Anda di halaman 1dari 40

7

BAB II
KONSEP DASAR

A. Pengertian
Leukimia adalah penyakit akibat terjadinya proliferasi sel leukosit
yang abnormal dan ganas serta sering disertai adanya leukosit jumlah
berlebihan yang dapat menyebabkan terjadinya anemia dan
trombositopenia. Leukimia limfois atau limfositik akut ini merupakan
kanker jaringan yang menghasilkan leukosit yang imatur dan berlebihan
sehingga jumlahnya menyusup ke berbagai organ seperti sumsum tulang
dan mengganti unsur sel yang normal sehingga mengakibatkan jumlah
eritrosit kurang untuk mencukupi kebutuhan sel sehingga timbul
pendarahan (Hidayat, 2006).
Leukimia merupakan suatu penyakit klonal, yang berarti suatu sel
kanker abnormal berproliferasi tanpa kontrol, menghasilkan sekelompok
sel-sel anak yang abnormal sehingga menghambat semua sel-sel lain di
sumsum tulang untuk berkembang normal (Price, 1999).
Leukimia adalah proliferasi yang tidak teratur atau akumulasi sel
darah putih dan sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang
normal, neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam
sumsum tulang dan limfa (Mastriyani, 2007).
Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur
dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi, 2001).
8
Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah
putih dalam sumsum tulang menggantikan elemen sumsum tulang normal
(Smeltzer, 2002).
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah
berupa proliferasi patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh
adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan
adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain (Arief, 2002)
Dari berbagai pengertian dapat disimpulkan : Leukimia merupakan
penyakit akibat proliferasi sel leukosit yang imatur dan berlebihan
sehingga dapat mengganti umur sel yang normal, menyebabkan anemia,
trombositopenia, bahkan kematian dengan etiologi yang belum diketahui,
diduga sebagai penyakit virus atau genetik.

B. Klasifikasi
Leukimia diklasifikasikan menjadi 4 bagian, diantaranya yaitu sebagai
berikut:
1. Leukimia Meilogenus Akut
AML mengenai sel sistem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke
semua sel mieloid, monosit, granulosit, eritrosit, dan trombosit. Semua
kelompok usia dapat terkena, insidensi meningkat sesuai
bertambahnya usia. Merupakan leukimia nonlimfositik yang paling
sering terjadi.

9
2. Leukimia Mielogenus Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel mieloid. Namun
banyak sel normal dibandingkan bentuk akut, sehingga penyakit ini
lebih ringan. CML jarang menyerang individu dibawah 20 tahun.
Manifestasi mirip dengan AML, tetapi tanda dan gejala lebih ringan,
pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan
leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3. Leukimia Limfositik Akut.
ALL dianggap sebaagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi
pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan,
puncak insiden usia 4 tahun, setelah 15 tahun ALL jarang terjadi.
Manifestasi limfosit berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan
perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
4. Leukimia Limfosit Kronis.
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70
tahun. Manifestasi pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa
saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain (Arief, 2002)





10
C. Anatomi dan Fisiologi
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua hewan tingkat tinggi
yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh
jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan
juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis
yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato-
yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya
adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh.
Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat
sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun
yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-
hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Darah manusia bewarna merah, antara merah terang apabila kaya
oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada
darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory
protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan
tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah adalah bagian terbesar
dari tubuh manusia, 70% tubuh manusia terdiri dari darah, darah memiliki
banyak fungsi didalam tubuh manusia, pada dasarnya bermanfaat untuk
mengatur suhu tubuh, mengedarkan oksigen, sistem kinerja darah
mengedarkan sari makanan dari tubuh dan mengedarkan hormon.
11
Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak
kira-kira 1/13 dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. Keadaan jumlah
tersebut pada tiap-tiap orang tidak sama, bergantung pada umur,
pekerjaan, keadaan jantung atau pembuluh darah (Syaifuddin, 2006).
Darah terdiri dari 4 bagian utama yaitu plasma darah, sel darah
merah, sel darah putih dan keping darah.
1. Plasma Darah
Bagian 55% dari darah yang berupa cairan kekuningan dan
membentuk medium cairan darah disebut plasma darah. 90% bagian
plasma darah terdiri dari air, plasma darah ini memiliki fungsi
mengangkut sari makanan ke dalam sel dan membawa sisa
pembakaran dari sel ke tempat pembuangan, plasma darah ini juga
bermanfaat untuk menghasilkan zat antibodi untuk menjaga kekebalan
tubuh dari penyakit.
Bagian cairan darah yang membentuk sekitar 5% dari berat
badan, merupakan media sirkulasi elemen-elemen darah yang
membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan sel pembeku darah
juga sebagai media transportasi bahan organik dan anorganik dari
suatu organ atau jaringan.
Zat-zat dalam plasma darah ada 6 macam, diantaranya yaitu
fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah, garam-
garam mineral (garam kalsium, kalium, natrium dan lain-lain) yang
berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotik, protein
12
darah (albumin, globulin) yang dapat meningkatkan viskositas darah
dan juga menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara
keseimbangan cairan dalam tubuh, zat makanan (asam amino, glukosa,
lemak, mineral, dan vitamin), hormon yaitu suatu zat yang dihasilkan
dari kelenjar tubuh, dan antibodi/antitoksin (Syaifuddin, 2006)





