Anda di halaman 1dari 84

PENERAPAN PASAL 372 KUHP TERHADAP PENGGELAPAN

KENDARAAN BERMOTOR YANG MENJADI JAMINAN LEASING


PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN
(Studi Pengadilan Negeri Malang)

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan
Dalam Ilmu Hukum




Disusun Oleh :

VICENTIA DWI RETNO

02 10103 149







DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2008
ii
LEMBAR PERSETUJUAN



PENERAPAN PASAL 372 KUHP TERHADAP PENGGELAPAN
KENDARAAN BERMOTOR YANG MENJADI JAMINAN
LEASING PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN
(Studi Pengadilan Negeri Malang)




Disusun Oleh :

VICENTIA DWI RETNO
NIM. 02 10103 149




Disetujui Pada Tanggal : 6 J uli 2008


Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,




Bambang Sugiri SH. MH. Abdul Majid SH. MH.
NIP. 131 415 736 NIP. 131 652 669



Mengetahui,
Ketuia Bagian Hukum Pidana



Setiawan Noerdayasakti SH. MH.
NIP. 131 839 360

iii
LEMBAR PENGESAHAN

PENERAPAN PASAL 372 KUHP TERHADAP PENGGELAPAN
KENDARAAN BERMOTOR YANG MENJADI JAMINAN
LEASING PADA LEMBAGA PEMBIAYAAN
(Studi Pengadilan Negeri Malang)

Disusun Oleh :

VICENTIA DWI RETNO
NIM. 02 10103 149

Disahkan Pada Tanggal : 6 Juli 2008



Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,



Bambang Sugiri SH. MH. Abdul Majid SH. MH.
NIP. 131 415 736 NIP. 131 652 669


Ketua Majelis Penguji, Ketuia Bagian Hukum Pidana,



Dr Koesno Adi SH. MH. Setiawan Noerdayasakti SH. MH.
NIP. 130 531 853 NIP. 131 839 360


Mengetahui,
Dekan



Herman Suryokumoro SH. MH.
NIP. 131 472 745

iv
KATA PENGANTAR


Segala puji syukur kehadurat Tuhan Yesus Kristus, Yang Maha Kuasa lagi
Maha Bijaksana atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehimgga penulisan skripsi
dengan judul PENERAPAN PASAL 372 KUHP TERHADAP PENGGELAPAN
KENDARAAN BERMOTOR YANG MENJADI JAMINAN LEASING PADA
LEMBAGA PEMBIAYAAN (Studi Pengadilan Negeri Malang) dapat
diselesaikan.
Segenap penghargaan dan terima kasih yang mendalam kepada Papa dan
Mama yang telah mendukung baik moril maupun materiil serta kasih sayang dan
kesabaran yang tiada terhingga, dan atas semangat serta doa yang tiada henti-
hentinya tercurahkan.
Dalam penulisan skripsi ini patut kiranya penulis sampaikan rasa terima
kasih yang mendalam kepada:
1 1. . Bapak Herman Suryokumoro, SH. MH., selaku Dekan Fakultas Hukum
Unievrsitas Brawijaya Malang;
2 2. . Bapak Setiawan Noerdayasakti, SH. MH., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana;
3 3. . Bapak Bambang Sugiri, SH. MH., selaku Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan motivasi yang berharga dalam penulisan skripsi ini;
4 4. . Bapak Abdul Majid SH. MH., selaku Pembimbing Pendamping yang telah
membimbing dan membantu dengan sabar, sehingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan;

v
5 5. . Pengadilan Negeri Malang, yang telah mebantu dalam memberikan data dan
informasi sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan;
6 6. . Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang
yang telah memberikan bekal ilmu;
7 7. . Angkatan 2002 Non Reguler Fakultas Hukum Brawijaya dan kelompok KKN
Sambiegede;
8 8. . Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung turut membantu
selesainya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesan sempurna,
maka dari itu saran dan kritik yang bersifat membangun diperlukan untuk
menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya
jika dalam penulisan skripsi ini penulis melakukan kesalahan. Semoga Tuhan Yang
Maha Esa senantiasa mengampuni segala kesalahan kita dan selalu menunjukan jalan
kebenaran-Nya.
Amin.

Malang, J uli 2008

Penulis
vi
DAFTAR ISI


HALAMAN J UDUL............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJ UAN SKRIPSI .............................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI................................................................
............................................................................................................................... iii
HALAMAN KATA PENGANTAR......................................................................
............................................................................................................................... iv
HALAMAN DAFTAR ISI ................................................................................... vi
HALAMAN DAFTAR TABEL ........................................................................... viii
HALAMAN ABSTRAKSI ................................................................................... ix
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Perumusan Masalah ................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian ................................................................... 6
E. Metode Penelitian .................................................................... 7
F. Sistematika Penulisan .............................................................. 10
BAB II : TINJ AUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Leasing ......................................................... 12
B. Tinjauan Umum Penggelapan ................................................. 17
C. Tinjauan Umum tentang Kekuasaan Kehakiman .................... 33
D. Tinjauan Umum tentang Pidana dan Pemidanaan ................... 39
BAB III : PEMBAHASAN
A. Realita Kasus ........................................................................... 51
vii
B. Dasar Hukum Hakim Mengadili Perkara Penggelapan
Kendaraan Bermotor Yang Menjadi J aminan Leasing Pada
Lembaga Pembiayaan .............................................................. 62
C. Dasar Pertimbangan Hakim Menjatuhkan Lamanya Pidana
Penggelapan Kendaraan Bermotor Yang Menjadi J aminan
Leasing pada Lembaga Pembiayaan ........................................ 70
BAB IV : PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................. 73
B. Saran-saran ............................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA

viii
DAFTAR TABEL



Tabel Halaman
3.1. Realitas Kasus Penggelapan Kendaraan Bermotor yang Menjadi J aminan
Leasing Pada Lembaga Pembiayaan Di Pengadilan Negeri Malang Tahun
2005-2006 .................................................................................................... 51

ix
ABSTRAKSI

Maraknya kasus-kasus penggelapan sepeda motor yang terjadi di wilayah Kota
Malang oleh pembeli (kreditur) sangatlah merugikan bagi pihak leasing. Permasalahan
lainnya adalah sulitnya penegak hukum dalam menangani kasus tersebut. Hal ini
dikarenakan pada pelaporan awal oleh pihak yang dirugikan merupakan permasalahan
hukum perdata yang disebabakan adanya pelanggaran terhadap perjanjian yang
disepakati, namun dengan adanya penggelapan obyek yang masih dalam kekuasaan dan
milik orang lain maupun lembaga yang berdasarkan badan hukum menjadikan kasus
tersebut bias, karena terjadi pergesaran dari hukum perdata menjadi hukum pelanggaran
tindak pidana yaitu penggelapan. Untuk mengatasi atau menanggulangi masalah
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan ini yaitu dengan tegas memberlakukan hukum positif yang ada. Untuk
penegakan hukum positif yang seobyektif mungkin di butuhkan perangkat atau penegak
hukum yang mempunyai naluri keadilan hakiki. Salah satu perangkat hukum yang ada di
Indonesia adalah Hakim dan hakim adalah sebagai satu-satunya penegak hukum yang
menjaga gawang terakhir keadilan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar hukum hakim mengadili
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan dan untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim menjatuhkan lamanya
pidana dalam perkara kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis yaitu suatu
pendekatan ilmu hukum dan ilmu sosiologis yang ditempuh melalui penelitian yang
sistematis dan terkontrol berdasarkan suatu kerangka pemikiran yang logis serta
kerangka pembuktian untuk memastikan, memperluas dan menggali, yaitu penulis dalam
memperoleh dan mendapatkan data secara langsung dari lapangan terhadap obyek yang
diteliti, baik data primer sebagai data utama serta data sekunder sebagai data pendukung
atau pelengkap.
Hasil penelitian ini adalah dasar hukum seorang hakim mengadili perkara
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan yaitu merujuk pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman dan unsur-unsur tidak pidana penggelapan pada Pasal 372 baik unsur
obyektif dan subyektif. Sedangkan dasar pertimbangan hakim menjatuhkan lamanya
pidana dalam perkara kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan adalah adanya premisse mayor (peraturan hukumnya) dan premisse minor
(peristiwanya). Dalam memberikan putusan tersebut hakim juga memperhatikan faktor-
faktor yang seharusnya diterapkan secara proporsional yaitu : keadilan, kepastian
hukumnya dan kemanfaatannya yang diimplementasikan pada pemahaman hakim
terhadap sistem pemidanaan maupun unsur-unsur pemidanaan seperti dengan melihat
hal-hal yang memberatkan maupun meringankan terdakwa, di mana yang memberatkan
adalah : telah merugikan pihak lain dan yang meringankan antara lain adalah terdakwa
mengakui perbuatannya, terdakwa sopan dalam persidangan dan terdakwa tidak pernah
dihukum.

Kata kunci : Penggelapan Kendaraan Bermotor Yang Menjadi Jaminan Leasing
1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perubahan ekonomi bangsa Indonesia pasca krisis moneter selama ini
mengakibatkan berbagai dampak ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat
Indonesia. Banyaknya penduduk serta tingginya mobilisasi dalam arus kehidupan
masyarakat menjadikan sarana transportasi sebagai kebutuhan yang crusial untuk
mendukung aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk
dapat membeli sarana transportasi yang dibutuhkannya dengan berbagai cara baik
secara tunai maupun dengan kredit. Terkait dengan kebutuhan masyarakat untuk
mendapatkan kemudahan dalam membeli suatu produk mendorong perusahaan
untuk bekerjasama dengan lembaga pembiayaan (leasing).
Leasing adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang
modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa
guna usaha tanpa hak opsi (operating lease), untuk digunakan oleh calon pemakai
selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Dalam
penelitian ini lembaga pembiayaan (leasing) adalah pembiayaan untuk
kepemilikan kendaraan bermotor.
Banyaknya dealer-dealer yang mempromosikan produknya melalui
program kredit memberikan daya tarik tertentu kepada calon pembeli.
Kemudahan yang diberikan pihak dealer yang telah bekerjasama dengan lembaga
pembiayaan dapat dilihat pada ringannya syarat yang diajukan delaer khususnya
bagi calon pembeli secara kredit. Calon pembeli hanya di minta untuk
2
menunjukan identitas diri (KTP), Keterangan Kartu Keluarga, rekening listrik
serta keterangan lainya yang dapat mengguatkan persetujuan kepemilikan
kendaraan roda dua kepada pihak dealer. Selanjutnya pihak dealer dengan
rekanannya yaitu lembaga pembiayaan melakukan survey terhadap calon
pembeli, apabila dianggap memenuhi kriteria serta syarat-syarat yang diajukan
maka calon dalam waktu yang relatif cepat akan memiliki sepeda motor yang
diinginkan.
Adanya kemudahan dan ringannya syarat yang dijadikan kriteria bagi
calon pembeli oleh pihak dealer ternyata menimbulkan dampak baik positif
maupun negatif. Dampak positif yaitu meningkatnya pembeli sepeda motor yang
secara otomatis dapat meningkatkan profitabilitas dealer maupun lembaga
pembiayaan, sedangkan dampak negatif yang sering terjadi adalah memberikan
peluang atau potensi bagi sebagain pembeli melakukan tindakan-tindakan
melawan hukum yaitu tindak pidana penggelapan.
Banyaknya kasus-kasus penggelapan sepeda motor yang terjadi di
wilayah Kota Malang oleh pembeli (kreditur) sangatlah merugikan bagi pihak
leasing. Yang menjadi pemikiran sekarang adalah dengan meningkatnya tindak
pidana penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing. Dengan
kerugian dari pihak penjamin oleh tindakan pembeli sepeda motor yang
melakukan penggelapan, permasalahan lainnya adalah sulitnya penegak hukum
dalam menangani kasus tersebut. Hal ini dikarenakan pada pelaporan awal oleh
pihak yang dirugikan merupakan permasalahan hukum perdata yang disebabakan
adanya pelanggaran terhadap perjanjian yang disepakati, namun dengan adanya
penggelapan obyek yang masih dalam kekuasaan dan milik orang lain maupun
3
lembaga yang berdasarkan badan hukum menjadikan kasus tersebut bias, karena
terjadi pergesaran dari hukum perdata menjadi hukum pelanggaran tindak pidana.
Pada prinsipnya penjualan motor yang berdasarkan kesepakatan antara pihak
kreditur dan pihak pembiayaa berdasarkan akta jual-beli di mana dalam akta ini
kreditur memiliki hak sepenuhnya terhadap barang yang di kuasai namun barang
tersebut masih milik sepenuhnya pihak penjamin
Dalam sistematika Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tindak
pidana terhadap harta kekayaan dimuat dalam Buku II KUHP yang meliputi :
pencurian, pemerasan, penggelapan, penipuan, pengerusakan dan penadahan.
Dari beberapa rumusan tindak pidana di atas memuat beberapa unsur-unsur yang
cukup yaitu unsur objektif dan unsur subyektif.
1

Timbulnya sengketa pelanggaran hukum antara kreditur dan penjamin
dikarenakan terjadi penyalahgunaan hak atau penyalagunaan kepercayaan dimana
tindak pidana pengelapan di atur dalam ketentuan pasal 372 KUHP yang
berbunyi :
Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai
milik sendiri sesuatu barang yang seluruh atau sebagian adalah milik
orang lain tetapi yang ada dalam kekuasaanya bukan karena kejahatan
yang di ancam karena pengelapan Dengan pidan paling lama empat tahun
atau denda paling banyak enam puluh rupiah.
2


Karena dalam prakteknya penjualan sepeda motor tersebut merupakan
suatu penggelapan dan pelanggaran tindak pidana di mana dalam sistematisnya

1
Adam Chazawi, Kejahatan Terhadap Harta Benda, Universitas Negeri Malang , 2001. hal. 1

2
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Sinar Grafika, J akarta, 2000.

