Anda di halaman 1dari 12

Asas Legalitas Dalam Hukum Pidana

Pasal 1 ayat (1) KUHP: Tiada suatu perbuatan dapat di pidana, kecuali atas
kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan
dilakukan
!alam hukum pidana, dikenal asas legalitas, yakni asas yang menentukan bah"a
tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana #ika tidak ditentukan
terlebih dahulu dalam undang-undang$ !alam bahasa latin, dikenal sebagai %ullum
delictum nulla p&ena sine prae'ia lege p&enalli yang artinya lebih kurangnya adalah tidak
ada delik, tidak ada pidana tanpa peraturan terlebih dahulu (sas ini di masa kini lebih
sering diselaraskan dengan asas n&n retr&akti), atau asas bah"a peraturan perundang-
undangan tidak b&leh berlaku surut$ *ecara mudah, asas ini menyatakan bah"a tidak
dipidana kalau belum ada aturannya$
*yarat pertama untuk menindak terhadap suatu perbuatan yang tercela, yaitu adanya
suatu ketentuan dalam undang-undang pidana yang merumuskan perbuatan tercela itu
dan memberikan suatu sanksi terhadapnya$ Kalau, misalnya sese&rang suami yang
menganiaya atau mengancam akan menganiaya istrinya untuk memaksa bersetubuh tidak
dapat dipidana menurut KUHP yang berlaku$ *ebab Pasal +,- KUHP (Pasal +.+ /etb&ek
'an *tra)recht0*r) hanya mengancam perk&saan di luar pernikahan$ *yarat tersebut di
atas bersumber dari asas legalitas$
A. Sejarah Asas Legalitas
Ucapan nullum delictum nulla p&ena sine prae'ia lege p&enalli ini berasal dari
(nselm '&n 1euerbach, sar#ana hukum pidana 2erman (133--1,44)$ !ialah yang
merumuskannya dalam pepatah latin tadi dalam bukunya: 5ehrbuch des peinlichen
6echt (1,71)$ !alam kaitannya dengan )ungsi asas legalitas yang bersi)at memberikan
perlindungan kepada undang undang pidana, dan )ungsi instrumental, istilah tersebut
dibagi men#adi tiga yaitu:
a$ %ulla p&ena sine lege: tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut undang-
undang8
b$ %ulla p&ena sine crimine: tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana8
c$ %ullum crimen sine p&ena legalli: tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut
undang-undang$
1
!i dalam hukum r&ma"i kun&, yang memakai bahasa latin, tidak dikenal pepatah
ini8 #uga asas legalitas tidak dikenal$ !alam sebuah karangan dalam : Ti#dschri)t '$
*tra)recht dalam halaman 443 dikatakan bah"a di 9aman 6&ma"i itu dikenal ke#ahatan
yang dinamakan criminal e:tra &rdinaria, artinya ke#ahatan-ke#ahatan yang tidak disebut
dalam Undang-Undang$
!i antara crimina e:tra &rdinaria ini yang sangat terkenal adalahcrimina stelli&natus,
yang letterli#k artinya: perbuatan #ahat, dur#ana$ 2adi tidak ada ditentukan perbuatan
berupa apa yang dimaksud di situ$ *e"aktu hukum 6&ma"i kun& itu diterima di ;r&pa
<arat dalam abad Pertengahan, sebagaimana halnya kita dalam #aman pen#a#ahan,
meresipier hukum <elanda) maka pengertian tentang crimina e:tra &rdinaria ini diterima
pula &leh ra#a-ra#a yang berkuasa$ !an dengan adanya crimina e:tra &rdinaria ini lalu
diadakan kemungkinan untuk menggunakan hukum pidana itu secara se"enang-"enang
