Anda di halaman 1dari 12

HASIL

1. Uji Musin


2. Uji Ion CNS


3. Uji Hidrolisisis Oleh enzim Amilase
material Tabung I Tabung A
Sebelum reaksi 0,5 ml amilum + 0,5 air
ludah
0,5 ml amilum + 0,5 ml air
ludah
Reaksi

Kocok dan ambil setelah
1 menit
Kocok dan ambil setelah 1
menit
10 fehling A + 10 fehling
B kocok dan didihkan
Tuangkan dalam testplate +
2 sampai 3 tetes kan lugol
Setelah reaksi Biru sapphire ada
endapan warna orange
Biru abu abu

Material Tabung II Tabung B
0,5 ml amilum + 0,5 air
ludah
0,5 ml amilum + 0,5 air
ludah
Kocok dan ambil setelah
3 menit
Kocok dan ambil setelah 3
menit
10 fehling A + 10
Fehling B kocok dan
didihkan
Tuangkan dalam testplate +
2 sampai 3 tetes larutan
lugol
Biru abau abu ada
endapan warna orange
Biru sapphire

Material Tabung III Tabung C
Sebelum 0,5 ml amilum + 0,5 ml
air ludah
0,5 ml amilum + 0,5 ml air
ludah
Reaksi Kocok dan ambil setelah
5 menit
Kocok dan ambil setlah 5
menit
10 fehling A + 10 fehling
B kocok dan didihkan
Tuangkan dalam testplate +
2 sampai 3 tetes lugol
Setelah reaksi


Biru sapphire ada
endapan warna orange


Biru abu abu



4. Pengaruh Temperatur terhadap Kerja Enzim Amilase



Perendaman Perendaman Perendaman
Air Dingin Air Ledeng Air Panas


1 ml air ludah+amilum 1 ml air ludah+amilum 1 ml air ludah+amilum
+ fehling A+fehling B + fehling A+fehling B + fehling A+fehling B
(Air Dingin) (Air Ledeng) (Air panas)

Tabung
Perlakuan
Lugol Fehling A + Fehling B
(Amilim + filtra saliva)
Air panas
+
endapan berwarna merah
kebiruan
(Amilim + filtra saliva)
Air ledeng
++
endapan berwarna kuning
tua
(Amilim + filtra saliva)
Air dingin
+++
endapat berwarna merah
orange yang cukup
banyak


5. Percobaan Enzim Lipase

Bahan yang di uji Hasil
Air Liur -
Duodenum +
Lambung -
Pankreas +

6. Pengaruh Empedu Terhadap Lemak

Percobaan Warna Molekul
Sebelum Hijau Pekat Besar
Sesudah Hijau Kecil


PEMBAHASAN
1. Uji Musin
Pada percobaan 1 praktikan melakukan percobaan terhadap musin. Musin
merupakan lendir yang dihasilkan oleh jaringan epitel di sepanjang saluran
pencernaan pada vertebrata. Musin tak lain adalah protein yang terglikosilasi
(Glycocylated protein), artinya musin merupakan sebuah kompeks protein
yang dilapisi gula dan memiliki massa molekul yang tinggi. Musin yang
dihasilkan oleh jaringan epitel pada dinding rongga mulut kemungkinan besar
akan bercampur dengan saliva.Musin merupakan lendir yang kental dan licin
dari pada air biasa dan mengandung enzim amilase. Musin berfungsi
membasahi makanan dan sebagai pelumas yang memudahkan atau
memperlancar proses menelan makanan. Didalam musin mengandung protein
dan NaHCO
3
. Dalam saliva terdiri dari 99,5% H
2
O serta 0,5% protein dan
elektrolit.
Saliva biasanya mengandung peptida tetapi tidak mutlak ada. Hal ini
dikarenakan makanan setiap orang berbeda-beda. Ada yang mengandung
protein dan ada yang tidak. Pembentukan suatu ikatan amida antara dua asam
amino atau lebih, menghasilkan peptida. Reagen yang digunakan untuk
mengetahui adanya ikatan peptida yaitu biuret. Reagen biuret adalah larutan
berwarna biru terang yang akan berubah menjadi biru dongker sampai
keunguan ketika berikatan dengan bahan yang mengandung protein. Ketika ion
tembaga (Cu
2+
) dari reagen biuret bereaksi dengan ikatan peptide (-CO dan
NH) yang ada pada rantai polipeptida penyusun protein, maka akan terbentuk
kompleks tembaga (copper complex) berwarna keunguan. Reaksi tersebut
dapat berlangsung dalam suasana basa, sehingga NaOH yang merupakan basa
kuat berperan dalam pembentukan suasana basa yang diciptakn dengan adanya
NaOH, sehingga kompleks tembaga tersebut dapat terbentuk. Oleh karena itu,
setelah air ludah bercampur dengan biuret, maka terbentuk warna ungu muda.
Hal ini membuktikan bahwa didalam saliva terkandung protein (sesuai pada
teori). Reaksi yang terjadi pada saat pembentukan biuret:
NaOH + CuSO
4
Na
2
SO
4
+ Cu(OH)
2

