Anda di halaman 1dari 9

Apikal Dominansi dan Absisi Jaringan Tumbuhan

PUTRI TRI NINGSIH (1210421006)


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Andalas, Padang

ABSTRAK
Dominansi apikal merupakan faktor penghambatan pertumbuhan dari pucuk
lateral yang terjadi selama pucuk terminal tumbuh normal. Efek
penghambatan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi auksin yang
ternyata dibuat pada titik tumbuh terminal. Tujuan praktikum ini adalah
mengamati hubungan antara aktifitas auksin dengan dominansi tunas apikal
dan untuk meneliti peranan auksin terhadap proses absisi daun. Adapun
metode yang digunakan yaitu pengamatan pengaruh dan efek hormon yang
dibutuhkan oleh tumbuhan. Hasil yang didapatkan adalah pengaruh auksin
untuk pertumbuhan tunas samping sedangkan vaselin untuk pertumbuhan
akar lateral. Hasil yang didapatkan adalah Coleus sp yang diolesi vaselin
memiliki tunas samping yang lebih panjang dibandingkan dengan yang
diolesi IAA. Pada proses absisi daun tanaman yang diolesi IAA tidak
mengalami absisi.

Kata kunci: dominansi apikal, auksin, vaselin, IAA, Coleus sp, dan absisi.


I. PENDAHULUAN
Dominansi apikal merupakan
faktor penghambatan pertumbuhan
dari pucuk lateral yang terjadi
selama pucuk terminal tumbuh
normal. Efek penghambatan ini
disebabkan oleh tingginya
konsentrasi auksin yang ternyata
dibuat pada titik tumbuh terminal.
Apabila pucuk terminal dipotong
maka pucuk lateral akan segera
tumbuh dan akan mengarah ke
atas (Darmawan dan Baharsyah,
1983). Produksi auksin pada ujung
pucuk merupakan hambatan
terhadap pertumbuhan pucuk
samping, dengan melakukan
pemangkasan ujung pucuk akan
menyebabkan pertumbuhan tunas
samping. Selain itu, diperkirakan
bahwa pertumbuhan tunas pucuk
adalah karena kahat sitokinin,
berarti bahwa tidak tumbuhnya
tunas-tunas samping adalah
karena defisiensi terhadap auksin
dan sitokinin. Auksin disintesis
dalam jumlah besar dalam tunas
apikal tumbuhan dan bergerak
secara basipetal (arah pangkal
batang) keseluruh bagian
tumbuhan. Aliran auksin ini
berpengaruh mendorong
pemanjangan sel batang dan
sekaligus menghambat
pertumbuhan tunas pada ketiak
daun (tunas lateral). Hal ini
mengakibatkan pertumbuhan
keatas yang cepat (Salisbury and
Ross, 1995).
Bercabang tidaknya suatu
tumbuhan biasanya bergantung
pada banyaknya auksin yang
dihasilkan pada tunas apikal.
Perkembangan tunas lateral tidak
saja dapat dirangsang dengan
menghilangkan tunas apikal tetapi
juga dengan memberikan
senyawa-senyawa tertentu atau
dengan memberikan lingkungan
fisik tertentu yang dapat
menurunkan kandungan auksin
tumbuhan. Pemangkasan pucuk
untuk mengatasi dominansi apikal
diterapkan dalam praktek budidaya
tanaman dengan tujuan
membentuk tanaman atau
membuatnya tumbuh menyemak
(Devlin, 1975).
Pemberian auksin pada
tumbuhan dapat menghambat pula
perkembangan tunas lateral, suatu
keadaan yang mirip dengan
dominansi tunas apikal. Salah satu
respon jaringan tumbuhan
terhadap perlakuan auksin adalah
pertumbuhan atau pembelahan sel
secara acak, yang mengakibatkan
terjadinya perbanyakan sel.
Kumpulan sel yang tidak atau
sedikit terorganisasi semacam ini
disebut kalus. Batang yang
terluka atau dipotong sering
didapati membentuk kalus bila
diberi auksin (Noggle and Fritz
1979).
Ada beberapa pengaruh
auksin terhadap aspek
pertumbuhan sebagai berikut
adalah 1). Pemanjangan sel
dimana IAA merangsang
pemanjangan sel dan akan
berakibat pada pada pemanjangan
keleoptil dan batang, 2). Tunas
ketiak yaitu IAA yang dibentuk
pada meristem apikal dan
ditransfer ke bawah menghambat
perkembangan tunas ketiak jika
maristem apikal di potong, tunas
lateral akan berkembang, 3).
Absisi daun, daun akan terpisah
dari batang jika sel-sel pada
daerah absisi mengalami
perubahan kimia dan fisika, dan
4). Tumbuh akar dimana dalam
akar pengaruh IAA biasanya
menghambat pemanjangan sel,
kecuali pada konsentrasi rendah
(Heddy, 1996).
Auksin di sentesis dalam
jumlah yang besar dalam tunas
apikal tumbuhan dan bergerak
secara basipetal (kearah pangkal
batang) ke seluruh bagian
tumbuhan. Aliran Auksin ini
berpengaruh mendorong
pemanjangan sel batang dan
sekaligus menghambat
pertumbuahn tunas ketiak daun
(tunas lateral). Hal ini
mengakibatkan pertumbuhan ke
atas yang cepat. Keadaan ini
disebut dengan dominansi apikal
(Salisbury and Ross, 1995).
Banyak faktor yang
mempengaruhi ekspresi dominansi
apikal, yaitu faktor fisik dan faktok
kimiawi. Faktor fisik antara lain
yaitu karbondioksida,
oligosakarida, protein, senyawa
organik dan berbagai hormon.
Terhambatnya pucuk lateral
selama pucuk terminal tumbuh
normal disebut apikal dominansi.
Dominansi apikal adalah manifer
dalam paling sedikit tiga cara yaitu:
dengan menghambat sepenuhnya
pada tunas axilaris, menghambat
pertumbuhan dari suatu pucuk
dimana terdapat tunas dominansi,
memberi efek-efek bagian dari
pucuk terhadap orientasi pada
perkembangan organ lateral
(Darmawan dan Baharsyah, 1983).

