Anda di halaman 1dari 23

Al Rahn (Gadai) Menurut Hukum Islam

A. Pengertian, Sifat, Landasan, Rukun dan Unsur-unsurnya


1. Pengertian Rahn (gadai)
Secara etimologi rahn berarti (tetap dan lama) yakni tetap atau berarti
(pengekangan dan keharusan), sedangkan menurut terminologi syara’ rahn
berarti :
Artinya : “Penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat
dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut”.

Rahn dalam bahasa Arab memiliki pengertian tetap dan kontinyu. Dikatakan
dalam bahasa Arab: (‫ن‬
ُ ‫ ) الَماُء الّراِه‬apabila tidak mengalir dan kata (‫)ِنْعَمٌة َراِهَنٌة‬
bermakna nikmat yang tidak putus. Ada yang menyatakan kata Rahn
bermakna tertahan dengan dasar firman Allah :

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas apa yang telah


diperbuatnya” (QS. 74:38) kata Rahienah bermakna tertahan. Pengertian
kedua ini hampir sama dengan yang pertama karena yang tertahan itu tetap
ditempatnya. Ibnu Faaris menyatakan: Huruf Raa, Haa’ dan Nun adalah asal
kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau
tidak. Dari kata ini adalah kata Al Rahn yaitu sesuatu yang digadaikan.
Adapun definisi Rahn dalam istilah Syari’at, dijelaskan para ulama dengan
ungkapan : menjadikan harta benda sebagai jaminan hutang untuk dilunasi
dengan jaminan tersebut ketika tidak mampu melunasinya, Atau harta benda
yang dijadikan jaminan hutang untuk dilunasi (hutang tersebut) dari nilai
barang jaminan tersebut apabila tidak mampu melunasinya dari orang yang
berhutang. memberikan harta sebagai jaminan hutang agar digunakan
sebagai pelunasan hutang dengan harta atau nilai harta tersebut bila pihak
berhutang tidak mampu melunasinya.
Sedangkan Syeikh Al Basaam mendefinisikan, Al Rahn sebagai jaminan
hutang dengan barang yang memungkinkan pelunasan hutang dengan
barang tersebut atau dari nilai barang tersebut apabila orang yang berhutang
tidak mampu melunasinya.
Ulama fiqh berbeda pendapat dalam mendefinidikan rahn (gadai) :
a. Menurut ulama Syafi’iyah :

“Menjadikan suatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan


pembayar ketika berhalangan dalam membayar utang”.
b. Menurut ulama Hanabilah :

“Harta yang dijadikan jaminan utang sebagai pembayar harga (nilai) utang
ketika yang berutang berhalangan (tak mampu) membayar utangnya kepada
pemberi pinjaman”.
2. Sifat Rahn (gadai)
Secara umum rahn (gadai) dikategorikan sebagai akad yang bersifat derma
sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai
(murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murtahin kepada
rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang digadaikan.

Rahn juga termasuk akad ainiyah, yaitu dikatakan sempurna sesudah


menyerahkan benda yang dijadikan akad, seperti hibah, pinjam-meminjam,
titipan dan qirad. Semua termasuk akad tabarru (derma) yang dikatakan
sempurna setelah memegang (al-qabdu), sesuai kaidah (tidak sempurna
tabarru, kecuali setelah pemegangan).

3. Landasan Rahn (gadai)


Rahn (gadai) disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah :
a. Al-Qur’an

“Apabila kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai),


sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang”. (QS. Al-Baqarah : 283)

b. As-Sunah

“Dari Siti Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW, pernah membeli makanan
dengan menggadaikan baju besi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Rukun dan Unsur-unsurnya


Menurut ulama Hanafiyah rukun rahn (gadai) adalah ijab dan qabul dari
rahin dan murtahin, sebagaimana pada akad yang lain. Akan tetapi akad
dalam rahn (gadai) tidak akan sempurna sebelum adanya penyerahan
barang.

Adapun menurut ulama selain Hanafiyah, rukun rahn (gadai) adalah shighat,
aqid (orang yang akad), marhun, dan marhun bih.
Rahn memiliki empat unsur : rahin, murtahin, marhun dan marhun bih.

B. Syarat, Hukum dan Dampaknya


1. Syarat rahn
Disyaratkan dalam Al Rahn sebagai berikut :
1. syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi)
yaitu Orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki
kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan
mengatur).
2. Syarat yang berhubungan dengan Al Marhun (barang gadai) ada tiga :
a. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya
baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya.
b. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau
yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai.
c. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya, karena
Al rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini.
3 Syarat berhubungan dengan Al Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang
wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.

Mengenai penerimaan barang yang digadaikan, pada garis besarnya


disepakati sebagai syarat gadai, berdasarkan firman Allah :

“Sedang kamu tidak mendapat seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh orang berpiutang)”. (QS. Al-Baqarah :
283)

Bagi fuqaha yang menganggap penguasaan sebagai syarat sahnya gadai,


akan berpendapat bahwa selama balum terjadi penguasaan akad gadai itu
tidak mengikat orang yang menggadaikan. Sebaliknya, bagi fuqaha yang
menganggapnya sebagai syarat kelengkapan akan berpendapat bahwa
dengan adanya kelengkapan akad gadai itu sudah mengikat dan orang yang
menggadaikan dipaksa untuk menyerahkan barang. Kecuali jika penerima
gadai menangguhkan permintaan penyerahan barang, sehingga orang yang
menggadaikan mengalami kebangkrutan, sakit atau meninggal.
2.Hukum Rahn
Sistem hutang piutang dengan gadai ini diperbolehkan dan disyariatkan
dengan dasar Al Qur’an, Sunnah dan ijma’ kaum muslimin.
Dalil Al Qur’an adalah firman Allah:

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang". Akan tetapi jika
sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia
bertaqwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi)
menyembunyikan persaksian. Dan siapa yang menyembunyikannya, maka
sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mengetahui
apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:283). Dalam ayat ini walaupun ada
pernyataan ‘dalam perjalanan’ namun tetap menunjukkan keumumannya,
baik dalam perjalanan atau dalam keadaan mukim, karena kata ‘dalam
perjalanan’ dalam ayat hanya menunjukkan keadaan yang biasa
membutuhkan sistem ini.

