Anda di halaman 1dari 17

Tinjauan pustaka

1


Gangguan Afektif Bipolar Episode Kini Manik
Bernadina NS Lewowerang
102011303
Kelompok : C8
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
email : bernadinanovindra@ymail.com

PENDAHULUAN
Episode mania merupakan bagian dari gangguan suasana perasaan atau gangguan afektif/
Mood dimana kelainan fundamental dari kelompok ini berupa perubahan suasana perasaan
(mood) atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya),
atau kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat). Perubahan afek ini biasanya disertai
dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya
adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan
perubahan tersebut.
Mania merupakan status mental abnormal yang ditandai dengan euforia, disinhibisi
sosial, aliran pikiran yang cepat, susah tidur, berbicara terus menerus, mudah mengambil
resiko dan bersifat iritabilitas. Gangguan afektif dibedakan menurut episode tunggal atau
multipel, tingkat keparahan gejala (mania dengan gejala psikotik, hipomania, dan depresi
ringan, sedang, berat tanpa gejala psikotik hingga berat dengan gejala psikotik), dan menurut
dengan atau tanpa gejala somatik. Termasuk dalam kelompok ini hipomania, mania tanpa
gejala psikotik, dan mania dengan gejala psikotik. Jika ada episode afektif (depresi, manik,
atau hipomanik) sebelum atau sesudahnya, maka termasuk gangguan afektif bipolar.
1,2



Tinjauan pustaka

2

Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yang profesional dan optimal.
Hal-hal yang perlu diketahui seorang dokter dalam melakukan anamnesis pada pasien antara
lain:
1. Identitas pasien seperti nama, alamat, umur, dan pekerjaan.
2. Keluhan utama pasien, hal utama yang membuat pasien datang menemui dokter.
Dalam beberapa kasus yang berat ada kalanya kita tidak dapat menanyakan pada
pasien karena pasien telah dalam keadaan gangguan kejiwaan yang berat, untuk itu
kita juga dapat menanyakan hal ini kepada keluarganya (alloanamnesis).
3. Setelah itu tanyakan bagaimana penyakit itu bermula, bagaimana awal mula gangguan
kejiwaan itu terjadi, sejak kapan, dan bagaimana keberlangsungannya, ini bermakna
karena kebanyakan penyakit psikiatrik mengalami beberapa fase sebelum menjadi
semakin parah.
4. Riwayat penyakit terdahulu, apakah pasien pernah mengalami penyakit yang dapat
memicu terjadinya gangguan kejiwaan seperti demam tinggi, riwayat trauma kepala,
mengkonsumsi obat-obatan Parkinson, obat anti-hipertensi dan kotikosteroid dalam
jangka waktu lama.
5. Riwayat pribadi mencakup mengenai riwayat kelahiran pasien, apakah dia cukup
bulan atau tidak, proses dilahirkan melalui Caesar atau normal, dan apakah ada
masalah saat dia dalam kandungan. Jika pasien telah menikah, tanyakan mengenai
pernikahannya. Intinya pada segmen ini kita harus menggali mengenai pribadi pasien.
6. Riwayat keluarga, tanyakan apakah di dalam keluarganya ada yang mengalami
gangguan jiwa atau tidak.



Tinjauan pustaka

3

Wawancara Psikiatri
Wawancara psikitari merupakan komunikasi 2 arah terapis pada klien. Sebagai terapis hal-hal
yang harus diketahui yakni: tidak mengadili/menghakimi, bukan interogasi, bersikap empati,
memahami apa yang terjadi, menerima klien apa adanya, sikap berada di sampingnya, sikap
menunjukkan perhatian, kontak mata sikap hangat dan sentuhan fisik, mampu menjadi
pendengar yang baik, memberikan kesempatan berbicara kepada klien. Tujuannya untuk
mendapat diagnosis yang dapat tepat dan mengenai faktor-faktor seperti biologik-genetik,
tempramen, psikologik, perkembangan, pendidikan, dan sosial-budaya.
1