menurut kehendak dan kebutuhan ra#a sendiri$
*ebagai puncak reaksi terhadap sistim abs&lutisme ra#a-ra#a yang berkuasa tersebut,
yang dinamakan 9aman (ncien 6egime, maka di situlah timbul pikiran tentang harus
ditentukan dalam peraturan terlebih dahulu (Pr&)$ =&el#atn& mempergunakan istilah "et)
perbuatan-perbuatan yang dapat dipidana, agar "arga lebih dahulu bisa tahu dan tidak
akan melakukan perbuatan tersebut$ =enurut =&ntes>uieu dalam bukunya 5?esprit des
5&is (13.,, dan 22 6&usseau !us @&ntrat *&cial (13A+), pertama tama dapat
diketemukan pemikiran tentang asas legalitas ini$ (sas ini, diad&psi dalam undang-
undang adalah dalam pasal , !eclarati&n des !r&its de l?h&mme et du cit&yen (13,B),
semacam undang-undang dasar pertama yang dibentuk dalam tahun pecahnya 6e'&lusi
Perancis$ <unyinya: Tidak ada sesuatu yang b&leh dipidana selain karena suatu peraturan
yang ditetapkan dalam undang-undang dan diundangkan secara sah$ !ari peraturan
tersebut, asas ini dimasukkan dalam Pasal . Penal @&de di Perancis, di ba"ah
pemerintahan %ap&le&n (1,71)$ !an dari sinilah asas ini dikenal di <elanda karena
pen#a#ahan %ap&le&n, sehingga mendapat tempat dalam /etb&ek 'an *tra)recht
%ederland 1,,1, Pasal 1 dan kemudian karena adanya asas k&nk&rdansi, antara
%ederland Cndie (Cnd&nesia) dan %ederland, masuklah ke dalam pasal 1 /etb&ek 'an
*tra)recht %ederland Cndie 1B1,$
Perumusan asas legalitas dari '&n 1eurbach dalam bahasa latin tersebut
+
dikemukakan sehubungan dengan te&ri '&m psych&l&gischen 9"ang, yaitu yang
mengan#urkan supaya dalam menentukan perbuatan-perbuatan yang dilarang di dalam
peraturan bukan sa#a tentang macam perbuatan yang dituliskan dengan #elas, tetapi #uga
tentang macam pidana yang dikenakan$ !engan cara demikian ini, maka setiap &rang
yang akan melakukan perbuatan yang dilaran tersebut terlebih dahulu telah mengetahui
pidana apa yang akan di#atuhkan kepadanya #ika nanti perbuatan itu dilakukan$ !engan
demikian, dalam hatinya, lalu terdapat suatu kesadaran atau tekanan untuk tidak berbuat
hal tersebut$ !an kalau akhirnya perbuatan tadi tetap dilakukan, maka apabila pelaku
di#atuhi hukuman atas perbuatan pidana tersebut, dapat dianggap pelaku telah
mneyetu#uinya$ 2adi, pendirian '&n 1euerbach mengenai pidana ialah pendirian yang
terg&l&ng abs&lut$ *ama halnya dengan te&ri pembalasan (retributi&n)$
B. Arti Pasal 1 KUHP
Pasal 1 Kitab Undang undang hukum pidana men#elaskan kepada kita bah"a:
1$ *uatu perbuatan dapat dipidana kalau termasuk ketentuan pidana menurut undang-
undang$ Dleh karena itu pemidanaan berdasarkan hukum tidak tertulis tidak
dimungkinkan8
+$ Ketentuan pidana itu harus lebih dahulu ada daripada perbuatan itu, dengan kata lain,
ketentuan pidana itu harus sudah berlaku ketika perbuatan itu dilakukan$ Dleh karena
itu ketentuan tersebut tidak berlaku surut (asas n&n retr&akti)), baik mengenai
ketetapan dapat dipidana maupun sanksinya$
4$ Pasal 1 ayat (+) KUHP membuat pengecualian atas ketentuan tidak berlaku surut
untuk kepentingan terdak"a$ 2adi, sepan#ang menguntungkan terdak"a, maka