Gambar 1.1 Plasma darah

2. Sel Darah Merah
Sel darah merah (SDM) atau eritrosit adalah cakram bikonkaf
tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2m
dan ketebalannya berkurang di bagian tengah menjadi hanya 1 mm
atau kurang, karena lunak dan lentur maka selama melewati
mikrosirkulasi sel-sel ini mengalami perubahan konfigurasi. Eritrosit
tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap
sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan
mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan
golongan darah.
13
Sel darah merah atau eritrosit adalah jenis sel darah yang paling
banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh
lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Sel darah merah adalah
salah satu contoh sel yang tidak berinti. Sel darah merah berbentuk
pipih dan cekung pada bagian tengahnya, tidak memiliki inti, tidak
dapat menembus dinding kapiler darah dan berwarna kekuning-
kuningan. Pada orang dewasa sel darah merah berjumlah sekitar 5 juta
sel/mm darah pada laki-laki dan 4 juta sel/mm darah pada
perempuan. Pada orang dewasa sel darah merah dibentuk dalam
sumsum tulang pipih, sedangkan pada janin sel darah merah dibentuk
dalam hati dan limfa. Setelah berumur 120 hari, sel darah merah akan
mati dan diubah menjadi bilirubin atau zat warna empedu.
Sel darah merah mengandung hemoglobin, sel darah merah
dihasilkan dari limpa, hati, kura dan sumsum merah pada tulang pipih,
sel darah merah yang sudah rusak akan dibuang ke dalam hati.
Hemoglobin yang keluar dari eritrosit yang mati akan terurai
menjadi 2 zat yaitu hematin yang mengandung Fe yang berguna untuk
pembuatan eritrosit baru dan hemoglobin yaitu suatu zat yang terdapat
dalam eritrosit berguna untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida.
Jumlah normal pada orang dewasa kira-kira 11,5-15 gr dalam 100 cc
darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb laki-laki 13,0 mg%
(Syaifuddin, 2006).

14





Gambar 1.2 Sel Darah Merah

3. Sel Darah Putih
Sel darah putih atau leukosit adalah sel yang membentuk
komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh
melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem
kekebalan tubuh. Sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat
bergerak secara amuboid (bentuk tidak tetap), dan dapat menembus
dinding kapiler/diapedesis. Normalnya kita memiliki 4x10
9
hingga
11x10
9
sel darah putih dalam satu liter darah manusia dewasa yang
sehat atau sekitar 7000-25000 sel per tetes. Dalam kasus leukimia,
jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes. Leukosit
bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk
memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh
tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak
memiliki bentuk yang tetap.
Fungsinya sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan
bibit penyakit/bakteri yang masuk ke dalam jaringan RES (sistem
15
retikulo endotel) tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar
limfe, sebagai pengangkut yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari
dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah. Sel leukosit
disamping berada di pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan
tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya
kuman/infeksi maka jumlah leukosit yang ada dalam darah akan lebih
banyak dari biasanya.
Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam
kelenjar limfe, sekarang beredar di dalam darah untuk
mempertahankan tubuh dari serangan penyakit tersebut. Jika jumlah
leukosit dalam darah melebihi 10000/mm
3
disebut leukositosis dan
kurang dari 6000/mm
3
disebut leukopenia. (Syaifuddin, 2006)




Gambar 1.3 Sel Darah Putih




Gambar 1.4 Beberapa jenis sel darah putih
16
Ada beberapa jenis sel darah putih, yaitu: basofil, eosinofil, sel
batang, sel segmen, limfosit, dan monosit.
Tipe Gambar Diagram
%
dalam
tubuh
manusia
Keterangan
Neutrofil

