membuat
seseorang semakin mengenal dirinya, semakin terampil dalam
mengendalikan diri, memotivasi diri, dapat memahami orang lain,
memiliki keterampilan sosial, berempati, dan dapat berhubungan baik
dengan orang lain (Muhaimin 2008).
Kreitner dan Kinicki (2004) menyatakan bahwa, masa kerja yang
lama akan cenderung membuat seorang pegawai lebih merasa betah
dalam suatu organisasi, hal ini disebabkan diantaranya karena telah
beradaptasi dengan lingkungannya yang cukup lama sehingga
seorang pegawai akan merasa nyaman dengan pekerjaannya.
60


e. Status Pekerjaan
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa status pekerjaan
responden terbanyak adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebesar 76
orang (87,4%), sedangkan non PNS sebanyak 11 orang ( 12,6%).
Seorang dengan status pekerjaan sebagai pegawai tetap akan merasa
nyaman dengan pekerjaannya. Perawat akan terus berusaha untuk
memberikan pelayanan yang terbaik baik kepada pasien sehingga
kepuasan pasien terpenuhi. Penyebab lain juga dikarenakan adanya
kebijakan dari instansi atau perusahaan mengenai jaminan hidup di hari
tua (Kreitner dan Kinicki, 2004). Seseorang sebagai pegawai tetap akan
menjunjung tinggi komitmen terhadap perusahaan dimana dia bekerja
sehingga pekerja akan merasa memiliki, rasa aman, efikasi, tujuan dan
arti hidup, serta gambaran diri yang positif, dimana hal ini akan
menurunkan dorongan diri untuk berpindah pekerjaan dan perusahaan
(Novliandi, 2007).

2. Kecerdasan Emosional Perawat Di RSUD Banyumas
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa kecerdasan
emosional perawat di ICU sebagian besar dalam kategori baik sekali 11
orang (33,3%). Sebagian responden di IGD sebagian memiliki skor
kecerdasan emosional dalam kategori baik sebanyak 15 orang (27,8%),
sedangkan responden ruang rawat inap memiliki skor kecerdasan
61


emosional sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 33 orang
(61,1%).
Kecerdasan emosional yang baik memungkinkan perawat dapat
melaksanakan tugas dibidang keperawatan dengan baik. Menurut
Oginska-Bulik (2005) kecerdasan emosi, merupakan faktor penting dalam
bertanggungjawab atas keberhasilan dalam hidup dan psikologis yang
memainkan peran penting dalam membentuk interaksi antara individu dan
lingkungan kerja. Hal ini sejalan dengan pendapat Reuven Bar-On dalam
Armiyanti (2008) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah
serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non-kognitif, yang
mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil memenuhi tuntutan
dan tekanan lingkungan.
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk bertahan
dari kondisi tertekan, mengelola emosi saat bekerja, memotivasi diri
sendiri, mengenali emosi rekan kerja, dan kemampuan untuk membina
hubungan baik dengan rekan kerjanya. Kemampuan perawat dalam
pelaksanaan praktik keperawatan berbeda antara perawat yang satu
dengan perawat yang lain. Namun, kecerdasan emosi dapat ditingkatnkan
bersama dengan bertambahnya pengalaman kerja yang dimiliki.
Kecerdasan emosional perawat di ruang intensif relatif tinggi bila
dibandingkan dengan ruangan yang lain. Perawat yang bekerja di ruang
intensif tidak terbatas hanya untuk menangani pasien pasca-bedah saja
tetapi juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami
62


