Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

EKSTRAKSI MINYAK DAN LEMAK


NAMA : DWI NICHE
NIM : H311 12 264
HARI/ TGL PERCOBAAN : KAMIS/ 27 FEBRUARI 2014
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN : SAKINAH NUR FADILLAH












LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Lemak dan minyak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan
kandungan yang berbeda-beda. Tetapi lemak dan minyak sering kali ditambahkan
dengan sengaja ke bahan makanan dengan berbagai tujuan. Lemak yang
ditambahkan dalam bahan pangan atau dijadikan bahan pangan membutuhkan
persyaratan dan sifat-sifat tertentu. Lemak dan minyak dapat diekstraksi dengan
berbagai cara. Untuk mengekstraksi minyak dan lemak diperlukan pelarut yang baik.
Tiap pelarut lemak mempunyai tingkatan kelarutan berbeda-beda pada minyak dan
lemak, dan untuk mengetahui tingkat kelarutan itu dilakukan percobaan ini, dengan
membandingkan pelarut organik (butanol, n-heksana, dan kloroform) serta pelarut
polar (air).
Pemisahan dapat dilakukan bersifat sederhana, bersih, cepat dan mudah.
Dalam banyak kasus pemisahan dapat dilakukan dengan mengocok-ngocok dalam
sebuah corong pemisah selama beberapa menit. Teknik ini sama dapat diterapkan
untuk bahan-bahan dari tingkat runutan maupun dalam jumlah-jumlah banyak.
Ekstraksi cairan-cairan merupakan salah satu teknik dalam mana suatu larutan (air)
dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (organik) yang pada hakekatnya tidak
bercampur dan menyebabkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut kedalam pelaurt
ke dua (Basset dkk., 1994).
Untuk itu dalam percobaan ini akan diuji beberapa pelarut terhadap
kelarutannya dengan minyak dan akan ditentukan pelarut yang paling baik yang
berdasarkan pada diameter noda minyak yang ditimbulkan pada kertas saring.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui pelarut
yang baik digunakan untuk mengekstraksi minyak dan lemak diantara beberapa
pelarut.

1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah dapat memilih pelarut yang baik untuk
mengekstraksi minyak dan lemak dalam suatu bahan.

1.3 Prinsip Percobaan
1.3.1 Kelarutan
Menentukan pelarut yang baik digunakan untuk melarutkan minyak dan
lemak dengan menguji kelarutan minyak dan lemak pada beberapa pelarut (air,
etanol, kloroform, dan n-heksana) kemudian mengukur noda yang ditimbulkan pada
kertas saring.