65%
Neutrofil berhubungan dengan
pertahanan tubuh terhadap infeksi
bakteri serta proses peradangan
kecil lainnya, serta biasanya juga
yang memberikan tanggapan
pertama terhadap infeksi bakteri;
aktivitas dan matinya neutrofil
dalam jumlah yang banyak
menyebabkan adanya nanah.
Eosinofil

4%
Eosinofil terutama berhubungan
dengan infeksi parasit, dengan
demikian meningkatnya eosinofil
menandakan banyaknya parasit.
17
Basofil


<1%
Basofil terutama bertanggung
jawab untuk memberi reaksi alergi
dan antigen dengan jalan
mengeluarkan histamin kimia yang
menyebabkan peradangan.
Limfosit


25%
Limfosit lebih umum dalam sistem
limfa. Darah mempunyai tiga jenis
limfosit:
1. Sel B: Sel B membuat
antibodi yang mengikat
patogen lalu
menghancurkannya. (Sel B
tidak hanya membuat
antibodi yang dapat
mengikat patogen, tapi
setelah adanya serangan,
beberapa sel B akan
mempertahankan
kemampuannya dalam
menghasilkan antibodi
sebagai layanan sistem
18
'memori'.)
2. Sel T: CD4+ (pembantu)
Sel T mengkoordinir
tanggapan ketahanan (yang
bertahan dalam infeksi
HIV) sarta penting untuk
menahan bakteri
intraseluler. CD8+
(sitotoksik) dapat
membunuh sel yang
terinfeksi virus.
3. Sel natural killer: Sel
pembunuh alami (natural
killer, NK) dapat
membunuh sel tubuh yang
tidak menunjukkan sinyal
bahwa dia tidak boleh
dibunuh karena telah
terinfeksi virus atau telah
menjadi kanker.
19
Monosit


6%
Monosit membagi fungsi
"pembersih vakum" (fagositosis)
dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia
hidup dengan tugas tambahan:
memberikan potongan patogen
kepada sel T sehingga patogen
tersebut dapat dihafal dan dibunuh,
atau dapat membuat tanggapan
antibodi untuk menjaga.
Makrofag


(lihat di
atas)
Monosit dikenal juga sebagai
makrofag setelah dia meninggalkan
aliran darah serta masuk ke dalam
jaringan.

4. Keping Darah
Keping darah, lempeng darah, trombosit atau platelet, adalah
fragmen sel yang tersirkulasi dalam darah yang terlibat dalam
mekanisme hemostatis tingkat sel yang menimbulkan pembekuan
darah (trombus). Disfungsi atau jumlah keping darah yang sedikit
dapat menyebabkan pendarahan, sedangkan jumlah yang tinggi dapat
meningkatkan risiko trombosis. Trombosit memiliki bentuk yang tidak
teratur, tidak berwarna, tidak berinti, berukuran lebih kecil dari
20
eritrosit dan leukosit, dan mudah pecah bila tersentuh benda kasar.
Jumlah trombosit adalah 200000-300000 keping/mm darah.
Trombosit diproduksi di sumsum merah, keping darah berfungsi
dalam pembekuan darah, jika ada orang yang terkena demam berdarah,
maka jumlah trombosit ini akan semakin sedikit sehingga darah
semakin mengental dan menyebabkan kematian, oleh karena itu
penderita demam berdarah harus ditransfusi darah agar mendapat
pasokan trombosit yang banyak (Syaifuddin, 2006).





