Anda di halaman 1dari 22

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN LENGKAP
TITRASI BEBAS AIR

OLEH:
KELOMPOK V (LIMA)
YASMIN GHALLYAH HASAN N11112008
ALFIANDI PRADANA YUSUF N11112254
ANDI AYU LESTARI N11112101
EMMY TJIANG N11112257
ARMI RAUF N11112307
NUR AMALIA WULEHO N11112308
YUNI ASTIKA N11112311
DIAN SAPUTRA USMAN N11112330
GOLONGAN SENIN SIANG

ASISTEN : DJUMARNI FIRMAN

MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Selain dalam air reaksi asam basa juga dapat berlangsung
dalam pelarut non air. Sebenarnya pemeriksaan ini agak baru dalam
pemeriksaan kimia, tetapi untuk pemakaiannya kini digunakan untuk
senyawa organik maupun anorganik. Sesungguhnya dalam reaksi
titrasi bebas air ini juga berlangsung titrasi netralisasi.
Walaupun cara ini terhitung baru namun para analis telah
merasakan betapa cara ini memiliki beberapa keuntungan
diantaranya untuk senyawa yang tidak dapat larut dalam air, dapat
larut dalam pereaksi yang mudah didapat dan dikenal sehingga untuk
menentukan kadarnya tidak kesulitan dalam mencari pelarut yang lain
untuk melarutkannya.
Keuntungan lain dengan pemakaian metode ini adalah karena
dalam percobaan ini digunakan pelarut nonair seperti asam asetat
glasial, dan pelarut ini memiliki kekuatan asam basa yang sangat
kuat.
Dalam percobaan ini akan dibuat larutan baku HClO
4
0,1 N
dan pembakuannya dengan metode titrimetri bebas air, berdasarkan
reaksi netralisasi.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
Adapun maksud dari praktikum ini adalah mengetahui dan
memahami penentuan kadar suatu zat dengan menggunakan metode
titrasi bebas air.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kuantitas
suatu senyawa dengan metode titrasi bebas air berdasarkan perinsip
netralisasi.

1.3 Prinsip Percobaan
Menghitung kadar larutan kafein dan efedrin HCL berdasarkan
reaksi netralisasi antara titran asam perklorat menggunakan indikator
kristal violet dimana titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna
larutan dari ungu menjadi hikau zamrud pada kafein dan jingga menjadi
merah muda pada efedrin HCl.






BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori umum
Titrasi titrimetri dalam lingkungan bebas air, pelarut mengambil
bagian yang amat penting untuk reaksi stoikiometri, dimana pelarut
tersebut dapat mengambil bagian dalam reaksi. Ada tiga teori yang
menerangkan reaksi netralisasi dalam suatu pelarut yaitu teori ikatan
hidrogen, teori Lewis dan teori Bronsted. (3)
Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak menggunakan air
sebagai pelarut. Tetapi digunakan pelarut organik seperti alkohol, eter
atau pelarut-pelarut organik lain karena senyawa tersebut tidak dapat larut
dalam air, disamping itu kurang reaktif dalam air seperti misalnya garam-
garam amina, dimana garam-garam ini dirombak lebih dahulu menjadi
basa yang bebas larut dalam air, sari dengan pelarut organik lain dan
direaksikan dengan asam baku berlebih, yang kemudian pelarutnya
diuapkan dan barulah kelebihan asam ditentukan kembali dengan basa
baku sedangkan senyawa-senyawa organik yang mengandung nitrogen
ditentukan dengan metode Kjeldahl, dimana senyawa-senyawa yang
berupa garam natrium diasamkan dahulu, kemudian senyawa yang tidak
larut dalam air disari dengan pelarut lain (organik), pelarut diuapkan dan
sisa dikeringkan dan ditimbang. (4)
Pada pelarut asam lemah dan basa lemah dalam lingkungan bebas
air harus diperhatikan pengaruh pelarut bukan air terhadap tetapan
ionisasi, tetapan dissosiasi, tetapan asam asam dan basa senyawa yang
hendak dititrasi. Yang tidak kalah penting adalah pengaruh konstante
dialetrik pada reaksi protolisis pada pelarut bukan air. (5)
Jenis dan pengaruh pelarut dalam titrasi ini harus mendapat
perhatian. Pada dasarnya pelarut dibedakan menjadi dua jenis pelarut
yaitu (5,6) :
1.Pelarut aprotik
Pelarut aprotik adalah pelarut yang tidak dapat memberikan proton,
yaitu pelarut yang tidak terdisosiasi menjadi proton dan anion pelarut.
Sebagai contoh adalah pelarut benzen. Penggunaan pelarut aprotik dalam
titrasi bebas air adalah karena pelarut ini tidak dapat menyetingkatkan
pada keasaman/kebasaan asam dan basa yang bereaksi sesamanya.
Selain itu garam yang terjadi pada titrasi tidak akan diuraikan secara
protolitik oleh pelarut. Kerugiannya adalah sifatnya yang sedikit polar atau
nonpolar yang mempunyai daya larut yang amat kecil, selain itu hantaran
suatu larutan akan sangat dikurangi.
2.Pelarut protik
Pelarut protik adalah pelarut yang menunjukkan disosiasi sendiri
menjadi proton dan anion pelarut. Secara praktis pelarut yang seperti ini
selalu dapat memberi dan menerima proton. Pelarut yang seperti ini
dinamakan pelarut amfiprotik atau pelarut amfolit. Pada penggunaan
pelarut aprotik keadaan ideal ini hampir tercapai. Jika dilakukan dengan
pelarut amfiprotik maka pelarut akan bertindak sebagai peserta pada
proses netralisasi dan tetapan inisiasi, disosiasi keasaman dan kebasaan
tentu akan dipengaruhi
Pengaruh pelarut aprotik terhadap titrasi bebas air adalah senyawa
HCl yang dilarutkan akan tidak bereaksi dengan pelarut, karena itu
kekuatan asamnya tidak berkurang. Sebagai ukuran untuk kekuasaan
asam adalah afinitas proton. Makin kuat proton terikat makin sedikit proton
yang diberikan dan asamnya akan semakin meningkat/kuat. Begitupun
dengan basa. (4)