pemberlakuan hukum pidana yang baru (meskipun berlaku surut) dapat
dilaksanakan$ *esuai dengan #i"a pasal 1 KUHP, disyaratkan #uga bah"a ketentuan
undang-undang harus dirumuskan secermat mungkin$ Cni dinamakan asas le: certa$
Undang-undang harus membatasi dengan ta#am dan #elas "e"enang pemerintah
terhadap rakyat (le: certa: undang-undang yang dapat dipercayai)$ Pengertian dasar
pasal 1 KUHP #uga berkaitan dengan #i"a pasal 4 KUHP: hukum pidana harus
di"u#udkan dengan pr&sedur yang memadai dan dengan #aminan hukum$
*at&chid Kertanegara dalam buku Hukum Pidana (kumpulan bahan kuliah) menyatakan
bah"a dengan adanya Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut di atas, maka KUHP tidak dapat
4
berlaku surut$ Hal ini berarti bah"a:
1$ KUHP tidak dapat berlaku surut, ini adalah asas yang pertama$ (dapun rasi&nya
adalah bah"a KUHP harus bersumber pada peraturan tertulis (asas n&n retr&akti))8
+$ KUHP harus bersumber pada peraturan tertulis$
2adi hukum pidana tidak b&leh bersumber pada hukum adat, atau hukum tidak
tertulis lainnya$ 5ain dengan hukum perdata dimana hukum adat masih men#adi salah
satu sumber hukum$ Hal ini bertentangan dengan pendapat Pr&)$ =&el#atn& yang
menyatakan bah"a hukum pidana adat itu masih berlaku "alaupun hanya untuk &rang-
&rang tertentu dan sementara sa#a$ !asarnya adalah Pasal 1. ayat + UU! *ementara$
2adi dengan menin#au ketentuan seperti yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) dimana
tekanan diletakkan pada perkataan sebelumnya, ini menun#ukkan bah"a hukum pidana
tidak dapat berlaku surut$ %amun asas ini bukan merupakan asas yang mutlak$
*ebagaimana telah disampaikan dalam buah pemikiran Pr&)$ =&el#atn& diatas, senada
dengan itu, Pr&)$ *at&chid Kartanegara #uga menyampaikan bah"a terhadap asas n&n
retr&akti) ini, terdapat pengecualian dalam Pasal 1 ayat (+) yang berbunyi: 2ika sesudah
perbuatan dilakukan ada perubahan dalam perundang-undangan, dipakai aturan yang
paling ringan bagi terdak"a$ !ari aturan tersebut, dapat diambil kesimpulan bah"a ayat
ini memungkinkan memperlakukan KUHP secara surut, pada umumnya untuk
memperlakukan undang-undang secara surut (asas retr&akti)), sepan#ang, undang-undang
yang baru ini lebih menguntungkan terdak"a0tersangka$ Untuk memahami aturan ayat (+)
ini, pertama-tama harus dipahami apa yang dimaksudkan dengan perubahan di dalam
undang-undang$ Perubahan dimaksud adalah perubahan yang ter#adi setelah sese&rang
melakukan perbuatan yang dilarang, dan diancam dengan hukuman &leh undang-undang,
dan apabila undang-undang yang baru ini lebih menguntungkan daripada undang-undang
yang lama maka undang-undang yang baru itu harus diperlakukan kepada dirinya$ 2adi
singkatnya, KUHP b&leh diperlakukan surut apabila:
1$ !ilakukan perubahan undang-undang8
+$ Perubahan ini ter#adi setelah sese&rang melakukan perbuatan yang dilarang dan
diancam dengan hukuman &leh undang-undang, akan tetapi sebelum di#atuhkan
hukuman terhadap perbuatan tersebut8
4$ Undang-undang yang baru terlebih menguntungkan bagi si tersangka, daripada
.
