Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

PENENTUAN TITIK BEKU LARUTAN














Nama : Marena Thalita Rahma
NIM : 121810301031
Kelompok : 5
Kelas : A
Asisten : Hefinda Elfiandika












LABORATORIUM KIMIA FISIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Titik beku larutan adalah suhu dimana larutan dalam keadaan setimbang dengan pelarut
padatnya. Titik beku larutan dapat mengalami penurunan, apabila terjadi peningkatan tekanan
dalam cairan yang merupakan selisih antara titik beku awal dengan titik beku setelah terjadi
perubahan sistem. Titik beku larutan juga dapat mengalami penurunan ketika suatu zat
ditambahkan dalam suatu larutan.
Salah satu aplikasi penurunan titik beku larutan dalam kehidupan sehari-hari adalah
cairan pendingin pada radiator kendaraan bermotor. Cairan ini berfungsi mentransformasikan
panas mesin ke lingkungan agar mesin dapat tetap bekerja pada suhu optimum. Cairan pada
radiator dapat membeku dan dapat mengakibatkan pecahnya saluran radiator serta mesin tidak
dapat dihidupkan. Hal yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah
pembuatan cairan pendingin Radiator Coolant yang dibuat dengan mencampurkan cairan
etilen glikol dengan aquadestelata. Etilenglikol berfungsi sebagai anti beku pada kendaraan
bermotor yang digunakan di daerah bermusim dingin atau panas.
Percobaan ini akan memepelajari tentang penetapan penurunan titik beku molal pelarut
dan diharapkan dapat digunakan untuk menentukan berat molekul senyawa non volatil yang
tidak diketahui. Penentuan berat molekul senyawa non volatil tersebut dilakukan dengan
membandingkan dengan literatur yang ada berdasarkan titik beku, dan dan perubahan titik
bekunya.

1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah
1. Menentukan tetapan penurunan titik beku molal pelarut.
2. Menentukan berat molekul zat non volatil yang tidak diketahui.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MSDS (Material Safety Data Sheet)
2.1.1 Akuades
Akuades merupakan H
2
O murni yang terbentuk dari distilasi air. Akuades merupakan
cairan tidak berwarna dan tidak berbau. Derajat keasaman (pH) dari akuades adalah netral
yaitu 7,0. Titik didih dan titik lebur dari akuades berturut-turut adalah 100
o
C dan 0
o
C.
Tekanan uap dari akuades pada suhu 20
o
C adalah 17,5 mmHg. Massa jenis dari akuades
adalah 1,00 gram/cm
3
. Rumus formula akuades adalah H
2
O dengan berat molekul 18,0134
gram/mol (Sciencelab.com, 2014).
Akuades yang mengenai mata, kulit, tertelan, atau juga terhisap tidak menimbulkan
gejala serius atau tidak berbahaya. Namun, jika terjadi iritasi segera dibawa ke pihak medis.
Seperti air pada umumnya akuades tidak mudah terbakar. Penyimpanan sebaiknya di wadah
tertutup rapat (Sciencelab.com, 2014).

2.1.2 NaCl
NaCl atau Natrium klorida mempunyai massa molar 58,44 gram/mol. Massa jenisnya
adalah 2,16 gram/cm
3
. Titik leleh NaCl adalah 801
o
C dan titik didih 1465
o
C. Garam natrium
klorida memiliki kelarutan dalam air sebesar 35,9 gram/100 mL air pada suhu 25
o
C. Natrium
klorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang
tinggi (Sciencelab.com, 2014).
NaCl tidak berbahaya bila tertelan namun jika dalam jumlah banyak dapat
menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dalam waktu yang lama. Jika terkena kulit yang
teriritasi akan menimbulkan rasa perih. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi ringan.
Pertolongan yang harus dilakukan membilas mata dan kulit yang terkena garam dapur selama
kurang lebih 15 menit. Jika terjadi iritasi atau gejala yang lebih parah segera hubungi petugas
medis. Penyimpanan seharusnya dilakukan di tempat yang sejuk, kering, dan tertutup
(Sciencelab.com, 2014).