II.2 Uraian Bahan
1. Asam perklorat (1 : 651)
Nama resmi : Asam perklorat
Sinonim : Perchlorit acid
RM/BM : HClO
4
/ 100,5
Pemerian : Cairan jernih tak berwarna
Kelarutan : Bercampur dengan air.
Kegunaan : Sebagai larutan baku
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
2. Kristal violet (1 : 698)
Nama resmi : Kristal violet
Sinonim : Gertian violet
RM/BM : C
25
H
30
ClN
3
/ 408
Pemerian : Hablur berwarna hijau tua.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, agak sukar larut dalam
etanol (95%) P. Larutannya berwarna
lembayung tua.
Kegunaan : Sebagai indikator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
3. Coffein (2 : 254)
Nama resmi : COFFEINUM
Nama lain : Kofein
RM/BM : C
8
H1
0
N
4
O
2
/194,19
Pemerian : Serbuk hablur bentuk jarum, mengkilat,
biasanya menggumpal, putih, tidak berbau,
rasa pahit
Kelarutan : Agak sukar larut, larut dalam air dan dalam
etanol (95%) P, mudah larut dalam kloroform
P, sukar larut dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kandungan : Mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
tidak lebih dari 101,0% C
8
H1
0
N
4
O
2
, dihitung
terhadap zat yang telah dikeringkan.
Kegunaan : Sebagai sampel

4. Efedrin HCl (1 : 236)
Nama Resmi : EPHEDRIN HYDROCHLORIDUM
Nama Lain : Efedrin HCl, Efedrina hidroksida
RM : C
10
H
15
No, HCl
BM : 201,70
Pemerian : hablur putih, tidak berbau, rasa pahit 14 bagian
Etanol (95%) P praktis tidak larut dalam eter P.
Kandungan : Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak
lebih dari 101,0% C
6
H
15
NO,HCl
.

Kelarutan : larut dalam lebih kurang 4 bagian air, dalam lebih
kurang dari 14 bagian Etanol (95%) P praktis tidak
larut dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
5. Alkohol (1 : 65)

Nama resmi : Aethanolum

Nama latin : Etanol, alcohol

RM/BM : C
2
H
6
O/46,07

Pemerian : jernih, tidak berbau, bergerak, cairan pelarut,
menghasilkan bau yang khas dan rasa terbakar
pada lidah.

Kelarutan : -

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk jauh dari nyala api.

II.3 Prosedur Kerja
1. Coffein
- Timbang seksama lebih kurang 170 mg, larutkan dalam 5 ml
asam asetat glasial. Tambahkan 10 ml anhidrida asetat dan 20 ml
toluena. Titrasi dengan 0,1 N asam perklorat.
- Timbang seksama lebih kurang 104 mg, larutkan dalam 10 ml
anhidrida asetat. Tambahkan 10 ml benzena dan indikator kristal
violet.Titrasi dengan HClO
4.