Hal inipun dipertegas dengan amalan Rasululloh yang melakukan


pergadaian sebagaimana dikisahkan umul mukminin A’isyah dalam
pernyataan beliau:
‫حِديٍد‬
َ ‫ن‬
ْ ‫عا ِم‬
ً ‫ل َوَرَهَنُه ِدْر‬
ٍ‫ج‬َ ‫ي ِإَلى َأ‬
ّ ‫ن َيُهوِد‬
ْ ‫طَعاًما ِم‬
َ ‫شَتَرى‬
ْ ‫سّلَم ا‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫صّلى ا‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫َأ‬
Sesungguhnya Nabi SAW membeli dari seorang yahudi bahan makanan
dengan cara hutang dan menggadaikan baju besinya. (HR Al Bukhori no
2513 dan Muslim no. 1603).
Demikian juga para ulama bersepakat menyatakan pensyariatan Al Rahn ini
dalam keadaan safar (perjalanan) dan masih berselisih kebolehannya dalam
keadaan tidak safar. Imam Al Qurthubi menyatakan: Tidak ada seorangpun
yang melarang Al Rahn pada keadaan tidak safat kecuali Mujaahid, Al
Dhohak dan Daud (Al Dzohiri). Demikian juga Ibnu Hazm.

Ibnu Qudamah menyatakan: Diperbolehkan Al rahn dalam keadaan tidak


safar (menetap) sebagaimana diperbolehkan dalam keadaan safar
(bepergian). Ibnul Mundzir menyatakan: Kami tidak mengetahui
seorangpun yang menyelisihi hal ini kecuali Mujahid, ia menyatakan: Al
Rahn tidak ada kecuali dalam keadaan safar, karena Allah berfirman:

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)”.

Namun benar dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama dengan
adanya perbuatan Rasululloh SAW diatas dan sabda beliau:
ُ ‫عَلى اّلِذي َيْرَك‬
‫ب‬ َ ‫ن َمْرُهوًنا َو‬
َ ‫ب ِبَنَفَقِتِه ِإَذا َكا‬
ُ ‫شَر‬
ْ ‫ن الّدّر ُي‬
ُ ‫ن َمْرُهوًنا َوَلَب‬
َ ‫ب ِبَنَفَقِتِه ِإَذا َكا‬
ُ ‫ن ُيْرَك‬
ُ ‫الّرْه‬
‫ب الّنَفَقُة‬
ُ ‫شَر‬
ْ ‫َوَي‬
“Al Rahn (Gadai) ditunggangi dengan sebab nafkahnya, apabila digadaikan
dan susu hewan menyusui diminum dengan sebab nafkah apabila
digadaikan dan wajib bagi menungganginya dan meminumnya nafkah. (HR
Al Bukhori no. 2512). Pendapat ini dirojihkan Ibnu Qudamah, Al Hafidz
Ibnu Hajar dan Muhammad Al Amien Al Singqithi
Setelah jelas pensyariatan Al Rahn dalam keadaan safar (perjalanan),
apakah hukumnya wajib dalam safar dan mukim atau tidak wajib pada
keseluruhannya atau wajib dalam keadaan safar saja? Para ulama berselisih
dalam dua pendapat : Tidak wajib baik dalam perjalanan atau mukim. Inilah
pendapat Madzhab imam empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan
Hambaliyah.
Berkata Ibnu Qudamah: Al Rahn tidak wajib, kami tidak mengetahui orang
yang menyelisihinya, karena ia adalah jaminan atas hutang sehingga tidak
wajib seperti Dhimaan (jaminan pertanggung jawaban).

Dalil pendapat ini adalah dalil-dalil ang menunjukkan pensyariatan Al rahn


dalam keadaan mukim diatas yang tidak menunjukkan adanya perintah
sehingga menunjukkan tidak wajibnya.

Demikian juga karena Al rahn adalah jaminan hutang sehingga tidak wajib
seperti Al Dhimaan (Jaminan oertanggungjawaban) dan Al Kitabah
(penulisan perjanjian hutang) dan juga karena ini ada ketika sulit melakukan
penulisan perjanjian hutang. Bila Al Kitaabah tidak wajib maka demikian
juga penggantinya.

Wajib dalam keadaan safar. Inilah pendapat Ibnu Hazm dan yang
menyepakatinya. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah:

‫مقبوﻀة ﻓرهان ﻻتبا تﺠدوا ولم ﺴفر عاى ﻜنتم وان‬


“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)”.

Mereka menyatakan bahawa kalimat (maka hendaklah ada barang


tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang)) adalah berita bermakna
perintah. Juga dengan sabda Rasululloh SAW :
ٍ ‫شْر‬
‫ط‬ َ ‫ن ِماَئَة‬
َ ‫ن َكا‬
ْ ‫ل َوِإ‬
ٌ‫ط‬ِ ‫ل َﻓُهَو َبا‬
ِّ ‫ب ا‬
ِ ‫س ِﻓي كَِتا‬
َ ‫ط َلْي‬
ٍ ‫شْر‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ُك‬
“Semua syarat yang tidak ada dikitabullah maka ia bathil walaupun seratus
syarat”. (HR Al Bukhori).
Mereka menyatakan: Pensyaratan Al Rahn dalam keadaan safar ada dalam
Al Qur’an dan diperintahkan, sehingga wajib mengamalkannya dan tidak
ada pensyaratannya dalam keadaan mukim sehingga ia tertolak.

Pendapat ini dibantah bahwa perintah dalam ayat tersebut bermaksud


bimbingan bukan kewajiban. Ini jelas ditunjukkan dalam firman Allah
setelahnya:

“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka
hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) (QS.
2:283). Demikian juga pada asalnya dalam transaksi mu’amalah adalah
kebolehan (mubah) hingga ada larangannya dan disini tidak ada
larangannya.

3.Dampaknya
Jika akad rahn telah sempurna, yakni rahin menyerahkan borg kepada
murtahin , maka terjadilah beberapa dampak yaitu :

a. Adanya utang untuk rahi

b. Hak untuk menguasai borg


Menurut ulama Hanafiyah, keberlangsungan akad pada rahn bergantung
pada borg yang dipegang murtahin, sedangkan menurut ulama Syafi’iyah
penguasaan borg semata-mata sebagai penolong untuk membayar utang
rahin.

c. Menjaga barang gadaian


Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa murtahin harus menjaga borg
sebagaimana menjaga barang miliknya, jika rusak atas kelalaian murtahin,
ia harus bertanggungjawab untuk memperbaiki atau menggantinya.

d. Pembiayaan atas borg


Ulama Hanafiyah sepakat bahwa rahin berkewajiban membiayai atau
mengurus rahin, menurut ulama Hanabilah, Syafi’iyah, dan Malikiyah
berpendapat bahwa rahin bertanggungjawab atas pembiayaan borg.

e. Pemanfaatan Rahn
Jumhur ulama selain Syafi’iyah melarang rahin untuk memanfaatkan borg,
ulama Syafi’iyah membolehkannya sejauh tidak memadaratkan murtahin.
Fuqaha lain berpendapat, apabila barng gadai itu berupa hewan, maka
penerima gadai boleh mengambil air susu dan menungganginya dalam kadar
yang seimbang dengan makanan dan biaya yang diberikan kepadanya.

