Anda di halaman 1dari 13

PENETAPAN KADAR TABLET ISONIAZID DAN PYRIDOXINE MENGGUNAKAN

SPEKTROFOTOMETRI UV DENGAN METODE SIMULTAN



I. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengetahui cara penetapan kadar tablet isoniazid dan pyridoxine
menggunakan spektrofotometri uv dengan metode simultan

II. DASAR TEORI
Radiasi elektromagnetik, yang mana sinar ultraviolet dan sinar tampak
merupakan salah satunya, dapat dianggap sebagai energi yang merambat dalam
bentuk gelombang. Beberapa istilah dan hubungan digunakan untuk menggambarkan
gelombang ini. Panjang gelombang merupakan jarak linear dari suatu titik pada satu
gelombang ke titik yang bersebelahan pada gelombang yang berdekatan (Ibnu Gholib
Ginanjar dan Rohman,2007).
Bila diinginkan pengukuran dua buah senyawa secara bersama sama pada
spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang yang mana
masing masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen
yang alin paling kecil. Dua buah kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan
absorbsicahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Pengukuran
dilakukan pada masing masing larutan pada 2 panjang gelombang, sehingga
diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada dua
panjang gelombang, akibatnya konsentrasi masing masing komponen dapat
dihitung (Ibnu Gholib Ginanjar dan Rohman,2007).
Pada percobaan ini bertujuan untuk menetapkan kadar INH dalam sediaan
tablet yang mengandung INH-vitamin B
6
dengan metode persamaan simultan
menggunakan spektrofotometri UV-Multikomponen. Spektroskopi adalah dasar suatu
percobaan pokok dan menyangkut absorpsi, emisi/ pengeluaran atau penyebaran
radiasi elektromagnetik oleh atom atau molekul (Ibnu Gholib Ginanjar dan
Rohman,2007).
Spektrofotometri UV-Multikomponen merupakan suatu pengukuran untuk
analisis 2 atau lebih komponen senyawa dengan menggunakan metode simultan atau
metode derifatif. Pada percobaan ini, metode yang digunakan untuk menetapkan INH
dalam tablet INH-vitamin B
6
adalah metode persamaan simultan. Metode persamaan
simultan dilakukan dengan mengukur pada 2 atau lebih panjang gelombang, yang
mana masing-masing komponen tidak akan saling mengganggu. Pada percobaan ini,
dua panjang gelombang didapat dari
max
pada senyawa baku INH dan
max
pada
senyawa baku vitamin B
6
(Anonim,1979).
Sampel yang digunakan adalah tablet yang mengandung INH dan vitamin
B
6
. INH (Isoniazin) mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari
101,0% C
6
H
7
N
3
O, dihitung terhadap zat yang dikeringkan. INH merupakan hablur
tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa agak pahit, terurai
perlahan-lahan oleh udara dan cahaya (Anonim,1979).
INH memiliki khasiat tubekulostatik yang paling kuat, terhadap bakteri lain
tidak aktif. Bekerja tuberkulosid terhadap hasil yang sedang bertumbuh,
mekanismenya bekerja berdasarkan antagonisme saingan hingga metabolism sel
menjadi terganggu (Fessenden,1997).
Vitamin B
6
(piridoksin) selain digunakan dalam keadaan devisiensi, juga
digunakan untuk melawan mual, muntah dan pada depresi yang disebabkan oleh pil
antihamil, yang mana dikira ada hubungannya denagn kekurangan serotonin di otak
akibat metabolism triptofan yang dipertinggi (Fessenden,1997).
Untuk suatu larutan yang mengandung 2 komponen yang menyerap, x dan
y, serapan diukur pada 2 panjang gelombang. Ketelitian dan tinggi di dapatkan
dengan memilih panjang gelombang dimana panjang gelombang pengukuran
merupakan panjang gelombang dimana serapanya maksimal, karena dengan
pergeseran sedikit pada kurva serapan tidak menyebabkan perubahan serapan yang
terlampau jauh (www.digilib.ui.ac.id).
Jumlah komponen dalam campuran dapat mencapai 8 komponen dengan
syarat selisih panjang gelombang maksimum antara komponen minimal 5 nm. Jika
jumlah komponen dalam sampel lebih dari 3, makauntuk menghitung kadar di
gunakan software multikomponen yang terdapat pada alat spektrofotometri UV-Vis
(www.digilib.ui.ac.id).
Metode analisis yang digunakanpada analisis multikomponen juga harus
divalidas seperti analisis zat tunggal (www.digilib.ui.ac.id).
Absortivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada
konsentrasi, tebal kuvet, dan interaksi radiasi yang mengenai sampel. Absortivitas
tergantung pada suhu,pelarut,struktur molekul dan panjang gelombangradiasi. Satuan
ditentukan oleh satuan-satuan b (tebal kuvet), c (konsentrasi). Jika satuan c adalah M
(molar) maka absortivitas disebut dengan absortivitas molar dan disimbolkan dengan
e dengan satuan M
-1
cm
-1
atau liter.mol
-1
cm
-1
. Jika c dinyatakan dengan persen
berat/volume (g/100ml) maka absortivitas dapat ditulis dengan E
1%
1cm
dan juga sering
kali ditulis dengan