Warna ungu yang terbentuk merupakan ukuran jumlah ikatan peptida
dalam protein. Ikatan peptida pada protein bereaksi dengan Cu
2+
yang berasal
dari biuret. Intensitas dari warna yang dihasilkan merupakan proporsi dari
jumlah ikatan peptida yang terdapat pada reaksi. Karena terdapat ikatanpeptida,
maka terbukti pada saliva terdapat protein dan terbukti pada musin
mengandung protein.

2. Percobaan ion CNS
Pada manusia air ludah diproduksi sebanyak 1000-1500 cc dalam 24 jam,
yang umumnya terdiri dari 99,5% air dan 0,5 % lagi terdiri dari garam-garam,
zat organik dan zat anorganik. Unsur-unsur organik yang menyusun saliva
antara lain : protein, lipida, glukosa, asam amino, amoniak, vitamin, asam
lemak. Unsur-unsur anorganik yang menyusun saliva antara lain Sodium,
Kalsium, Magnesium, Bikarbonat, Khloride, Fosfat, Potassium, dan
Tiosianat(CNS). Komponen yang memiliki konsentrasi paling tinggi dalam
saliva adalah kalsium dan Natrium. Pada percobaan kali ini, substansi saliva
yang akan diuji ialah ion CNS
-
atau tiosianat. Ion CNS
-
memiliki peranan
dalam proses pemberantasan bakteri dalam mulut. Salah satu protein anti
bakteri, yaitu Sialoperoxidase, mampu mengoksidasi ion tiosianat (CNS
-
)
dalam saliva menjadi hipotiosianit (OCNS
-
), sebuah antibakteri potensial yang
menggunakan hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh bakteri sebagai
oksidannya(Malcolm Harris, et. al., 1998) Ion CNS
-
dahulu dikenal dengan
sebutan Rhodanida (berasal dari bahasa Yunani yang berarti mawar) karena
warna merah yang dihasilkan apabila ia bereaksi dengan besi (Fe).
Pencampuran ion CNS
-
dengan FeCl
3
akan mengoksidasi ion feroklorida
menjadi ion bebas Fe
3+
yang akan berikatan dengan CNS
-
. Ion Fe
3+
merupakan
sumber ion yang bersifat oksidator. Dengan adanya ion CNS
-
tersebut akan
menghasilkan Fe(CNS)
3
yang berwarna jingga kemerahan. Reaksi kimia dari
percobaan ini adalah sebagai berikut:
FeCl
3
+ 3CNS
-
+ HCl Fe(CNS)
3
+ HCl + 3Cl
-

Pada tetesan filtrat saliva, warna campuran larutan FeCl
3
dan HCl berubah
warna menjadi warna orange tua. Hasil tersebut berbeda dengan tabung yang
tidak ditetesi filtrat saliva, karena warna larutan tersebut tetap kuning. Hal ini
menandakan bahwa pada larutan yang ditetesi filtrat saliva, ion Fe
3+
(terurai
dari senyawa FeCl
3
) telah bereaksi dengan ion CNS- yang terkandung dalam
filtrat saliva yang diteteskan setelahnya.

