Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

CEDERA KEPALA BERAT



A. Pengertian
Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi
descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan
peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu
pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada
tindakan pencegahan
Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak dan trauma
jaringan lunak/otak atau kulit seperti kontusio/memar otak, oedem otak, perdarahan
dengan derajat yang bervariasi tergantung pada luasnya daerah trauma. Cedera kepala
paling sering dan penyakit neurologik yang serius diantaranya penyakit neurologis
dan merupakan penyakit epidemik sebagai hasil kecelakaan jalan raya.
Cedera Kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama
pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas.
Pasien tidak mampu mengikuti bahkan perintah sederhana karena gangguan
kesadaran. Tanpa memperdulikan nilai SKG, pasien digolongkan sebagai penderita
cedera kepala berat diantaranya :
1. Pupil tak ekual
2. Pemeriksaan motor tak ekual
3. Cedera kepala terbuka dengan bocornya CSS atau adanya jaringan otak yang
terbuka.
4. Perburukan neurologik.
5. Fraktura tengkorak depressed.
Lebih dari separuh kematian karena cedera, cedera kepala berperan nyata atas
outcome. Pada pasien dengan cedera berganda, kepala adalah bagian yang paling
sering mengalami cedera, dan pada kecelakaan lalu-lintas yang fatal, otopsi
memperlihatkan bahwa cedera otak ditemukan pada 75% penderita. Untuk setiap
kematian, terdapat dua kasus dengan cacad tetap, biasanya sekunder terha dap cedera
kepala (Narayan, 1991). Cedera kepala biasa terjadi pada dewasa muda antara 15- 44
tahun. Pada umumnya rata-rata usia adalah sekitar 30 tahun. Laki-laki dua kali lebih
sering mengalaminya (Kalsbeek, 1980).Kecelakaan kendaraan bermotor penyebab
paling sering dari cedera kepala, sekitar 49% dari kasus. Biasanya dengan derajat
cedera kepala yang lebih berat dan lebih sering mengenai usia 15-24 tahun.
Jennett dan Teasdale menentukan koma sebagai ketidak mampuan untuk
menuruti perintah, mengucapkan kata-kata dan membuka mata. Pada pasien yang
tidak mempunyai ketiga aspek pada definisi tersebut tidak dianggap sebagai koma.
Pasien yang bisa membuka mata secara spontan, dapat mengikuti perintah serta
mempunyai orientasi, mempunyai skor total 15 poin, sedang pasien yang flaksid,
dimana tidak bisa membuka mata atau berbicara mempunyai skor minimum yaitu 3.
Tidak ada skor tunggal antara 3 dan 15 menentukan titik mutlak untuk koma. Untuk
kegunaan praktis, skor total SKG 8 atau kurang menjadi definisi yang sudah umum
diterima sebagai pasien koma. Pasien cedera kepala dengan jumlah skor 9 hingga 12
dikelompokkan sebagai cedera kepala sedang, dan skor SKG 13 hingga 15 sebagai
ringan. Williams, Levin dan Eisenberg baru-baru ini melaporkan defisit neurologis
penderita dengan cedera kepala ringan (SKG 12 hingga 15) dengan lesi massa
intrakranial pada CT pertama adalah sesuai dengan pasien dengan cedera kepala
sedang (SKG 9 hingga 11).

B. Etiologi
Penyebab cidera kepala antara lain kecelakaan lalulintas (KLL) perkelahian, jatuh,
dan cedera olahraga. Sedangkan cidera kepala terbuka lebih banyak disebabkan oleh
peluru atau pisau.

C. Patofisiologi



















Cidera tumpul maupun
penetrasi
Berbagai macam cidera kepala
meliputi concusion, kontuso
serebr, brain stem cotusion,
pidural hmatom, subdural
hematom, fraktur kepala
Gangguan neurologis yang
disebabkan shearing of white
matter, ischemia dan hemoragi,
dan edema cereb ral disekitar
jaringan otak
D. Manifestasi klinis
Manifestasi klinik dari cidera kepala ini antara lain:
1. Pada konkusio, segera terjadi kehilangan kesadaran. Pada henatom kesadaran
mungkin hilang segera, atau bertahap seiring dengan membesarnya hemarom atau
edema interstitium
2. Pola pernafasan dapat secara progresif menjadi abnormal
3. Respon pupil mungkin lenyap atau secara progresif memburuk
4. Neyri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan peningkatan
tekanan intrakranial
5. Perubahan perilaku, kognitif, dan perubahan fisik pada berbicara dan gerakan
motorik dapat timbul segera atau lambat.