Gambar 1.5 Keping darah

Fungsi darah dalam metabolisme tubuh kita antara lain sebagai
alat pengangkut (pengedar), pengatur suhu tubuh dan pertahanan
tubuh. Peredaran Oksigen pada tubuh :
a. Oksigen diedarkan ke seluruh tubuh oleh sel darah merah.
b. Darah yang dipompa dari bilik kanan jantung menuju paru-paru
melepaskan CO
2
dan mengambil O
2
dibawa menuju serambi kiri.
c. O
2
dari serambi kiri disalurkan ke bilik kiri
21
d. Dari bilik kiri O
2
dibawa ke seluruh tubuh oleh sel darah merah
untuk pembakaran (oksidasi)
e. Peredaran darah besar yaitu peredaran darah yang berasal dari
jantung membawa oksigen dan sari makanan ke seluruh tubuh dan
kembali ke jantung membawa karbondioksida.
f. Peredaran darah kecil yaitu peredaran darah dari jantung
membawa karbondioksida menuju paru-paru untuk dilepas dan
mengambil oksigen dibawa ke jantung.
Jadi kesimpulannya, fungsi darah adalah mengedarkan sari
makanan ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh plasma darah,
mengangkut sisa oksidasi dari sel tubuh untuk dikeluarkan dari tubuh
yang dilakukan oleh plasma darah, karbondioksida dikeluarkan melalui
paru-paru, urea dikeluarkan melalui ginjal, mengedarkan hormon yang
dikeluarkan oleh kelenjar buntu (endokrin) yang dilakukan oleh
plasma darah, mengangkut oksigen ke seluruh tubuh yang dilakukan
oleh sel-sel darah merah, membunuh kuman yang masuk ke dalam
tubuh yang dilakukan oleh sel darah putih, menutup luka yang
dilakukan oleh keping-keping darah, dan menjaga kestabilan suhu
tubuh (Guyton, 1995).

D. Etiologi dan Predisposisi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu faktor genetik :
22
virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (Tcell
LeukemiaLhymphoma Virus/ HLTV), radiasi, obat-obat imunosupresif,
obat-obat kardiogenik seperti diethylstilbestrol, faktor herediter, misalnya
pada kembar monozigot, serta kelainan kromosom, misalnya pada down
sindrom (Suriadi, 2001).
Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari
sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui. Pemaparan terhadap
penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan
pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia.
Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down
dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.
Faktor yang ikut berperan yaitu : virus onkogenik yang memiliki
struktur antigen tertentu, predisposisi genetik yang digabungkan dengan
inisiator (mutasi) baik yang diketahui maupun tidak, abnormalitas
kromosom dan hereditas, faktor eksogen, seperti sinar X, sinar radioaktif,
hormon, bahan kimia dan infeksi, faktor endogen, seperti ras (orang
Yahudi), serta riwayat penyakit yang berkaitan dengan hematopoisis
(pembentukan sel darah), seperti penyakit Hodgkin, meiloma multiple,
polisitemia vera, dan anemia siderobastik (Ngastiyah, 1997).
Berdasarkan sumber lainnya, terdapat etiologi lain, yaitu : obat-
obat imunosupresif, obat karsinogenetik dan kelainan kromosom
(Mastriyani, 2007).