1.3.2 Ekstraksi Minyak dan Lemak
Mengekstraksi campuran minyak/lemak dan air dengan menggunakan
beberapa pelarut organik (khloroform dan n-heksana), dimana akan terbentuk dua
lapisan yaitu lapisan air dan lapisan organik, lalu mengukur diameter noda yang
ditimbulkan oleh masing-masing lapisan pada kertas saring.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lipid
Lipid kurang dikenal oleh kebanyakan orang daripada karbohidrat dan
protein, karena karbohidrat dan protein merupakan bagian dari diet. Lipid
mempunyai peran penting, diantaranya sebagai sebagai sumber bahan bakar, sebagai
pelindung pada tanaman, serangga, dan sebagai komponen utama dari membrane
yang mengelilingi setiap sel hidup (McMurry dan Castellion, 1994).
Lipid merupakan kelompok yang sangat luas secara alami dan molekul yang
semisintetik, larut dalam pelarut non polar, dan larut dalam pelarut polar.
Keuntungan dari lipid sendiri karena struktur mereka yang hampir mirip lipid asli.
Lipid dapat digunakan untuk menunjukkan sifat fisik dan kimia yang unik karena
komposisi, struktur, sifatnya yang mencair dan kemampuan bergabung dengan air
dan molekul non-lipid lainnya (Zurao, 2011).
Lipid merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicirikan oleh sifat
kelarutannya. Terutama lipid, lipid tidak larut dalam air tapi larut dalam pelarut
organik nonpolar, seperti eter. Lipid dapat diekstraksi dari sel atau jaringan dengan
pelarut organik. Sifat kelarutan ini membedakan lipir dari tiga golongan utama lain
dari produk alam lainnya, yaitu karbohidrat, protein, dan asam nukleat, yang pada
umumnya tidak larut pada pelarut organik (Hart, 1991).
Struktur kimia lipid data sangat beragam, sekalipun sifat kelarutannya mirip.
Beberapa diantaranya berupa ester, lainnya berupa hidrokarbon, sebagian asiklik dan
lainnya siklik, bahkan polisiklik (Hart, 1991).
Lipid secara alami merupakan moleku organik dan alrut dalam pelarut
organik non polar ketika hewan atau tumbuhan telah hancur atau dihancurkan.
Kelarutan lipid sangat ditentukan oleh struktur kimia. Tidak mengerankan jika ada
banyak macam pelarut yang bisa digunakan (McMurry dan Castellion, 1994).
Lemak dan minyak merupakan hal yang kita temui setiap hari. Lemak
meliputi mentega, lemak hewat, dan bagian berlemak dari daging. Minyak terutama
berasal dari tumbuhan, termasuk jagung, biji kapas, zaitun, kacang dan minyak
kedelai. Meskipun lemak berwujud padat dan minyak berwujud cair, tetapi keduanya
mempunyai struktur organik dasar yang sama (Hart, 1991).

Gambar 1. Reaksi hidrolisis lemak
Lemak dan minyak adalah suatu trigliserida atau triasilgliserol. Perbedaan
antara suatu lemak dan minyak adalah lemak berbentuk padat dan minyak berbentuk
cair pada suhu kamar. Lemak tersusun oleh asam lemak jenuh sedangkan minyak
tersusun oleh asam lemak tak jenuh. Lemak dan minyak adalah bahan-bahan yang
tidak larut dalam air (Panagan, 2011).
Minyak mempunyai arti yang sangat luas, yaitu senyawa yang berbentuk
cairan pekat pada suhu ruangan dan tidak larut dalam air. Berdasarkan sumbernya,
minyak dibagi menjadi 2 macam, yaitu minyak bumi (mineral oils atau petroleum)
dan minyak dari mahluk hidup (lipida atau lipids). Adapun minyak dari mahluk
hidup terbagi lagi menjadi minyak nabati (vegetable oils) dan minyak hewani
(animal oils). Minyak hewani lebih popular disebut dengan istilah lemak (fats)
karena pada umumnya berbentuk padat pada suhu ruanganMinyak merupakan
campuran ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang yang sering disebut
trigliserida. Trigliserida terbentuk dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.
Asam lemak jenuh sebagian besar terdiri dari asam palmitat, sedangkan kadar asam
miristat sekitar 5% (Andaka, 2009).

2.2 Asam Lemak
Asam lemak merupakan kompenen utama pembangun yang khas pada
kebanyakan lipida. Asam lemak adalah asam organik berantai panjang yang
mempunyai atom karbon dari 4 sampai 24. Asam lemak mempunyai gugus karboksil
tunggal dan ekor hidrokarbon nonpolar yang panjang, yang meneybabkan
kebanyakan lipida bersifat tidak larut dalam air dan tampak berminyak atau
berlemak. Asam lemak tidak terdapat secara bebas atau berbentuk tunggal di dalam
sel atau jaringan, tetapi terdapat dalam bentuk yang terikat secara kovalen pada
berbagai kelas lipida yang berbeda, asam lemak dapat dibebaskan dari ikatan ini oleh
hidrolisis kimia atau enzimatik (Thenawidjaja, 1982).
Pembagian solut antara dua cairan tak saling campur memberikan banyak
kemungkinan yang menarik bagi pemisahan-pemisahan analitik. Juga untuk keadaan
yang tujuan utamanya bukan analitik melainkan preparatif, maka ektraksi solven
dapat merupakan suatu langkah penting dalam memberikan hasil murni. Meskipun
kadang-kadang digunakan digunakan alat-alat yang sukar, namun dapat dilakukan
dalam waktu beberapa menit (Underwood dan Day, 1993)


