Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pergerakan bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari belenggu
penjajahan mencapai puncaknya dengan di Proklamirkan Kemerdekaan bengsa
Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka sejak itu berakhir penjajahan di seluruh
Indonesia yang menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu mengatur diri
sendiri.
Untuk mengatur kehidupan bernegara, maka pada 18 Agustus 1945
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan sidang khusus untuk
mensahkan Undang-unang Dasar negar Republik Indonesia. Setelah diadakan
perubahan-perubahan dalam naskah UUD, maka pada 18 Agustus 1945 naskah
UUD tersebut oleh PPKI disahkan sebagai UUD 1945 yang berlaku di seluruh
wilayah RI.
Di dalam UUD 1945 sebelum amandemen terdapat pasal-pasal yang
mengatur tentang kehidupan Peradilan di Indonesia seperti yang tercantum dalam
pasal 24 ayat (1) yang berbunyi kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah
Mahkamah Agung dan lain-lain Badan Kehakiman menurut Undang-undang,
sedangkan ayat (2) nya menetapkan bahwa susunan dan kekuasaan badan-badan
kehakiman itu diatur dengan Undang-undang.
Berdasarkan ketentuan Peralihan pasal II UUD 1945 pada masa itu,
seyogyanya Peradilan militer mengambil alih peradilan militer yang ada pada
masa pemerintahan Jepang, akan tetapi hal itu tidak dilakukan, Peradilan baru
dibentuk setelah dikeluarkannya undang-undang Nomor 7 Tahun 1946 tentang
adanya Pengadilan Ketentaraan disamping Pengadilan Biasa.
1

Dengan dibentuknya pengadilan Tentara Berdasarkan Undang-undang
Nomor 7 Tahun 1946, maka dikeluarkanlah Undang-undang nomor 8 Tahun 1946

1
Moch. Faisal Salam, 2010, Hukum Acara Pidana Militer Di Indonesia, Bandung,
Mandar Maju, hlm. 10
2

yaitu Peraturan Hukum Acara Pidana pada Pengadilan Tentara. Pada waktu itu
keadaan negara dalam kondisi terancam, karena pemerintahan kolonial Belanda
dengan membonceng tentara sekutu bermaksud menjajah kembali NKRI, maka
untuk menyesuaikan dengan situasi dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37
Tahun 1948 tentang susunan dan kekuasaan Pengadilan Kejaksaan dalam
lingkungan Peradilan Ketentaraan.
Setelah terbentuk Pemerintah Republik Indonesia Serikat, maka terjadi
lagi perubahan baik undang-undang mengenai susunan dan kekuasaan kehakiman
dengan disahkannya undang-undang darurat Nomor 16 ahun 1950 menjadi
undang-undang nomor 5 tahun 1950 tentang susunan dan kekuasaan
Pengadilan/Kejaksaan dalam lingkungan Pengadilan Ketentaraan, sedangkan
Undang-undang Darurat nomor 17 tahun 1950 ditetapkan pula sebagai hukum
acara pidana pengadilan tentara.
2

Berdasar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1950 maka ditentukan bahwa
ketua Pengadilan Negeri karena jabatannya menjadi Ketua Pengadilan Tentara
serta jaksa pada Pengadilan Negeri menjadi Jaksa pada Pengadilan tentara. Jika
tidak diadakan ketetapan lain oleh Menteri Kehakiman dan Menteri Pertahanan,
hal ini disebabkan pada saat itu belum terdapat tenaga-tenaga ahli dikalangan
tentara untuk ditempatkan pada fungsi yang telah ditentukan. Dalam hal ini dapat
dilihat bahwa Peradilan Tentara dalam arti formil sudah ada, sedangkan dalam arti
materilnya dikarenakan alasan tersebut di atas, maka system Peradilan masih
dijalankan pleh personil nonmiliter yang telah terdidik dalam bidang hukum.
3