C. Tujuan dan Hikmah


Setiap orang berbeda-beda keadaannya, ada yang kaya dan ada yang miskin,
padahal harta sangat dicintai setiap jiwa. Lalu terkadang seorang disatu
waktu sangat butuh kepada uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhannya
yang mendesak dan tidak mendapatkan orang yang bersedekah kepadanya
atau yang meminjamkan uang kapadanya, juga tidak ada penjamin yang
menjaminnya. Hingga ia mendatangi orang lain membeli barang yang
dibutuhkannya dengan hutang yang disepakati kedua belah pihak atau
meminjam darinya dengan ketentuan memberikan jaminan gadai yang
disimpan pada pihak pemberi hutang hingga ia melunasi hutangnya.

Oleh karena itu Allah mensyariatkan Al Rahn (gadai) untuk kemaslahatan


orang yang menggadaikan (Raahin), pemberi hutangan (Murtahin) dan
masyarakat. Untuk Rahin ia mendapatkan keuntungan dapat menutupi
kebutuhannya. Ini tentunya bisa menyelamatkannya dari krisis dan
menghilangkan kegundahan dihatinya serta kadang ia bisa berdagang
dengan modal tersebut lalu menjadi sebab ia menjadi kaya. Sedangkan
Murtahin (pihak pemberi hutang) akan menjadi tenang dan merasa aman
atas haknya dan mendapatkan keuntungan syar’i dan bila ia berniat baik
maka mendapatkan pahala dari Allah.

Adapun kemaslahatan yang kembali kepada masyarakat adalah memperluas


interaksi perdagangan dan saling memberikan kecintaan dan kasih sayang
diantara manusia, karena ini termasuk tolong menolong dalam kebaikan dan
takwa. Disana ada manfaat menjadi solusi dalam krisis, memperkecil
permusuhan dan melapangkan penguasa.

DAFTAR FUSTAKA

Syafei, Rachmat, 2006, Fiqh Muamalah, Bandung : Pustaka Setia, Cet. 3,


Hal. 159
Syamhudi, Kholid, www.ustadzkholid.com, Tgl. 27-12-08, Pkl. 15 : 30
Rusyid, Ibnu, 2007, Bidayatul Mujtahid, Jakarta : Pustaka Asmani, Jilid. 3,
Hal. 197
Mushthafa Al-Maraghi, Ahmad, 1987, Tafsir Al-Maraghi, Semarang :
CV.Tohaputra, Jilid. 3, Hal. 121-123
Report
KAFALAH, JAMINAN DALAM KONSEP FIKIH DAN

APLIKASINYA DALAM PERBANKAN SYARIAH

Oleh: Isa Anshori

Abstrak:
Sebagai salah satu bentuk aktifitas ekonomi, kafalah atau
jaminan menjadi hal yang amat sering dilakukan oleh masyarakat
dalam berbagai transaksi ekonomi demi memenuhi kebutuhan.
Dalam Islam, kafalah, selain dilakukan oleh masyarakat secara
’urf, juga dapat ditemukan dasar-dasarnya secara syar’iyah
sebagaimana ditemukan aktifitas kafalah yang direkam dan
dijustifikasi oleh al-Qur’an, al-Hadis, dan juga telah menjadi ijma
ulama’.
Seiring perkembangan zaman, kafalah pun mengalami
perkembangan dan modifikasi sebagaimana terlihat dalam aktifitas
ekonomi modern bersangkut paut dengan penerapannya dalam
masyarakat secara langsung maupun melalui dunia perbankan
dalam rangka memenuhi kebutuhan dengan tetap berada dalam
bingkai syari’ah.

Pendahuluan

Dalam dunia usaha, modal merupakan sesuatu yang penting. Modal


tersebut dapat bersifat material, atau immaterial (skill, trust, dan
sebagainya). Untuk memenuhi kebutuhan modal, seorang pengusaha bisa
menggunakan modal sendiri atau meminjam kepada pihak lain seperti bank.
Untuk melakukan pinjaman tersebut biasanya diperlukan beberapa syarat, di
antaranya kelayakan usaha, adanya kepercayaan (track record), dan adanya
jaminan.

Berkaitan dengan jaminan ini, dapat dibedakan dalam jaminan


perorangan (personal guarantie) dan jaminan kebendaan. Jaminan
perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang dengan
seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si
berutang (debitor). Ia bahkan dapat diadakan di luar atau tanpa pengetahuan
si berutang tersebut. Sedangkan jaminan kebendaan dapat diadakan antara
kreditor dengan debitornya, tetapi juga dapat diadakan antara kreditor
dengan seorang ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si
berutang (debitor). Soal jaminan, sebagaimana tersebut di atas, di dalam
ajaran Islam dikenal dengan konsep kafalah yang termasuk juga di dalam
jenis dhamman (tanggungan).
Pembahasan

A. Pengertian

Secara etimologis, kafalah berarti al-dhamma, artinya


“menggabungkan”, yakni menggabungkan dua tanggung jawab dalam
suatu hal. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imran (3):
37 yaitu “Allah menjadikan Zakaria sebagai penjaminnya (Maryam)”.
Di samping itu, kafalah berarti hamalah (beban) dan Za’amah
(tanggungan). Di sebut dhamman apabila penjaminan itu dikaitkan
dengan harta, hamalah apabila dikaitkan dengan diyat (denda dalam
hukum qishash), za 'amah jika berkaitan dengan harta (barang modal), dan
kafalah apabila penjaminan itu dikaitkan dengan jiwa.

Secara terminologi, sebagaimana yang dinyatakan para ulama fikih


selain Hanafi, bahwa kafalah adalah, "menggabungkan dua tanggungan
dalam permintaan dan hutang.” Definisi lain adalah, "jaminan yang
diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi
kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (mukful ‘anhu ashil)”

Di dalam Kamus Istilah Fikih, kafalah diartikan menanggung atau


penanggungan terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian
dari seseorang di mana padanya ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang
lain, dan berserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab
terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang).