2.1.3 Asam Cuka
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat yang mudah ditemui. Asam ini
memiliki nama lain asam etanoat, asam asetat glasial, asam ethylic, methanecarboxylic acid,
atau biasa disebut asam cuka. Rumus molekul dari asam asetat ini adalah C
2
H
4
O
2
atau biasa
ditulis CH
3
COOH. Asam asetat mempunyai titik lebur 16,7
o
C dan memiliki titik didih pada
118
o
C. Asam ini memiliki massa jenis 1,05 gram/mL. Berbeda dengan massa jenis cairannya,
massa jenis uap dari asam asetat adalah 2,07 gram/L. Tekanan uap dari asam cuka adalah 11
mmHg pada suhu 20
o
C, dan 30 mmHg pada suhu 30
o
C (Sciencelab.com, 2014).
Bahan ini sangat korosif dan menyebabkan luka bakar yang serius. Sangat berbahaya
jika tertelan. Asam asetat sebaiknya dijauhkan dari agen oksidator, reduktor, logam, asam,
alkali. Asam asetat sebaiknya disimpan di kawasan terpisah dan disetujui. Wadah diletakkan
di tempat yang sejuk dan berventilasi baik. Wadah harus tertutup rapat dan disegel sampai
siap untuk digunakan. Hindari semua kemungkinan sumber api (Sciencelab.com, 2014).

2.1.4 Naftalen
Naftalen adalah senyawa kimia yang berwujud padat berupa kristal dan berwarna putih,
berbau aromatik. Berat molekulnya adalah 128,19 g/mol. Titik didih naftalen adalah 218
o
C
sedangkan titik leburnya 80,2
o
C. Naftalen mudah larut dalam air panas, metanol, n-oktanol.
Senyawa ini sangat sedikit terdispersi dalam air dingin. Naftalen sangat berbahaya apabila
tertelan, berbahaya bila kasus kontak mata (iritan), dan sedikit berbahaya dalam kasus kontak
kulit. Tindakan pertolongan pertama untuk kontak mata yaitu periksa dan lepaskan lensa
kontak, segera basuh mata dengan banyak air mengalir selama minimal 15 menit. Apabila
kontak dengan kulit segera cuci dengan air yang banyak. Biarkan korban untuk beristirahat di
tempat yang berventilasi baik jika terjadi penghirupan dan jangan dimuntahkan jika tertelan,
kecuali diarahkan oleh tenanga medis untuk melakukannya (Sciencelab.com, 2014).

2.2 Penentuan Titik Beku Larutan
Titik beku adalah suhu pada pelarut tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke
padat. Air membeku pada suhu 0 C pada tekanan 1 atm, karena pada suhu itu tekanan uap air
sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut
penurunan titik beku ( Tf = freezing point depression). Penurunan titik beku tidak
bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan.
Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif (Atkins, 1987).
Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku pelarut dan titik beku larutan
dimana titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut. Titik beku pelarut murni seperti
yang kita tahu adalah 0
0
C dengan adanya zat terlarut misalnya saja gula yang ditambahkan ke
dalam air maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0
o
C melainkan akan menjadi
lebih rendah di bawah 0
o
C itulah penyebab terjadinya penurunan titik beku yaitu oleh
masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain cairan tersebut menjadi tidak murni, maka
akibatnya titik bekunya berubah (nilai titik beku akan berkurang) (Chang, 2003).
Partikel zat terlarut yang tidak mudah menguap dalam larutan dapat mengurangi
kemampuan zat pelarut untuk menguap, sehingga tekanan uap larutan lebih rendah dari pada
tekanan uap pelarut murni. Partikel zat terlarut tersebut akan mengakibatkan kenaikan titik
didih dan penurunan titik beku larutan. Menurut hukum Roult, besarnya penurunan tekanan
uap larutan, kenaikan titik didih, dan penurunan titik bekularutan yang mengandung zat
terlarut tidak mudah menguap dan tidak mengalami disosiasi (larutan non elektrolit),
sebanding dengan banyaknya partikel zat terlarut. Besarnya kenaikan titik didih larutan 1
molal disebut kenaikan titik didih molal, Kb, sedangkan besarnya penurunan titik beku larutan
1 molal disebut penurunan titik beku molal, Kf (Castellan, 1983).
Hukum Roult dapat digunakan untuk menentukan larutan encer. rumus yang digunakan
adalah
T
b
= m x K
b

