Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MENINGIOMA


DAN TREPANASI
Oleh:
NAMA : MAULIDIYAH MEGASARI, S.Kep
NIM : 092311101012
PROGRAM PENDIDIKAN PROESI NERS
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNI!ERSITAS "EM#ER
201$
I. KONSEP PENYAKIT
%. K%&'&
Meningioma
(. Pe)*e+,-%)
Meningioma adalah tumor pada meningens, yang merupakan selaput
pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningioma
merupakan tumor jinak yang biasanya ditemukan pada meningen otak
dan medula spinalis, sangat jarang ditemukan di ekstrakranial
.. E,-/l/*-
Etiologi pasti terjadinya tumor otak belum diketahui, namun menurut
beberapa ahli dapat terjadi akibat proses primer dan sekunder.
Primer
1) Gangguan pada otak
2) Gangguan imunologi tubuh
3) Gangguan fungsi hipofisis
) !irus
") #oksin
$ekunder% Metastase tumor lain, biasanya tumor paru dan payudara
0. Kl%&-1-2%&-
&'( mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang
telah diketahui, termasuk meningioma. #umor diklasifikasikan melalui
tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di ba)ah mikroskop.
Penatalaksanaannya pun berbeda*beda di tiap derajatnya.
a. Grade +
Meningioma tumbuh dengan lambat, jika tumor tidak
menimbulkan gejala, mungkin pertumbuhannya sangat baik jika
diobser,asi dengan M-+ se.ara periodik. /ika tumor semakin
berkembang, maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala,
kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan.
0ebanyakan meningioma grade + diterapi dengan tindakan bedah
dan obser,asi yang berkelanjutan.
b. Grade ++
Meningioma grade ++ disebut juga meningioma atypi.al. /enis ini
tumbuh lebih .epat dibandingkan dengan grade + dan juga
mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi. Pembedahan
adalah penatalaksanaan a)al pada tipe ini. Meningioma grade ++
biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan.
.. Grade +++
Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut
meningioma malignan atau meningioma anaplastik. Meningioma
malignan terhitung kurang dari 11 dari seluruh kejadian
meningioma. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama
untuk grade +++ diikuti dengan terapi radiasi. /ika terjadi
rekurensi tumor, dapat dilakukan kemoterapi.
Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtipe berdasarkan lokasi
dari tumor%
a. Meningioma fal2 dan parasagital 32"1 dari kasus meningioma).
4al2 adalah selaput yang terletak antara dua sisi otak yang
memisahkan hemisfer kiri dan kanan. 4al2 .erebri mengandung
pembuluh darah besar. Parasagital meningioma terdapat di sekitar
fal2.
b. Meningioma 5on,e2itas 3261). #ipe meningioma ini terdapat pada
permukaan atas otak.
.. Meningioma $phenoid 3261) 7aerah $phenoidalis berlokasi pada
daerah belakang mata. 8anyak terjadi pada )anita.
d. Meningioma (lfa.torius 3161). #ipe ini terjadi di sepanjang ner,us
yang menghubungkan otak dengan hidung.
e. Meningioma fossa posterior 3161). #ipe ini berkembang di
permukaan ba)ah bagian belakang otak.
f. Meningioma suprasellar 3161). #erjadi di bagian atas sella tursi.a,
sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar
pituitari.
g. $pinal meningioma 3kurang dari 161). 8anyak terjadi pada )anita
yang berumur antara 6 dan 96 tahun. :kan selalu terjadi pda
medulla spinbalis setingkat thora2 dan dapat menekan spinal .ord.
Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri
radikuler di sekeliling dinding dada, gangguan ken.ing, dan nyeri
tungkai
h. Meningioma +ntraorbital 3kurang dari 161). #ipe ini berkembang
paa atau di sekitar mata .a,um orbita.
i. Meningioma +ntra,entrikular 321). #erjadi pada ruangan yang
berisi .airan di seluruh bagian otak.
e. P%,/1-&-/l/*-
1) Gagguan fokal, terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan
otak dan infiltrasi atau in,asi langsung pada parekim otak dengan
kerusakan jaringan neuron. Perubahan suplai darah akibat tekanan
yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis
jaringan otak. $erangan kejang sebagai manifestasi perubahan
kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi, in,asi dan
perubahan suplai darah kejaringan otak. 8eberapa tumor membentuk
kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga
memperberat gangguan neurologis fokal.
2) Peningkatan #+0 dapat diakibatkan oleh beberapa fa.tor %
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar
tumor dan perubahan sirkulasi .airan serebrospinal. Pertumbuhan
tumor menyebabkan bertambahnya massa karena mengambil tempat
dalam ruang yang relatif tetap dari ruangan tengkorak yang kaku.
#umor ganas menyebabkan oedema dalam jaringan otak sekitarnya.