A
1%
1cm
(Ibnu Gholib Ginanjar dan Rohman,2007).
E
1%
1cm
merupakan absorbansi suatu senyawa yang diukur pada konsentrasi
1% b/v (1g/100ml) dan dengan kuvet yang mempunyai ketebalan 1cm pada ketebalan
1cm pada panjang gelombang dan pelarut tertentu (Ibnu Gholib Ginanjar dan
Rohman,2007).
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kualitatif antara panjang
gelombang yang mempunyai panjang gelombang maksimal. Untuk memilih panjang
gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubung antara absorbansi
dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu (Ibnu
Gholib Ginanjar dan Rohman,2007).

III. SIFAT BAHAN
Isoniazid/INH (Md 36 hal 288)
Rumus molekul :
Bm :137,1
Pemeriaan :tidak berwarna, putih tidak berbau ,Kristal atau bubuk Kristal putih
Kelarutan : 1:8 air, 1:50 alkohol, sedikit larut dalam klorofom, sangat sedikit larut
dalam eter.
Pyridoxine /vitamin B6 (Md 36 hal 1978)
Rumus molekul :
Bm :205,6
Pemerian :putih/praktis putih,Kristal /bubuk Kristal
Kelarutan : 1:5 (air), 1:115 (alkohol), tidak larut dalam eter

Isoniazid (AOAC, p.252)
Isoniazid Lambda Max A
1%
1cm
Solvent
Isoniazid 265 420 0,01 N HCl
Isoniazid 263 370 95% EtOH
Isoniazid 267 374 0,5 N H
2
SO
4

Isoniazid 296 292 0,5 N NaOH

Pyridoxine HCl (AOAC, p.259)
Pyridoxine HCl Lambda Max A
1%
1cm
Solvent
Pyridoxine HCl 288 345 95% EtOH
Pyridoxine HCl 290 425 0,1 N HCl
Pyridoxine HCl 324, 254 350, 180 H
2
O

Pelarut terpilih = 95% EtOH
Rentang absorbansi 0,5 1,5
Isoniazid
C =

C=


= 5,4 ppm = 40,5 ppm
Rentang terpilih = 5,4- 40,5
Pyridoxine
C =

C=


=5,8 ppm =43,5 ppm

Rentang terpilih = 5,8-43,5

Larutan baku induk isoniazid
Konsentrasi :



Cara kerja:
Timbang 50 mg pyridoxine
Larutkan dalam labu takar 25 ml dengan etanol ad 25 ml
Kocok ad homogen
Laruan baku :
C
1


C
2
2244 ppm


C
3


C
4


C
5


C
6


Cara kerja :
Pipet larutan baku induk (30 l, 50l, 70l, 130l, 160l)
Masing masing ditambahkan etanol ad 10 ml, cek absorbansinya

Larutan baku induk pyridoxine




Cara kerja:
Timbang 50 mg pyridoxine
Larutkan dalam labu takar 50 ml dengan etanol ad 50 ml
Kocok ad homogen
Laruan baku :
C
1


C
2
1008 ppm


C
3


C
4


C
5


C
6


Cara kerja :
Pipet larutan baku induk (30 l, 50l, 70l, 130l, 160l)
Masing masing ditambahkan etanol ad 10 ml, cek absorbansinya

Preparasi sampel
Cara kerja :
Timbang sampel sebanyak 25 mg
Tambahkan etanol ad 25 ml dalam labu takar 25 mll
Saring dengan kertas whatman
Pipet 0,3 ml (300 l) dengan mikropipet
Tambahkan etanol ad 10 ml dalam labu takar (30 ppm)

Bobot rata rata 3 tablet =


Isoniazid



Pyridoxine =


x = 0,44 mg
Penimbangan sampel
Sampel I = 0,0268 g
Sampel II = 0,0269 g
Sampel III = 0,0258 g
Perhitungan konsentrasi sampel
Sampel I =