3. Percobaan hidrolisis amilum oleh enzim amylase
Amilum merupakan karbohidrat yang sebagian besar terdiri dari
monomer-monomer glukosa. Pada percobaan ini, amilum dicampurkan dengan
filtrat saliva yang di dalamnya mengandung enzim -Amilase yang nantinya
akan menghidrolisis amilum menjadi disakarida yang lebih sederhana, yaitu
maltosa.
Pada percobaan ini dilakukan uji glukosa pada campuran amilum dan
saliva dengan bantuan fehling A (larutan CuSO4) dan fehling B (campuran
KNa tartrat + NaOH) yang campurannya disebut juga dengan reagen Benedict.
Reagen Benedict (larutan biru yang mengandung ion tembaga) digunakan
sebagai indikator adanya gula yang tereduksi (gula sederhana). Ketika
campuran larutan yang mengandung gula dan reagen Benedict dipanaskan, ion
tembaga (II) yang berasal dari reagen Benedict akan tereduksi menjadi ion
tembaga (I) dan warna larutan berubah dari biru hijau jingga merah bata.
Berikut di bawah ini warna larutan berdasarkan kisaran kandungan glukosa :
Glukosa (0,5%), berwarna hijau / kekuningan.
Glukosa (0,5%- 1%), berwarna kuning kehijauan.
Glukosa (1%-2%), berwarna jingga.
Glukosa (>2%), berwarna merah bata.
Reaksi yang seharusnya terjadi pada percobaan ini ialah :

Endapan merah bata (solid) di dasar tabung adalah hasil reaksi berupa
tembaga(I) oksida (Cu2O). Semakin banyak kandungan gula dalam larutan
campuran, maka endapan yang terbentuk akan semakin banyak. Namun, pada
uji glukosa yang dilakukan pada percoban ini hasil yang didapatkan tidak
terjadi perubahan warna biru secara signifikan. Hal ini terjadi karena waktu
pemanasan yang kurang sehingga menyebabakan larutan fehling A dan fehling
B tidak optimal, sehingga Cu tidak dapat berubah menjadi Cu2O yang
membuatnya menjadi berwarna merah bata. Pada percobaan ini juga dilakukan
pada uji amilum pada campuran amilum dan saliva dengan larutan lugol. Lugol
merupakan indikator ada tidaknya amilum pada larutan yang diuji. Larutan
lugol terdiri dari campuran 2gr KI 2 dan 1gr I2 dalam aquades 300cc. Larutan
amilum yang ditempatkan dalam testplate kemudian diteteskan larutan iodin
(lugol). Jika larutan mengandung amilum, warnanya akan menjadi biru
kehitaman karena interaksi antara Iodin dengan struktur bergelung pada
polisakarida. Walaupun demikian, laruran lugol tidak akan mendeteksi
keberadaan gula sederhana, seperti glukosa atau fruktosa. Berikut ini kisaran
warna yang terbentuk bila lugol diberikan pada larutan:




Namun, uji amilum yang dilakukan pada percobaan ini warna yang
dihasilkan tidak ada perubahan warna menjadi warna biru kehitaman. Hal ini
menunjukkan tidak adanya amilum pada larutan yang diujikan. Kemungkinan,
proses pengocokan dilakukan terlalu intensif sehingga menyebabkan
campurannya tidak terbentuk. Jika dikaitkan dengan jeda waktu pemberian
perlakuan (uji glukosa dan amilum), maka seharusnya semakin lama jeda
waktu sebelum kedua pengujian dilakukan, maka glukosa yang terbentuk akan
semakin banyak, sedangkan amilum yang terdeteksi akan semakin sedikit
(ditandai dengan variasi warna larutan sesuai kandungan glukosa atau semakin
banyaknya endapan merah bata serta pudarnya warna reaksi lugol), karena
enzim amylase yang terkandung dalam saliva semakin lama akan
menghidrolisis amilum(polisakarida) menjadi gula yang lebih sederhana.
Namun ternyata hasil percobaan ini tidaklah sesuai harapan, yang mungkin
disebabkan oleh faktor-faktor yang telah disebutkan, terutama prosedur
pelaksanaan yang masih kurang tepat.