Mekanismenya diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang
menyebabkan penyebaran .airan tumor. 8eberapa tumor dapat
menyebabkan perdarahan. (bstruksi ,ena dan oedema yang
disebabkan oleh kerusakan sa)ar darah*otak, semuanya
menimbulkan kenaikan ,olume intrakranial dan kenaikan #+0.
(bstruksi sirkulasi .airan serebrospinal dari ,entrikel lateral ke
ruangan sub araknoid menimbulkan hidrosepalus.
Peningkatan #+0 akan membahayakan ji)a bila terjadi .epat.
Mekanisme kompensasi memerlukan )aktu berhari*hari atau
berbulan*bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak
berguna apabila #+0 timbul .epat. Mekanisme kompensasi antara
lain % bekerja menurunkan ,olume darah intrakranial, ,olume .airan
serebrospinal, kandungan .airan intra sel dan mengurangi sel*sel
parenkim. 0enaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan
herniasi ulkus ; serebellum. 'erniasi ulkus menekan mensesefalon
menyebabkan hilangnya kesadaran saraf otak ketiga. Pada herniasi
.erebellum tergeser ke ba)ah melalui foramen magnum oleh suatu
massa posterior. 0ompresi medulla oblongata dari henti pernafasan
terjadi dengan .epat. Perubahan fisiologis lain terjadi dengan .epat.
Perubahan fisiologis lain terjadi akibat peningkatan #+0 yang .epat
adalah bradikardia progesif, hipertensi sitemik, 3pelebaran tekanan
nadi) dan gangguan pernafasan.
1. D-%*)/&-& 0%) M%)-1e&,%&- Kl-)-&
1) $akit kepala
$akit kepala merupakan gejala umum yang paling sering dijumpai
pada penderita tumor otak. -asa sakit dapat digambarkan bersifat
dalam dan terus menerus, tumpul dan kadang*kadang hebat sekali.
<yeri ini paling hebat pada pagi hari dan lebih menjadi lebih hebat
oleh akti,itas yang biasanya meningkatkan #+0 seperti
membungkuk, batuk, mengejan pada )aktu 8:8. <yeri sedikit
berkurang jika diberi aspirin dan kompres dingin pada tempat yang
sakit.
2) <ausea dan muntah
#erjadi sebagai akibat rangsangan pusat muntah pada medulla
oblongata. Muntah paling sering terjadi pada anak*anak
berhubungan dengan peningkatan #+0 diserta pergeseran batang
otak. Muntah dapat terjadoi tanpa didahului nausea dan dapat
proyektif.
3) Papiledema
7isebabkan oleh statis ,ena yang menimbulkan pembengkakan
papilla ner,ioptist. 8ila terlihat pada pemeriksaan funduskopi akan
mengingatkan pada kenaikan #+0. $eringkali sulit untuk
menggunakan tanda ini sebagai diagnosis tumor otak oleh karena
pada beberapa indi,idu fundus tidak memperlihatkan edema
meskipun #+0 tidak amat tinggi. 7alam hubungannya dengan
papiledema mungkin terjadi beberapa gangguan penglihatan. +ni
termasuk pembesaran bintik buta dan amaurusis fugun 3perasaan
berkurangnya penglihatan).
) Gejala fokal
#anda*tanda dan gejala*gejala tumor otak antara lainnya juga terjadi,
tetapi ini lebih .enderung mempunyai nilai melokalisasi %
a) #umor korteks motorik, memanifestasikan diri dengan
menyebabkan gerakan seperti kejang yang terletak pada satu sisi
tubuh yang disebut 0ejang /a.ksonian.
b) #umor lobus oksipital menimbulkan gejala ,isual, hemiaropsia
humunimus kontralateral 3hilangnya penglihatan pada setengah
lapang pandang, pada sisi yang berla)anan dari tumor) dan
halusinasi penglihatan.
.) #umor serebelum, menyebabkan pusing, ataksia 3kehilangan
keseimbangan) atau gaya berjalan yang sempoyongan dengan
ke.enderungan jatuh ke sisi yang lesi, otot*otot tidak
terkoordinasi dan nistagmus 3gerakan mata berirama tidak
disengaja) biasanya menunjukkan gerakan hori=ontal.
d) #umor lobus frontal sering menyebabkan gangguan kepribadian
perubahan status emosional dan tingkah laku, dan disintegrasi
perilaku mental. Pasien sering menjadi ekstrem yang tidak
teratur dan kurang mera)at diri dan menggunakan bahasa .abul.
e) #umor sudut serebroponsin biasanya dia)ali pada sarung saraf
akustik dan member rangkaian gejala yang timbul dengan semua
karakteristik gejala pada tumor otak %
1. Pertama, tinnitus dan kelihatan ,ertigo, diikuti terjadinya tuli
3saraf .ranial*>)
2. 8erikutnya kesemutan dan rasa gatal pada )ajah dan lidah
3saraf .ranial*")
3. $elanjutnya, terjadi kelemahan atau paralisis 3saraf .ranial*9)
. :khirnya, karena pembesaran tumor menekan serebelum,
mungkin ada abnormalitas pada fungsi motorik.