II. Pelaksanaan Praktikum
2.1 Waktu dan tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari
Rabu tanggal 7 Mei 2014, di
Laboratorium Fiosiologi
Tumbuhan, Jurusan Biologi,
Universitas Andalas, Padang.

2.2 Alat dan bahan.
Adapun alat-alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah pisau
silet, 6 pot tanaman, kertas label,
kertas milimeter, dan pasta. Bahan
yang dibutuhkan antara lain
vaselin, IAA, 3 pot tanaman Coleus
sp.


2.3 Cara Kerja.
2.3.1 Hubungan Auksin Dengan
Apikal Dominan
Pilih 3 pucuk tanaman yang
Coleus sp. yang begus. Pucuk
pertama dibiarkan saja, pucuk
kedua dipotong lalu diberi pasta
IAA vaselin, pucuk ketiga dipotong
dan dibiarkan. Pemotongan
dilakukan tepat dibawah pucuk.
Setiap minggu pasta IAA vaselin
diganti dan diamati efek yang
terjadi. Tanaman dibiarkan tumbuh
di dalam labor sampai berumur 21
hari (3 minggu) sesudah
pemasangan pasta IAA vaselin.

2.3.2 Auksin dan Absisi Jaringan
Atau Organ Tumbuhan
Dipilih 2 pasang daun (empat
daun) untuk masing-masing pot
dan potong dengan pisau silet
pada pangkal helai daunnya, serta
biarkan petiolnya. Dibubuhkan
pasta vaselin pada ujung 4 petiol
pot 1, dan pasta IAA pada ujung 4
petiol pot kedua. Untuk kontrol
adalah potongan daun tanpa
pemberian pasta pada pot ketiga.
Diberi label disetiap petiol. Diukur
panjang petiol pada saat
percobaan dimulai, dan setiap 3
hari sekali selama 21 hari. Dicatat
kapan petiol gugur.

III. Hasil Dan Pembahasan
3.1 Percobaan a. Hubungan
Auksin Dengan Apikal Dominan
Tabel 1. Panjang tunas samping
Coleus sp.
Pengamat
an
Perlakuan
Kontro
l
Diole
si
IAA
Dioles
in
vaseli
n
Hari ke 7 Tidak
ada
tunas
sampi
ng
0,7
cm
4 cm
Hari ke 14 Tidak
ada
tunas
sampi
ng
1,5
cm
6 cm
Hari ke 21 Tidak
ada
tunas
sampi
ng
layu 10,3
cm
Hari ke 28 Tidak
ada
tunas
sampi
ng
gugu
r
layu







