Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

KARBOHIDRAT
Dosen Pembimbing : Siti Imroatul Maslikah, S.Si., M.Si,


Kelompok : 1
Offering: A
1. Endah Puspa Rini (130341603366)
2. Endah Wahyuningtias (130341603381)
3. Muhammad Fahrurrizal A. (130341603373)
4. Nila Wahyuni (130341603392)
5. Santy Faiqotul H (130341603399)
6. Sovi Makhmudah (130341603393)


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2013

KARBOHIDRAT

TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia karbohidrat,
mengetahui jenis-jenis karbohidrat, reaksi-reaksi identifikasi dan sifat-sifat karbohidrat dan
membuktikan kandungan karbohidrat pada suatu zat berdasarkan reaksi-reaksi tertentu.

DASAR TEORI

Karbohidrat berfungsi sebagai penyedia energi yang utama. Protein dan lemak berperan
juga sebagai sumber energi bagi tubuh kita, tetapi karena sebagian besar makanan terdiri atas
karbohidrat, maka karbohidratlah yang terutama merupakan sumber energi utama bagi tubuh.
Amilum atau pati, selulosa, glikogen, gula atau sukrosa dan glukosa merupakan beberapa
senyawa karbohidrat yang penting dalam kehidupan manusia. Molekul karbohidrat terdiri atas
atom-atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan
perbandingan 2:1 seperti pada molekul air. Dahulu orang berkesimpulan adanya air dalam
karbohidrat. Karena hal ini maka dipakai kata karbohidrat, yang berasal dari kata karbon dan
hidrat atau air. Walaupun pada kenyataannya senyawa karbohidrat tidak mengandung molekul
air, kata karbohidrat tetap digunakan. Senyawa karbohidrat tidak hanya ditinjau dari rumus
empirisnya saja, tetapi yang penting ialah rumus strukturnya. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus fungsi yaitu gugus OH, gugus
aldehida atau gugus keton. Struktur karbohidrat selain mempunyai hubungan dengan sifat kimia
yang ditentukan dengan sifat fisika, dalam hal ini juga aktivitas optik. (McGilvery&Goldstein,
1996)
Jika kristal glukosa murni dilarutkan dalam air, maka larutannya akan memutar cahaya
terpolarisasi ke arah kanan. Namun bila larutan itu dibiarkan beberapa waktu dan diamati
putarannya, terlihat bahwa sudut putaran berubah menjadi semakin kecil, hingga lama-kelamaan
menjadi tetap. Peristiwa ini disebut mutarotasi, yang berarti perubahan rotasi atau perputaran.
(McGilvery & Goldstein, 1996)
Sir Walter Norman Haworth (1883-1950) seorang ahli kimia Inggris yang pada tahun 1937
memperoleh hadiah nobel untuk ilmu kimia, berpendapat bahwa pada molekul glukosa kelima
atom karbon yang pertama dengan atom oksigen dapat membentuk cincin segi enam. Oleh
karena itu, ia mengusulkan penulisan rumus struktur karbohidrat sebagai bentuk cincin furan
atau piran.



Monosakarida
Monosakarida adalah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas
beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis dalam kondisi lunak
menjado karbohidrat lain. Monosakarida yang paling sederhana adalah gliseraldehida dan
dihidroksiaseton. Gliseraldehida disebut aldotriosa karena terdiri atas tiga atom karbon dan
mempunyai gugus aldehida. Dihidroksiaseton dinamakan ketotriosa karena terdiri atas tiga atom
karbon dan mempunyai gugus keton. Monosakarida yang terdiri atas empat atom karbon disebut
tetrosa dengan rumus C4H8O4. Eritrosa adalah contoh aldotetrosa dan eritrulosa adalah suatu
ketotetrosa. Pentosa adalah monosakarida yang mempunyai lima atom karbon. Contoh pentosa
adalah ribosa dan ribulosa. Dari rumusnya kita dapat mengetahui bahwa suatu ketopentosa.
Pentosa dan heksosa (C6H12O6) merupakan monosakarida yang penting dalam kehidupan.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
1. Glukosa
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat
dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-
buahan dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau
konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini
dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam
sesudah itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Pada orang yang
menderita diabetes mellitus, jumlah glukosa darah lebih dari 130 mg per 100 ml darah
(McGilvery&Goldstein, 1996). D-glukosa memiliki sifat mereduksi reagen Benedict,
Haynes, Barfoed, gula pereduksi, memberi osazon dengan fenilhidrazina,
difermentasikan oleh ragi dan dengan HNO3 membentuk asan sakarat yang larut (Harper
et al, 1979).
2. Fruktosa
Madu lebah selain mengandung glukosa juga mengandung fruktosa. Fruktosa adalah
suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan
karenanya disebut juga levulosa. Pada umumnya monosakarida dan disakarida
mempunyai rasa manis. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis daripada glukosa, juga
lebih manis daripada gula tebu atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa
dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan resorsinol (1,3 dihidroksi benzene) dalam asam
HCl. Dengan pereaksi ini, mula-mula fruktosa diubah menjadi hidroksimetilfurfural yang
selanjutnya bereaksi dengan resorsinol membentuk senyawa yang berwarna merah.
pereaksi Seliwanoff ini khas untuk menunjukkan adanya ketosa. Fruktosa berikatan
dengan glukosa membentuk sukrosa, yaitu gula yang biasa digunakan sehari-hari sebagai
pemanis, dan berasal dari tebu atau bit (McGilvery&Goldstein, 1996). D-fruktosa
mempunyai sifat mereduksi reagen Benedict, Haynes, Barfoed (gula pereduksi),
membentuk osazon dengan fenilhidrazina yang identik dengan osazon glukosa,
difermentasi oleh ragi dan berwarna merah ceri dengan reagen Seliwanoff resorsinol-HCl
(Harper et al, 1979).
3. Galaktosa
Monosakarida ini jarang terdapat bebas dalam alam. Umumnya berikatan dengan glukosa
dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai rasa
kurang manis daripada glukosa dan kurang larut dalam air. Galaktosa mempunyai sifat
memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan. D-galaktosa mempunyai sifat mereduksi
reagen Benedict, Haynes dan Barfoed, membentuk osazon yang berbeda dengan dua
monosakarida sebelumnya (glukosa dan fruktosa), dengan reagen floroglusinol memberi
warna merah, dan dengan HNO3 membentuk asam musat (Harper et al, 1979).
Pada proses oksidasi oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas, galaktosa
menghasilkan asam musat yang kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam
sakarat yang dihasilkan oleh oksidasi glukosa. Pembentukan asam musat ini dapat
dijadikan cara identifikasi galaktosa, karena kristal asam musat mudah dimurnikan dan
diketahui bentuk kristal maupun titik leburnya. (McGilvery&Goldstein, 1996)
4. Pentosa
Beberapa pentosa yang penting diantaranya adalah arabinosa, xilosa, ribosa dan 2-
deoksiribosa. Keempat pentosa ini adalah aldopentosa dan tidak terdapat dalam keadaan
bebas di alam. Arabinosa diperoleh dari gum arab dengan jalan hidrolisis, sedangkan
xilosa diperoleh dari proses hidrolisis terhadap jerami atau kayu. Xilosa terdapat pada
urine seseorang yang disebabkan oleh suatu kelainan pada metabolisme karbohidrat.
Kondisi seseorang sedemikian itu disebut pentosuria. Ribosa dan deoksiribosa merupakan
komponen dari asam nukleat dan dapat diperoleh dengan cara hidrolisis. Dari rumusnya
tampak bahwa deoksiribosa kekurangan satu atom oksigen dibanding dengan ribosa.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
Oligosakarida
Senyawa yang termasukoligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa
molekul monosakarida. Dua molekul monosakarida yang berikatan satu dengan yang lain,
membentuk satu molekul disakarida. Oligosakarida yang lain adalah trisakarida yaitu yang terdiri
atas tiga molekul monosakarida dan tetrasakarida yang terbentuk dari empat molekul
monosakarida. Oligosakarida yang paling banyak terdapat di alam adalah disakarida.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
1.Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari tebu meupun dari bit.
Selain dari tebu dan bit, sukrosa terdapat pada tumbuhan lain, misalnya dalam buah nanas dan
dalamwortel. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa, yaitu antara atom
karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada fruktosa melalui atom oksigen.
Kedua atom karbon tersebut adalah atom karbon yang mempunyai gugus OH glikosidik atau
atom karbon yang merupakan gugus aldehida pada glukosa dan gugus keton pada fruktosa. .
Oleh karena itu molekul sukrosa tidak mempunyai sifat dapat mereduksi ion-ion Cu 2+ atau Ag+
dan juga tidak membentuk osazon. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Sukrosa mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Hasil yang diperoleh dari
reaksi hidrolisis adalah glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang ekuimolekuler. Glukosa
memutar cahaya terpolarisasi ke kanan, sedangkan fruktosa ke kira. Oleh karena fruktosa
memiliki rotasi spesifik lebih besar dari glukosa, maka campuran glukosa dan fruktosa sebagai
hasil hidrolisis itu memutar ke kiri. Proses ini disebut inverse. hasil hidrolisis sukrosa yaitu
campuran glukosa dan fruktosa disebut gula invert. Madu lebah sebagian besar terdiri atas gula
invert dan dengan demikian madu mempunyai rasa lebih manis daripada gula. Apabila kita
makan makanan yang mengandung gula, maka dalam usus halus, sukrosa akan diubaha menjadi
glukosa dan fruktosa oleh enzim sukrase atau invertase. (McGilvery&Goldstein, 1996)
2.Laktosa
Dengan menghidrolisis laktosa akan menghasilkan D-galaktosa dan D-gluokosa, karena itu
laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1
pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa. Oleh karenanya molekul laktosa
mempunyai sifat mereduksi gugus OH glikosidik. Dengan demikian laktosa memiliki sifat
mereduksi dan mutarotasi. Biasanya laktosa mengkristal dalam bentuk . Dalam susu terdapat
laktosa yang sering disebut gula susu. Pada wanita yang seadng dalam masa laktasi atau masa
menyusui, laktosa kadang-kadang terdapat dalam urine dengan konsentrasi yang sangat rendah.
Dibandingkan dengan glukosa, laktosa memiliki rasa yang kurang manis. Apabila laktosa
dihidrolisis kemudian dipanaskan dengan asam nitrat akan terbetuk asam musat.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
3.Maltosa
Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. ikatan yang terjadi
ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya maltosa masih
mempunyai gugus OH glikosidik dan dengan demikian masih mempunyai sifat mereduksi.
Maltosa merupakan hasil antara dalam proses hidrolisis amilum dengan asam maupun dengan
enzim. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Telah diketahui bahwa hidrolisis amilum akan memberikan hasil akhir glukosa. Dalam tubuh
kita amilum mengalami hidrolisis menjadi maltosa oleh enzim amylase. maltosa ini kemudian
diuraikan oleh enzim maltase menjadi glukosa yang digunakan oleh tubuh. Maltosa mudah larut
dalam air dan mempunyai rasa yang lebih manis daripada laktosa, tetapi kurang manis daripada
sukrosa. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Urutan tingkat rasa manis pada beberapa mono dan disakarida