= 1072 x


= 32,16
Sampel II =



= 1076 x


= 32,28
Sampel III =



= 1032 x


= 30,96


Tabel pengamatan baku Isoniazid (INH)
Konsentrasi Abs
1
Isoniazid
(265,5)
Abs
2
Pyridoxine
(286,5)
A
1%
1cm
Isoniazid A
1%
1cm
Pyridoxine
6,73 0,183 0,079 271,92 117,38
11,22 0,319 0,318 284,31 283,42
15,71 0,459 0,204 292,17 129,85
22,44 0,633 0,275 282,09 122,55
29,17 0,826 0,367 283,17 125,81
35,30 0,953 0,432 265,46 120,33
Rata-rata = 279,85 Rata-rata = 149,89

Isoniazid pada isoniazid


= 271,92


= 284,31


= 292,17


= 282,09


= 283,17


= 265,46

Isoniazid pada pyridoxine


= 117,38


= 283,42


= 129,85


= 122,55


= 125,81


= 120,33

Tabel pengamatan Baku Pyridoxine
Konsentrasi Abs
1
Isoniazid
(265,5)
Abs
2
Pyridoxine
(286,5)
A
1%
1cm
Isoniazid A
1%
1cm
Pyridoxine
3,02 0,014 0,057 46,36 188,74
5,04 0,028 0,110 55,55 218,25
7,06 0,060 0,184 84,95 260,62
10,08 0,083 0,238 82,34 236,11
13,10 0,104 0,311 79,39 237,40
16,13 0,153 0,419 94,85 259,76
Rata-rata = 73,91 Rata-rata = 233,48
Pyridoxine pada isoniazid


= 46,36


= 55,55


= 84,95


= 82,34


= 79,39


= 94,85
Pyridoxine pada pyriddoxine


= 188,74


= 218,25


= 260,62


= 236,11


= 237,40


= 259,76

Tabel Pengamatan sampel
Konsentrasi Abs
1
Isoniazid (265,5) Abs
1
Isoniazid (286,5)
32,16 0,617 0,279
32,28 0,430 0,195
30,96 0,270 0,270










Perhitungan kadar isoniazid
Sampel 1 =


= 70,74 %
Sampel 2 =


= 49,10 %
Sampel 3 =


= 71,47 %
Perhitungan berat
Sampel 1 = 70,47 % x 563 = 396, 75
Sampel 2 = 49, 10 % x 563 = 276,43
Sampel 3 = 71,47 % x 563 = 402,37
Perhitungan 4d
Kadar (%) Rata-rata % d
S
1
276,43



S
2
396,75 2,81
S
3
402,37 2,81

4d = 4 x 2,81
=11,24
d* = 399,56 276,43
= 123,13
d* > 4d data dibuang
berat =

mg / tablet
PEMBAHASAN
Sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini
terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna, bening dan transparan. Oleh karena
itu, sampel yang tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent
X = 399.56
tertentu. Bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu
diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau sentrifugasi. Prinsip dasar
pada spektrofotometri adalah sampel harus jernih dan larut sempurna, tidak ada partikel koloid
apalagi suspensi, karena apabila sampel tidak jernih atau dikatakan terdapat senyawa lain yang
tidak larut maka hasil pembacaan absorbansi menjadi tidak tepat. Pada penetapan kadar kapsul
kloramfenikol ini praktikan melakukan preparasi sampel dengan metode filtrasi atau di disaring
menggunkan kertas saring.
Pada praktikum ini kelompok kami mendapatkan hasil jumlah isoniazid 399,56 mg /
tablet. sedangkan kadar sebenarnya adalah 400 mg/tablet sedangkan kadar pyridoksine tidak
terbaca. Kesalahan dalam penetapan kadar ini disebabkan karena kelarutan pyridoxyne sangat
besar dan kadar pyridoxyne yang terlalu kecil yaitu 10 mg/tablet sedankan kadar isoniazid 400
mg/tablet dan kearutannya yaitu 1:115 dalam etanol dan kelarutan isoniazid 1:50 dalam etanol.
Akibat dari perbedaan kelarutan dan kadar yang signifikan ini maka ada sejumlah pyridoxyne
yang tidak terlarut sempurna selain itu juga masih ada yang tertinggal dalam labu ukur maupun
dalam proses penyaringan sehingga ketika dilakukan penetapan kadar maka tidak terbaca. Dapat
dikatakan juga semakin kecil kadar obat yang akan ditentukan maka akan semakin besar persen
kesalahan yang didapat.
KESIMPULAN
Kadar pyridoxine yang didapat adalah 399,56 mg/ tablet.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . Departemen Kesehatan Republik Indonesia :
Jakarta.
Rohman, Abdul, Ibnu Gandjar. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Belajar : Yogyakarta.
2008. Kimia Farmasi Analisis.Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Fessenden, Ralp J. dan Joan S. Fessenden, 1997, Kimia Organik, jilid 1 edisi ketiga,
terjemahan oleh : Aloysius H. P, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Martindale. (2009). Martindale The Complete Drug Reference. - 36th Edition ed.
Pharmaceutical Press.