Gambar 1. Apikal dominansi pada
daun Coleus sp


Dari tabel dan gambar 1 diatas
dapat dilihat, ternyata Coleus sp
yang diolesi vaselin memiliki tunas
samping yang lebih panjang
dibandingkan dengan yang diolesi
IAA. Sedangkan pada kontrol
(tunas lateral ) tunas sampingnya
tidak muncul. Pada kontrol yang
dipotong dan dibiarkan saja tidak
muncul tunas sampingnya karena
hormon auksin alami masih akan
tetap disintesis oleh karena itu
tunas sampingnya tidak muncul
sementara pertumbuhan apikalnya
mengalami pertumbuhan. Dapat
kita lihat bagaimana pengaruh
vaselin yang diberikan pada
bagian pucuk tanaman dapat
mengurangi pengaruh dominansi
tunas apikal (auksin), sehingga
pada pertumbuhan tunas samping
( tunas lateral ) dapat mengalami
pertumbuhan. Secara tidak
langsung vaselin yang diberikan
mempunyai unsur-unsur yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan
tunas samping, dan dapat
mengurangi dominansi auksin.
Hal ini disebabkan karena
IAA merupakan salah satu jenis
auksin sehingga juga
menyebabkan dominansi apikal.
Dominansi apikal terjadi karena
aktifitas dari auksin yang
menyebabkan bentuk tajuk lebih
cepat tumbuh ke arah memanjang
atau ke arah samping. Salah satu
auksin yang dapat disintesa adalah
IAA (Indole Acetic Acid) yang
berfungsi dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan
pada tumbuh tumbuhan
(Bidwell,1979).
Pemangkasan merupakan
penghilangan bagian tanaman
(cabang, pucuk atau daun) untuk
menghindari arah pertumbuhan
yang tidak di inginkan.
Pemangkasan dilakukan untuk
mengurangi pertumbuhan vegetatif
(cabang) dan meningkatnya
pertumbuhan generatif (buah) dan
memperbanyak penerimaan
cahaya matahari merupakan salah
satu cara untuk memperbesar
buah dan meningkatkan bobot
perbuah, pemangkasan dilakukan
untuk mengurangi pertumbuhan
vegetatif (daun/cabang) dan
meningkatkan pertumbuhan
generatif (buah), memperbanyak
penerimaan cahaya matahari,
menurunkan tingkat kelembaban di
sekitar tanaman, menghambat
pertumbuhan yang tinggi agar
mudah pemeliharaannya dan
untuk menaikkan kualitas buah
(Esrita, 2012).
Menurut Salisbury and Ross
(1995), Hambatan terhadap
pertumbuhan pucuk samping ini
ternyata disebabkan adanya
produksi auksin pada ujung pucuk,
pemangkasan ujung pucuk akan
menyebabkan pertumbuhan tunas
sanping. Selain itu, diperkirakan
bahwa pertumbuhan tunas pucuk
adalah karena kahat sitokinin,
berarti bahwa tidak tumbuhnya
tunas-tunas samping adalah
karena defisiensi terhadap auksin
dan sitokinin. Auksin disintesis
dalam jumlah besar dalam tunas
apikal tumbuhan dan bergerak
secara basipetal (arah pangkal
batang) keseluruh bagian
tumbuhan. Aliran auksin ini
berpengaruh mendorong
pemanjangan sel batang dan
sekaligus menghambat
pertumbuhan tunas pada ketiak
daun (tunas lateral). Hal ini
mengakibatkan pertumbuhan
keatas yang cepat.
Aktivitas auksin mengalir
dari pucuk ke dasar batang suatu
tanaman yang ikut dalam proses
prototropisme. Apabila auksin tidak
berkurang, maka akan terbentuk
suatu lapisan khusus yang disebut
dangan zona ambibisi, yang
merupakan tempat lepasnya
tangkai daun. Absisi adalah
gugurnya suatu organ tanaman
seperti daun , bunga, buah yang
dipengaruhi oleh auksin. Absisi
terjadi dengan pecahan jaringan
pembuluh secara fisiologis. Zona
absisi tidak akan terbentuk selama
auksin yang dihasilkan masih
cukup untuk dikirim ketangkai daun
(Salisbury and Ross, 1995).

3.2 Percobaan b. Auksin dan
Absisi Jaringan Atau Organ
Tumbuhan

Tabel 2. Pengamatan terhadap
petiol coleus sp


Perlak
uan
Panjang petiol (cm)
Min Mingg Mingg
ggu
1
u 2 u 3
Diolesi vaselin
Petiol
1
3,2 gugur Gugur
Petiol
2
2,5 gugur Gugur
Petiol
3
2,8 3 Gugur
Petiol
4
2,5 3 Gugur
Diolesi IAA
Petiol
1
3,3 Gugur Gugur
Petiol
2
3,5 Gugur Gugur
Petiol
3
3 2,6 Gugur
Petiol
4
3,2 gugur gugur
kontrol
Petiol
1
1,6 1,6 2
Petiol
2
1,6 1,7 Gugur
Petiol
3
1,4 1,6 Gugur
Petiol
4
1,2 1,5 2,3

Gambar 2. Absisi pada daun
Coleus sp.