Polisakarida
Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan
oligosakarida, Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida
yang terdiri atas satu macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang
menagdung senyawa lain disebut heteropolisakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa
berwarna putih dan tidak berbentuk kristal, tidak memiliki rasa manis dan tidak memiliki sifat
mereduksi. Berat molekut polisakarida bervariasi dari beberapa ribu hingga lebih dari satu juta.
Polisakarida yang dapat larut dalam air akan membentuk larutan koloid. beberapa polisakarida
yang penting diantaranya adalah amilim, glikogen, dekstrin dan selulosa.
(McGilvery&Goldstein, 1996)

1.Amilum
Polisakarida ini terdapat banyak di alam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau
dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian.
(McGilvery&Goldstein, 1996)
Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa,
yaitu amilosa (kira-kira 20-28%) dan sisanya amilopektin. Amilosa terdiri atas 250-300 unit D-
glukosa yang terikat dengan ikatan 1,4-glikosidik, jadi molekulnya merupakan rantai terbuka.
Amilopektin juga terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan 1,4-
glikosidik dan sebagian lagi ikatan 1,6-glikosidik. Adanya ikatan 1,6-glikosidik ini menyebabkan
terjadinya cabang, sehingga molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang.
Molekul amilopektin lebih besar daripada molekul amilosa karena terdiri atas lebih dari 1.000
unit glukosa. Butir-butir pati tidak larut dalam air dingin tetapi apabila suspensi dalam air
dipanaskan, akan terbentuk suatu larutan koloid yang kental. larutan koloid ini apabila diberi
larutan iodium akan berwarna biru. Warna biru tersebut disebabkan oleh molekul amilosa yang
membentuk senyawa. Amilopektin dengan iodium akan memberikan warna ungu atau merah
lembayung. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan
glukosa. hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amylase. Dalam ludah dan dalam
cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amylase yang bekerja terhadap amilum yang
terdapat dalam makanan kita. Oleh enzim amylase, amilum diubah menjadi maltosa dalam
bentuk maltosa. (McGilvery&Goldstein, 1996)
2.Glikogen
Seperti amilum, glikogen juga menghasilkan D-glukosa pada proses hidrolisis. Pada tubuh kita
glikogen terdapat dalam hati dan otot. hati berfungsi sebagai tempat pembentukan glikogen dari
glukosa. Apabila kadar glukosa dalam darah bertambah, sebagian diubah menjadi glikogen
sehingga kadar glukosa dalam darah normal kembali. Sebaliknya apabila kadar glukosa dalam
darah menurun, glikogen dalam hati diuraikan menjadi glukosa kembalu, sehingga kadar glukosa
darah normal kembali. Glikogen yang ada di dalam otot digunakan sebagai sumber energi untuk
melakukan aktivitas sehari-hari. Dari alam glikogen terdapat pada kerang dan pada alga rumput
laut. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Glikogen yang terlarut dalam air dapat diendapkan dengan jalan menambahkan etanol. Endapan
yang terbentuk apabila dikeringkan berbentuk serbuk putih. Dengan iodium, glikogen
menghasilkan warna merah. Struktur glikogen serupa dengan struktur amilopektin yaitu
merupakan rantai glukosa yang mempunyai cabang. (McGilvery&Goldstein, 1996)
3.Dekstrin
Pada reaksi hidrolisis parsial, amilum terpecah menjadi molekul-molekul yang lebih kecil yang
dikenal dengan nama dekstrin. jadi dekstrin adalah hasil antara proses hidrolisis amilum sebelum
terbentuk maltosa. tahap-tahap dalam proses hidrolisis amilum serta warna yang terjadi pada
reaksi dengan iodium adalah sebagai berikut :





4.Selulosa
Selulosa terdapat dalam tumbuhan sebagai bahan penbentuk dinding sel. Serat kapas boleh
dikatakan seluruhnya adalah selulosa. Dalam tubuh kita selulosa tidak dapat dicernakan karena
kita tidak mempunyai enzin yang dapat menguraikan selulosa. Dengan asam encer tidak dapat
terhidrolisis, tetapi oleh asam dengan konsentrasi tinggi dapat terhidrolisis menjadi selobiosa dan
D-glukosa. Selobiosa adalah suatu disakarida yang terdiri atas dua molekul glukosa yang
berikatan glikosidik antara atom karbon 1 dengan atom karbon 4. (McGilvery&Goldstein, 1996)