2.3 Ekstraksi
Metode ekstraksi paling sering digunakan karena tidak berbahaya bagi
keselamatan, dan merupakan metode yang paling sering digunakan untuk ekstraksi
lipid dari jaringan hewan. Mikroba memiliki dinding sel yang kaku yang bekerja
dalam pengendalian ekstraksi pelarut sehingga sangat sulit ekstraksi berjalan efektif.
Ekstraksi dan fase kesetimbangan sangat penting untuk menghemat pengeluaran.
Ekstraksi pelarut yang efektif dikombinasikan dengan langkah yang sesuai akan
meningkatkan hasil ekstraksi (Cheol Cho, dkk., 2012)
Untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekstraksi, harus terlebih dahulu
dibahas berbagai istilah yang digunakan untuk menyatakan keefektifan pemisahan.
Untuk suatu zat terlarut A yang didistribusikan antara dua fase tak tercampurkan
a dan b, hukum distribusi Nernst menyatakan bahwa, asal keadaan meolekulnya
sama dalam kedua cairan dan temperatur yang konstan (Underwood dan Day, 1993).
Salah satu aplikasi ekstraksi adalah spektrofotometri penentuan logam.
Banyak senyawa organik dari waarna kelat dengan logam, tapi sebagain besar kelat
larut dalam air. Bagaimanapun larut dalam pelarut organik dan dapat dengam mudah
diekstraksi. Sejak kelat sering mewarnai dirinya, absorbs spectrum mungkin tumpang
tindih logam kelat sehingga larutan blanko harus dibuat atau reagen pencuci dari
fase organik (Hart, 1991).
Dalam meningkatkan persentase ekstraksi adalah dengan meningkatkan
volume kuantitati pelarut. Fraksi yang lebih kecil dari beberapa faraksi dalam
ekstraksi dapat digunakan untuk memudahkan menghitung ekstraksi (Hart, 1991).
Dalam analisis ekstraksi pelarut, kita berurusan dengan metode-metode
dengan mana keterlarutan kation anorganik dalam dalam air, dapat dihalangi oleh
interaksi dengan reagensia-reagensia akan menghilangkan sebagian atau semua
molekul air yang terasosiasi dengan ion logam itu, yang menjadi penyebab
keterlarutan dalam air (Basset, dkk., 1994)
Ekstraksi dengam pelarut methanol yang dicampur air lebih baik daripada
etanol campur air, aseton campur air, dan air untuk ekstraksi banyaknya bioaktif dari
total particular polifenol. Namun pada ekstrak yang inhibitor radikal bebas ekstrak
aseton lebih kuat dari enatol yang dicampur air. Senyawa fenolik lebih tinggi ketika
memilih pelarut organik yang polaritasnya diubah dengan air. Campuran ini sangat
ideal untuk memisahkan senyawa bioaktif dalam fenolik. Tetapi untuk mengektraksi
polifenol tidak begitu baik karena senyawa bioaktif akan larut dalam air dan zat
pengotor juga akan hadir dalam ekstraksi ini (Mohammedi, 2011).
Secara sederhana ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan
satu atau lebih komponen dari satu fase ke fase lainnya. Namun dibalik definisi
sederhana ini tersimpan kerumitan yang cukup besar: pemisahan berkebalikan
dengan intuisi termodinamik, karena entropi diperoleh melalui pencampuran, bukan
pemisahan. Metode ekstraksi dikembangkan berdasarkan perpindahan menuju
kesetimbangan, sehingga kinetika perpindahan massa tidak dapat diabaikan.
Ekstraksi dilakukan karena beberapa faktor seperti jika distilasi tidak dapat dilakukan
(distilasi dapat dilakukan jika relative volatility campuran lebih besar dari 1,2) atau
terlalu mahal, jika diinginkan mengisolasi bahan untuk karakterisasi, atau
memurnikan senyawa untuk proses selanjutnya (Majid dan Nurkholis, 2008).
Syarat pelarut yang digunakan dalam ekstraksi yakni pertama, harus dapat
melarutkan semua zat dengan cepat dan sempurna, serta sedikit mungkin melarutkan
bahan seperti: lilin, pigmen,serta pelarut harus bersifat selektif. Kedua, harus
mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan tanpa
menggunakan suhu tinggi. Ketiga, pelarut tidak boleh larut dalam air. Keempat,
pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen. Kelima,
pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak akan
tertinggal dalam minyak. Dan yang terakhir, harga pelarut harus serendah mungkin
dan tidak mudah terbakar (Munawarah dan Handayani, 2010).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ekstraksi, diantaranya : suhu,
kelarutan bahan yang diekstraksi dan difusivitas biasanya akan meningkat dengan
meningkatnya suhu, sehingga diperoleh laju ekstraksi yang tinggi. Pada beberapa
kasus, batas atas untuk suhu operasi ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya
menghindari reaksi samping yang tidak diinginkan. Kedua, semakin kecil ukuran
partikel maka semakin luas bidang kontak antara padatan dan solven, serta semakin
pendek jalur difusinya, yang menjadikan laju transfer massa semakin tinggi. Dan
yang terakhir, kondisi ekstraksi (pH, suhu, waktu, solven, rasio komposisi solven
dari bahan) dapat mempengaruhi proses ekstraksi. Solven yang digunakan harus
memenuhu kriteria seperti daya solut cukup besar, dapat diregenerasikan, memiliki
koefisien distribusi solut yang tinggi, dapat memuat solut dalam jumlah yang besar,
sama sekali tidak melarutkan diluen atau hanya sedikit larut dalam diluen, memiliki
kecocokan dengan solut yang diekstraksi, viskositas rendah, antara solven dengan
diluen harus mempunyai perbedaan densitas yang cukup besar, memiliki tegangan
antar muka yang cukup, dapat mengurangi potensi terbentuknya fase ke tiga, tidak
korosif, tidak mudah terbakar, tidak beracun, tidak berbahaya bagi lingkungan, serta
murah dan mudah didapat (Majid dan Nurkholis, 2008).