Pada tabel dan gambar 2
diatas petiol yang diolesi IAA tidak
gugur pada minggu ke 2
pengamatan sedangkan petiol
yang diolesi vaselin tidak gugur
pada hari ke 6. Ini melihatkan
bahwa lebih kuat pengaruhnya
vaselin yang diolesi ke petiol
daripada IAA yang dioleskan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh
dapat diketahui bahwa IAA
berfungsi menunda proses absisi
daun dibandingkan tanaman yang
diolesi vaselin. Tanaman yang
diolesi IAA tidak mengalami abisisi
sampai pengamatan hari ke 14
sedangkan yang diolesi vaselin
lebih cepat mengalami absisi pada
petiolnya.
Hal ini sesuai dengan
literatur bahwa selain merangsang
pertumbuhan tunas apikal auksin
juga dapat berfungsi sebagai
penundaan absisi daun dan buah
(Kimball, 1996). Absisi yang terjadi
pada daun merupakan contoh
senesen (penuaan) yang jelas.
Selama masa pertumbuhan,
dengan bertambahnya umur suatu
tumbuhan, akan diikuti pula
dengan proses penurunan kondisi
yang mengarah kepada kematian
organ atau organisme. Bagian
akhir dari proses perkembangan,
dari dewasa sampai hilangnya
pengorganisasian dan fungsi
disebut senesen atau penuaan.
Sel-sel yang telah berdiferensiasi
pada dasarnya mempunyai masa
hidup terbatas, sehingga penuaan
akan dialami oleh semua sel pada
saat yang berbeda-beda. Selama
proses penuaan, pada tingkat sel
terjadi penyusutan struktur dan
rusaknya membran seluler (Devlin,
1975).
Di dalam proses absisi,
akan terjadi perubahan-perubahan
metabolisme dalam dinding sel
dan perubahan secara kimia dari
pektin dalam lamella tengah.
Pembentukan lapisan absisi
(abscission zone) diikuti oleh
pembentukan lapisan pemisah
(separation layer) dan lapisan
pelindung (protective layer).
Karena banyaknya etilen dan
sedikitnya auksin maka sel-sel
tumbuh pada separation layer.
Keseimbangan dari dua jenis
hormon ini menghasilkan
mekanisme pengaturan untuk
mengontrol ukuran dan bentuk sel
pada separation layer. Pemisahan
daun dari tanaman merupakan
proses hilangnya adhesi
(perlekatan) antar sel yang
disebabkan oleh melarutnya
lamella tengah oleh aktivitas enzim
hidrolitik seperti pektinase,
polygalacturonase and cellulose.
Pada waktu yang sama, dinding
sel primer mulai berkurang
kekakuannya dan membengkak
akibat perubahan komponen kimia
dalam sel (Gardner dan googer,
1991).

Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan
didapatkan kesimpulan bahwa
Coleus sp yang dipotong dan
diberi vaselin, cepat menghasilkan
tunas dan banyak menghasilkan
daun daripada perlakuan tunas
yang diberi IAA dan kontrol.
Sedangkan pada petiol yang
diolesi vaselin lebih cepat gugur
daripada petiol yang diolesi IAA.

DAFTAR PUSTAKA

Bidwel, R. G. S. 1979. Plant
Physiology. Second edition.
Mac Milan Publishing. New
York.

Darmawan, I dan J. Baharsjah.
1983. Dasar-Dasar Fisiologi
Tumbuhan. Suryadan.
Semarang.

Devlin, Robert M. 1975. Plant
Physiology Third Edition. D.
Van Nostrand. New York.

Esrita, 2012. Pengaruh
Pemangkasan Tunas Apikal
Terhadap Pertumbuhan dan
hasil kedelai (Glycine max L.
Merri). Jurnal Agroteknologi
1(2) 126-127.

Gardner, F. P. R. Brent pearce dan
Goger L. Mitchell, 1991.
Fisiologi Tanamanan
Budidaya. Universitas
Indonesia Press. Jakarta.

Heddy, S. 1996. Hormon
Tumbuhan. PT Raja Grafindo
Perkasa. Jakarta.

Kimball, J.W. 1996. Biologi Jilid II.
Erlangga. Jakarta.

Noggle, F.R dan G.J. Fritz. 1997.
Introductory Plant Physiology.
Van Hostrand Rain Hold.
New York.