Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah energi merupakan salah satu isu penting yang sedang hangat dibicarakan.
Semakin berkurangnya sumber energi, penemuan sumber energi baru, pengembangan
energi-energi alternatif, dan dampak penggunaan energi minyak bumi terhadap
lingkungan hidup menjadi tema-tema yang menarik dan banyak didiskusikan. Pemanasan
global yang diyakini sedang terjadi dan akan memasuki tahap yang mengkhawatirkan
disebut-sebut juga merupakan dampak penggunaan energi minyak bumi yang merupakan
sumber energi utama saat ini.
Dampak lingkungan dan semakin berkurangnya sumber energi minyak bumi
memaksa kita untuk mencari dan mengembangkan sumber energi baru. Salah satu
alternatif sumber energi baru yang potensial datang dari energi nuklir. Meski dampak dan
bahaya yang ditimbulkan amat besar, tidak dapat dipungkiri bahwa energi nuklir adalah
salah satu alternatif sumber energi yang layak diperhitungkan.
Isu energi nuklir yang berkembang saat ini memang berkisar tentang penggunaan
energi nuklir dalam bentuk bom nuklir dan bayangan buruk tentang musibah hancurnya
reaktor nuklir di Chernobyl. Isu-isu ini telah membentuk bayangan buruk dan
menakutkan tentang nuklir dan pengembangannya. Padahal, pemanfaatan yang bijaksana,
bertanggung jawab, dan terkendali atas energi nuklir dapat meningkatkan taraf hidup
sekaligus memberikan solusi atas masalah kelangkaan energi.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian energi nuklir
2. Mengetahui pemanfaatan nuklir sebagai energi alternatif
3. Mengetahui potensi energi nuklir di Indonesia
4. Mengetahui tingkat bahaya nuklir

1.3 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian energi nuklir;
2. Bagaimana pemanfaatan energi nuklir sebagai energi alternatif;
3. Bagaimana potensi energi nuklir di Indonesia;
4. Bagaimana tingkat bahaya nuklir;
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Energi Nuklir
Nuklir berarti bagian dari atau yang berhubungan dengan nukleus atom (inti atom).
Nuklir adalah sebutan untuk bentuk energi yang dihasilkan melalui reaksi inti, baik itu
reaksi fisi (pemisahan) maupun reaksi fusi (penggabungan). Sumber energi nuklir yang
paling sering digunakan untuk PLTN adalah sebuah unsur radioaktif yang bernama
Uranium.
Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru
dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fusi juga
menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fusi nuklir
adalah Lithium dan Hidrogen(terutama Lithium-6, Deuterium, Tritium). Reaksi fisi
nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan
menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi
elektromagnetik. Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir
adalah Plutonium dan Uranium (terutama Plutonium-239, Uranium-235).







Gambar 1. Reaksi Fisi

Pada reaksi fisi atom uranium (U-235) (hitam merah) memiliki inti yang tidak stabil
ketika ada neutron (hitam) yang ditembakkan pada inti atom tersebut, maka inti atom
uranium akan membelah menjadi dua buah inti atom, yakni atom Barium (Ba-141) dan
atom Kripton (Kr-92) serta tiga neutron (warna hitam di kanan).