". #umor ,entrikel dan hipotalamus mengakibatkan
somnolensia, diabetes insipidus, obesitas, dan gangguan
pengaturan suhu.
?. #umor intrakranial dapat menghasilkan gangguan
kepribadian, konfusi, gangguan fungsi bi.ara dan gangguan
gaya berjalan.
*. K/3pl-2%&-
1) Edema serebral
2) #ekanan intra.ranial meningkat.
3) 'erniasi otak
) 'idrosefalus.
") 0ejang.
?) Metastase ke tempat lain.
h. Pe3e+-2&%%) pe)')4%)*
1) 5# $.an, memberikan informasi spesifik yang menyangkut jumlah
ukuran dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya tumor serebral
sekunder, selain itu alat ini juga member informasi tentang system
,entrikuler.
2) M-+, digunakan untuk menghasilkan deteksi jejas yang ke.il,
membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otak dan daerah
hipofisis.
3) 8iopsi stereotaktik bantuan .omputer 33 dimensi) dapat digunakan
untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasadasarpengobatan dan informasi prognosis.
) :ngiografi serebral, memberikan gambaran pembuluh darah serebral
dan letak tumor serebral.
") EEG, dapat mendekati gelombang otak abnormal pada daerah yang
ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk menge,aluasi lobus
temporal pada )aktu kejang.
?) Penelitian sitologis pada 5$4, untuk mendekati sel*sel ganas, karena
tumor*tumor pada system saraf pusat mampu menggusur sel*sel ke
dalam .airan serebrospinal.
9) !entri.ulogram ; :rteriografi, apabila diagnosa yang diduga
sedemikian rumitnya sehingga pungsi spinal atau pungsi lumbal
tidak bisa dilakukan karena kontra indikasi peningkatan #+0.
-. Te+%p- 5%)* 0-l%2'2%) 6 Pe)%,%l%2&%)%%)
1. Pembedahan merupakan pilihan pertama bagi pasien dengan tumor
otak. #ujuan diagnosis definiti,e dan memperke.il tumor tersebut.
Pengangkatan dari semua tumor menimbulkan defisit neurologis
yang berat.
2. #erapi radiasi
a) -adioterapi, untuk mengatasi daerak eksisi dimana lesi
metastati. tumor telah diangkat.
b) 0emoterapi, untuk mengatasi kalignasi tumor otak.
(bat*obatan yang digunakan % <itroseurea, 85<@ dan 55<@
karena obat ini mampu mele)ati sa)ar darah ; otak. $elama
pemberian obat*obatan ini pasien harus menghindari makanan
yang tinggi tiramin 3misalnya anggur, yogurt, keju, hati ayam,
pisang) dan al.ohol, karena pokorba=ine menghambat dan
melemahkan akti,itas inhibitor monoamine oksidase 3M:().
Prokaba=ine dikaitkan dengan mual dan muntah yang mungkin
hilang atau berkurang saat pertama kali atau saat pengobatan
sedang dilakukan.
3. +munoterapi
a) 7engan menggunakan antibody mono.lonal yang di.iptakan
se.ara khusus untuk menyerang dan menghan.urkan sel tumor
otak.
b) +nterleukin*2 digunakan untuk mengganti lesi*lesi metastati. dari
kanker primer ginjal dan melanoma, akan tetapi kemanjurannya
masih perlu dibuktikan.
. Pengobatan penyelidikan
a) 85<@ digabungkan dalam bentuk tablet tipis yang mematikan
se.ra biologis untuk ditempatkan pada daerah tumor selama
pembedahan kraniotomi.
b) Penempatan kateter arteri dekat dengan tumor. 8eri infus manitol
untuk perusakan dari barier darah atau otak.
.) #ransplantasi sumsum tulang juga sedang digunakan dalan uji
klinis untuk penatalaksanaan astrosiloma.
TREPANASI
a. 7efinisi
#repanasi;kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang
bertujuan men.apai otak untuk tindakan pembedahan definitif. Epidural
'ematoma 3E7') adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara tulang dan
lapisan duramater. $ubdural hematoma 3$7') adalah suatu perdarahan yang
terdapat pada rongga diantara lapisan duramater dengan araknoidea
b. -uang lingkup
Hematoma epidural terletak di luar duramater tetapi di dalam rongga
tengkorak dan .irinya berbentuk bikon,eks atau menyerupai lensa .embung.