Pada asalnya, kafalah adalah padanan dari dhamman, yang berarti


penjaminan sebagaimana tersebut di atas. Namun dalam perkembangannya,
situasi telah rnengubah pengertian ini. Kafalah identik dengan kafalah al-wajhi
(personal guarantee, jaminan diri), sedangkan dhamman identik dengan
jaminan yang berbentuk harta secara mutlak.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kafalah


adalah jaminan dari penjamin (pihak ketiga), baik berupa jaminan diri
maupun harta kepada pihak kedua sehubungan dengan adanya hak dan
kewajiban pihak kedua tersebut kepada pihak lain (pihak pertama).
Konsep ini agak berbeda dengan konsep rahn yang juga bermakna barang
jaminan, namun barang jaminannya dari orang yang berhutang. Ulama
madzhab fikih membolehkan kedua jenis kafalah tersebut, baik diri maupun
barang.

Di dalam perundang-undangan Mesir misalnya, kafalah diartikan


sebagai menggabungkan tanggung jawab orang yang berhutang dan orang
yang menjamin. Misalnya, ada seseorang akan mengajukan kredit kepada
bank, kemudian ada orang kedua yang bertindak dan turut menjamin hutang
seseorang tersebut. Ini berarti bahwa hutang tersebut menjadi tanggung jawab
orang pertama dan juga orang kedua.

Semakna dengan itu, KUH Perdata Pasal 1820 menyebutkan, bahwa


penanggungan adalah ”suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga,
guna kepentingan si berpiutang, mengikatkan diri untuk memenuhi
perikatannya si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya.”

B. Landasan Syari'ah

Dasar hukum untuk akad kafalah ini dapat dilihat di dalam al-Qur'an, al-
Sunnah dan kesepakatan para ulama, sebagai berikut:

1. Al-Qur'an

Dalam al-Qur’an surat Yusuf (12): 66, Nabi Ya'kub berkata:


"Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama
kamu, sebelum kamu memberikun kepadaku janji yang teguh atas
nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kembali
kepadaku..."

Selanjutnya pada ayat 72 surat yang sama Allah SWT.


berfirman: "Penyeru-penyeru itu berkata "Kami kehilangan piala
raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh
bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin
terhadapnya."

2. Al-Sunnah

Jabir r.a. menceritakan: “Seorang laki-laki telah meninggal


dunia dan kami telah memandikannya dengan bersih kemudian kami
kafani, lalu kami bawa kepada Rasulullah SAW. Kami bertanya
kepada beliau: "Apakah Rasulullah akan menshalatkannnya?".
Rasulullah bertanya: “Apakah ia mempunyai hutang?". Kami
menjuwab: "Ya, dua dinar." Rasulullah kemudian pergi dari situ.
Berkatalah Abu Qatadah : "Dua dinar itu tanggung jawabku."
Karenanya, Rasulullah SAW. bersabda: "Sesungguhnya Allah telah
menunaikan hak orang yang memberi hutang dan si mayit akan
terlepas dari tanggung jawabnya." Rasulullah lalu menshalatkannya.
Pada keesokan harinya beliau bertanya kepada Abu Qatadah tentang
dua dinar itu dan
dijelaskan, bahwa ia telah melunasinya. Rasulullah SAW. bersabda:
"Sekarang kulitnya telah sejuk." (H.R. Bukhari).
Rasulullah SAW. bersabda: "Hutang itu harus ditunaikan, dan
orang yang menanggung itu harus membayarnya." (H.R. Abu Daud
dan Tirmidzi dan dishakhihkan oleh Ibnu Hibban).

3. Ijma' ulama

Para ulama madzhab membolehkan akad kafalah ini. Orang-


orang Islam pada masa Nubuwwah mempraktekkan hal ini bahkan
sampai saat ini, tanpa ada sanggahan dari seorang ulama-pun.
Kebolehan akad kafalah dalam Islam juga didasarkan pada
kebutuhkan manusia dan sekaligus untuk menegaskan madharat bagi
orang-orang yang berhutang .

C. Rukun Dan Syarat Kafalah

Adapun rukun kafalah sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa


lileratur fikih terdiri atas:

1. Pihak penjamin/penanggung (kafil), dengan syarat baligh (dewasa),


berakal sehat, berhak penuh melakukan tindakan hukum dalam urusan
hartanya, dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.
2. Pihak yang berhutang (makful 'anhu 'ashil), dengan syarat sanggup
menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin dan dikenal oleh
penjamin.|
3. Pihak yang berpiutang (makful lahu), dengan syarat diketahui identitasnya,
dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa, dan berakal sehat.
4. Obyek jaminan (makful bih), merupakan tanggungan pihak/orang yang
berhutang (ashil), baik berupa uang, benda, maupun pekerjaan, bisa
dilaksanakan oleh pejamin, harus merupakan piutang mengikat (luzim)
yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan, harus
jelas nilai, jumlah, dan spesifikasinya, tidak bertentangan dengan syari'ah
(diharamkan).

D. Macam-macam Orang Yang Dapat Ditanggung

Mengenai siapa orang-orang yang dapat ditanggung, para ulama fikih


menyatakan, bahwa pada dasarnya setiap orang dapat menerima
jaminan/tanggungan tersebut. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai
orang yang sudah wafat (mati) yang tidak meninggalkan harta warisan.
Menurut pendapat Imam Malik dan Syafi'i, hal yang demikian boleh
ditanggung. Alasannya adalah dengan berpedoman pada Hadis tersebut di
atas tentang ketidaksediaan Nabi SAW. menshalatkan jenazah karena
meninggalkan sejumlah hutang. Sedangkan Imam Hanafi menyatakan tidak
boleh, dengan alasan bahwa tanggungan tersebut tidak berkaitan sama
sekali dengan orang yang tidak ada. Berbeda halnya dengan orang yang pailit.

Jumhur fuqaha' juga berpendapat tentang bolehnya memberikan


tanggungan kepada orang yang dipenjara atau orang yang sedang dalam
keadaan musafir. Tetapi Imam Abu Hanifah tidak membolehkannya

E. Masa Tanggungan

Masa tanggungan dengan harta, yakni masa penuntutan kepada


penanggung adalah dimulai sejak tetapnya hak atas orang yang
ditanggung, baik berdasarkan pengakuannya maupun saksi, demikian
pendapat fuqaha'.