Gambar 2. Reaksi Fusi

Reaksi jenis ini tidak terjadi secara alamiah di permukaan bumi, namun merupakan
prinsip kerja pembakaran Hidrogen di pusat matahari serta bintang-bintang. Terdapat
banyak tipe reaksi fusi yang dapat terjadi di matahari yang sering disebut siklus proton-
proton, mulai dari penggabungan dua inti Hidrogen menjadi inti Deuterium hingga
penggabungan inti Deuterium dan inti Tritium. Reaksi ini membutuhkan kondisi tertentu
yang hanya terdapat di dalam inti matahari ataupun bintang-bintang, misalnya tekanan
yang sangat tinggi. Di dalam inti matahari, tekanan yang sangat tinggi dihasilkan oleh
gaya gravitasi. Gaya gravitasi pada pusat matahari haruslah sangat besar untuk
mempertahankan strukturnya, mengingat komposisi matahari kebanyakan terdiri dari gas
Hidrogen. Reaksi fusi di dalam teras reaktor membutuhkan Deuterium dan Tritium
sebagai bahan bakar, yang jika bergabung pada kondisi tertentu akan menghasilkan inti
Helium yang stabil disertai sebuah neutron yang membawa sebagian besar energi hasil
fusi.
2.2. Pemanfaatan Nuklir sebagai Energi Alternatif
2.2.1 Prinsip Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah stasiun pembangkit listrik thermal dimana
panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik.
PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika
daya keluarannya konstan (meskipun boiling water reaktor dapat trun hingga setengan
dayanya ketika malam hari). Daya yang dibangkitkan perunit pembangkit berkisar dari 40
Mwe hingga 1000 MWe.
Pada dasarnya sistem kerja dari PLTN sama denga pembangkit listrik konvensional,
yaitu air diuapkan didalam suatu ketel melalui pembakaran. Uap yang dihasilkan dilarkan
keturbin yang akan bergerak apabila ada tekana uap. Perputaran turbin digunakan untuk
menggerakan generator, sehingga menghasilkan tenaga listrik.
Pada PLTN panas yang digunakan untuk menghasilkan uap yang sama, dihasilkan
dari reaksi pembelahan inti bahan fosil (uranium) dalam reaktor nuklir. Sebagai pemindah
panas biasa digunakan air yang disirkulasikan secara terus menerus selama PLTN
beroperasi. Proses pembangkit yang menggunakan bahan bakar uranium ini tidak
melepaskan partikel seperti CO2, SO2, atau Nox juga tidak mengerluarkan asap atau debu
yang mengandung logam berat yang dilepas ke lingkungan. Oleh karean itu PLTN
merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Limbah radioaktif yang dihasilkan
dari pengoperasian PLTN adalah berupa elemen bakar bekas dalam bentuk padat. Elemen
bakar bekas ini untuk sementara bisa di simpan di lokasi PLTN

2.2.2 Jenis-Jenis Reaktor Nuklir
2.2.2.1 LWR (Light Water Reactor) / Reaktor air Ringan
Reaktor air ringan merupakan reaktor nuklir yang menggunakan H
2
O
dengan kemurnian tinggi sebagai bahan moderator sekaligus
pendingin reaktor. Reaktor jenis ini pertama kali di kembangkan di Amerika
Serikat dan Rusia. Reaktor ini terdiri atas Reaktor Air tekan atau
PWR (Pressurized Water Reactor) dan Reaktor Air Didih atau BWR
(Boiling Water Reactor) dengan jumlah yang dioperasikan masing-masing
mencapai 52 % dan 21,5 % dari total reaktor daya nuklir yang beroperasi.
Sedang sisanya sebesar 26,5 % terdiri atas berbagai type reaktor daya
lainnya.
a. PWR (Presured Water Reactor) / Reaktor Air Tekan
Reaktor Air Tekan juga menggunakan H2O sebagai pendingin
sekaligus moderator. Bedanya dengan Reaktor Air Didih adalah
penggunaan dua macam pendingin, yaitu pendingin primer dan
sekunder. Panas yang dihasilkan dari reaksi fisi dipakai untuk
memanaskan air pendingin primer. Dalam reaktor ini dilengkapi dengan
alat pengontrol tekanan (pessurizer) yang dipakai untuk mempertahankan
tekanan sistim pendingin primer. Pada pendigin primer memakai air dan
dipanaskan inti sampai 600F tetapi air ini tidak mendidih karena berada
didalam bejana yang bertekanan tinggi (sebesar 2250 psi). Air ini
dimasukkan kedalam pembangkit uap (satu atau dua) dengan tekanan 1000
psi, dan suhu 500F. Setelah melalui turbin uap dikembalikan ke kondensor.
Sistim pressurizer terdiri atas sebuah tangki yang dilengkapi dengan
pemanas listrik dan penyemprot air. Jika tekanan dalam teras
reaktor berkurang, pemanas listrik akan memanaskan air yang terdapat
di dalam tangki pressurizer sehingga terbentuklah uap tambahan yang akan
menaikkan tekanan dalam sistim pendingin primer. Sebaliknya apabila
tekanan dalam sistim pendingin primer bertambah, maka sistim
penyemprot air akan mengembunkan sebagian uap sehingga tekanan
uap berkurang dan sistim pendingin primer akan kembali ke keadaan
semula. Tekanan pada sistim pendingin primer dipertahankan pada posisi
150 Atm untuk mencegah agar air pendingin primer tidak mendidih pada
suhu sekitar 300 C. Pada tekanan udara normal, air akan mendidih dan
menguap pada suhu 100 C.
Dalam proses kerjanya, air pendingin primer dialirkan ke sistim
pembangkit uap sehingga terjadi pertukaran panas antara sistim
pendingin primer dan sistim pendingin sekunder. Dalam hal ini antara
kedua pendingin tersebut hanya terjadi pertukaran panas tanpa terjadi kontak
atau percampuran, karena antara kedua pendingin itu dipisahkan oleh
sistim pipa. Terjadinya pertukaran panas menyebabkan air pendingin
sekunder menguap. Tekanan pada sistim pendingin sekunder
dipertahankan pada tekanan udara normal sehingga air dapat menguap
pada suhu 100 C. Uap yang terbentuk di dalam sistim pembangkit uap ini
selanjutnya dialirkan untuk memutar turbin.
Pada Reaktor Air Tekan perputaran sistim pendingin primernya betul-
betul tertutup, sehingga apabila terjadi kebocoran bahan radioaktif di
dalam teras reaktor tidak akan menyebabkan kontaminasi pada turbin.
Reaktor Air Tekan juga mempunyai keandalan operasi dan keselamatan
yang sangat baik. Salah satu faktor penunjangnya adalah karena reaktor
ini mempunyai koefisien reaktivitas negatif. Apabila terjadi kenaikan suhu
dalam teras reaktor secara mendadak, maka daya reaktor akan segera
turun dengan sendirinya. Namun karena menggunakan dua sistim
pendingin, maka efisiensi thermalnya sedikit lebih rendah dibandingkan
dengan Reaktor Air Didih.