undang-undang yang lama$
<erlakunya asas legalitas seperti diuraikan di atas memberikan si)at perlindungan
kepada undang-undang pidana: undang-undang pidana melindungi rakyat terhadap
pelaksanaan kekuasaan yang tanpa batas dari pemerintah$ Cni dinamakan )ungsi
melindungi dari undang-undang pidana$ !isamping )ungsi melindungi tersebut, undang-
undang pidana #uga mempunyai )ungsi instrumental yaitu di dalam batas-batas yang
ditentukan &leh undang-undang, pelaksanaan kekuasaan &leh pemerintah secara tegas
diperb&lehkan$ (sas legalitas ada hubungannya dengan )ungsi instrumental dari undang-
undang pidana tersebut$
C. Asas Legalitas atau asas oportunitas terhadap penuntutan pidana
6umusan ketiga '&n 1euerbach berhubungan dengan )ungsi instrumental undang-
undang pidana dan merupakan a#aran paksaan psik&l&gis$ Undang-undang pidana
diperlukan untuk memaksa rakyat berbuat menurut hukum dengan mengancamkan pidana
terhadap perbuatan yang mela"an hukum$ Tetapi agar ancaman pidana itu mempunyai
e)ek, tiap-tiap pelanggar undang-undang harus sungguh-sungguh dipidana$
Pemerintah #uga harus selalu mempergunakan "e"enang yang diberikan kepadanya
untuk memidana$ !isinipun ada landasar syarat keadilan, yaitu asas persamaan, adalah
tidak adil dalam keadaan yang sama memidana pelanggar undang-undang yang satu
sedangkan yang lain tidak dipidana$ !alam arti keharusan menuntut pidana, asas legalitas
mempunyai banyak pengikut terutama di 2erman, di mana se#ak akhir abad yang lalu titik
t&lak dari tindakan yustisial yaitu setiap pelanggaran undang-undang harus dituntut$ Cni
berlaku #uga di beberapa %egara lain$ *ebaliknya, di perancis, belgia, dan khususnya di
belanda, diikuti asas &p&rtunitas, yang menentukan bah"a pemerintah ber"enang tetapi
tidak berke"a#iban menurut undang-undang untuk menuntut semua perbuatan pidana$
Karena alasan-alasan &p&rtunitas penuntutan itu, dapat #uga diabaikan (lihat pasal 1A3
dan +.+*')$
@acat-cacat dalam penerapan asas legalitas ini karena adanya pertentangan anatara
)ungsi instrumental dan )ungsi melindungi$ Terkadang, demi kepentingan )ungsi
instrumental undang-undang pidana, kadang )ungsi melindungi dikurangi$ *yarat-syarat
perlindungan hukum kepada rakyat tidak b&leh mengikat pemerintah sedemikian rupa
sehingga menghalangi tugas penuntutan pidana yang e)ekti)$ Harus ada penimbangan
-
kepentingan$ !alam hal ini kita berada di lapangan p&litik hukum kriminal$
D. Berbagai Aspek asas legalitas
<iasanya asas legalitas ini dimaksud mengandung tiga pengertian yaitu:
a$ Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih
dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang$ Pengertian yang
pertama tersebut di atas, bah"a harus ada aturan udang-undang #adi aturan hukum
yang tertulis terlebih dahulu, #elas tampak dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, dimana
dalam teks <elanda disebutkan: "etteli#ke stra)bepaling, yaitu aturan pidana dalam
perundangan$ Tetapi dengan adanya ketentuan ini, k&nsekuensinya adalah perbuatan-
perbuatan pidana menurut hukum adat lalu tidak dapat dipidana, sebab di situ tidak
ditentukan dengan aturan yang tertulis$
b$ Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak b&leh digunakan anal&gi0kiyas$
(sas bah"a dalam menentukan ada atau tidaknya perbuatan pidana tidak b&leh
digunakan anal&gi (kiyas) pada umumnya masih dipakai &leh kebanyakan negara-