$ering terletak di daerah temporal atau temporoparietal yang disebabkan oleh
robeknya arteri meningea media akibat retaknya tulang tengkorak. Gumpalan
darah yang terjadi dapat berasal dari pembuluh arteri, namun pada sepertiga
kasus dapat terjadi akibat perdarahan ,ena, karena tidak jarang E7' terjadi
akibat robeknya sinus ,enosus terutama pada regio parieto*oksipital dan fora
posterior. &alaupun se.ara relatif perdarahan epidural jarang terjadi 36,"1
dari seluruh penderita trauma kepala dan A 1 dari penderita yang dalam
keadaan koma), namun harus dipertimbangkan karena memerlukan tindakan
diagnostik maupun operatif yang .epat. Perdarahan epidural bila ditolong
segera pada tahap dini, prognosisnya sangat baik karena kerusakan langsung
akibat penekanan gumpalan darah pada jaringan otak tidak berlangsung lama.
Pada pasien trauma, adanya trias klinis yaitu penurunan kesadaran, pupil
anisokor dengan refleks .ahaya menurun dan kontralateral hemiparesis
merupakan tanda adanya penekanan brainstem oleh herniasi un.al dimana
sebagian besar disebabkan oleh adanya massa e2tra aksial.
.. +ndikasi (perasi
1) Penurunan kesadaran tiba*tiba di depan mata
2) :danya tanda herniasi;lateralisasi
3) :danya .edera sistemik yang memerlukan operasi emergensi, dimana 5#
$.an 0epala tidak bisa dilakukan.
d. 7iagnosis 8anding % 'ematom intra.ranial lainnya
e. Pemeriksaan Penunjang % 5# $.an kepala
Te2)-2 Ope+%&-
Positioning
Betakkan kepala pada tepi meja untuk memudahkan operator. 'ead*up kurang
lebih 1"
o
3pasang donat ke.il diba)ah kepala). Betakkan kepala miring
kontralateral lokasi lesi; hematoma. Ganjal bahu satu sisi saja 3pada sisi lesi)
misalnya kepala miring ke kanan maka ganjal bantal di bahu kiri dan sebaliknya.
Washing
5u.i lapangan operasi dengan sa,lon. #ujuan sa,lon% desinfektan, menghilangkan
lemak yang ada di kulit kepala sehingga pori*pori terbuka, penetrasi betadine
lebih baik. 0eringkan dengan doek steril. Pasang doek steril di ba)ah kepala
untuk membatasi kontak dengan meja operasi
Markering
$etelah markering periksa kembali apakah lokasi hematomnya sudah benar
dengan melihat 5# s.an. $aat markering perhatikan% garis rambut untuk
kosmetik, sinus untuk menghindari perdarahan, sutura untuk mengetahui lokasi,
zygoma sebagai batas basis .ranii, jalannya < !++ 3kurang lebih 1;3 depan antara
tragus sampai dengan .anthus lateralis orbita)
De&-)1e2&-
7esinfeksi lapangan operasi dengan betadine. $untikkan :drenalin 1%266.666
yang mengandung lido.ain 6,"1. #utup lapangan operasi dengan doek steril.
Ope+%&-
1. +n.isi lapis demi lapis sedalam galea 3setiap ".m) mulai dari ujung.
2. Pasang haak tajam 2 buah 3oleh asisten), tarik ke atas sekitar ?6 derajat.
3. 8uka flap se.ara tajam pada loose .onne.ti,e tissue. 0ompres dengan kasa
basah. 7i ba)ahnya diganjal dengan kasa steril supaya pembuluh darah
tidak tertekuk 3bahaya nekrosis pada kulit kepala). 0lem pada pangkal flap
dan fiksasi pada doek.
. 8uka peri.ranium dengan diatermi. 0elupas se.ara hati*hati dengan
rasparatorium pada daerah yang akan di burrhole dan gergaji kemudian
dan ra)at perdarahan.
". Penentuan lokasi burrhole idealnya pada setiap tepi hematom sesuai
gambar 5# s.an.
?. Bakukan burrhole pertama dengan mata bor tajam 3'udsonCs 8ra.e)
kemudian dengan mata bor yang melingkar 35oni.al boor) bila sudah
menembus tabula interna.
9. 8oorhole minimal pada tempat sesuai dengan merkering.
>. Perdarahan dari tulang dapat dihentikan dengan bone )a2. #utup lubang
boorhole dengan kapas basah; )etjes.
A. 8uka tulang dengan gigli. 8ebaskan dura dari .ranium dengan
menggunakan sonde. Masukan penuntun gigli pada lubang boorhole.
Pasang gigli kemudian masukkan penuntun gigli sampai menembus
lubang boorhole di sebelahnya. Bakukan pemotongan dengan gergaji dan
asisten memfi2ir kepala penderita.
