Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

OTITIS EKSTERNA
Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok
RSPAD GATOT SUBROTO





Disusun oleh :
Margarita Mega Pertiwi
1220221136


Pembimbing :
dr. Hartati, Sp.THT-KL





FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
2014



LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT
OTITIS EKSTERNA

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Perbaikan Nilai Ujian Pre Test Kepaniteraan Klinik
di Departemen Telinga Hidung dan Tenggorok
RSPAD Gatot Subroto





Disusun Oleh:
Margarita Mega Pertiwi
1220221136



Mengesahkan:

Pembimbing





dr. Hartati, Sp.THT-KL












KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul OTITIS EKSTERNA. Referat ini dibuat
untuk memenuhi syarat perbaikan nilai ujian pre test Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok di RSPAD Gatot Sobroto.
Penyusunan referat ini dapat terselesaikan tak lepas dari pihak-pihak yang telah banyak
membantu penulis dalam menyelesaikan referat ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. dr. Hartati, Sp.THT-KL selaku koordinator ujian pre test pendidikan di SMF Telinga
Hidung dan Tenggorok RSPAD Gatot Subroto
2. Dokter-dokter Spesialis THT di SMF Telinga Hidung Tenggorok RSPAD Gatot Subroto
3. Para staf medis dan non-medis yang bertugas di SMF Telinga Hidung Tenggorok
RSPAD Gatot Subroto
4. Teman-teman seperjuangan di kepaniteraan klinik Telinga Hidung dan Tenggorok.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun referat ini sangat penulis harapkan demi perbaikan materi
penulisan dan menambah wawasan penulis.


Jakarta, Agustus 2014




Penulis




BAB I
Pendahuluan

I.1. Latar belakang
Otore adalah keluarnya cairan yang berasal dari telinga. Otore merupakan gejala dari
suatu penyakit tertentu. Otore dapat dihasilkan baik dari keadaan patologis di liang telinga
bagian luar atau dapat pula berasal dari liang telinga bagian tengah dengan disertai membran
timpani yang telah mengalami perforasi. Oleh karena otore hanya sebuah gejala, maka dari itu
anamnesis yang teliti meliputi riwayat penyakit, onset dan hal lain sebagainya, serta ditunjang
oleh pemeriksaan fisik yang cermat dan pemeriksaan penunjang harus diiperhatikan dengan baik.
Otore biasanya disertai dengan gangguan telinga lain meliputi gangguan pendengaran,
rasa penuh di telinga, rasa nyeri dan sebagainya karena suatu sebab penyakit yang mendasarinya.
Selain itu terapi yang adekuat perlu diperhatikan guna menurunkan angka morbiditas dan
mencegah komplikasi dari penyakit yang mendasarinya.

I.2. Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini yaitu:
1. Sebagai pra syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di SMF RSUP Persahabatan,
Jakarta.
2. Menambah ilmu dan wawasan serta membuka pikiran tentang ilmu kesehatan telinga
hidung dan tenggorok, khususnya pada topic kali ini yaitu mengenai penyakit yang
berhubungan dengan kelainan telinga.







BAB II
Tinjauan Pustaka

II.1. Anatomi Telinga
Auris (telinga) dibedakan atas bagian luar, tengah dan dalam. Auris berfungsi ganda,
yaitu untuk keseimbangan dan untuk pendengaran.
1


II.1.1. Auris externa
II.1.1.1. Daun telinga (auricula)
Daun telinga merupakan struktur tulang rawan yang kompleks dan berlekuk-lekuk dan
dibungkus oleh kulit tipis. Lekukan-lekukan tersebut dibentuk oleh heliks, anteheliks, tragus,
antitragus, fosa skafoidea, fosa triangularis, konkha dan lobulus.
2



Gambar 2.1. daun telinga

II.1.1.2. Liang telinga (meatus acusticus externus)
Liang telinga terdiri atas bagian tulang rawan pada sepertiga luar dan bagian tulang pada
dua pertiga dalam. Kulit liang telinga bagian tulang rawan mempunyai struktur menyerupai kulit
di bagain tubuh lain, mengandung folikel rambut dari kelenjar-kelenjar, sedangkan kulit di
bagian tulang merupakan kulit yang tipis sekali dan berlanjut ke kulit membrane timpani, tidak
mempunyai folikel rambut dan kelenjar. Panjang liang telinga dewasa kurang lebih 2,5 3 cm.1



II.1.1.3. Membran timpani
Membran timpani berbentuk hampir lonjong, terletak oblik di liang telinga dan
membatasi liang telinga dengan kavum timpani. Diameter kira-kira 1 cm. membrane timpani
dibagi menjadi dua bagian, pars flaksid (bagian atas) dan pars tensa (bagian bawah). Kearah
meatus acusticus externus, membrana tympanica adalah cekung dengan bagian tengah yang lebih
rendah, dikenal sebagai umbo membranae tympanicae. Dari umbo membrane tympanicae
memancar daerah yang cerah ke antero-inferior, yakni kerucut cahaya (cone of light). Sifat
membrane timpani yaitu terus tumbuh. Membran timpani terdiri dari tiga lapisan, yaitu:
1. Lapisan luar kulit terusan di dinding liang telinga luar.
2. Lapisan tengah jaringan ikat yang terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan radier dan
lapisan sirkuler.
3. Lapisan dalam bagian mukosa dari kavum timpani.