T
f
= m x K
f

Dimana,
T
b
= Kenaikan titik ddih larutan
T
f
= Penurunan titik beku larutan
K
b
= Kenaikan titik didih molal
K
f
= Penurunan titik beku molal
m = Molalitas larutan
(Chang, 2003).
Besarnya molalitas larutan yang sejenis sebanding dengan masa zat terlarut dan
berbanding terbalik dengan masa molekul zat terlarut. Jika massa zat terlarut dan massa zat
pelarut diketahui, maka massa molekul zat terlarut dapat ditentukan berdasarkan sifat koligatif
larutan. Larutan yang mengandung zat terlarut tidak mudah menguap dan dapat mengalami
disosiasi (larutan elektrolit), besarnya penurunan tekanan uap larutan, kenaikan titik didih,
dan penurunan titik beku larutan, dipengaruhi oleh derajat disosiasi larutan (Sukardjo, 1990).
Empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau pada larutan yang lebih pekat,
yang tergantung pada jumlah partikel terlarut yang ada. Jadi, sifat-sifat tersebut tidak
bergantung pada jenis terlarut. Keempat sifat tersebut adalah :
1. Penurunan Tekanan Uap
2. Kenaikan Titik Didih
3. Penurunan titik Beku
4. Tekanan Osmotik
Keempat sifat-sifat tersebut dinamakan sifat-sifat koligatif. Kegunaan sifat koligatif banyak
dan beragam. Juga penelitian sifat-sifat koligatif memainkan peranan penting dalam metode
penetapan bobot molekul dan pengembangan teori larutan (Brady, 2002).
Suatu zat pelarut jika kedalamnya dimasukkan zat lain yang tidak mudah menguap
(non volatil), maka tenaga bebas pelarut tersebut akan turun. Penurunan tenaga bebas ini
mengikuti persamaan Nerts.
G
1
G = RT ln x
G
1
G = Penurunan tenaga bebas pelarut
Keterangan:
R = Tetapan gas murni umum
T = suhu mutlak
x = Fraksi mol pelarut dalam larutan
(Tim Kimia Fisik, 2014).
Penurunan energi bebas ini akan menurunkan kemampuan zat pelarut untuk berubah
menjadi fase uapnya, sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah bila
dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni. Pengaruh
penurunan tekanan uap terhadap titik beku larutan mudah difahami dengan bantuan diagram
fasa. Misalnya, titik beku larutan T
f
lebih rendah dibandingkan dengan titik beku pelarut
murni T
o
f
. Dari uraian diatas jelas bahwa penurunan titik beku larutan
T
f
= T
o
f
T
f

Besarnya tergantung pada fraksi mol pelarut. Karena fraksi mol zat terlarut X
1
: menurut
persamaan X = 1- X
1
maka T
f
dapat dinyatakan sebagai X
1
berikut:
T
f
= (R(T
o
f
)
2
/H
f
) X
1

H
f
adalah panas pencairan pelarut. Jika m ml zat terlarut ke dalam 1000 gram zat terlarut,
maka di dapat larutan dengan molarutas m, sehingga larutan tersebut mempunyai fraksi mol
zat terlarut sebesar
X
1
= m / (1000/M)+ m)
M adalah berat molekul zat pelarut. Larutan encer m mendekati 0 (nol), maka X
1
= mM/1000,
sehingga penurunan titik beku larutan dapat di tulis :
T
f
= (R(T
o
f
)
2
M.m)/1000H
f

Bila disubstitusikan K
f
= (R(T
o
f
)
2
M)/1000H
f
kedalam persamaan (2.8), maka akan
diperoleh persamaan yang sederhana, yaitu
T
f
= Kf . m
Persamaan X
1
= m.M/1000 di atas didapat persamaan
m = 1000 X
1
/M
Sedangkan X
1
= m
1
/ (m
1
+ m) = (W
1
/M
1
) / {(W
1
/M
1
+ W/M)}
W1 = berat zat terlarut
M1 = BM zat terlarut
W = berat pelarut
Larutan encer berlaku (W
1
/M
1
) >>(W/M), sehingga persamaannya menjadi:
X
1
= (W
1
.M) / (W.M
1
) dan T
f
= (1000/k
f
) / M
1
x (W
1
/W)
Rumus untuk menghitung harga k
f
adalah :
k
f
= (W.M
1
.T
f
) / (1000 W
1
)
Rumus yang digunakan untuk menghitung BM zat terlarurt :
M
1
= (1000.k
f
) / T
f
x (W
1
/W)
(Tim kimia fisik, 2014).





BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- Termometer alkohol
- Tabung gelas
- Pengaduk
- Stopwatch
- Gelas beker 100 cc
- Erlenmeyer
- Gelas ukur 100 cc

3.1.2 Bahan
- Air
- Es
- Garam
- Asam cuka
- Asam cuka glasial
- Naftalen

3.2 Skema Alat

Keterangan:
A. Termometer
B. Tabung gelas 1
C. Pengaduk
D. Tabung gelas 2
E
D
B
A
C
E. Tabung gelas 3

3.3 Skema Kerja
3.3.1 Penentuan tetapan penurunan titik beku molal


- dimasukkan ke dalam beaker glass
- diukur suhu awalnya
- dimasukkan ke dalam beaker glass yang berisi aquades yang diletakkan di dalam
beaker glass dingin yang berisi campuran es, air, dan garam
- diamati perubahan suhu, dan dicatat tiap menit
- diamati pelarut
- ditentukan Tf
- dicairkan kembali padatan asam cuka glasialnya
- dimasukkan naftalen sebanyak 2 gram
- diulangi langkah 2-6,
- di hitung Kf

20 mL Asam cuka glasial
Hasil
3.3.2 Penentuan BM zat x



















- dimasukkan ke dalam campuran asam asetat dan naftalen
- diaduk hingga homogen
- diukur suhu awalnya
- dimasukkan ke dalam beaker gelas yang didinginkan
- diamati perubahan suhunya dan dicatat tiap menit
- ditentukan Tfnya
- dihitung Tfnya
- dihitung BM zat x

2 gram sampel garam X
Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan
4.1.1 Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial
Suhu awal = 28
o
C
t (menit) Temperatur (
o
C)
Awal 28
1 26
2 23
3 20
4 18
5 17
6 17

4.1.2 Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial Setelah Penambahan Naftalen
t (menit) Temperatur (
o
C)
Awal 27
1 19
2 15
3 13
4 13

4.1.3 Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial Setelah Penambahan Naftalen dan Zat X
t (menit) Temperatur (
o
C)
Awal 26
1 15
2 11
3 11
4 11


4.2 Pembahasan
Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih. Larutan memiliki sifat yang
bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut dan tidak bergantung pada jenis terlarutnya.
Sifat larutan salah satunya adalah penurunan titik beku. Penurunan titik beku () adalah
perbedaan titik beku larutan akibat adanya partikel zat terlarut terhadap titik beku pelarutnya.
Pelarut yang ditambahkan adalah pelarut yang non volatil. Partikel yang ditambahkan dalam
larutan akan akan menurunkan energi kinetik larutan sehingga akan menurunkan titik beku
larutan. Titik beku adalah suhu pada pelarut tertentu dimana terjadi perubahan wujud cair
menjadi padat. Percobaan ini membahas penurunan titik beku larutan. Lautan yang ditentukan
titik bekunya adalah larutan asam cuka glasial yang ditambahkan naftalen dan zat x.
Tahapan pertama yang dilakukan adalah persiapan alat dengan menggunakan beberapa
gelas beker yang disusun. Gelas beker paling bawah diisi dengan es batu dan garam yang
dicampur serta ditambahkan dengan air secukupnya. Penambahan garam ini bertujuan
mempertahankan suhu di sekitar sistem dan menurunkan titik beku air sehingga es batu tidak
cepat mencair. Gelas beker kedua diletakkan di atas gelas beker pertama yang berisi
campuran garam, air, dan es. Gelas beker kedua ini diisi dengan aquades yang di atasnya
terdapat gelas beker ketiga yang berisi larutan yang diukur. Larutan tersebut adalah asam cuka
glasial. Suhu awal asam cuka glasial adalah 28C lalu diletakkan di dalam gelas beker kedua.
Suhu asam cuka glasial mengalami penurunan dan konstan pada menit keenam yaitu 17C.
Larutan asam cuka glasial berubah wujud menjadi padatan berupa kristal putih seperti es.
Suhu pada 17C sebagai titik beku asam cuka glasial.