16. Patahkan tulang kepala dengan flap ke atas menjauhi otak dengan .ara
tulang dipegang dengan knabel tang dan bagian ba)ah dilindungi dengan
ele,ator kemudian miringkan posisi ele,ator pada saat mematahkan
tulang.
11. $etelah nampak hematom epidural, bersihkan tepi*tepi tulang dengan
spoeling dan su.tioning sedikit demi sedikit. Pedarahan dari tulang dapat
dihentikan dengan bone )a2.
12. Gantung dura 3hit.h stit.h) dengan benang silk 3.6 sedikitnya buah.
13. E,akuasi hematoma dengan spoeling dan su.tioning se.ara gentle.
E,aluasi dura, perdarahan dari dura dihentikan dengan diatermi. 8ila ada
perdarahan dari tepi ba)ah tulang yang merembes tambahkan hit.h stit.h
pada daerah tersebut kalau perlu tambahkan spongostan di ba)ah tulang.
8ila perdarahan profus dari ba)ah tulang 3berasal dari arteri) tulang boleh
di*knabel untuk men.ari sumber perdarahan ke.uali di.urigai berasal dari
sinus.
1. 8ila ada dura yang robek jahit dura dengan silk 3.6 atau ,i.ryl 3.6 se.ara
simpul dengan jarak kurang dari "mm. Pastikan sudah tidak ada lagi
perdarahan dengan spoeling berulang*ulang.
1". Pada &'(0'+%l he3%,/3% setelah dilakukan kraniektomi langkah
salanjutnya adalah membuka duramater.
1?. $ayatan pembukaan dura seyogianya berbentuk tapal kuda 3bentuk @)
berla)anan dengan sayatan kulit. 7uramater dikait dengan pengait dura,
kemudian bagian yang terangkat disayat dengan pisau sampai terlihat
lapisan mengkilat dari arakhnoid. 38ila sampai keluar .airan otak, berarti
ara.hnoid sudah turut tersayat). Masukkan kapas berbuntut melalui lubang
sayatan ke ba)ah duramater di dalam ruang subdural, dan sefanjutnya
dengan kapas ini sebagai pelindung terhadap kemungkinan trauma pada
lapisan tersebut.
19. Perdarahan dihentikan dengan koagulasi atau pemakaian klip khusus.
0oagulasi yang dipakai dengan kekuatan lebih rendah dibandingkan untuk
pembuluh darah kulit atau subkutan.
1>. -eseksi jaringan otak didahului dengan koagulasi permukaan otak dengan
pembuluh*pembuluh darahnya baik arteri maupun ,ena.
1A. $emua pembuluh darah baik arteri maupun ,ena berada di permukaan di
ruang subarahnoidal, sehingga bila ditutup maka pada jaringan otak
diba)ahnya tak ada darah lagi.
26. Perlengketan jaringan otak dilepaskan dengan koagulasi. #epi bagian otak
yang direseksi harus dikoagulasi untuk menjamin jaringan otak bebas dari
perlengketan. @ntuk membakar permukaan otak, idealnya dipergunakan
kauter bipolar. 8ila dipergunakan kauter monopolar, untuk memegang
jaringan otak gunakan pinset anatomis halus sebagai alat bantu kauterisasi.
21. Pengembalian tulang. Perlu dipertimbangkan dikembalikan;tidaknya
tulang dengan e,aluasi klinis pre operasi dan ketegangan dura. 8ila tidak
dikembalikan lapangan operasi dapat ditutup lapis demi lapis dengan .ara
sebagai berikut%
a. #eugel dura di tengah lapangan operasi dengan silk 3.6 menembus
keluar kulit.
b. Periost dan fas.ia otot dijahit dengan ,i.ryl 2.6.
.. Pasang drain subgaleal.
d. /ahit galea dengan ,i.ryl 2.6.
e. /ahit kulit dengan silk 3.6.
f. 'ubungkan drain dengan ,aum drain 3-edon drain).
Ope+%&- &ele&%-.
8ila tulang dikembalikan, buat lubang untuk fiksasi tulang, pertama pada tulang
yang tidak diangkat 33* buah). #egel dura ditengah tulang yang akan
dikembalikan untuk menghindari dead spa.e. 8uat lubang pada tulang yang akan
dikembalikan sesuai dengan lokasi yang akan di fiksasi 33* buah ditepi dan 2
lubang ditengah berdekatan untuk teugel dura). Bakukan fiksasi tulang dengan
dengan silk 2.6, selanjutnya tutup lapis demi lapis seperti diatas.
f. 0omplikasi operasi % Perdarahan +nfeksi
g. Mortalitas % #ergantung beratnya .edera otak
h. Pera)atan Pas.abedah. Monitor kondisi umum dan neurologis pasien
dilakukan seperti biasanya. /ahitan dibuka pada hari ke "*9. #indakan
pemasangan fragmen tulang atau kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah ?*
> minggu kemudian.
i. Follow-up. 5# s.an kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran
tidak membaik dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya
yang timbul kemudian.