4. Pengaruh Temperatur Terhadap Kerja Enzim Amilase
Pada percobaan ini, lugol (KI2) digunakan sebagai indikator adanya
kandungan amilum yang terdapat dalam suatu senyawa. Enzim amilase yang
terkandung dalam filtrat saliva akan `mengkatalis larutan amilum yang
ditambahkan ke dalam filtrat saliva tersebut menjadi senyawa yang lebih
sederhana, yaitu glukosa. Percobaan ini menggunakan beberapa perlakuan suhu
untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kerja enzim yang terkandung dalam
saliva, yaitu enzim amilase.
Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat laju reaksi,
karena apabila enzim bekerja pada suhu optimumnya, maka enzim pun dapat
bekerja secara maksimal. Dalam hal ini, suhu optimum enzim amilase berkisar
antara 37-40 C, sesuai dengan suhu normal internal tubuh kita. Maka,
otomatis apabila suhu lingkungan pada reaksi mencapai suhu optium, laju
reaksi akan bertambah. Hal tersebut dibuktikan dengan melakukan uji amilum
(polisakarida) dan uji glukosa. Jika glukosa terbentuk semakin banyak, berarti
aktivitas enzim amilase dalam menghidrolisis amilum menjadi glukosa pun
semakin baik. Pembuktian keberadaan glukosa dan amilum kembali
menggunakan Fehling A + Fehling B dan lugol sebagai indikatornya.
Hasil pengujian amilum dalam saliva menunjukkan bahwa saliva yang
diujikan memiliki hasil yang positif terhadap amilum, karena pada ketiga
tabung reaksi amilum + saliva yang ditetesi lugol berubah warna menjadi biru
kehitaman karena interaksi antara Iodin dengan struktur bergelung pada
polisakarida. Namun, kepekatan warna birunya berbeda, pada yang paling
pekat adalah terdapat pada air dingin, diikuti air ledeng, dan air panas. Pada
percobaan ini terdapat beberapa perbedaan hasil dengan yang seharusnya.
Kerja enzim sangat dipengaruhi oleh suhu, dan enzim akan lebih bekerja pada
suhu optimum. Seharusnya warna pekat tersebut harusnya terdapat pada air
ledeng, karena suhu pada air ledeng mendekati suhu saat suasana metabolisme
tubuh manusia.
Sedangkan, pada pengujian glukosa, setelah ditetesi Fehling A dan Fehling
B dan dipanaskan, campuran amilum+filtrat saliva menunjukkan perubahan
warna. Pada tabung yang direndam pada air dingin (5C) terdapat endapat
berwarna merah orange yang cukup banyak, pada air ledeng normal (sekitar
20-25 C) juga terdapat endapan berwarna kuning tua, dan dalam air panas
(49C), terdapat endapan berwarna merah kebiruan. Hal tersebut menunjukkan
bahwa terdapat kandungan glukosa dengan terbentuknya endapan Cu
2
O.

5. Percobaan Enzim Lipase
Larutan NaOH pada campuran minyak kelapa dan fenol merah berfungsi
sebagai menciptakan suasana basa, karena kerja enzim lipase sangat
dipengaruhi oleh pH sekitar 5,50 sampai 8,50 dengan aktivitas enzim
maksimum pada pH 7,50 (Degerli, 2002). Sedangkan minyak kelapa sebagai
trigliserida yang akan dihidrolisis oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan
gliserol.
3 HCOOC-R + 3 NaOH Lipase 3 CHOOH + 3 R-COONa
(Trigliserida) (gliserol) (asam lemak)

Campuran Fenol merah diberikan sebagai indikator perubahan pH.
Suasana asam akan menimbulkan perubahan warna menjadi kuning sedangkan
semakin basa akan menunjukkan warna merah. Hasil positif apabila terbentuk
emulsi dan perubahan warna menjadi merah sampai merah tua.

Pada ekstrak empedu ayam menghasilkan hasil yang positif. Warna yang
ditimbulkan merah muda. Hal ini membuktikan ketidakaktifan enzim lipase.
Empedu menghasilkan garam empedu yang terbentuk dari asam empedu yang
berikatan dengan kolesterol dan asam amino (Sloane, 2003). Fungsinya adalah
untuk membantu kerja enzim lipase dalam memecah lemak, membantu
penyerapan lemak yang telah dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.
Pada ekstrak lambung ayam menghasilkan hasil yang negatif. pH di
lambung sekitar 1,3 sampai 1,8 dengan aktivitas enzim maksimum pada pH
1,6. Suasana seperti ini disebabkan karena enzim HCl yang dikeluarkan untuk
mematikan bakteri. Pencernaan kimiawi ini berlangsung di bagian
proventrikulus. Pada bagian ini, mengandung enzim proteolitik sebagai enzim
yang digunakan untuk memecah protein pada hewan aves (Duke, 1997).
Pada ekstrak duodenum ayam menghasilkan hasil yang positif. Di
duodenum terdapat enzim lipase yang akan mengubah lemak menjadi asam
lemak dan gliserol. Begitu juga pada pankreas yang menunjukkan hasil yang
positf karena terdapat enzim lipase pankreas.