lebih dari satu disfungsi/gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal
dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun
kiriman dari Rumah Sakit lain (Hanafi, 2007).
Sebagaimana yang diketahui bahwa Intensive Care Unit (ICU)
merupakan ruang perawatan dengan tingkat resiko kematian pasien yang
tinggi. Tindakan keperawatan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan
untuk menyelamatkan pasien. Pengambilan keputusan yang cepat
ditunjang data yang merupakan hasil observasi dan monitoring yang
kontinu oleh perawat. Perawat ICU juga harus mampu berkomunikasi
dengan pasien dengan kondisi pasien yang tidak sadarkan diri. Dengan
komunikasi dan kepekaan emosi perawat dapat berkomunikasi baik
dengan pasien dengan tidak mengabaikan rasa peduli dan empati yang
tinggi terhadap kondisi pasien.
Perawat di ruang ICU harus mampu melakukan tindakan untuk
mampu mencegah terjadinya kematian atau cacat dan juga mencegah
terjadinya penyulit. Perawat ICU juga harus memiliki kemampuan khusus
dan memahami peralatan khusus yang akan digunakan untuk menangani
pasien gawat dengan penyakit, trauma, dan komplikasi penyakit lain.
Kondisi ruang ICU yang banyak terdiri dari mesin-mesin dan
pasien dengan kondisi kritis terkadang membuat perawat ICU dapat
mengalami burnout (kondisi emosional dimana seseorang merasa lelah
dan jenuh secara mental ataupun fisik akibat tuntutan pekerjaan yang
meningkat) bila memiliki persepsi yang sia-sia terhadap pemberian
63


asuhan keperawatan pada pasien dalam keadaan terminal yang lama,
bahkan sampai berbualan-bulan tetapi tidak mengalami perubahan kondisi
kesehatan. Persepsi yang sia-sia dapat menyebabkan kelelahan emosional
yang mengarah terjadinya burnout. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang
dilakukan oleh Meltzer & Huckabay (2004) (dalam Agung, 2009) dari 60
perawat ICU pada dua buah rumah sakit di California Selatan. Meltzer &
Huckabay menemukan hubugan yang positif dan signifikan dari uji
korelasi Product moment Pearson (r = 0,317, p=0.05).
Jakobalis (1990)mengungkapkan bahwa, ruang rawat inap adalah
sekelompok pelayanan kesehatan yang terdapat di rumah sakit yang
merupakan gabungan dari beberapa fungsi pelayanan dimana pasien yang
dirawat adalah pasien yang memerlukan perawatan intensif dan observasi
ketat karena penyakitnya. Ruang rawat inap adalah unit pelayanan non
struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan
pelayanan rawat inap. Untuk memenuhi fasilitas dan pelayanan agar
maksimal sebuah rumah sakit harus memiliki tenaga perawat yang cukup
terutama di instalasi rawat inap.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdaan emosioanl perawat
di ruang rawat inap sebagian besar dalam kondisi baik. Perawat di ruang
rawat inap memberikan pelayanan kepada pasien dengan kondisi pasien
yang lebih stabil bila dibandingkan dengan perawat ICU. Menurut
Muslihudin, (1996), perawat di ruang rawat inap harus mampu
64


menciptakan suasana yang tentram supaya lingkunganya nyaman dalam
proses pemulihan pasien.
Perawat di IGD pun memiliki kecerdasan emosi dengan sebagian
besar responden dalam kategori baik. Perawat IGD harus mampu
memberikan layanan pada pasien dengan kondisi gawat dan mencegah
dari cedera. Perawat yang bertugas di ruang IGD wajib membekali diri
dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, bahkan dianggap perlu
mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan perawat
dalam menangani pasien secara cepat dan tepat sesuai dengan kasus yang
masuk ke IGD. Perawat juga dituntut untuk mampu bekerjasama dengan
tim kesehatan lain serta dapat berkomunikasi dengan pasien dan keluarga
pasien yang berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus di ruang tersebut,
kebutuhan akan sarana dan peralatan yang menunjang pelayanan
merupakan hal penting lain yang harus diperhatikan oleh penyelenggara
rumah sakit (RSUD Banyumas, 2012).
Dari analisa peneliti perawat IGD memiliki kecerdasan emosional
dalam kategori baik karena perawat di IGD lebih berkonsentrasi terhadap
etiologi yang menyebabkan kondisi pasien gawat dan tidak terlalu banyak
berkomunikasi dengan pasien maupun keluarga pasien. Perawat IGD
lebih mengutamakan agar pasien dalam kondisi stabil dan stetelah stabil
dapat menjalani perawatan selanjutnya. Perawat di ruang rawat inap
memiliki kecerdasan emosional sebagian besar dalam kategori baik
karena pasien di ruang rawat inap sebagian besar pasiennya telah berada
65


