Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH SEMINAR UMUM

PEMANFAATAN BLOTONG PADA BUDIDAYA TEBU


(Saccharum officinarum L.) DI LAHAN KERING







Disusun oleh :
HELENA LEOVICI
09/281768/PN/11591
Program Studi : Agronomi
Hari/Tanggal Presentasi : Rabu/19 Desember 2012

Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc.


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
HALAMAN PENGESAHAN

PEMANFAATAN BLOTONG PADA BUDIDAYA TEBU
(Saccharum officinarum L.) DI LAHAN KERING

Disusun oleh:
Nama : Helena Leovici
NIM : 09/281768/PN/11591

Makalah Seminar ini telah disahkan dan disetujui sebagai kelengkapan mata kuliah
pada semester I tahun ajaran 2012/2013 di Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Menyetujui: Tanda Tangan Tanggal
Dosen Pembimbing


Prof. Dr. Ir. Tohari, M.Sc. ..

Mengetahui :
Komisi Seminar
Jurusan Budidaya Pertanian


Ir. Sri Muhartini, M.S. ..

Mengetahui :
Ketua Jurusan
Budidaya Pertanian


Dr. Ir. Taryono, M. Sc. .. .


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN PENGESAHAN i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
INTISARI 1

I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2

II. GAMBARAN UMUM TANAMAN TEBU 3
A. Asal dan Penyebaran Tanaman Tebu 3
B. Klasifikasi dan Ciri Morfologi Tanaman Tebu 4
C. Syarat Tumbuh Tanaman Tebu 5

III. BLOTONG DAN PEMANFAATANNYA 7
A. Pengertian Blotong 7
B. Blotong sebagai Bahan Baku Kompos 7
C. Proses Pembuatan Kompos dari Blotong 8
D. Peranan Unsur-Unsur Penyusun Blotong 10
E. Manfaat Blotong bagi Pertumbuhan Tanaman Tebu 11

IV. PENUTUP 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15

DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 19



DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Komposisi Kandungan Hara Pupuk Blotong Madros 10
Tabel 2. Pengaruh Dosis Blotong terhadap Brix, Rendemen, Jumlah Batang,
Panjang Batang, Bobot Segar, Produksi Tebu, Beserta Gula Kristal yang
Dihasilkan 14








PEMANFAATAN BLOTONG PADA BUDIDAYA TEBU
(Saccharum officinarum L.) DI LAHAN KERING

INTISARI

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan bahan baku industri gula yang merupakan
komoditas unggulan dan dibudidayakan di Indonesia. Budidaya tebu di lahan kering banyak
mengalami kendala, terutama dari pasokan air dan ketersediaan hara tanah. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tebu di lahan kering adalah dengan
memanfaatkan blotong sebagai kompos. Unsur-unsur hara yang tersusun dalam blotong dapat secara
optimal digunakan oleh tanaman tebu di lahan kering. Berdasarkan beberapa hasil penelitian,
manfaat blotong nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah
tanaman/rumpun, jumlah anakan, bobot kering tanaman, luas daun, produksi tebu, rendemen,
bahkan produksi gula kristal. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan blotong dalam meningkatkan
kapasitas menahan air, menurunkan laju pencucian hara, menyediakan unsur hara, memperbaiki
drainase tanah, melarutkan fosfor, dan menetralisir pengaruh Aldd sehingga ketersediaan P dalam
tanah lebih tersedia. Blotong juga mampu membantu mengatasi masalah kelangkaan pupuk kimia
dan sekaligus mengatasi masalah pencemaran lingkungan.

Kata kunci: tebu, lahan kering, blotong

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Arifin (2008), gula merupakan salah satu komoditas khusus di bidang
pertanian yang telah ditetapkan Indonesia dalam forum perundingan Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO), bersama dengan beras, jagung, dan juga kedelai. Bahan
baku industri gula yang merupakan komoditas unggulan dan dibudidayakan di
Indonesia yakni tebu (Saccharum officinarum L).
Beberapa tahun terakhir industri gula mengalami penurunan produksi hingga
mencapai titik nadir sebesar 1,48 juta ton pada tahun 1999. Sementara itu pada tahun
2002 produksi gula mencapai 1,76 juta ton, sedangkan konsumsi gula nasional
mencapai 3,3 juta ton, sehingga mencapai defisit sebesar 1,54 juta ton (Anonim, 2008).
Penurunan produksi tesebut dapat disebabkan oleh kurang optimalnya aplikasi teknis
budidaya tebu yang saat ini berkembang luas di lahan kering. Jika ditelusuri lebih lanjut,
lahan kering total di Indonesia memiliki luas sekitar 318 495,4 ha atau 74,25 % luas
areal tebu dengan total produksi gula 2,418 juta ton. Sementara total kebutuhan gula
dalam negeri tahun 2008 adalah 4.640.407 ton. Dengan demikian, kendala budidaya di
lahan kering seperti kurangnya kandungan air, bahan organik, dan unsur hara bagi
tanaman tebu sangat penting untuk diketahui dan ditemukan solusinya.
Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi terhadap gula hendaknya
segera diatasi dengan berbagai upaya yang mendukung. Beberapa upaya tersebut
meliputi perbaikan terhadap lahan-lahan pertanaman tebu, mulai dari bibit yang
digunakan, tanah yang dipakai sebagai media tanam, pemeliharaan, hingga penanganan
pascapanen, sehingga produktivitas tanaman tebu dapat mencapai optimal. Rendemen
tebu yang dihasilkan sangat dimungkinkan akan meningkat dengan produktivitas tebu
yang optimal. Hal ini berpengaruh pada kualitas dan kuantitas gula yang diproduksi.
Dalam proses produksinya, selain gula, industri gula juga menghasilkan buangan
padat, cair, maupun gas. Buangan padat berupa blotong, abu tungku, abu terbang,
sedangkan buangan gas adalah gas cerobong yang keluar dari cerobong dan sulfur
dioksida dari pembakaran belerang dan tangki sulfitasi. Baik buangan padat, cair
maupun gas apabila tidak dikelola secara benar akan dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran lingkungan (Murtinah, 1990).
Blotong atau disebut filtermud adalah kotoran nira tebu dari proses pembuatan
gula yang disebut sebagai byproduct. Persentase blotong yang dihasilkan dari tiap
hektar pertanaman tebu yaitu sekitar 4-5%. Kotoran nira ini terdiri dari kotoran yang
dipisahkan dalam proses penggilingan tebu dan pemurnian gula. Persentase kotoran nira
ini cukup tinggi yaitu 9-18% dari tebu basah, dan sangat cepat terdekomposisi menjadi
kompos. Pada umumnya blotong ini diakumulasi di lapangan terbuka di sekitar pabrik
gula, sebelum dimanfaatkan untuk pertanian (Lahuddin, 1996). Limbah pabrik tersebut
dapat dimanfaatkan menjadi salah satu alternatif solusi sebagai pupuk kompos dalam
budidaya tanaman tebu di lahan kering guna meningkatkan pertumbuhan dan hasil tebu
itu sendiri.
Percobaan penggunaan kompos blotong sebagai pupuk organik telah banyak
dilakukan dalam mempelajari peranannya pada sifat-sifat tanah maupun efeknya pada
tanaman. Pemberian blotong dapat meningkatkan kandungan hara dalam tanah terutama
unsur N, P, dan Ca serta unsur mikro lainnya. Peranan kompos blotong pada tanah dapat
dipastikan sama dengan peranan kompos atau pupuk organik lainnya dalam
memperbaiki sifat-sifat kesuburan tanah.