Beberapa sifat kimia
Berbeda dengan sifat fisika yang telah diuraikan, yaitu aktivitas optik, sifat kimia karbohidrat
berhubungan erat dengan gugus fingsi yang terdapat pada molekulnya, yaitu gugus OH
aldehida dan gugus keton. (McGilvery&Goldstein, 1996)
a. Sifat mereduksi

Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi terutama dalam
suasana basa. Sifat sebagai reduktor ini dapat digunakan untuk keperluan identifikasi karbohidrat
maupun analisis kuantitatif. Sifat mereduksi ini disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau
keton bebas dalam molekul karbohidrat. Sifat ini tampak pada reaksi reduksi ion-ion logam
misalnya ion Cu 2+ dan ion Ag+ yang terdapat pada pereaksi-pereaksi tertentu. Beberapa contoh
diberikan sebagai berikut:
Pereaksi Benedict

Pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan
natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang
kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat
membuat peraksi benedict bersifat basa lemah. Endapat yang terbentuk dapat berwarna
hijau, kuning atau merah bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi
karbohidrat yang diperiksa. Pereaksi Benedict lebih banyak digunakan pada pemeriksaan
glukosa dalam urine daripada pereaksi Fehling karena beberapa alasan. Apabila dalam
urine terdapat asam urat atau kreatinin, kedua senyaea ini dapat mereduksi pereaksi
Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict. Di samping itu pereaksi
Benedict lebih peka daripada pereaksi Fehling. Penggunaan pereaksi Benedict juga lebih
mudah karena hanya terdiri atas satu macam larutan, sedangkan pereaksi Fehling terdiri
atas dua macam larutan. (McGilvery&Goldstein, 1996)

Uji molisch
Uji molisch merupakan uji kualitatif untuk menentukan adanya kabohidrat dalam suatu
sampel. Untuk melakukan Uji molisch digunakan reagen kimia yang berupa larutan
naftol dalam alkohol. Apabila suatu sampel tersebut mengandung kabohidrat maka
larutan tersebut akan berubah menjadi warna merah unggu. Prinsip dari uji adalah asam
sulfat (H
2
SO
4
) pekat akan mengdehidrasi senyawa yang ada dalam karbohidrat
menghasilkan furfural dan derivat karbohidrat. Kondensasi dari hidroksi metal furfural
(heksosa) atau furfural (pentosa) yang telah terbentuk akan bereaksi dengan alfa-naftol
membentuk suatu cincin berwarna ungu. Reaksi positif ditandai dengan munculnya
cincin ungu di purmukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel. Alfa-naftol berfungsi
sebagai indikator warna, sedangkan HSO berfungsi untuk menghidrolisis glukosa
(heksosa) menjadi hidroksimetil fufural atau arabinosa (pentosa). Reaksi Molisch ini
positif untuk semua karbohidrat ( Kusnawidjaya, 1983).
a. Pada pentosa
H O

CH
2
OHHCOHHCOHHCOHC=O + H
2
SO
4
CH +


OH
(Pentosa) ( Furfural ) (-naftol)












b. Pada heksosa

H

CH
2
OHHCOHHCOHHCOHHCOHC=O + H
2
SO
4
Heksosa


O


H
2
C CH +

OH OH
5-hidroksimetil furfural -naftol


Rumus dari cincin ungu yang terbentuk adalah sebagai berikut:
O




__SO
3
H
H
2
C C OH


(Cincin ungu senyawa kompleks)

Untuk uji negatif pada uji molisch adalah tidak terbentuk cincin berwarna ungu karena
tidak terjadi dehidrasi pada larutan uji oleh HSO yang tidak menghasilkan furfural dan
derivat karbohidrat. Oleh karena tidak adanya furfural dan derivat karbohidrat yang
terbentuk maka larutan alfa-naftol pun tidak akan memberikan reaksi terbentuknya cincin
ungu. Uji molisch ini hanya uji secara umum untuk menguji ada tidaknya suatu bahan
mengandung karbohidrat.

b. Pembentukan furfural

Dalam larutan asam yang encer, walaupun dipanaskan, monosakarida umumnya stabil.
Tetapi apabila dipanaskan dengan kuat yang pekat, monosakarida menghasilkan furfural
atau derivatnya. Reaksi pembentukan furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan
molekul air dari seatu senyawa. (McGilvery&Goldstein, 1996)
Pentosa-pentosa hampir secara kuantitatif semua terdrhidrasi menjadi furfural. Dengan
dehidrasi heksosa-heksosa menghasilkan hidroksimetilfurfural. Oleh karena furfural dan
derivatnya dapat membentuk senyawa yang berwarna apabila direaksikan dengan
naftol atau timol, reaksi ini dapat digunakan sebagai reaksi pengenal karbohidrat.
Pereaksi Molisch terdiri atas larutan naftol dalam alkohol. Apabila pereaksi ini
ditambahkan pada larutan glukosa misalnya, kemudian secara hati-hati ditambahkan
asam sulfat pekat, akan terbentuk dua lapisan zat cair. Pada batas antara kedua lapisan itu
akan terjadi warna ungu karena terjadi reaksi kondensasi antara furfural dengan naftol.
Walaupun reaksi ini tidak spesifik untuk karbohidrat, namun dapat digunakan sebagai
reaksi pendahuluan dalam analisis kualitatif karbohidrat. Hasil negatif merupakan suatu
bukti bahwa tidak ada karbohidrat. (McGilvery&Goldstein, 1996). Tes ini berguna untuk
mengetahui pengaruh asam terhadap sakarida. Satu cincin merah-ungu menunjukkan
adanya karbohidrat (Harper et al, 1979).
c. Pembentukan Osazon

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk
osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai
bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat. Pada reaksi
antara flukosa dengan fenilhirazina, mula-mula terbentuk D-glukosafenilhidrazon,
kemudian reaksi berlanjut hingga terbentuk D-glukosazon. Glukosa, fruktosa dan
amanosa dengan fenilhidrazon menghasilkan osazon yang sama. Dari struktur ketiga
monosakarida tersebut tampak bahwa posisi gugus OH dan atom H pada atom karbon
nomor 3,4, dan 5 sama. Dengan demikian osazon yang terbentuk memiliki struktur yang
sama. (McGilvery&Goldstein, 1996).




















ALAT DAN BAHAN
ALAT
1 Tabung Reaksi
2 Kaki Tiga
3 Spiritus
4 Penjepit tabung reaksi
5 rak tabung reaksi
6 Pipet tetes
7 Kertas saring
8 gelas ukur

BAHAN
1 Amilum
2 HCl
3 Asam sulfat pekat (H
2
SO
4
pekat)
4 Serbuk Selulosa
5 Kertas Filter
6 Larutan naftol
7 glukosa
8 Larutan Iod
9 NaOH
10 Reagen Benedict



CARA KERJA
1. Uji Kelarutan dan Percobaan Molisch
a Amilum






b Selulosa






c Monosakarida








Ambil Larutan amilum
Bubuhi dengan
beberapa tetes larutan
naftol dalam alkohol
Tuang lahan-lahan asam
sulfat pekat melalui
dinding
Hingga terjadi batasan
cincin
HASIL
Sobek kertas filter atau
serbuk selulosa
Masukkan ke dalam 2cc
air
Teteskan larutan naftol
Dan dengan asam sulfat
pekat di batasi cincin
HASIL
Ambil Larutan glukosa
1ml
Tambah 2 tetes 10%
naftol yang baru
Campur aliran 1 ml
H
2
SO
4
pekat
Hingga membentuk
lapisan di cawan
campuran
HASIL
2 Percobaan Iod