II. %. POHON MASALAH 7terlampir8
(. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKA"I
Pe)*2%4-%)
7ata 4okus Pengkajian
Pengkajian kepera)atan berfokus pada bagaimana pasien berfungsi
bergerak dan berjalan beradaptasi terhadap kelemahan atau paralisis dan
untuk melihat dan kehilangan kemampuan bi.ara dan adanya kejang
1) :kti,itas ; +stirahat
Gejala % inkoordinasi, hilang keseimbangan 3berdiri dengan dasar
kaki lebar, jatuh, kesandung, membentuk obyek), kelemahan,
kekakuan.
#anda % kontrol motorik halus buruk, hiporefleksia atau hiperfleksia
tanda babinski positif paralisis
2) $irkulasi
Gejala % peningkatan tekanan darah, perubahan frekuensi jantung
3bradikardi, takikardi)
3) +ntegritas Ego
Gejala % perubahan perilaku, perilaku aneh 3bengong, gerakan
otomatis).
#anda % peka rangsang, .emas, mudah tersinggung, penurunan nafsu
makan, gagal tumbuh, keletihan, letargi, koma
) Eliminasi
Gejala % inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan
fungsi.
") Makanan ; 5airan
Gejala % dengan atau tanpa mual atau makan
mengalami perubahan ; penurunan nafsu makan, muntah se.ara
progresif, lebih parah dipagi hari muntah 3mungkin proyektif)
muntah hilang dengan bergerak dan mengubah posisi.
?) <eurosensori
Gejala % defek ,isual 3nistagmus, diplopia, strabismus, episode
Dgraying outE, pada penglihatan, defek lapang pandang).
#anda % menengadahkan kepala, pembesaran .ranial papiledema.
9) <yeri ; 0enyamanan
Gejala % sakit kepala kambuhan dan progresif, pada area frontal atau
oksipital, biasanya tumpul dan berdenyut memburuk saat bangun
berkurang disiang hari, makin berat saat menunduhkan kepala ;
mengejan 3defekasi, batuk, bersin)
#anda % menangis, memutar kepala
>) Pernapasan
#anda % perubahan pola napas, penurunan pernapasan
A) 0eamanan
Gejala % edema karena kejang
#anda % gangguan penglihatan, kejang, hipotermi, hipertermi
D-%*)/&% Kepe+%9%,%)
Pre (perasi
1. <yeri berhubungan dengan peningkatan #+0
2. -esiko tinggi .edera berhubungan dengan perubahan fungsi
neurologis
3. Perubahan persepsi sensori ,isual berhubungan dengan gangguan
persepsi, transmisi
. Gangguan komunikasi ,erbal berhubungan dengan tumor otak
". 0onflik pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang
informasi yang rele,an
?. 0urang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi
+ntra (perasi
1. -esiko kekurangan ,olume .airan berhubungan dengan kehilangan
.airan
Post (perasi
2. <yeri berhubungan dengan prosedur bedah
3. -esiko tinggi .edera berhubungan dengan trauma intra.ranial
. 0eterlambatan tumbang berhubungan dengan efek dari ke.atatan
fisik
". -esiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi
?. 5emas berhubungan dengan an.aman kematian
III. DIAGNOSA DAN INTER!ENSI KEPERAWATAN
N/ D-%*)/&% Kepe+%9%,%) T'4'%) K+-,e+-% H%&-l I),e+:e)&- Kepe+%9%,%) R%&-/)%l
P+e Ope+%&-
1 <yeri berhubungan dengan
peningkatan #+0
<(5 % Perilaku
Mengendalikan <yeri
#ujuan % Pasien tidak
mengalami nyeri atau nyeri
menurun sampai tingkat
yang dapat diterima pasien
0riteria hasil %
a. #idak menunjukkan
adanya nyeri atau
minimalnya bukti*bukti
ketidaknyamanan
b. #+0 dalam batas normal
.. #idak menunjukkan
bukti*bukti peningkatan
#+0
d. 8elajar dan
mengimplementasikan
strategi koping yang
efektif.
<+5 % Menejemen <yeri
+nter,ensi %
1. 8erikan pereda nyeri
dengan manipulasi
lingkungan 3misal lampu
ruangan redup, tidak ada
kebisingan, tidak ada
gerakan tiba*tiba).
2. 8erikan analgesia sesuai
ketentuan, obser,asi
adanya efek samping.
3. Bakukan strategi sesuai
non farmakologi untuk
membantu mengatasi
nyeri.