Berdasarkan undang-undang nomor 6 tahun 1950 peranan komandan
selaku Ankum tidak banyak berperan, dapat saja seorang tersangka sudah dijatuhi
hukuman oleh pengadilan tanpa sepengetahuan dari Ankum yang bersangkutan.
Ankum akan kehilangan anak buahnya yang dihukum tanpa sepengetahuannya,
hal ini akan mempengaruhi mobilitas dari suatu kesatuan.
Dengan sistem ini wewenang Ankum sebagai penanggung jawab
daripada kesatuannya merasa dilampauidan akan menimbulkan salah pengertian

2
Ibid, hlm. 11
3
Ibid
3

antara komandan selaku penanggung jawab keamanan dan ketertiban disatu pihak
dengan jaksa yang bertanggungjawab menegakkan hukum di lain pihak. Untuk
menjaga jangan sampai terjadi bentrokan antara jaksa dan komandan maka dalam
perkembangannya melihat kondisi dan kebutuhan peradilan militer itu sendiri,
lahirlah undang-undang nomor 29 tahun 1954 tentang pertahanan Negara
Republik Indonesia yang dalam pasal 35 menyebutkan Angkatan Perang
mempunyai peradilan tersendiri dan komandan mempunyai hak penyerah
perkara.
4

Sebagai realisasi dari isi pasal 35 itu kemudian lahirlah undang-undang
nomor 1 Drt tahun 1958 mengenai Hukum Acara Pidana Tentara yang merubah
undang-undang nomor 6 tahun 1950. dengan adanya undang-undang tersebut
maka Ankum harus ikut menentukan nasib anak buahnya dalam rangka
penyelesaian kasus pidana dan membatasi ikut campur pihak lain di dalam
kesatuannya.
Dengan berlakunya undang-undang nomor 1 Drt tahun 1958, wewenang
jaksa berpindah ketangan komandan. Berpindahnya wewenang sebagai pengusut,
penuntut dan penyerah perkara kepada komandan, maka fungsi jaksa tentara
dikurangi yang tadinya bersifat aktif menjadi pasif. Karena situasi politik semakin
stabil, maka kehidupan militer semakin mantap hingga terpikir untuk mengadakan
penggantian terhadap tenaga Hakim dan Jaksa Tentara yang masih dirangkap
Hakim dan Jaksa Pengadilan Negeri dengan tenaga Militer yang aktif ahli hukum.
Untuk mendapatkan tenaga ahli hukum dikalangan militer maka pada tahun 1952
didirikan Akademi Hukum Militer dan Perguruan Tinggi Hukum Militer. Setelah
didapatkan tenaga aktif yang berpendidikan hukum, mulai tahun 1961 diadakan
penggantian terhadap tenaga-tenaga Hakim, Jaksa Tentara dari Pengadilan Negeri
dengan tenaga-tenaga aktif tersebut. Penggantian tenaga tersedia didasarkan dari
instruksi Menteri Jaksa Agung No. 157/MDJAG/1961/SI tanggal 11 April 1961
yang menginstruksikan kepada semua jaksa tentara Pengadilan Negeri
menyerahkan tugas rangkapan mereka kepada tenaga-tenaga Jaksa Tentara yang
berasal dari ABRI.

4
Ibid, hlm. 12
4

Hal ini menyempurnakan prinsip unity of command sejajar dengan
kehendak undang-undang nomor 29 tahun 1954, pada 19 September 1961 lahirlah
Surat Keputusan Bersama KASAD dan Menteri Jaksa Agung Nomor MK/KPTS-
189/9/1961 dimana Menteri Jaksa Agung mengalihkan wewenang, kekuasaan dan
tanggung jawabnya yang berhubungan dengan kejaksaan tentara. Yang dialihkan
ialah wewenang dan tanggung jawab Menteri Jaksa Agung selaku pimpinan
Departemen Kejaksaan, khusus yang berhubungan dengan kejaksaan tentara.
Maka sejak itu sebenarnya pengadilan tentara sudah terwujud dalam arti baik
formil maupun materil.
5


B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah Kedudukan dan Peran Peradilan Militer di Indonesia?



