3 Percobaan Benedict






4 Hidrolisis Selulosa










Ambil Larutan amilum
dalam 1-2ml
Tambah 1 tetes larutan
iod
Bandingkan perubahan
warna yang terjadi bila di
panaskan, dinginkan dan di
tambah NaOH
HASIL
Ambil Reagen benedict
2ml
Tambah 2 tetes larutan
yang di periksa
Panaskan dalam api
selama 2-3 menit
Amati perubahan warna
yang terjadi
HASIL
Potong kertas saring
secukupnya
Basahi dengan air Tambah asam sulfat
pekat perlahan-lahan
Di aduk dan di panaskan
setelah itu tunggu sampai
1 jam
Ambil beberapa tetes
larutan dan tes
dengan Benedict
HASIL
5 Hidrolisis Amilum







6 Uji Osazon
















Ambil suspensi amilum
10ml
Tambah 2,5 ml 1N HCl Panaskan pada api
langsung
Setiap tiga menit tes
larutan dengan tes iodium
Tetap panaskan
hingga terjadi
perubahan warna
HASIL
Tabung reaksi diisi 0,5 ml
larutan fenilhidrazin, Na-
asetat kering dan
ditambahkan 2 ml bahan uji
Dikocok hingga
homogen
Dipanaskan dalam
penangas air
mendidih selama 30
menit
Apabila sudah dingin
kelihatan warna
kuning dan diperiksa
dibawah mikroskop
HASIL

HASIL PENGAMATAN
Uji molisch
NO Bahan Uji Hasil Akhir Pengamatan
1. Amilum (polisakarida) Terbentuk cincin ungu kehitaman (+)
2. Selulosa (polisakarida) Terbentuk warna ungu kehitaman (+)
3. Maltosa (disakarida) Terbentuk cincin ungu (+)
4. Sukrosa (disakarida) Terbentuk warna ungu kehitaman (+)
5. Fruktosa (monosakarida) Terbentuk cincin ungu (+)
6. Glukosa (monosakarida) Terbentuk warna ungu lebih pekat dari sukrosa (+)
7. Arabinosa (monosakarida) Terbentuk cincin ungu bening (+)
8. Galaktosa (monosakarida) Terbentuk warna ungu lebih pekat dari arabinosa(+)
9. Glikogen (polisakarida) Terbentuk cincin ungu (+)
10. Laktosa (disakarida) Terbentuk warna ungu lebih pekat dari glikogen (+)

Uji Iod
No Bahan Pengamatan Polisakarida (+/-)
1 Amilum Terbentuk endapan berwarna biru
kehitaman
+
Setelah dipanaskan berwarna bening sedikit
kekuningan
-
Setelah didinginkan berwarna biru
keunguan
+
Setelah ditetesi NaOH menjadi tidak
berwarna
-
2 Maltosa Berwarna kekuningan tidak terbentuk endapan -
3 Fruktosa Berwarna kekuningan tidak terbentuk endapan -
4 Glukosa Berwarna kekuningan tidak terbentuk endapan -
5 Arabinosa Berwarna kekuningan tidak terbentuk endapan -
6 Galaktosa Berwarna kekuningan tidak terbentuk endapan -
7 Glikogen Terdapat endapan berwarna coklat kemerahan +
8 Laktosa Berwarna kekuningan tidak tebentuk endapan -

Uji benedict
No Larutan Uji Sebelum dipanaskan Sesudah dipanaskan Keterangan
1 Amilum 1 % Biru Tetap biru (-)
2 Selulosa 1% Biru Tetap biru (-)
3 Maltosa 1% Biru Merah (+)
4 Sukrosa 1% Biru Hijau dan jingga (+)
5 Fruktosa 1% Biru Merah (+)
6 Glukosa 1% Biru Merah (+)
7 Arabinosa 1% Biru Merah (+)
8 Galaktosa 1% Biru Merah (+)
9 Glikogen 1% Biru Tetap biru (-)
10 Laktosa 1% Biru Merah (+)
Keterangan :
(+) : mengandung gula pereduksi
(-) : tidak mengandung gula pereduksi
Hidrolisis selulosa
NO Langkah- Langkah Perubahan pada kertas saring
1. Setelah ditambah H
2
SO
4
Terbentuk cicncin berwarna hitam
2. Setelah diaduk Larutan berwarna kuning kecoklatan
3. Setelah dipanaskan Warna berubah kehitaman
4. Setelah diuji dengan reagen
Benedict
Berwarna biru muda
Keterangan Hasil uji negatif (-)

Hidrolisis amilum
A. Reagen Iodin
Waktu Hasil pengamatan
1. 3 menit Kuning kehitaman
2. 6 menit Kuning kecokelatan
3. 9 menit Kuning

B. Reagen benedict
Waktu Hasil pengamatan
1. 3 menit Hijau muda
2. 6 menit Hijau (+)
3. 9 menit Hijau (++)
4. 12 menit Hijau (+++)

Keterangan : amilum + HCl sebelum dipanaskan keruh
Amilum + HCl setelah dipanaskan bening
Uji osazon
No. Nama Bahan Hail Pengamatan Gambar Keterangan
1.
Glukosa

Setelah dipanaskan kedalam penangas
air selasma 30 menit dan didinginkan
terbentuk endapan berwarna kuning
dan setelah diamati dengan mikroskop
terbentuk adanya kristal.

(+)
2. Fruktosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
keemasan dan ketika diamati dengan
mikroskop terbentuk adanya kristal.

(+)
3. Galaktosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
keemasan dan ketika diamati dengan
mikroskop terbentuk adanya kristal

(+)
4. Laktosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
keemasan dan ketika diamati dengan
mikroskop tidak terbentuk adanya
kristal.

(-)
5. Maltosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
dan ketika diamati dengan mikroskop
terbentuk adanya kristal.

(+)
6. Sukrosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
keemasan dan ketika diamati dengan
mikroskop tidak terbentuk adanya
kristal.

(-)
7. Arabinosa
Terbentuk endapan berwarna kuning
keemasan dan ketika diamati dengan
mikroskop terbentuk adanya kristal.

(+)
Keterangan :
(+) = positif mengandung karbohidrat.
(-) = tidak mengandung karbohidrat.
Uji Osazon = Digunakan untuk mengetahui bentuk gugus glukosa.








ANALISIS DATA
Uji molisch
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang pertama adalah pada amilum.
Dimana percobaan dilakukan dengan larutan amilum dimasukkan beberapa tetes pada tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam sulfat
pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan amilum membentuk cincin ungu kehitaman, menandakan uji positif (+)
adanya karbohidrat pada amilum.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang kedua adalah pada selulosa. Dimana
percobaan dilakukan dengan kertas selulosa disobek-sobek dan dimasukkan pada tabung reaksi.
Kemudian ditambahkan 2 cc air dan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam
sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan sobekan kertas selulosa membentuk warna ungu kehitaman, menandakan uji positif
(+) adanya karbohidrat pada kertas selulosa

Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang ketiga adalah pada larutan maltosa.
Dimana percobaan dilakukan dengan larutan maltosa dimasukkan beberapa tetes pada tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam sulfat
pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan maltosa membentuk cincin ungu, menandakan uji positif (+) adanya
karbohidrat pada larutan maltosa.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang keempat adalah pada larutan
sukrosa. Dimana percobaan dilakukan dengan larutan sukrosa dimasukkan beberapa tetes pada
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam
sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan sukrosa membentuk warna ungu kehitaman, menandakan uji positif (+)
adanya karbohidrat pada larutan sukrosa.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang kelima adalah pada larutan fruktosa.
Dimana percobaan dilakukan dengan larutan fruktosa dimasukkan beberapa tetes pada tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam sulfat
pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan fruktosa membentuk cincin ungu, menandakan uji positif (+) adanya
karbohidrat pada larutan fruktosa.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang keenam adalah pada larutan
glukosa. Dimana percobaan dilakukan dengan larutan glukosa dimasukkan beberapa tetes pada
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam
sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan glukosa membentuk warna ungu lebih pekat dari sukrosa, menandakan uji
positif (+) adanya karbohidrat pada larutan glukosa .
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang ketujuh adalah pada larutan
arabinosa. Dimana percobaan dilakukan dengan larutan arabinosa dimasukkan beberapa tetes
pada tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan
asam sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan
hasil percobaan larutan arabinosa memrbentuk cincin ungu bening, menandakan uji positif (+)
adanya karbohidrat pada larutan arabinosa.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang kedelapan adalah pada larutan
Galaktosa . Dimana percobaan dilakukan dengan larutan Galaktosa dimasukkan beberapa tetes
pada tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan
asam sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan
hasil percobaan larutan Galaktosa membentuk warna ungu lebih pekat dari arabinosa,
menandakan uji positif (+) adanya karbohidrat pada larutan Galaktosa.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang kesembilan adalah pada larutan
Glikogen . Dimana percobaan dilakukan dengan larutan Glikogen dimasukkan beberapa tetes
pada tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan
asam sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan
hasil percobaan larutan Glikogen membentuk cincin ungu, menandakan uji positif (+) adanya
karbohidrat pada larutan Glikogen.
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan yang kesepuluh adalah pada larutan
Laktosa. Dimana percobaan dilakukan dengan larutan Laktosa dimasukkan beberapa tetes pada
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan -naftol. Setelah itu dialirkan asam
sulfat pekat sebanyak 1 ml melalui dinding tabung reaksi secara perlahan. Dan didapatkan hasil
percobaan larutan Laktosa membentuk warna ungu lebih pekat dari glikogen, menandakan uji
positif (+) adanya karbohidrat pada larutan Laktosa.
Uji Iod
Pada percobaan ini sampel yang akan di uji diteteskan peda pelat tetes lalu di tetesi
reagen iod yaitu larutan IKI yang didapatkan hasil yaitu maltose, fruktosa, glukosa, arabinosa,
galaktosa dan laktosa berwarna kekuningan. Hal ini menunjukkan reaksi negative uji iod pada
sampel. Sedangkan pada amilum dan glikogen menunjukkan reaksi positif uji iod yang
menghasilkan perubahan warna biru kehitaman peda amilum dan berwarna merah kecoklatan
pada glikogen.
Pada percobaan dengan sampel amilum dilakukan beberapa perlakuan selain dengan
meneteskan reagen iod pada sampel, juga dilakukan pemanasan yang menghasilkan perubahan
warna dari biru kehitaman menjadi bening kekuningan hal ini menunjukkan reaksi negative uji
iod. Setelah itu sampel pada tabung reaksi di dinginkan yang menghasilkan perubahan warna
dari bening kekuningan menjadi biru keunguan, hal ini menujukkan adanya reaksi positif uji iod
pada sampel. Setelah dingin sampel dalam tabung reaksi di tetesi NaOH yang menyebabkan
perubahan warna dari biru keunguan menjadi tidak berwarna (bening), hal ini menunjukkan
reaksi neatif uji iod pada sampel amilum.
Uji benedict
Pada percobaan benedict digunakan bahan uji yaitu amilum,selulosa,maltosa,sukrosa,
fruktosa, glukosa,arabinosa,galaktosa,glikogen dan laktosa. Sedangkan reagen yang digunakan
yaitu larutan fehling A dan larutan fehling B. Pada percobaan benedict langkah pertama yaitu
diambil 10 ml larutan fehling A dan10 ml larutan fehling B ke dalam tabung reaksi lalu kedua
larutan dikocok sehingga menghasilkan warna biru. Setelah itu ditambahkan 8 tetes larutan yang
akan diuji. Kemudian tabung reaksi dipanaskan dalam api secara langsung selama 2-3 menit.
Adanya perubahan warna hijau, kuning, jingga atau merah menunjukkan reaksi yang positif.
Prinsipnya larutan-larutan tembaga yang alkalis bila direduksi oleh karbohidrat yang mempunyai
gugus keton bebas akan membentuk Cupro Oksida (Cu
2
O) yang berwarna kuning sampai merah.
Tujuan dari percobaan benedict ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gula pereduksi pada
bahan uji.
Pada tabung pertama yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru
setelah itu ditambahkan larutan amilum sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan amilum tidak menghasilkan perubahan warna atau
campuran tetap berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa amilum tidak mengandung gula
pereduksi. Pada tabung reaksi kedua yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna
biru setelah itu ditambahkan larutan selulosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan selulosa tidak menghasilkan perubahan warna atau
campuran tetap berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa selulosa tidak mengandung gula
pereduksi.
Pada tabung reaksi ketiga yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru
setelah itu ditambahkan larutan maltosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan selulosa menghasilkan perubahan warna menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa maltosa mengandung gula pereduksi. Pada tabung keempat
yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru setelah itu ditambahkan larutan
sukrosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit. Setelah dipanaskan, larutan benedict
dan sukrosa menghasilkan perubahan warna menjadi hijau dan jingga. Hal ini menunjukkan
bahwa sukrosa mengandung gula pereduksi.
Pada tabung kelima yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru
setelah itu ditambahkan larutan frukrosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan frukrosa menghasilkan perubahan warna menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa frukrosa mengandung gula pereduksi. Pada tabung keenam
yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru setelah itu ditambahkan larutan
glukosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit. Setelah dipanaskan, larutan benedict
dan glukosa menghasilkan perubahan warna menjadi merah. Hal ini menunjukkan bahwa
glukosa mengandung gula pereduksi.
Pada tabung ketujuh yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru
setelah itu ditambahkan larutan arabinosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan arabinosa menghasilkan perubahan warna menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa arabinosa mengandung gula pereduksi. Pada tabung
kedelapan yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru setelah itu
ditambahkan larutan galaktosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit. Setelah
dipanaskan, larutan benedict dan galaktosa menghasilkan perubahan warna menjadi merah. Hal
ini menunjukkan bahwa galaktosa mengandung gula pereduksi.
Pada tabung selanjutnya yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna biru
setelah itu ditambahkan larutan glikogen sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan glikogen tidak menghasilkan perubahan warna atau
campuran tetap berwarna biru. Hal ini menunjukkan bahwa glikogen tidak mengandung gula
pereduksi. Pada tabung reaksi terakhir yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang berwarna
biru setelah itu ditambahkan larutan laktosa sebanyak 8 tetes lalu dipanaskan selama 2-3 menit.
Setelah dipanaskan, larutan benedict dan laktosa menghasilkan perubahan warna menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa laktosa mengandung gula pereduksi.
Uji osazon
Pada percobaan ini yang pertama dilakukan adalah menyiapkan tabung reaksi sebanyak 7
buah. Kemudian siapkan bahan uji antara lain glukosa, fruktosa, galaktosa, laktosa, maltosa,
sukrosa, dan arabinosa. Disetiap tabung ditambahkan fenilhidrazin sebanyak 0,5 ml dan juga
seujung natrium asetat kering. Kemudian pada masing masing tabung diisi dengan bahan uji
sebanyak 2ml. Setelah itu dipanaskan dalam penangas air selama 30 menit dan didinginkan.
Selanjutnya setelah terbentuk endapan diamatii dengan mikroskop untuk membuktikan adannya
kristal-kristal yang terbentuk.
Pada tabung yang berisi bahan uji glukosa dan maltosa terbentuk endapan berwarna
kuning, dan ketika diamati dengan mikroskop terlihat adanya kristal. Untuk bahan uji fruktosa,
galaktosa,dan arabinosa terbentuk endapan berwarna kuning keemasan dan menunjukkan adanya
kristal setelah diamati dengan mikroskop. Namun pada tabung yang berisi laktosa dan sukrosa
terbentuk endapan berwarna kuning keemasan tetapi setelah diamati dengan mikroskop tidak
menunjukkan adanya kristal. Uji osazon ini menunjukkan positiif mengandung karbohidrat
apabila setelah pengamatan dengan mikroskop menunjukkan adanya kristal kristal.
Hidrolisis selulosa
Pada percobaan hidrolisis selulosa digunakan bahan uji yaitu potong-potongan kertas
saring sedangkan reagen yang digunakan yaitu H
2
SO
4
pekat, air dan larutan benedict. Langkah
pertama yaitu potong-potongan kertas saring yang dibasahi dengan air kemudian secara
perlahan-lahan ditambahkan asam sulfat pekat dan terbentuk cincin berwarna hitam, lalu
potongan kertas diaduk dan larutan berwarna kuning kecoklatan. Setelah itu potongan kertas
saring dipanaskan dan terjadi perubahan warna menjadi kehitaman. Kemudian potongan kertas
saring di uji dengan benedict terjadi perubahan warna menjadi biru muda. Hal ini menandakan
bahwa terdapatnya kandungan karbohidrat (selulosa) pada kertas tersebut.
Hidrolisis amilum
Pada percobaan hidrolisis amilum yang pertama dilakukan adalah mengambil larutan
amilum sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Selanjutnya, ditambahkan HCl
pekat sebanyak 2,5 ml. Kedua campuran ini kemudian dipanaskan selama 3 menit. Setelah
pemanasan selama 3 menit dan diuji dengan reagen iodine dihasilkan perubahan warna menjadi
kuning kehitaman. Setelah itu dipanaskan kembali, pada pemanasan menit ke 6 terjadi perubahan
warna kuning kecokelatan dan setelah pemanasan 9 menit menghasilkan perubahan warna
menjadi kuning ketika diuji dengan reagen iodine.
Setelah menunjukkan hasil negative terhadap uji iodine, larutan dipanaskan kembali.
Setelah pemanasan selama 3 menit dan diuji dengan reagen benedict menghasilkan perubahan
warna menjadi hijau muda, setelah pemanasan selama 6 menit menghasilkan perubahan warna
menjadi hijau (+), setelah pemanasan 9 menit menghasilkan perubahan warna menjadi hijau (++)
lebih tua dari sebelumnya, dan setelah pemanasan 12 menit akan menghasilkan perubahan warna
menjadi hijau (+++) yang lebih tua lagi dari sebelumnya. Dari hasil pengamatan ini dapat
disimpulkan sementara bahwa lamanya pemanasan mempengaruhi proses hidrolisis.
PEMBAHASAN
Uji molisch
Pada percobaan uji molisch yang kami lakukan menunujukkan semua larutan uji yaitu
Fruktosa, Glukosa, Arabinosa, Galaktosa, Laktosa, sukrosa, maltosa , amilum, selulosa, maupun
glikogen positif mengandung karbohidrat. Hasil uji yang positif ini berdasar prinsip kerja dalam
uji molisch yaitu apabila suatu bahan mengandung karbohidrat bahan tersebut akan membentuk
cincin ungu karena ikatan sakarida yang ada pada karbohidrat akan mengalami dehidrasi oleh
H
2
SO
4
pekat yang akan menghasilkan furfural dan derivat (turunan) dari karbohidrat. Furfural
inilah yang bereaksi dengan larutan -naftol yang kemudian akan membentuk cincing berwarna
ungu. Oleh karena itulah uji molisch akan menunjukkan uji positif jika larutan yang diuji
membentuk cicin berwarna ungu. Uji negatif terjadi jika tidak terbentuk cincin berwarna ungu
pada larutan uji karena tidak terjadi dehidrasi pada larutan uji oleh HSO sehingga tidak
menghasilkan furfural dan derivat karbohidrat. Oleh karena tidak adanya furfural dan derivat
karbohidrat yang terbentuk maka larutan alfa-naftol pun tidak akan memberikan reaksi
terbentuknya cincin ungu.
Uji Iod
Pada percoban ini diperoleh hasil maltose, fruktosa, glukosa, arabinosa, galaktosa dan
laktosa mengalami reaksi negative ujiiod karena pada prinsipnya uji iod dilakukan untuk
mendeteksi adanya polisakarida pada sampel, sedangkan sampel tersebut bukan termasuk
polisakarida. Maltose dan laktosa adalah disakarida. Sedngkan fruktosa, glukosa, arabinosa dan
galaktosa adalah monosakarida.
Pada percobaan menggunakan glikogen dan amilum didapatkan hasil reaksi positif uji iod
yang menghasilkan perubahan warna biru kehitaman pada amilm dan merah kecoklatan pada
glikogen. Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorbsi
berwarna yang spesifik. Sehingga membuktikan adanya polisakarida pada amilum dan glikogen.
Pada amilum yang ditetesi reagen iod kemudian dipanaskan. Pemanasn pada polisakarida
menyebabkan kumparan kumparan pada polisakarida rusak sehingga tidak dapat bereaksi dengan
reagen iod. Warna kekuningan yang terbentuk pada saat dipenaskan adalah warna dari reagen iod
itu sendiri. Setelah dingin meka kumparan kumparan polisakarida akan menyatu kembali
sehingga dapat bereaksi kembali dengan iod yang menghasilkan perubahan warna menjadi biru
keunguan. Setelah ditambahkan dengan NaOH berubah menjadi bening kembali karena Na
+