. Gunakan strategi yang
dikenal pasien atau
gambarkan beberapa
strategi dan biarkan
pasien memilih.
". Bibatkan keluarga dalam
pemilihan strategi
?. :jarkan pasien untuk
menggunakan strategi
1. Meminimalkan rasa
nyeri yang dirasakan
pasien
2. Mengurangi rasa nyeri
3. Mengurangi rasa nyeri
. Pasien bisa mimilih
teknik yang tepat untuk
mengurangi nyeri
". 7ukungan keluarga
dapat memoti,asi
pasien
?. Mengantisipasi nyeri
yang berulang
non farmakologi
sebelum terjadi nyeri
atau sebelum menjadi
lebih berat.
2 -esiko tinggi .edera
berhubungan dengan perubahan
fungsi neurologis
<(5 % 0eamanan $osial
#ujuan % Pasien tidak
mengalami .edera
0riteria hasil %
a. 8ebas dari .edera
b. Pasien dan keluarga
menyetujui akti,itas atau
modifikasi akti,itas yang
tepat
<+5 % Men.egah /atuh
1. #ekankan pentingnya
mematuhi program
terapeutik
2. 7ampingi pasien selama
akti,itas yang diijinkan
3. /aga agar penghalang
tempat tidur tetap
terpasang
. 8antu ambulasi dan
akti,itas hidup sehari*
hari dengan tepat
1. Pasien mengetahui
tujuan pera)atan
2. Memberikan dukungan
3. Men.egah terjadi
.edera
. Men.egah terjadinya
dekubitus
3 Perubahan persepsi sensori
,isual berhubungan dengan
gangguan persepsi, transmisi
<(5 % Pengendalian
:nsietas
#ujuan % Pasien
menunjukkan tanda*tanda
penyesuaian terhadap defisit
sensoris ; persepsi
0riteria hasil %
a. Pasien menyesuaikan diri
pada defisit sensoris ;
persepsi
b. Pasien menunjukkan
sikap dan rasa aman
dalam lingkungan
<+5 % Pengelolaan
Bingkungan
1. 8erikan lingkungan yang
mendorong rasa akrab
dan rasa aman
2. 7orong partipasi dalam
bermain aktif
3. 7iskusikan bersama
keluarga pentingnya
membatasi lingkungan
1. Memberikan rasa
nyaman pada pasien
2. 7ukungan pasien
selama pera)atan
3. 7ukungan keluarga
memberikan dampak
positif pada pasien
Gangguan komunikais ,erbal
berhubungan dengan tumor otak
<eurogi.al $tatus
#ujuan % Pasien
0riteria hasil %
a. 4ungsi neurologis
<+5 % Pengelolaan
Bingkungan
1. +nformasi bisa dapat
dipahami
menunjukkan komunikasi
,erbal yang efektif.
b. #+0 dbn
.. 0omunikasi
d. ##! dbn
1. Membantu keluarga
dalam memahami
pembi.araan
2. 8erbi.ara kepada pasien
dengan suara yang jelas
3. Menggunakan kata dan
kalimat yang singkat
. +nstruksikan pasien dan
keluarga untuk
menggunakan bantuan
berbi.ara
". :njurkan pasien untuk
mengulangi
pembi.araannya jika
belum jelas
?. 8eri pujian positif ketika
pasien bisa bi.ara
2. Pasien paham maksud
dan tujuan
3. Memberikan
pemahaman yang jelas
. Memudahkan
komunikasi
". Pasien dapat
menyampaikan keluhan
?. Memberikan dukungan
selama pera)atan
" 0onflik pengambilan keputusan
berhubungan dengan kurang
informasi yang rele,an
<(5% 7e.ision Making
#ujuan% $etelah dilakukan
tindakan kepera)atan
selama proses kepera)atan
diharapkan tidak terjadi
konflik dalam keluarga.
0riteria 'asil%
a. +dentifikasi informasi
yang rele,an
b. +dentifikasi alternati,e
.. Memilih berbagai
alternatif
<+5% 4amily $upport
1. +nformasikan kepada
keluarga tentang
alternatif pilihan atau
solusi
2. 8antu keluarga
mengidentifikasi
keuntungan dan kerugian
alternatif lain
3. #a)arkan informasi
. 8antu keluarga dalam
1. 0eluarga memahami
tindakan selama
pera)atan
2. 0eluarga dapat
mengetahui keuntungan
dan kelebihan alternatif
yang lain
3. Memberikan informasi
. Memberikan dukungan
dalam pemberian
keputusan yang tepat
menjelaskan
keputusannya pada
anggota keluarga yang
lain, jika diperlukan
". 8erikan dukungan se.ara
penuh
yang diambil
". Memberikan dukungan
selaman pera)atan
? 0urang pengetahuan
berhubungan dengan
keterbatasan informasi
<(5 % 0no)ledge% Proses
Penyakit
#ujuan % 0eluarganya dapat
mengerti ; lebih paham
mengenai penyakit anaknya
dan pengobatannya.