5
Ibid, hlm. 13
5





BAB II
ISI


A. Hukum Acara Khusus Bagi Tentara
Walaupun sebagai warga Negara RI tentara bukan merupakan kelas
tersendiri, karena tiap anggota tentara adalah juga sebagai anggota masyarakat
biasa, tapi karena adanya beban kewajiban Angkatan Bersenjata sebagai inti
dalam pembelaan dan pertahanan negara, maka diperlukan suatu pemeliharaan
ketertiban yang lebih disiplin dalam organisasinya. Sehingga seolah-olah
merupakan kelompok tersendiri untuk mencapai tujuan tugasnya yang pokok.
Pengertian tentara secara formilnya menurut Undang-undang dapat
ditemukan dalam pasal 46, 47, dan 49 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Tentara (S. 1934-164 yang telah dirubah dan ditambah dengan Undang-undang
Nomor 39 Tahun 1947.
Pasal 46 ayat (1) yang dimaksud dengan tentara adalah:
Ke.1. mereka yang berikatan dinas secara sukarela pada Angkatan
Perang, yang wajib berada dalam dinas secara terus menerus dalam tenggang
waktu ikatan dinas tersebut.
Ke.2. Semua Sukarelawan lainnya pada Angkatan Perang dan para
militer wajib sesering dan selama mereka itu berada dalam dinas, demikian juga
jika mereka berada di luar dinas yang sebenarnya dalam tenggang waktu selama
mereka dapat dipanggil untuk masuk dalam dinas, melakukan salah satu tindakan
yang dirumuskan dalam pasal 97, 99 dan 139 KUHPT.
Pasal 47: Barangsiapa yang kenyataannya bekerja pada Angkatan
Perang, menurut hukum dipandang sebagai militer,, apabila dapat diyakinkan
bahwa dia tidak termasuk dalam salah satu ketentuan dalam pasal di atas.
6

Pasal 49 ayat (1) termasuk pula sebagai anggota Angkatan Perang.
Ke.1. para bekas tentara yang dipekerjakan untuk dinas ketentaraan.
Ke.2. komisaris-komisaris yang berkewajiban ketentaraan yang
berpakaian dinas tentara tiap-tiap kali apabila mereka itu melakukan.
Ke.3. para perwira pensiunan, para anggota suatu pengadilan tentara (luar
biasa) yang berpakaian dinas demikian itu.
Ke.4. mereka yang memakai pangkat militer titular baik oleh atau
bedasarkan undang-undang atau dalam waktu keadaan bahaya diberikan oleh atau
bedasarkan peraturan Dewan Pertahanan, selama dan sebegitu jauh mereka dalam
menjalankan tugas kewajibannya, berdasarkan mana mereka memperoleh pangkat
militer titular tersebut.
Di dalam pasal 45 KUHPT, menyebutkan bahwa yang dimaksudkan
dengan Angkatan Perang adalah:
1. Angkatan Darat dan Militer wajib yang termasuk dalam lingkungannya
terhitung juga personil cadangan (nasional)
2. Angkatan laut dan militer wajib yang termasuk dalam lingkungannya,
terhitung juga personil cadangannya (nasional)
3. Angkatan udara dan militer wajib termasuk dalam lingkungannya,
terhitung juga personil cadangannya (nasional)
4. Dalam waktu perang mereka yang dipanggil menurut undang-undang
untuk turut serta melaksanakan pertahanan atau pemeliharaan keaman dan
ketertiban.
Angkatan perang merupakan wadah bagi orang-orang yang ditugaskan
untuk berperang, maka pasal 46 dan 47 merupakan penegasan siapa-siapa
orangnya yang termasuk di dalam wadah tersebut.