B. Tujuan
Mengetahui manfaat blotong pada budidaya tebu di lahan kering.
II. GAMBARAN UMUM TANAMAN TEBU

A. Asal dan Penyebaran Tanaman Tebu
Tebu merupakan tanaman yang berasal dari India. Namun, banyak juga literatur
yang menyatakan bahwa tebu berasal dari Polynesia. Meski demikian, menurut Nikolai
Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, yang telah melakukan ekspedisi pada
1887-1942 ke beberapa daerah di Asia, Eropa, Afrika, Amerika Selatan, dan seluruh
Uni Soviet,memastikan bahwa sentrum utama asal tanaman ini adalah India dan Indo-
Malaya.
Hasil ekspedisi Vavilov menyimpulkan bahwa India merupakan daerah asal
tanaman padi, tebu, dan sejumlah besar Leguminosae serta buah-buahan. Dari sentrum
utama asal tebu di India dan Indo-Malaya, kemudian ditanam meluas secara komersial
di berbagai Negara di dunia, baik yang iklimnya tropis maupun yang iklimnya sub-
tropis. Negara-negara penghasil gula tebu di dunia, antara lain: India, Kuba, Puertorico,
Brasil, Philipina, Taiwan, Hawai, Argentina, peru, Lusiana, Australia, dan Indonesia.
Di kawasan Indo-Malaya yang meliputi Indo-China, Malaysia, Philipina, dan
Indonesia ditemukan juga tanaman tebu. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika
Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu sentrum asal tebu. Berdasarkan catatan
sejarah, penduduk Jawa telah menanam tebu sejak 400 masehi. Plasma nutfah tebu
ditemukan tumbuh liar di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sepanjang Sungai Digul,
Irian Jaya.
Di Indonesia, komoditas tebu memiliki sejarah panjang dan berubah-ubah.
Sentrum penanaman tebu di Indonesia mulanya terpusat di Pulau Jawa, yang dirintis
waktu kolonialisasi Belanda. Pada waktu itu, penanaman tebu diberlakukan secara
paksa dan perdagangan gulanya dimonopoli oleh Belanda.
Pascakolonialisasi Belanda, pengembangan tebu pada umumnya dalam bentuk
perkebunan swasta yang didominasi oleh orang-orang Tionghoa. Dalam beberapa tahun
terakhir, pengembangan tanaman tebu makin meluas ke berbagai daerah, termasuk
dikeluarkannya kebijakan pemerintah untuk pengembangan industri gula di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) (Ahira, 2009).



B. Klasifikasi dan Ciri Morfologi Tanaman Tebu
Berikut merupakan klasifikasi botani tanamaan tebu (Plantamor, 2012) :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum L.
Tanaman tebu memiliki morfologi yang tidak jauh berbeda dengan tumbuhan yang
berasal dari famili rumput-rumputan. Tanaman ini memiliki ketinggian sekitar 2-5
meter. Menurut Nadia (2012), morfologi tanaman tebu secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :
a. Akar : berbentuk serabut, tebal dan berwarna putih
b. Batang : berbentuk ruas-ruas yang dibatasi oleh buku-buku, penampang melintang
agak pipih, berwarna hijau kekuningan
c. Daun : berbentuk pelepah, panjang 1-2 m, lebar 4-8 cm, permukaan kasar dan
berbulu, berwarna hijau kekuningan hingga hijau tua
d. Bunga : berbentuk bunga majemuk, panjang sekitar 30 cm.
Pada bagian pangkal sampai pertengahan batang memiliki ruas yang panjang,
Sedangkan pada bagian pucuk memiliki ruas yang pendek. Pada bagian pucuk batang
terdapat titik tumbuh terdapat titik tumbuh yang penting untuk pertumbuhan meninggi.
Selain itu juga terdapat lapisan berlilin di bagian bawah ruas dan pada ruas di bagian
pucuk batang. Daun tanaman tebu merupakan jenis daun tidak lengkap, karena terdiri
dari helai daun dan pelepah daun saja. Sendi segitiga terdapat di antara pelepah daun
dan helaian daun. Pada bagian sisi dalamnya, terdapat lidah daun yang membatasi
antara helaian daun dan pelepah daun. dalamnya terdapat lidah daun yang membatasi
helaian dan pelepah daun. Warna daun tebu bermacam-macam ada yang hijau tua, hijau
kekuningan, merah keunguan dan lain-lain. Ujung daun tebu meruncing dan tepinya
bergerigi. Bunga tebu merupakan malai yang berbentuk piramida yang terdiri dari 3
helai daun tajuk bunga, 1 bakal buah, dan 3 benang sari. Kepala putiknya berbentuk
bulu (Putri et al., 2010).
Menurut James (2004), tanaman tebu memiliki perakaran serabut, yang dapat
dibedakan menjadi akar primer dan akar sekundar. Akar primer adalah akar yang
tumbuh dari mata akar buku tunas stek batang bibit. Karakteristik akar primer yaitu
halus dan bercabang banyak. Sedangkan akar sekunder adalah akar yang tumbuh dari
mata akar dalam buku tunas yang tumbuh dari stek bibit, bentuknya lebih besar, lunak,
dan sedikit bercabang.