Kemudian fuqaha' bersilang pendapat tentang masa wajibnya


tanggungan dengan badan, apakah tanggungan tersebut menjadi wajib
sebelum tetapnya hak atau tidak?. Segolongan fuqaha' berpendapat, bahwa
tanggungan itu tidak menjadi wajib sebelum tetapnya hak. Pandangan ini
dipegangi oleh golongan Imam Malik, Syuraih al-Qadhi dan al-Sya'bi.
Segolongan lainnya berpendapat, bahwa untuk menetapkan hak tersebut
harus ada konfirmasi dengan pihak penanggung (dengan badan) dan ia
memang bersedia menjadi penanggung.

Selanjutnya, kapan pengambilan hak itu terjadi atau kapankah


pengambilan hak itu menjadi wajib, dan sampai kapan waktunya?, Sebagian
fuqaha' berpendapat bahwa apabila debitur dapat menyampaikan bukti-bukti
yang kuat atau saksi misalnya, maka ia harus memberikan penanggung
(dengan badan), sehingga terlihat haknya. Jika tidak demikian, maka
tidak ada keharusan memberi penanggung. Apabila ia ingin juga
mengambil penanggung dengan berupaya menghadirkan saksi, maka ia
diberikan tempo selama 5 (lima) hari kerja untuk maksud tersebut, yakni
masa penanggung memberikan tanggungan. Ini pendapat Ibn al-Qashim dari
kalangan madzhab Maliki.

Fuqaha' Irak berpandangan, bahwa tidak dapat diambil


penanggung atas debitur sebelum tetapnya hak. Sependapat dengan Ibn al-
Qashim, mereka memberikan waktu hanya 3 (tiga) hari. la menambahkan,
bahwa tidak boleh diambil penanggung atas seseorang kecuali dengan
adanya saksi. Dengan demikian akan tampak jelas pengakuannya itu benar
atau tidak benar.

Apabila keadilan antara kedua belah pihak dalam masalah ini akan
ditegakkan, maka keberadaan saksi mutlak diperlukan, baik kesaksian atas
beban (hutang) debitur maupun kesaksian atas diambilnya tanggungan oleh
pihak penanggung. Ini memudahkan pihak Kreditur dalam melakukan
tindakan-tindakan ke depan, apabila diperlukan.
F. Kewajiban Penanggung

Apabila orang yang ditanggung tersebut bepergian jauh atau


"menghilang", bagaimanakah tanggung jawab orang yang menanggung?.
Dalam hal ini ada tiga pendapat, sebagai berikut:

Penanggung wajib mendatangkan (menemukan) orang yang


ditanggung, atau mengganti kerugian. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam
Malik beserta pengikutnya dan fuqaha' Madinah. Bahwa penanggung
dipenjarakan, sehingga orang yang ditanggung telah datang, atau kalau dia
wafat, telah diketahui kewafatannya. Ini pandangan Imam Abu Hanifah
dan fuqaha' Irak.

Bahwa penanggung tidak terkena kewajiban apapun termasuk


dipenjarakan, kecuali ia harus mencarinya/mendatangkannya, jika ia
mengetahui tempatnya. Ini pendapat Abu ‘Ubaid al-Qasim. Pendapat Imam
Malik yang mengatakan, bahwa penanggung harus menanggung kerugian atas
orang yang ditanggung apabila ia pergi, didasarkan pada Hadis
Ibnu 'Abbas r.a. sebagai berikut: "Sesungguhnya seorang laki-laki meminta
kepada debiturnya agar memberikan hartanya kepadanya, lalu ia
memberikan penanggung kepadanya, tetapi ia tidak mampu, sehingga
orang tersebut mengadukannya kepada Nabi SAW. Maka Rasulullah
SAW. pun menanggungnya, kemudian debitur memberikan harta
kepadanya. "

Mereka mengatakan, bahwa Hadis ini menunjukkan adanya


penggantian kerugian secara mutlak. Berbeda dengan fuqaha' Irak yang
berpandangan bahwa, penanggung hanya berkewajiban menghadirkan apa
yang ditanggungnya, yakni orang (yang ditanggungnya). Karenanya,
penanggungan tersebut tidak harus menyertakan harta, kecuali apabila
penanggungan tersebut memang disyaratkan demikian atas dirinya.

Selanjutnya, Imam Malik berpendapat bahwa, apabila seseorang


mensyaratkan tanggungan (badan) tanpa harta, sedangkan iapun menjelaskan
syarat tersebut, maka harta tersebut tidak wajib atasnya. Karena apabila
harta tersebut menjadi beban kewajibannya, berarti ia melakukan perbuatan
yang melawan apa-apa yang disyaratkannya itu.

Berbeda dengan tanggungan harta, fuqaha' telah sepakat bahwa, apabila


orang yang ditanggung tersebut meninggal atau pergi, maka penanggung
harus mengganti kerugian.

Tentang pandangan yang membolehkan kreditur menuntut


penanggung, baik yang ditanggung itu bepergian atau tidak, kaya atau
miskin, maka mereka beralasan dengan Hadis Qubaishah Ibn al-Makhariqi
r.a. sebagai berikut: "Aku membawa satu tanggungan, maka aku
mendatangi Nabi SAW. kemudian aku bertanya kepada beliau tentang
(tanggungan itu). Maka beliau bersabada: "Kami akan mengeluarkan
tanggungan itu atas namamu dari onta sedekah. Hai Qubaishah!
sesungguhnya perkara ini tidak halal, kecuali pada tiga hal". Kemudian
beliau menyebutkan tentang seorang laki-laki yang membawa suatu
tanggungan dari laki-laki lain, sehingga ia melunasinya ".

Hadis tersebut di atas memberikan petunjuk bahwa, Nabi SAW.


membolehkan penuntutan terhadap penanggung, tanpa
mempertimbangkan kondisi orang yang ditanggung.

G. Obyek Tanggungan

Mengenai obyek tanggungan, menurut sebagian besar ulama fikih,


adalah harta. Hal ini didasarkan kepada Hadis Nabi SAW: “Penanggung itu
menanggung kerugian.” Sehubungan dengan kewajiban yang harus dipenuhi
oleh penanggung adalah berupa harta, maka hal ini dikategorikan menjadi
tiga hal, sebagai berikut:

1. Tanggungan dengan hutang, yaitu kewajiban membayar hutang yang


menjadi tanggungan orang lain. Dalam masalah tanggungan hutang,
disyaratkan bahwa hendaknya, nilai barang tersebut tetap pada waktu
terjadinya transaksi tanggungan/jaminan dan bahwa barangnya diketahui,
karena apabila tidak diketahui, maka dikhawatirkan akan terjadi gharar.
2. Tanggungan dengan materi, yaitu kewajiban menyerahkan materi
tertentu yang berada di tangan orang lain. Jika berbentuk bukan
jaminan seperti 'ariyah (pinjaman) atau wadi 'ah (titipan), maka kafalah
tidak sah.
3. Kafalah dengan harta, yaitu jaminan yang diberikan oleh seorang penjual
kepada pembeli karena adanya risiko yang mungkin timbul dari
barang yang dijual- belikan.