negara$ !i Cnd&nesia dan di belanda pada umunya masih diakui prinsip ini, meskipun
ada #uga beberapa ahli yang tidak dapat menyetu#ui hal ini, misalnya Ta'erne, P&mpe
dan 2&nkers$ Pr&)$ *ch&lter men&lak adanya perbedaan antara anal&gi dan ta)siran
ekstensi), yang nyata-nyata diperb&lehkan$ =enurut pendapatnya, baik dalam hal
pena)siran ekstensi), maupun dalam anal&gi dasarnya adalah sama, yaitu dic&ba
untuk menemukan n&rma-n&rma yang lebih tinggi (lebih umum atau lebih abstrak)
daripada n&rma yang ada$ Penerapan undang-undang berdasarkan anal&gi ini berarti
penerapan suatu ketentuan atas suatu kasus yang tidak termasuk di dalamnya$
Penerapan berdasarkan anal&gi dari ketentuan pidana atas ke#adian-ke#adian yang
tidak diragukan patut diidana, akan tetapi tidak termasuk undang-undang pidana
memang pernah dilakukan$
c$ (turan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut$ Tiada suatu perbuatan dapat
dipidana kecuali ada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah ada
sebelumnya, semikian pasal 1 ayat (1) KUHP$ (yat (+) pasal tersebut memberikan
pengecualian sebagaimana telah kita bahas diatas$ Peraturan ini berlaku untuk
seluruh pr&ses perkara$ !engan kata lain, kalau dalam "aktu antara putusan tingkat
pertama dan tingkat banding, atau antara banding dengan kasasi ter#adi perubahan
A
undang-undang untuk kepentingan terdak"a, maka Pengadilan %egeri, Pengadilan
Tinggi dan =( harus menerapkan Pasal 1 ayat (+) KUHP$ Cngat, larangan kekuatan
surut hanya berlaku untuk ketentuan pidana$ Tidak untuk peraturan yurisdiksi
misalnya yang berhubngan dengan "e"enang pembentuk undang-undang nasi&nal
lainnya$ %amun *ahetapy menambahkan lagi empat aspek yakni:
d$ Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan$ Pemidanaan #uga harus
berdasarkan undang-undang, tidak diperb&lehkan berdasarkan kebiasaan$ 2adi
pelanggaran atas kaidah kebiasaan dengan sendirinya belum menghasilkan perbuatan
pidana$ =eskipun demikian, tidak berarti bah"a kaidah kaidah kebiasaan tidak
berperan dalam hukum pidana$ (dakalanya undang-undang pidana secara implisit
atau eksplisit menun#uk ke situ$ Penun#ukan secara implisit ke kebiasaan terdapat
pada blanket n&rm seperti dalam pasal +,+ KUHP, dan beberapa delik &misi di mana
tidak berbuat dapat dipidana$ Penun#ukan secara eksplisit ke kebiasaan terdapat
dalam Pasal , /et D&rl&gsstra)recht1B-7 (UU Hukum Pidana Perang di <elanda)
yang mengancam pidana berat terhadap pelanggaran undang-undang dan kebiasaan
perang$ Ketentuan-ketentuan tersebut semuanya melanggar asas le:-certa$
e$ Tidak b&leh ada perumusan delik yang kurang #elas (syarat le: certa)$ *yarat le:
certa berarti bah"a undang-undang harus cukup #elas, sehingga: =erupakan
pegangan bagi "arga masyarakat dalam memilih tingkah lakunya, danUntuk
memberikan kepastian kepada penguasa mengenai batas-batasan ke"enangannya$
%amun tidak mungkin untuk merumuskan semua kelakuan yang patut dipidana
secara cermat dalam undang-undang$ *yarat-syarat yang ditetapkan &leh undang-
undang untuk kelakuan masyarakat, #uga ditentukan berdasarkan kebiasaan yang
berlaku disitu$ /alaupun demikian, &rang berhak untuk bertanya, apakah pembuat
undang-undang dengan pasal , /et D&rl&gsrecht tidak terlampau mudah
menyelesaikan tugasnya$
)$ Tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan undang-undang$ Undang-undang
menentukan pidana-pidana yang di#atuhkan, demikian bunyi Pasal ,B ayat (+) UU!