23
E. Patofisiologi
Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoietik yang
total dan terkait dengan sumsum tulang dan pembuluh limfe ditandai
dengan tidak terkendalinya proliferasi dari leukemia dan prosedurnya.
Sejumlah besar sel pertama menggumpal pada tempat asalnya
(granulosit dalam sumsum tulang, limfosit di dalam limfe node) dan
menyebar ke organ hematopoetik dan berlanjut ke organ yang lebih besar
(splenomegali, hepatomegali). Proliferasi dari satu jenis sel sering
mengganggu produksi normal sel hematopoetik lainnya dan mengarah ke
pengembangan/pembelahan sel yang cepat dan ke sitopenias (penurunan
jumlah). Pembelahan dari sel darah putih mengakibatkan menurunnya
immunocompetence dengan meningkatnya kemungkinan terjadi infeksi.
(Long, 1996).
Jika penyebab leukemia adalah virus, maka virus tersebut akan
mudah masuk ke dalam tubuh manusia, jika struktur antigen virus sesuai
dengan struktur antigen manusia. Begitu juga sebaliknya, bila tidak sesuai
maka akan ditolak oleh tubuh. Stuktur antigen manusia terbentuk oleh
struktur antigen dari berbagai alat tubuh terutama kulit dan selaput lendir
yang terletak dipermukaan tubuh. Istilah HLA (Human Leucocyte Lotus-
A) antigen terhadap jaringan telah ditetapkan (WHO). Sistem HLA
individu ini diturunkan menurut hukum genetika, sehingga adanya peranan
faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukemia tidak dapat diabaikan
(Ngastiyah, 1997).
24
Menurut Suriadi, 2001, prosesnya meliputi: normalnya tulang
marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya
proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan
menimbulkan anemia dan trombositopenia, sistem retikuloendotelial akan
terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan
mudah mengalami infeksi, manifestasi akan tampak pada gambaran
gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan
pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan
berdampak pada penurunan leukosit, eritrosit, faktor pembekuan dan
peningkatan tekanan jaringan, dan adanya infiltrasi pada ekstra medular
akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri
persendian.
Leukimia adalah penyakit kanker jaringan yang menghasilkan
imatur atau abnormal dalam jumlah berlebihan dan menyusup ke dalam
berbagai organ tubuh. Sel-sel leukemik menyusup ke dalam sumsum
tulang, mengganti unsur-unsur sel yang normal. Akibatnya, timbul anemia
dan dihasilkan eritrosit dalam jumlah yang tidak mencukupi. Timbul
perdarahan akibat menurunnya jumlah trombosit yang bersirkulasi. Inflasi
juga terjadi lebih sering karena berkurangnya jumlah leukosit. Penyusupan
sel-sel leukemik ke dalam semua organ-organ vital menimbulkan
hepatomegali, splenomegali dan limfadenopati.
25
Timbul disfungsi sumsum tulang, menyebabkan turunnya jumlah
eritrosit, neutrofil dan trombosit. Sel-sel leukemik menyusupi limfonodus,
limfa, hati, tulang, dan SPP (Betz, 2002).
Di semua tipe leukimia, sel yang beproliferasi dapat menekan
produksi dan elemen di darah yang menyusup sumsum tulang dengan
berlomba-lomba untuk menghilangkan sel normal yang berfungsi sebagai
nutrisi untuk metabolisme. Tanda dan gejala dari leukimia merupakan
hasil dari infiltrasi sumsum tulang, dengan 3 manifestasi yaitu anemia dan
penurunan RBCs, infeksi dari neutropenia, dan pendarahan karena
produksi platelet yang menurun. Invasi sel leukimia yang berangsur-
angsur pada sumsum menimbulkan kelemahan pada tulang dan cenderung
terjadi fraktur, sehingga menimbullkan nyeri.
Ginjal, hati, dan kelenjar limfe mengalami pembesaran dan
akhirnya fibrosis, leukimia juga berpengaruh pada SSP dimana terjadi
peningkatan tekanan intra kranial sehingga menyebabkan nyeri pada
kepala, letargi, papil edema, penurunan kesadaran dan kaku duduk (Wong,
2000).

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia
adalah sebagai berikut : kepucatan akibat anemia, infeksi berulang akibat
penurunan sel darah putih, nyeri tulang akibat penumpukan sel-sel
sumsum tulang yang mengakibatkan peningkatan tekanan dan kematian
26
sel, limpadenopati, splenomegali,dan hepatomegali akibat infiltrasi sel
leukemik ke organ-organ limfosit tersebut, adanya penurunan BB akibat
berkurangnya nafsu makan dan peningkatan kalori oleh sel-sel neoplastik
(Price, 1999).
Tanda-tandanya meliputi : kelelahan, malaise, kelemahan otot,
palpitasi, takikardi, diare, nyeri tekan, feses hitam, penurunan haluaran
urin, perasaan tidak berdaya, menarik diri, takut, ansietas, anoreksia,
muntah, disfagia, disorientasi, parestesia, nyeri abnormal, nafas pendek,
gangguan penglihatan, pendarahan spontan, demam, infeksi, kemerahan,
purpura dan pembesaran pada nodus limfe (Mastriyani, 2007).

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam keperawatan penanganan yang dapat dilakukan
meliputi: meminimalkan prosedur invasive untuk mengurangi risiko
terjadi infeksi, menganjurkan kepada ibu untuk memberikan makanan
yang disukai dan tidak bertentangan dengan indikasi, menjaga
kebersihan mulut dengan menggosok gigi, menjelaskan secara singkat
akan pentingnya nutrisi untuk membantu proses penyembuhan
penyakit, menganjurkan pada keluarga untuk meningkatkan nutrisi
tinggi protein dan kalori, menganjurkan keluarga untuk menyediakan
lingkungan rumah yang baik, agar tidak terjadi cedera, menjelaskan
pada orang tua pentingnya menjaga kesehatan anak, karena pada
27
penyakit leukimia mudah terjadi infeksi. Di samping itu penting untuk
menjelaskan bahwa ALL merupakan penyakit kanker darah yang
disebabkan oleh virus dan membutuhkan kemoterapi untuk menekan
sel-sel kanker dalam tubuh, mengajarkan untuk menggunakan sikat
gigi dengan bulu halus untuk mencegah trauma
2. Penatalaksanaan Medis
Protokol pengobatan bervariasi sesuai jenis leukemia dan jenis
obat yang diberikan pada anak. Proses induksi remisi pada anak terdiri
dari tiga fase : induksi, konsolidasi, dan rumatan. Selama fase induksi
(kira-kira 3 sampai 6 minggu) anak menerima berbagai agens
kemoterapeutik untuk menimbulkan remisi. Periode intensif
diperpanjang 2 sampai 3 minggu selama fase konsolidasi untuk
memberantas keterlibatan sistem saraf pusat dan organ vital lain.
Terapi rumatan diberikan selama beberapa tahun setelah diagnosis
untuk memperpanjang remisi. Beberapa obat yang dipakai untuk
leukemia anak-anak adalah prednison (antiinflamasi), vinkristin
(antineoplastik), asparaginase (menurunkan kadar asparagin (asam
amino untuk pertumbuhan tumor), metotreksat (antimetabolit),
merkaptopurin, sitarabin (menginduksi remisi pada pasien dengan
leukemia granulositik akut), alopurinol, siklofosfamid (antitumor
kuat), dan daunorubisin (menghambat pembelahan sel selama
pengobatan leukemia akut) (Betz, 2002).