B. Kedudukan dan Peranan Peradilan Militer
Konstitusi Negara Indonesia mengatakan bahwa segala warga Negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada keculalinya (Pasal 27
ayat (1) UUD 1945 amandemen keempat.
7

Dengan demikian sebenarnya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam menjalankan pemerintahan tidak boleh ada warga Negara yang mempunyai
keistimewaan, termasuk dalam masalah peradilan, semua warga Negara harus
tunduk dan patuh kepada keputusan hukum dan diperlakukan sama apabila salah
seorang warga Negara tersangkut perkara hukum. Pengadilan harus bisa
menjalankan dan mengayomi para pihak yang berpekara di pengadilan.
Dari sudut kompetisi sistem kekuasaan kehakiman di Indonesia
mengenal 5 macam jenil peradilan, yaitu peradilan umum, peradilan agama,
peradilan tata usaha Negara, peradilan militer dan mahkamah konstitusi, masing-
masing peradilan mempunyai obyek dan subyek yang berbeda dan kekhususan
tersendiri.
Kompetisi peradilan umum, khususnya dalam perkara pidana akan
diproses melalui sistem peradilan pidana yang dimulai dari proses penyidikan,
penuntutan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Dalam perkara pidana
terdakwanyaselama ini berasal dari kalangan rakyat sipil (di dalamnya termasuk
terdakwa yang berasal dari polri) atau bisa dari kalangan rakyat sipil dan kalangan
militer (perkara koneksitas). Sedangkan perkara pidana yang terdakwanya berasal
dari kalangan militer dengan jenis pelanggaran terhadap hukum pidana umum
atau hukum pidana militer diproses melalui mekanisme sistem peradilan pidana
militer dengan sub sistem Ankum, papera, Polisi Militer, Oditur Militer, Hakim
Militer dan Petugas Pemasyarakatan Militer.
Era reformasi yang menuntut transparansi, kebebasan, demokratisasi dan
persamaan hak, berimbas kepada penyelenggaraan peradilan. Prinsip equality
before the law menghendaki tidak ada warga Negara yang mendapat prevelege
apalagi dalam bidang peradilan. Oleh karena itu tuntutan bahwa militer yang
melakukan tindak pidana umum diadili di peradilan umum terus bergaung dan
puncaknya adalah dikeluarkannya TAP MPRI RI Nomor VI/2000 dan TAP MPR
RI Nomor VIII/2000 Jo Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang ATNI
yang menegaskan bahwa anggota militer yang melakukan kejahatan umum di
bawa ke pengadilan sipil. Sedangkan Undang-undang Nomor 31 tahun 1997
tentang peradilan Militer mengatakan tindak pidana yang dilakukan anggota
8

militer baik tindak pidana umum sebagaimana diatur dalam KUHP dan perundan-
undangan pidana lainnya, juga tindak pidana militer sebagaimana terdapat dalam
KUHPM semuanya diadili di peradilan militer.
Melihat semangat yang terkandung dalam TAP MPR RI dan Undang-
undang Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI, Dewan Perwakilan Rakyat
mengajukan usul inisiatif perubahan Undang-undang Nomor 31 tahun 1997
tentang Peradilan Militer dengan alasan supaya terjadi sinkronisasi dengan
Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Terkait dengan Sistem peradilan pidana, bahwa Sistem Peradilan Pidana
bisa diartikan sebagai sebuah jaringan interkoneksi yang melibatkan seluruh
komponen sub sistem peradilan pidana dalam menanggulangi kejahatan.
Pengertian ini tidak bersifat spesifik dalam arti tidak merujuk kepada satu sistem
peradilan pidana (baik peradilan umum maupun peradilan militer). Oleh karena itu
mengingat kejahatan bisa dilakukan oleh setiap orang baik kalangan sipil maupun
militer, maka membuka celah bahwa dua sistem peradilan yaitu peradilan umum
dan peradilan militer bisa dijadikan satu.
Secara yuridis eksistensi peradilan militer dimuat dalam Pasal 24 ayat (2)
UUD 1945 amandemen keempat yang berbunyi : kekuasaan kehakiman dilakukan
oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya
dalam lingkungan peradilan umum, lingkunagan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usahan Negara dan oleh sebuah
mahkamah Konstitusi.
Peradilan militer merupakan peradilan khusus baik obyek maupun
subyeknya yaitu golongan rakyat tertentu (prajurit TNI atau yang dipersamakan).
Kemudian pasal 1 dan 2 KUHPM mengatakan penerapan KUHP ke dalam
KUHPM dan orang-orang yang tunduk kepada peradilan militer yang melakukan
tindak pidana dan tidak tercantum dalam KUHPM diterapkan KUHP.
Keberadaan/eksistensi peradilan militer memang harus dipertahankan,
tetapi permasalahannya apakah lingkup kewenangannya tetap mengadili
pelanggaran tindak pidana umum dan tindak pidana militer yang dilakukan oleh
9