dalam kondisi stabil dan hanya membutuhkan perawatan untuk
memulihkan kondisi pasien agar pasien cepat sembuh. Berbeda dengan
perawat di ICU. Perawat di ICU harus berhubungan dengan kondisi
pasien yang kritis dan juga menghadapi keluarga pasien yang penuh
dengan ketakutan sehingga, perawat ICU harus mampu mengelola emosi
dengan baik akan bisa berkomunikasi baik dengan pasien maupun dengan
keluarga. Selain itu perawat juga harus tetap memeperhatiakan
keselamatan dan kestabilan pasien dengan kondisi peralatan yang banyak
menempel pada tubuh pasien.
Perawat di RSUD Banyumas memiliki kecerdasan emosional
dalam kategaori baik dan sangat baik. Hal ini sesuai dengan budaya kerja
yang diterapkan di RSUD Banyumas untuk sukses peningkatan disiplin
yaitu (5R) rapi, rajin, resik, ramah dan rukun. Ramah dan rukun selalu
diterapkan di rumah sakit agar perawat tidak hanya menjalankan tugasnya
dengan baik tetapi juga hubungan antara pasien dan rekan kerja juga
terjalin dengan baik.
Budaya kerja di rumah sakit Banyumas selain sebagai salah satu
cara untuk meningkatkan mutu dari rumah sakit juga dapat meningkatkan
kecerdasan emosional perawat, karena hal tersebut sesuai dengan ranah
dalam kecerdasan emosional yaitu ranah antarpribadi. Ranah ini
berhubungan dengan apa yang dikenal sebagai keterampilan berinteraksi.
Perawat yang berperan dengan baik dalam ranah ini biasanya
bertannggungjawab dan dapat diandalkan. Mereka memahami,
66


berinteraksi, dan bergaul dengan baik dengan orang lain dalam berbagai
situasi. Dalam ranah antarpribadi komponen empati sangat erat kaitanya
dengan budaya kerja RSUD Banyumas dimana perawat harus dapat
menyadari, memahami, dan menghargai perasaan dan pikiran orang lain.

3. Hubungan karakteristik responden dengan kecerdasan emosional
perawat Di Ruang I CU, IGD, dan Rawat Inap Di RSUD Banyumas
a. Hubungan jenis kelamin dengan kecerdasan emosional
Tabel 4.3 menunjukkan hasil uji statistik dengan Chi-Square
diperoleh nilai sig sebesar 0,603 sehingga dapat disimpulkan tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan
kecerdasan emosional.
Hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Leslie
Brody dan Judith Hall (dalam Goleman, 2007) meringkas penelitian
tentang perbedaan-perbedaan emosi antara pria dan wanita,
menyebutkan bahwa karena perempuan lebih cepat terampil berbahasa
dari pada laki-laki, maka mereka lebih berpengalaman dalam
mengutarakan perasaannya dan lebih cakap daripada laki-laki dalam
memanfaatkan kata-kata untuk menjelajahi dan untuk menggantikan
reaksi-reaksi emosional seperti perkelahian fisik.
b. Hubungan umur dengan kecerdasan emosional
Tabel 4.3 menunjukkan hasil uji statistik dengan Chi-Square
diperoleh nilai sig sebesar 0,992 yang berarti tidak bermakna hubungan
67


antara umur dengan kecerdasan emosional. Hal tersebut tidak sesuai
dengan hasil penelitian Fariselli, Ghini dan Freedman (2006) bahwa
orang yang lebih tua mungkin lebih tinggi dalam kecerdasan emsoional,
penemuan ini menunjukkan kecerdasan emosional adalah kemampuan
berkembang, ada kemungkinan bahwa akumulasi pengalaman hidup
berkontribusi pada kecerdasan emsoional. Kematangan dan kedewasaan
menunjukkan kecerdasan dalam hal emosi.
Bardbary dan Greaves (2007) dalam Lestari (2012)
menambahkan bahwa tingkat kecerdasan emosi cenderung meningkat
seiring umur, dan sebagian besar orang mengalami peningkatan dalam
keterampilan kesadaran diri sepanjang hidup mereka dan memiliki
kemudahan dalam megelola emosi dan perilaku disaat mereka beranjak
tua. Penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang sudah ada bahwa
karakteristik umur dalam penelitian ini tidak ada hubungan yang
bermakna antara umur dengan kecerdasan emosional.
c. Hubungan pendidikan dengan kecerdasan emosional
Hasil uji statistik dengan menggunakan Chi-Square diperoleh
untuk menguji hubungan pendidikan dengan kecerdasan emosional
diperoleh nilai statistik sebesar 0,400 yang berarti tidak bermakna, tidak
ada hubungan antara pendidikan dengan kecerdasan emosional. Hal ini
tidak sesuai dengan pendapat Mulyani (2008) bahwa kecerdasan emosi
merupakan suatu kemampuan psikologis dalam memahami dan
menggunakan informasi emosional, sebagai individu yang memiliki
68