6. Pengaruh Empedu Terhadap Lemak
Pada uji keenam yaitu uji lemak pada empedu. Dapat terlihat bahwa
campuran cairan empedu dengan minyak kelapa menghasilkan emulsi dimana
lemak yang ada pada minyak kelapa di degradasi oleh cairan empedu yang
diduga mengandung garam garam empedu yang berbentuk garam natrium
terionisasi. Yang merupakan senyawa amfipatik (lipid polar) sehingga senyawa
ini sering ditemukan pada bagian antara air dan minyak/lipid.
Pada percobaan pengaruh empedu pada lemak telah didapatkan hasil
bahwa larutan empedu yang diencerkan dengan aquades sampai volumenya
2ml kemudian diberi 2 tetes minyak kelapa setelah di kocok dan didiamkan
selama 5 menit terdapat emulsi, sedangkan pada 2 ml aquades yang diberi 2
tetes minyak kelapa setelah di kocok dan didiamkan selama 5 menit tidak
terdapat emulsi dan bagian aquades dan minyak kelapa terpisah satu sama lain,
hal ini disebabkan karena, cairan empedu berperan sebagai bahan emulsi. Hal
ini juga dikarenakan karena minyak kelapa dan aquades bersifat hidrofobik.
Selain itu dikarenakan tidak adanya media emulsifier, karena minyak kelapa
adalah lemak yang bersifat non polar sehingga dengan berat jenis yang berbeda
(berat jenis minyak = 0,8 gr/cm3; air = 1 gr/cm3), minyak dan air tidak dapat
menyatu (teremulsi) dan minyak berada di atas permukaan air karena memiliki
berat jenis yang lebih ringan.
Cairan empedu terdapat sebagai asam empedu dan garam empedu. Tetapi
empedu mengandung sejumlah besar garam-garam empedu terutama dalam
bentuk garam natrium terionisasi yang sangat penting dalam proses
emulsifikasi lemak. Selain itu, empedu terdiri atas tiga komponen : kolesterol,
garam empedu dan lesitin. Ketiga senyawa ini merupakan senyawa amfipatik
(lipid amfipatik/polar), yaitu senyawa yang mempunyai bagian hidrofobik yang
berinteraksi dengan lemak dan bagian hidrofilik yang berinteraksi dengan air.
Karena itu, senyawa tersebut sering ditemukan di pertemuan antara lemak dan
air. Emulsi adalah lipid nonpolar (dalam bentuk partikel besar) yang terdapat
dalam medium aquades. Bentuk emulsi ini akan distabilkan oleh lipid
amfipatik seperti lesitin. Jadi di sini lesitin berfungsi sebagai emulgator. Emulsi
yang dihasilkan adalah bentuk dari penghancuran lemak oleh empedu dan
proses ini disebut emulsifikasi.





KESIMPULAN
Musin merupakan protein terglikolisis yang terdapat pada saliva. Melalui
uji protein menggunakan larutan biuret, dapat diketahui bahwa musin terkandung
pada saliva. Pada saliva juga terdapat unsur anorganik yaitu ion CNS-. Ion CNS
akan bereaksi dengan FeCL3 membentuk Fe(CNS)3 dan berwarna orange
kemerahan. Maka untuk menguji keberadaannya dengan mencampurkan larutan
FeCL3 ke dalam larutan saliva. Hidrolisis amilum dipengaruhi suhu. Enzim
amilase yang membantu menghidrolisis amilum hanya bekerja optimal pada suhu
30-40oC dengan kecepaan reaksi bertambah setiap kenaikan suhu. Enzim lipase
yang terdapat pada seluruh organ pencernan, memiliki perbedaan optimalisasinya.
Pada organ duodenum dan pankreas, enzim lipase ini ada. Di duodenum terdapat
enzim lipase yang akan mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol
keadaan. Begitu juga pada pankreas yang menunjukkan hasil yang positf karena
terdapat enzim lipase pankreas. pH juga mempengaruhi kinerja lipase. Optimum
pH untuk enzim lipase yaitu 7-8 (basa). Lemak dihidrolisis dalam tubuh oleh
bantuan garam empedu. Garam empedu berasal dari sekret empedu. pada
hidrolisis lemak dibuktikan bahwa empedu menghasilkan garam garam empedu
yang bereaksi dengan lemak sehingga terjadi proses emulsifikasi ditandai dengan
munculnya emulsi.

