prajurit TNI atau hanya mengadili tindak pidana militer, sedangkan tindak pidana
umum yang dilakukan oleh prajurit TNI dilakukan di peradilan sipil/umum.
Ketetapan MPR RI Nomor VII/2000 khususnya Pasal 3 ayat (4) huruf a
berbunyi: Prajurit TNI tunduk kepada kekuasaan peradilan umum dalam hal
pelanggaran pidana umum. Kemudian RUU Perubahan Undang-undang Nomor
31 tahun 1997 tentang peradilan militer menghendaki bahwa tindak pidana yang
dilakukan oleh prajurit TNI diadili di peradilan umum.
Untuk mengurangi permasalahan ini, maka pembaharuan hukum harus
diarahkan kepada pembangunan sistem hukum, yang meliputi struktur hukum,
substansi hukum dan budaya hukum. Pembangunan struktur hukum dalam hal ini
kelembagaan hukum harus diarahkan kepada terbentuknya satu lembaga hukum
yaitu peradilan yang independen (Independence of Judiciary). Sebuah peradilah
harus bebas dari pengaruh, direktiva, dan interpensi dari siapapun. Dan ini
tercermin dari adanya kebebasan hakim dalam mengadili perkara pidana,
kebebasan hakim tidak mungkin terjadi apabila masih terikat rantai komando atau
adanya hubungan yang sub ordinasi. Pembangunan substansi hukum harus
diarahkan kepada pembentukan suatu undang-undang yang komprehensif, dalam
hal ini perubahan undang-undang peradilan harus diikuti dengann perubahan
dalam hukum materil, hukum formil dan hukum pelaksanaann pidana.
Sinkronisasi perlu dilakukan sebelum terbentuknya undang-undang peradilan
pidana militer yang baru yaitu UUD 1945, Undang-undang kekuasaan kehakiman,
Undang-undang Mahkamah Agung dan Undang-undang pemasyarakatan.
Menentukan perbuatan mana yang dikategorikan sebagai tindak pidana
umum oleh seorang prajurit TNI, pertama-tama bisa dilihat dalam KUHP dan
perundang-undangan lainnya. Pelanggaran terhadap ketentuan nini harus diadili di
peradilan umum. Sedangkan perbuatan yang menyangkut kehormatan korps dan
pelanggaran ketentuan pidana umum yang luar biasa misalnya genocide,
pelanggaran terhadap hukum perang di peradilan Militer. Memilah-milah mana
yang merupakan pelanggaran terhadap hukum pidana umum dan mana
pelanggaran yang hanya bisa dilakukan oleh seorang militer merupakan persoalan
utama yang harus terlebih dahulu dibicarakan/dilakukan.
10