kemampuan bawaan yang berbeda dalam melakukan sesuatu dan
kecerdasan emosional dapat dipelajari dari kehidupan dengan melalui
praktik dan pengalaman dalam bekerja.
d. Hubungan masa kerja dengan kecerdasan emosional
Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square kecerdasan emosional
tinggi lebih banyak pada masa kerja kurang dari 11 tahun (63,6%)
responden dengan kecerdasan emosional dalam kategori baik.
Hubungan masa kerja dengan kecerdasan emosional diperoleh nilai
statistik sebesar 0,006 yang berarti bermakna sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan atara masa kerja perawat dengan
kecerdasan emosional.
Masa kerja merupakan waktu dimana seseorang mulai bekerja di
tempat kerja. Makin lama seseorang bekerja semakin banyak
pengalaman yang dimilikinya sehingga akan semakin baik
komunikasinya. Dimana dalam berkomunikasi seseorang harus mampu
mengendalikan emosi agar dapat berkomunikasi denga baik. Untuk itu
kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi seseorang untuk menjalin
hubungan dengan orang lain ketika bekerja (Putra, 2011). Kecerdasan
emosi seseorang dapat ditingkatkan dengan cara mengembangkan
komitmen yang tinggi terhadap pengembangan diri sendiri (Mulyani,
2008). Dengan komitmen yang tinggi seseorang akan lebih dapat
bertahan lama di tempat kerjanya.
69


Masa kerja perawat akan mempengaruhi kecerdasan emosional
karena perawat dengan masa kerja lama akan memiliki banyak
pengalaman terhadap pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bar-on
dalam Armiyati (2008) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional
adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non-
kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil
memenuhi tuntutan dan tekanan lingkungan, sedangkan menurut
Cooper dan Sawaf dalam Melianawati, Prihanto, dan Tjahjoanggoro
(2001) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan
daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi,
dan pengaruh manusiawi. Karena orang yang sehat biasanya mampu
mengenal emosi yang dialaminya dan dapat mengeksplorasikan sasuai
dengan aturan yang berlaku di lingkungan.
Temuan beberapa peneliti, seperti David Wechsler dalam
Suryanti dan Ika (2003), mendefinisikan kecerdasan sebagai
keseluruhan kemampuan seseorang untuk bertindak bertujuan, untuk
berfikir rasional, dan untuk berhubungan dengan lingkungannya yang
efektif. Aspek-aspek yang terkait dalam afeksi dan personal dan faktor
sosial. Temuan Wechsler ini mendefinisikan, aspek kognisi
berpengaruh dalam mencapai keberhasilan hidup.
Pengalaman secara tidak langsung akan mengajarkan bagaimana
cara pemecahan suatu masalah yang sedang dihadapi termasuk dalam
70


mengekspresikan emosinya (Notoatmojo, 2001). Hasil penelitian yang
dilakukan terdapat hubungan antara lama kerja perawat dengan
kecerdasan emosional dengan nilai p = 0,006. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan Putra (2011) didapatkan responden
paling banyak adalah lebih dari 10 tahun. Kecenderungan ini
menyimpulkan bahwa jika seseorang memiliki pengalaman bekerja
yang lebih lama, maka akan lebih mampu memanajemen emosinya
dengan baik.
Kondisi tempat kerja yang nyaman dan suasana lingkungan
organisasi yang mendukung akan membuat seseorang merasa nyaman
untuk bertahan dalam pekerjaannya sehingga seseorang akan memiliki
masa kerja lebih lama dan menurunkan tingkat pengunduran diri tenaga
kerja. Untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman tidak hanya
diperlukan fasilitas perusahaan yang memadai, tetapi juga diperlukan
hubungan dengan lingkungan yang efektif. Lingkungan akan dapat
meningkatkan kecerdasan emosional dan akan meningkatkan
kemampuan seseorang untuk bertindak bertujuan, berfikir rasional, dan
untuk berhubungan dengan lingkungan yang efektif.
Rumah sakit seharusnya memberikan kesempatan untuk perawat
untuk tetap berusaha mengaktualisasikan diri dan mengabdi sebagai
perawat agar kecerdasan emosional perawat dapat ditingkatkan melalui
pengalaman di lingkungan perawat bekerja. Seseorang dengan masa
kerja lama akan lebih berpeluang untuk mendapatkan promosi
71