Gambar 2.2. membrane timpani

Membran tympanica bergerak sebagai reaksi terhadap getaran udara yang sampai
padanya melalui meatus acustcus externus. Gerak membrane tympanica diteruskan oleh ossicula
auditoria (mallerus, incus dan stapes) melalui auris media ke auris interna. Permukaan luar
membrane tympanica terutama dipersarafi oleh nervus auriculotemporalis, cabang yang berasal
dari nervus mandibularis. Sebagian kecil membrane tympanica dipersarafi oleh ramus auricularis
ganglion inferius yang berasal dari nervus vagus (nervus cranialais X), saraf ini berisi beberapa
serabut dari nervis glossopharyngeus (nervus cranialis IX) dan mungkin serabut dari nervus
facialis (nervus cranialis VII). Permukaan dalam membrane tympanica dipersarafi oleh nervus
cranialis IX.

II.1.2. Auris media
Auris media terletak di dalam pars petrosa ossis temporalis. Auris media terdiri dari
kavum timpani, yakni rongga yang terletak langsung di sebelah dalam membran tympanica.
Kavum timpani terutama berisi udara yang mempunyai ventilasi ke nasofaring melalui tuba
eustachius

Di dalam auris media, terdapat:
Ossicula auditoria (malleus, incus dan stapes)
Musculus stapedius
Musculus tensor tympani
Korda tympani
Ligamentum muskulus stapedius


Gambar 2.3. potongan koronal telinga




Dinding-dinding auris media ( Cavitas Tympanica)
Auris media yang berbentuk seperti kotak sempit memiliki sebuah atap, sebuah dasar dan
empat dinding:
Atapnya (dinding tegmental) dibentuk oleh selembar tulang yang tipis, yakni tegmen
tympani, yang memisahkan cavitas tympanica dari dura pada dasar fossa cranii media.
Dasarnya (dinding jugular) dibentuk oleh selapis tulang yang memisahkan cavitas
tympanica dari bulbus superior vena jugularis interna.
Dinding lateral (bagian berupa selaput) dibentuk hamper seluruhnya oleh membrane
tympanica. Di sebelah superior, dindingg ini dibentuk oleh dinding lateral recessus
epitympaicus yang berupa tulang (maubrium mallei terbaur dalam membrane tympanica,
dan caput mallei menonjol ke dalam recessus epitympanicus)
Dinding medial atau dinding labirinal memisahkan cavitas tympanica dari auris interna.
Dinding anterior (dinding carotid) memisahkan cavitas tympanica dari canalis carotis.
Pada bagian superior dinding ini terdapat ostium pharyngeum tubae auditoriae dan
terusan untuk musculus tensor tympani.
Dinding posterior (dinding mastoid) dihubungkan dengan antrum mastoideum melalui
aditus.
Tuba auditoria menghubungkan cavitas tympanica dengannasopharynx, muaranya
terdapat di bagian belakang meatus nasalis inferior pada cavitas nasi. Bagian sepertiga posterior
tuba auditoria terdiri dari tulang dan sisanya berupa tulang rawan. Tuba auditoria dilapisi
membrane mukosa cavitas tympanica dan ke aerior sinambung dengan membrane mukosa
nasopharynx. Tuba auditoria berfungsi sebagai pemerata tekanan dalam auris media dan tekanan
udara lingkungan dan dengan demikian menjamin bahwa membrane tynpanica dapat bergerak
secara bebas. Dengan memungkinkan udara memasuki dan meninggalkan cavitas tympanica,
tekanan di kedua sisi membrane tympanica disamakan.