Tidak ketinggalan harus dibahas adalah hukum acara pidana,
pembenahan pertama adalah merekonstruksi sub sistem peradilan pidana yang
bisa mencakup semua unsur peradilan yang selama ini ada misalnya bagaimana
menyatukan penyidik dengan polisi militer, papera, dan ankum, kemudian jaksa
dengan otmil serta pengadilan dengan mahmil. Sehingga kalau ini sudah beres
dengan sendirinya peradilan koneksitas tidak diperlukan lagi. Termasuk
pembenahan dalam hukum acara pidana adalah pembenahan tentang lembaga
penahanan (baik yang ada di polisi, polisi militer, Rutan, dan RTM) sampai
kepada lembaga pemasyarakatan (militer).
Pembangunan bidang budaya hukum harus diarahkan kepada pentaatan
kepada hukum, seorang prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus
tunduk disidik oleh penyidik polisi, atau jaksa, dan ini memerlukan masa transisi
yang agak lama.
Pembangunan sistem hukum secara komprehensif akan menghilangkan
ketidakharmonisan dalam penegakan hukum pidana. Keberhasilan suatu
penegakan hukum pidana tidak melulu berada pada lembaga hukum, tetapi
masyarakat mempunyai tanggungjawab yang sama dengan lembaga-lembaga
hukum lainnya.
Melihat RUU Perubahan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1997, terlihat
beberapa pengaturan yang tumpang tindih, misalnya pasal tentang tata usaha
militer seharusnya tidak diatur dalam undang-undang ini mengingat militer
merupakan bagian dari Negara dan ini sudah diatur dalam Undang-undang Nomor
5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Sebagai catatan tambahan, dalam pembaharuan sistem hukum hendaknya
juga disertakan pembaharuan hukum tentang contemp of court. Aturan contemp of
court harus bisa menjangkau siapapun yang terlibat dalam penegakan hukum.
termasuk didalamnya adalan masyarakat. Sebagai wakil Tuhan di dunia hakim
seharunya mendapat penghormatan dan perlindungan. Contemp of Court
hendaknya bisa menjangkau kepada perbuatan yang tidak mentaati putusan
pengadilan, sehingga apabila menyangkut peradilan yang melibatkan prajurit
11

TNI, institusi TNI tidak bisa melakukan dis obey terhadap putusan pengadilan
yang telah dijatuhkan.

C. Yurisdiksi Peradilan Militer
Sesuai Pasal 9 Undang-Undang No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan
Militer, diakitkan dengan Pasal 1 dan 2 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Militer (KUHPM), maka Peradilan Militer mengadili tindak pidana didasarkan
pada subyeknya, yaitu prajurit (militer) atau yang dipersamakan. Dengan kata
lain, selama ia militer, dan melakukan tindak pidana apa saja, baik tindak pidana
militer (murni), seperti desersi, insubordinasi, dan lain-lain juga tindak pidana
umum, seperti perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, atau pencurian, dan lain-
lain maupun tindak pidana khusus, seperti penyalahgunaan psikotropika/shabu-
shabu, narkotika, korupsi, dan lain-lain diadili di peradilan militer yang tidak ada
kaitannya sama sekali dengan tugas-tugas/jabatan kemiliteran.
Meskipun bukan prajurit atau yang dipersamakan dengan prajurit
melakukan tindak pidana, dan tindak pidana tersebut merugikan kepentingan
militer serta dilakukan semata-mata dengan militer (perkara koneksitas) dapat
diadili di peradilan militer. Apabila orang sipil (di luar PNS TNI) dapat diadili
oleh peradilan militer, maka PNS TNI yang melakukan tindak pidana yang
merugikan TNI seharusnya dapat diadili oleh peradilan militer.
Sebagaimana ketentuan yang mengatur tentang koneksitas, maka titik
berat diadilinya seseorang warga sipil (civilian) di peradilan militer, karena unsur
(kerugian) militer melebihi unsur sipil, sebagaimana Penjelasan Pasal 22 Undang-
undang Nomor : 14 Tahun 1970, sebagai berikut :
Penyertaan pada suatu delik militer yang murni oleh seorang bukan
militer dan perkara penyertaan, di mana unsur militer melebihi unsur sipil
misalnya, dapat dijadikan landasan untuk menetapkan Pengadilan lain dari pada
Pengadilan Umum, ialah Pengadilan Militer untuk mengadili perkara-perkara
demikian.
Dengan demikian, selama akibat tindak pidana tersebut dapat dibuktikan
merugikan kepentingan militer, misalnya pencurian senjata/amunisi di gudang
12