4
motor yang diambil dari dealer telah mengalami proses yaitu kesepakatan
dengan akta jual beli sehingga muncul pihak ketiga yaitu lembaga pembiayaan
namun dalam perjanjian dengan akta jual-beli sebelum terjadi pelunasan sepeda
motor tersebut maka motor tersebut masih dalam kekuasaan dan pengawasan
pihak pembiaya dan si pembeli hanya memiliki hak pakai, namun terjadi
penyalahgunaan hak di mana motor yang belum terjadi pelunasan oleh pembeli
pertama di jual tanpa melakukan penyerahan hak pembayaran terhadap
pelunasan pembayaran motor kepada pembeli kedua dan selanjutnya sehingga
timbul suatu wanprestasi terhadap kesepakatan perjanjian jual-beli di antara ke
dua belah pihak (pembeli pertama dengan badan pembiaya). Hal tersebut
merupakan pelanggaran tindak pidana pasal 372 tentang pengelapan meski
dalam kasus penggelapan yang di lakukan oleh kreditur merupakan tindak
pidana yang berawal dari perdata yaitu mengenai penyalahgunaan kekuasaan dan
penyalahgunaan hak dan pelanggaran terhadap perjanjian yang telah di sepakati
namun dengan tindakan yang menjual sepeda motor yang masih pada masa
kredit merupakan suatu pelanggaran pidana penggelapan.
Untuk mengatasi atau menanggulangi masalah penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan ini yaitu
dengan tegas memberlakukan hukum positif yang ada. Untuk penegakan hukum
positif yang seobyektif mungkin di butuhkan perangkat atau penegak hukum
yang mempunyai naluri keadilan hakiki.
Salah satu perangkat hukum yang ada di Indonesia adalah Hakim dan
hakim adalah sebagai satu-satunya penegak hukum yang menjaga gawang
terakhir keadilan. Dan hakim pula sebagai salah satu komponen dari penegak
5
hukum yang berwenang untuk mengadili yaitu menerima, memeriksa dan
memutuskan perkara pidana berdasarkan azas bebas, jujur dan tidak memihak di
sidang pengadilan. Dalam memutuskan suatu perkara, hakim berpedoman dan di
batasi oleh undang-undang. Di samping itu juga di tuntut oleh perasaan
hukumnya yaitu suatu keyakinan pribadi diri hakim tersebut berdasarkan dan
mempertimbangkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana,
khususnya tindak pidana penggelapan.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka perlunya penulis untuk
mengkaji lebih lanjut terhadap permasalahan yang menyangkut penggelapan
kendaraan roda dua yang masih dalam tahap masa kredit, dalam kaitannya
dengan penulisan skripsi ini dengan judul PENERAPAN PASAL 372 KUHP
TERHADAP PENGELAPAN KENDARAAN BERMOTOR YANG
MENJADI JAMINAN LEASING PADA LEMBAGA PEMBIAYA (Studi
Kasus di Pengadilan Negeri Malang)

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka penulis
mengemukakan beberapa permasalaahn sebagai berikut :
1. Apakah dasar hukum hakim mengadili penggelapan kendaraan bermotor yang
menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan ?
2. Apakah dasar pertimbangan hakim menjatuhkan lamanya pidana dalam
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dasar hukum hakim mengadili penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan.
2. Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim menjatuhkan lamanya pidana
6
dalam perkara kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada
lembaga pembiayaan.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi penegak hukum dalam
menangani kasus penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan
leasing pada lembaga pembiayaan.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pembiayaan dalam mengambil
kebijakan-kebijakan terkait dengan kasus penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan.
c. Untuk memberikan pengetahuan bagi mahasiswa, masyarakat dan yang
memerlukannya mengenai kasus penggelapan kendaraan bermotor yang
menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan.
2. Manfaat Teoritis
a. Untuk memenuhi sebagian tugas akhir guna menyelesaikan studi strata
satu ilmu hukum.
b. Sebagai sarana untuk mengembangkan wacana tentang penggelapan yang
menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan.sebagai suatu tindak
pidana.
c. Sebagai proses pembelajaran dalam memecahkan persoalan yang secara
riil terjadi di masayrakat utamanya tentang tindak pidana penggelapan
kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan.

7
E. Metode Penelitian
1. Metode Pendekatan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis
yaitu suatu pendekatan ilmu hukum dan ilmu sosiologis yang ditempuh
melalui penelitian yang sistematis dan terkontrol berdasarkan suatu kerangka
pemikiran yang logis serta kerangka pembuktian untuk memastikan,
memperluas dan menggali,
3
yaitu penulis dalam memperoleh dan
mendapatkan data secara langsung dari lapangan terhadap obyek yang diteliti,
baik data primer sebagai data utama serta data sekunder sebagai data
pendukung atau pelengkap.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Pengadilan Negeri Malang. Lokasi penelitian
dipilih dengan pertimbangan bahwa di Pengadilan Negeri Malang pernah
menangani dan atau memutus perkara penggelapan kendaraan bermotor yang
menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan, sehingga diasumsikan
mampu merepresentasikan permasalahan yang diteliti.

3
Ronny, Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, J akarta. 1988.
h. 15.

8
3. Populasi, Sampel dan Responden
Populasi pada penelitian ini adalah Hakim Pengadilan Negeri Malang,
sedangkan sampelnya adalah Hakim Pengadilan Negeri Malang yang pernah
memeriksa dan memutus perkara penggelapan kendaraan bermotor yang
menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan. Sample ditentukan
secara purposive sampling, yakni sampel yang dipilih berdasarkan
pertimbangan/penelitian subyektif dari penelitian, jadi dalam hal ini
penelitian menentukan sendiri responden mana yang dianggap dapat mewakili
populasi.
4

3. J enis Data dan Sumber Data
a. Data primer
Data ini diperoleh langsung dari lapangan dan penelitian hasil
wawancara yang dilakukan penulis yaitu dengan cara untuk memperoleh
informasi dengan bertanya langsung kepada responden yakni Hakim
Pengadilan Negeri Malang yang berkompeten dengan masalah yang
diteliti oleh penulis.
b. Data sekunder
Data yang diperoleh dengan jalan mengadakan studi kepustakaan (library
research) dengan cara membaca, mempelajari teori-teori, pendapat para
ahli, tulisan para ahli, baik dalam bentuk buku-buku maupun perundang-
undangan yang kesemuanya itu ada hubungannya dengan permasalahan
yang penulis kemukakan dalam skripsi ini.

4
Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta. J akarta. 2001. h. 91.

9
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data terhadap penelitian ini penulis mempergunakan:
a. Intervi ew (wawancara)
Interview yaitu melakukan wawancara langsung kepada responden
dalam hal ini hakim yang menangani perkara penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan.
Bentuk wawancara adalah dilakukan dengan bebas terpimpin, yaitu
dengan mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan sebagai
pedoman tetapi masih dimungkinkan adanya variasi-variasi pertanyaan
yang disesuaikan dengan situasi ketika wawancara.
Menurut Hadari Nawawi, Wawancara adalah pengumpulan data
informasi secara lisan dengan tujuan untuk menghimpun data berupa
tanggapan, pendapat, keyakinan, perasaan, motivasi dan keinginan
seseorang yang dilakukan terhadap obyek orang, sumber, atau instansi
yang bersangkutan.
5

b. Dokumentasi, yang dimaksud disini adalah pengumpulan data dengan
mempelajari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar secara langsung sesuai dengan masalah yang
akan dibahas.

5
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Ilmu Sosial. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta. 1985. h. 111.
10
3. Analisa Data
Dalam menganalisa data, teknik atau metode yang digunakan adalah
deskriptif analisis, yaitu prosedur pemecahan masalah yang diteliti dengan
cara memaparkan data yang telah diperoleh dari pengamatan kepustakaan dan
pengamatan lapangan, kemudian dianalisa dan diinterpretasikan dengan
memberikan kesimpulan. Menurut Winarno Surakhmad, yang dimaksud
dengan analisa deskriptif adalah memusatkan diri pada masalah-masalah
yang ada di masa sekarang yang bersifat aktual, kemudian data yang ada
dikumpulkan, disusun, dijelaskan serta dianalisa.
6


E. Sistematika Penulisan
Agar tulisan ini dapat mengarah seperti apa yang diharapkan, maka telah
disusun suatu sistematika penulisan secara global yang sekaligus merupakan
landasan operasional dalam rangka penyelesaian tulisan ini yang antara lain
yaitu :
Bab I : PENDAHULUAN
Yang didalamnya meliputi latar belakang permasalahan,
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode
penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II : TINJ AUAN PUSTAKA
Dalam hal ini diuraikan tiga sub yaitu meliputi : Sub (A) tentang
leasing, Sub (B penggelapan, Sub (C) hal-hal yang
dipertimbangkan hakim.

6
Winarno Surakhmad, Paper, Spripsi, Tesis, Desertasi. Tarsito. Bandung, 1981. h. 61.

11
Bab III : PEMBAHASAN
Dalam bab ini yang berisi pembahasan dari permasalahan yang ada.
Sub bab (A) membahas dasar hukum hakim mengadili
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing
pada lembaga pembiayaan. Sub (B) membahas dasar pertimbangan
hakim menjatuhkan lamanya pidana dalam perkara kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan
.
Bab IV : PENUTUP
Merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran-
saran dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan.
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Leasing
1. Pengertian Leasing
Leasing merupakan suatu perjanjian kontrak antara perusahaan
(lessor) yang bersedia meminjamkan barang modalnya kepada perusahaan
lain (lessee) yang disertai dengan kesanggupan dari (lessee) tersebut untuk
membayar sejumlah pembayaran berkala. Kegiatan leasing (sewa guna usaha)
diperkenalkan di Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1974 yaitu
dengan dikeluarkannya keputusan bersama Menteri Keuangan, Menteri
Perdagangan, dan Menteri Perindustrian No. Kep. 122/MK/IV/2/1997, No.
32/M/SK/1974, No. 30/KPB/5/1974 tanggal 7 Pebruari 1974 mengenai
Perjanjian Usaha Leasing sejak tahun 1980 jumlah perusahaan leasing
semakin bertambah dan meningkat dari tahun ke tahun untuk membiayai
penyediaan barang-barang modal.
Leasing sebagai: Suatu cara dimana perusahaan bisa menggunakan
suatu aktiva tanpa harus membelinya, dengan kata lain leasing merupakan
suatu bentuk penyewaan dengan jangka waktu tertentu.
7

Selanjutnya leasing juga didefinisikan sebagai kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak
opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating

7
Husnan, Suad. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan. Edisi Ketiga. Buku Satu.
Penerbit BPFE. Yogyakarta. h. 35.



13
lease), untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala.
8

2. Peranan dan Manfaat Leasing
Selama ini leasing mempunyai peranan yang penting serta memberikan
manfaat atau keuntungan bagi pembangunan Indonesia. Peranan serta manfaat
leasing ini adalah sebagai berikut:
a. Peranan Leasing
Leasing sebagai salah satu sistem pembiayaan yang berperan dalam
meningkatkan pembangunan perekonomian di Indonesia. Usaha leasing
dapat membantu badan-badan atau pengusaha-pengusaha Indonesia
terutama pengusaha industri kecil, dalam mengatasi cara pembiayaan
untuk memperoleh alat-alat perlengkapan maupun barang-barang modal
yang diperlukan.
9

b. Manfaat Leasing
Adapun manfaat leasing dari pihak antara lain:
1) Penghematan modal
Dengan sistem pembiayaan melalui leasing, lessee bisa mendapatkan
dan untuk membeli peralatan atau mesin-mesin untuk proses produksi
hingga sebesar 100% dari harga barang tersebut, dengan demikian
lessee bisa memanfaatkan, modal yang ada untuk keperluan lain.

8
Siamat, Dahlan.. Manajemen Lembaga Keuangan. Cetakan Pertama. Penerbit Intermedia.
J akarta. 1995. h. 49

9
Seokadi, Eddy P. Mekanisme Leasing. Cetakan Kedua. Penerbit Ghalia Indonesia. J akarta. .
1990. h. 78.



14
2) Sangat fleksibel
Fleksibel ini meliputi struktur kontraknya, besarnya pembayaran
angsuran, jangka waktu pembayaran angsuran, serta nilai sisanya.
3) Sebagai sumber dana
Leasing merupakan salah satu sumber dana bagi perusahaan-
perusahaan industri maupun perusahaan komersial lainnya.
Mekanisme dalam memperoleh dana yaitu dapat dilakukan melalui
sale and lease back atas asset yang sudah dimiliki oleh lessee.
Sementara ini fasilitas kredit yang sudah ada dari bank masih tetap
tidak terganggu dan siap digunakan setiap saat.
4) On atau of Balance Sheet
Leasing dapat dibukukan dengan menggunakan on balance sheet atau
of balance sheet.
5) Menguntungkan cash flow
Fleksibilitas dari penentuan besarnya angsuran, besarnya investasi,
dimana pendapatan penjualan diperoleh secara musiman atau juga
dimana keuntungan baru bisa diperoleh pada masa akhir investasi,
maka besarnya angsuran juga bisa disesuaikan dengan kemampuan
cash flow yang ada.
6) Menekan pengaruh inflasi
Lessee dalam keadaan inflasi mengeluarkan biaya angsuran yang
sama dengan nilai mata uang yang ada pada saat awal kontrak.


15
7) Sarana kredit jangka menengah atau jangka panjang
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka seluruh alternatif adalah
dengan menggunakan leasing.
8) Dokumentasi sangat sederhana
Dokumentasi atau pencatatan yang digunakan dalam leasing biasanya
sudah standar, akan lebih sederhana bagi lessee untuk melakukan
transaksi leasing yang berikutnya dengan mengikuti dokumentasi
yang sudah ada, dibandingkan dengan merundingkan pinjaman baru
Bank.
9) Berbagai biaya dapat dikelompokan dalam satu paket sebagai akibat
dari pembelian suatu barang, akan menimbulkan biaya-biaya antara
lain biaya pengiriman, biaya pemasangan.
10

3. Mekanisme Leasing
Sebelum membicarakan mengenai prosedur mekanisme leasing, maka
perlu terlebih dahulu diketahui pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak
leasing. Adapun pihak-pihak yang bersangkutan dalam transaksi ini yaitu:
1. Lessor
Adakah pihak yang menyewakan barang, dapat terdiri dari beberapa
perusahaan, disebut juga sebagai investor, equity holders.
2. Lessee
Adalah pihak yang menikmati barang tersebut dengan membayar sewa
dan mempunyai hak opsi.

10
Ibid, hal. 81



16
3. Kreditur transaksi leasing ini umumnya terdiri dari bank, insurance
company.
4. Supplier
Adalah penjual dan pemilik barang yang disewakan, dapat terdiri dari
perusahaan yang berada di dalam negeri atau yang mempunyai kantor
pusat.
Adapun prosedur dari mekanisme leasing yang menyangkut pihak-pihak
tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Lessee bebas memilih dan menentukan peralatan yang dibutuhkan,
mengadakan penawaran harga dan menunjuk supllier peralatan dimaksud.
2. Setelah lessee mengisi permohonan, lessee mengirimkan kepada lessor
disertai dokumen lengkap.
3. Lessor mengevaluasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberi
fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lessee (lama
kontrak pembayaran sewa lease), maka kontrak lease dapat ditanda
tangani.
4. Pada saat yang sama, lessee dapat menandatangani kontrak asuransi untuk
peralatan yang di lease dengan perusahaan asuransi yang disetujui lessor,
seperti yang tercantum dalam kontrak lease. Antara lessor dan perusahaan
asuransi terjalin perjanjian kontrak utama.
5. Kontrak pembelian peralatan akan ditandatangani lessor dengan supplier
peralatan tersebut.