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan terdiri dari pemeriksaan status mental, status
neurologis, dan status internus.
Status Mental
Hal-hal yang harus diketahui saat pemeriksaan status mental pasien yakni:
1. Penampilan saat pasien datang, dari penampilan dapat memberikan ciri khas pada
beberapa penyakit psikiatrik, contohnya pada pasien mania biasanya mereka
berpakaian dan berdandan berlebihan tidak sesuai dengan tempatnya. Contohnya
mereka ke dokter seperti akan ke acara pernikahan.
2. Cara bicara, perhatikan pasien saat bicara. Biasanya pada pasien depresi mereka
cenderung tertutup dan kurang member informasi, sedangkan pada pasien mania,
mereka berbicara terus-menerus tiada henti.
3. Mood atau suasana hati.
4. Pikiran seperti bagaimana perhatian pasien, daya memorinya, apakah dia dapat
menentukan sikap, serta cara berbahasa.
5. Persepsi, tanyakan apakah pasien merasa ada yang berbisik, atau melihat sesuatu yang
tidak dilihat oleh dokter untuk mengetahui apakah pasien mengalami halusinasi.
6. Sensorium dimana pasien sering merasa kesemutan
Psikodinamik formulasi adalah mekanisme pertahanan yang dilakukan oleh pasien. Seperti
penolakan (deny), pada saat disalahkan dia akan menyalahkan orang lain, menggunakan
orang lain untuk mencapai tujuannya.
Tinjauan pustaka

4

Clinical Interview adalah cara yang dilakukan pemeriksa dalam menggali informasi
kepada pasien agar pasien mau bercerita kepada dokter dengan leluasa. Hal ini dapat dicapai
dengan menimbulkan kedekatan (rapport), kepercayaan (trust), penjaminan (reassurance),
dan memberikan respon emosional yang positif.
Status Neurologis
Meliputi pemeriksaan kesadaran, pemeriksaan pupil dan gerakan mata, pemeriksaan tanda
rangsang meningeal, pemeriksaan saraf cranial, pemeriksaan motorik (gerakan pasif dan
aktif), pemeriksaan refleks patologis (babinski dan klonus kaki), pemeriksaan koordinasi.
Status Internus
Meliputi pemeriksaan abdomen, thorax, jantung, agar dapat memastikan bahwa gangguan
mania tersebut tidak disebabkan oleh adanya akibat dari penyakit dalam (interna) yang
diderita pasien.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah uji psikologi, elektroensefalografi
(EEG), dan CT-scan.
Uji Psikologi
Tes psikologi bertujuan untuk mengetahui perbedaan kepribadian dan kemampuan tiap orang.
Pengertian tes psikologi adalah suatu ujian (test) untuk menguji mental dan dilakukan untuk
menyeleksi serta menetapkan psikis khusus individu.
Elektroensefalografi (EEG)
Elektro Ensefalo Grafi (EEG) adalah suatu alat yang mempelajari gambar dari rekaman
aktivitas listrik di otak, termasuk teknik perekaman EEG dan interpretasinya. Neuron-neuron
di korteks otak mengeluarkan gelombang-gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil
(mV), yang kemudian dialirkan ke mesin EEG untuk diamplifikasi sehingga terekamlah
elektroenselogram yang ukurannya cukup untuk dapat ditangkap oleh mata pembaca EEG
sebagai gelombang delta,alpha, beta, theta, gamma dsb. Saat terbaik perekaman adalah pada
saat bebas obat sehingga Gelombang Otak (Brainwave) yang didapat adalah Gelombang Otak
(Brainwave) yang bebas dari pengaruh obat. Lama perekaman minimal 15-20 menit pada
penderita sadar.
Tinjauan pustaka

5

CT-Scan
Computed Tomography Scanning (CT Scan) adalah suatu peralatan radiologi yang dapat
digunakan untuk menampilkan dan mengalokasikan suatu objek yang akan di diagnosis
keadaannya dengan cara menggunakan teknik pemeriksaan tomografi untuk menghasilkan
gambaran-gambaran objek yang berupa potongan-potongan tubuh secara axial dengan
menggunakan prinsip kerja tomografi yang dilengkapi sistem komputer sebagai media
pengolahan data-data software dan recontruksi gambar objek. Pada umumnya radiasi dari
sinar X yang dihasilkan dalam pemeriksaan CT Scan adalah aman dengan indikasi medis
yang sesuai.
2