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akuades, n-butanol,
kloroform, n-heksana, minyak kelapa, kertas saring, kertas label, tissue roll, dan
sabun cair.

3.2 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, oven, rak
tabung, pipet tetes, pipet tetes skala, penggaris, pensil, dan labu semprot.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Kelarutan Minyak dan Lemak
Disiapkan 4 buah tabung reaksi dan masing-masing diisi dengan 2 mL
minyak kelapa. Tabung (1) ditambahkan air, tabung (2) ditambahkan n-butanol,
tabung (3) ditambahkan n-heksana, dan tabung (4) ditambahkan kloroform masing-
masing 2 mL. Larutan dikocok, kemudian dipipet masing-masing, dan diteteskan di
atas kertas saring secukupnya. Kemudian dikeringkan dalam oven. Noda yang
terbentuk diukur diameternya.

3.3.2 Ekstraksi Minyak dan Lemak
Diambil tabung reaksi berisi 5 tetes sampel minyak dan lemak kemudian
dicampurkan dengan air dan minyak. Tabung yang berisi campuran minyak lemak
dengan air ditambahkan n-heksana. Dikocok dan dibiarkan sampai terbentuk dua
lapisan. Pada tabung, lapisan yang berada diatas (n-heksana) dipindahkan ke tabung
reaksi yang lain. Lapisan n-heksana dikocok kemudian dipipet dan di teteskan ke
kertas saring sebanyak 3 tetes. Lapisan air ditambahkan lagi dengan 1 mL
kloroform. Kemudian dikocok dan dibiarkan terbentuk dua lapisan. Lapisan yang
berada dibawah (kloroform) dipindahkan ke tabung reaksi lain. Lapisan kloroform
dikocok kemudian dipipet dan diteteskan ke kertas saring sebanyak 3 tetes. Lapisan
air dikocok kemudian dipipet dan diteteskan ke kertas saring sebanyak 3 tetes.
Lapisan n-heksana dan kloroform di gabung dan dikocok, kemudian di pipet dan di
teteskan ke kertas saring sebanyak 3 tetes. Kertas saring kemudian dikeringkan di
dalam oven selama 1 menit. Noda yang terbentuk diukur diameternya.

































BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian
4.1.1 Kelarutan Minyak dan Lemak
Kelarutan adalah kuantitas maksimal suatu zat kimia terlarut (solut) untuk
dapat larut pada pelarut tertentu membentuk larutan homogen. Kelarutan suatu zat
dasarnya sangat bergantung pada sifat fisika dan kimia solut dan pelarut pada suhu,
tekanan dan pH larutan. Secara luas kelarutan suatu zat pada pelarut tertentu
merupakan suatu pengukuran konsentrasi kejenuhan dengan cara menambahkan
sedikit demi sedikit solut pada pelarut sampai solut tersebut mengendap (tidak dapat
larut lagi).
Adapun hasil dari tes kelarutan dari beberapa sampel yang digunakan
(minyak kopra, minyak VCO, minyak kelapa sawit, minyak wijen, mentega dan lilin)
dengan beberpa pelarut yakni air, n-Butanol, kloroform dan n-heksana adalah
sebagai berikut:

Pelarut Diameter Noda (cm)
Sampel Air n-Butanol Kloroform n-Heksana
VCO
2 fase 1 fase 1 fase 1 fase
- Cm 1,15 cm 1,1 cm 1,6 cm
Minyak Sawit
2 fase 1 fase 2 fase 1 fase
- Cm 1,2 cm 0,9 cm 1 cm
Minyak Wijen
2 fase 1 fase 1 fase 1 fase
- Cm 1,95 cm 1,25 cm 1,45 cm
Minyak Kopra
2 fase 1 fase 1 fase 1 fase
1,85 cm 1,2 cm 1,1 cm 0.65 cm
Lilin
2 fase 1 fase 1 fase 1 fase
- Cm 1,45 cm 1,2 cm 1,7 cm
Mentega
2 fase 2 fase 1 fase 1 fase
- Cm 1,85 cm 1,95 cm 1,25 cm
4.1.2 Ektraksi Minyak dan Lemak
Ekstraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak dengan
pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga pada bidang datar
antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi pengendapan massa dengan cara
difusi.
Adapun hasil ekstraksi dari campuran minyak/lemak dan air dengan
menggunakan beberapa pelarut organik yakni khloroform dan n-heksana adalah
sebagai berikut:
Lapisan

Sampel
Diameter Noda (cm)
Air Organik
VCO - 2,45
Minyak Sawit - 1,55
MInyak Wijen - 1,9
Minyak Kopra - 1,9
Lilin - 1,75
Mentega - 2,85


4.1 Reaksi
1. Minyak dengan air






CH
2
CH
O C
O
R
1
O C
O
R
2
CH
2
O C
O
R
3
H
2
O
2. Minyak dengan n-butanol
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
+ C
4
H
9
OH
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
C
4
H
9
OH

3. Minyak dengan kloroform
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
+ 3CHCl
3
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
CHCl
3

4. Minyak dengan n-Heksana
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
+ C
6
H
14
CH
2
O C R
CH O C R
CH
2
O C R
O
O
O
C
6
H
14