17
6. Supplier dapat mengirim peralatan yang di lease ke lokasi lessee untuk
mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier
akan menandatangi perjanjian.
7. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan kepada
supplier.
8. Supplier menyerahkan tanda terima (yang diterima dari lessee), bukti
pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada lessor.
9. Lessor membayar harga peralatan yang di lease kepada supplier.
10. Lessee membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal
pembayaran yang telah ditentukan dalam kontrak.
11


B. Tinjauan Umum Penggelapan
1. Pengertian Tindak Pidana Penggelapan
Tindak pidana penggelapan (verduistering) merupakan kejahatan
terhadap harta benda yang diatur dalam Bab XXIV pasal 372 sampai 377
KUHP. Dimana penggelapan merupakan tindak pidana yang hampir sama
dengan pencurian.
Dalam memorie van Toelichting mengenai penggelapan yaitu secara
melawan hukum menguasai suatu benda seolah-olah ia adalah pemilik dari
benda tersebut padahal ia bukanlah pemiliknya. Sedangkan menurut Hoge
Raad menafsirkan bahwa penggelapan merupakan perbuatan menguasai
benda milik orang lain secara bertentangan dengan sifat dari pada ahk yang
dimiliki oleh si pelaku atas benda tersebut. Sedangkan menurut D. Simons
diartikan sebagai membawa sesuatu benda dibawah kekuasaannya yang nyata

11
Ibid, h. 98


18
sebagaimana yang dapat dilakukan oleh pemiliknya atas benda tersebut,
sehingga berakibat bahwa kekuasaan atas benda itu menjadi lepas dari
pemiliknya.
12

Penggelapan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan tindak pidana
dimana suatu benda atau barang milik seseorang dibawah kekuasaan pelaku
bukan karean kejahatan. Dari perbuatannya pelaku bermaksud memiliki benda
tersebut pada pokoknya dengan perbuatannya itu, atau perbuatan penggelapan
itu si pelaku tidak memenuhi kepercayaan yang dilimpahkan kepadanya oleh
yang berhak atas suatu barang.
2. Unsur-Unsur Tindak Pidana Penggelapan
Tindak pidana penggelapan pada pokoknya dapat dibagi dalam dua unsur
yaitu unsur obyektif dan unsur subyektif:
a. Unsur-unsur Obyektif Tindak Pidana Penggelapan
1) Perbuatan memiliki (zich toeeigenen)
Zich toeeigenen diterjemahkan dengan perkataan memiliki
adalah perbuatan dimana adakalanya menguasai secara melawan
hukum atau hak, mengaku sebagai milik. Seperti putusan Mahkamah
Agung tentang putusan tanggal 25-2-1958 No. 308 K/Kr/1957 yang
menyatakan bahwa perkataan zich to-eigenen dalam bahasa Indonesia
belum ada terjemahan resmi sehingga kata-kata itu diterjemahkan
dengan perkataan mengambil yaitu memiliki.

12
PAF Lamintang, Hukum Pidana Indonesia. Sinar Baru, Bandung, 1990. hal. 222.



19
Membicarakan tentang penggelapan dengan unsurnya
perbuatan memiliki, maka akan terkait dengan perbuatan mengambil
seperti dalam pencurian tetapi dalam penggelapan ini ada
perbedaannya dengan perbuatan mencuri. Perbedaan ini adalah dalam
hal memiliki pada pencurian adalah berupa unsur subyektif, sebagai
maksud untuk memiliki. Tetapi pada penggelapan, memiliki berupa
unsur obyektif, yakni unsur tingkah laku atau perbuatan yang dilarang
dalam penggelapan. Kalau dalam pencurian tidak disyratkan benar-
benar ada wujud dari unsur memiliki itu, karena memiliki ini sekedar
di tuju oleh unsur kesengajaan sebagai maksud saja. Tetapi pada
penggelapan memiliki, berupa unsur subyektif, yakni unsur tingkah
laku atau perbuatan yang dilarang dalam penggelapan. Kalau dalam
pencurian tidak disyaratkan benar-benar ada wujud dari unsur
memiliki itu, karena kesengajaan sebagai maksud dari unsur sekedar
memiliki saja. Tetapi memiliki pada penggelapan, karena merupakan
unsur tingkah laku, berupa unsur obyektif, maka memiliki harus ada
bentuk dan wujudnya, dimana harus sudah selesai dilaksanakan
sebagai syarat untuk selesainya terjadinya penggelapan. Bentuk-
bentuk memiliki misalnya menjual, menukar, menghibahkan,
menggadaikan dan sebagainya.
Pada pencurian, adanya maksud untuk memiliki sudah tampak
dari adanya perbautan mengambil, oleh karena sebelum tindak pidana
itu dilakukan, benda tersebut belum ada dalam kekuasaannya. Lain
halnya dengan penggelaan, oleh sebab benda obyek tindak pidana,


20
sebelum penggelapan terjadi, telah berada dalam kekuasaannya maka
sulit untuk menentukan kapan pada saat terjadinya tindak pidana
penggelapan tanpa adanya wujud perbuatan memiliki.
Dalam MvT (memorie van Toelichting) perbuatan memiliki
dalam pasal 372 KUHP adalah berupa perbuatan, berupa perbautan
menguasai benda seolah-olah ia pemilik benda itu. Menurut hukum
hanya pemilik sajalah yang dapat melakukan perbuatan terhadap
benda miliknya.
2) Unsur obyek penggelapan adalah memiliki
Perbuatan memiliki terhadap benda yang ada dalam
kekuasaannya sebagaimana yang telah diterangkan di atas, tidak
mungkin dapat dilakukan terhadap benda-benda yang tidak berwujud.
Pengertian benda yang telah ada dalam kekuasaannya karena adanya
suatu hubungan langsung dan sangat erat hubungannya dengan benda
itu yang sebagai indikatornya ialah apabila ia hendak melakukan
perbuatan terhadap benda itu, ia dapat melakukan langsung terhadap
benda itu tanpa harus melakukan tindak pidana terlebih dahulu.
Dalam penggelapan benda ada beberapa yang tidak bisa
digelapkan misalnay rumah, energi listrik dan lain-lain. Pada energi
listrik, pemakai jasa listrik tidak berada dalam hubungan menguasai
dengan energi listrik. Pelanggaran dalam hubungan menguasai dengan
benda-benda atau peralatan yang menyimpan/mengalirkan energi
listrik tersebut. Pelaku bila ingin melakukan perbuatan terhadap energi


21
listrik, maka tidak dilakukannya secara langsung tapi harus melakukan
perbuatan lain berupa suatu perbuatan terhadap peralatan listrik.
3) Sebagian atau seluruhnya milik orang lain
Benda yang tidak ada pemiliknya, baik sejak semula maupun
telah dilepaskan hak miliknya tidak dapat menjadi obyek penggelapan.
Benda milik suatu badan hukum, seperti milik negara adalah berupa
benda yang tidak/bukan dimiliki oleh orang adalah ditafsirkan sebagai
milik orang lain, dalam arti bukan milik pelaku itu oleh karena itu
dapat menjadi obyek penggelapan dan pencurian. Misalnya dalam
Arrest HR tanggal 1 Mei 1922 dengan tegas menyatakan bahwa untuk
menghukum karena penggelapan tidak disyaratkan bahwa menurut
hukum terbukti siapa pemilik barang itu. Misalnya sudah cukup
terbukti penggelapan bila seorang menemukan sebuah arloji di sebuah
stasiun kereta api, diambilnya kemudian timbul niatnya untuk
menjualnya.
4) Benda berada dalam kekuasaannya bukan karena tindak pidana
Dalam hal ini ada dua unsur yaitu yang pertama, berada dalam
kekuasaannya dan yang kedua bukan karena tindak pidana. Unsur
berada dalam kekuasaannya telah disinggung sebelumnya bahwa
benda yang berada dalam kekuasaan seseorang apabila antara orang
itu dengan benda terdapat hubungan sedemikian eratnya, sehingga
apabila pelaku ingin melakukan segala macam perbuatan terhadap
benda itu pelaku dapat segera melakukan secara langsung tanpa
terlebih dulu harus melakukan perbuatan yang lain. Misalnya ia


22
langsung dapat melakukan perbuatan: menjualnya, menghibahkannya,
menukarnya dan sebagainya, tanpa harus melakukan perbuatan lain
terlebih dahulu. Hubungan kekuasaan atas benda yang bukan miliknya
ini tidak mutlak disyaratkan terhadap benda yan seluruhnya milik
orang lain, tetapi cukup menguasai benda yang sebagian milik orang
lain dan sebagian miliknya sendiir.
Ciri khusus tindak pidana penggelapan ini jika dibandingkan
dengan pencurian ialah terletak pada unsur beradanya dalam
kekuasaan pelaku. Merupakan tidak wajar bila seseorang disebut
pencuri bila benda tersebut berada dalam kekuasaannya sendiri. Suatu
benda milik orang lain dapat berada dalam kekuasaan seseorang
dengan melawan hukum maupun oleh sebab perbuatan sesuai dengan
hukum. Sedangkan syarat dari penggelapan adalah bahwa benda
tersebut berada dalam kekuasaan pelaku sesuai dengan hukum, seperti
karena penitipan, perjanjian sewa dan lain-lain. Sedangkan benda
yang dalam kekuasaan karena melawan hukum, misalnya penipuan,
pencurian dan lain sebagainya.
b. Unsur-unsur Subyektif Tindak Pidana Penggelapan
1) Unsur kesengajaan
Unsur ini merupakan unsur kesalahan dalam penggelapan
sebagaimana dalam doktrin kesalahan (schuld) yang terdiri dari dua
bentuk yaitu:
a) Kesengajaan (opzettelijk/dolus)
b) Kelalaian (culpos)


23
Dalam MvT ada sedikit keterangan tentang kesengajaan
(ipzettelijk) yaitu sebagai wellens en wetens yang dalam arti harfiah
disebut sebagai menghendaki dan mengetahui. Dalam hal ini dapat
diterangkan lebih lajut ialah bahwa orang yang melakukan dengan
sengaja, berarti pelaku menghendaki perbuatan dan mengetahui
perbuatan dan serta sadar akan akibat yang timbul dari perbuatannya
itu. Apabila dihubungkan dengan kesengajaan yang berada dalam
rumusan tindak pidana seperti dalam penggelapan, maka kesengajaan
dikatakan apabila adanya suatu kehendak atau adanya suatu
pengetahuan atas suatu perbautan dengan unsur-unsur tertentu serta
menghendaki dan atau mengetahui atau menyadari akan akibat yang
timbul dari perbuatan.
Bahwa keterangan dalam MvT yang menaytakan bahwa setiap
unsur kesengajaan (opzettelijk) dalam rumusan suatu tindak pidana
selalu ditujukan pada semua unsur yang ada di belakangnya, atau
dengan kata lain yang semua unsur-unsur yang ada di belakang
perkataan sengaja selalu diliputi oleh unsur kesengajaan. Dalam hal
ini dirumuskan bahwa kesengajaan pelaku dalam penggelapan sebagai
berikut:
a) Melawan hukum
b) Perbuatan memiliki
c) Suatu benda
d) Seluruh atau sebagian milik orang lain
e) Benda dalam kekuasaannya bukan karena tindak pidana


24
Sedangkan apabila diterangkan lebih lanjut, kesengajaan maka
pelaku dalam penggelapan berarti :
a) Pelaku mengetahui, sadar bahwa perbuatan memiliki benda milik
oran glain yang dalam kekuasaannya itu sebagai perbuatan
melawan hukum.
b) Pelaku dengan kesadarannya menghendaki untuk melakukan
perbautan memiliki.
c) Pelaku mengetahui, menyadari bahwa ia melakukan perbuatan
memiliki terhadap suatu benda, yang diduga disadarinya bahwa
benda itu milik orang lain sebagian atau seluruhnya.
d) Pelaku mengetahui, menyadari bahwa benda milik orang lain yang
dikuasainya bukan karena suatu tindak pidana.
Kesengajaan yang dilakukan pada semua unsur yang ada di
belakangnya itu harus dibuktikan dalam persidangan.
2) Unsur melawan hukum
Dalam hubungannya dengan kesengajaan maka pelaku harus
ditujukan pada unsur melawan hukum, sehingga ada perbedaan antara
penggelapan dengan pencurian yaitu :
a) Tentang perbuatan materiilnya, penggelapan adalah perbautan
memiliki, sedangkan pencurian adalah mengambil. Pada pencurian
adalah unsur memiliki yang berupa unsur subyektif. Pada
penggelapan unsur memiliki, adalah unsur tingkah laku, yang
berupa unsur obyektif. Untuk selesainya penggelapan disyaratkan
pada selesainya atau terwujudnya perbuatan memiliki, sedang


25
pada pencurian pada perbuatan mengambil, bukan pada unsur
memiliki.
b) Dengan beradanya benda objek kejahatan di tangan pelaku. Pada
pencurian benda berada pada pelaku karena perbuatan mengambil
yang berarti bahwa benda tersebut berada dalam kekuasaannya
karena suatu kejahatan/ pencurian. Sedangkan pada penggelapan
benda tersebut berada dalam kekuasaannya karena perbautan-
perbuatan yang sesuai dengan hukum.
Walaupun telah tampak dengan jelas perbedaan antara
pencurian dengan penggelapan namun dalam praktek adakalanya sulit
membedakannya. Misalnya seseorang menemukan sebuah arloji
dalam sebuah halaman, diambilnya kemudian dijualnya. Dalam
peristiwa ini, penggelaapn ataukah pencurian yang sedang terjadi.
Karena disini terjadi dua peristiwa/perbuatan yaitu mengambil (unsur
sebuah pencurian) dan menjual (wujud memiliki dari suatu
penggelapan).
Tindak pidana pencurian dan tindak pidana penggelapan tidak
mungkin terjadi sekaligus dalam satu peristiwa. Bila terjadi pencurian
maka arloji itu berada dalam kekuasaannya adalah sebab dari tindak
pidana. Sebaliknya juga apabila terjadi penggelapan yang berarti
benda itu dalam kekuasaannya bukan karena tindak pidana terhadap
benda itu tidak mungkin terjadi perbuatan mengambil.
Dalam peristiwa tersebut untuk menentukan tindak pidana
yang timbul dari kejadian di atas, hal ini harus dilihat dari sudut


26
bilamanakah maksud memiliki timbul, maksudnya ialah, apakah
sebelum ataukah setelah perbuatan mengambil andaikata sebelum atau
pada saat mengambil arloji itu sudah terkandung maksud untuk
memilikinya, maka yang terjadi adalah pencurian. Sebaliknya,
andaikata maksud yang demikian, itu timbul setelah perbuatan
mengambil, misalnya sebelum memungut arloji itu ia bermaksud
menyerahkan ke kantor polisi, niat itu kemudian berubah setelah
sampainya di rumah. Dengan maksud yang demikian, maka beradanya
benda dalam kekuasaannya itu bukan oleh sebab suatu tindak pidana
dan kerna dengan ia menjualnya berarti telah melakukan perbuatan
memiliki, maka dalam hal ini telah terjadilah penggelapan.
3. J enis-jenis Tindak Pidana Penggelapan dan Unsur-unsurnya
a. Penggelapan dalam bentuk pokok
Ketentuan penggelapan dalam bentuk pokok diatur di dalam pasal 372
KUHP yang dirumuskan sebagai berikut :
Barang siapa dengan sengaja memiliki dengan melawan hak
sesuatu barang yang sama sekali atau sebagainya termasuk
kepunyaan orang lain dan barang itu dalam tangannya bukan
karena kejahatan, dihukum karena penggelapan, dengan
hukuman pidana penjara selama-lamanya empat tahun atau
denda sebanyak-banyaknya Rp. 90.000.
13


Dari rumusan pasal tersebut dapat dirinci bahwa dalam
penggelapan pokok terdiri dari beberapa unsur sebagai berikut :

13
Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya. Politea,
Bogor, 1996. hal. 285.



27
1) Unsur obyektif adalah :
a) Perbuatan memiliki (zithch toe-eigenen)
b) Sesuatu benda (eenig goed)
c) Sebagian atau seluruhnya milik orang lain
d) Yang dalam kekuasaannya bukan karena suatu tindak pidana
2) Unsur-unsur subyektif, adalah :
a) Dengan sengaja (opzettelijk)
b) Melawan hukum
Dari beberapa unsur yang telah disebutkan di atas memberi arti
membuat sesuatu/benda menjadi gelap. Perkataan verduistering yang
dalam bahasa kita diterjemahkan secara harfiah disebut dengan
penggelapan.
b. Pengelapan ringan
Penggelapan yang dikhawatirkan dalam bentuk penggelapan ringan diatur
dalam pasal 373 KUHP. Dalam ketentuan tersebut dirumuskan sebagai
berikut :
Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 372, jika yang
digelapkan bukan hewan dan harganya tidak lebih dari Rp. 250
dihukum karena penggelapan ringan, dengan penjara selama-
lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 900.
14


Berdasarkan dalam rumusan tersebut di atas, dapat disimpulkan
bahwa unsur tindak pidana penggelapan ringan sama dengan unsur-unsur
tindak pidana penggelapan pokok, hanya di dalam tindak pidnaa ringan
haruslah dipenuhi unsur khusus, bahwa yang digelapkan itu bukanlah

14
Ibid. hal. 259.



28
ternak dan harga dari barang yang digelapkan tidak lebih dari dua puluh
liam rupiah. Yang perlu diperhatikan dari unsur tindak pidana
penggelapan ringan ialah dipertimbangkannya unsur ternak sebagai
unsur yang memberatkan dalam tindak pidnaa penggelapan ini adalah
sama dengan dalam tindak pidana pencurian, karena ternak dianggap
sebagai harta kekayaan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia yaitu
sebagai rojo koyo.
c. Penggelapan dengan pemberatan
Penggelapan dengan pemberatan dalam KUHP diatur dalam pasal
374 dan 375 KUHP. Sebagaimana yang diatur dalam tindak pidana
penggelapan yang lain bahwa tindak pidana penggelapan dengan
pemberatan ini adalah tindak pidana penggelapan dalam pokok yang
karena ada unsur-unsur lain yang memberatkan ancamaman pidananya
menjadi berat. Dalam tindak pidana penggelapan ini disebut juga sebagai
tindak pidana penggelapan yang dikualifikasi.
1) Penggelapan dengan pemberatan dalam pasal 374 KUHP, dinyatakan:
Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasanya
terhadap barang yang disebabkan karena ada hubungan kerja atau
karena pencahariannya atau karena mendapat upah untuk itu,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
15

Dari rumusan di atas dapat ditarik unsur-unsur tindak pidana
penggelapan adalah :

15
Tongat, Hukum Pidana Materiil, Universitas Muhammadyah Malang, 2003, hal. 63.



29
a) Penggelapan (dalam bentuk yang pokoknya)
b) Dilakukan oleh seseorang
c) Suatu barang
d) Ada di bawah kekuasaannya dikarenakan:
(1) Hubungan kerja
(2) Mata pencaharian
(3) Mendapatkan upah untuk itu.
Untuk lebih memahami unsur-unsur yang memberatkan
tersebut maka penulis menjelaskan diantaranya :
a) Unsur hubungan kerja (zijne persoonlijke diensbetrekking)
Dalam Hoog Raad dalam Arrestnya pada 16-2-1942 menyatakan
bahwa yang dimaksud hubungan kerja adalah pekerjaan yang
terjadi karena suatu perjanjian kerja.
16

Dengan hubungan kerja tidak dimaksudkan hanya
hubungan kerja yang terjadi di perusahaan-perusahaan, tetapi
termasuk hubungan kerja dengan perorangan. Dalam hubungan
kerja perorangan contohnya hubungan majikan dengan buruhnya
misalnya seorang majikan menyerahkan uang kepada pembantu
rumah tangganya untuk belanja ke pasar kemudian uang itu
dipakai sendiri oleh pembantunya itu, maka pembantunya itu telah
melakukan suatu penggelapan. Dalam hal ini penggelapan dengan
pemberatan dengan unsur pemberatnya adalah hubungan kerja.

16
Adam Chazawi, Kejahatan Terhadap Harta Benda, Universitas Negeri Malang , 2003. hal.
86.



30
Yang mana esensi dari tindak pidana penggelapan itu sendiri
adalah penyalahgunaan hak yang merupakan unsur inti.
b) Unsur mata pencaharian (beroep)
Dalam hal ini dimaksud dengan mata pencaharian (beroep)
ialah apabila seseorang melakukan suatu pekerjaan bagi orang lain
secara terbatas dan tertentu. Misalnya seorang kasir atau
bendaharawan adalah merupakan pekerjaan yang tertentu dan
terbatas hanya sebagai pemegang dan pengurus keuangan saja.
Dalam hal ini seorang kasir misalnya menguasai suatu benda
(keuangan) dalam perusahaan yang bukan karena tindak pidana,
kemudian ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sifat
dari pada benda tersebut yang dalam kekuasaannya maka kasir
tersebut dapat dijerat dengan pasal 374 KUHP.
c) Unsur mendapat upah (imbalan)
Maksud dari pendapat upah tersebut adalah seseorang mendapat
upah tertentu berhubung dengan ia mendapat kepercayaan karena
suatu perjanjian atau yang lain-lain oleh sebab diserahi suatu
benda (dipercaya). Hal ini terjadi misalnya seorang juru parkir
dimana ia mendapat imbalan dari hasil penitipan kendaraan.
Dimana kendaraan yang dalam kekuasaannya bukan karena tindak
pidana melainkan karena mendapat upah. Bila dalam menguasai
benda tersebut juru parkir melakukan, misalnya menukarkan,
menjual, menyewakan dan lain sebagainya maka juru parkir
tersebut dapat dijerat dengan tindak pidana penggelapan dengan


31
pemberatan (pasal 374 KUHP). Dari hal tersebut, bahwa imbalan
yang harus diterima oleh seseorang tersebut tidak harus karena
adanya suatu perjanjian tertulis.
2) Penggelapan dengan pemberatan dalam pasal 375 KUHP
Ketentuan tentang penggelapan dengan pemberatan yang diatur
tersebut di atas, menyatakan :
Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang karena terpaksa
diberi benda untuk disimpan atau dilakukan oleh wali,
pengampau, kuasa atau pelaksana surat wasiat, pengurus atau
pelaksana surat wasiat, pengurus lembaga sosial atau yayasan,
terhadap sesuatu yang dikuasainya selaku demikian diancam
dengan pidana paling lama enam tahun.
17


Apabila rumusan tersebut dirinci maka unsur-unsur tersebut
terdiri dari:
a) Penggelapan
b) Suatu benda
c) Yang dibawah kekuasaannya
d) Orang yang melakukan penggelapan itu haruslah:
(1) Suatu keadaan yang terpaksa untuk dititipkan
(2) Berkedudukan sebagai seorang wali (boogd)
(3) Berkedudukan seorang pengampau (curator)
(4) Seorang pelaksana dari surat wasiat
(5) Seorang pengurus atau dari lembaga sosial atau yayasan

17
Tongat, Op. Cit. hal. 57-58



32
Sebagian ternyata unsur-unsur pelaku di atas adalah orang-
orang tertentu maka untuk lebih jelasnya akan difouskan pada
pembahasan unsur-unsur:
a) Unsur kepada siapa benda tersebut terpaksa telah dititipkan
Unsur ini akan terpenuhi misalnya, apabila seseorang oleh karena
suatu bencana terpaksa menitipkan barang-barangnya kepada
seseorang. Dalam hal ini akan dilakukan penggelapan oleh orang
yang dititipi barang tersebut.
b) Unsur seorang wali
Dalam hal ini adalah wali bagi anak-anak yang belum dewasa.
Dalam hal ini wali yang diangkat oleh seorang hakim menjadi wali
seorang anak, dan dengan kedudukannya tersebut ia diserahi
berabgai harta milik anak tetapi kemudian ia menggelapkan harta
yang mengakibatkan diperberatnya dakwaan.
c) Unsur seorang kurator atau pengampu
Kurator ialah seorang yang oleh karena putusan hakim ditetapkan
menjadi wali orang yang sudah dewasa tetapi tidak cakap
melakukan perbautan disebabkan:
(1) Imbisil (seperti tolol, dungu, bodoh)
(2) Sakit jiwa, lemah ingatan atau sering cepat marah
(3) Pemboros
(4) Mempunyai kebiasaan seperti mabuk termasuk pecandu
narkotika dan lain-lain.


33
Seorang pengampu mempunyai kewajiban melakukan
pengurusan, dan pengawasan baik orang yang dibawah
pengampuannya maupun harat benda miliknya.
d) Unsur sebagai kuasa (bewindvoerder)
Dalam hal ini seorang kuasa dengan kedudukannya melakukan
pengurusan dan pengawasan atas harta benda dalam
pengurusannya beracara di pengadilan.
e) Unsur pelaksanaan dari surat wasiat
Dalam hal ini adalah orang yang ditunjuk dalam surat wasiat
untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh pewaris dengan
segala h arta kekayaannya yang akan diwariskan. Dalam wasiat ini
disebutkan tentang apa yang diinginkan setelah ia meninggal
kelak.
6) Unsur pengurus dari badan sosial atau yayasan
Apabila pengurus badan sosial atau yayasan melakukan tindak
pidana penggelapan terhadap harta benda yayasan/badan sosial,
hal inilah yang merupakan unsur pemberatnya.

C. Tinjauan Umum tentang Kekuasaan Kehakiman
1. Pengertian Hakim
Menurut pasal 1 angka 8 KUHAP, hakim adalah pejabat peradilan
Negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.
Sedangkan Sudarsono memberi pengertian bahwa, hakim adalah orang yang
mengadili perkara dalam pengadilan atau mahkamah atau dengan kata lain


34
petugas negara (pengadilan) yang mengadili perkara.
18
Mengadili yang
dimaksud di sini adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima,
memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan
tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur
dalam pasal 1 angka 9 KUHAP.
19
Sedangkan dalam UU No. 14 Tahun 1970
tentang Kekuasaan Kehakiman, kedudukan hakim diatur dalam beberapa
pasal berikut ini:
Pasal 31 UU No. 4 Tahun 2004:
Hakim adalah pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman yang diatur
dalam undang-undang..
Pasal 32 UU No. 4 Tahun 2004:
Hakim harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, jujur,
adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum.
Pasal 33 UU No. 4 Tahun 2004 :
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, hakim wajib menjaga kemandirian
peradilan.
2. Tugas dan Wewenang Hakim
Lilik Mulyadi, menguraikan mengenai tugas dan wewenang hakim dalam
kapasitasnya antara lain, sebagai berikut :
a. Untuk kepentingan pemeriksaan hakim di sidang pengadilan dengan
penetapannya berwenang melakukan penahanan. (Pasal 20 ayat (3), 26
ayat (1) KUHAP).

18
Sudarsono, Kamus Hukum, Rineka Cipta, J akarta, 2002, h. 156




35
b. Memberikan penangguhan penahanan dengan atau tanpa jaminan hutang
atau jaminan orang, berdasarkan syarat yang ditentukan (Pasal 31 ayat (1)
KUHAP).
c. Mengeluarkan Penetapan agar terdakwa yang tidak hadir di persidangan
tanpa alasan yang sah setelah dipanggil secara sah untuk kedua kalinya,
dihadirkan dengan paksa pada sidang pertama berikutnya. (Pasal 154 ayat
(6) KUHAP).
d. Menentukan sah atau tidaknya segala alasan atas permintaan orang yang
karena pekerjaannya, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia dan minta dibebaskan dari kewajiban sebagai saksi.
(Pasal 170 KUHAP).
e. Mengeluarkan perintah penahanan terhadap seorang saksi yang diduga
telah memberikan keterangan palsu di persidangan baik karena jabatannya
atau atas permintaan Penuntut Umum atau terdakwa. (Pasal 174 ayat (2)
KUHAP).
f. Memerintahkan perkara yang diajukan oleh Penuntut Umum secara
singkat agar diajukan ke sidang pengadilan dengan acara biasa setelah
adanya pemeriksaan tambahan dalam waktu 14 hari akan tetapi Penuntut
Umum belum juga dapat menyelesaikan pemeriksaan tambahan tersebut.
(Pasal 203 ayat (3) huruf b KUHAP)
g. Memberikan penjelasan terhadap hukum yang berlaku, bila dipandang
perlu di persidangan, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas
permintaan terdakwa atau Penasehat Hukumnya. (Pasal 221 KUHAP).