peningkatan status pekerjaan. Perawat dengan status pekerjaan yang
lebih lama akan lebih dipertimbangkan untuk menduduki suatu jabatan
yang lebih tinggi daripada perawat dengan status pegawa baru. Dengan
status pekerjaan yang lama perawat akan dapat memperoleh reword dan
punishment yang sama dengan dengan tenaga kerja yang lain.
e. Hubungan status pekerjaan dengan kecerdasan emosional
Berdasarkan tabel 4.3 Dapat diketahui bahwa nilai yang
dipeoleh dari uji statistik dengan uji Chi-Square diperoleh sebagian
besar perawat dengan status PNS (97,0%) memiliki kecerdasan
emosional dalam kategori baik sekali. Hasil uji hubungan status
pekerjaan dengan kecerdasan emosional diperoleh nilai statistik sebesar
0,035 yang berarti bermakna sehingga dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan atara status pekerjaan perawat dengan kecerdasan emosional.
Cherniss, 2000 (dalam Nurita, 2012) menyebutkan mereka yang
mempunyai kecerdasan emosional yang lebih tinggi lebih
memungkinkan untuk sukses daripada mereka yang mempunyai
pengalaman relevan ataupun kecerdasan intelektual yang tinggi.
Dengan kata lain kecerdasan emosional merupakan predictor yang
lebih baik dalam kesuksesan daripada pengalaman relevan ataupun IQ
yang tinggi.
Kecerdasan emosi mempengaruhi semua aspek yang
berhubungan dengan pelayanan. Ketika bekerja seorang diri,
keberhasilan sangat bergantung pada seberapa tingkat kedisiplinan dan
72


motivasi diri sendiri. Aspek-aspek kecerdasan emosi secara praktis
disajikan dalam perilaku yang meliputi: kerajinan, kedisiplinan,
tanggungjawab, perasaan percaya diri, kesadaran diri, optimis,
pengendalian diri, tidak menunda pekerjaan, kerendahan hati, berani
menghadapi kenyataan, kerjasama, komunikasi, proaktif, berpikir
panjang, memiliki etika, menghargai waktu, berani mengambil
keputusan, tidak mengikuti arus, tidak memikirkan diri sendiri, dan
seterusnya, yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang
dalam menjalani kehidupannya (Mulyadi, 2005).
Perawat dengan status pekerjaan sebagai pegawai tetap berarti
telah mencapai kemampuan yang lebih baik daripada yang lain. Perawat
merasa lebih mampu untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna,
kaya dan utuh sebagai keberhasilan seseorang dalam
mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan dan bakat secara maksimal, dan berusaha
dengan gigih dan sebaik mungkin untuk memperbaiki diri secara
menyeluruh. Hal ini sesuai dengan ranah intrapribadi dari kecerdasan
emosional, bahwa aktualisasi diri merupakan bagian dari kepuasan.
Perawat dengan status pekerjaan tetap akan memiliki komitmen
yang tinggi terhadap pekerjaan yang dijalani. Perawat akan melakukan
pekerjaan dengan baik karena merasa sebagai tenaga profesional yang
harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk kliennya.

73


4. Perbedaan Kecerdasan Emosional Perawat Di I CU, IGD, Ruang
Rawat Inap
Hasil uji non parametrik Krusskal-Wallis untuk mengetahui
perbedaan kecerdasan emosional perawat di ruang intensif,
kegawatdaruratan dan rawat inap diperoleh hasil p value = 0,014 yang
berarti bahwa terdapat perebedaan yang bermakna antara kecerdasan
emosiol perawat di ruang intensif, kegawatdaruratan, dan ruang rawat
inap. untuk mengetahui di ruang mana yang paling berbeda dilanjutkan
dengan uji Pos Hoc untuk uji normalitas dengan menggunakan uji Mann-
Whitney diperoleh hasil antara ruang ICU dan IGD menunjukkan
perbedaan yang bermakna sebesar 0,014. Perbedaan ruang ICU dan
IRNA menunjukkan perbedaan yang bermakna sebesar 0,043 dan untuk
perbedaan kecerdasan emosional perawat di IGD dan IRNA
menunjukkan hasil yang tidak bermana dengan nilai 0,120. Uji beda
kecerdasan emosional dilakukan untuk mengetahui.
Penelitian dari National Institute for Occupational Safety and
Health (NIOSH) menetapkan perawat merupakan profesi yang berisiko
sangat tinggi terhadap stres. Profesi perawat mempunyai risiko yang
sangat tinggi terpapar oleh stres, karena perawat memiliki tugas dan
tanggungjawab yang cukup tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia.
Selain itu perawat juga mengungkapkan pekerjaan perawat mempunyai
beberapa karakteristik yang dapat menciptakan tuntutan kerja yang tinggi
dan menekan. Penyebab stress yang lain juga karena lingkungan kerja
74


yang intensif dengan jam kerja yang diperpanjang, beban kerja yang
berat, tanggungjawab kerja, keamanan kerja, dan pekerjaan yang
beresiko (NIOSH, 2008).
Hasil uji statistik crosstabs ranah kecerdasan emosional diperoleh
hasil bahwa di ruang intensive memiliki persentasi ranah kecerdasan
pengendalian stress lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6. hasil uji crosstabs ranah pengendalian stress perawat.
Ranah KE Ruang kerja
Total Pengendalian
stress
ICU IGD IRNA
- Baik
- Baik sekali
47,1%
52,9%
94,4%
5.6%
71,2%
28,8%
71,3%
28,7%
Total 100% 100% 100% 100%

Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat di ruang
intensive dalam pengendalian stressnya lebih baik bila dibandingkan
dengan ruang lain. Ranah ini berkaitan dengan kemampuan menanggung
stress tanpa harus ambruk, hancur, kehilangan kendali, atau terpuruk.
Keberhasilan dalam ranah ini berarti bahwa seseorang biasanya dapat
tetap tenang, jarang bersifat impulsif, dan mampu menghadapi tekanan.
Dalam hal ini perawat intensive berarti memiliki kemampuan dalam
menanggung stress dan kemampuan untuk menampung impuls agresif
(Wahyono, 2010).
Hasil penelitian Numerof dan Abrams (dalam Kusumawati,
2009), menyatakan, bahwa perawat di instalasi perawatan intensif dan
unit gawat darurat memiliki tingkat stres lebih tinggi dibanding dengan
75


perawat di unit lain. Stres kerja yang dihadapi oleh perawat akan sangat
mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan kepada
pasien. Tetapi dalam penelitian ini perawat IGD dan ruang rawat inap
memiliki tingkat kecerdasan emosional yang sama.
Perawat di ruang intensif memiliki kecerdasan emosional yang
lebih tinggi bila dibandingkan dengan ruangan yang lain karena perawat
intensive tidak hanya harus menghadapi kondisi pasien yang gawat saja,
namun perawat intensif juga harus terpapar dengan kondisi ruangan yang
penuh dengan peralatan-peralatan yang begitu banyak dan juga kondisi
ruangan yang menuntut perawat harus mampu terus mengobservasi
pasien yang terpasang dengan alat-alat medis dan juga dengan tingkat
kepanikan keluarga yang mengkhawatirkan kondisi keluarga.
Perawat di ruang intensif tidak hanya berperan sebagai tenaga
perawat yang melayani pasien, tetapi juga menghadapi keluarga pasien
yang mengalami tekanan ketakutan akan kehilangan keluarganya dan
perasaan sedih, serta cemas. Untuk itu perawat harus memahami dan
secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber
energi, emosi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi (Robert dan
Cooper dalam Agustian, 2001). Hal ini sesuai dengan ungkapan Reven
bar-On (dalam Wahyono, 2010) seseorang dengan kecerdasan emosional
tinggi akan mampu menyadari, memahami dan menghargai perasaan dan
pikiran orang lain, peka terhadap apa, bagaimana dan latar belakang
76


perasaan dan pikiran untuk orang lain sebagaimana orang tersebut
merasakan dan memikirkannya.
Perawat harus mampu mengenali ciri-ciri dengan cepat dan
penatalaksanaan dini yang sesuai pada pasien beresiko kritis atau pasien
yang berada dalam keadaan kritis dapat membantu mencegah perburukan
lebih lanjut dan memaksimalkan peluang untuk sembuh (Gwinnutt, 2006
dalam Jevon dan Ewens, 2009). Comprehensive Critical Care
Department of Health-Inggris merekomendasikan untuk memberikan
perawatan kritis sesuai filosofi perawatan kritis tanpa batas (critical care
without wall), yaitu kebutuhan pasien kritis harus dipenuhi di manapun
pasien tersebut secara fisik berada di dalam rumah sakit (Jevon dan
Ewens, 2009). Hal ini dipersepsikan sama oleh tim pelayanan kesehatan
bahwa pasien kritis memerlukan pencatatan medis yang
berkesinambungan dan monitoring penilaian setiap tindakan yang
dilakukan. Dengan demikian pasien kritis erat kaitannya dengan
perawatan intensif oleh karena dengan cepat dapat dipantau perubahan
fisiologis yang terjadi atau terjadinya penurunan fungsi organ-organ
tubuh lainnya (Rab, 2007).
Bagi keluarga pasien yang berada dalam keadaan kritis (critical
care paients) dalam kenyataannya memiliki stress emosional yang tinggi
(high levels of emotional distress). Mendapatkan informasi tentang
kondisi medis pasien dan hubungan dengan petugas pemberi pelayanan
merupakan prioritas utama yang diharapkan dan diperlukan oleh keluarga
77


pasien (high priority needs for these family). Para peneliti mendapatkan
data peningkatan kejadian stress (elevated levels of distress) yang dialami
oleh keluarga pasien adalah segera setelah pasien berada di ICU (just
after the patients admission to the ICU) (Azizahkh, 2010). Disamping itu
perawatan pasien di ruang ICU menimbulkan stres bagi keluarga pasien
juga karena lingkungan rumah sakit, dokter dan perawat merupakan
bagian yang asing, bahasa medis yang sulit untuk dipahami dan
terpisahnya anggota keluarga dengan pasien. Untuk itu pelayanan
keperawatan perlu memberikan perhatian untuk memenuhi kebutuhan
keluarga dalam frekuensi, jenis, dan dukungan komunikasi. Sejalan
dengan itu, pelayanan keperawatan juga perlu memahami kepercayaan,
nilai-nilai keluarga, menghormati struktur, fungsi, dan dukungan
keluarga (Potter & Perry, 2009).
Telah lama diketahui bahwa petugas kesehatan memiliki tekanan
psikologi yang tinggi dibandingkan dengan profesi lainnya. Para pekerja
kesehatan terpapar oleh beberapa penyebab stres mulai dari beban kerja
yang berlebihan, tekanan waktu pengerjaan tugas, tidak adanya
kejelasan aturan berhubungan dengan kontak petugas kesehatan
dengan penyakit infeksi, pasien dengan kondisi sakit yang sulit/kritis
dan kondisi pasien yang tidak berdaya (NIOSH, 2008). Menjalankan
profesi sebagai perawat juga rawan terhadap stres. Perawat harus
memiliki kecerdasan emosional yang baik agar mampu memberikan
pelayanan dengan baik, mampu mengendalikan emosi, memiliki daya
78