H. Macam-macam Kafalah

M. Syafi'i Antonio memberikan penjelasan tentang pembagian kafalah


sebagai berikut:

1. Kafalah bi al-mal, adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan


utang. Bentuk kafalah ini merupakan sarana yang paling luas bagi bank
untuk memberikan jaminan kepada para nasabahnya dengan
imbalan/fee tertentu.
2. Kafalah bi al-nafs, adalah jaminan diri dari si penjamin. Dalam hal ini,
bank dapat bertindak sebagai Juridical Personality yang dapat
memberikan jaminan untuk tujuan tertentu.

3. Kafalah bi al-taslim, adalah jaminan yang diberikan untuk menjamin


pengembalian barang sewaan pada saat masa sewanya berakhir. Jenis
pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh bank untuk keperluan
nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan, leasing
company. Jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa
deposito/tabungan, dan pihak bank diperbolehkan memungut uang
jasa/fee kepada nasabah tersebut.

4. Kafalah al-munjazah, adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh waktu


tertentu dan untuk tujuan/kepentingan tertentu. Dalam dunia perbankan,
kafalah model ini dikenal dengan bentuk performance bond
(jaminan prestasi).

5. Kafalah al-mu’allaqah, Bentuk kafalah ini merupakan penyederhanaan


dari kafalah al-munjazah, di mana jaminan dibatasi oleh kurun waktu
tertentu dan tujuan tertentu pula.

I. Upah Atas Jasa Kafalah

Adiwarman A. Karim memberikan keterangan tentang upah atas jasa


kafalah ini yang ia kemukakan dengan mengawali sebuah pertanyaan:
"Bolehkah si pejamin mengambil upah atas jasanya itu?" Kemudian ia
menjelaskan bahwa, ulama kontemporer, seperti Mustafa Abdullah al-
Hamsyari yang mengutip pendapat Imam Syafi'i, berpadangan bahwa
pemberian uang (fee) kepada orang yang ditugaskan untuk mengadukan
suatu masalah kepada raja tidak dapat dianggap sebagai uang sogok
(riswah), tetapi dianggap sebagai upah (ju'alah), dan hukumnya sebagai
ganjaran lelah atau biaya perjalanannya. Ulama lain, Abdu al-Sai' al-
Misri mengatakan, bahwa seorang penanggung/penjamin haruslah
mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya sebagai penjamin.
Pendapat ini membuka peluang dimasukkannya pertimbangan besarnya
risiko yang dipikul oleh si penjamin dalam memperhitungkan upahnya.

J. Akibat-akibat Hukum Kafalah

Apabila orang yang ditanggung tidak ada (pergi atau menghilang),


maka kafil berkewajiban menjamin sepenuhnya. Dan ia tidak dapat
keluar dari kafalah, kecuali dengan jalan memenuhi hutang yang menjadi
beban 'ashil (orang yang ditanggung). Atau dengan jalan, bahwa orang
memberikan pinjaman (hutang) -dalam hal ini bank- menyatakan bebas
untuk kafil, atau ia mengundurkan diri dari kafalah. la berhak mengundurkan
diri, karena memang itu haknya.

Adapun yang menjadi hak orang/bank (sebagai makful lahu)


menfasakh akad kafalah dari pihaknya. Karena hak menfasakh ini adalah hak
makful lahu. Dalam hal orang yang ditanggung melarikan diri, sedangkan ia
tidak mengetahui tempatnya, maka si penanggung tidak wajib
mendatangkannya, tetapi apabila ia mengetahui tempatnya, maka ia wajib
mendatangkannya, dan si penanggung diberikan waktu yang cukup untuk
keperluan tersebut.

K. Penerapan Kafalah Dalam Perbankan

Sebagaimana dimaklumi, bahwa kafalah (bank garansi) adalah jaminan


yang diberikan bank atas permintaan nasabah untuk memenuhi kewajibannya
kepada pihak lain apabila nasabah yang bersangkutan tidak memenuhi
kewajibannya.

Di samping itu, jaminan (penanggungan) tersebut bisa bersifat


kebendaan, seperti hak tanggungan dan jaminan fiducia serta jaminan
perorangan (personal guarantee). Jaminan perorangan (termasuk di
dalamnya badan hukum = company guarantee) dalam praktek perbankan
diberikan dalam bentuk bank garansi, sebagaimana diatur dalam SE Dir BI
nomor: 23/7/UKU, tanggal 18 Maret 1991.'

Bank garansi yang diterbitkan suatu bank merupakan. pernyataan


tertulis untuk mengikatkan diri kepada penerima jaminan apabila di
kemudian hari pihak terjamin tidak memenuhi kewajibannya kepada
penerima jaminan sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah
ditentukan. Oleh karena itu, di dalam mekanisme bank garansi terdapat
tiga pihak yang terkait, yaitu bank sebagai penjamin, nasabah sebagai
terjamin atas permintaannya, dan penerima jaminan.

Bank dalam pemberian garansi ini, bisaanya meminta setoran jaminan


sejumlah tertentu (sebagian atau seluruhnya) dari total nilai obyek yang
dijaminkan. Di samping itu, bank memungut biaya sebagai ju'alah dan biaya
administrasi.

Secara umum, aplikasi kafalah dalam sistem perbankan syari'ah dapat


digambarkan dalam skema sebagai berikut :
Penutup

Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebaga


berikut:

a. Kafalah adalah salah satu fasilitas perbankan syari'ah yang merupakan


jaminan dari si penjamin, baik berupa jaminan diri maupun barang untuk
membebaskan kewajiban yang ditanggung pihak lain.
b. Kebolehan kafalah sebagai salah satu produk perbankan syari'ah didasarkan
pada nash al-Qur'an al-Karim, Hadis-Hadis Rasulullah SAW., dan beberapa
pendapat jumhur fuqaha' sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan
di atas, termasuk fatwa Dewan Syari'ah Nasional (DSN).
c. Kafil mempunyai kewajiban secara mutlak yang disebabkan penyertaan
dirinya dalam akad kafalah ini.
d. Hak fasakh adalah berada pada makful lahu (bank), sejauh ia mau
mempergunakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujieb, M., et. al., Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994

Al-Khusaini, Taqiyyudin Abi Bakar, Kifayah al-Akhyar,


Terjemahan, Surabaya: Bina Iman, 1995

Al-Qur'an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI.