<elanda$ !engan undang-undang disini adalah undang-undang dalam arti )&rmal$
Pembentuk undang-undang yang lebih rendah dapat membuat peraturan pidana
selama dii9inkan &leh pembentuk undang-undang )&rmal$ Tetapi tidak b&leh
3
menciptakan pidana lain daripada yang telah diatur dan ditentukan &leh undang-
undang dalam artian )&rmal$ Hakim #uga tidak diperb&lehkan men#atuhkan pidana
lain daripada yang telah ditentukan &leh undang-undang$ =eskipun demikian, pasal
1.a KUHP memberikan "e"enang kepada hakim untuk menetapkan syarat khusus
kepada pidana bersyarat berupa ke"a#iban-ke"a#iban tertentu yang harus dipenuhi
&leh terpidana, namun hal ini ada batasan-batasannya$
g$ Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan undang-undang$ Penuntutan
pidana adalah seluruh pr&ses pidana, mulai dari pengusutan sampai pelaksanaan
pidana (bandingkan pasal 1 butir 3 KUH(P: penuntutan adalah tindakan penuntut
umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan negeri yang ber"enang
dalam hal ini menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan
supaya diperiksa dan diputus &leh hakim di sidang pengadilan$ Peraturan acara
pidana dengan demikian sama di seluruh negara$ 5arangan membuat peraturan acara
pidana berlaku untuk pembentuk undang-undang yang lebih rendah, tidak untuk
pembentuk undang-undang dalam arti )&rmal
. !asalah" masalah dalam asas Legalitas
(sas yang berlaku di Cnd&nesia sesuai dengan Pasal 1 (1) KUHPidana 8 le: temp&ris
delicti E n&nretr&akti)$ Cde a"al dari perlindungan H(=$UU %&$ 4B tahun 1BBB khusus
untuk pelanggaran H(= yang berat yaitu ke#ahatan gen&sida dan ke#ahatan terhadap
kemanusiaan (Pasal 3 sampai Pasal B #&$ Pasal 4APasal .+) dan UU %&$ +A tahun+777
tentang Pengadilan H(=
1$ Permasalahan muncul dari :Pen#elasan Pasal . UU %&$ 4B tahun 1BBB 8 hak untuk
tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dapat dikecualikan dalam hal
pelanggaran berat terhadap H(= yang dig&l&ngkan dalam ke#ahatan terhadap
kemanusiaan$ Pasal .4 UU %&$+A Tahun +777 8 pelanggaran H(= yang berat yang
ter#adi sebelum diundangkannya undang-undang ini, diperiksa dan diputus &leh
Pengadilan H(= ad h&c$
=(*(5(H (TU6(% P;6(5CH(% ((TP;6)
,
(sas 5egalitas (Pasal 1 KUHP) merupakan asas mengenai Fruang berlakunya hukum
pidana menurut"aktu? yang terdiri dari + asas,yaitu : tidak berlaku surut (n&n retr&akti))
dan kepastian hukumb$ dengan adanya ketentuan Pasal 1 (+) maka sebenarnya didalam
KUHP sudah ada aturan umummengenai (TP;6, namun dalam realitas penegakan
hukum dan pratek legislati), pernah ramaidipermasalahkan tidak adanya
(TP;6$=(*(5(H =;5;=(H 0 <;6G;*;6%H( (*(* 5;G(5CT(*
(sas 5egalitas dalam KUHP Cnd&nesia bert&lak dari ide0nilai dasar Fkepastian hukum?,
namun dalam realitanya asas legalitas ini mengalami berbagai bentuk
pelunakan0penghalusan atau pergeseran0perluasan dalam menghadapi berbagai tantangan:
Pasal 1(1) !alam praktek yurisprudensi dan perkembangan te&ri, dikenal adanya a#aran
si)at mela"an hukumyang materiil asas legalitas tidak semata-mata diartikan sebagai
nullum delictum sine lege tetapi #uga sebagai nullumdelictum sine ius tidak semata-mata
dilihat sebagai asas legalitas )&rmal tetapi #ugalegalitas materiil, yaitu denganmengakui
hukum adat, hukum yang hidup atau hukum yang tidak tertulis$ KUHP <elanda, Hunani,
P&rtugal E pemaa)an 0 pengampunan hakim$
+$ K&ngres menyadari bah"a dalam prakteknya penghapusan menyeluruh pidana
pen#ara pendektidaklah mungkin, pemecahan yang realistik hanya dapat dicapai
dengan mengurangi #umlahpenggunaannya$
4$ Pengurangan berangsur-angsur itu dengan meningkatkan bentuk-bentuk pengganti 0
alternati) (pidana penga"asan0pr&bati&n, denda, peker#aan diluar lembaga dan
tindakan-tindakan lain yang tidakmengandung perampasan kemerdekaan)
.$ !alam hal pidana pen#ara pendek tidak dapat dihindari, pelaksanaannya harus
terpisah0tersendiri dariyang di#atuhi pidana pen#ara untuk "aktu yang lama dan
pembinaanya harus bersi)at k&nstrukti) dan dalam lembaga terbuka (&pen
instituti&n)$
#. Lemahn$a dan bergesarn$a asas legalitas
B
1$ <entuk pelunakan0penghalusan pertama terdapat di dalam KUHP sendiri, yaitu
dengan adanya Pasal 1 ayat (+) KUHP8
+$ !alam praktik yurisprudensi dan perkembangan te&ri, dikenal adanya a#aran si)at
mela"an hukum yang materiel8
4$ !alam hukum p&siti) dan perkembangannya di Cnd&nesia (dalam Undang-undang
!asar *ementara 1B-78 Undang-undang %&m&r 1 !rt 1B-18 Undang-undang %&m&r
1. Tahun 1B37 #& Undang-undang %&m&r 4- Tahun 1BBB8 dan K&nsep KUHP <aru),
asas legalitas tidak semata-mata diartikan sebagai Inullum delictum sine legeI, tetapi
#uga sebagai Inullum delictum sine iusI atau tidak semata-mata dilihat sebagai asas
legalitas )&rmal, tetapi #uga legalitas materiel, yaitu dengan mengakui hukum pidana
adat, hukum yang hidup atau hukum tidak tertulis sebagai sumber hukum8
.$ !alam d&kumen internasi&nal dalam KUHP negara lain #uga terlihat
perkembangan0pengakuan ke arah asas legalitas materiel (lihat Pasal 1- ayat (+)
Cnternati&nal @&n'enti&n &n @i'il and P&litical 6ight (C@@P6) dan KUHP Kanada di
atas)8
-$ !i beberapa KUHP negara lain (antara lain KUHP <elanda, Hunani, P&rtugal) ada
ketentuan mengenai Ipemaa)an0pengampunan hakimI (dikenal dengan berbagai
istilah, antara lain Irechterli#k pard&nI, I2udicial pard&nI, I!ispensa de penaI atau
I%&nimp&sing &) penaltyI) yang merupakan bentuk I2udicial c&rrecti'e t& the legality
principleI8
A$ (da perubahan )undamental di KUH(P Perancis pada tahun 1B3- (dengan Undang-
undang %&m&r 3--A+. tanggal 11 2uli 1B3-) yang menambahkan ketentuan
mengenai Ipernyataan bersalah tanpa men#atuhkan pidanaI (Ithe declarati&n &) guilt
"ith&ut imp&sing a penaltyI)8