Diagnosis Banding
Skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum
diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis atau deteriorating)
yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik,
fisik, dan sosial budaya.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karateristik dari
pikiran dan presepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul
(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.
Pedoman Diagnostik :
Harus ada sedikitnya satu dari gejala ini yang amat jelas:
a. - Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun
kualitasnya berbeda.
- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya atau pikirannya diambil keluar oleh suatu dari luar dirinya.
- Throught broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
mengetahuinya.
b. - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu kekuatan
tertentu dari luar
- delusion of influence = waham tentang dipengaruhi oleh suatu kekuatan dari luar
Tinjauan pustaka

6

- delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
sesuatu kekuatan tertentu dari luar
- delusional of perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
c halusinasi auditorik:
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien
- Mendiskusi perihal pasien diantara mereka sendiri
- Jenis suara yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d. Waham-waham menetap lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar
dan suatu yang mustahil.
Atau paling sedikit dua jenis gejala di bawah ini harus selalu ada:
e. halusinasi yang menetap dari panca indra apa saja, apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan efektif yang
jelas, ataupun disertai oleh ide-ide yang berlebihan yang menetap, atau apabila terjadi
setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan secara terus menerus.
f. arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi
atau berbicara yang tidak relevan atau neologis.
g. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah, posisi tubuh tertentu, atau
fleksibelitas cerea, negativisme, mutisme dan strupor.
h. gejala-gejala negatif. Seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri
pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas semua hal tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
Adanya gejala khas diatas telah berlangsung kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak
berlaku untuk fase nonpsikotik prodormal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten yang bermakna dalam mutu dari beberapa
aspek prilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tidak bertujuan,
tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial.
3





Tinjauan pustaka

7

Skizoafektif
Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu. Ditandai dengan gejala
kombinasi antara gejala skizofrenia dn gejala gangguan afektif. Beberapa data
menunjakan bahwa gangguan skizoafektif dan skizofrenia berhubungan secara
genetic. Prevalensi penyakit ini pada pria r\lebih rendah dari pada wanita. Pada usia
tua gangguan skizoafektif tipe depresi lebih sering sedangkan untuk usia muda lebih
sering gangguan skizoafektif tipe bipolar. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif
cenderung melakukan perilaku anti sosial.
Ada empat model konseptual dari gangguan ini:
1. gangguan skizoafektif merupakan suatu tipe dari skizofrenia atau suatu tipe dari
gangguan afektif.
2. gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama dari skizoafrenia dan
gangguan afektif.
3. Gangguan skizoafektif mungkin merupkan tipe psikosis yang berbeda dengan
skozofrenia maupun dengan gangguan afektif.
4. Gangguan skozoafektif adalah kelompok heterogen yang meliputi semua
kemungkinan tersebut diatas.
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuata apabila gejala-gejala definitif adanya
skizofrenia dan gangguan afektif bersama atau dalam beberapa hari sesudah yang lain,
dalam episode yang sama. Ada dua tipe skizoafektif:
1. Skizoafektif tipe manik, suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia
dan manik bersama-sama menonjol dalam satu episode penyakit yang sama.
Gejala afektif diataranya, elasi dan ide-ide kebesaran, tetpai kadang-kadang
kegelisahan atau iritabilitas disertaioleh perilaku agresid serta ide-ide kejaran.
Pada tipe ini juga terdapat peningkatan energi, aktivitas yang berlebihan,
konsentrasi terganggu dan hilangnya hanbatan normo sosial. Waham kebesaran,
waham kejaran mungkion ada. Selain gejala afektif ada juga gejala skizofrenia,
antara lain; merasa pikirannya disiarkan atau diganggu, ada kekutan yang sedang
berusaha mengendalikannya,mendengar suara yang beraneka ragam atau
menyatakan ide-ide bezare. Onset dari tipe inih biasanya akut, poerilku sangat
terganggu, namum penyembuhannya sempurna dalam beberapa minggu
Tinjauan pustaka