Antonio, Muhammad Syafi’i, Sistem dan Prosedur Operational Bank


Sayri'ah, Yogyakarta: UII Press, 2000

................................, Bank Syari'ah: Teori dan Praktek, Jakarta: Gema Insani,


Jakarta, 2001. Asyur, Ahmad Isa, Al-Fikih al-Muyassar, Dar al Fikr, Beirut,
Libanon, 1995

Himpunan Fatwa-fatwa Dewan Syari'ah Nasional, BI DSN, Jakarta: 2001


Karim, Adiwarman, Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta:
Gema Insani Press, 2000

Rusyd, Ibn, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Beirut, Libanon: Dar


al Fikr, t.th.

Sabiq, Sayid, Fikih al-Sunnah, Beirut, Libanon: Dar al Fikr, 1992

Siamat, Dahlan, Lembaga Manajemen Keuangan, Edisi III, Jakarta: FE UI, 2001

Subekti, R, dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,


Jakarta: Pradnya Paramita, 1978
Surat Edaran BI, nomor : 23/7/UKU, tanggal 18 Maret 1991.
Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Beirut, Libanon: Dar al-Fikr,
1989

I. PENGERTIAN
Kata Hawalah, huruf haa’ dibaca fathah atau kadang-kadang dibaca
kasrah, berasal dari kata tahwil yang berarti intiqal (pemindahan) atau dari
kata ha’aul (perubahan). Orang Arab biasa mengatakan haala ’anil ’ahdi,
yaitu berlepas diri dari tanggung jawab. Sedang menurut fuqaha, para pakar
fiqih, hawalah adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang
lain.[1]
Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang
kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi
perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam
istilah ulama, hiwalah adalah pemindahan beban hutang dari muhil (orang
yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih (orang yang
berkewajiban membayar hutang).

II. DASAR HUKUM HIWALAH


Islam membenarkan hiwalah dan membolehkannya karena ia
diperlukan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu


adalah suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan
hak penagihan piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu,
terimalah” (HR. Bukhari).

Pada hadis ini, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang


menghutangkan, jika orang yang berhutang meng-hiwalah-kan kepada
orang yang kaya dan berkemampuan, hendaklah ia menerima hiwalah
tersebut dan hendaklah ia mengikuti (menagih) kepada orang yang di-
hiwalah-kan (muhal ‘alaih), dengan demikian haknya dapat terpenuhi
(dibayar).

Dan Menurut hadist riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali


perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang
haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali
syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

Dan menurut Ijma para Ulama, akad hiwalah telah disepakati boleh
untuk dilakukan. Hal ini didasari kepada kaidah fiqh:

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada


dalil yang mengharamkannya.”

III. RUKUN DAN SYARAT-SYARAT DALAM HIWALAH


Dalam hal ini, rukun akad hiwalah adalah muhil, yakni orang yang
berhutang dan sekaligus berpiutang, muhal , yakni orang berpiutang kepada
muhil. Dan muhal ‘alaih, yakni orang yang berhutang kepada muhil dan
wajib membayar hutang kepada muhal, muhal bih 1, yakni hutang muhil
kepada muhal, dan juga muhal bih 2 sebagai hutang muhal alaih kepada
muhil dan rukun terakhir adalah sighat (ijab-qabul),
Untuk sahnya hiwalah disyaratkan hal-hal berikut: pertama, relanya
pihak muhil dan muhal tanpa muhal ‘alaih berdasarkan dalil kepada hadis di
atas. Rasulullah SAW telah menyebutkan kedua belah pihak, karenanya
muhil yang berhutang berkewajiban membayar hutang dari arah mana saja
yang sesuai dengan keinginannya. Dan karena muhal mempunyai hak yang
ada pada tanggungan muhil, maka tidak mungkin terjadi perpindahan tanpa
kerelaannya.
Kedua, samanya kedua hak, baik jenis maupun kadarnya,
penyelesaian, tempo waktu, serta mutu baik dan buruk. Maka tidak sah
hiwalah apabila hutang berbentuk emas dan di-hiwalah-kan agar ia
mengambil perak sebagai penggantinya. Demikian pula jika sekiranya
hutang itu sekarang dan di-hiwalah-kan untuk dibayar kemudian
(ditangguhkan) atau sebaliknya. Dan tidak sah pula hiwalah yang mutu baik
dan buruknya berbeda atau salah satunya lebih banyak.
Ketiga, stabilnya hutang. Jika peng-hiwalah-an itu kepada pegawai
yang gajinya belum lagi dibayar, maka hiwalah tidak sah. Keempat, kedua
hak tersebut diketahui dengan jelas. Apabila hiwalah berjalan sah, dengan
sendirinya tanggungan muhil menjadi gugur. Andaikata muhal ‘alaih
mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia, muhal tidak boleh lagi
kembali kepada muhil. Demikianlah menurut pendapat jumhur
(kebanyakan) ulama.
Berikut adalah proses dalam akad Hiwalah berdasarkan definisinya:

IV. BERAKHIRNYA HIWALAH


Apabila kontrak hiwalah telah terjadi, maka tanggungan muhil
menjadi gugur. Jika muhal’alaih bangkrut (pailit) atau meninggal dunia,
maka menurut pendapat Jumhur Ulama, muhal tidak boleh lagi kembali
menagih hutang itu kepada muhil. Menurut Imam Maliki, jika muhil
“menipu” muhal, di mana ia menghiwalahkan kepada orang yang tidak
memiliki apa-apa (fakir), maka muhal boleh kembali lagi menagih hutang
kepada muhil.

V. FATWA MUI HIWALAH


Seiring dengan berkembangnya institusi keuangan Islam di
Indonesia, maka suatu aturan hukum turut pula dikembangkan untuk
melegalisasi serta melindungi akad-akad yang sesuai Syari’ah Islam
diterapkan dalam Sistem Keuangan Islam di Indonesia. Maka dari itu,
Dewan Syari’ah Nasional – Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan
fatwa No: 12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah disebutkan bahwa
pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk
menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).