Gambar 3. Reaktor Air Tekan
b. BWR (Boiling Water Reactor) / Reaktor Air Mendidih
Reaktor jenis ini menggunakan air biasa (H
2
O) sebagai moderator maupun
pendinginnya, sehingga termasuk kelompok reaktor air biasa / ringan. Pada reaktor
air didih ini, panas hasil fisi dipakai secara langsung untuk menguapkan air
pendingin dan uap yang terbentuk langsung dipakai untuk memutar turbin.
Turbin tekanan tinggi menerima uap pada suhu sekitar 290 C dan tekanan sebesar
7,2 MPa. Sebagian uap diteruskan lagi ke turbin tekanan rendah. Dengan sistim
ini dapat diperoleh efisiensi thermal sebesar 34 %. Efisiensi thermal ini
menunjukkan prosentase panas hasil fisi yang dapat dikonversikan menjadi
energi listrik. Setelah melalui turbin, uap tersebut akan mengalami proses
pendinginan sehingga berubah menjadi air yang langsung dialirkan ke teras
reaktor untuk diuapkan lagi dan seterusnya. Dalam reaktor ini digunakan bahan
bakar U
235
dengan tingkat pengayaannya 3-4 % dalam bentuk UO
2
.










Gambar 4. Reaktor Air Didih
. 2.2.2.2 HWR (Heavy Water Reactor) / Reaktor Air Berat
Reaktor ini mempergunakan air berat (D
2
O, D = Deuterium sebagai
moderatornya. Jenis reaktor ini sering disebut CANDU (Canada Deuterium
Uranium) dan dikembangkan oleh Atomic Energi Commission dari Kanada.
Bilamana pada reaktor air biasa moderator (H
2
O) berada dalam sebuah bejana,
pada reaktor ini moderatornya (D
2
O) berada didalam pipa-pipa tekanan yang
besar (calandria). Selanjutnya dapat pula dikemukakan, bahwa sebuah reaktor air
berat uranium dioksida alam (UO
2
) dapat dipakai sebagai bahan bakar. Reaktor ini
menggunakan bahan bakar uranium alam sehingga harus digunakan air berat yang
penampang lintang serapannya terhadap neutron sangat kecil. Seperti halnya
Reaktor Air tekan, Reaktor CANDU juga mempunyai sistim pendingin primer
dan sekunder, pembangkit uap dan pengontrol tekanan untuk mempertahankan
tekanan tinggi pada sistim pendingin primer. D
2
O dalam reaktor CANDU hanya
dimanfaatkan sebagai sistim pendingin primer, sedang sistim pendingin
sekundernya menggunakan H
2
O.
Dalam pengoperasian reaktor CANDU, kemurnian D
2
O harus dijaga
pada tingkat 95-99,8 %. Air berat merupakan bahan yang harganya sangat mahal
dan secara fisik maupun kimia tidak dapat dibedakan secara langsung dengan
H
2
O. Oleh sebab itu, perlu adanya usaha penanggulangan kebocoran D
2
O baik
dalam bentuk uap maupun cairan. Aliran ventilasi dari ruangan dilakukan secara
tertutup dan selalu dipantau tingkat kebasahannya, sehingga kemungkinan adanya
kebocoran D
2
O dapat diketahui secara dini.