2. Efedrin HCl
- Timbang seksama lebih kurang 500 mg, larutkan dalam 25 ml
asam asetat glasial P. Tambahkan 10 ml raksa ( II ) asetat LP dan
2 tetes kristal violet LP. Titrasi dengan asam perklorat 0,1 N LV
hingga berwarna hijau zamrud.
- Timbang seksama 70 mg, larutkan dalam 5 ml larutan raksa ( II )
asetat P hangat, tambahkan 50 ml asetat P. Titrasi dengan HClO
4

0,1 N menggunakan indikator larutan jenuh metil merah dalam
asetat P hingga warna merah.
- Timbang seksama kurang lebih 125 mg, larutukan dalam asam
asetat glasial. Tambahkan 5 ml raksa ( II ) asetat. Tambahkan
indikator kristal violet lalu titrasi dengan HClO
4
.









BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat-alat yang dibutuhkan yaitu botol semprot, buret 100 ml,
erlemeyer bertutup kaca/stock erlenmeyer 250 ml, gelas piala 250 ml,
gelas ukur 25 ml dan 10 ml, kertas jilid hitam putih, labu tentukur 100 ml,
neraca analitik, pipet skala, sendok tanduk dan tatif + klem.
III.1.2 Bahan

Bahan- bahan yang dibutuhkan yaitu Air suling, aluminium foil,
efedrin HCl, larutan kristal violet LV, larutan baku HClO
4
, larutan kristal
violet , kaffein , larutan gliserol netral, larutan anhidrida asetat, larutan
benzene, larutan raksa ( II ) asetat, larutan asam asetat glasial dan kertas
timbang.
III. 2 Cara kerja
Kaffein
- Disiapkan alat dan bahan
- Ditimbang kaffein sebanyak kurang lebih 116 mg
- Sampel dilarutkan dalm 10 ml larutan anhidrida asetat
- Ditambahkan 10 ml benzene dan 2 tetes indikator Kristal violet
- Dititrasi dengan larutan baku HClO
4

Efedrin HCl
- Disiapkan alat dan bahan
- Ditimbang sebanyak kurang lebih 125 mg efedrin HCl
- Sampel dilarutkan dalam 15 ml asam asetat glasial
- Ditambahkan 5 ml larutan raksa ( II ) asetat dan ditambahkan
indikator Kristal violet
- Dititrasi dengan larutan baku HClO
4














BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Tabel Pengamatan
KEL SAMPEL METODE B
S
V titran
I Kaffein TBA 116 mg 5,4 ml
III Kaffein TBA 104 mg 5 ml
IV Efedrin HCl TBA 100 mg 5 ml
VI Efedrin HCl TBA 125 mg 6,7 ml