36
h. Memberikan perintah kepada seorang untuk mengucapkan sumpah atau
janji di luar sidang. (Pasal 223 ayat (1) KUHAP).
20

3. Hak dan Kewajiban
Kewajiban hakim menurut Pasal 28 ayat 1 UU No. 4 Tahun 2004 adalah :
a. Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan
rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
b. Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib
memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa
Ketentuan ini memberi kesempatan kepada hakim agar dalam
melaksanakan tugasnya bukan hanya memeriksa dan mengadili berdasar atas
peraturan-peraturan hukum yang ada akan tetapi juga harus berusaha untuk
mencari dan menemukan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
21

Hal ini berarti bahwa hakim dalam putusan-putusannya tidak hanya
menerapkan peraturan hukum yang tertulis tetapi ia harus pula mampu
menciptakan hukum berdasarkan peranan keadilan yang berkembang dalam
masyarakat itu sendiri.
22

Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia
menciptakan hukum. Hal ini sejalan dengan pendapat Wirjono Prodjodikoro
yang menyatakan bahwa, hakim hanya merumuskan hukum. Pekerjaan hakim
mendekati pembuatan undang-undang tetapi tidak sama. Beliau berpendapat
bahwa walaupun Ter Haar menyatakan isi hukum adat baru tercipta secara

20
Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana, Citra Aditya Abadi, Bandung, 1996, h. 34.

21
Wahyu Afandi, Hakim dan Hukum Dalam Praktek. Alumni, Bandung, 1978, h. 33

22
Ibid



37
resmi dianggap ada apabila ada beberapa putusan dari penguasa terutama para
hakim, ucapan Ter Haar itupun tidak dapat dianggap bahwa dengan putusan
hakim dan lain penguasa itu terciptalah hukum adat, tetapi hanya
merumuskan hukum adat itu.
23

Hakim yang bebas dan tidak memihak telah menjadi ketentuan yang
universal. Ia menjadi ciri pula suatu negara hukum. The Universal
Declaration of Human Rights, pada pasal 10 mengatakan sebagai berikut :
Everyone is entitled in full eguality to a fair and public hearing by an
independent and impartial tribunal in the determination of his rights
and obligation and of any criminal charge against him
(Setiap orang berhak dalam persamaan sepenuhnya didengarkan
suaranya dimuka umum dan secara adil oleh pengadilan yang mereka
dan tak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-
kewajibannya dan dalam setiap tuntutan pidana yang ditujukan
kepadanya)
24


Sehubungan dengan itu, Pasal 8 The Universal Declaration of Human
Rights berbunyi sebagai berikut :
Everyone has the right to an effective remedy by the competent
national tribunals for act violating the fundamental rights granted
him by the constitution or by law.
(Setiap orang berhak atas pengadilan yang efektif oleh hakim-hakim
nasional yang kuasa terhadap tindakan perkosaan hak-hak dasar, yang
diberikan kepadanya oleh undang-undang dasar negara atau undang-
undang).
25


Dalam pasal 14c ayat 1 KUHP ditegaskan bahwa dalam hal hakim
menjatuhkan hukuman baik hukuman penjara yang lamanya lebih dari tiga
bulan maupun hukuman kurungan karena salah satu pelanggaran yang diatur

23
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, J akarta, 2001. h. 99.

24
Ibid. h. 94.

25
Ibid



38
dalam Pasal 492, 504, 505, 506 dan 536 maka pada perintah itu hakim
berkuasa mengadakan perjanjian istimewa yang lain pula tentang kelakuan si
terhukum yang harus dipenuhi. Berdasarkan uraian tersebut, maka menurut
Wahyu Afandi hakim pidana berwenang untuk memutuskan dan menetapkan
ganti rugi guna memulihkan kerugian yang diderita oleh si korban atau
keluarganya.
26

4. Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman
Menurut pasal 1 UU No. 4 Tahun 2004, kekuasaan kehakiman adalah
kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi
terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Sedangkan dalam
penyelenggaraannya diatur pada pasal 2 UU No. 4 Tahun 2004 sebagai
berikut: penyelenggaraan kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud
dalam pasal 1 dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan
yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata
usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Menurut sistem yang dianut di Indonesia, pemeriksaan di sidang pengadilan
yang dipimpin oleh hakim, hakim itu harus aktif bertanya dan memberi
kesempatan kepada pihak terdakwa yang diwakili oleh penasehat hukumya
untuk bertanya kepada saksi-saksi, begitu pula pada penuntut umum. Semua
itu dengan maksud menemukan kebenaran materiil. Hakimlah yang
bertanggungjawab atas segala yang diputuskannya. Tidak benar pendapat

26
Wahyu Afandi, Op. Cit, h. 34.



39
yang menyatakan hakim harus pasif dan hanya memimpin sidang dan
mendengar keterangan pihak-pihak belaka. Mungkin hanya dalam sistem
akusator (accusatoir) murni yang berlaku hal demikian. Akan tetapi, tiada
negara yang menganut akusator murni seperti itu.
27

Dalam hal kekuasaan mengadili, dan dua macam, yang biasa juga disebut
dengan kompetensi, yaitu sebagai berikut :
a. Wewenang badan pengadilan dalam memeriksa jenis perkara tertentu
yang secara mutlak tidak dapat diperiksa oleh badan pengadilan lain.
(kompetensi mutlak).
b. Kekuasaan berdasarkan peraturan hukum mengenai pembagian kekuasaan
mengadili, berkaitan dengan wilayah hukum suatu pengadilan.
(kompetensi relatif).
28


D. Tinjauan Umum tentang Pidana dan Pemidanaan
Masalah pidana dan pemidanaan dalam sejarahnya selalu mengalami
perubahan. Dari adab ke adab, keberadaannya banyak diperdebatkan oleh para
ahli. Bila disimak dari sudut perkembngan masyarakat manusia, perubahan itu
adalah hal yang wajar, karena manusia akan selalu berupaya untuk memperbaruhi
tentang suatu hal demi meningkatkan kesejahteraannya dengan mendasarkan diri
pada pengalamnya di masa lampau.
29



27
Ibid. h. 97

28
Ibid. h. 102

29
M. Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, PT. RajaGrafindo Persada. J akarta.
2003. h. 1



40
Pertanyaan atau pedebatan para ahli hukum pidana maupun penologi serta
kriminologi tentang pidana dan pemidanaan itu, bukan saja pada pertanyaan,
Apa, Mengapa, dan Bagaimana seharusnya? Akan tetapi juga pertanyaan
tentang Apa hakikatnya? Inilah inti dari persoalan pidana dan pemidanaan. Dia
tidak saja berdiri di atas ranah ilmu yang berusaha menjawab, apa dan
mengapa diadakan pemidanaan itu. Dari dulu hingga saat kini, pidana dan
pemidaaan berada di sekitar persoalan filsafat yang berusaha menjawab
pertanyaan tentang apa hakikat pidana dan pemidanaan itu.
30

Pidana dan pemidanaan sebagai ilmu penologi akan trkait erat dengan
filosofi pemidanaan. Pidana dan pemidanaan sebagai filsafat, sudah barang tentu
akan selalu mengalami ketidakpuasan. Vander Hoeven menyatakan bahwa ahli
hukum pidana tidak dapat menjelaskan dasar-dasar dari hak memidana dan juga
sebab apa memidana. Pernyataan Van der Hoeven berlaku pula terhadap stelsel
sanksi yang sampai saat ini banyak mengalami perubahan dan perdebatan yang
dilakukan oleh para ahli hukum pidana maupun penologi serta kriminologi.
Stelsel sanksi adalah bagian dari permasalahan pidana yang merupakan salah
satu dari tiga permasalahan pokok dalam membicakan hukum pidana. Menurut
Muladi stelsel sanksi menggambarkan nilai-nilai sosial budaya bangsa dan
seringkali tidak lepas pula dari format politik bangsa yang bersangkutan
31

Menurut Muladi hukum pidana modern yang bercirikan orientasi pada
perbuatan dan pelaku (daad-dader straafrecht), stelsel sanksinya tidak hanya

30
Ibid, hal.2

31
Muladi, Hak Azasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang. 1997. h. 151.



41
meliputi pidana (straf, punishment) yang bersifat penderitaan, tetapi juga
tindakan tata tertib (maatregel, treatment) yang secara relatif lebih bermuatan
pendidikan.
1. Perbedaan Sanksi Pidana dan Sanksi Tindakan
Perbedaan antara sanksi pidana dan sanksi tindakan sering agak
samar, namun di tingkat ide dasar keduanya memiliki perbedaan fundamental.
Keduanya bersumber dari ide dasar yang berbeda. Sanksi pidana bersumber
pada ide dasar mengapa diadakan pemidanaan? sedangkan sanksi tindakan
bertolak dari ide dasar untuk apa dilakukan pemidanaan itu?. Dengan kata
lain, sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan,
sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan
tersebut. J ika fokus sanksi pidana tertuju pada perbuatan salah seorang lewat
pengenaan penderitaan (agar yang bersangkutan menjadi jera), maka fokus
sanksi tindakan terarah pada upaya memberi pertolongan agar pelaku dapat
berubah.
32

Berdasarkan tujuannya, sanksi pidana dan sanksi tindakan juga
bertolak dari ide dasar yang berbeda. Sanksi pidana bertujuan memberi
penderitaan istimewa (bijzonder leed) kepada pelanggar supaya ia merasakan
akibat perbuatannya. Selain ditujukan pada pengenaan penderitaan terhadap
pelaku, sanksi pidana juga merupakan bentuk pernyataan pencelaan terhadap
perbuatan si pelaku. Perbedaan prinsip antara sanksi pidana dan sanksi
tindakan terletak pada ada tidaknya unsur pencelaan, bukan ada tidaknya

32
M. Sholehuddin, Op. Cit,. h. 32



42
unsur penderitaan. Sedangkan sanksi tindakan tujuannya lebih bersifat
mendidik.
33

2. Sanksi Pidana Dan Sanksi Tindakan Sebagai Sistem Pemidanaan
Masalah sanksi merupakan hal yang sentral dalam hukum pidana
karena seringkali menggambarkan nilai-nilai sosial budaya bangsa. Artinya,
pidana mengandung tata nilai (value) dalam masyarakat mengenai apa yanmg
baik dan yang tidak baik, apa yang bermoral dan apa yang amoral serta apa
yang diperbolehkan dan apa yang dilarang. Tata nilai itu sendiri ada yang
bersifat universal dan abadi, tetapi dari zaman ke zaman juga bersifat
dinamis. Kedinamisan tata nilai berlaku pada sistem pemidanaan dan sistem
sanksi dalam hukum pidana. Bila sistem pemidanaan ini diartikan secara luas,
maka pembahasannya menyangkut perundang-undangan yang berhubungan
dengan sanksi (dalam hukum pidana) dan pemidanaan. Hal ini karena sistem
pidana dan pemidanaan itu sebagai susunan (pidana) dan cara
(pemidanaan).
34

Dalam semua aturan perundang-undangan mengenai hukum pidana
subtansial, hukum pidana prosedural dan hukum pelaksanaan pidana dapat
dikatakan sebagai satu kesatuan sistem. Dengan kata lain, hukum materiil dan
hukum pidana formil dijadikan acuan dalam membicarakan masalah
perkembangan sistem pemidanaan dan sistem sanksi. Perkembangan sistem
pemidanaan yang telah menjadi kecenderungan internasional dimulai dari
lahirnya ide individualisasi pidana yang merupakan salah satu karakteristik

33
Ibid, h. 33.

34
Ibid, h. 55


43
dari aliran modern dan aliran neo klasik dalam hukum pidana. Aliran modern
yang lebih dikenal sebagai aliran positif konsepsi pemikiran ajarannya
bertujuan untuk secara langsung mengadakan pendekatan dan berusaha
mempengaruhi terhadap pelaku tindak pidana secara positif sejauh masih
dapat dibina dan diperbaiki menuju ke kalan yang benar. Dalam aliran
tersebut, pidana tidak ditentukan secara pasti (indeterminate sentece) karena
different criminal have different needs artinya penerapan pidana yang sama
kepada semua orang yang melakukan tindak pidana tertentu merupakan
kebodohan karena setiap pelaku tindak pidana mempunyai kebutuhan yang
berbeda-beda.
35
Sistem indeterminate sentece adalah suatu sistem yang tidak
menentukan batas maksimum pidana melainkan diserahkan sepenuhnya
kepada aparat penegak hukum untuk menetapkan jenis, berat ringannya, serta
bagaimna pidana dilaksanakan terhadap pelaku tindak pidana.
Dalam penetapan jenis sanksi, semula hanya dianut single track
system, yakni jenis sanksi pidana saja sebagai representasi melekatnya
pengaruh aliran klasik dalam hukum pidana. Aliran ini berpaham
inderteminisme mengenai kebebasan kehendak manusia yang menekankan
kepada perbuatan pelaku kejahatan sehingga dikehendalikan hukum pidana
perbuatan (daad strafecht). Karena sistem pidana dan pemidanaan pada aliran
klasik sangat membatasi kebebasan hakim dalam menetapkan jenis sanksi
dengan berbagai bentuknya.
Dari konsepsi-konsepsi kedua sistem aliran hukum pidana tersebut,
lahirlah ide individualisasi pidana. Sebagai konsekuensi dari ide

35
Ibid, h. 56.


44
individualisasi pidana, maka sistem pemidanaan dalam hukum pidana modern
juga berorientasi pada pelaku dan perbuatan (daad-dader straafrecht)
sehingga jenis sanksi yang ditetapkan tidak hanya meliputi sanksi pidana,
tetapi juga sanksi tindakan yang relatif lebih bermuatan pendidikan daripada
penderitaan. Sistem pemidanaan yang bertolak dari ide individualisasi pidana
merupakan hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan pendekatan
humanistik dalam penggunaan sanksi pidana untuk tujuan perlindungan
masyarakat (social defence). Atas dasar tujuan tersebut, maka pemidanaan
harus mengandung unsur-unsur yang bersifat :
a. Kemanusiaan, dalam arti bahwa pemidanaan tersebut menjunjung tinggi
harkat dan martabat seseorang.
b. Edukatif, dalam arti bahwa pemidanaan mampu membuat orang sadar
sepenuhnya atas perbuatan yang dilakukan dan menyebabkan ia
mempunyai sikap yang positif dan konstruktif bagi usaha
penanggulangan kejahatan.
c. Keadilan, dalam arti bahwa pemidanaan tersebut dirasakan adil (baik oleh
terhukum maupun oleh korban ataupun masyarakat.
36