Gambar 5. Reaktor Air Berat
2.2.3. Keuntungan dan Kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
2.2.3.1 Keuntungan PLTN
1. Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Gas rumah kaca akan dihasilkan ketika genarot diesel darurat dinyalakan.
2. Tidak mencemari udara.
Tidak menghasilkan gas-gas berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida,
aerosol, merkuri, nitrogen oksida, partikulat, atau asap fotokimia.
3. Sedikit menghasilkan limbah padat
4. Biaya bahan bakar rendah
Hanya sedikit bahan bakar yang diperlukan
5. Ketersediaan bahan bakar yang melimpah
2.2.3.2. Kekurangan PLTN
1. resiko kecelakaan nuklir
Kecelakaan nuklir terbesar adalah kecelakaan Chernobylcontainment building.
Bencana Chernobyl adalah kecelakaan nuklir yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 di
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl di Republik Sosialis Soviet (waktu itu bagian
dari Uni Soviet), sekarang di Ukraina. Ini merupakan kecelakaan nuklir terburuk dalam
sejarah.terjadi ledakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang menggemparkan dunia,
chernobyl , Ukraina. Akibat kejadian tersebut sampai sekarang kota chernobyl masih dijuluki
sebagai kota mati. Penyebab terjadinya sudah diketahui dan dampak yang ditimbulkan begitu
mengerikan.
reaktor nomor empat di PLTN Chernobyl yang terletak di Uni Soviet di dekat Pripyat di
Ukraina meledak. Akibatnya, kebakaran dan radioaktif menyebar.
Tragedi ini menyebabkan kontaminasi radiasi meluas di Ukraina, hingga sampai ke Belarus
dan Rusia. Butuh dua hari bagi Uni Soviet untuk membeberkan informasi mengenai ledakan
ini kepada publik. Tragedi ini juga membuka mata dunia, melalui Badan Energi Atom
Internasional (IAEA), bahwa dunia perlu menjalin kerjasama dan berbagai informasi dalam
penggunaan energi nuklir.
Hingga saat ini, rehabilitasi untuk korban-korban Chernobyl masih terus berlanjut. Rusia,
Ukraina dan Belarus masih terus dibebani dengan biaya dekontaminasi dan perawatan
kesehatan bagi korban. Korban tewas tragedi ini 50 orang, terdiri dari para staf reaktor dan
tim penyelamat. Kecelakaan ini merupakan salah satu bencana nuklir yang terdahsyat sampai
saat ini. Kota ini seperti terhenti pada 1986 dan kini seperti museum hidup. Semua dibiarkan
dan ditinggalkan, tumbuh sendiri selama 26 tahun. Chernobil (Pripyat) seperti tersembunyi di
dalam belantara.
Tidak ada kepastian berapa sebenarnya jumlah korban akibat tragedi Chernobyl. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka 9.000 orang yang menjadi korban akibat radiasi.
Organisasi lingkungan hidup Greenpeace memperkirakan jumlah korban bisa mencapai
93.000 orang.
Ratusan dari ribuan orang berhasil dievakuasi. PBB menyatakan, sekitar 7 juta orang masih
hidup di wilayah berbahaya karena memiliki tingkat radiasi di luar ambang batas aman. Hasil
yang didapat sampai saat ini adalah kanker ganas pada anak-anak yang baru lahir, kematian
dalam jangka waktu yang diprediksi bagi para pekerja saat membereskan reruntuhan ledakan
di kota itu, mutasi genetik luar biasa turun temurun yang menyebar di hampir sebagian dari
wilayah Eropa.
Tabel 3 Beberapa kecelakaan yang pernah terjadi pada PLTN di beberapa lokasi Industri
di dunia yang berkisaran pada tahun 1976 1986.







2. Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung atau terkontaminasi
radionuklida pada konsentrasi atau aktivitas yang melebihi batas yang diijinkan
(Clearance level) yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Limbah
radioaktif tingkat tinggi yang dihasilkan dapat bertahan hingga ribuan tahun.

2.3 Potensi Energi Nuklir di Indonesia
2.3.1 Sejarah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Indonesia
Sejarah pemanfaatan energi nuklir melalui Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
dimulai beberapa saat setelah tim yang dipimpin Enrico Fermi berhasil
memperoleh reaksi nuklir berantai terkendali yang pertama pada tahun 1942.
Reaktor nuklirnya sendiri sangat dirahasiakan dan dibangun di bawah stadion olah
raga Universitas Chicago. Mulai saat itu manusia berusaha mengembangkan
pemanfaatan sumber tenaga baru tersebut. Namun pada mulanya, pengembangan
pemanfaatan energi nuklir masih sangat terbatas, yaitu baru dilakukan di Amerika
Serikat dan Jerman. Tidak lama kemudian, Inggris, Perancis, Kanada dan Rusia
juga mulai menjalankan program energi nuklirnya.
Listrik pertama yang dihasilkan dari PLTN terjadi di Idaho, Amerika Serikat,
pada tahun 1951. Selanjutnya pada tahun 1954 PLTN skala kecil juga mulai
dioperasikan di Rusia. PLTN pertama di dunia yang memenuhi syarat
komersial dioperasikan pertama kali pada bulan Oktober 1956 di Calder Hall,
Cumberland. Sistim PLTN di Calder Hall ini terdiri atas dua reaktor nuklir yang
mampu memproduksi sekitar 80 juta Watt tenaga listrik. Sukses pengoperasian
PLTN tersebut telah mengilhami munculnya beberapa PLTN dengan model yang
sama di berbagai tempat. Proses rencana pembangunan PLTN di
Indonesia cukup panjang. Tahun 1972, telah dimulai pembahasan awal dengan
membentuk Komisi Persiapan Pembangunan PLTN. Komisi ini kemudian
melakukan pemilihan lokasi dan tahun 1975 terpilih 14 lokasi potensial, 5 di
antaranya terletak di Jawa Tengah. Lokasi tersebut diteliti Badan Tenaga Nuklir
Nasional (BATAN) bekerjasama dengan NIRA dari Italia. Dari keempat belas
lokasi tersebut, 11 lokasi di pantai utara dan 3 lokasi di pantai selatan.
2.3.2 pemanfaatan Tenaga Nuklir di Indonesia
Berlawanan dengan kebanyakan pendapat orang, tenaga nuklir memberikan banyak
manfaat bagi peradaban manusia. Berbagai macam penggunaan tenaga nuklir muncul
dalam kehidupan kita. Selama lebih dari seratus tahun, tenaga nuklir telah
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Kontribusi nyata tampak dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Dalam bidang
pertanian, kita menggunakan teknik nuklir untuk menghasilkan varietas padi unggul
dan murah, sehingga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi kita. Selain itu, teknologi
radiasi juga telah banyak digunakan industri, terutama untuk memeriksa volume
produk minuman dalam kemasan, ketebalan kertas, kualitas pipa dan lain sebagainya.
Sinar radiasi juga dapat digunakan sebagai teknik perunut, diagnosa proses industri,
analisa komposisi dan uji bahan tak rusak. Radiasi sinar gamma juga banyak
digunakan untuk membasmi bakteria dalam proses sterilisasi makanan. Di berbagai
belahan dunia, tenaga nuklir telah dan akan menjadi alternatif penting dalam
menyediakan tenaga listrik tanpa menghasilkan gas rumah kaca, sehingga bisa
mengurangi efek rumah kaca di planet kita ini.
Memandang hal di atas, pemerintah Indonesia, bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat,
membuat UU No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, yang menunjukkan pentingnya
energi nuklir bagi kesejahteraan kita dan perlunya keselamatan dalam penggunaanya. Usaha
untuk meningkatkan manfaat dari energi nuklir dilaksanakan oleh Badan Tenaga Nuklir
Nasional (BATAN), sedangkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) diberikan
wewenang dan tanggung jawab melalui tugas pengawasan untuk meminimalisasi resiko yang
berkaitan dengan penggunaan tenaga nuklir di Indonesia.
Pengawasan penggunaan tenaga nuklir dimaksudkan untuk menjamin pemakaian yang baik
dan benar dengan tetap menjaga penggunaan khusus untuk tujuan damai dan memberikan
manfaat dan kesejahteraan pada masyarakat seluas-luasnya.
2.4 tingkat bahaya nuklir
International Atomic Energy Agency (IAEA) telah memperkenalkan 8 level skala
kejadian kecelakaan nuklir agar menjadi informasi yang tepat terhadap masyarakat
luas. Level level tersebut dikatagorikan berdasarkan tingkatan pengaruh/efek baik
dalam PLTN itu sendiri maupun keluar PLTN. Delapan level tersebut adalah :