4.3 Pembahasan
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel VCO pada berbagai
pelarut. Pertama digunakan pelarut air. Terbentuk 2 fasa dimana bagian bawah
adalah air dan bagian atas adalah VCO. Pelarut air tidak menghasilkan noda pada
kertas saring yang artinya kelarutan VCO sangat kecil. Hal ini disebabkan karena air
adalah pelarut polar sedangkan VCO bersifat non polar, sehingga kedua zat ini tidak
bisa bercampur. Pada pelarut n-Butanol terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda
dengan diameter 1,15 cm, pada kloroform terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda
dengan diameter 1,1 cm dan pada n-Heksana terbentuk 1 fasa dan menghasilkan
noda dengan diameter 1,6 cm.
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel minyak sawit pada
berbagai pelarut. Pertama digunakan pelarut air. Terbentuk 2 fasa dimana bagian
bawah adalah air dan bagian atas adalah minyak sawit. Pelarut air tidak
menghasilkan noda pada kertas saring yang artinya kelarutan minyak sawit sangat
kecil. Hal ini disebabkan karena air adalah pelarut polar sedangkan minyak sawit
bersifat non polar, sehingga kedua zat ini tidak bisa bercampur. Pada pelarut
n-Butanol terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,2 cm, pada
kloroform terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 0,9 cm dan pada
n-Heksan terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1 cm.
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel minyak wijen pada
berbagai pelarut. Pertama digunakan pelarut air. Terbentuk 2 fasa dimana bagian
bawah adalah air dan bagian atas adalah minyak wijen. Pelarut air tidak
menghasilkan noda pada kertas saring yang artinya kelarutan minyak wijen sangat
kecil. Hal ini disebabkan karena air adalah pelarut polar sedangkan minyak wijen
bersifat non polar, sehingga kedua zat ini tidak bisa bercampur. Pada pelarut
n-Butanol terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,95 cm, pada
kloroform terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,25 cm dan
pada n-Heksana terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,45 cm.
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel minyak kopra
pada berbagai pelarut. Pertama digunakan pelarut air, terbentuk 2 fasa dimana bagian
bawah adalah air dan bagian atas adalah minyak kopra. Pelarut air seharusnya tidak
menghasilkan noda pada kertas saring karena kelarutan minyak kopra sangat kecil.
Hal ini disebabkan karena air adalah pelarut polar sedangkan minyak kopra bersifat
non polar, sehingga kedua zat ini tidak bisa bercampur. Pada percobaan yang
dilakukan terbentuk noda yang berdiameter 1,85 cm. Pada pelarut
n-Butanol terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,2 cm, pada
kloroform terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,1 cm dan pada
n-Heksana terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 0,65 cm.
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel lilin pada berbagai
pelarut. Pertama digunakan pelarut air. Terbentuk 2 fasa dimana bagian bawah
adalah air dan bagian atas adalah lilin. Pelarut air tidak menghasilkan noda pada
kertas saring yang artinya kelarutan lilin sangat kecil. Hal ini disebabkan karena air
adalah pelarut polar sedangkan lilin bersifat non polar, sehingga kedua zat ini tidak
bisa bercampur. Pada pelarut n-Butanol terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda
dengan diameter 1,45 cm, pada kloroform terbentuk 1 fasa dan menghasilkan noda
dengan diameter 1,2 cm dan pada n-Heksana terbentuk 1 fasa dan menghasilkan
noda dengan diameter 1,7 cm.
Pada percobaan kelarutan minyak, diuji kelarutan sampel Mentega pada
berbagai pelarut. Pertama digunakan pelarut air. Terbentuk 2 fasa dimana bagian
bawah adalah air dan bagian atas adalah Mentega. Pelarut air tidak menghasilkan
noda pada kertas saring yang artinya kelarutan Mentega sangat kecil. Hal ini
disebabkan karena air adalah pelarut polar sedangkan Mentega bersifat non polar,
sehingga kedua zat ini tidak bisa bercampur. Pada pelarut n-Butanol terbentuk 1 fasa
dan menghasilkan noda dengan diameter 1,85 cm, pada kloroform terbentuk 1 fasa
dan menghasilkan noda dengan diameter 1,95 cm dan pada n-Heksana terbentuk
1 fasa dan menghasilkan noda dengan diameter 1,25 cm.
Dari pengukuran diameter diperoleh bahwa pada lapisan air tidak didapat
noda pada kertas saring, karena air bersifat polar sedangkan minyak non polar
sehingga keduanya tidak mungkin akan saling larut. Dengan kata lain air tidak bisa
untuk mengekstraksi minyak. Sedangkan pada lapisan organik (n-Heksana) diameter
yang ditimbulkan pada kertas saring sebesar 1,55 cm pada minyak sawit, 1,9 cm
pada minyak wijen, 2,85 cm pada margarin, 1,75 cm pada lilin, 1,9 cm pada minyak
kopra, dan 2,45 pada VCO.
Berdasarkan hasil yang diperoleh baik pada kelarutan minyak maupun
ekstraksi minyak dan lemak. Dapat dilihat bahwa gliserol tidak menimbulkan noda
pada kertas saring yang menandakan kelarutan gliserol sangat kecil sehingga tidak
dapat larut dengan semua jenis pelarut yang digunakan.



