Grafik 4.1 Hubungan Penurunan Suhu terhadap Waktu Asam Cuka Glasial
Asam cuka glasial yang telah berubah menjadi padatan kemudian dicairkan kembali
kemudian ditambahkan naftalen sebanyak 2 gram. Larutan diaduk hingga homogen lalu
y = -3,4x + 24,2
R = 0,8305
0
5
10
15
20
25
30
0 2 4 6
S
u
h
u

(

C
)

Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku Asam Cuka Glasial
Suhu
Linear (Suhu)
diukur suhu awalnya yaitu 27C. Suhu awal asam asetat glasial mengalami penurunan 1C.
Larutan ini kemudian dimasukkan ke dalam gelas beker kedua kemudian diamati perubahan
suhunya tiap menit. Suhu larutan ini konstan pada menit keempat menjadi 13C. Hal ini
disebabkan adanya penambahan zat yang menyebabkan energi bebas pelarut berkurang
sehingga kemampuan pelarut untuk menjadi fase uapnya juga berkurang. Hal ini
menyebabkan tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah bila dibandingkan dengan
tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni. Penurunan tekanan uap sebanding
dengan penurunan titik beku sehingga suhu mengalami penurunan. Grafik penurunan suhu
asam cuka glasial yang ditambahkan naftalen seperti di bawah ini


Grafik 4.1 Hubungan Penurunan Suhu terhadap Waktu Asam Cuka Glasial yang ditambahkan
Naftalen

Kristal kemudian dicairkan kembali membentuk fase cairnya. Tahapan ketiga yaitu
ditambahkan garam sebanyak 2 gram lalu diaduk hingga homogen. Perubahan suhu diukur
tiap menit hingga didapatkan suhu konstan yaitu pada suhu 11C. Suhu yang didapatkan ini
merupakan titik beku campuran. Penurunan yang terjadi disebabkan bertambahnya jumlah zat
terlarut dalam larutan. Penurunan suhu ini semakin bertambah seiring banyaknya jumlah zat
yang ditambahkan sebab semakin banyak jumlah partikel di dalamnya maka semakin
berkurang energi kinetik yang dihasilkan. Penurunan titik beku yang terjadi dapat
mengindikasikan bahwa larutan tersebut bukan merupakan larutan murni yang disebabkan
adanya penambahan zat terlarut. Pengukuran temperatur pada campuran naftalen dan zat x
dalam pelarut asam asetat glasial didapatkan titik bekunya adalah 11C. Pengukuran suhu
y = -3,4x + 24,2
R = 0,8305
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
S
u
h
u

Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku Asam Cuka Glasial yang ditambah
Naftalen
Suhu
Linear (Suhu)
pada percobaan ini menggunakan termometer alkohol disebabkan rentang suhu yang
didapatkan pada percobaan tidak terlalu tinggi dan berada pada rentang skala suhu pada
termometer alkohol.


Grafik 4.3 Penurunan Titik Beku setelah Penambahan Naftalen dan Zat X

Reaksi yang terjadi pada peristiwa ini adalah reaksi endodermis karena sistem
mendapatkan energi dari lingkungan yang berupa panas. Panas yang diterima digunakan oleh
sistem untuk berubah wujud menjadi padat dengan menurunkan suhunya. Persamaan reaksi
yang terjadi pada perubahan wujud larutan asam cuka glasial menjadi bentuk padatan adalah
sebagai berikut
CH
3
COOH (aq) + CH
3
COOH (s)
Harga Kf larutan asam cuka glasial yang didapatkan pada percobaan ini adalah 5.370
gK/mol. Harga Kf asam asetat secara teori adalah 3,9 KKg/mol. Perbedaan harga Kf
disebabkan alat yang kurang baik, sebab larutan tidak ditutup atau diperlakukan dengan
keadaan yang vakum. Perlakuan larutan apabila dalam keadaan terbuka dapat memungkinkan
partikel atau zat dalam larutan akan berinteraksi dengan lingkungan membentuk zat baru yang
dapat mempengaruhi hasil dari percobaan yang diinginkan. Harga ketetapan titik beku suatu
larutan dapat digunakan untuk menghitung berat molekul suatu senyawa atau zat yang
merupakan suatu pelarut yang ditambahkan dalam larutan. Rumus yang sudah ada dapat
membantu dalam penentuan berat molekul suatu zat terlarut,. Percobaan ini menggunakan
penambahan 2 gram naftalen dan zat x yang merupakan senyawa garam yang tidak diketahui.
y = -3,4x + 21,6
R = 0,6848
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
S
u
h
u

