Anda di halaman 1dari 6

Titrasi pembentukan ion kompleks

Dalam pelarut air biasanya kompleks yang memiliki ion pusat A memiliki komposisi
membentuk kompleks dengan air (H2O) dengan jumlah air yang terikat di ligan bias 2, 4 atau
6. Pembentukan kompleks tersebut dengan ligan pensubtitusi B yaitu :


Pelarut mempengaruhi persamaan reaksi dan nilai konstanta kesetimbangan. Pada kompleks
pada pelarut (H2O) , nilai total bilangan koordinasi logam adalah m dan jumlah bagian logam
yang terikat dengan molekul air disebut x dan bagian y adalah bagian yang diserang oleh
ligan pensubtitusi, sehingga persamaan menjadi saling berhubungan yaitu : x + y = m.
Karena konstanta K1, K2,.....,Km menunjukan pembentukan kompleks, nilai konstanta
tersebut merupakan konstanta pembentukan (formation constants). Kompleks yang memiliki
nilai terbesar dari konstanta pembentukan merupakan kompleks yang stabil, sehingga nilai
konstanta ini biasanya disebut dengan konstanta kestabilan (stability constant).

Misalnya dalam pembentukan kompleks AB3 dapat ditentukan sebagai produk dengan nilai
K3 merupakan perkalian konstanta tiap reaksi kesetimbangan yang terbentuk.

Sehingga setiap konstanta kestabilan selalu memiliki berbagai variasi tahapan Ki yang
merupakan produk hasil kali konstanta tiap beberapa tahapan konstanta kestabilan
Ki (misalnya K2 = K1 K2 ; K3 = K1 K2 K3).

Konstanta kestabilan dapat dilihat dari reaksi dibawah ini :

Contoh :
1 mol AgCl dilarutkan dalam 500 ml NH3, konsentrasi NH3 adalah 0,1 M, K1 = 2 ,3 x 10-3 ,
K2 = 6,0 x 103, Hitung konsentrasi Ag+.?
Jawab :

K = K1 x K2
= (2,3 x 103) x (6,0 x 103) = 138 x 105


Konsentrasi Ag(NH3)2+ = 1 mmol/500 ml = 2 x 10-3

Titrasi kesetimbangan larutan/ kelarutan
Kelarutan (s=solubility)
Adalah konsentrasi maksimum zat terlarut dalam suatu larutan
Harga s besar : artinya mudah larut
Harga s kecil : artinya sukar larut (mudah mengendap)

Ksp
Menentukan rumus Ksp:
AxBy (s) xA+y (aq) + yB-x (aq)

Ksp = [A+y]x[ B-x]y = (xs)x(ys)y
Kosien (Q) dan Pengendapan
Untuk meramalkan terjadi endapan digunakan hasil kali konsentrasi ion (Q).
Harga Q kita bandingkan dengan Ksp, Jika:
Q > Ksp : lewat jenuh, terjadi endapan
Q = Ksp : larutan tepat jenuh, siap mengendap
Q < Ksp : larutan belum jenuh, tidak terjadi endapan

Pergeseran Kesetimbangan Kelarutan
Efek ion sejenis
Adanya ion sejenis akan menurunkan kelarutan (mempercepat pengendapan), sebab
jumlah zat terlarut makin sedikit
Efek pH
Asam/basa dapat menganggu kesetimbangan kelarutan sebab:
a. Dapat berperan sebagai ion sejenis
b. Asam dapat bereaksi dengan endapan membentuk asam/garam yang larut
c. Basa bereaksi dengan larutan membentuk basa yang sukar mengendap
Efek suhu
Umumnya kenaikan suhu membuat kelarutan makin tinggi
Efek kompleks
Pengompleks (ligan-ligan) dapat bereaksi dengan endapan garam transisi membentuk
garam kompleks yang larut

Contoh
3. Larutan basa lemah tepat jenuh L(OH)2 mempunyai pH = 10, tentukan Ksp basa
tersebut.
Jawab :
Diketahui: pH basa L(OH)2 =10
Ditanya : Ksp basa L(OH)2 adalah
pH = 10 ----------- pOH = 14 pH
pOH = 14 -10
pOH = 4 -------------------- [OH-] = 10-4 ---------- s = 10-4
L(OH)2 L2+ + 2(OH)-
s s 2s
Ksp = [L2+] [OH]2
Ksp = s x (2s)2
Ksp = 4 x (10-4)3
Ksp = 4 x 10-12 Jadi Ksp basa L(OH)2 adalah 4 x 10-12



Titrasi Asam Basa
Contoh #1: Jika 20,60 mL larutan HCl 0,0100 M digunakan untuk mentitrasi 30,00 mL
larutan NaOH sampai titik ekivalen, berapakah konsentrasi larutan NaOH?
Penyelesaian:
HCl + NaOH ---> NaCl + H2O
n HCl = M x V = (0,0100 mol/L) (0,02060 L) = 0,000206 mol
n NaOH = 1/1 (0,000206) = 0,000206 mol
Karena perbandingan ekivalen HCl dan NaOH adalah 1:1, maka mol NaOH sama dengan
mol HCl
M NaOH= mol/ Volume
= 0,000206 mol / 0,03000 L
= 0,00687 M

Titrasi Redoks
Titrasi redoks itu melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi
redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat
sebagai oksidator atau reduktor.
Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi redoks
memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang perhitungan sel volta, sifat oksidator
dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang cukup baik mengenai semua
itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi jauh lebih mudah.
Contoh :
Diketahui data potensial elektrode sebagai berikut:
Cu2+(aq) | Cu(s) Esel = +0,34 volt
Zn2+(aq) | Zn(s) Esel = -0,76 volt
Ramalkan apakah reaksi tersebut dapat berlangsung spontan?
Jawab:
Reduksi : Cu2+(aq) + 2e- Cu(s) E = +0,34 volt
Oksidasi : Zn(s) Zn2+(aq) + 2e- E = +0,76 volt
Redoks : Cu2+(aq) + Zn(s) Cu(s) + Zn2+(aq) Esel = +1,10 volt
Oleh karena E positif, berarti reaksi berlangsung spontan.