B. Syarat Tumbuh Tanaman Tebu
Tebu merupakan tanaman asli tropika basah. Tanaman ini tumbuh baik di daerah
beriklim tropis. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang
lebih 1 tahun. Tebu tergolong tanaman perkebunan semusim yang memiliki sifat
tersendiri, yakni terdapat zat gula di dalam batangnya (Supriyadi, 1992).
Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah, dan topografi.
Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di
lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktivitas tebu
ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum (Cerianet, 2008).
Tanaman tebu memerlukan curah hujan yang berkisar antara 1.000-1.300
mm/tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Curah hujan yang ideal adalah
selama 5-6 bulan dengan rata-rata curah hujan 200 mm, curah hujan yang tinggi
diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif yang meliputi perkembangan anakan, tinggi
dan besar batang. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125 mm dan
4-5 bulan berkaitan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang merupakan
periode kering. Pada periode ini merupakan pertumbuhan generatif dan pemasakan tebu.
Suhu udara minimum yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tebu adalah 24C
dan maksimum adalah 34C sedangkan temperatur optimum adalah 30C. Pertumbuhan
tanaman akan terhenti apabila suhu dibawah 15C. Sinar matahari yang mempengaruhi
pertumbuhan tanaman ditentukan oleh lamanya penyinaran dan intensitas penyinaran.
Tanaman tebu merupakan tanaman tropik yang membutuhkan penyinaran 12-14 jam
tiap harinya. Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam di siang hari berdapak
positif bagi pertumbuhan tebu. Kelembaban yang rendah (45-65%) sangat baik untuk
pemasakan karena tebu sangat cepat kering. Kelembaban tinggi dapat mempengaruhi
fotosintesis dengan akibat pembentukan gula juga terlambat (Kuntohartono, 1982).
Menurut Sudiatso (1999), tebu menghendaki tanah yang gembur sehingga aerasi
udara dan perakaran berkembang sempurna. Tekstur tanah ringan sampai agak berat
dengan berkemampuan menahan air cukup dan porositas 30 % merupakan tekstur tanah
yang ideal bagi pertumbumbuhan tanaman tebu. Kedalaman (solum) tanah untuk
pertumbuhan tanaman tebu minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan
permukaan air 40 cm. Tanaman ini membutuhkan banyak nutrisi dan memerlukan tanah
subur. Tanaman tebu juga mampu tumbuh di pantai sampai dataran tinggi antara 0 -
1.400 m di atas permukaan laut, tetapi mulai ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut
pertumbuhan tanaman relatif lambat. Bentuk lahan sebaiknya bergelombang antara 0-
15%. Lahan terbaik bagi tanaman tebu di lahan tegalan adalah lahan dengan kemiringan
kurang dari 8%, kemiringan sampai 10% dapat juga digunakan untuk areal yang
dilokalisir. Syarat lahan tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2%
apabila tanahnya ringan dan sampai 5% apabila tanahnya lebih berat.
Sutardjo (2002) menyatakan bahwa tebu dapat ditanam pada tanah dengan kisaran
pH 5.5-7.0. Pada pH di bawah 5.5 dapat menyebabkan perakaran tanaman tidak dapat
menyerap air sedangkan apabila tebu ditanam pada tanah dengan pH di atas 7.0 tanaman
akan sering kekurangan unsur fosfor. Menurut Kuntohartono (1982), tanah dengan
kapasitas penukaran kation yang tinggi dapat memberikan hara yang baik. Pada pH
netral efisiensi pemupukan NPK lebih tinggi, sedangkan pada pH kurang dari 5 dapat
menyebabkan tersedianya unsur P untuk Al dan Fe. Unsur Cl, Fe, dan Al merupakan
bahan racun utama dalam tanah. Tanah yang airnya buruk dapat menimbulkan
keracunan Fe, Al, dan sulfat (SO
4
). Kadar Cl 0,06 0,1% telah bersifat racun bagi akar
tanaman. Keracunan unsur Fe dan Al dapat dikurangi dengan bantuan kapur fiksasi.
Oleh karena itu, tanah masam dengan pH di bawah 5 perlu diberikan kapur fiksasi
(CaCO
3
).





III. BLOTONG DAN PEMANFAATANNYA

A. Pengertian Blotong
Blotong adalah hasil endapan dari nira kotor (sebelum dimasak dan dikristalkan
menjadi gula pasir) yang disaring di rotary vacuum filter. Blotong merupakan limbah
pabrik gula berbentuk padat seperti tanah berpasir berwarna hitam, mengandung air, dan
memiliki bau tak sedap jika masih basah. Bila tidak segera kering akan menimbulkan
bau busuk yang menyengat. Blotong masih banyak mengandung bahan organik,
mineral, serat kasar, protein kasar, dan gula yang masih terserap di dalam kotoran itu
(Hamawi, 2005; Kurnia, 2010; Purwaningsih, 2011).
Menurut Kuswurj (2009), di antara limbah pabrik gula yang lain, blotong
merupakan limbah yang paling tinggi tingkat pencemarannya dan menjadi masalah bagi
pabrik gula dan masyarakat. Limbah ini biasanya dibuang ke sungai dan menimbulkan
pencemaran karena di dalam air bahan organik yang ada pada blotong akan mengalami
penguraian secara alamiah, sehingga mengurangi kadar oksigen dalam air dan
menyebabkan air berwarna gelap dan berbau busuk. Oleh karena itu, jika blotong dapat
dimanfaatkan akan mengurangi pencemaran lingkungan.