(

C
)


Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku dengan Penambahan Naftalen dan
Zat X
Suhu
Linear (Suhu)
Senyawa atau zat x yang non-volatil memiliki berat molekul 85,5 g/mol. Berat molekul
senyawa ini didapatkan dengan menghitung dari persamaan penurunan titik beku. Senyawa
ion atau garam yang mungkin ditambahkan adalah magnesium klorida yang memiliki berat
molekul 95 g/mol. Hasil yang didapatkan apabila dibandingkan dengan MaCl
2
memiliki
perbedaan yang cukup besar. Hal ini bisa terjadi sebab senyawa yang dihasilkan dari
campuran naftalen dan zat x dalam pelarut asam asetat glasial bukanlan senyawa murni
magnesium klorida yang mengandung zat pengotor dan dapat mempengaruhi berat suatu
molekul.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam percobaan ini adalah
1. Penambahan zat terlarut dapat menurunkan titik beku larutan.
2. Harga Kf larutan asam cuka glasial yang didapatkan pada percobaan ini adalah 5.370 gK/mol,
sedangkan berat molekul senyawa X yang dihasilkan adalah 85,5 g/mol.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat dianjurkan adalah
1. Praktikan harus mengaduk larutan secara homogen dengan sabar dalam penurunan suhu awal.
2. Pengukuran suhu harus dilakukan secara hati-hati dan teliti hingga didapatkan hasil yang
konstan.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1987. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Brady. 2002. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Binarupa Aksara.
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry. 2nd edition. Massachussets: Adisson-Wesley.
Chang, Raymon. 2003. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga
Material Safety Data Sheet: Akuades MSDS. 2014. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9927062. [Diakses 8 Oktober 2014].
Material Safety Data Sheet: CH
3
COOH MSDS. 2014. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9927572. [Diakses 8 Oktober 2014].
Material Safety Data Sheet: NaCl MSDS. 2014. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9879065. [Diakses 8 Oktober 2014].
Material Safety Data Sheet: Naftalen MSDS. 2014. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9909065. [Diakses 8 Oktober 2014].
Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Jakarta : Rineka Cipta
Tim Kimia Fisik. 2014. Penuntuk Praktikum Kimia Fisik I. Jember : FMIPA Universitas
Jember.


LAMPIRAN
1. Penentuan nilai K
f

T
f
asam cuka = 17C = 290 K
T
f
naphtalen = 13C = 286 K
T
f 1
= T
f
asam cuka - T
f
naphtalen
= 290 K 286 K = 4 K



2. Penentuan Mr zat X
T
f
asam cuka = 17C = 290 K
T
f
zat X = 11C = 284 K
T
f 2
= T
f
asam cuka - T
f
zat X
=290 K 284 K = 6 K
T
f total
= T
f 2
+ T
f 1

= 6 K + 4 K = 10 K


) {(




) (

)}

(



) {(



) (

)}
=

)
0,039 = (


)
0,0234 =


,

= 85,5






y = -3,4x + 21,6
R = 0,6848
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
S
u
h
u

Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku Asam Cuka Glasial yang ditambah
Naftalen
Suhu
Linear (Suhu)
y = -3,4x + 21,6
R = 0,6848
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
S
u
h
u

Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku Asam Cuka Glasial yang ditambah
Naftalen
Suhu
Linear (Suhu)







y = -3,4x + 21,6
R = 0,6848
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
S
u
h
u

(

C
)


Waktu (Menit)
Penurunan Titik Beku dengan Penambahan Naftalen dan
Zat X
Suhu
Linear (Suhu)