bereaksi dengan iod, hal ini menyebabkan iod tidak dapat beraksi dengan amilum yang hasilnya
sampel amilum menjadi tidak berwarna.
Uji benedict
Monosakarida memiliki sifat dapat mereduksi ion Cu
2+
menjadi ion Cu
+
yang ada pada larutan
Benedict sehingga menjadi Cu
2
O yang terbentuk endapan. Semakin meningkatnya konsentrasi
glukosa pada uji Benedict ini, endapan yang terjadi makin banyak. Hal ini menandakan bahwa
makin reduksi gula mereduksi larutan benedict. Pereaksi benedict berupa larutan yang
mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Adanya natrium karbonat dan
natrium sitrat membuat peraksi benedit bersifat basa lemah. Larutan fehling A dan fehling B
adalah varian dari larutan yang secara esensial sama. Keduanya mengandung ion-ion tembaga
(II) yang dikompleks dalam sebuah larutan basa. Larutan Benedict mengandung ion-ion tembaga
(II) yang membentuk kompleks dengan ion-ion sitrat dalam larutan natrium karbonat. Berikut
reaksi yang berlangsung:
O O

RCH + Cu2+ 2OH- RCOH + Cu2O
Gula Pereduksi Endapan Merah Bata
Reaksi positif pada percobaan ini terdapat pada terbentuknya endapan merah bata
didalam sampel hal ini ditandai karena adanya gula pereduksi pada laktosa, glukosa dan fruktosa.
Gula pereduksi adalah golongan gula yang memiliki kemampuan untuk mereduksi suatu
oksidator karena gugus aldehida dan keton nya bebas berada dalam keadaan kesetimbangan pada
rantai terbuka.
Pada percobaan benedict digunakan bahan uji yaitu amilum, selulosa, maltosa, sukrosa,
fruktosa, glukosa, arabinosa, galaktosa, glikogen dan laktosa. Sedangkan reagen yang digunakan
yaitu larutan fehling A dan larutan fehling B. Pada percobaan ini kesepuluh tabung reaksi yang
telah diisi larutan fehling A dan fehling B lalu ditambahkan larutan karbohidrat kemudian
dipanaskan selama 2 sampai 3 menit. Setelah dipanaskan kesepuluh tabung reaksi ada yang
mengalami perubahan warna dan ada yang tidak mengalami perubahan warna. Pada tabung
reaksi pertama yang berisi larutan fehling A dan B yang ditambahkan larutan amilum setelah
dipanaskan tidak mengalami perubahan warna atau campuran tetap berwarna biru. Hal ini
menunjukkan bahwa amilum tidak mengandung gula pereduksi karena gula pereduksi hanya
terdapat pada monosakarida sedangkan amilum merupakan polisakarida. Amilum apabila di
hidrolisis akan menghasilkan banyak monosakarida. Pada amilum atau pati, sekalipun terdapat
glukosa rantai terbuka pada ujung rantai polimer, namun konsentrasinya sangatlah kecil,
sehingga warna hasil reaksi tidak tampak oleh penglihatan.
Pada tabung reaksi kedua yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang ditambahkan
larutan selulosa setelah dipanaskan tidak mengalami perubahan warna seperti pada amilum. Hal
ini menunjukkan bahwa selulosa tidak mengandung gula pereduksi. Selulosa merupakan
polisakarida seperti halnya amilum, selulosa adalah salah satu komponen utama dari
lignoselulosa yang terdiri dari unit monomer D-glukosa yang terikat pada ikatan 1,4-glikosidik.
Selulosa cenderung membentuk mikrofibril melalui ikatan inter dan intra molekuler sehingga
memberikan struktur yang larut. Mikrofibril selulosa terdiri dari 2 tipe, yaitu kristalin dan amorf.
Pada tabung reaksi ketiga yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang ditambahkan
larutan maltosa setelah dipanaskan menghasilkan perubahan warna dari biru menjadi merah. Hal
ini menunjukkan bahwa maltosa mengandung gula pereduksi. Warna merah bata yang terbentuk
disebabkan oleh maltosa memiliki gugus aldehid yang bebas sehingga dapat mereduksi ion-ion
tembaga (Cu) yang terdapat pada larutan benedict (larutan fehling A dan fehling B) menjadi
Cu
2
O yang berwarna merah bata.
Berikut reaksi yang berlangsung:
O O

RCH + Cu
2+
2OH
-
RCOH + Cu
2
O

Gula Pereduksi Endapan Merah Bata

Pada tabung reaksi keempat yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang
ditambahkan larutan sukrosa setelah dipanaskan menghasilkan perubahan warna dari biru
menjadi 2 lapisan yaitu hijau dan jingga. Hal ini menunjukkan bahwa sukrosa mengandung gula
pereduksi. Seperti halnya maltosa, perubahan warna dari biru menjadi 2 lapisan yaitu hijau dan
jingga, hal ini disebabkan oleh maltosa yang memiliki gugus aldehid yang bebas sehingga dapat
mereduksi ion-ion tembaga (Cu) yang terdapat pada larutan benedict (larutan fehling A dan B)
menjadi Cu
2
O yang berwarna kuning sampai merah.
Pada tabung reaksi kelima sampai kedelapan yang berisi larutan fehling A dan fehling B
yang ditambahkan larutan fruktosa(tabung 5), glukosa(tabung 6), arabinosa (tabung 7) dan
galaktosa (tabung 8), setelah dipanaskan menghasilkan perubahan warna dari biru menjadi
merah. Hal ini menunjukkan bahwa fruktosa,glukosa,arabinosa,dan galaktosa positif
mengandung gula pereduksi. Seperti halnya pada maltosa dan sukrosa , perubahan warna dari
biru menjadi merah disebabkan oleh monosakarida yang memiliki gugus aldehid yang bebas
sehingga dapat mereduksi ion-ion tembaga (Cu) yang terdapat pada larutan benedict (larutan
fehling A dan B) menjadi Cu
2
O yang berwarna merah.
Pada tabung reaksi kesembilan yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang
ditambahkan larutan glikogen setelah dipanaskan tidak mengalami perubahan warna seperti pada
amilum dan selulosa. Hal ini menunjukkan bahwa glikogen tidak mengandung gula pereduksi.
glikogen merupakan polisakarida seperti halnya amilum dan selulosa,
Pada tabung reaksi terakhir yang berisi larutan fehling A dan fehling B yang ditambahkan
larutan laktosa setelah dipanaskan menghasilkan perubahan warna dari biru menjadi merah. Hal
ini menunjukkan bahwa laktosa mengandung gula pereduksi. Warna merah bata yang terbentuk
disebabkan oleh laktosa memiliki gugus aldehid yang bebas sehingga dapat mereduksi ion-ion
tembaga (Cu) yang terdapat pada larutan benedict (larutan fehling A dan fehling B) menjadi
Cu
2
O yang berwarna merah bata. Dengan menghidrolisis laktosa akan menghasilkan D-galaktosa
dan D-glukosa, karena itu laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi
antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4 pada glukosa. Oleh
karenanya molekul laktosa mempunyai sifat mereduksi gugus OH glikosidik.