Arteri-arteri tuba auditoria berasal dari arteri pharyngea ascendes, cabang arteria carotis
eksterna dan arteri meningea media dan arteria canalis pterygodei, yang keduanya merupakan
cabang arteria maxillaris. Vena-vena menyalurkan darah dari tuba auditoria ke plexus venosus
pterygoideus. Saraf-saraf berasal dari plexus tympanicus yang dibentuk oleh serabut nervus
cranialis VII dan nervs glossopharyngeus (nervus cranialis IX). Tuba auditoria juga menerima
serabut dari ganglion pterygopalatinum.
Ossicula auditoria (malleus, incus dan stapes) membentuk sebuah rangkaian tulang yang
teratus melintang di dalam cavitas tympanica, dari membrane tympanica ke fenestra vestibuli.
Malleus melekat pada membrane tympanica dan stapes menempati fenestra vestibule. Incus
terdapat antara dua tulang tersebut dan bersendi dengan keduanya. Ossicula auditoria dilapisi
membrane mukosa yang juga melapisi cavitas tympanica.
Malleus berfungsi sebagai pengungkit yang lengan panjangnya melekat pada membrane
tympanica. Basis stapedis berukuran jauh lebih kecil daripada membrane tympanica. Akibatnya
ialah bahwa gaya getar stapes menjadi sekitar 10 kali gaya getar membrane tympanica. Maka
ossicula auditoria meningkatkan gaya getaran, tetapi menurunkan amplitude getaran yang
disalurkan dari membrane tympanica.

II.1.3. Auris interna
Telinga dalam terdiri dari organ kesimbangan dan organ pendengaran. Telinga dalam
terletak di pars petrosus os temporalis dan disebut labirin karena bentuknya yang kompleks.
Telinga dalam terdiri dari dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin membranosa. Labirin tulang
merupakan susunan ruangan yang terdapat dalam pars petrosa os temporalis ( ruang
perilimfatik). Labirin tulang terdiri dari vestibulum, kanalis semisirkularis dan kohlea.
Vestibulum merupakan bagian yang membesar dari labirin tulang dengan ukuran panjang
5 mm, tinggi 5 mm dan dalam 3 mm. Dinding medial menghadap ke meatus akustikus internus
dan ditembus oleh saraf. Pada dinding medial terdapat dua cekungan yaitu spherical recess untuk
sakulus dan eliptical recess untuk utrikulus. Di bawah eliptical recess terdapat lubang kecil
akuaduktus vestibularis yang menyalurkan duktus endolimfatikus ke fossa kranii posterior diluar
duramater.
Di belakang spherical recess terdapat alur yang disebut vestibular crest. Pada ujung
bawah alur ini terpisah untuk mencakup recessus kohlearis yang membawa serabut saraf kohlea
kebasis kohlea. Serabut saraf untuk utrikulus, kanalis semisirkularis superior dan lateral
menembus dinding tulang pada daerah yang berhubungan dengan N. Vestibularis pada fundus
meatus akustikus internus. Di dinding posterior vestibulum mengandung 5 lubang ke kanalis
semisirkularis dan dinding anterior ada lubang berbentuk elips ke skala vestibuli kohlea.
Ada tiga buah semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis superior, posterior dan lateral
yang terletak di atas dan di belakang vestibulum. Bentuknya seperti dua pertiga lingkaran dengan
panjang yang tidak sama tetapi dengan diameter yang hampir sama sekitar 0,8 mm. Pada salah
satu ujungnya masing-masing kanalis ini melebar disebut ampulla yang berisi epitel sensoris
vestibular dan terbuka ke vestibulum. Ampulla kanalis superior dan lateral letaknya bersebelahan
pada masing-masing ujung anterolateralnya, sedangkan ampulla kanalis posterior terletak
dibawah dekat lantai vestibulum. Ujung kanalis superior dan inferior yang tidak mempunyai
ampulla bertemu dan bersatu membentuk crus communis yang masuk vestibulum pada dinding
posterior bagian tengah. Ujung kanalis lateralis yang tidak memiliki ampulla masuk vestibulum
sedikit dibawah cruss communis.
Koklea membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang sekitar 35
mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani.
Organ corti terletak di membran basilaris yang lebarnya 0.12 mm di bagian basal dan
melebar sampai 0.5 mm di bagian apeks, berbentuk seperti spiral. Beberapa komponen penting
pada organ corti adalah sel rambut dalam, sel rambut luar, sel penunjang Deiters.

Gambar 2.4. telinga dalam
Sel-sel rambut tersusun dalam 4 baris, yang terdiri dari 3 baris sel rambut luar yang
terletak lateral terhadap terowongan yang terbentuk oleh pilar-pilar Corti, dan sebaris sel rambut
dalam yang terletak di medial terhadap terowongan. Sel rambut dalam yang berjumlah sekitar
3500 dan sel rambut luar dengan jumlah 12000 berperan dalam merubah hantaran bunyi dalam
bentuk energi mekanik menjadi energi listrik.
II.2. Fisiologi Mendengar
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh telinga luar, lalu
menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi
getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan ke telinga dalam dan di proyeksikan pada
membran basilaris, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria.

Gambar 2.5. fisiologi pendengaran
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi
stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik
dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan
neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius,
lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran.