Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Trofoblast memegang peranan penting dalam proses implantasi
blastokista berhubung dengan kemampuannya menghancurkan jaringan
endometrium. Setelah zigot memasuki endometrium (yang berubah menjadi
desidua), trofoblast dan khususnya sitotrofoblast tumbuh terus. Sitotrofoblast
yang bersifat invasif dapat membuka pembuluh darah dan secara hematogen
dapat dibawa ke paru. Pada kurang lebih 50% wanita yang melahirkan dapat
ditemukan sel-sel trofoblast dalam parunya, sel tersebut mati berhubung dengan
kemampuan imunologik wanita yang bersangkutan.
Pada kehamilan biasa embrio tumbuh menjadi janin dan kemudian
dilahirkan menjadi bayi, maka pada sejumlah wanita kehamilan abnormal dapat
terjadi, yakni menjadi mola hidatidosa.
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma vilus
korealis langka vaskularisasi dan edematous. Janin biasanya meninggal, akan
tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematous ini hidup dan tumbuh terus,
gambaran yang diberikan adalah seperti segugus buah anggur. Jaringan
trofoblast pada vilus kadang berproliferasi ringan, kadang-kadang keras dan
mengeluarkan hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dalam jumlah yang
lebih besar daripada kehamilan biasa.
Mola hidatidosa banyak ditemukan di Negara Asia dan Meksiko,
sedangkan di Negara barat lebih jarang. Dari segi usia frekuensi penyakit ini
sering ditemukan pada kehamilan wanita usia awal-awal kesuburan dan
mendekati akhir kesuburan.





2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Mola hidatidosa adalah penyakit yang berasal dari jaringan trofoblast
yang bersifat jinak dimana pertumbuhan atau proliferasi sel-sel trofoblast yang
berlebihan dengan stroma mengalami degenerasi hidropik (terutama
sinsitiotrofoblast), villi khorialis tumbuh berganda berbentuk gelembung kecil
berisi berisi cairan jernih (asam amino, mineral) menyerupai buah anggur
sehingga penderita sering dikatakan hamil anggur.

2.2 Epidemiologi
Frekuensi mola umumnya pada wanita di Asia lebih tinggi (1 dari 120 kehamilan)
dibandingkan wanita di Negara-negara barat (1 dari 2000 kehamilan). Angka kejadian
mola hidatidosa di Indonesia berkisar antara 1:50 sampai 1: 141 kehamilan. Menurut
data dari RSCM (Jakarta), kejadian mola hidatidosa dilaporkan 1: 49 kehamilan.

2.3 Etiologi
Sampai saat sekarang penyebab mola hidatidosa belum diketahui dengan
pasti. Terdapat berbagai teori tentang penyebab terjadinya mola hidatidosa
diantaranya teori infeksi, defisiensi makanan dan teori kebangsaan serta teori
consanguinity. Teori yang paling cocok dengan keadaan ini adalah teori dari
Acosta Sison yaitu defisiensi protein, karena penyakit ini lebih banyak ditemukan
pada wanita dengan golongan ekonomi rendah.

2.4 Faktor resiko
Faktor resiko yang dapat menyebabkan mola hidatidosa antara lain :
1. Multiparitas
2. Kehamilan pada usia < 20 tahun dan > 35 tahun
3. Faktor ovum ( ovum mati) : ovum memang sudah patologik namun
terlambat dikeluarkan
3
4. Imunoselektif dari trofoblas
5. Infeksi virus
6. Kelainan kromosom yang belum jelas
7. Kekurangan protein
8. Keadaan sosial ekonomi yang rendah

2.5 Klasifikasi
International Union Against Cancer (IUAC) membuat klasifikasi sederhana
penyakit trofoblast yaitu :
1. Penyakit trofoblast yang berhubungan dengan kehamilan
2. Penyakit trofoblast yang tidak berhubungan dengan kehamilan
Klasifikasi diagnosis klinis :
1. Non metastatik
2. Metastatik : a. lokal (pelvik)
b. ekstrapelvik
Klasifikasi diagnosis morfologis :
1. Mola hidatidosa : a. non invasif
b. invasif
2. Khoriokarsinoma
3. Tidak bisa ditentukan
Dari mola yang sifatnya jinak dapat tumbuh tumor trofoblast yang
bersifat ganas. Tumor ini ada yang kadang-kadang mengandung vilus disamping
trofoblast yang berproliferasi, dapat mengadakan invasi yang umumnya bersifat
lokal dan dinamakan mola destruens (mola invasif/penyakit trofoblast ganas
jenis vilosum). Selain itu terdapat tumor trofoblast yang hanya terdiri dari sel
trofoblast tanpa stroma, yang umumnya menyebar ke alat-alat lain
(khoriokarsinoma/penyakit trofoblast ganas non vilosum)
Pengklasifikasian mola hidatidosa berdasarkan ada tidaknya jaringan janin
dalam uterus :

4
1. Mola hidatidosa komplit (klasik)
Merupakan suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak
ditemukan janin, hampir seluruh villi korialis mengalami perubahan
hidropik. Secara makroskopik ditandai dengan gelembung-gelembung
putih, tembus pandang, berisi cairan jernih dengan ukuran yang
bervariasi beberapa milimeter sampai 1-2 cm.
2. Mola hidatidosa inkomplit (parsial)
Merupakan keadaan dimana perubahan mola hidatidosa bersifat lokal
serta belum begitu jauh dan masih terdapat janin atau setidaknya
kantong kehamilan, umumnya janin mati pada bulan pertama. Secara
makroskopis tampak gelembung mola yang disertai janin atau bagian dari
janin.

2.6 Patologi

1. Makroskopik
Mola hidatidosa mempunyai gambaran yang khas, yaitu berupa kista-
kista atau gelembung-gelembung dengan ukuran yang berbeda-beda, mulai dari
beberapa milimeter sampai 2-3 cm. Dindingnya tipis, kenyal, berwarna putih
jernih, berisi cairan yang sifatnya tidak berbeda dengan cairan ascites atau
edema. Bila ukurannya kecil-kecil, tampak sebagai kumpulan telur katak, tetapi
bila gelembungnya besar tampak sebagai rangkaian buah anggur yang
bertangkai. Tangkai ini melekat pada endometrium. Umumnya seluruh
endometrium dikenai. Bila tangkainya putus, terjadilah perdarahan. Kadang-
kadang gelembung tersebut diliputi oleh bekuan-bekuan darah merah atau
coklat tua yang sudah kering.
2. Mikroskopik
Pada mola hidatidosa klasik tampak gambaran sebagai berikut :
a. Vili khorialis yang edematous.
b. Tidak ada atau berkurangnya pembuluh darah dalam stroma vili.
c. Proliferasi sel-sel trofoblas.
5
Sebagian vili tampak nekrotik, sedang lainnya berukuran subnormal, tapi
sedikit menggembung, seperti yang tampak pada vili berumur kurang dari 23
hari pasca konsepsi. Stroma vili kosong, tidak berisi pembuluh-pembuluh darah,
hanya kadang-kadang tampak kapiler-kapiler kecil. Lapisan sel trofoblast yang
mengelilingi vili tidak selalu sama.

2.7 Patogenesis
Ada 2 teori yang berkaitan dengan penyakit trofoblas :
1. Teori missed abortion
Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion). Karena
itu, terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi
pembendungan cairan dalam jaringan mesenkim villi dan akhirnya
terbentuklah gelembung-gelembung. Menurut Reynolds, kematian
mudigah disebabkan kekurangan gizi berupa asam folat dan histidin
pada kehamilan hari ke-13 dan 21. Hal ini kemudian menyebabkan
gangguan dalam angiogenesis.
2. Teori neoplama dari Park
Pada kehamilan dapat terbentuk sel-sel trofoblast yang mempunyai
fungsi abnormal, dimana terjadi resorbsi cairan yang berlebihan ke
dalam vili sehingga timbul gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan
peredaran darah dan kematian mudigah.a

2.8 Diagnosis
Diagnosis mola ditegakkan berdasarkan :
Anamnesa :
- Adanya amenore
- Tanda-tanda hamil muda seperti mual, muntah, kehamilan ini dialami
lebih berat dari kehamilan biasa
- Perut membesar lebih cepat dari usia kehamilan
6
- Adanya perdarahan pervaginam, ini adalah hal yang sangat penting
dan biasanya hal ini yang membuat pasien berobat ke RS. Sifat
perdarahan biasanya sedikit-sedikit dan perdarahan berlangsung lama
sehingga pasien mengalami anemia, sedangkan kalau terjadi
perdarahan banyak bisa terjadi syok sampai kematian
Pemeriksaan Fisik :
- Tanda-tanda hamil (+) : kloasma gravidarum (+), mamae membesar,
areola papil hiperpigmentasi, colostrum (+), abdomen membesar
lebih dari usia kehamilan
- Test kehamilan (+) dan kadar HCG meningkat sangat sugestif
- Ballotement (-), BJA pada usia kehamilan >5 bulan
- Mola bite (bising mola)
Pemeriksaan Penunjang :
- Ro Foto Abdomen : tidak ada rangka janin
- USG : Gambaran badai salju (Snow Flake Pattern)
Diagnosis pasti : pemeriksaan patologi anatomi

2.9 Penatalaksanaan
1. Perbaiki keadaan umum
Pasien biasanya dalam keadaan anemis karena mengalami perdarahan
sedikit-sedikit dan lama atau sudah mengalami perdarahan banyak. Siapkan
darah dan transfusikan, beri antibiotik, kontrol VS, perdarahan pervaginam.
Kalau ada penyulit seperti preeklampsia diobati sesuai dengan terapi
preeklampsia, tirotoksikosis diobati sesuai dengan anjuran interne.

2. Evakuasi jaringan mola
Ada dua cara yaitu vakum kuret dan histerektomi.
Vakum kuret
Dilakukan pengeluaran jaringan mola dengan menggunakan vakum kuret
dan dilanjutkan pembersihannya dengan memakai kuret tumpul (7-10 hari
7
berikutnya). Untuk memperbaiki kontraksi bisa diberikan uterotonika. Jaringan
mola yang keluar diperiksa histopatologik.
Histerektomi
Dilakukan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Umur tua
dan paritas tinggi merupakan faktor predisposisi untuk keganasan. Batasan yang
dipakai umur 35 tahun, anak hidup 3 orang.

3. Pemberian profilaksis sitostatik
Diberikan pada pasien yang jaringan molanya sudah dikeluarkan yang
diperkirakan mempunyai risiko tinggi untuk menjadi ganas atau pada pasien yang
gambaran histopatologinya meragukan.


Prognostik Mola (Gold Stein Mola)
No 1 2 3 4
1 Jenis Mola Partial Klasik Rekuren -
2 Besar uterus <1 bulan >1 bulan >2 bulan >3 bulan
3 Kadar HCG <50000 50000-
100000
10
5
-10
6
>10
6
4 Umur pasien 20-40 th <20 th >40 th >50 th
5 Adanya penyerta - 1/lebih - -

Penyerta dari mola : Preeklampsia, hipertiroid, emboli trofoblas ke paru.
Skor <4 jinak, skor >4 cenderung ganas.
Pada pasien yang mengalami perdarahan banyak dilakukan histerektomi
dengan kedua adneksa ditinggalkan dan dilanjutkan dengan pemberian
sitostatika.
Obat sitostatika yang diberikan : Methothrexate, Actinomicin D, Adriamicin,
Vincristin, dll.

8
4. Perawatan tindak lanjut pasca tindakan mola (follow up)
Dilakukan karena mola dapat berkembang menjadi ganas dan perawatan
tindak lanjut ini dilakukan selama 1-2 tahun.
Yang difollow up :
- Kadar HCG : biasanya setelah pengeluaran jaringan mola kadar HCG
akan menurun dan normal kembali (<10 miu/dl) dan ini terjadi sekitar
2 minggu setelah pengeluaran mola. Kadar yang menurun lambat,
tidak turun atau malah meningkat cenderung menunjukkan
keganasan.
- Waktu follow up hCG adalah : Pemeriksaan hCG setiap minggu
sampai pemeriksaan normal selama 3 minggu berturut-turut. Yang
diikuti dengan pemeriksaan setiap bulan sampai hasil normal selama
6 bulan berturut-turut. Waktu rata-rata kadar hCG mencapai normal
adalah 9 minggu setelah evakuasi.
- Pasien disarankan tidak hamil selama follow up dengan cara
sterilisasi, oral kontrasepsi atau metode barier (memakai kontrasepsi
kondom, diafragma vagina). Pemakaian IUD selama kadar hCG
belum normal jangan dilakukan karena risiko untuk perforasi.
- Dilakukan pemeriksaan ginekologi secara berkala selama follow up.
Mola hidatidosa dikatakan sembuh bila kadar HCG pada 3 x pemeriksaan
dalam keadaan normal atau pasien sudah melahirkan janin dalam keadaan sehat.









9
BAB III
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama : Ny H Suami : Tn. M
Jenis kelamin : Perempuan Usia : 45 tahun
Umur : 38 Tahun Pekerjaan : Supir angkot
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Sawah lunto

Anamnesa
Seorang pasien wanita usia 38 tahun masuk IGD RSUD Sawahlunto pada tanggal
22 Maret 2011 pukul 14.00 dengan,
Keluhan utama
Keluar darah sedikit-sedikit dari kemaluan sejak 4 hari yang lalu, memenuhi
setengah bagian pembalut yang dikenakan pasien.
Riwayat penyakit sekarang
Keluar darah sedikit-sedikit dari kemaluan sejak 4 hari yang lalu, memenuhi
setengah bagian pembalut yang dikenakan pasien. Darah berwarna merah
kehitaman pasien ganti pembalut 2-3 kali setiap harinya.
Keluar gelembung seperti mata ikan dari kemaluan disangkal
Keluar berupa jaringan dari kemaluan tidak ada
Nyeri perut (-)
Sesak nafas (-)
Sakit kepala (-), nyeri ulu hati (-), pandangan kabur (-)
Badan sering berkeringat, jantung berdebar-debar, tidak tahan cuaca panas
sejak hamil disangkal
Tidak haid sejak 4 bulan lalu
HPHT : 22-11-2010 TP :29 8 - 2011
Mual (+) muntah (+) lebih banyak dari kehamilan sebelumnya
ANC : 1 x ke bidan
10
Riwayat Menstruasi : menarche usia 14 tahun, siklus teratur 1 x 30 hari, lama 5-7
hari, 2-3 x ganti duk /hari

Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM, dan hipertensi
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, penyakit
menular, dan kejiwaan
Riwayat Perkawinan : 1 x tahun 2000
Riwayat Kehamilan / abortus/ persalinan : 3/0/2
1. Th 2001, laki-laki, BBL 3200 gram, aterm, spontan, ditolong bidan
2. Th 2003, laki-laki, BBL 3300 gram, aterm, spontan, ditolong bidan
3. Sekarang
Riwayat Kontrasepsi :
Pasien menggunakan KB implant selama 5 tahun ( 2003-2008) dan dilanjutkan
dengan KB suntik / 3bulan ( 2009- juli 2010)
Riwayat Imunisasi : tidak ada
PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis
Keadaan umum : sedang BB : 43 Kg
Kesadaran : CMC BB setelah hamil : 45 Kg
Tanda Vital : TB : 155 cm
TD : 120/70 mmHg BMI : 17, 8
Nadi : 96 x/menit LILA :23 cm
Nafas : 24x/menit
Suhu : afebris
Mata : konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik
Leher : JVP 5-2 cmH
2
O, kelenjar tiroid tidak membesar