B. Blotong sebagai Bahan Baku Kompos
Pada umumnya, komoditi tanaman tebu selain menghasilkan gula (sebagai produk
utama) juga menghasilkan limbah/hasil ikutan/pendamping baik berupa limbah cair
maupun limbah padat (Deptan, 2007). Proses pembuatan gula dari tebu menghasilkan
sejumlah limbah dalam bentuk pucuk (top cane), seresah (trash), ampas (bagasse),
blotong (filter mud), abu ketel (boiler ash), serta tetes (molasses). Bahan-bahan ini
sebagian dapat dimanfaatkan kembali sebagai hasil samping dan sisanya dibuang
sebagai limbah. Pucuk dan seresah merupakan sisa panen tebu. Ampas dikeluarkan pada
saat ekstraksi tebu, sedangkan blotong dan tetes dihasilkan dari proses pemurnian gula.
Ampas yang digunakan sebagai bahan bakar mengeluarkan sisa dalam bentuk abu ketel
(Santoso, 2009).
Menurut Nahdodin (2008), rata-rata standar produksi blotong pada masing-masing
pabrik gula umumnya sebesar 2,5% tebu. Pada tahun 2008, lima puluh tujuh pabrik gula
di Indonesia diperkirakan menghasilkan blotong lebih dari satu juta ton dan abu ketel
lebih dari tiga puluh empat ribu ton. Berdasarkan jumlah blotong dan abu yang
dihasilkan di atas maka dapat diperkirakan bahwa dari kedua jenis limbah tersebut dapat
dihasilkan kompos sekitar enam ratus ribu ton. Jumlah blotong yang besar tersebut
berpotensi untuk dijadikan pupuk organik yang potensial. Namun sementara ini,
pemanfatan blotong sebagai pupuk organik masih belum maksimal dan penggunanya
pun terbatas. Hal ini disebabkan karena pengolahan limbah blotong menjadi pupuk
organik masih bisa dikatakan hanya asal-asalan, masih belum ditangani dengan
menggunakan satu proses yang baik dan benar sehingga pupuk organik yang dihasilkan,
masih belum sempurna. Selain itu, juga karena minimnya pengetahuan petani akan
manfaat penggunaan pupuk organik dari bahan blotong.
Blotong harus dikomposkan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pupuk
organik tanaman tebu. Pengomposan merupakan suatu metode untuk mengkonversikan
bahan-bahan organik komplek menjadi bahan yang lebih sederhana dengan
menggunakan aktivitas mikroba. Pengomposan dapat dilakukan pada kondisi aerobik
dan anaerobik. Pengomposan aerobik adalah dekomposisi bahan organik dengan
kehadiran oksigen (udara). Produk utama dari metabolis biologi aerobik adalah
karbondioksida, air dan panas. Pengomposan anaerobik adalah dekomposisi bahan
organik dalam kondisi ketidakhadiran oksigen bebas. Produk akhir metabolis anaerobik
adalah metana, karbondioksida, dan senyawa intermediate seperti asam-asam organik
dengan berat molekul rendah.

C. Proses Pembuatan Kompos dari Blotong
Pada dasarnya pembuatan kompos cukup sederhana (berbeda dengan pengelolaan
limbah cair), dengan menumpuk bahan-bahan organik maka bahan-bahan tersebut akan
menjadi kompos dengan sendirinya, namun proses tersebut akan berlangsung lama.
Mengingat adanya perubahan-perubahan yang terjadi saat pembentukan kompos maka
pembentukan kompos dapat lebih dipercepat, tentunya dengan memperhatikan beberapa
faktor yang mempengaruhi seperti bahan baku, suhu, nitrogen, dan kelembaban
(Deptan, 2007).
Pengomposan adalah dekomposisi dengan menggunakan aktivitas mikroba; oleh
karena itu kecepatan dekomposisi dan kualitas kompos tergantung pada keadaan dan
jenis mikroba yang aktif selama proses pengomposan. Kondisi optimum bagi aktivitas
mikroba perlu diperhatikan selama proses pengomposan, misalnya aerasi, kelembaban,
media tumbuh dan sumber makanan bagi mikroba.
Pembuatan kompos dilakukan dengan pencampuran bahan baku asal limbah
pabrik gula, antara lain: serasah, blotong dan abu ketel, serta menambahkan bahan
aktivator berupa mikroorganisme yang terdiri dari: campuran bakteri, fungi,
aktinomisetes, kotoran ayam, dan kotoran sapi. Proses pengolahan ini dilakukan secara
biologis karena memanfaatkan mikroorganisme sebagai agen pengurai limbah.
Pembuatan blotong untuk pupuk organik telah banyak dilakukan oleh pabrik gula. Pada
proses pembuatannya diperlukan kotoran ternak, bioaktovator dan zeolit. Penggunaan
bioaktivator ini akan menghasilkan kompos yang lebih kaya akan unsur hara (N, P dan
K) sehingga dapat memperngaruhi produktivitas tanaman. Pada tahapan proses
pengomposan, pada minggu pertama dilakukan pembalikan pada tumpukan blotong,
kemudian pada minggu ke-2 dilakukan pembalikan, sampai minggu ke-3. Setiap
pembalikan dilakukan dengan pengaduk atau aerator selama 3-4 jam.
Berdasarkan prosedur pembuatan pupuk kompos, bahan pupuk terdiri dari
tumpukan berisi 60 kg serasah, 300 kg blotong, dan 100 kg abu ketel. Bahan-bahan
tersebut dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kotak dengan ukuran bawah 1,5 x 1,5
m; ukuran atas 1 m x 1 m serta tinggi 1,25 m. Sebelum dicetak, daun tebu dipotong-
potong sehingga panjangnya kurang dari 5 cm. Semua bahan dicampur rata, kemudian
ditambah 5 kg TSP dan 10 kg Urea. Untuk menjaga kelembaban dilakukan penambahan
air.
Pemberian aktivator pada setiap tumpukan masing-masing sebanyak 10 kg
campuran mikroorganisme selulolitik, yaitu 5 kg fungi; 2,5 kg bakteri dan 2,5 kg
aktinomisetes. Aktivator ditabur bersamaan dengan saat memasukkan bahan kompos ke
dalam cetakan. Setelah tercetak, kemudian di setiap tumpukan diberi lubang aerasi pada
masing-masing sisi dan bagian atas tumpukan dengan cara menusukkan sebatang
bambu.
Pembalikan tumpukan kompos dilakukan dua minggu sekali. Hal ini dimaksudkan
untuk membantu memperlancar sirkulasi udara ke bagian tengah kompos, sehingga
dapat mempercepat pertumbuhan mikroorganisme selulolitik. Setiap dua minggu
dengan menganalisa nisbah C/N dan pH sampai diperoleh nisbah C/N sekitar 12-20 dan
pH mendekati netral. Proses pengomposan harus dikontrol oleh suhu dan kelembaban
yang tepat. Jika tidak sesuai maka proses pengomposan menjadi tidak sempurna.
Setelah pengomposan, kompos blotong menjadi lebih kering dan setelah itu dilakukan
pengayakan.
D. Peranan Unsur-Unsur Penyusun Blotong
Pada dasarnya, pemberian bahan organik ke dalam tanah akan berpengaruh pada
sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah
diantaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan
kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologi tanah adalah
meningkatkan aktivitas mikrorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer
hara tertentu seperti N, P, K, dan S. Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah
adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga dapat mempengaruhi serapan hara
oleh tanaman (Gaur, 1981).
Menurut Sastrosumarjo (1995), karakteristik lahan kering secara umum meliputi
tingginya kandungan liat dan besi yang disertai rendahnya kandungan bahan organik
sehingga mengakibatkan tanah menjadi peka terhadap erosi dan pemadatan tanah.
Kandungan besi yang tinggi mengakibatkan rendahnya kapasitas menyimpan air pada
akhirnya menghambat penetrasi akar serta pertumbuhan akar. Tanah bersifat masam,
kesuburan tanah rendah, kandungan bahan organik serta aktivitas liat rendah. Sebagian
besar areal lahan kering bagian hulu di Indonesia bertopografi bergelombang
(kemiringan lahan 8-15 %) dan berbukit (15-30 %). Kejenuhan basa dan KTK rendah,
serta kapasitas fiksasi fosfat tinggi.
Berikut adalah komposisi kandungan hara yang terdapat dalam blotong yang telah
mengalami proses pengomposan :
Tabel 1. Komposisi Kandungan Hara Pupuk Blotong Madros
Kandungan Nilai
Kadar air (%)
pH
C organik (%)
N total (%)
P2O5 (%)
K2O (%)
S (%)
Ca (%)
Mg (%)
Fe (%)
Mn (%)
Cu (%)
Zn (%)
8,5
8,53
1,82
0,35
7,04
7,71
2,4
4,49
0,66
1,01
0,14
0,010
0,034
Sumber : BST PG Madukismo
Berdasarkan Tabel 1 yang tertera di atas, Nampak bahwa komposisi kimia dari
pupuk blotong terdiri atas air dan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pertumbuhan
tanaman tebu. Menurut Soepardi (1983), komposisi tanah ideal untuk media
pertumbuhan per satuan volume terdiri atas 50% bahan padat mineral, 25% berisi air,
20% berisi udara, dan sisanya berupa bahan organik. Bahan organik yang dimaksud
secara kimia harus tidak kurang dari 2% sehingga dikatakan sebagai tanah subur
(Tisdale et al., 1985). Berdasarkan komposisi tersebut maka pupuk blotong dapat
menyuplai kebutuhan air pada media pertumbuhan tanaman tebu karena memiliki kadar
air sebesar 8,5%.
Nilai pH pupuk blotong yang tampak pada Tabel 1 adalah sebesar 8,53 yang
berarti bahwa pupuk blotong diduga dapat membantu menstabilkan nilai pH tanah.
Menurut pustaka Deptan, tanaman tebu sangat toleran pada kisaran kemasaman tanah
(pH) 5 8. Apabila pH tanah kurang dari 4,5 maka kemasaman tanah menjadi faktor
pembatas pertumbuhan tanaman yang dalam beberapa kasus disebabkan oleh pengaruh
toksik unsur aluminium (Al) bebas.
Selain kadar air dan nilai pH, kandungan C dan N pada pupuk blotong
menunjukkan nilai sebesar 1,82% dan 0,35% yang nilainya meskipun cukup rendah
namun memberikan kontribusi perbaikan sifat fisika dan biologi tanah serta
memberikan tambahan unsur hara ke dalam media tanah yang digunakan. Tanah
pertanian yang baik mengandung perbandingan unsur C dan N yang seimbang dengan
keseimbangan yang baik mempunyai kandungan C sebesar 10%, sedangkan kandungan
N sebesar 12%. Semakin rendah nilai C/N maka akan semakin mudah untuk
melepaskan unsur hara (Anonim, 2008).