8


2. Skizoafektif tipe depresi, Pada episode yang sama terdapat gejala-gejala
skizofrenia maupun depresif yang sama-sama menonjol. Gejala depresi disini
ditandai dengan adanya perilaku yang retardasi, insomnia, hilangnya energi,
perubahan nafsu makan, kurang minat, gangguan konsentrasi, perasaan bersalah,
keputusasaan, dan ide-ide bunuh diri. Secara bersamaan dalam satu epsode
terdapat gejala2 skizofrenia yg khas antara lain : Merasa pikirannya sedang
disiarkan, atau diganggu, ada kekuatan2 yang mrngendalikan pikirannya. Pasien
yakin sedang di mata-matai, sedang diincar . Mendengar suara2 yang menghina,
mengutuk dirinya, atau akan membunuhnya. Bahkan seperti ada yang
mendiskusikan dirinya. Episode berlangsung lebih lama dari pada episode manik,
dan bisa sembuh sempurna. Namun ada sebagian yang akhirnya berkembang
menjadi defek skizofrenik.
Penatalaksanaannhya, apabila ada pikiran bunuh diri atau ide-ide membunuh
diindikasikan untuk dirawat inapkan dirumah sakit. Terapi dengan melibatkan
keluarga, pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif.
Pengobatan , digunakan kombinasi antipsikotik dengan anti depresan bila
memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. Apabila
gengguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi antara anti psokotik denga
mood stabilizer .
Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh menonjolnya gejala
skizofrenianya, atau gejala gangguan afektifnya. Semakin menonjol dan persisten
gejala skizofrenianya maka pronosis nya buruk. Dan sebaliknya semakin persisten
gejala-gejala gangguan afektifnya, prognosis diperkirakan akan lebih baik.
2
Etiologi
Faktor Biologi
Herediter
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya
episode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,
berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar memiliki satu orangtua dengan
gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika
seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko
Tinjauan pustaka

9

mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar
maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan
pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar berisiko menderita
gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak kembar sangat tinggi
terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah,
yakni 10-20%.
2

Genetik
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari
kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Yang menarik dari studi kromosom ini,
ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita gangguan
bipolar.
2

Neurotransmiter
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti
mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar.
Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen
yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang
mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-
Ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT).
2

Kelainan Otak
Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui
pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography
(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada
korteks prefrontal subgenual. Selain itu ditemukan volume yang kecil pada amygdala
dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala dan hipokampus merupakan bagian
dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).
2

Faktor Psikososial
Peristiwa Kehidupan dan Stres Lingkungan
Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa peristiwa
kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama
gangguan suasana perasaan daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah
dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I.
4

Tinjauan pustaka

10

Teori Kognitif
Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang
sering adalah melibatkan distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri yang
negatif, pesimisme, dan keputusasaan. Pandangan negatif yang dipelajari tersebut
selanjutnya menyebabkan perasaan depresi. Seorang ahli terapi kognitif berusaha
untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas perilaku, seperti
mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien.
4

Epidemiologi
Mania merupakan suatu gangguan afektif dengan persentasi 12 % dari seluruh gangguan
afektif. Onset rata-rata umur pada pasien dewasa dengan mania adalah 55 tahun dengan
perbandingan jumlah pria dan wanita 2 : 1. Prevalensi timbulnya mania sekitar 0,1%
pertahun.
5
Prevalensi terjadinya mania 0,1% terjadi di atas usia 65 tahun, 1,4% dapat terjadi
dalam kelompok usia 18-44 tahun.
2
Pemeriksaan dan penegakan diagnosis
Bila dokter menduga adanya gangguan bipolar, maka dokter biasanya akan mengajukan
beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik dan psikologis. Hal tersebut
diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menimbulkan
gejala seperti yang dikeluhkan oleh pasien, menemukan diagnose penyakit dan mendeteksi
adanya komplikasi. Beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah:
Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan berat badan
tinggi badan, suhu tubuh, tekanan darah dan detak nadi, mendengarkan jantung dan
paru paru serta memeriksa perut.
Pemeriksaan laboratorium. Dokter mungkin akan memerintahkan pemeriksaan darah
rutin, atau pemeriksaan fungsi kelenjar gondok bila ada indikasi kearah gangguan
fungsi kelenjar gondok.
Pemeriksaan psikologis. Untuk mengecek ada tidaknya depresi dan mania, dokter
atau tenaga kesehatan akan menanyakan tentang perasaan dan pikiran, dan pola
perilaku pasien. Dokter atau petugas akan mengajukan pertanyaan tentang gejala,
kapan mulainya, apakah pernah mengalami hal yang sama dulu. Dokter juga akan
menanyakan apakah ada pemikiran kearah menganiaya diri sendiri atau bunuh diri.
Tinjauan pustaka