F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan khusus
a. Cedera kepala ringan: pasien dengan cedera kepala ini umumnya dapat
dipulangkan ke rumah tanpa perla dilakukan pemeriksaan CT Scan bila
memenuhi kriteria berikut:
- Hasil pemeriksaan neurologis (terutama status mini mental dan gaya berjalan)
dalam batas normal
- Foto servikal jelas normal
- Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam
pertama, dengan instruksi untuk segera kembali ke bagian gawat darurat jika
timbul gejala perburukan
Kriteria perawatan di rumah sakit:
- Adanya darah intrakranial atau fraktur yang tampak pada CT scan
- Konfusi, agitai, atau kesadaran menurun
- Adanya tanda atau gelaja neurologis fokal
- Intoksikasi obat atau alkohol
- Adanya penyakit medis komorbid yang nyata
- Tidak adanya orang yang dapat dipercaya untuk mengamati pasien di rumah.
b. Cedera Kepala Sedang: pasien yang menderita konkusi otak (komosio otak),
dengan skala koma Glasgow 15 (sadar penuh, orientasi baik dan mengikuti
perintah) dan CT scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan
untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri di kepala, mual, muntah,
pusing, atau amnesia. Risiko timbulnya lesi intrakranial lanjut yang bermakna
pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.
c. Cedera Kepala Berat: Setelah penilaian awal dan stabilitas tanda vital, keputusan
segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi intervensi bedah syaraf
segera (hematoma intrakranial yang besra). Jika ada indikasi, harus segera
dikonsulkan ke bedah saraf untuk tindakan operasi. Penatalaksanaan cedera
kepala berat seyogyanya dilakukan di unit rawat intensif. Walaupun sedikit
sekali yang dapat dilakukan untuk kerusakan primer akibat cedera, tetapi
setidaknya dapat mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia,
hipotensi, atau tekanan intrakranial yang meningkat.
2. Penatalaksanaan di Unit Perawatan di ICU
Pengelolaan pasien dibagi lima tingkatan: (1) stabilisasi kar- diopulmoner, (2)
pemeriksaan umum, (3) pemeriksaan neurologis, (4) prosedur diagnostik, dan (5)
indikasi operasi.
Sekule
a. Konkusi otak (komutio serebri)
Hilangnya kesadaran untuk sementara, anemsia singkat, disebabkan efek
fisologis dan fongsional otak, kira-kira 5 % akan terjadi perdahan otak
b. Hematoma epidural
Disebabkan oleh robeknya arteri meningea media, 75 % adalah kasus kranium.
tanda: kehilangan kesadaran sejenak , timbul gejala lusid, darah rongga epidural
gelembung pada CT scan
c. Hematoma sub dural
Berasal dari sumber vena,dengan berkumpulnya darah antara durameter dengan
membran subaknoid
pada Ct csan terlihat bulan sabit, dapat terjadi karena akselarasi dan deshelarais
d. Kontusio parenkim dan hematom
Disebabkan oleh gesekan dan goresan otak ketika otak bergerak melalui
permukaan dalamkranium yang kasar. lonus inferior dan temporal merupakan
lokasi yang sering terjadi.

G. Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakan diagnosa cidera kepala dapat dilakukan beberapa prosedur tindakan
meliputi:
a. CT Scan: dapat menentukan lokasi lesi, edema, atau perdarahan
b. Pemeriksaan tengkorak dengan sinar X dapat mengdentifikasi lokasi fraktur atau
hematom
c. Tes neuropsikologis selama rehbilitasi dapat menentukan penurunan kognitif




H. Diagnosa Keperawatan Yang Biasa Muncul
1. Perfusi jaringan serebral tidak efektif bd peningkatan tekanan intrakranial
2. Pola nafas tidak efektif bd peningkatan TIK dan cedera sel otak
3. Gangguan proses berpikir bd gangguan fungsi neurologis karena cedera.
4. Resiko cedera bd gangguan proses berfikir
5. Resiko infeksi bd hilangnya pertahanan primer
































DAFTAR PUSTAKA


Joane C. Mc. Closkey, Gloria M. Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classification
(NIC), Mosby Year-Book, St. Louis

Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth,
EGC, Jakarta

Marion Johnson, dkk, 2000, Nursing Outcome Classifications (NOC), Mosby Year-Book,
St. Louis

Marjory Gordon, dkk, 2005, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006,
NANDA

Mansyour, A. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius FK UI

Saanin, S. 2007. Ilmu Bedah Saraf. http://www.angelfire.com
/nc/neurosurgery/cederakepalaberat.html

Wasiyastuti, W.2003. Buku Saku Ilmu Bedah. Widia medika: Yogyakarta



































LEMBAR PENGESAHAN




Asuhan Keperawatan ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Praktik Klinik
Stase Keperawatan Gawat Darurat Program Pra Ners
STIKES Wira Husada Yogyakarta






Disusun Oleh:
Syaifurrahman Hidayat
KP. 04.00278








Mengetahui


Pempimbing Akademik Pembimbing Klinik


A n i d a, S. Kep, Ns H. Basuki, S.Kep






ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny S DENGAN
CEDERA KEPALA BERAT (CKB) DI RUANG IRD
RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN




Untuk Memenuhi Laporan Tugas Individu Praktik Klinik
Stase Keperawatan Gawat Darurat Program Pra Ners

















Disusun Oleh:
Syaifurrahman Hidayat
KP. 04.00278




PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
STIKES WIRA HUSADA YOGYAKARTA
2009/2010