E. Manfaat Blotong pada Budidaya Tanaman Tebu
Kompos blotong yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali untuk perkebunan
tebu. Kompos ini dapat memperbaiki fisik tanah di areal perkebunan tebu, khususnya
meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan laju pencucian hara, memperbaiki
drainase tanah, dan menetralisir pengaruh Aldd sehingga ketersediaan P dalam tanah
lebih tersedia. Selain itu pemberian ke tanaman tebu sebanyak 100 ton blotong atau
komposnya per hektar dapat meningkatkan bobot dan rendemen tebu secara signifikan
(Nahdodin et al., 2008).
Adanya pemanfaatan blotong ini diharapkan mampu membantu mengatasi
masalah kelangkaan pupuk kimia dan sekaligus mengatasi masalah pencemaran
lingkungan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu langkah awal menuju zero waste
industry dalam industri gula. Seorang peneliti pupuk mengungkapkan bahwa terdapat
beberapa mikroba dalam pupuk ini, yaitu Celulotic bacteria, Pseudomonas, Bacyllus,
dan Lactobacyllus. Bakteri tersebut ada yang berfungsi melarutkan fosfat. Seperti
diketahui, fosfat jika dipakai untuk pupuk harus dalam keadaan terlarut, dan yang
melarutkan itu mikroba. Pupuk organik ini mampu memperbaiki tekstur dan mampu
menyehatkan tanah kritis akibat pupuk kimia (anorganik).
Pemberian kompos yang berasal dari limbah industri gula ini telah dicoba pada
tanaman tebu di berbagai wilayah pabrik gula di Indonesia. Secara umum kompos dapat
meningkatkan produktivitas tebu. Pemberian kompos blotong dan kompos ampas pada
lahan tebu di pabrik gula Cintamanis Palembang, masing-masing dengan takaran 30
ton/ha mampu meningkatkan bobot tebu. Bobot tebu yang diberikan pupuk kompos ini
pada tanaman pertama, berturut-turut lebih tinggi 26,5 dan 8,1 ton/ha dibandingkan
dengan kontrol (Wargani et al., 1988).
Blotong sangat berguna dalam usaha memperbaiki sifat fisik tanah, sehingga daya
menahan airnya meningkat. Tiap ton blotong berkadar air 70% mengandung hara setara
dengan 28 kg ZA, 22 kg TSP dan 1 kg KCl (Suhadi et al., 1988). Hara tersebut
mengandung 5,88 kg N, 9,9 kg P dan 0,6 kg K. Menurut Wargani et al. (1988),
pemberian kompos pada demplot menghasilkan peningkatan produksi tebu yang
bervariasi yaitu antara 7,2 ton sampai 16,9 ton/ha akibat pemberian kompos sebanyak
10 ton/ha. Dosis kompos ini menunjukkan perbaikan sifat fisik tanah terutama di lapisan
penebaran kompos.
Menurut Toharisman et al. (1991), pemberian blotong pada tanah Mediteran
Malang Selatan mampu meningkatkan hasil tebu lebih dari 20% dibanding kontrol.
Blotong berperan terhadap sifat kimia tanah, yaitu penambahan blotong mampu
meningkatkan ketersediaan hara P dan basa-basa terutama Ca, sehingga tanaman
mampu menyerap hara lebih baik. Menurut Suhadi dan Sumojo (1985), blotong juga
mampu meningkatkan N tanah yang secara relatif mengurangi kebutuhan pupuk ZA.
Penelitian yang dilakukan Mulyadi (2000) menunjukkan bahwa pemberian
blotong nyata meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tanaman/rumpun,
dan bobot kering kering tebu bagian atas berumur 4 bulan yang ditanam di tanah
kandiudoxs. Dosis efektif yang digunakan adalah sekitar 40 ton/ha, ditandai dengan
peningkatan tinggi tanaman 58%, diameter batang sebesar 31%, jumlah
tanaman/rumpun sebesar 25%, dan bobot kering tanaman bagian atas sebesar 225%
dibanding perlakuan tanpa blotong. Sedangkan berdasarkan penelitian Parinduri (2005),
dosis blotong 20 ton/ha saja dapat meningkatkan jumlah anakan tebu 11,02%, bobot
kering tajuk 8,43%, bobot kering tanaman 5,33 %, bobot kering dan luas daun 20,43%
dibandingkan dengan perlakuan pemupukan anorganik N, P, K dan ZA.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kirana (2008), pengaruh pemupukan
kompos blotong terhadap pertumbuhan tanaman nyata pada jumlah daun 6 MST dan
diameter batang 12 MST. Pengaruh pemberian kompos blotong terhadap pertumbuhan
tebu lahan kering terjadi dalam waktu yang tidak secepat penggunaan pemupukan
anorganik. Pertumbuhan tinggi tanaman dan luas daun tebu berjalan lebih lambat
daripada tanpa pemberian kompos blotong. Dosis kompos blotong 7,5 ton/ha sampai 10
ton/ha meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan jumlah anakan (umur
tiga bulan setelah tanam) daripada kontrol. Pada bobot kering akar dan bobot kering
tajuk, pemberian kompos blotong yang diberikan masih terlalu rendah untuk
menghasilkan pertumbuhan yang melebihi pertumbuhan tanaman tanpa kompos
blotong. Dalam penelitiannya, pemberian kompos blotong tidak meningkatkan sifat
kimia tanah tetapi meningkatkan unsur N dalam tanah daripada tanpa kompos blotong.
Dosis 7,5 ton/ha sampai 10 ton/ha kompos blotong menghasilkan sifat kimia tanah
optimum bagi ketersediaan hara dalam tanah.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Purwono et al. (2011), dosis blotong
cukup nyata mempengaruhi rendemen tebu (Tabel 2). Apabila dosis kompos dikaitkan
dengan frekuensi penyiraman, keduanya saling berinteraksi dalam mempengaruhi
rendemen tebu. Ada korelasi yang signifikan antara Brix dan hasil gula. Kandungan sari
tebu memiliki kontribusi yang besar terhadap hasil gula. Berikut adalah data hasil
penelitian yang diperoleh :