28
Pengobatan yang dilakukan antara lain :
1. Pelaksanaan Kemoterapi, ada 3 fase yaitu :
a. Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini
diberikan terapi kortikosteroid (prednison), vincristin, dan L
asparginase, dinyatakan berhasil jika tanda tanda penyakit
berkurang atau tidak ada dan dalam sumsum tulang ditemukan
jumlah sel muda kurang dari 5%.
b. Fase Profilasis SSP
Diberikan terapi methotrexate, cytarabine, dan hydrocotison
melalui intrathecal untuk mencegah invasi sel leukimia ke otak,
diberi apabila pasien mengalami gangguan SSP.
c. Konsolidasi
Kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan limesis
dan mengurangi sel-sel leukimia yang beredar dalam tubuh. Jika
terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan atau
dosis dikurangi (Arief, 2005).
2. Transfusi untuk mengatasi anemia
3. Pencangkokan sumsum tulang (Price, 1999)
4. Beberapa obatnya antara lain :
a. Prednison :untuk efek antiflamsi
b. Vinkristin (oncovin) :menghambat asparagin (asam amino
untuk pertumbuhan tumor).
29
c. Metotreksat (amethopterin) :menghalangi metabolisme asam
folat (untuk pembelahan sel)
d. Merkaptopurin (purinetol) :menghalangi sintesis asam nukleat
e. Sitarabin :supresan sumsum tulang, harus
diawasi
f. Alopurinol (zyloprim) :menghambat produksi asam yrat
g. Siklofosfamit (cytoxan)
h. Daunorubisin :menghambat pembelahan sel
(Betz, 2002)

H. Pengkajian Fokus
1. Demografi
a. Usia : terjadi pada anak berusia dibawah 15 tahun dengan
insidensi tertinggi pada umur 4 tahun
b. Jenis kelamin : laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan
c. Ras : pada kasus tertentu lebih banyak pada anak kulit
putih
d. Lingkungan : banyak terpapar pada zat radioaktif dan bahan
kimia
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat kelainan kromosom (sindrom down)
- Riwayat infeksi
30
b. Riwayat Penyakit Keluarga
- Faktor ras, keluarga dan genetika
3. Data fokus
a. Aktivitas
Kelelahan, malaise, kelemahan otot dan somnolen
b. Sirkulasi
Palpitasi, takhikardi, membran mukosa pucat
c. Eliminasi
Diare, nyeri tekan perianal, darah pada urin, penurunan haluan urin
dan feses hitam
d. Integritas Ego
Perasaan tidak berdaya, depresi, menarik diri, ansietas dan takut
e. Makanan / cairan
Anoreksia, muntah, BB turun, distensi abnormal, disfagia dan
perubahan rasa
f. Neurosensori
Disorientasi, pusing, parestesi dan kesemutan
g. Nyeri
Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri sendi dan kram otot
h. Pernafasan
Nafas pendek dengan kerja minimal, dypsnea, batuk, ronkhi dan
penurunan bunyi nafas