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pelarut
yang paling baik untuk melarutkan minyak dan lemak adalah n-heksan. Urutan
kelarutannya adalah n-heksana > kloroform > etanol > air. Pelarut yang paling baik
digunakan dalam ekstraksi minyak dan lemak adalah n-heksana.

5.2 Saran

5.2.1 Untuk Laboratorium
Untuk laboratorium sebaiknya laboratorium di perbesar, agar kita bisa leluasa
dalam melakukan praktikum.

5.2.2 Untuk Asisten
Untuk asisten agar menjelaskan prosedur praktikum sejelas dan sedetail
mungkin kepada praktikan. Namun, secara keseluruhan sudah cukup baik.

5.2.3 Untuk Percobaan
Sebaiknya dalam percobaan selanjutnya juga digunakan sampel minyak atau
lemak dengan rantai karbon pendek, sehingga dapat dibandingkan antara sifat
kelarutan minyak yang berasal dari asam lemak rantai pendek dan yang berasal dari
asam lemak rantai panjang



DAFTAR PUSTAKA

Andaka, G., 2009, Optimasi Proses Ekstraksi Minyak Kacang Tanah Dengan Pelarut
N-Heksana, Jurnal Teknologi, (online) 2 (1): 80-88.
http://jurtek.akprind.ac.id/sites/default/files/80-82_Ganjar.pdf. Di akses pada
tanggal 28 februari 2014.

Basset, J., Denny, R.C., Jeffrey, G.H., Mendham, J., 1994, Vogel Kimia Analisis
Kuantitatif Anorganik Edisi ke Empat, Polytechnic London, London.

Cheol Cho, S., Woon-Yong, C., Sung-Ho, O., Choon-Geun, L., Yong-Chang, S., Ji-
Seon, K., Chi-Ho, S., Ga-vin, K., Shin-Young, L., Do-Hyung, K., dan Hyeon-
Yong, L., 2012, Enhancement of Lipid Extraction from Marine Microalga,
Scenedesmus Associated with High-Pressure Homogenization Process,
Journal of Biomedicine and Biotechnology, (online) 2(5):359-432.
http://www.hindawi.com/journals/bmri/2012/359432/. Di akses pada tanggal
28 februari 2014.

Hart, H., 1991, Organic Chemistry A Short Course Eighth Edition, Houghtion
Mifflin Company, Boston

Majid, N.T., dan Nurkholis, 2008, Pembuatan The Rendah Kafein Melalui Proses
Ekstraksi dengan Pelarut Etil Asetat, Fakultas Teknik UNDIP, Semarang.

Mcmurry, J., dan Castellion, Mary E., 1994, Fundamentals of Organic and
Biological Chemistry, Prentice Hall, New Jersey.