11

Pasien mungkin akan diminta untuk mengisi kuestionnaire (daftar pertanyaan) untuk
membantu menentukan ada tidaknya depresi dan mania.
Mood charting. Untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi, dokter akan meminta
pasien untuk mencatat suasana hati (mood), pola tidur dan hal hal lain yang akan
mendukung diagnose dan pengobatan gangguan bipolar.
2

Kriteria diagnosa gangguan bipolar
American Psychiatric Association telah mengeluarkan kriteria untuk menegakkan diagnose
depresi yang tertuang dalam Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders (DSM).
Gangguan bipolar tipe I. Setidaknya mempunyai satu fase (episode) mania atau satu
episode campuran. Penderita bipolar mungkin mengalami depresi berat (major
depression) namun mungkin juga tidak karena gejala gangguan bipolar bervariasi
antara satu orang dengan lainnya. Ada beberapa sub-kategori tergantung tanda dan
gejalanya.
Gangguan bipolar tipe II. Setidaknya mempunyai satu fase (episode) depresi dan satu
episode hipomania (namun tidak mania penuh atau campuran/ mixed episode). Ada
beberapa sub-kategori tergantung tanda dan gejalanya.
Gangguan jiwa bipolar tipe II mempunyai gejala yang mengganggu atau membuat
sipenderita mengalami kesulitan dalam beberapa area kehidupannya, seperti dalam hal
kerja dan hubungan social.
Gangguan cyclothymic. Penderita mengalami beberapa episode hipomania dan
episode depresi, namun tidak pernah mengalami episode mania (full manic) atau
depresi berat (major depression) atau episode campuran. Diagnosa cyclothymic
disorder ditegakkan bila penyakit berlangsung selama 2 tahun atau lebih (setahun
pada anak anak dan remaja). Selama masa itu, gejala tidak pernah hilang setidaknya
selama 2 bulan. Gejala menimbulkan kesulitan atau gangguan dalam kehidupan yang
bersangkutan, misalnya dalam masalah sekolah atau hubungan social.
2

Kriteria episode mania:
Episode mania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan secara terus
menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan naik (elevated), meluas (expansive),
suasana hati yang mudah marah (irritable mood) yang berlangsung selama minimal 1 minggu
(atau kurang dari 1 minggu bila di rumah sakit). Dalam masa dimana terjadi gangguan
suasana hati tersebut, setidaknya ada 3 atau lebih gejala harus ada (4 gejala harus ada bila
hanya irritable mood):
Tinjauan pustaka

12

Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or
grandiosity)
Menurunnya kebutuhan untuk tidur (misalnya hanya perlu tidur 3 jam
sehari)
Terlalu banyak bicara
Pikiran yang berkejaran
Distractibility (mudah terganggu)
Meningkatnya kegiatan untuk mencapai suatu tujuan (bisa di sekolah,
kerja, social atau seksual)
Melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi yang
menyakitkan, misalnya menghamburkan uang, hubungan seksual atau
investasi bisnis yang bodoh.
2