Tabel 2. Pengaruh Dosis Blotong terhadap Brix, Rendemen, Jumlah Batang, Panjang
Batang, Bobot Segar, Produksi Tebu, Beserta Gula Kristal yang Dihasilkan
Dosis
Kompos
Blotong
(ton/ha)
Brix
(%)
Rendemen
(%)
Jumlah
Batang
Panjang
Batang
(cm)
Bobot
Segar
(g)
Hasil
(kg/ha)
Gula
Kristal
(kg/ha)
0
2,5
5
7,5
18,87b
19,22ab
19,28a
18,95ab
7,68a
7,70a
7,73a
7,16b
6,5a
6,6a
6,6a
6,6a
301,06a
298,78a
301,50a
295,39a
529a
524a
559a
509a
95,22a
94,28a
100,67a
91,65a
7,313ab
7,260a
7,782a
6,662b
Keterangan : Angka-angka dalam kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang sama tidak
berbeda nyata pada uji BNT taraf 5%.
Aplikasi blotong dengan dosis 5 ton/ha memberikan hasil rendemen tebu tertinggi,
sedangkan hasil kristal gula tertinggi (7,620 kg ha-1) dicapai pada pemberian dosis
blotong antara 2,55 ton/ha. Di dalam penelitiannya, aplikasi blotong 5 ton/ha dapat
mengurangi frekuensi penyiraman setiap dua minggu. Aplikasi blotong dengan dosis 3-5
ton/ha yang dianjurkan dalam penanaman tebu lahan kering ditujukan untuk mengurangi
frekuensi penyiraman. Jumlah kompos harus diterapkan dalam jumlah yang dapat
meningkatkan kandungan organik tanah sekitar 3%, dan kompos harus diterapkan secara
teratur untuk mempertahankan tingkat 3% dalam tanah. Aplikasi blotong harus
diprioritaskan untuk daerah-daerah yang memiliki kadar organik tanah <3%, daerah ini
cenderung rentan terhadap kekeringan, atau ke daerah-daerah dengan musim tanam
antara bulan Juli sampai September setiap tahunnya.





IV. PENUTUP

A. Kesimpulan
Blotong dapat meningkatkan pertumbuhan, hasil, rendemen, bahkan produksi gula
kristal tebu di lahan kering. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan blotong dalam
meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan laju pencucian hara, menyediakan
unsur hara, memperbaiki drainase tanah, melarutkan fosfor, dan menetralisir pengaruh
Aldd sehingga ketersediaan P dalam tanah lebih tersedia. Blotong juga mampu
membantu mengatasi masalah kelangkaan pupuk kimia dan sekaligus mengatasi
masalah pencemaran lingkungan.

B. Saran
Prioritas dalam penentuan aplikasi blotong sebaiknya berdasarkan kandungan
bahan organik tanah. Sebelum aplikasi diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan
analisis tanah yang dapat mewakili sehingga pemberian blotong dapat lebih tepat
sasaran. Selain itu, penting bagi blotong untuk melalui proses pengomposan karena
dengan begitu blotong dapat terdekomposisi dengan baik dan akhirnya mampu
menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman.






DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Aspek Manfaat Bahan Organik pada Budidaya Tebu.
<http://www.ratoonjatim.co.cc/bahan_organik>. Diakses pada tanggal 21
November 2012.

Anonim. 2008. Konsep Peningkatan Rendeman Tebu untuk Mendukung Proses Akselerasi
Industri Gula Nasional. <http://p3gi.net/images/opini/Konsep%20Peningkatan%
Rendemen.pdf>. Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Ahira, A. 2009. Berkenalan dengan Tanaman Tebu. <http://www.anneahira.com/tanaman-
tebu.htm>. Diakses pada tanggal 22 November 2012.

Arifin, B. 2008. Ekonomi Swasembada Gula Indonesia. Economic Review.

Cerianet. 2008. Konsep Budidaya Tebu. <http://cerianetagricultur.blogspot.com/2008/12/
konsep-budidaya-tebu.html>. Diakses pada tanggal 22 November 2012.

Deptan. 2007. Pedoman Teknis Pemanfaatan Limbah Perkebunan Menjadi Pupuk Organik.
Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Gaur, A. C. 1981. Improving Soil Fertility through Organic Recycling: A Manual of Rural
Composting. FAO. The United Nation, Rome.

Hamawi. 2005. Blotong, Limbah Busuk Berenergi.
<http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/indonesia/11-energi-dari-
lahan/blotong-limbah-busuk-berenergi/at_download/article_pdf>. Diakses pada
tanggal 22 November 2012.

James. 2004. Sugarcane Second Edition. Blackwell Publishing Company, Inggris.

Kirana, K. 2008. Penentuan dosis pemupukan kompos blotong pada tebu lahan kering
(Saccharum officinarum L.) varietas PS 862 dan PS 864. Skripsi. Program Sarjana,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kuntohartono, T. 1982. Pedoman Budidaya Tebu Lahan Kering. Lembaga Pendidikan
Perkebunan, Yogyakarta.

Kurnia, W. R. 2010. Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Gula dalam rangka Zero
Emission. <www.lordbroken.wordpress.com>. Diakses pada tanggal 22
November 2012.

Kuswurj, R. 2009. Blotong dan Pemanfaatannya. <http://www.risvank.com/tag/blotong/>.
Diakses pada tanggal 22 November 2012.

Lahuddin. 1996. Pengaruh kompos blotong terhadap beberapa sifat fisik dan kandungan
unsur hara tanah serta hasil tanaman jagung. Jurnal Penelitian Pertanian 1 : 13-18.

Mulyadi, M. 2000. Kajian pemberian blotong dan terak baja pada tanah Kandiudoxs
Pelaihari dalam upaya memperbaiki sifat kimia tanah, serapan N, Si, P, dan S
serta pertumbuhan tebu. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.

Murtinah, S. 1990. Penelitian air buangan industri gula proses sulfitasi. Buletin Penelitian
Pengembangan Industri 12 : 7-20.

Nadia. 2012. Tebu. <http://xa.yimg.com/kq/groups/25896088/44199564/name/Tebu.doc>.
Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Nahdodin, S. H., I. Ismail, dan J. Rusmanto. 2008. Kiat Mengatasi Kelangkaan Pupuk
untuk Mempertahankan Produktivitas Tebu dan Produksi Gula Nasional.
<http//www.sugarresearch.org/wpcontent/uploads/2008/12/kelangkaan-
pupuk.pdf>. Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Parinduri, S. 2005. Respon tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) terhadap pemberian
blotong yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat dan azospirillum. Tesis.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Plantamor. 2012. Informasi Spesies Tomat. <http://www.plantamor.com/index.php?plant=
1165>. Diakses pada tanggal 21 November 2012.

Purwaningsih, E. 2011. Pengaruh pemberian kompos blotong, legin, dan mikoriza terhadap
serapan hara N dan P tanaman kacang tanah. Widya Warta No 02 Tahun XXXV.

Purwono, D. Sopandie1, S. S. Harjadi1, and B. Mulyanto. 2011. Application of filter cake
on growth of upland sugarcanes. Journal of Agronomy Indonesia 39 : 79-84.

Putri, Renata S., Junaidi T. Nurhidayati, Wiwit Budi W. 2010. Uji Ketahanan Tanaman
Tebu Hasil Persilangan (Saccharum spp. hybrid) Pada Kondisi Lingkungan
Cekaman Garam (NaCl). Undergraduate Thesis. Institut Teknologi Sepuluh
Nopember. Surabaya.

Santoso, B. 2009. Limbah Pabrik Gula: Penanganan, Pencegahan, dan Pemanfaatannya
dalam Upaya Program Langit Biru dan Bumi Hijau.
<http://fisika.brawijaya.ac.id/bss-
ub//proceeding/PDF%20FILES/BSS_357_1.pdf>. Diakses pada tanggal 22
November 2012.

Sastrosumarjo, S. 1995. Sistem Tanah (Cropping System) pada Pertanian Lahan Kering
Berkelanjutan. Dies Natalis XXXII Institut Pertanian Bogor Diskusi
Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Lahan Kering untuk Mendukung
Pertanian Berkelanjutan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sudiatso, S. 1983. Bertanam Tebu. Departemen Agronomi. Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Suhadi dan Sumojo. 1985. Pengaruh blotong terhadap sifat fisik tanah regosol pasir
lempungan. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Buletin No. 111.

Suhadi, Sumojo, dan Marsadi. 1988. Beberapa Masalah pada Tanah di Perkebunan Tebu
Lahan Kering di Luar Jawa. Seminar Budidaya Tebu Lahan Kering. P3GI,
Pasuruan.

Supriyadi, A. 1992. Rendemen Tebu Liku-Liku Permasalahannya. Kanisius, Jakarta.

Sutardjo, E. R. M. 2002. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara, Jakarta.

Toharisman, A., Suhadi, dan M. Mulyadi. 1991. Pemakaian Blotong untuk Meningkatkan
Kualitas Tebu di Lahan Kering. Pertemuan Teknis TT I/1991. P3GI, Pasuruan.

Tisdale, S. L., W. L. Nelson, and J. D. Beaton. 1985. Soil Fertility and Fertilizers.
MacMillan Pub. Co., New York.

Wargani, Supriyanto, dan Samsuri. 1988. Pemanfaatan Limbah Pabrik Gula sebagai Bahan
Kompos dalam menunjang Peningkatan Produksi Tanaman Tebu di Pabrik Gula
Cintamanis. Seminar Budidaya Tebu Lahan Kering P3GI Pasuruan, Pasuruan.







LAMPIRAN

Daftar pertanyaan dan jawaban hasil diskusi seminar kelas Pemanfaatan Blotong
pada Budidaya Tebu (Saccharum officinarum L.) di Lahan Kering.
1. Galuh Asrinda Titi M. (11772)
Pertanyaan:
Pada penelitian Purwono et al. (2011), nampak bahwa pemberian kompos blotong 5
ton/ha dapat meningkatkan rendemen tebu dan produksi gula kristal secara signifikan.
Akan tetapi, pada pemberian kompos blotong sebanyak 7,5 ton/ha justru memberikan
pengaruh sebaliknya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Jawaban:
Pada dasarnya, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sama halnya dengan
manusia yang membutuhkan suplai makanan. Ketika dalam kondisi kekurangan makan,
manusia tersebut akan lemas dan tidak banyak aktivitas yang dapat dikerjakan. Begitu
juga ketika dalam kondisi kelebihan makan (terlalu kenyang), manusia bukan menjadi
sangat kuat tetapi justru sulit melakukan aktivitas. Hal inilah yang dialami oleh tebu
yang diberikan dosis blotong sebanyak 7,5 ton/ha. Kebutuhan yang dikehendakinya
secara ideal terpenuhi pada dosis blotong 5 ton/ha sehingga apabila dosis ditambah
(sudah tidak sesuai dengan kebutuhan) maka justru aktivitas metabolismenya
terganggu/terhambat.

2. Ellia Habib M. (11873)
Pertanyaan:
a. Kapan sebaiknya aplikasi blotong dilakukan?
b. Kandungan pH pada blotong yakni 8,53 sedangkan pada syarat tumbuh tebu
dikehendaki pH 5,5-7. Apakah ini berpengaruh?
Jawaban:
a. Sebaiknya blotong diaplikasikan di awal masa tanam, lebih tepatnya saat
dilakukannya pengolahan tanah. Dalam hal ini blotong memiliki fungsi yang sama
seperti pupuk organik padat lainnya yang juga diaplikasikan di awal masa tanam.
Apabila ditilik dari fungsinya, blotong dapat dijadikan sebagai bahan pembenah
tanah, terutama di lahan kering.
b. Ya, tentu saja berpengaruh. Seperti yang telah diutarakan dalam seminar, sebelum
melakukan aplikasi blotong sebaiknya dilakukan analisis tanah. Semua hal harus
disesuaikan dengan kebutuhan tebu sehingga aplikasi blotong dapat tepat sasaran.
Jadi sangat baik apabila blotong dengan kondisi tersebut diaplikasikan pada tanah
yang masam karena kondisi pH tanah tersebut akhirnya dapat menjadi stabil.

3. Siti Afrohul Qonita (11849)
Pertanyaan:
Apakah perusahaan gula sudah memanfaatkan blotong? Apakah ada tambahan pupuk
lain setelah dilakukannya aplikasi blotong? Bagaimana pemanfaatannya secara
ekonomis?
Jawaban:
Ya, sebagian besar perusahaan gula telah memanfaatkan blotong. Dari beberapa
perusahaan yang saya ketahui, tambahan pupuk lain masih digunakan walaupun aplikasi
blotong telah dilakukan. Hal ini dapat dikarenakan areal pertanaman tebu di perusahaan
sangat luas dan kebutuhan tebu pada umumnya belum dapat tercukupi hanya dengan
diaplikasikannya blotong sebab umumnya perusahaan tidak melakukan pengomposan
secara khusus sehingga blotong tidak dapat menyediakan kebutuhan tebu secara baik
karena proses dekomposisi tidak terjadi secara sempurna. Sejauh ini pemanfaatan
blotong secara ekonomis dilakukan oleh perusahaan dengan hanya menumpuk blotong
pada beberapa plot lahan dan menunggu beberapa hari (tidak ada pengomposan secara
khusus).

4. Hadianti Deliana R. (11718)
Pertanyaan:
Pada penelitian Purwono et al. (2011), nampak bahwa pemberian kompos blotong 7,5
ton/ha dapat menurunkan rendemen tebu secara signifikan. Akan tetapi, pada pemberian
kompos blotong sebanyak 100 ton/ha pada penelitian Nahdodin et al. (2008) justru
memberikan pengaruh sebaliknya. Bagaimana hal terebut dapat terjadi?
Jawaban:
Penelitian keduanya dilakukan pada waktu yang berbeda, tempat yang berbeda,
lingkungan yang berbeda, kebutuhan tebu yang berbeda, dan kondisi tanah yang
berbeda. Jadi mungkin apabila hasil yang didapat juga berbeda. Menurut saya hal
tersebut dapat terjadi karena pada penelitian Purwono kondisinya (khususnya media
tanam) jauh lebih baik untuk pertanaman tebu, sedangkan pada penelitian Nahdodin
kondisinya sangat jauh di bawah. Maka itu perlu adanya analisis tanah sebelum
dilakukan aplikasi kompos.

5. Anjarini Pranesti (11657)
Pertanyaan:
Apakah ada pengaruhnya apabila blotong diaplikasikan di tanah masam?
Jawaban:
Ya, jelas ada pengaruhnya. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, pemberian
blotong dapat menstabilkan pH tanah yang masam. Berdasarkan hasil analisis komposisi
blotong, pH yang terkandung di dalamnya yaitu sekitar 8,5 yang apabila diaplikasikan
pada tanah masam tentu akan menaikkan pH tanah yang masam itu sehingga menjadi
lebih stabil (netral).

6. Riza Luthfiah (11595)
Pertanyaan:
Apakah blotong memiliki kekurangan?
Jawaban:
Ya, jelas sekali. Blotong merupakan limbah buangan dari pabrik gula yang memiliki
bau sangat menyengat terutama dalam keadaan basah. Tingkat pencemaran yang
ditimbulkan blotong dapat dikatakan tinggi.

Anda mungkin juga menyukai