3$ Perkembangan0perubahan yang sangat cepat dan sulit diantisipasi dari Icyber-crimeI
merupakan tantangan cukup besar bagi berlakunya asas Ile: certaI, karena dunia
maya (cyber-space) bukan dunia riel0realita0nyata0pasti$
@&nt&h kasus
17
!alam praktiknya, #ika ada #enis nark&tika yang tidak0belum disebutkan dalam
5ampiran UU %ark&tika, para pelaku ke#ahatan nark&tika tidak dapat dituntut secara
pidana$ *ebagai c&nt&h adalah kasus presenter tele'isi 6a))i (hmad$ !alam artikel
%ark&ba <aru (kan !imasukkan dalam UU %ark&tika disebutkan bah"a barang bukti
9at nark&ba yang ditemukan dalam kasus 6a))i belum terda)tar dalam 5ampiran UU
%ark&tika$ Karena alasan itu, akhirnya 6a))i dibebaskan pada *abtu +3 (pril +714$
Kemudian, dalam artikel <%% K&&rdinasi Terkait Jat <aru dalam Kasus 6a))i di#elaskan
bah"a dalam kasus 6a))i <%% menemukan #enis nark&tika baru, salah satunya katin&na
(cathinone)$
=engenai langkah <%% yang akhirnya membebaskan 6a))i, erat kaitannya dengan
salah satu asas hukum pidana, yakni asas legalitas yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (1)
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi:
Suatu perbuatan hanya merupakan tindak pidana, jika ini ditentukan
lebih dulu dalam suatu ketentuan perundang-undangan.
Pr&)$ !r$ /ir#&n& Pr&d#&dik&r&, *$H$ dalam bukunya yang ber#udul (sas-(sas
Hukum Pidana di Cnd&nesia men#elaskan bah"a dalam bahasa latin, ada pepatah yang
sama maksudnya dengan Pasal 1 ayat (1) KUHP yaitu, %ullum delictum, nulla puna sine
prae'ia lege punali (tiada ke#ahatan, tiada hukuman pidana tanpa undang-undang hukum
pidana terlebih dahulu)$
!ari uraian tersebut #elas bah"a pr&ses hukum terhadap 6a))i tidak dapat
dilan#utkan karena katin&na atau cathin&ne tidak terdapat dalam lampiran UU %ark&tika$
(rtinya, 6a))i tidak bisa dituntut secara pidana karena tidak ada dasar hukum terhadap
status 9at kati&na atau cathin&ne yang tidak terdapat dalam UU %ark&tika tersebut$
Pada sisi lain, Penga#ar Hukum Pidana 1akultas Hukum Uni'ersitas Cnd&nesia,
Gand#ar 5aksmana <&naprapta berpendapat #enis nark&tika baru sudah diatur dan
termasuk g&l&ngan nark&tika yang dimaksud dalam UU %ark&tika$ Ca mengatakan sudah
#elas dalam lampiran UU %ark&tika menyebutkan bah"a segala #enis turunan nark&tika
sebelumnya adalah termasuk nark&tika #uga$ Dleh karena itu, 9at #enis baru merupakan
11
nark&tika #uga$ !alam artikel +-1 2enis %ark&ba <aru, *udah (da !alam UU %ark&tik
yang dimuat laman "artak&ta$tribunne"s$c&m, Gand#ar menyatakan bah"a apabila UU
%ark&tika diterapkan secara kaku, maka bisa sa#a nark&tika #enis baru tidak dapat
diancam dengan UU nark&tika$ Kalau berpegang pada aliran ini, maka Cnd&nesia akan
diserbu #enis nark&tika baru yang mengerikan dan membahayakan$ !emikian menurut
Gand#ar$
!asar hukum:
1$ Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
+$ Undang-Undang %&m&r 4- Tahun +77B tentang %ark&tika
1+