IV. 2 ReaksI
IV.3 Perhitungan
1. Kelompok 1 ( Kaffein )
I. % kadar =



=



=42,53
II. % kadar =



=



=42,53
III. % kadar =



=



=87,69
2. Kelompok 3 ( Kaffein )
I. % kadar =



=



=90,55
II. % kadar =



=



=90,55
III. % kadar =



=



=90,56
3. Kelompok 4 ( Efedrin HCl )
I. % kadar =



=



=97,82
II. % kadar =



=



=97,82
III. % kadar =



=



=97,82
4. Kelompok 6 ( Efedrin HCl )
I. % kadar =



=



=104,86
II. % kadar =



=



=104,86
III. % kadar =



=



=104,86













BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan penetapan kadar kaffein dan efedrin
HCl dengan menggunakan metode titrasi bebas air berdasarkan reaksi
netralisasi. Reaksi netralisasi merupakan reaksi antara asam dan basa
yang setara menurut perhitungan stokiometri. Larutan baku yang
berfungsi sebagai titran yaitu larutan baku asam perklorat 0,097 N dan
indikator yang digunakan adalah indikator larutan kristal violet. Titik akhir
titrasi koffein ditandai dengan tepat berubahnya warna larutan dari ungu
menjadi hijau zamrud sedangkan titik akhir titrasi efedrin HCl ditandai
dengan tepat berubahnya warna larutan dari jingga menjadi merah muda.
Titrasi bebas air adalah titrasi yang dilakukan untuk larutan yang
tak dapat larut dalam air tetapi dapat larut dalam pelarut-pelarut organik
lainnya, seperti misalnya asam salisilat. Dalam percobaan ini semua alat
harus dibebas airkan dengan menggunakan alkohol sebagai pembilas
karena sifat alkohol yang mudah menguap. Selain itu alkohol juga bersifat
inert sehingga diharapkan dapat membantu menghilangkan sisa-sisa air
yang mungkin menempel pada dinding alat.
Pada penetapan kadar coffein 116 mg menggunakan metode TBA
dimana digunakan HClO
4
0,097 N sebagai titran dengan indicator KV
sebanyak 2 tetes. Penentuan titik akhir titrasi didasarkan pada perubahan
warna dari ungu menjadi hijau zamrud. Volume yang diperlukan untuk
mentitrasi coffein 116 mg adalah 5,4 ml. Dari data tersebut didapatkan
kadar sebesar 42,5% dan 87,63%. Data ini tidak sesuai dengan literatur
karena dalam literatur coffein mengandung Mengandung tidak kurang dari
98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C
8
H1
0
N
4
O
2.
Pada penetapan kadar coffein 105 mg menggunakan metode TBA
dimana digunakan HClO
4
0,097 N sebagai titran dengan indicator KV
sebanyak 2 tetes. Penentuan titik akhir titrasi didasarkan pada perubahan
warna dari ungu menjadi hijau zamrud. Volume yang diperlukan untuk
mentitrasi coffein 104 mg adalah 5 ml. Dari data tersebut didapatkan kadar
sebesar 90,55%. Data ini tidak sesuai dengan literatur karena dalam
literatur coffein mengandung Mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
tidak lebih dari 101,0% C
8
H1
0
N
4
O
2.
Pada penetapan kadar efedrin HCl 100 mg menggunakan metode
TBA dimana digunakan HClO
4
0,097 N sebagai titran dengan indicator KV
sebanyak 2 tetes. Penentuan titik akhir titrasi didasarkan pada perubahan
warna dari ungu menjadi hijau zamrud. Volume yang diperlukan untuk
mentitrasi coffein 100 mg adalah 5 ml. Dari data tersebut didapatkan kadar
sebesar 97,83%. Data ini tidak sesuai dengan literatur karena dalam
literatur coffein mengandung Mengandung tidak kurang dari 99,0% dan
tidak lebih dari 101,0% C
6
H
15
NO,HCl
.
Pada penetapan kadar efedrin HCl 125 mg menggunakan metode
TBA dimana digunakan HClO
4
0,097 N sebagai titran dengan indicator KV
sebanyak 2 tetes. Penentuan titik akhir titrasi didasarkan pada perubahan
warna dari ungu menjadi hijau zamrud. Volume yang diperlukan untuk
mentitrasi coffein 125 mg adalah 6,7 ml. Dari data tersebut didapatkan
kadar sebesar 104,86%. Data ini tidak sesuai dengan literatur karena
dalam literatur coffein mengandung Mengandung tidak kurang dari 99,0%
dan tidak lebih dari 101,0% C
6
H
15
NO,HCl
.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi faktor
kesalahan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dan
ketidaksesuaian kadar, dalam hal ini disebabkan karena :
- Alat-alat yang digunakan tidak benar-benar bebas air.
- Penggunaan alat yang tidak bersih
- Indikator yang digunakan tidak bagus
- Cara melakukan preparasi sampel yang salah
- Titran yang digunakan memiliki normalitas yang tidak akurat.












BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dapat disimpulkan bahwa:
- Kadar rata-rata coffein adalah 132,905 %
- Kadar efedrin HCl adalah 153,77%
V.2 Saran
Sebaiknya alat-alat di laboratorium yang digunakan pada saat
praktikum diharapkan agar lebih banyak lagi agar tidak memakan
waktu yang lama untuk praktikum








DAFTAR PUSTAKA
1. Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, edisi III, Departemen
Kesehatan RI., Jakarta
2. Dirjen POM, (1994), Farmakope Indonesia, edisi IV, Depatemen
Kesehatan RI., Jakarta
3. Roth, J., Blaschke, G., (1988), Analisa Farmasi, UGM Press,
Yogyakarta, 232, 234.
4. Underwood, A.L., Day, RA., (1993), Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi V,
Alih Bahasa : R. Soedonro, Erlangga, Surabaya, 168
5. Wunas, J., Said, S., (1986), Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif,
UNHAS, Makassar, 58
6. Rivai, H., (1995), Asas Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia
Press, Jakarta, 142-144