Mohammedi, Z., 2011, Impact of Solvent Extraction Type on Total Polyphenols
Content and Biological Activity From Tamarix Aphylla, International
Journal of Pharma and Bio Sciences, (online) 2 (1): 609-615.
http://dspace.univ-tlemcen.dz/bitstream/112/2413/1/ZOHRA-
MOHAMMEDI-Fawzia-ATIK.pdf. Di akses pada tanggal 28 februari 2014.


Munawaroh, S dan Handayani, P.A., 2010, Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut
dengan Pelarut Etanol dan n-Heksana, Jurnal Kometensi Teknik, (online) 2
(1): 73-79
https://www.google.com/search?hl=en&noj=1&q=Ekstraksi+Minyak+Daun+
Jeruk+Purut+dengan+Pelarut+Etanol+dan+n-
Heksana%2C+Jurnal+Kometensi+Teknik&oq=Ekstraksi+Minyak+Daun+Jer
uk+Purut+dengan+Pelarut+Etanol+dan+n-
Heksana%2C+Jurnal+Kometensi+Teknik&gs_l=serp.12...106780.116641.0.1
37460.1.1.0.0.0.0.863.863.6-1.1.0....0...1c.1.36.serp..1.0.0.bHywECPYk0s.
Di akses pada tanggal 28 februari 2014.

Panagan, A.T., Heni Y., Jojor U.G., 2011, Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Asam
Lemak Tak Jenuh dan Omega-3 dari Minyak Ikan Patin dengan Metoda
Kromatografi Gas, Jurnal Penelitian Sains, (online) 4(C): 14440938-
14440942. http://jpsmipaunsri.files.wordpress.com/2012/01/v14-no4-c-3-
almunadi.pdf. Di akses pada tanggal 28 februari 2014.

Thenawidjaja, M., 1982, Dasar-Dasar Biokimia Jilid Satu, Erlangga, Jakarta.

Underwood, A.L dan Day, R.A., 1993, Analisa Kimia Kuantitatif Edisi ke Empat,
Erlangga, Jakarta.

Zurao, P., Suraj, L., Jaiswal dan Chandewar, A.V., 2011, Lipids-The Instrumental
Excipient in Pharmaceutical Dosages Form, International Journal of
Research in Pharmacy and Chemistry, (online) 1(4): 992-997.
http://www.ijrpc.com/files/000030.pdf . Di akses pada tanggal 28 februari
2014.


















LEMBAR PENGESAHAN



















Makassar, 04 Maret 2014
Asisten






SAKINAH NUR FADILLAH
Praktikan






DWI NICHE
Lampiran 1 : Bagan Kerja Kelarutan











































10 tetes minyak/lemak
- Dimasukan dalam 5 buah tabung reaksi
- Tabung (1) dan (2) diisi dengan air, tabung (3) diisi
dengan etanol, tabung (4) diisi dengan khloroform dan
tabung (5) diisi dengan n-heksan masing-masing 2 mL
- Dikocok
- Dipipet dan diteteskan 1-2 tetes masing-masing isi
tabung di atas kertas saring
- Dikeringkan dalam oven
- Diukur diameter noda

Data
Lampiran 2 : Bagan Kerja Ekstraksi minyak dan Lemak














































Campuran Minyak/lemak dan air
- Ditambahkan 1 mL khloroform atau n-
heksana
- Dikocok hingga tampak 2 lapisan
Lapisan khloroform atau n-heksan (1) Lapisan air (1)
Lapisan air (2) Lapisan khloroform atau n-heksan (2)
- Ditambah 1 mL khloroform
atau n-heksan
- Dikocok hingga tampak 2
lapisan
- Dikocok
- Dipipet 1-2 tetes di
atas kertas saring
- Dikeringkan dalam
oven
- Diukur diameter noda
yang ada
- Dikocok
- Dipipet 1-2 tetes di
atas kertas saring
- Dikeringkan dalam
oven
- Diukur diameter noda
yang ada
Data Data
Digabungkan