tahan dalam menghadapi masalah, mampu mengendalikan impuls,
memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan
berempati dan membina hubungan dengan orang lain (Goleman, 2009).
Perawat intensif memiliki kecerdasan emosional yang tinggi
karena perawat intensif mampu merasakan apa yang dirasakan oleh
keluarga pasien terhadap ketakutan akan kehilangan anggota
keluarganya. Hal ini sesuai dengan ungkapan Agustian (2001) yang
mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk
merasa. Hal tersebut berbeda dengan kecerdasan emosional perawat di
ruang kegawardaruratan. Dimana perawat kegawatdaruratan tidak harus
berlama-lama dengan pasien.
Perawat kegawatdaruratan melakukan penanganan terhadap
pasien agar pasien kembali dalam kondisi stabil. Hasil analisis dari butir-
butir pertanyaan kuesioner kecerdasan emosional diperoleh bahwa masih
ada perawat yang mengalami kesulitan dalam menemukan alternatif
penyelesaian masalah, tetapi mereka tidak berusaha untuk meminta
bantuan terhadap teman sejawat untuk memberikan solusi terhadap
permasalahan yang di hadapi.
Perawat di ruang rawat inap harus mampu membuat kepercayaan
pada pasien dalam rangka observasi terhadap kondisi kesehatan pasien.
Hasil analisis butir pertanyaan kecerdasan emosional ternyata masih ada
perawat yang belum menyadari bahwa tugasnya sebagai perawat
memberikan pelayanan secara profesional, dan juga perawat tidak
79


mampu dalam mengungkapkan pendapat dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawab sebagai seorang perawat.

C. Keterbatasan penelitian
Adapaun keterbatasan dalam penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini hanya mengetahui perbedaan kecerdasan emosional perawat
di ruang ICU, IGD, dan ruang inap saja. Padahal masih banyak ruang
perawat lain seperti Instalasi bedah Sentral maupun poli-poli yang ada di
RSUD banyumas.
2. Penelitian ini hanya menganalisa karakteristik responden dari segi ruang
tempat perawat bekerja, jenis kelamin, umur, pendidikan, masa kerja dan
status pekerjaan saja. Padahal masih banyak lagi faktor-faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosional lain seperti kesehatan individu,
pengalamn, stimulasi kejenuhan, motivasi kerja dan yang lainnya yang
berhubungan dengan kecerdasan emosional.
3. Penelitian ini hanya menganalisis keadaan responden pada suatu saat
tertentu dan peneliti tidak dapat menunggu secara langsung beberapa
responden saat pengisian kuesioner karena kesibukan responden sehingga
tingkat keakuratannya kurang.

80


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai perbedaan
kecerdasan emosional perawat di ruang intensive, kegawatdaruratan dan ruang
rawat inap RSUD Banyumas dapat ditarik kesimpulkan sebagai berikut:
1. Responden dalam penelitian sebagian besar adalah perawat ruang rawat
inap, berjenis kelamin perempuan, kelompok usia dewasa muda 18-40
tahun, tingkat pendidikan mayoritas D3, masa kerja kurang dari 11 tahun,
dan dengan status pekerjaan sebagai PNS.
2. Gambaran kecerdasan emosional perawat di RSUD banyumas diperoleh
hasil hampir merata dengan karegori baik dan sangat baik.
3. Hubungan karakteristik responden dengan kecerdasan emosional diperoleh
hasil bermakna untuk karanteristik masa kerja dan status pekerjaan.
4. Ada perbedaan yang bermakna kecerdasan emosional perawat di ruang
intensive, kegawatdaruratan dan ruang rawat inap.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat dinerikan
saran sebagai berikut:
1. Bagi Pendidikan
Bagi institusi pendidikan keperawatan untuk memberikan pengetahuan dan
pemahaman tentang kecerdasan emosional sehingga siswa dapat memiliki
81


kecerdasan emosional yang baik sehingga nantinya mahasiswa siap untuk
menghadapi tantangan-tantangan dan fenomena-fenomena yang mungkin
muncul ketika di klinik.
2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai landasan atau bahan kajian
untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor lain
yang dapat mempengaruhu kecerdasan emosional perawat.
3. Bagi Responden
Perawat harus terus belajar untuk meningkatkan kecerdasan emosional agar
mampu mengendalikan emosi, memotivasi diri sendiri, empati dan
hubungan sosial yang baik agar mampu bekerjasama dan merasakan apa
yang terjadi pada diri sendiri, rekan kerja, dan pasien sehingga mampu
bekerja secara profesional dan melayani pasien dengan baik.
4. Bagi Pelayanan Kesehatan (RS)
Pihak rumah sakit diharapkan dapat menyelenggarakan kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosional misalnya melalui
pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional bagi
pekerja.