DAFTAR PUSTAKA

Cahya, Panji, dkk. 2010. Enzim Pencernaan (Daya Cerna Air Liur)
Departemen Biokimia FMIPA IPB.
http://panjicm.wordpress.com/2010/10/07/enzim-pencernaan-daya-cerna-
air-liur/ diunduh pada 25 September 2014 pukul 20.30 WIB.
Dibner, J.J dan J.D. Richards. 2004. The Digestive System : Challenges and
Opportunities. J. Appl. Poult. Res. 13:86-93.
Harris, Malcolm, et. al. 1998. Cinical Oral Science. Oxford : Reed Educational
and Professional Publishing.

Infante, J.L. Zambonino, Gisbert E, Sarasquete C, Navarro I, Gutierrez J, dan C.L.
Cahu. 2008. Ontogeny and Physiology Of Digestive System Of Marine Fish
Larvae. Archimer. 281-348.
Pearce, Evelyn C. 2000. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia:
Jakarta.

Rusdi, dkk. 2014. Praktikum Fisiologi Hewan. Jakarta: Jurusan Biologi, FMIPA,
UNJ.

Sherwood, Lauralee. 2000. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2.
Jakarta:Buku Kedokteran EGC.

Soewolo, dkk. 2006. Fisiologi Manusia. Malang: UNM Press.


















LAMPIRAN
Jawaban pertanyaan:
1. Jelaskan proses pembentukan enzim HCL di lambung!
Sel-sel parietal lambung, secara aktif mengeluarkan H+ dan Cl- melalui kerja dua
pompa yang berbeda. Ion H+ yang disekresikan berasal dari H2CO3 yang
dibentuk di dalam sel dari CO2 yang dihasilkan dari proses metabolisme di dalam
sel atau berdifusi masuk dari plasma. Ion Cl- yang disekresikan diangkut ke sel
parietal dari plasma. Ion HCO3 yang dihasilkan dari penguraian H2CO3
dipindahkan ke dalam plasma sebagai penukar Clyang disekresikan.

2. Jelaskan peran hormon yang terlibat dalam sistem pencernaan!
Hormon gastrin pada lambung. Sel-sel endokrin khusus, sel G, yang terletak di
daerah kelenjar pylorus (PGA) lambung mensekresikan gastrin ke dalam darah
apabila mendapat rangsangan yang sesuai. Setelah diangkut dalam darah kembali
ke mukosa oksintik, gastrin merangsang sel parietal dan sel plasma, sehingga
terjadi peningkatan sekresi getah lambung yang sangat asam, gastrin juga bersifat
trofik (mendorong pertumbuhan) mukosa lambung dan usus halus sehingga
keduanya dapat mempertahankan sekresi mereka.

3. Jelaskan hubungan pH di mulut, lambung, usus halus dengan kerja enzim
pencernaan!
Salah satu hal yang mempengaruhi optimalisasi kerja enzim adalah keadaan pH.
Enzimenzim tertentu memiliki karakteristik dimana mereka dapat bekerja
optimum pada pH tertentu. Misalnya enzim pepsin yang memiliki kisaran pH
optimum kerja 2-3. Suasana asam ini pada organ pencernaan terdapat pada
lambung. Sehingga enzim pepsin hanya dapat bekerja di lambung. Sedangkan
enzim lainnya yaitu enzim tripsin yang mencerna protein, memiliki kisaran kerja
optimum 7-9. Suasana basa ini ada pada organ pencernaan duodenum yang
ternyata merupakan tempat enzim tripsin ini bekerja aktif. Enzim lainnya
misalnya enzim amilase, memiliki kisaran pH kerja optimum pada suasana basa
yang terdapat di mulut. Karena itu, enzim amilase aktif terdapat di saliva yang
berasal dari salivary gland.