senjata, membunuh caraka untuk memperoleh data/informasi militer, membakar
gedung arsip/dokumen militer, dan lain-lain, maka pelaku akan diadili di
Peradilan Militer.
Diadilinya PNS TNI di Peradilan Militer di masa depan dapat merujuk
kepeda kewenangan Peradilan Militer jaman Pemerintahan Kolonial Belanda,
yaitu Krijgsraad berwenang memeriksa dan mengadili perkara pidana pada
tingkat pertama terhadap semua anggota militer dan orang-orang sipil yang
bekerja di lingkungan kemiliteran.
Orang-orang sipil tersebut, saat ini dapat diartikan sebagai Pegawai PNS
TNI, karena kenyataannya bekerja di lingkungan TNI atau orang-orang sipil
lainnya bukan PNS TNI tetapi bekerja di lingkungan TNI atau setidak-tidaknya
memperoleh gaji dari TNI.
Selain itu, untuk mendukung dapat diadilinya PNS TNI di Peradilan
Militer, sebagai contoh adalah pelanggaran lalu lintas oleh PNS TNI, yaitu apabila
PNS TNI mengemudikan kendaraaan dinas TNI, kemudian diberi bukti
pelanggaran (tilang) oleh polisi Militer (POM) karena kedapatan tidak membawa
SIM atau STNK, maka ia akan diproses oleh POM, selanjutnya disidang di
pengadilan militer.
Dari penyampaian tersebut dapat dikatakan, ada korelasi positif antara
tentara (militer) yang kuat, utuh dan solid dengan eksistensi suatu negara
(bangsa). Demikian pula sebaliknya, apabila tentara suatu negara lemah, terpecah-
pecah, maka dapat dipastikan negara tersebut akan mudah hancur.
Dimungkinkannya PNS TNI yang melakukan tindak pidana berkaitan
dengan tugas-tugas/jabatannya atau yang dapat diperkirakan akan mempengaruhi
kinerja TNI atau dengan kata lain merugikan unsur (kepentingan) militer, diproses
melalui Sistem Peradilan Pidana Militer (SPPM), maka ada beberapa hal yang
perlu mendapat perhatian, yaitu berkaitan dengan Ankum dan Papera, karena
selama ini ketentuan tentang keankuman dan kepaperaan hanya untuk Prajurit
TNI (militer).
Demikian halnya apabila PNS TNI melakukan tindak pidana tidak
berkaitan dengan tugas/jabatannya, tetapi tempat kejadian perkara (locus delicti)
13