Uji osazon
Pada pembahasan kali ini adalah membahas mengenai uji osazon. Pembentukan osazon
merupakan cara yang berguna untuk membentuk kristal-kristal derivat gula. Senyawa ini
mempunyai susunan kristal, titik leleh dan waktu presipitasi yang khas dan sangat bermanfaat
untuk identifikasi gula. Osazon diperoleh dengan menambahkan campuran fenilhidrazin
hidroklorida dan natrium astetat kedalam larutan gula dan dipanaskan dalam penangas air yang
mendidih. Tahap reaksi pembentukan aldosazon sedikit berbeda dengan tahap reaksi
pembentukan ketoazon. Tiap jenis karbohidrat mempunyai bentuk kristal osazon yang spesifik
dan juga titik cair yang kecepatan pembentukan yang berbeda. (Vaidya, 1994).
Reaksi ini hanya menyangkut karbon karbonil (yaitu gugus aldehid atau keton) dan karbon yang
berdekatan.
Reaksi pembentukan osazon yang terlihat pada glukosa dan fruktosa adalah sebagai berikut :
Aldosa + fenilhidrazin fenilhidrazon
Fenilhidrazon + 2 fenilhidrazin Osazon + aniline + NH3 + H2O
Dari dua bahan uji tersebut yaitu glukosa dan fruktosa menunjukkan bahwa adanya
endapan kristal. Masing-masing karbohidrat memiliki bentuk dan warna endapan yang berbeda-
beda. Pada glukosa endapan yang terbentiuk berwarna kuning, namun pada fruktosa warna
endapan yang terbentuk adalah kuning keemasan. Begitu juga pada galaktosa, maltosa dan juga
arabinosa. Endapan yang terbentuk pada galaktosa dan arabinosa adalah kuning keemasan dan
maltosa berwarna kuning. Setelah diamati dengan mikroskop menunjukan adanya kristal-kristal.
Kristal yang terlihat ada yang berbentuk garis-garis halus, ada yang seperti garis-garis putus yang
didepan garis putus itu ada benjolan dan ada juga garis-garis yang bertumpuk-tumpuk. Laktosa
dan sukrosa membentuk aldoazon karena memiliki gugus aldosa.
Sukrosa sendiri merupakan molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul
glukosa dan satu molekul fruktosa. Laktosa dan fruktosa setelah diamati dengan mikroskop
ternyata tidak menunjukkan adanya kristal-kristal.
Dari hasil percobaan dapat dinyatakan bahwa uji osazon digunakan untuk
mengidentifikasi monosakarida, disakarida, dan sebagian polisakarida. Karbohidrat ini
mempunyai penampang yang berbeda-beda, hal ini dikarenakan masing-masing bahan memiliki
rantai hidrokarbon yang berbeda beda pula, ada yang rantai hidrokarbonnya lurus dan ada pula
yamg bercabang.
Hidrolisis selulosa
Pada percobaan hidrolisis selulosa yang telah kami lakukan prinsipnya adalah selulosa
yang merupakan polisakarida akan dihidrolisis atau dipecah menjadi monosakarida. Pertama-
tama yaitu kertas saring yang dilarutkan dalam air bertujuan untuk membentuk selulosa yang
kemudian ditambah dengan H
2
SO
4
menghasilkan cincin berwarna hitam, menunjukkan bahwa
selulosa mulai terhidrolisis oleh asam. H
2
SO
4
akan mengdehidrasi senyawa yang ada dalam
karbohidrat menghasilkan furfural (monosakarida) dan derivat karbohidrat. Kemudian ketika
diaduk larutan uji akan berubah warna menjadi kuning kecoklatan, hal ini dikarenakan ikatan
antara H
2
SO
4
dengan ikatan 1-4 glikosidik akan terlepas sehingga warnanya akan berubah
menjadi kuning kecoklatan. Setelah dipanaskan menghasilkan warna kehitaman pada laruran uji.
Hal ini menunjukkan bahwa ikatan dalam selulosa mulai terlepas akibat adanya proses
pemanasan yang akan mempercepat proses hidrolisis. Pengujian menggunakan regaen benedict
bertujuan untuk mengetahui bahwa hidrolisis atau pemecahan selulosa berhasil yaitu
menghasilkan senyawa monosakarida dengan berdasarkan reduksi Cu
2+
menjadi Cu
+
oleh gugus
aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan
hijau, merah, orange atau merah bata serta adanya endapan. Namun hasil percobaan yang kami
peroleh adalah negtif, kesalahan yang terjadi mungkin dikeranakan kurang lamanya proses
pemanasan yang kami lakukan sehingga proses hidrolisis selulosa kurang sempurna. Oleh karena
itu, ketika ditetesi dengan reagen benedict larutan uji tidak akan memberikan perubahan warna
yang tepat.
Hidrolisis amilum
Pada percobaan ini digunakan amilum sebagai bahan uji. Mula-mula amilum ditambah
dengan HCl. Kedua campuran ini berwarna putih keruh. Kemudian kedua campuran tersebut
dipanaskan selama 3 menit pertama, dan di uji dengan iodine menghasilkan perubahan warna
yang berbeda. Pengujian setelah pemanasan 3 menit menghasilkan perubahan warna menjadi
kuning kehitaman. Hal ini menujukkan bahwa pada pemanasan 3 menit amilum belum banyak
terhidrolisis sehingga menghasilkan warna kuning kehitaman. Pada 3 menit berikutnya yakni
setelah pemanasan 6 menit menghasilkan warna kuning kecokelatan. Perubahan warna yang
terjadi ini menunjukkan amilum mulai terhidrolisis sehingga kandungan amilum mulai berkurang
dan menghasilkan uji negative terhadap reagen Iodin. Setelah pemanasan selama 9 menit
menghasilkan perubahan warna menjadi kuning. Hal ini menandakan bahwa amilum telah
terhidrolisis sempurna sehingga menghasilkan uji negative terhadap reagen iodine.
Setelah menghasilkan uji negative terhadap iodine, campuran amilum dengan HCl
tersebut dipanaskan kembali selama 3 menit dan diuji dengan reagen benedict. Pada perlakuan
tersebut diperoleh perubahan warna menjadi hijau muda. Sedangkan setelah pemanasan 6 menit
dihasilkan perubahan warna menjadi hijau (+) , setelah pemanasan 9 menit perubahan warna
yang terjadi menjadi hijau yg lebih tua dari sebelumnya (++), dan setelah pemanasan 12 menit
menghasilkan perubahan warna menjadi hijau yang lebih tua lagi (+++). Dapat dilihat perubahan
warna yang terjadi pada setiap waktu adalah berbeda. Semakin lama pemanasan, warna yang
dihasilkan semakin gelap. Hal ini menunjukkan semakin lama pemanasan, amilum yang
terhidrolisis menjadi monosakarida (glukosa) semakin banyak. Warna hijau yang dihasilkan
menunjukkan bahwa amilum telah terhidrolisis menjadi glukosa sehingga positif terhadap uji
benedict. Selain itu larutan amilum dan HCl yang awalnya putih keruh berubah menjadi jernih
setelah pemanasan, hal ini juga menunjukkan hidrolisis sempurna amilum menjadi monosakarida
(glukosa) telah terjadi.
Pada percobaan amilum ditambah HCl dan dipanaskan ini , terjadi proses hidrolisis
sebagai berikut :
Amilum amilodekstrin eritrodekstrin akroodekstrin maltose glukosa
(+iod) (+iod) (+iod) (+iod) (- iod) (- iod)

Keterangan : (+iod) positif iodine
(- iod) negatif iodine

Pada praktikum ini, HCl berfungsi sebagai asam yang akan menghidrolisis amilum.
Kemudian dipanaskan bertujuan untuk memecah molekul menjadi lebih kecil sehingga mudah
dihidrolisis. Pemecahan atau hidrolisis dari amilum akan menghasilkan disakarida dan akhirnya
menjadi menjadi molekul monosakarida selanjutnya oleh ragi glukosa dapat diubah menjadi
alcohol.

















KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan identifikasi karbohidrat dan
kandungannya dapat dilakukan dengan uji iodine, uji molisch, uji osazon, uji benedict, hidrolisis
selulosa, dan hidrolisis amilum.
Berdasarkan uji molisch yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa amilum,selulosa,
maltose,sukrosa,fruktosa,glukosa,arabinosa,galaktosa,glikogen dan laktosa positif terhadap uji
molish sehingga semua bahan uji tersebut merupakan karbohidrat.
Berdasarkan uji iodine yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa amilum dan
glikogen positif terhadap uji iodine sehingga kedua bahan uji tersebut merupakan polisakarida.
Berdasarkan uji osazon yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
maltosa,fruktosa,glukosa,arabinosa, dan galaktosa positif terhadap uji osazon sehingga bahan uji
tersebut dapat membentuk kristal dengan karakteristik masing-masing.
Berdasarkan uji benedict yang telah dilakukan dilakukan dapat disimpulkan bahwa
maltose,sukrosa,fruktosa,glukosa,arabinosa,galaktosa, dan laktosa positif terhadap uji benedict
sehingga semua bahan uji tersebut merupakan gula pereduksi.
Berdasarkan uji hidrolisis selulosa yang telah dilakukan dilakukan dapat disimpulkan
bahwa selulosa dalam potong-potongan kertas saring dapat dihidrolisis menjadi monosakarida
(glukosa) sehingga seharusnya menghasilkan uji positif terhadap benedict.
Berdasarkan uji hidrolisis amilum yang telah dilakukan dilakukan dapat disimpulkan
bahwa amilum dapat di hidrolisis dengan asam pekat (HCl) menjadi monosakarida sehingga
menghasilkan uji positif terhadap benedict dan lamanya pemanasan juga mempengaruhi proses
hidrolisis.





DAFTAR PUSTAKA

Hala, Yusminah dan hartono. 2011. Penuntun Biokimia Umum. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM.
Harper, et al. 1979. Biokimia Harper. Jakarta : EGC
Hart,Harold.1983. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Hermanto, S.2012.Petunjuk Praktikum Biokimia 1. Jakarta : UIN Syahid.
Kuchel, Philip. 2006. Biokimia. Jakarta: Erlangga
Lehninger.1982.Dasar-dasar Biokimia.Jakarta : Erlangga
McGilvery&Goldstein. 1996. Biokimia : Suatu Pendekatan Fungsional. Surabaya : Airlangga
University Press
Murray, Robert. 1999. Biokimia Harper. Jakarta: EGC
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.
Yazid, Estien. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia Yogyakarta: Andi Yogyakarta.