3. Pemidanaan
Dalam konsep pemidanaan disadari terdapat gap antara apa yang
disebut pemidanaan dan apa yang digunakan sekarang sebagai metode untuk
memaksanakan kepatuhan. Perubahan dalam sentimen publik, kemajuan
dalam ilmu pengetahuan, adanya kesatuan polisi, semuanya telah mendorong
adaptasi metode-metode pemidanaan. Sebagian ada yang berpandangan

36
Ibid, h. 59.


45
pemidanaan adalah sebuah persoalan yang murni hukum (purely legal
matter). Pemidanaan merupakan akibat wajar yang disebabkan bukan dari
hukum, tetapi dari pelanggaran hukum. Artinya, jahat atau tidak jahat, bila
seseorang telah bersalah melanggar hukum maka orang itu harus dipidana.
37

Hall sebagaimana dikutip Gerber dan McAnany membuat deskripsi
terperinci mengenai pemidanaan : Pertama ; pemidanaan adalah kehilangan
hal-hal yang diperlukan dalam hidup. Kedua ; memaksa dengan kekerasan,
Ketiga ; diberikan atasa nama negaradiotorisasikan, Keempat ; pemidanaan
masyarakat karena adanya peraturan-peraturan, pelanggarannya, dan
penentuannya, yang diekspresikan dalam putusan, Kelima ; diberikan kepada
pelanggar yang telah melakukan kejahatan, dan ini mensyaratkan adanya
sekumpulan nilai-nilai yang dengan berancuan, kejahatan dan pemidanaan itu
signifikan dengan perbuatan kejahatan, Keenam ; tingkat atau jenis
pemidanaan berhubungan dengan perbuatan kejahatan, dan diperberat atau
diringankan dengan melihat personalitas (kepribadian) si pelangar, motif dan
dorongannya.
38

Menurut Ted Honderih menyatakan bahwa pemidanaan harus
memuat 3 (tiga) unsur sebagai berikut :
a. Pemidanaan harus mengandung semacam kehilangan (deprivation) atau
kesengsaraan (distress) yang biasanya secara wajar dirumuskan sebagai
sasaran dari tindakan pemidanaan. Unsur pertama ini pada dasarnya
merupakan kerugian atau kejahatan yang diderita oleh subyek yang

37
Ibid, h. 69

38
Ibid, h. 70


46
menjadi korban sebagai akibat dari tidakan sadar subyek lain. Secara
aktual, tindakan subyek lain itu dianggap salah bukan saja karena
mengakibatkan penderitaan orang lain, tetapi juga karena melawan
hukum yang berlaku secara sah.
b. Setiap pemidanaan harus datang dari institusi yang berwenang secara
hukum. J adi, pemidanaan tidak merupakan kosekuensi alamian suatu
tindakan, melainkan sebagai hasil keputusan pelaku-pelaku personal
suatu lembaga yang berkuasa. Karenanya, pemidanaan bukan merupakan
tindakan balas dendam dari korban terhadap pelanggar hukum yang
mengakibatkan penderitaan.
c. Penguasa yang berwenang berhak menjatuhkan pemidanaan hanya
kepada subyek yang telah terbukti secara sengaja melanggar hukum atau
perbuatan yang berlaku dalam masyarakatnya. Unsur ketiga ini
mengundang pertanyaan tentang hukuman kolektif, misalnya embargo
ekonomi yang dirasakan juga oleh orang-orang yang tidak bersalah.
Meskipun demikian, secara umum pemidanaan dapat dirumuskan terbuka
sebagai denda (penalty) yang diberikan oleh instansi yang berwenang
kepada pelanggar hukum atau peraturan.
39

4. Hubungan Penetapan Sanksi dengan Tujuan Pemidanaan
Bagian penting dalam sistem pemidanaan adalah menetapkan suatu
sanksi. Keberadaannya akan memberikan arah dan pertimbangan mengenai
apa yang seharusnya dijadikan sanksi dalam suatu tindak pidana untuk
menegakkan berlakunya norma. Di sisi lain, pemidanaan itu sendiri

39
Ibid, h. 71


47
merupakan proses paling kompleks dalam sistem peradilan pidana karena
melibatkan banyak orang dan institusi yang berbeda. Pemidanaan bisa
diartikan sebagai tahap penetapan sanksi dan juga tahap pemberian sanksi
dalam hukum pidana. Hal ini dapat disimak dalam pendapat Sudarto yang
menyatakan bahwa pemberian pidana in abstraco adalah menetapkan stelsel
sanksi hukum pidana yang menyangkut pembentuk undang-undang.
Sedangkan pemberian pidana in concreto menyangkut berbagai badan yang
kesemuanya mendukung dan melaksanakan stelsel sanksi hukum pidana.
40

Berkaitan dengan masalah sanksi Hoefnagels mengatakan bahwa sanksi
dalam hukum pidana adalah semua reaksi terhadap pelanggaran hukum yang
telah ditentukan undang-undang, dimulai dari penahanan tersangka dan
penuntutan terdakwa sampai pada penjatuhan vonis oleh hakim. Hoefnagels
melihat pidana sebagai suatu proses waktu yang keseluruhan proses itu
danggap suatu pidana.
41

Menurut Sudarto dan Hoefnagels ditegaskan bahwa masalah
penetapan sanksi pidana dalam hukum pidana merupakan suatu rangkaian
kebijakan yang berada dalam satu sistem. Sebagai suatu sistem, tidaklah
dapat dikatakan bahwa masing-masing tahap pemberian pidana dapat berdiri
sendiri, akan tetapi saling terkait bahkan tidak dapat dipisahkan sama
sekali.
42



40
Ibid, h. 114.

41
Ibid, h. 115.

42
Ibid, h. 115.



48
J adi apabila dihubungan dengan keseluruhan sistem pemidanaan,
penetapan sanksi yang pada hakekatnya merupakan kewenangan beberapa
instansi, maka dapat dianalogikan bahwa jatuhnya tahapan pemidanaan itu
dari instansi yang satu ke instansi yang lainnya harus seperti air pegunungan
yang mengalir tertib dan indah meskipun terdapat etaran-getaran. Dalam
konteks penerapan sanksi, getaran-getara disebut sebagai tamsil tentang
kemungkinan terjadinya apa yang disebut disparitas pidana (disparaty of
sentencing). Disparitas pidana tidak bisa ditiadakan sama sekali, karena
menyangkut persoalan sampai sejauhmana hal itu sebagai akibat yang tidak
terelakkan dari kewajiban hakim untuk mempertimbangkan seluruh elemen
yang relevan dalam perkara individu tentang pemidanaannya. Sebab
disparitas tidak secara otomatis mendatangkan kesejanjangan yang tak adil.
Demikian pula persamaan dalam pemidanaan tidak secara otomatis
mendatangkan pidana yang tepat. Itulah yang menjadi dasar pembenaran
pemberian pidana in concreto atau tahap kebijakan yudikasi.
43

Dalam kebijakan legislasi tidak dapat dipungkiri terjadi disparitas
pidana. Bila dilihat dari lamanya pemidanaan yang bisa bervariasi dari satu
undang-undang ke undang-undang yang laih karena legislator menetapkan
masa hukumannya yang berbeda untuk tindak pidana yang sama, maka hal itu
dapat dipandang sebagai disparitas. Bahkan Sue Titus Reid menegaskan
bahwa disparitas pidana bisa berasal dari keputusan-keputusan legislatif,
pengadilan atau administrasi.
44
Dengan demikian eksistensi disparitas pidana

43
Ibid, h. 116.

44
Ibid, h. 116.


49
tetap diakui dalam proses pemidanaan, akan tetapi yang penting sampai
sejauhmanakah disparitas tersebut mendasarkan diri atas reasonable
justification.
Sehubungan dengan keberagaman jenis dan bentuk sanksi hukum
pidana, peran para pemegang kebijakan legislasi sangat urgen untuk
menjadikan sanksi itu sendiri sesederhana mungkin (simple) agar tidak terjadi
tumpang tindih (overlapping) antara produk perundang-undngan pidana yang
satu dengan yang lainnya. Apapun jenis dan bentuk sanksi dalam hukum
pidana yang ditetapkan, tujuan pemidanaan yang harus menjadi patokan.
Karena itu, harus ada kesamaan pandang atau pemahaman yang sama pada
tahap kebijakan legislasi tentang apa hakikat atau maksud dari sanksi pidana
dan/atau tidakan. Adanya tujuan pemidanaan yang harus dijadikan patokan
dalam rangka menunjang bekerjanya sistem peradilan pidana. Menurut
Muladi untuk menciptakan sinkronisasi yang bersifat fisik, yaitu sinkronisasi
struktural, sinkronisasi subtansial, dan dapat pula bersifat sinkronisasi
kultural. Dalam sinkronisasi struktural, keserampakan dan keselarasan
ditunutut dalam mekanisme administrasi peradilan pidana dalam kerangka
hubungan antar lembaga penegak hukum. Sedangkan menyangkut
sinkronisasi subtansial, maka keserempakan mengandung makna baik
vertikal maupun horizontal dalam kaitannya dengan hukum positif yang
berlaku. Sementara menyangkut sinkronisasi kultural mengandung makna
untuk selalu serempak dalam menghayati pandangan-pandangan, sikap-sikap
dan falsafah yang secara menyeluruh mendasarinya sistem peradilan pidana.
45


45
Ibid, h. 119.


50
Menurut Rancangan KUHP Nasional dalam Pasal 50 ayat 1 telah
menetapkan empat tujuan pemidanaan sebagai berikut :
a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum
demi pengayoman masyarakat ;
b. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga
menjadi orang yang baik dan berguna ;
c. menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan
keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat ; dan
d. membebasakan rasa bersalah pada terpidana.
46

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat ditarik benang merahnya
antara penetapan sanksi dalam suatu perundang-undangan pidana dan
perumusan tujuan pemidanaan, maka tampak jelas adanya keterkaitan yang
sangat erat dengan landasan filsafat pemidanaan, teori-teori pemidanaan dan
aliran-aliran hukum pidana yang dianut atau yang mendominasi pemikiran
dalam kebijakan kriminal (criminal policy) dankebijakan penal (penal
policy).

46
Ibid, h. 127.
51
BAB III
PEMBAHASAN

A. Realita Kasus
Penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada
lembaga pembiayaan dalam perkara pidana timbul sebagai bagian dari tuntutan
yang didasarkan atas tindakan atau perbuatan pidana membawa akibat berupa
kerugian baik moril maupun materiil. Tindakan atau perbuatan pidana tersebut
tentunya adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan (tidak ada alasan pemaaf,
alasan pembenar), sebagai perbuatan yang melawan hukum.
Adapun perkara penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan
leasing pada lembaga pembiayaan yang diputuskan di Pengadilan Negeri Kota
Malang tahun 2005 s/d 2006 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Realitas Kasus Penggelapan Kendaraan Bermotor yang
Menjadi Jaminan Leasing Pada Lembaga Pembiayaan
Di Pengadilan Negeri Malang
Tahun 2005 s/d 2006

No Terdakwa Latar
Belakang
Modus Barang
Bukti
Penerapan
Pasal
Lamanya Pidana
1 Budi
Kuncoro
Ekonomi Menggadaikan
pada orang
lain
Sepeda
Motor RX
King Tahun
2004
Pasal 372
KUHP
1 tahun 6 bulan
2. Hartono Ekonomi Menjual pada
orang lain
Sepeda
Yamaha
Vega R
Tahun 2005
Pasal 372
KUHP
1 tahun 10 bulan
3. Suko Ekonomi Menggadaikan
pada orang
lain
Sepeda
Motor
Honda
Mega Pro
2005
Pasal 372
KUHP
1 tahun 6 bulan
Sumber : Data sekunder, diolah 2007

52
Berdasarkan tabel 3.1 menunjukkan terdapat 3 (tiga) putusan Pengadilan
Negeri Kota Malang dalam kasus penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi
jaminan leasing pada lembaga pembiayaan. Berikut ini akan dijelaskan proses
pemidanaan salah satu putusan pengadilan pada kasus penggelapan sebagai
berikut :
1. Putusan No. 560/Pid.B/2006/PN Malang
a. Uraian singkat perkara
Bahwa pada bulan J uni tahun 2006 terdakwa secara hukum telah
memiliki sebuah sepeda motor Yamaha J enis RK King Tahun 2004
warna hitam No Pol. N 4727 BD yang dilakukan dengan cara saksi YS
selaku pihak leasing menyuruh terdakwa (BK) untuk membayar angsuran
yang telah tertunda selama 3 (tiga) bulan atas pengambilan kredit sepeda
motor Yamaha RX King Tahun 2004. Karena pembayaran angsuran
tertunda selama 3 (tiga) bulan terdakwa berjanji kepada saksi segera
melunasi tanggungan angsuran yang belum dibayar selama 3 bulan dan
selanjutnya akan membayar angsuran tepat waktu sesuai kesepakatan.
Terdakwa mengatakan kepada saksi bahwa akan mendapatkan uang
untuk membayar angsuran setelah terdakwa mendapatkan arisan sebesar
Rp. 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah). Namun oleh terdakwa
angsuran tersebut tidak dilunasi bahkan ketika sepeda motor mau diambil
oleh saksi karena tidak sesuai dengan kesepakatan ternyata sepeda motor
tersebut digadaikan kepada orang lain sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta
lima ratus ribu rupiah) dengan alasan untuk membiayai sekolah anaknya.
53
Sehingga pihak leasing mengalami kerugian atas perbuatan terdakwa dan
diancam pidana dalam pasal 372 KHP.
b. Putusan Pengadilan
Pengadilan Negeri : telah membaca berkas perkara, telah mendengar
saksi dan terdakwa dan telah mendengar tuntutan umum yang pada
pokoknya mohon agar majelis memutuskan :
1) menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana terdapat terdakwa dengan pidana penjara selama
2 (dua) tahun dipotong sisa tahanan dengan perintah tetap.
3) menetapkan barang bukti berupa satu unit kendaraan bermotor
Yamaha J enis RK King Tahun 2004 digunakan dalam perkara lain
4) membebankan kepada terdakwa untuk membayar ongkos sebesar
1000 (seribu rupiah).
telah mendengar pembelaan terdakwa yang pokoknya mohon keringanan
hukum. Menimbang bahwa terdakwa dihadapan persidangan karena
didakwa melakukan perbuatan seperti diuraikan dalam surat dakwaan
dalam berkas yang pokoknya berikut :
Primair : Penggelapan
Melanggar : Pasal 372 KUHP
-----menimbang bahwa terdakwa didakwa dengan dakwaan tunggal
subsidaritas.
54
-----menimbang bahwa di persidangan telah didengar keterangan sanksi
yang kesemuanya menerangklan pada pokoknya sesuai dengan BAP
penyidikan Polri.
----- menimbang bahwa penuntut umum telah mengajukan barang bukti
berupa satu unit sepeda motor RX King Tahun 2004 digunakan
dalam perkara lain.
---- menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum di persidangan majelis
hakim berpendapat bahwa unsur dari pasal 372 KUHP dalam
dakwaan tunggal terbukti, oleh karenanya dijatuhi pidana.
---- menimbang bahwa berdasarkan atas keterangan saksi, dihubungkan
dengan keterangan terdakwa dan barang bukti yang dikenal saksi dan
terdakwa Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan terdakwa telah
memenuhi unsur-unsur dari Pasal 372. Karena itu terdakwa harus
dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
perbuatan pidana penggelapan.
---- menimbang karena terdaka dinyatakan bersalah, maka harus dijatuhi
pidana dan membayar ongkos perkara.
---- menimbang bahwa dalam menentukan lasama masa pidana, terlebih
dahulu akan dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan
meringankan sebagai berikut :
Yang memberatkan :
1) Perbuatan terdakwa merugikan orang lain yaitu pihak leasing.
55
Yang meringankan :
1) Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya.
2) Terdakwa sopan dalam persidangan.
3) Terdakwa belum pernah dihukum
Mengadili :
1) menyatakan terdakwa (BK) terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana atas diri terdakwa tersebut dengan pidana penjara
selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan.
3) menetapkan agar lamanya terdakwa ditahan sebelum putusan ini
mempunyai kekuatan.
4) menetapkan agar terdakwa tetap di tahan.
5) menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) sepeda motor Yamaha RX
King Tahun 2004
6) membebankan kepada terdakwa membayar ongkos perkara Rp. 1000
(seribu rupiah).
47