Level 7
Level ini mengkatagorikan kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang sangat besar
terhadap kesehatan dan lingkungan di dan sekitar PLTN. Yang termasuk dalam level ini
adalah kecelakaan Chernobyl yang terjadi di Negara bekas Uni Soviet, sekarang Ukraina
pada tahun 1986. Level ini bisa disamakan dengan kasus kecelakaan non-nuklir di Bhopal,
India pada tahun 1984 dimana ribuan orang dikabarkan meninggal dunia.
Level 6
Pada level ini, kecelakaan nuklir diindikasikan dengan keluarnya radioaktif yang cukup
signifikan, baik PLTN maupun kegiatan industri yang berbasis raioaktif. Contohnya adalah
kecelakaan di Mayak, bekas Negara Uni Soviet pada tahun 1957.
Level 5
Level ini mengindikasikan kecelakaan yang mengeluarkan zat radioaktif yang terbatas,
sehingga memerlukan pengukuran lebih lanjut. Contoh dari level ini yaitu
kecelakaan/kebakaran pada rekator nuklir di Windscale, Inggris tahun 1957. Contoh lainnya
yaitu kecelakaan di Three Mile Island yang merusak inti reaktor pada tahun 1979
Level 4
Level ini mengelompokkan kecelakaan nuklir yang mengakibatkan efek yang kecil terhadap
lingkungan sekitar, inti reaktor dan pekerja (sesuai dengan batas limit yang diizinkan).
Beberapa contoh kejadian kecelakaan dalam level ini yaitu kecelakaan pada :
Sellafield (Inggris), terjadi sebanyak 5 kali dari 1955 sampai 1979
PLTN Saint-Laurent (Perancis) tahun 1980
Buenos Aires (Argentina) tahun 1983
PLTN Tokaimura (Jepang ) tahun 1999.
Level 3
Kecelakaan yang dikelompokkan dalam level ini yaitu kecelakaan yang mengakibatkan efek
yang sangat kecil dimana masih dibawah level/batas yang diizinkan, namun tidak ada
perangkat keselamatan yang memadai. Contoh dari kecelakaan level ini yaitu kecelakaan
pada THORP plant Sellafield di Inggris tahun 2005.
Level 2
Kecelakaan pada level ini tidak mengakibatkan efek apapun keluar larea, namun tetap ada
kontaminasi didalam area. Level ini juga mengindikasikan kecelakaan yang disebabkan oleh
kegagalan untuk memenuhi syarat syarat keselamatan yang seharusnya ada. Contoh
kecelakaan dalam level ini adalah kecelakaan pada PLTN Forsmark Swedia pada bulan Juli
2006 yang lalu.
Level 1
Pada level ini, dikatagorikan kecelakaan yang merupakan anomaly dari pengoperasian sistem
.
Level 0
Pada level ini tidak memerlukan tingkat keselamatan yang signifikan dan relevan. Disebut
juga sebagai out of scale.









Anonim. 2009. Reaksi Fusi dan Reaksi Fisi. http://autosreview-master-sains.blogspot.com.
[15 Oktober 2014]
Thadmin, Irham dkk. 2012. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. http://www.slideshare.net. [
15 Oktober 2014]
Julio. 2013. Ledakan Reaktor Nuklir di Chernobyl. www.detik.com [15 Oktober 2014]