31
i. Keamanan
Pendarahan tak terkontrol, demam, purpura, pendarahan gusi,
pembesaran nodus limfe, limfa atau hati
j. Seksualitas
Perubahan libido, aliran menstruasi
4. Pemeriksaan fisik
a. Palpitasi, mukosa pucat
b. Penurunan BB
c. Penurunan bunyi usus
d. Splenomegali, hepatomegali
e. Penurunan kesadaran
f. Nyeri abdomen, nyeri sendi
g. Pendarahan spontan
h. Purpura, kemerahan
5. Pemeriksaan penunjang
a. Hitung darah lengkap
Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan
CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki
prognosis paling baik, jumlah leukosit lebih dari 50.000/mm3
adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
- Hemoglobin : kurang dari 10 gr/100ml
- Retikulosit : jumlah biasanya rendah
- Trombosit : <50.000/mm
32
- SDP : >50.000/cm dengan peningkatan SDP
immatur
b. PTT : memanjang
c. Asam urat serum : mungkin meningkat
d. Copper serum : meningkat
e. Zink serum : menurun
(Doengoes, 1999)
Pemeriksaan lainnya yaitu: pungsi lumbal untuk mengkaji
keterlibatan susunan saraf pusat, foto thoraks untuk mendeteksi
keterlibatan mediastinum, aspirasi sumsum tulang. ditemukannya
25% sel blast memperkuat diagnosis, pemindaian tulang atau
survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang, pemindaian
ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik, jumlah
trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan (Betz, 2002).
33
I. Pathways Keperawatan











Perlawanan
dari tubuh
hipertermi
kemoterapi
Efek terapi
mual
Anoreksia,
muntah
Resiko
perubahan
nutrisi :
kurang dari
kebutuhan
Keluaran
yang
berlebihan
Resiko
kekurangan
volume
Kompensasi
tubuh
alopesia stomatitis
Gg citra
tubuh
Perubahan
membran
mukosa
oral
Disfungsi sumsum tulang
Menurunkan
trombosit
Produksi platelet
menurun
trombositopenia
Resiko terjadi
pendarahan
Menurunkan
neutrofil
neutropenia
Menurunkan
sistem
pertahanan
tubuh sekunder
Resiko tinggi
infeksi
Menurunkan
eritrosit
eritropeni
Hb menurun
Suplai O2 dlm
darah menurun
anemia
Pucat
kelelahan
Menumpuk di
sumsum tulang
Infiltrasi ke
organ2 limfoid
pembesaran
Nyeri tulang
Gangguan rasa nyaman :
nyeri
Splenomegali,
hepatomegali,
limfadenopati
Sel
normal
kurang
nutrisi
Penurunan
BB
Peningkatan
laju
metabolik
malaise
Kelemahan
umum
Intoleransi
aktivitas
kelelahan
Peningkatan
konsumsi kalori
Sel neoplastik
cepat membelah
Sel-sel leukemik Perawatan di rumah
Kurang informasi
Kurang pengetahuan
ttg penyakit prognosis
dan perawatan
Faktor etiologi:
virus, abnormalitas kromosom, sinar
radioaktif & sinar-X, bahan kimia, infeksi
Leukosit immatur yg berlebihan

Menekan produksi elemen darah yg normal

leukimia
34
35
J. Fokus Intervensi dan Rasional
Menurut Wong, 2000, diagnosa pada anak dengan leukemia adalah :
1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan
tubuh
Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi, seperti peningkatan
suhu tubuh
Intervensi:
a. Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
b. Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber
infeksi
c. Anjurkan semua pengunjung dan staf rumah sakit untuk
menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
d. Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur
invasif
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan
resiko infeksi
e. Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya
infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan
masalah gigi
36
Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi
f. Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk
pertumbuhan organisme
g. Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi
seluler
h. Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh
i. Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional : sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan : Terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Kriteria Hasil : Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri
dengan bertahap
Intervensi:
a. Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dala aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
b. Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi
seluler atau penyambungan jaringan
37
c. Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang
diinginkan atau dibutuhkan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu
pemilihan intervensi
d. Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan
diri

3. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan
penurunan jumlah trombosit
Tujuan : Klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Kriteria Hasil : Hb normal, tidak ada penurunan energi
Intervensi :
a. Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya
pada daerah ekimosis
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan
adanya anemia
b. Cegah ulserasi oral dan rektal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
c. Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
d. Gunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
38
e. Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun,
denyut nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi
perdarahan
f. Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
g. Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol
perdarahan hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan

4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual
dan muntah
Tujuan :
- Tidak terjadi kekurangan volume cairan
- Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Kriteria Hasil : Muntah dapat teratasi, masukan cairan cukup
Intervensi :
a. Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
b. Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program
kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
c. Kaji respon anak terhadap antiemetik
39
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum
berhasil
d. Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan
muntah
e. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
f. Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional : untuk mempertahankan hidrasi

5. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan
dengan efek samping agen kemoterapi
Tujuan : Pasien tidak mengalami mukositis oral
Kriteria Hasil : Tidak ada stomatitis, membran mukosa lembab
Intervensi :
a. Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral
Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera
b. Hindari mengukur suhu oral
Rasional : untuk mencegah trauma
c. Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas,
atau jari yang dibalut kasa
Rasional : untuk menghindari trauma
40
d. Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal
atau tanpa larutan bikarbonat
Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan
e. Gunakan pelembab bibir
Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah
pecah-pecah (fisura)
f. Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat menekan
refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat
menyebabkan kejang
g. Berikan diet cair, lembut dan lunak
Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak
h. Inspeksi mulut setiap hari
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
i. Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Rasional : untuk membantu melewati area nyeri
j. Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu
magnesia
Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat
membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan
memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa
k. Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis
41
l. Berikan analgetik
Rasional : untuk mengendalikan nyeri

6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping
kemoterapi dan atau stomatitis
Tujuan : Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria Hasil : Tidak ada penurunan BB, nafsu makan baik, tidak
mengalami mual dan muntah
Intervensi :
a. Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat
langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
b. Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi,
rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera
makan anak meningkat
Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
c. Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu
bubuk atau suplemen yang dijual bebas
Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
d. Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan
makanan
Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan
42
e. Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan
baik
f. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga
cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat
memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan
kalori dan protein yang adekuat
g. Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein
kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang
dari normal

7. Gangguan rasa nyaman : nyeri yang berhubungan dengan efek
fisiologis dari leukemia, penekanan pada sumsum tulang
Tujuan : Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai
tingkat yang dapat diterima anak
Kriteria Hasil : Skala nyeri berkurang, ekspresi rileks
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi
kebutuhan atau keefektifan intervensi
43
b. Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan
suhu non invasif, alat akses vena)
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
c. Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran
dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu
pemberian atau obat
d. Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
e. Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri

8. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan
cepat pada penampilan.
Tujuan : Pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif
Kriteri Hasil : Rasa percaya diri klien meningkat
Intervensi :
a. Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa
gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok
Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian
rambut terhadap kerontokan rambut
b. Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada
sinar matahari, angin atau dingin
44
Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut
c. Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih,
pendek dan halus
Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial
d. Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan
dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda
Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap
perubahan penampilan rambut baru
e. Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis
kelamin , misalnya wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang
menarik
Rasional : untuk meningkatkan penampilan

9. Hipertermi berhubungan dengan efek dari pengobatan kemoterapi.
Tujuan : Suhu tubuh klien dapat normal
Kriteria Hasil : Suhu tubuh normal (36-37
o
C), klien tidak gelisah
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital
Rasional : mangobservasi kondisi klien, menentukan intervensi
uang sesuai
b. Beri kompres pada lipatan ketiak dan paha
45
Rasional : pada lipatan ketiak dan paha terdapat banyak
pembuluh darah sehingga dapat dengan cepat menurunkan suhu
tubuh
c. Anjurkan keluarga untuk menggunakan klien pakaian yang dapat
menyerap keringat
Rasional : mengeluarkan panas dari dalam tubuh
d. Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik
Rasional : menurunkan suhu tubuh dengan bantuan obat

10. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan perawatan
berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan : Keluarga dapat memahami tentang penyakit, prognosis, dan
perawatan anak dengan leukemia
Kriteria Hasil : Keluarga dapat menjelaskan ulang
Intervensi :
a. Jelaskan secara singkat akan pentingnya nutrisi untuk membantu
proses penyembuhan penyakit
Rasional : nutrisi yang baik dapat menjaga daya tahan tubuh
b. Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan nutrisi tinggi
protein dan kalori
Rasional : protein baik untuk menjaga kesehatan
c. Anjurkan keluarga untuk menyediakan lingkungan rumah yang
baik
46
Rasional : mengurangi risiko terjadi cedera dan trauma
d. Jelaskan pada orang tua pentingnya menjaga kesehatan anak,
karena pada penyakit leukimia mudah terjadi infeksi
Rasional : anak dengan leukimia mudah terserang penyakit
e. Jelaskan bahwa ALL merupakan penyakit kanker darah yang
disebabkan oleh virus dan membutukkan kemoterapi
Rasional : leukimia memelukan kemoterapi untuk menekan sel-
sel kanker