2. Putusan No. 641/Pid.B/2006/PN Malang
a. Uraian singkat perkara
Bahwa pada bulan Oktober tahun 2006 Hartono selaku terdakwa
terlilit masalah hutang piutang pada tetanggnya sebesar Rp. 2.000.000,
(dua juta rupiah). Pada saat itu terdakwa merasa kebingungan karena
secara bersamaan dia memiliki beban untuk membayar cicilan sepeda

47
Wawancara dengan Abdulah, Hakim Pengadilan Negeri Kota Malang, tanggal 28 J uli
2007.

56
motor yang diambilnya secara kredit, di mana setiap bulan berkewajiban
membayar Rp. 415.000 (empat ratus lima belas ribu ripiah). Karena
merasa tidak ada pilihan lain dan terus dikejar oleh tetangganya agar
terdakwa membayar hutangnya, membuat terdakwa secara diam-diam
menjual sepeda motor Yamaha Vega R Tahun 2005 No Pol. N 1625 BL
kepada seseorang lain seharga Rp. 2.500.000 (dua juta lima ratu ribu
rupiah). Selanjutnya dari uang tersebut digunakan untuk membayar
hutang kepada tetangganya dan sisanya dipergunakan untuk keperluan
lain bukan untuk membayar angsuran kepada pihak leasing selaku pihak
yang memiliki hak atas kepemilkan kendaraan bermotor (BPKB) tersebut
sebelum adanya pelunasan dari terdakwa. Tindakan terdakwa yang
terbukti secara sah untuk menjual sepeda motor yang masih belum
menjadi haknya adalah tindakan yang melanggar hukum khususnya
tindak pidana penggelapan.
b. Putusan Pengadilan
Pengadilan Negeri : telah membaca berkas perkara, telah mendengar
saksi dan terdakwa dan telah mendengar tuntutan umum yang pada
pokoknya mohon agar majelis memutuskan :
1) menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana terdapat terdakwa dengan pidana penjara selama
2 (dua) tahun dipotong sisa tahanan dengan perintah tetap.
3) menetapkan barang bukti berupa satu unit kendaraan bermotor
Yamaha Vega R Tahun 2005 digunakan dalam perkara lain
57
4) membebankan kepada terdakwa untuk membayar ongkos sebesar
1000 (seribu rupiah).
telah mendengar pembelaan terdakwa yang pokoknya mohon keringanan
hukum. Menimbang bahwa terdakwa dihadapan persidangan karena
didakwa melakukan perbuatan seperti diuraikan dalam surat dakwaan
dalam berkas yang pokoknya berikut :
Primair : Penggelapan
Melanggar : Pasal 372 KUHP
-----menimbang bahwa terdakwa didakwa dengan dakwaan tunggal
subsidaritas.
-----menimbang bahwa di persidangan telah didengar keterangan sanksi
yang kesemuanya menerangklan pada pokoknya sesuai dengan BAP
penyidikan Polri.
----- menimbang bahwa penuntut umum telah mengajukan barang bukti
berupa satu unit sepeda motor Yamaha Vaga R Tahun 2005
digunakan dalam perkara lain.
---- menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum di persidangan majelis
hakim berpendapat bahwa unsur dari pasal 372 KUHP dalam
dakwaan tunggal terbukti, oleh karenanya dijatuhi pidana.
---- menimbang bahwa berdasarkan atas keterangan saksi, dihubungkan
dengan keterangan terdakwa dan barang bukti yang dikenal saksi dan
terdakwa Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan terdakwa telah
memenuhi unsur-unsur dari Pasal 372. Karena itu terdakwa harus
58
dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
perbuatan pidana penggelapan.
---- menimbang karena terdaka dinyatakan bersalah, maka harus dijatuhi
pidana dan membayar ongkos perkara.
---- menimbang bahwa dalam menentukan lasama masa pidana, terlebih
dahulu akan dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan
meringankan sebagai berikut :
Yang memberatkan :
1) Perbuatan terdakwa merugikan orang lain yaitu pihak leasing.
Yang meringankan :
1) Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya.
2) Terdakwa sopan dalam persidangan.
3) Terdakwa belum pernah dihukum
Mengadili :
1) menyatakan terdakwa (BK) terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana atas diri terdakwa tersebut dengan pidana penjara
selama 1 (satu) tahun 10 (sepuluh) bulan.
3) menetapkan agar lamanya terdakwa ditahan sebelum putusan ini
mempunyai kekuatan.
4) menetapkan agar terdakwa tetap di tahan.
5) menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) sepeda motor Yamaha Vega
R Tahun 2005.
59
6) membebankan kepada terdakwa membayar ongkos perkara Rp. 1000
(seribu rupiah).
48

3. Putusan No. 373/Pid.B/2005/PN Malang
a. Uraian singkat perkara
Pada bulan Maret Tahun 2005 Suko selaku terdakwa telah
terbukti melakukan penggelapan sepeda motor berupa 1 (satu) unit sepeda
motor Suzuki Shogun tahun 2004 No Pol. N 2747 BL yang dilakukan
dengan cara menggadaikan sepeda motor tersebut kepada orang lain
sebesar Rp. 1.300.000 (satu juta tiga ratus ribu rupiah), di mana sepeda
motor tersebut masih menjadi hak pihak leasing selama kredit pembelian
sepeda motor belum dilunasi oleh terdakwa. Kronologis kasus tersebut
terungkap pada saat terdakwa selama empat bulan berturut-turut dengan
sengaja tidak membayar cicilan sepeda motor sebesar Rp. 350.000 (tiga
ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan kepada pihak leasing. Ketika
terdakwa di datangi di rumahnya terdakwa selalu menghindar dan pada
suatu saat tepatnya pada hari Rabu tanggal 17 Maret 2005 terdakwa tidak
dapat menghidar ketika pihak leasing datang ke rumahnya. Karena
didesak oleh pihak leasing akhirnya terdakwa mengakui bahwa sepeda
motor yang masih dalam tahap kredit tersebut sudah digadaikan kepada
orang lain. Atas perbuatannya terdakwa telah merugikan pihak leasing
dan didakwa dengan tindak pidana penggelapan.


48
Wawancara dengan Abdulah, Hakim Pengadilan Negeri Kota Malang, tanggal 28 J uli
2007.

60
b. Putusan Pengadilan
Pengadilan Negeri : telah membaca berkas perkara, telah mendengar
saksi dan terdakwa dan telah mendengar tuntutan umum yang pada
pokoknya mohon agar majelis memutuskan :
1) menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti secara sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana terdapat terdakwa dengan pidana penjara selama
2 (dua) tahun dipotong sisa tahanan dengan perintah tetap.
3) menetapkan barang bukti berupa satu unit kendaraan bermotor Suzuki
Shogun Tahun 2004 digunakan dalam perkara lain
6) membebankan kepada terdakwa untuk membayar ongkos sebesar
1000 (seribu rupiah).
telah mendengar pembelaan terdakwa yang pokoknya mohon keringanan
hukum. Menimbang bahwa terdakwa dihadapan persidangan karena
didakwa melakukan perbuatan seperti diuraikan dalam surat dakwaan
dalam berkas yang pokoknya berikut :
Primair : Penggelapan
Melanggar : Pasal 372 KUHP
-----menimbang bahwa terdakwa didakwa dengan dakwaan tunggal
subsidaritas.
-----menimbang bahwa di persidangan telah didengar keterangan sanksi
yang kesemuanya menerangklan pada pokoknya sesuai dengan BAP
penyidikan Polri.
61
----- menimbang bahwa penuntut umum telah mengajukan barang bukti
berupa satu unit sepeda motor Suzuki Shogun Tahun 2004 digunakan
dalam perkara lain.
---- menimbang bahwa berdasarkan fakta hukum di persidangan majelis
hakim berpendapat bahwa unsur dari pasal 372 KUHP dalam
dakwaan tunggal terbukti, oleh karenanya dijatuhi pidana.
---- menimbang bahwa berdasarkan atas keterangan saksi, dihubungkan
dengan keterangan terdakwa dan barang bukti yang dikenal saksi dan
terdakwa Pengadilan Negeri berpendapat perbuatan terdakwa telah
memenuhi unsur-unsur dari Pasal 372. Karena itu terdakwa harus
dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
perbuatan pidana penggelapan.
---- menimbang karena terdaka dinyatakan bersalah, maka harus dijatuhi
pidana dan membayar ongkos perkara.
---- menimbang bahwa dalam menentukan lasama masa pidana, terlebih
dahulu akan dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan
meringankan sebagai berikut :
Yang memberatkan :
1) Perbuatan terdakwa merugikan orang lain yaitu pihak leasing.
Yang meringankan :
1) Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya.
2) Terdakwa sopan dalam persidangan.
3) Terdakwa belum pernah dihukum
62
Mengadili :
1) menyatakan terdakwa (BK) terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana penggelapan.
2) menjatuhkan pidana atas diri terdakwa tersebut dengan pidana penjara
selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan.
3) menetapkan agar lamanya terdakwa ditahan sebelum putusan ini
mempunyai kekuatan.
4) menetapkan agar terdakwa tetap di tahan.
5) menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) sepeda motor Suzuki
Shogun Tahun 2005
6) membebankan kepada terdakwa membayar ongkos perkara Rp. 1000
(seribu rupiah).
49



B. Dasar Hukum Hakim Mengadili Perkara Penggelapan Kendaraan Bermotor
Yang Menjadi Jaminan Leasing Pada Lembaga Pembiayaan
Dasar hukum seorang hakim mengadili perkara penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan yaitu merujuk
pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yaitu di
antara tugas hakim adalah menerima, memeriksa dan mengadili serta
menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya dengan tidak membedakan
orang. Selain itu dasar hukum hakim mengadili perkara penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing karena secara kongkret peristiwa atau

49
Wawancara dengan Abdulah, Hakim Pengadilan Negeri Kota Malang, tanggal 28 J uli
2007.

63
perkara tersebut memenuhi unsur-unsur tidak pidana penggelapan (Pasal 372)
baik unsur obyektif, meliputi perbuatan memiliki (zich toeeigenen), sebagian atau
seluruhnya milik orang lain dan benda berada dalam kekuasaannya bukan karena
tindak pidana. Sedangkan unsur subyektifnya yaitu dengan sengaja dan melawan
hukum. Selanjutnya proses hakim mengadili perkara penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan Leasing pada Lembaga Pembiayaan didasarkan
pada :
1. Adanya Pelimpahan Perkara dari Kejaksaan
Pelimpahan perkara dari kejaksaan ke pengadilan sekaligus
menentukan hukum acara pidananya, antara lain biasa, singkat, cepat.
a. Biasa
Apabila penuntut umum berdasarkan alat-alat bukti yang dibutuhkan, dan
pembuktian agak sulit. Kesulitan tersebut karena jumlah saksi yang baik,
tempat tinggal saksi yang jauh, secara materi memperoleh fakta-fakta dan
memerlukan pemikiran yang komprehensif.
b. Singkat
Apabila penuntut umum merasa yakin, bahwa pembuktiannya mudah.
Kemudahan itu disimpulkan dari saksi-saksinya sedikit, tempat tinggal
yang dekat, secara materiil fakta hukum diperlukan mudah diperoleh
(terdakwa mengaku terus terang).
64
c. Cepat
Pelimpahan ini merupakan tindak pidana ringan (lalu lintas, meskipun
demikian eksekutor tetap kejaksaan.
Dalam perkara tindak penggelapan yang menjadi jaminan leasing
pada lembaga pembiyaan dalam penelitian ini tergolong pelimpahan hukum
acara pidana dengan kategori singkat karena saksi-saksinya sedikit dan juga
terdakwa mengaku terus terang telah menggelapkan karena tuntutan
kebutuhan ekonomi.
2. Adanya surat penetapan Ketua Pengadilan tentang Penunjukan Majelis
Hakim yang menyidangkan perkara.
3. Surat penetapan majelis hakim untuk menentukan hari sidang.
4. Surat dakwaan
Surat dakwaan merupakan dasar hukum/landasan majelis hakim dalam
memeriksa perkara. Surat dakwaan berisi tuntutan penuntut umum yang telah
menguraikan secara rinci dan cermat identitas yang di dakwa melakukan
tindak pidana. Seperti diatur dalam pasal 143 KUHAP. Surat dakwaan secara
materiil berisi dalil-dalil yang menyatakan seseorang telah melakukan tindak
pidana dan dapat diancam dengan pidana menurut pasal-pasal Kitab Hukum
Pidana. Secara formil surat dakwaan harus benar artinya memenuhi
persyaratan pasal 143 KUHAP, apabila formil surat dakwaan tidak sempurna
maka hakim dapat menjatuhkan putusan sela dan menyatakan surat dakwaan
batal. Konsekuensi yuridis terhadap surat dakwaan batal, maka :
a. dakwaan batal demi hukum ;
b. berkas perkara dikembalikan kepada penuntut umum ;
65
c. Hakim memerintahkan agar terdakwa dikeluarkan dri tahanan ;
Akibat dari itu surat dakwaan yang batal demi hukum oleh hakim maka
penuntut umum dituntut membuat surat dakwaan yang baru dengan
menyempurnakan materi surat dakwaan.
d. Tersangka tidak dapat ditahan lagi ;
Konsekuensi dalam tidak dapat ditahan adalah suatu hal yang perlu
dipahami dalam penegak hukum bahwa meskipun surat dakwaan batal
demi hukum bukan berarti perkaranya diberhentikan.
e. Kedudukan surat dakwaan merupakan dalil-dalil penuntut umum yang
harus dan wajib dibuktikan di pengadilan, penunut umum dalam
memberikan surat dakwaannya harus periksa alat bukti sebagaimana
ditentukan dalam KUHAP
Di dalam bagian keempat diatur mengenai sistem pembuktian
macam- macam alat bukti dan kekuatan pembuktian. Pembuktian
merupakan masalah yang memegang peranan penting dalam proses
pemeriksaan sidang pengadilan dan dengan pembuktian inilah ditentukan
nasib tersangka. Oleh karena itu, para hakim harus hati-hati, cermat dan
matang menilai dan mempertimbangkan masalah pembuktian. Dan
mengenai alat bukti yang sah tersebut diatur di dalam pasal 184 ayat 1
KUHAP yang meliputi :
1) Keterangan saksi
Menurut pasal 1 angka 27 KUHAP keterangan saksi adalah
salah satu alat bukti mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar
sendiri, ia melihat sendiri dan ia lami sendiri dengan menyebut alasan
66
dari pengetahuannya itu. Di dalam keterangan saksi terdapat suatu
pengecualian dalam memberikan kesaklsian hal ini diatur dalam pasal
168 KUHAP yang meliputi :
a) Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga dari tersakwa atau yang bersama-
sama sebagai terdakwa.
b) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa
saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai
hubunhan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa
sampai derajat ketiga.
c) Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang
bersama-sama sebagai terdakwa.