Mania pada remaja
Mania pada remaja sering salah di diagnosa sebagai gangguan kepribadian antisosial
atau skozofrenia. Gejala mania pada remaja dapat mencakup psikosis, penyalahgunaan
alkohol atau zat lain, upaya bunuh diri, masalak akademik, pemikiran folosofih, gejala
gangguan obsesif-komplusif, berbagai keluhan somatik, iritabilitas sehingga menimbulkann
perkelahian , dan perilaku antisosial lainnya.
2
Pemeriksaan Status Mental
Episode Manik
Gambaran umum, pasien manik tereksitasi ,banyak bicar, kadang menghibur, dan
seringnya hiperaktif.
Mood, afek, dan perasaan. Pasien manik biasanya euforik, tapi mereka mungkin juga
iritabel,khususnya ketika muncul mania. Pasien ini juga memiliki toleransi rendah
untuk frustasi, yang dapat mengarahkan ke rasa marah dan bermusuhan. Pasien manik
dapat labil secara emosi, berganti dari tertawa ke iritabilitas ke depresi dalam
hitungan menit atau jam.
Pembicaraan. Pasien manik tidak suka di sela ketika sedang berbicara. Orang-orang
disekitar pasien mania sering terganggu. Ketika mania menjadi intens, pembicaraan
menjadi semakin keras, semakin cepat, dan sulit diartikan, kemudian diisi dengan
lelucoan, sjak, bermain dengan kata-kata, serta tidak relevan jika keadaan mania
semakin meningkat.
Tinjauan pustaka

13

Gangguan persepsi. Waham timbul pada 75% pasien manik. Waham manik yang
kongruen mood sering berkenaan dengan kemakmuran, kemampuan yang luar biasa,
atau kekuatan. Waham bizar dan tidak kongruen mood dan halusinasi juga terjadi
pada mania.
Pikiran. Isi pikir pasien mania mencakup tema kepercayaan diri dan membesarkan
diri. Pasien manik sering mudah teralih pikirannya, dan fungsi kognitif pada keadaan
mnaikditandai dengan arus gagasan yang tidak tertahan di percepat.
Kendali implus. Sekitar 75% pasien mnaik bersifat menyerang atau mengancam.
Pasien mnaik berupaya bunuh diri dan membunuh, tetapi insiden perilaku ini tidak
diketahui.
2,5

Manifestasi Klinik
Biasanya paling sedikit berlangsung selama satu minggu hampir setiap hari, afeknya
meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung (iritabel) atau membumbung tinggi (ekspresif)
dan terdapat hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala
berupa: penurunan kemampuan bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
2-4

Tampilan umum : Bersemangat, banyak bicara, melawak, hiperaktif. Ada kalanya
mereka memperlihatkan gejala psikotik dan bingung sehingga perlu difiksasi dan diberikan
suntikan antipsikotik.
Alam perasaan, emosi : Perasaannya hiperthym, mudah tersinggung, tidak mudah
frustrasi, mudah marah dan menyerang. Emosinya tidak stabil, bisa cepat berubah dan
gembira ke depresi dalam beberapa menit saja.
Cara bicara: Bicaranya sukar dipotong, bombastis, volumenya keras, bermain dengan
kata-kata, bercanda, berpantun, dan tidak relevan. Selanjutnya bisa terjadi loncat gagasan,
asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa inkoheren sehingga sukar dibedakan
dengan pasien skizofrenia.
Gangguan persepsi: 75 % pasien mania mengalami waham, yang biasanya
berhubungan dengan kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau kehebatan yang
luar biasa. Kadang-kadang ada waham dan halusinasi yang kacau dan tidak serasi.
Gangguan pikiran: Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang berlebihan,
merasa hebat. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat produktif dan tidak
terkendalikan.
Tinjauan pustaka

14

Gangguan sensorium dan fungsi kognitif: Ada sedikit gangguan pada fungsi
sensorium dan kognitif, terkadang jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan meskipun tidak
ada gangguan orientasi dan daya ingat.
Gangguan pengendalian diri: Sekitar 75 % pasien mania suka mengancam dan
menyerang. Ada juga yang melakukan homicide dan suicide. Mereka sukar menahan diri
untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan kalau sedang tersinggung atau marah.
Tilikan: Pada umumnya pasien mania mengalami gangguan tilikan. Mereka mudah
melanggar hukum, pelanggaran dibidang seksual dan keuangan, kadang-kadang mereka
menyebabkan kebangkrutan ekonomi keluarga.
Reliabilitas: Pasien mania sering berbohong ketika memberikan informasi, karena
berdusta dan menipu adalah biasa untuk mereka.
2
Terapi
Terapi farmakologis.
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita.
Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan
gangguan tidur. Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan untuk episode manik akut
dan sebagai mood stabilizer. Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan untuk episode
depresi akut (contoh, depresi berat). Selanjutnya, terapi pemeliharaan/maintenance dan
pencegahan juga harus diberikan.
2,6

