Anda di halaman 1dari 5

1

IPP Contract

Project Finance, Lawyer expect bisa bikin perjanjian dimana resiko
dialokasikan ke pihak2 yang bisa menanggungnya. PF itu tujuannya
revenue untuk bisa stabil. Salah satu PF yg sering, Power Sector,
karena:
1. Investasi besar
2. Keteribatan pemerintah tinggi
3. Pengembang mengalokasikan resiko

Membahas UU Listrik:
1. UU 1985
2. UU 2002 Terlalu liberal, pengembang bisa menentukan
sendiri harga listrik. PLN head to head dengan pengembang
menjual listrik ke masyarakat Kemudian dicabut kembali,
hanya beberapa bulan berlaku
3. 2009 Less ambisius, tidak terlalu terbuka/tertutup.
Pdadasarnya memberikan authority yang lebih besar kepada
daerah. Daerah di expect untuk memprepare rancangan
kebutuhan listrik, daerh memberikan lisensi kepada
perusahaan listrik di daerah. UU ini mulus dan tidak di revoke.
Disini PLN haknya sebagai pemegang kuasa dcabut, skrg PLN
status nya sama dengan pengembang biasa. Perbedaannya PLN
mendapatkan priority right. Dimana pengembangan daerah
kalo PLN merasa mampu dikembangkan oleh PLN.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik. PLN gabikin sendiri. Skrg PLN
banyak kerjasama sama swasta IPP Prohect. IPP ini pada dasarnya
2
pengembang (generators) menjual listrik yang di hasilkan ke PLN. Ini
yang dibahas hari ini:

IPP (Indpendent Power Producer) Project Pengembang
mengingatkan diri ppa dengan PLN untuk menghasilkan listrik dan
menjualnya ke PLN.

PLN bikin power plan, menyalurkan, transisi (kabel besar), distribusi
(kabel kecil), penjualan. Untuk bisa melakukan ini PLN butuh
business area. Nah wilayah usaha ini cuma satu entity. Kalo
profitable, dan merasa mampu, PLN bisa mengcover ya diambil PLN.
Kalo merasa ga mampu PLN bisa memberikan sebagian wilayah di
Cikarang dan beberapa kawasan industry


Wilayah kerja PLN dipotong, nah pengembang swasta ini bisa jual
langsung ke Masyarakat. Hari ini ga bahas penjualan langsung ini.
Yang dibahas adalah yg paling major, dimana PLN merasa mampu
tapi minta bantuan swasta. Dimana PLN membeli listrik lewat IPP.
Lalu baru jual ke masyrakat. Untuk bisa menjual Dibutuhkan lisensi
beda yaitu IUPTL terintegrasi.

Revenue sustainable Bagaimana mengalokasikan resiko, lender
jadi comfortable, sehingga tidak ada hal yang mengganngu alur dari
revenue.

Lender liat terms nya. Dia lihat sumber utama dari PF itu apa.
Pokoknya dia bisa dapet keuntungan tanpa gangguan.
3

PPA Antara PLN dan pengembang

PPA mmuat kondisi2 dimana PPA bisa efektif. Jadi sebelum PPA
efektif, pengembang project finance stepnya:
1. PLN dan pengembang ttd PPA Mereka dikasi waktu 1 tahun
biasanay untuk cari dana ke lender
2. Cari lender buat project, ke Bank
3. Kalo apaet pendanaan ada tahap Financial Close, dimana
proyek ini mulai berjalan (udah ada lender, lender ttd
perjanjian, lender ok). Pengembang mulai konstruksi
4. Kontruksi dikerjakan oleh EPC Contractor, dan mulai
konstruksi. Konstruksi ini pembangunan Power Plan
Periode Konstruksi.
5. Setelah konstruksi selesai, pengembang melakukan
pengetesan. Power Plannya bisa berjalan atau ga.
6. Udah jadi, pengembang mulai jual listrik ke PLN. Biasanya PPA
25-30 tahun
7. Diakhir periode dikasi ke PLN, bisa jadi milik pengembamg,
atau diperpanjang. Tergantung arrangement.

Yang harus diperhatikan: semua resiko di tiap tahap, mana yg bisa
menggangu revenue. Pokoknya di PF cash is the king. Lender pikirin
Cash dan revenue. REsiko harus dialihkan dimana di projrct company
0 risk. Dan ini kan project lama, maka pihak yg terlibat tuh banyak
bgt.

4
Kalo dari penanaman modal sing, UU inestasi bilang liat AD atau
sampai selesai. Kalo investasi di power project dan PF emang
konsepnya entitiy yg mengerjakan secara khusus. Da;am F, sponsor
menciptakan eskipi sendiri, sehingga dia punya dana khusus. Dana
dialokasikan untuk proyek, ditaro di subsidiary tertentu. Itu yg
namanya Project Company. Dan biasanya ada subsidiary nya. Intinya,
lender ga bisa meminta pengembalian. Kalo project gagal ga bisa
ngejar investor, kan limited resources.

Di PF, proporsinya seminimal mungkin, mengsecure investor. Dan
resiko dialokasikan khusus untuk project itu aja. Karena project kan
banyak Negara biasnaya ga cuma Indonesia.

Untuk yang power project

Nilai buku 25 tahun powerplan biasnaya nilai buku cuma Rp 1.
Soalnya kan depresiasi terus walaupun masih bisa. Tapi nilai
bukunya abis. Kalo diperpanjang sebuh izi perpanjang juga, Build
Operation Own/transfer/atau. Jadi tergantung.

Yang dibangun:
1. Pembangkit tenaga listrik itu sendiri
2. Jaringan transmisi

Contoh Risk Allocation Sample
1. Identify Resiko
a. Masa Konstruksi
Mengalihkannya?
5

PF Lender bisa DD contaractor. Milih contractor yg bonafit.

1. Ada delay, alah kontraktor
2. Pengembang juga cari kontraktor yg bener
3. Kontraktor bangun powerplan, misalnya ga sampe target yg
dijanjikan, ntar kan ada resiko revenue berkurang. Ini sama,
berarti under perom ditaro di EPC contract.

Biaya kontrsuksi meningkat diluar prediksi. Bagaiamana? Dengan
fixed cost. Ntar kontraktor yg ngasih fixed cost.

Yg wajib bayar premi Pengembang. Premi itu bisa dihitung. Yg
paling penting ALOKASI RESIKO.