Anda di halaman 1dari 3

Sebab-Sebab Berakhirnya Perikatan

Pasal 1381 KUH Perdata menentukan beberapa penyebab hapusnya perikatan, yaitu:
1. Pembayaran
Pembayaran tidak berarti hanya pembayaran dengan uang atau barang oleh
debitur kepada kreditur, tetapi lebih luas diartikan sebagai pemenuhan perikatan yang
tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
Menurut Pasal 1382 KUH Perdata pembayaran dapat dilakukan oleh:
a. Debitur
b. Pihak ketiga yang berkepentingan, yaitu pihak yang turut berutang atau penanggung
utang (borg)
c. Pihak ketiga lainnya yang tidak berkepentingan, asal pihak ketiga tersebut bertindak:
atas nama dan untuk melunasi utang debitur; atau
atas namanya sendiri asal ia tidak menggantikan hak-hak kreditur

Pasal 1385 KUH Perdata menentukan bahwa yang berhak untuk menerima
pembayaran adalah:
a. Kreditur
b. Seorang yang dikuasakan oleh kreditur
c. Seorang yang dikuasakan oleh hakim
d. Seorang yang oleh undang-undang ditentukan untuk menerima pembayaran bagi
kreditur
2. Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan atau penitipan (konsignasi)
Konsignasi terjadi apabila seorang kreditur menolak pembayaran yang dilakukan
oleh debitur, debitur dapat melakukan penawaran pembayaran tunai atas utangnya, dan
jika kreditur masih menolak, debitur dapat menitipkan uang atau barangnya di
pengadilan.
3. Pembaharuan utang (novasi)
Novasi atau pembaharuan utang diatur dalam KUH Perdata Pasal 1413 s.d. Pasal
1424. Novasi adalah perjanjian yang menggantikan perikatan yang lama dengan


perikatan yang baru. Penggantian tersebut dapat terjadi pada kreditur, debitur ataupun
obyek perikatan.
Pasal 1413 KUH Perdata menyebutkan ada tiga macam jalan untuk melaksanakan
novasi, yaitu:
a. Apabila seorang yang berutang membuat suatu perikatan utang baru guna orang yang
mengutangkannya, yang menggantikan utang yang lama yang dihapuskan karenanya.
b. Apabila seorang berutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berutang lama,
yang oleh siberpiutang dibebaskan dari perikatannya
c. Apabila sebagai akibat suatu perjanjian baru, seorang kreditur baru ditunjuk untuk
menggantikan kreditur lama, terhadap siapa si berutang dibebaskan dari perikatannya
4. Perjumpaan utang atau kompensasi
Kompensasi diatur dalam KUH Perdata Pasal 1425 s.d. Pasal 1435. Pasal 1425
KUHPer menyebutkan kompensasi adalah penghapusan masing-masing utang dengan
jalan saling memperhitungkan utang yang sudah dapat ditagih antara kreditur dan
debitur.
5. Percampuran utang (konfusio)
Menurut Pasal 1436 KUH Perdata, percampuran utang adalah percampuran
kedudukan sebagai orang yang berutang dengan kedudukan sebagai kreditur menjadi
satu.
6. Pembebasan utangnya
KUH Perdata tidak memberikan definisi tentang pembebasan utang.
Sederhananya pembebasan utang adalah perbuatan hukum dimana dengan itu kreditur
melepaskan haknya untuk menagih piutangnya dari debitur. Menurut pasal 1438 KUH
Perdata, pembebasan utang tidak boleh dipersangkakan tetapi harus dibuktikan.
7. Musnahnya barang yang terutang
Menurut Pasal 1444 KUH Perdata, jika barang tertentu yang menjadi bahan
perjanjian musnah, tak lagi dapat diperdagangkan atau hilang makan hapuslah
perikatannya asal barang itu musnah atau hilang diluar kesalahan debitur dan sebelum ia
lalai menyerahkannya.
8. Kebatalan atau pembatalan
Kebatalan dapat dibagi menjadi dua hal pokok, yaitu:


a. Batal demi hukum
Misalnya persetujuan dengan causa tidak halal atau persetujuan jual beli atau
hibah antara suami istri. Batal demi hukum berakibat bahwa perbuatan hukum yang
bersangkutan oleh hukum dianggap tidak pernah terjadi.
b. Dapat dibatalkan
Dapat dibatalkan baru mempunyai akibat setelah ada putusan hakim yang
membatalkan perbuatan tersebut. Sebelu ada putusan, perbuatan hukum yang
bersangkutan tetap berlaku.
9. Berlakunya suatu syarat batal
Menurut pasal 1265 KUH Perdata, syarat batal adalah syarat yang apabila
terpenuhi, menghentikan perikatan dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan
semula seolah-olah tidak penah terjadi perikatan.
10. Lewatnya waktu (daluwarsa)
Menurut pasal 1946 KUH Perdata, daluwarsa atau lewat waktu adalah suatu alat
untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya
suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang.
Seseorang tidak boleh melepaskan daluwarsa sebelum tiba waktunya, namun ia
boleh melepaskan suatu daluwarsa yang telah ia peroleh.

Daftar Pustaka
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
http://www.negarahukum.com/hukum/hapusnya-perikatan.html