Tabel 1. FDA-Approved Bipolar Treatment Regimens
Nama Generik Nama
Dagang
Manik Mixed Maintenance Depresi
Valproate Depakote X
Carbamazepine extended
release
Equestro X X
Lamotrigine Lamictal X
Lithium X X
Aripiprazole Abilify X X X
Ziprasidone Geodon X X
Risperidone Risperdal X X
Tinjauan pustaka

15

Quetiapine Seroquel X X
Chlorpromazine Thorazine X
Olanzapine Zyprexa X X X
Olanzapine/fluoxetine
Combination
Symbyax X
Terapi Non Farmakologi
Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila penderita
tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet
khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena
peningkatan asupan garam membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan
efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan
menyebabkan toksisitas.
Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik.
Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler
merupakan kunci untuk bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan
dengan peningkatan respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan
toksisitas litium.
Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan lanjutan. Tujuan
edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga
dan sistem disekitarnya. Fakta menunjukkan edukasi tidak hanya meningkatkan ketahanan
dan pengetahuan mereka tentang penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
Prognosis
Rata-rata durasi episode mania adalah sekitar 2 bulan. Dengan 95% sembuh sempurna. 4%
mania dapat berulang, intervalnya tidak teratur dan tidak dapat diramalkan, tetapi dengan
peningkatan jumlah serangan, maka waktu interval cenderung berkurang. Prognosis
diperkirakan baik bila episodenya ringan, tidak ada gejala psikotik, dan tinggal di RS dalam
Tinjauan pustaka

16

waktu yang singkat. Gambaran prognostik yang memuaskan dan indikator respon yang baik
terhadap terapi fisik mencakup gejala endogen yang khas, misalnya mulainya mendadak,
kepribadian premorbidnya stabil tanpa sifat neurotik dan sebaliknya gambaran prognostik
menjadi buruk jika ada depersonalisasi, sifat bawaan histori dan gejala atipik lainnya.
2

KESIMPULAN
Episode mania merupakan suatu episode meningkatnya afek seseorang yang jelas, abnormal,
menetap, ekspansif, dan iritabel. Gejala mania meliputi cara berbicara yang cepat, berpikir
cepat, kebutuhan tidur berkurang, perasaan senang atau bahagia, dan peningkatan minat pada
suatu tujuan. Selain itu, tampak sifat mudah marah, mengamuk, sensitive, hiperaktif, dan
waham kebesaran.
Penderita biasanya merasa senang, tetapi juga bisa mudah tersinggung, senang
bertengkar atau memusuhi secara terang-terangan. Yang khas adalah bahwa penderita yakin
dirinya baik-baik saja. Kurangnya pengertian akan keadaannya sendiri disertai dengan
aktivitas yang sangat luar biasa, bisa menyebabkan penderita tidak sabar, mengacau, suka
mencampuri urusan orang lain dan jika kesal akan lekas marah dan menyerang.
Dasar umum untuk gangguan ini tidak ketahui. Penyebabnya merupakan interaksi
antara faktor biologis, faktor genetik dan faktor psikososial. Bukan hanya tidak mungkin
untuk menyingkirkan faktor psikososial, namun faktor nongenetik mungkin memainkan
peranan kausatif dalam perkembangan gangguan ini pada sekurangnya beberapa pasien.









Tinjauan pustaka

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Oegondo S. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: Pusat Penerbit
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2005.h.35-7.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.2010.h.170, 189-212.
3. Nurmiati A. Skizofrenia pada Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:Badan Penerbit FK
UI;2010.h.170-196.
4. Ingram, Timbury, Mowbray, Editor Peter A.Catatan kuliah psikiatri. Edisi ke-6.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2002.h.94-9.
5. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ III, pedoman diagnostik
F30-39 : gangguan suasana perasaan/mood (gangguan afektif). Jakarta, Bagian Ilmu
Kedokteran jiwa FK Unika Atmajaya.2001.h.58-69.
6. Olson J. Clinical pharmacology. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004.h.44-
7.