terjadi di dalam markas/pangkalan atau yang dipersamakan dengan
markas/pangkalan (military property), apakah penyidik sipil (Polri) dapat
diijinkan melakukan penyelidikan di dalam markas/pangkalan tersebut.
Mengingat sampai saat ini, belum ada Undang-Undang yang mengatur dan adanya
resistensi, sebagaimana dinyatakan oleh Laksa Mahmilgung, yaitu :
Tradisi keprajuritan seperti, cepat bereaksi, Lesprit de corps, loyalitas,
kesetiakawanan, berani dan rela berkorban ini menjadikan setiap prajurit sangat
rawan dalam kecenderungan menolak bahkan melawan terhadap orang lain
(bukan prajurit) yang masuk untuk menangani masalah-masalah yang menyangkut
prajurit atau kesatuannya. Lebih rentan lagi, karena tugasnya, prajurit membawa
senjata.
Lebih dari itu, mengingat peran PNS TNI bukan lagi sebagai suplemen
Prajurit TNI tetapi sudah menjadi komplemen, dan semata-mata untuk
kepentingan tugas pokok TNI, maka sudah saatnya PNS (pejabat PNS TNI atau
mereka yang memahami peran-peran PNS TNI) diberikan kesempatan untuk
memberikan semacam penyuluhan (hukum) kepada prajurit TNI berkaitan dengan
keberadaan PNS TNI dalam organisasi TNI, peran, hubungannya dengan tugas-
tugas pokok TNI dan prajurit TNI status, pendidikan, karir, dan lain-lain, karena
(diperkirakan) masih banyak prajurit TNI yang belum memahami atau belum
mengetahui peran-peran PNS TNI sebagaimana tersebut di atas.










14

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
1. Undang-undang mengenai kekuasaan kehakiman dalam perdilan
militer terus berkembang di Indonesia. Yang tadinya hanya terdiri dari
formilnya saja, sampai telah mencakup segi materilnya juga.
Pengertian tentara secara formilnya menurut Undang-undang dapat
ditemukan dalam pasal 46, 47, dan 49 dari Kitab Undang-undang
Hukum Pidana Tentara (S. 1934-164 yang telah dirubah dan ditambah
dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1947.
2. Peradilan militer merupakan peradilan khusus baik obyek maupun
subyeknya yaitu golongan rakyat tertentu (prajurit TNI atau yang
dipersamakan). Kemudian pasal 1 dan 2 KUHPM mengatakan
penerapan KUHP ke dalam KUHPM dan orang-orang yang tunduk
kepada peradilan militer yang melakukan tindak pidana dan tidak
tercantum dalam KUHPM diterapkan KUHP.
3. Meskipun bukan prajurit atau yang dipersamakan dengan prajurit
melakukan tindak pidana, dan tindak pidana tersebut merugikan
kepentingan militer serta dilakukan semata-mata dengan militer
(perkara koneksitas) dapat diadili di peradilan militer. Apabila orang
sipil (di luar PNS TNI) dapat diadili oleh peradilan militer, maka PNS
TNI yang melakukan tindak pidana yang merugikan TNI seharusnya
dapat diadili oleh peradilan militer.
4. Diadilinya PNS TNI di Peradilan Militer di masa depan dapat merujuk
kepada kewenangan Peradilan Militer jaman Pemerintahan Kolonial
Belanda, yaitu Krijgsraad berwenang memeriksa dan mengadili
perkara pidana pada tingkat pertama terhadap semua anggota militer
dan orang-orang sipil yang bekerja di lingkungan kemiliteran.

15

B. Saran
1. Sejarah perkembangan Peradilan militer di Indonesia harusnya dapat
menjadikan gambaran bagaimana idealnya sistem peradilan militer
tersebut. Sehingga dapat terbentuk kepastian hukum dalam lingkup
kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak lain.
2. Pembangunan bidang budaya hukum harus diarahkan kepada
pentaatan kepada hukum, seorang prajurit TNI yang melakukan tindak
pidana umum harus tunduk disidik oleh penyidik polisi, atau jaksa,
dan ini memerlukan masa transisi yang agak lama.
3. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak ada kecualinya. Demikian bunyi Pasal 27 ayat (1) UUD
RI Tahun 1945 setelah Amandemen Ketiga Tahun 2001. Hal ini
menunjukan apapun agama, profesi, kedudukan sosial, suku, dan lain-
lain adalah sama di muka hukum (equality before the law). Demikian
halnya profesi sebagai Prajurit TNI maupun PNS TNI adalah sama di
muka hukum, kecuali telah ditentukan oleh undang-undang terlebih
dahulu.