11
Jantung :
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 2 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : irama teratur, bising (-)
Paru :
Inspeksi : simetris bentuk dan gerak kiri dan kanan
Palpasi : fremitus normal sama kiri dan kanan
Perkusi : sonor semua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler, wheezing (-), rhonki (-)
Abdomen : status ginekologi
Genitalia : status ginekologi
Ekstremitas : edema (-), reflex fisiologis (+/+), reflex patologis (-/-)
Status ginekologi :
Muka : kloasma gravidarum (+)
Mammae : membesar, menegang, areola dan papilla hiperpigmentasi
Abdomen
Inspeksi : perut tampak membuncit lebih besar dari usia
kehamilan, linea mediana hiperpigmentasi (+), striae
gravidarum (+)
Palpasi : FUT teraba setinggi pusat, ballotemen (-),NT(-), NL(-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : BU(+) normal, BJA (-)
Genitalia :
Inspeksi : U/V tenang, PPV (+)
Inspekulo :
Vagina : tumor (-), laserasi (-), fluksus (+), tampak darah di
forniks posterior
12
Portio : multipara, ukuran sebesar jempol kaki dewasa,
tumor(-), laserasi (-),fluksus(+) tampak darah keluar
dari kanalis servikalis, OUE tertutup
VT bimanual
Vagina : tumor (-)
Portio : multipara, tumor(-), nyeri goyang (-)
CUT : antefleksi
AP : lemas kiri dan kanan
CD : tidak menonjol
Laboratorium
Hb :9,6 gr/dl
Leukosit :12.600/mm
3
Trombosit :114.000/mm
3
Ht : 29%
Plano test : +
Diagnosa :
G3P2A0H2 gravid 15-16 minggu + Suspek Mola Hidatidosa + Anemia ringan
Sikap :
Kontrol KU, Vital sign, PPV
Rencana Pemeriksaan :
Cek - HCG, FT4, TSH, albumin serum, sediaan apusan darah tepi
USG
Konsul interne (Ro. Thorak)
Rencana Tindakan:
Evakuasi Mola Hidatidosa dengan curretage


13
BAB IV
DISKUSI
Telah diperiksa seorang pasien wanita usia 38 tahun yang masuk IGD RSUD
Sawahlunto pada tanggal 22 maret 2011 dengan diagnosa G3P2A0H2 gravid 15-16
minggu + Mola Hidatidosa.
Dasar diagnosa mola hidatidosa ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang, pada pasien ini kami temukan beberapaa faktor resiko
terjadinya mola hidatidosa antara lain :
1. Multipara
2. Usia >35 tahun
3. BMI 17,8 dan LILA 23 cm
4. Sosial ekonomi rendah
Keluhan utama pasien yaitu keluar darah dari kemaluan sedikit-sedikit sejak 4
hari yang lalu. Keluhan mual dan muntah yang dirasakan lebih dari kehamilan yang
sebelumnya. Hal ini sesuai dengan keluhan yang sering terjadi pada pasien mola
hidatidosa.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan tinggi fundus uteri teraba setinggi pusat yang
lebih besar dari ukuran untuk kehamilan usia 15-16 minggu, Tanda-tanda pasti hamil
tidak ada ; ballottement (-), BJA (-).
Pada pasien ini kami anjurkan untuk dilakukan pemeriksaan labor darah
lengkap, apusan darah tepi, beta HCG, FT4 TSH,dan albumin serum serta pemeriksaan
USG.
- Pemeriksaan kadar -HCG untuk menentukan perjalanan penyakit dan
prognosa
- FT4 dan TSH pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah adanya
penyulit hipertiroid
- Albumin serum, pemeriksaan untuk mengetahui kadar protein plasma
- Sediaan apus darah tepi dilakukan untuk memastikan jenis anemia
- Pemeriksaan USG.
Dilakukan pengontrolan keadaan umum, vital sign dan perdarahan pervaginam
pada pasien ini. Untuk terapi definitif nya pada pasien ini direncanakan dilakukan
curettage pengeluaran jaringan mola hidatidosa. Lalu jaringan mola diperiksakan ke
bagian Patologi anatomi untuk melihat apakah ada tanda tanda keganasan.
14
DAFTAR PUSTAKA

1. 1. Cuningham FG,Gant NF,MacDonald PC. Penyakit dan Kelainan Plasenta,
Obstetri Williams, edisi 21, Alih bahasa: Suyono J, Handoko A, EGC; Jakarta.
2006;921-948.
2. Winknjosastro H, Ilmu Kebidanan. Gangguan Bersangkutan Dengan Konsepsi; ed
2; Jakarta; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2008; 246-268.
3. Rustam M. Sinopsis Obstetri. Penyakit Trofoblas, edisi 2 jilid I. editor: Lutan D.
EGC. Jakarta.1998; 238-250.