VI. JENIS-JENIS HIWALAH


Akad Hiwalah, dalam praktiknya dapat dibedakan ke dalam dua
kelompok. Yang pertama adalah berdasarkan jenis pemindahannya. Dan
yang kedua adalah berdasarkan rukun Hiwalahnya. Kelompok pertama yang
berdasarkan jenis pemindahannya, terdiri dari dua jenis Hiwalah, yaitu
Hiwalah Dayn dan Hiwalah Haqq. Hiwalah Dayn adalah pemindahan
kewajiban melunasi hutang kepada orang lain. Sedangkan Hiwalah Haqq
adalah pemindahan kewajiban piutang kepada orang lain.[1]
Hiwalah Dayn dan Haqq sesungguhnya sama saja, tergantung dari
sisi mana melihatnya. Disebut Hiwalah Dayn jika kita memandangnya
sebagai pengalihan hutang, sedangkan sebutan Haqq, jika kita
memandangnya sebagai pengalihan piutang. Berdasarkan definisi ini, maka
anjak piutang (factoring) yang terdapat pada praktik perbankan, termasuk ke
dalam kelompok Hiwalah Haqq, bukan Hiwalah Dayn.
Kelompok kedua yaitu Hiwalah yang berdasarkan rukun Hiwalah,
terdiri dari Hiwalah Muqayyadah dan Hiwalah Muthlaqah. Hiwalah
Muqayyadah adalah Hiwalah yang terjadi dimana orang yang berhutang,
memindahkan hutangnya kepada Muhal Alaih, dengan mengaitkannya pada
hutang Muhal alaih padanya. Maka dalam rukun Hiwalah, terdapat Muhal
bih 2.
Hiwalah Muthlaqah adalah Hiwalah dimana orang yang berhutang,
memindahkan hutangnya kepada Muhal alaih, tanpa mengaitkannya pada
hutang Muhal alaih padanya, karena memang hutang muhal alaih tidak
pernah ada padanya. Dengan demikian, Hiwalah Muthlaqah ini sesuai
dengan konsep anjak piutang pada praktik Perbankan, dimana tidak ada
hutang muhal alaih kepadanya sehingga didalam rukun hiwalahnya, tidak
terdapat Muhal bih 2.

VII. APLIKASI HIWALAH DALAM INSTITUSI KEUANGAN


Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk
membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan
produksinya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang.
Untuk mengantisipasi resiko kerugian yang akan timbul, bank perlu
melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berutang dan kebenaran
transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berutang.
Katakanlah seorang supplier bahan bangunan menjual barangnya kepada
pemilik proyek yang akan dibayar dua bulan kemudian. Karena kebutuhan
supplier akan likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih
piutangnya. Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.[2]
Proses penagihan hutangnya dapat dilihat dalam flowchart berikut:

Saat ini, akad hiwalah juga dapat diaplikasikan di Lembaga


Keuangan Syari’ah, seperti anjak piutang maupun debt transfer. BMT BIF
Gedongkuning sebagai salah satu Lembaga Keuangan Syari’ah juga
menggunakan akad hiwalah sebagai salah satu produk pembiayaan. Akad
hiwalah digunakan jika anggota mengajukan pinjaman untuk keperluan
membayar biaya Rumah Sakit, sekolah atau membayar hutang anggota di
pihak lain yang hampir jatuh tempo. Dalam pelaksanaan akad hiwalah
tersebut, BMT BIF Gedongkuning mengenakan fee.
Namun, dalam prakteknya di BMT BIF Gedongkuning hanya
dilakukan oleh dua pihak yaitu pihak BMT BIF dan pihak anggota, sehingga
jika dilihat, praktek tersebut hampir sama dengan akad al-Qard (hutang
piutang).
Setelah melakukan penelitian di BMT BIF Gedongkuning
Yogyakarta tentang praktek hiwalah, dapat diambil kesimpulan antara lain:
dari segi subyek, akad hiwalah di BMT BIF Gedongkuning adalah sah.
Dimana anggota sebagai muhil, pihak lain (Rumah Sakit, sekolah atau
person) adalah muhal, BMT BIF Gedongkuning adalah muhal ‘alaih. Dari
segi sigah, tidak sah karena salah satu dari tiga pihak tidak mengetahui
adanya akad hiwalah.[2]
Dengan melihat berbagai transaksi modern saat ini yang
menggunakan akad Hiwalah, ditemukan bahwa telah terjadi perubahan
model dalam proses akad Hiwalah. Dimana pada model klasik berdasarkan
definisi, Muhil menjadi hilang tanggung jawab hutangnya karena muhal
’alaih yang meneruskan hutang muhil kepada Muhal karena Muhal ’alaih
telah memiliki hutang kepada muhil sebelumnya.
Namun dalam model modern saat ini, Muhil masih
bertanggungjawab terhadap hutangnya. Hanya pihak piutangnya saja yang
berpindah dari muhal ke muhal ’alaih. Dengan membandingkan Gambar 3
dan Gambar 1, kita bisa melihat perbedaanya.
Kemudian contoh yang lain adalah dalam praktek Credit Card,
istilah yang pas (sesuai) adalah hiwalah haqq, karena terjadi perpindahan
menuntut tagihan (piutang) dari nasabah kepada bank oleh merchant.
Contoh ini pun sama dengan contoh BMT, dimana dari segi sigah, transaksi
ini tidak sah dikarenakan salah satu dari tiga pihak tidak mengetahui adanya
akad

VIII. KESIMPULAN
Akad hiwalah telah dapat diterapkan dalam Institusi Keuangan Islam
di Indonesia. Fatwa untuk akad ini telah dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah
Nasional – Majelis Ulama Indonesia NO: 12/DSN-MUI/IV/2000. Hal ini
akan mendukung perkembangan produk-produk keuangan Islam dengan
akad Hiwalah, yang mana akan mendukung pula perkembangan perbankan
dan investasi Syariah di Indonesia.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Agustianto. Hiwalah/Hawalah. Presentasi Universitas Indonesia, IEF
Trisakti, dan Universitas Paramadina. Jakarta. 2008

Dewan Syariah Nasional, Fatwa tentang Hawalah, No.12 /DSN-


MUI/IV/2000, Majelis Ulama Indonesia

Fatimah, Siti. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Hiwalah di BMT


Bina Ihsanul Fikri (BIF) Gedongkuning Yogyakarta. Thesis UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2008.

Karim Adiwarman A. Bank Islam, Analisis Fiqh dan Keuangan.


RajaGrafindo Persada. 2006

http://alislamu.com/index (akses tanggal 6 Desember 2008)

http://www.pkes.org/file/publication/ (akses tanggal 6 Desember 2008)

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/8246 (akses
tanggal 6 Desember 2008)