Agar suatu kesaksian mempunyai kekuatan sebagai alat bukti,
maka harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a) Syarat obyektif
b) Syarat formal
c) Syarat subyektif atau material
2) Keterangan Ahli
Menurut Pasal 1 angka 28 KUHAP adalah keterangan yang
diberikan oleh seseorang yang memiliki kehlian khusus tentang hal
yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan.Dari ketentuan di atas, maka keterangan ahli
tidak dituntut suatu pendidikan formal tertentu, tetapi juga meliputi
seorang yang ahli dan berpengalaman dalam suatu bidang tanpa
67
pendidikan khusus. Dalam memberikan kesaksiannya, keterangan ahli
wajib megucapkan sumpah atau janji menurut cara agama yang
dianutnya.
Dalam Pasal 108 KUHAP menerangkan bahwa tidak semua
keterangan ahli dapat dinilai sebagai alat bukti, melainkan yang dapat
memenuhi syarat-syarat kesaksian adalah yang diberikan dimuka
persidangan. Suatu keterangan ahli baru mempunyai nilai pembuktian,
bila ahli tersebut dimuka hakim harus bersumpah terlebih dahulu
sebelum memberikan keterangannya. Kekuatan alat bukti keterangan
ahli bersifat bebas, karena tidak mengiakat seorang hakim untuk
memakainya apabila beretentangan dengan keyakinannya.Keterangan
ahli dipersidangka merupakan alat bantu bagi hakim untuk
menemukan kebenaran dan hakim bebas mempergunakan sebagai
pendapatnya sendiri atau tidak. Namun sekalipun demikian, hakim
dalam mempergunakan kebabasan tersebut haruslah bertanggung
jawab.
3) Surat
Surat adalah segala sesuatu yang mengandung tanda-tanda baca yang
dapat dimengerti, dimaksud untuk mengeluarkan isi pikiran.
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat 1 huruf c KUHAP,
dibuat atas sumpah jabatan atau dibuatkan dengan sumpah. Hal ini
diatur dalam Pasal 187 KUHAP yaitu :
a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh
Pejabat Umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya,
68
yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang
didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan
alasan yang jelas dan tegas tentang keterngannya itu.
b) Surat yang dibuat menurut ketentuan Perundang-undangan atau
surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam
tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang
diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.
c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat
berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu
keadaan yang diminta secara resmi dari padanya .
d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dari isi
alat pembuktian yang lain.
4) Petunjuk
Menurut Pasal 188 ayat 1 KUHAP Petunjuk adalah perbuatan,
kejadian atau keadaan, yang karena persesuainya, baik antara yang
satu dengan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri,
menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa
pelakunya33. Patunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat 1 hnnya
dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa.
Sedangkan penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk
dilakukan oleh hakim. Dalam mempergunakan alat bukti petunjuk,
tugas hakim akan lebih sulit, ia harus mencari hubungan antara
perbuatan, kejadian atau perbuatan,menarik kesimpulan yang perlu
serta mengkombinasikan akibat-akibatnya dan akhirnya sampai pada
69
suatu keputusan tentang tebukti atau tidaknya sesuatu yang telah
didakwakan.
5) Keterangan Terdakwa
Menurut Pasal 189 ayat 1 KUHAP keterangan terdakwa adalah
apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia
lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Dalam
memberikan keterangan terdakwa memiliki hak untuk menyangkal
keterangan sendiri di penyidik atau keterangan saksi. Dalam hal
menyangkal keterangan saksi maupun keterangan sendiri terdakwa
harus dapat membuktikan semua yang disangkal/dibanath dalam
keterangan halnya penggelapan barang yang dialihkan ke orang
lain/dipindah tangankan dari leasing
f. Barang bukti
Barang bukti yang diajukan di persidangan adalah suatu benda/obyek
pidana. Barang atau benda yang menjadi obyek pidana harus dilakukan
penyitaan oleh Ketua Pengadilan Negeri. Dalam praktek penyitaan
dilakukan petugas Kepolisian. Tindakan seperti tersebut semata-mata
mengamankan barang bukti agar tidak hilang dihilangkan oleh petugas
Kepolisian. Petugas mengajukan permohonan persetujuan sita terhadap
Ketua Pengadilan hal tersebut untuk memenuhi syarat-syarat yang ada di
dalam KUHAP.
Dalam perkara penggelapan kendaraan bermotor yang disita tidak
hanya motor melainkan STNK dan BPKB. Penyitaan BPKB akan
70
membuat terang serta menunjukkan pemilik kendaraan bermotor yang
sesungguhnya.
50


C. Dasar Pertimbangan Hakim Menjatuhkan Lamanya Pidana Penggelapan
Kendaraan Bermotor Yang Menjadi Jaminan Leasing pada Lembaga
Pembiayaan
Pelimpahan perkara pidana ke pengadilan merupakan perwujudan dari
penegakan hukum yang sesuai dengan ketentuan undang-undang berlaku.
Penegakan hukum pidana menurut hukum tidak hanya berdasarkan hukum
materiil (KUHP) tetapi juga harus memenuhi syarat di mana ditentukan dalam
Undang-Undang Formil. Hukum Pidana Formil/acara ditentukan dalam Undang-
Undang No. 8 tahun 1981. Siapa pun yang melakukan tindak pidana secara
inperatif harus diproses menurut Hukum Acara Pidana (KUHAP). Sedangkan
penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dengan dilandaskan pada Undang-
Undang No. 4 Tahun 2004.
Dalam pemeriksaan dan mengadili perkara pidana khususnya pada tindak
pidana penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada
lembaga pembiayaan semua pihak telah diatur dalam KUHAP. Dalam mengadili
perkara pada akhirnya Hakim akan memutus dengan berdasarkan adanya
premisse mayor (peraturan hukumnya) dan premisse minor (peristiwanya). Di
mana dalam memberikan putusan tersebut hakim juga perlu memperhatikan
faktor-faktor yang seharusnya diterapkan secara proporsional yaitu : keadilan,
kepastian hukumnya dan kemanfaatannya.

50
Wawancara dengan Abdulah, Hakim Pengadilan Negeri Kota Malang, tanggal 28 J uli
2007.

71
Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan masa lamanya pidana pada
perkara penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada
lembaga pembiayaan pasal 372 dipengaruhi oleh pemahaman hakim terhadap
sistem pemidanaan baik aliran modern maupun klasik yang memunculkan ide
individualisasi pidana dengan mempertimbangkan unsur-unsur pemidanaan,
antara lain: kemanusiaan, edukatif dan keadilan serta tujuan pemidanaan yaitu
mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi
pengayoman masyarakat, memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan
pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna, menyelesaikan
konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan dan
mendatangkan rasa damai dalam masyarakat dan membebasakan rasa bersalah
pada terpidana.
Dalam hukum pidana positif di Indonesia, legislator memberikan peluang
dan kebebasan yang relatif kepada hakim untuk memilih jenis pidana, berat
ringannya pidana dan cara bagaimana pidana tersebut dilaksanakan. Dalam hal
ini jenis sanksi pidana, peluang dan kebebasan hakim untuk memilih bentuk
sanksi yang dikehendakinya, teridentifikasi dari pencantuman sanksi pidana yang
menggunakan baik sistem alternatif maupun komulatif dalam perundang-
undangan pidana positif. Sedangkan jenis pidana yang pada umumnya
dicantumkan dalam perumusan delik menurut pola KUHP ialah pidana pokok,
yang dalam penelitian dapat diidentifikasi bahwa sanksi pidana pada perkara
penggelapan dalam penelitian ini adalah dakwaan tunggal yaitu hanya pidana
penjara, kurangan atau denda karena tidak ada pidana mati atau pidana seumur
hidup yang diancam secara tunggal.
72
Implementasi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan lamanya pidana
pada perkara penggelapan dapat dilihat dari adanya pertimbangan hakim terhadap
hal-hal yang memberatkan maupun meringankan terdakwa, di mana yang
memberatkan adalah : telah merugikan pihak lain dan yang meringankan antara
lain adalah terdakwa mengakui perbuatannya, terdakwa sopan dalam persidangan
dan terdakwa tidak pernah dihukum. Dari fenomena tersebut juga menunjukkan
adanya disparitas dalam proses persidangan di mana hakim mempertimbangkan
seluruh elemen yang relevan dalam perkara individu tentang pemidanaannya.
Disparitas tidak secara otomatis mendatangkan kesejanjangan yang tak adil.
Demikian pula persamaan dalam pemidanaan tidak secara otomatis
mendatangkan pidana yang tepat. Itulah yang menjadi dasar pembenaran
pemberian pidana in concreto atau tahap kebijakan yudikasi. Namun yang urgen
adalah sejauhmanakah disparitas tersebut mendasarkan diri atas reasonable
justification.
73
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pada uraian hasil penelitian sebelumnya, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Dasar hukum seorang hakim mengadili perkara penggelapan kendaraan
bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan yaitu
merujuk pada Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman dan unsur-unsur tidak pidana penggelapan pada Pasal 372 baik
unsur obyektif dan subyektif.
2. Dasar pertimbangan hakim menjatuhkan lamanya pidana dalam perkara
kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga pembiayaan
adalah adanya premisse mayor (peraturan hukumnya) dan premisse minor
(peristiwanya). Dalam memberikan putusan tersebut hakim juga
memperhatikan faktor-faktor yang seharusnya diterapkan secara proporsional
yaitu : keadilan, kepastian hukumnya dan kemanfaatannya yang
diimplementasikan pada pemahaman hakim terhadap sistem pemidanaan
maupun unsur-unsur pemidanaan seperti dengan melihat hal-hal yang
memberatkan maupun meringankan terdakwa, di mana yang memberatkan
adalah : telah merugikan pihak lain dan yang meringankan antara lain adalah
terdakwa mengakui perbuatannya, terdakwa sopan dalam persidangan dan
terdakwa tidak pernah dihukum.


B. Saran-saran


74
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan penulis dalam kasus
penggelapan kendaraan bermotor yang menjadi jaminan leasing pada lembaga
pembiayaan adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan kepada masyarakat untuk berhati-hati dengan maraknya tindak
pidana penggelapan dengan berbagai modus, sehingga dapat diminimalisasi
terjadi tindak pidana tersebut yang meresahkan dan merugikan orang lain.
2. Dalam kebijakan legislasi khuusnya kasus pidana penggelapan tidak dapat
dipungkiri terjadi disparitas pidana, karena menyangkut persoalan sampai
sejauhmana hal itu sebagai akibat yang tidak terelakkan dari kewajiban hakim
untuk mempertimbangkan seluruh elemen yang relevan dalam perkara
individu tentang pemidanaannya, namun yang paling penting hendaknya
disparitas tersebut mendasarkan diri atas reasonable justification.
3. Hendakanya dalam menjatuhkan putusan pidana hakim berpatokan pada
tujuan pemidanaan yaitu mencegah dilakukannya tindak pidana dengan
menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat, memasyarakatkan
terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik
dan berguna, menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana,
memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat
dan membebasakan rasa bersalah pada terpidana.
DAFTAR PUSTAKA

Adam Chazawi, Kejahatan Terhadap Harta Benda, Universitas Negeri Malang ,
2001.

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, J akarta, 2001.

Burhan Ashsofa, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta. J akarta. 2001.

Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Ilmu Sosial. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta. 1985.

Husnan, Suad. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan. Edisi Ketiga. Buku
Satu. Penerbit BPFE. Yogyakarta.

Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana, Citra Aditya Abadi, Bandung, 1996.

M. Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, PT. RajaGrafindo Persada.
J akarta. 2003.

Muladi, Hak Azasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Penerbit
Universitas Diponegoro, Semarang. 1997.

PAF Lamintang, Hukum Pidana Indonesia. Sinar Baru, Bandung, 1990.

Ronny Hanitijo Soemitro. Metodologi Penelitian Hukum. Ghalia Indonesia. J akarta.
1988.

Siamat, Dahlan.. Manajemen Lembaga Keuangan. Cetakan Pertama. Penerbit
Intermedia. J akarta. 1995.

Seokadi, Eddy P. Mekanisme Leasing. Cetakan Kedua. Penerbit Ghalia Indonesia.
J akarta. . 1990.

Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentarnya.
Politea, Bogor, 1996

Sudarsono, Kamus Hukum, Rineka Cipta, J akarta, 2002.

Tongat, Hukum Pidana Materiil, Universitas Muhammadyah Malang, 2003.

Wahyu Afandi, Hakim dan Hukum Dalam Praktek. Alumni, Bandung, 1978.

Winarno Surakhmad, Paper, Spripsi, Tesis, Desertasi. Tarsito. Bandung, 1981.