1. Mengidentifikasi
keperluan untuk
penambahan informasi
pera)atan anak
2. Menjelaskan proses
penyakit
3. Menjelaskan sebab atau
faktor yang
mempengaruhi
. 0olaborasi aktif dengan
tim kesehatan dalam
pengobatan anaknya
<+5 % Pengatahuan Proses
Penyakit
1. +dentifikasi faktor dalam
atau luar untuk
menambah ;
meningkatkan moti,asi
pengobatan
2. #entukan hubungan
indi,idu dengan latar
belakang sosial budaya
pada indi,idu, keluarga
atau masyarakat
mengenai tingkah laku
kesehatannya.
3. 'indari menggunakan
teknik menakut*nakuti
. Mengikutsertakan
keluarga 3bila
memungkinkan) dalam
melaksanakan
pengobatan; terapi
1. Memberikan
kenyamanan pada
pasien
2. Mendukung proses
pera)atan pasien
3. Memberikan
kenyamanan pada
pasien
. 7ukungan keluarga
memoti,asi pasien
selama menjalani
pera)atan
I),+% Ope+%&-
1 -esiko kekurangan ,olume
.airan berhubungan dengan
kehilangan .airan
<(5 % 4luid balan.e
#ujuan % Pasien tidak
mengalami dehidrasi atau
.airan tubuh pasien adekuat.
0riteria hasil %
a. 0ulit dan membran
mukosa lembab
b. #idak terjadi demam,
##! normal
<+5 % Manajemen .airan
1. 5atat intake dan output
2. Monitor status hidrasi
seperti membran
mukosa, nadi, tekanan
darah dengan .epat.
3. 8eri .airan yang sesuai
dengan terapi
1. Mengetahui balan.e
.airan
2. :ntisipasi tanda
dehidrasi
3. Mengatur balan.e
.airan
P/&, Ope+%&-
1 <yeri berhubungan dengan
prosedur bedah
<(5 % #ingkat <yeri
#ujuan % Pasien tidak
mengalami nyeri, antara lain
penurunan nyeri pada
tingkat yang dapat diterima
0riteria hasil %
a. #idak menunjukkan
tanda*tanda nyeri
b. <yeri menurun sampai
tingkat yang dapat
diterima
<+5 % Menejemen <yeri
+nter,ensi %
1. 8erikan pereda nyeri
dengan manipulasi
lingkungan 3misal
ruangan tenang, batasi
pengunjung).
2. 8erikan analgesia sesuai
ketentuan
3. 5egah adanya gerakan
yang mengejutkan
seperti membentur
tempat tidur
. 5egah peningkatan #+0
1. Mengurangi stressor
yang dapat
memperparah nyeri
2. Mengurangi nyeri
3. Meminimalkan nyeri
. Mengurangi rasa nyeri
yang dirasakan pasien
2 -esiko tinggi .edera
berhubungan dengan trauma
intrakranial
<(5 % Pengendalian -esiko
#ujuan % Pasien mengalami
stress minimal pada sisi
operasi
0riteria hasil %
a. $tress minimal pada sisi
operasi
b. Pasien tetap pada posisi
<+5 % Positioning
1. 0onsul dengan ahli
bedah mengenai
pemberian posisi,
1. Menerikan posisi yang
tepat sehingga
mengurangi risiko
.edera
yang diinginkan termasuk derajat fleksi
leher.
2. Posisikan pasien datar
dan mirirng, bukan
terlentang atau tinggikan
kepala
3. 8alikkan pasien dengan
hati*hati
. 'indari posisi
trendelenburg
2. Mengurangi
peningkatan #+0
3. Men.egah terjadinya
.edera
. Men.egah peningkatan
#+0
3 0eterlambatan tumbang
berhubungan dengan efek dari
ke.atatan fisik
<(5 % Physi.al :ging
$tatus
#ujuan % Pasien mengalami
pertumbuhan dan
perkembangan yang normal
sesuai usianya.
0riteria hasil %
a. -ata*rata berat badan
b. 5ardiat out put
.. Elastisitas kulit
d. 0ekuatan otot
<+5 % 7e,elopmental
Enhan.ement
1. 8ina hubungan saling
per.aya dengan anak
2. 7emonstrasikan akti,itas
yang meningkatkan
perkembangan anak
sesuai dengan umurnya
3.ontoh bermain i.ik*
i.ik)
3. 8antu anak belajar
ketrampilan
. 8ina kesempatan untuk
mendukung latihan
akti,itas motorik;,erbal
pasien
". 8erikan reinfor.ement
positif
-esiko infeksi berhubungan
dengan luka post operasi
<(5 % Pengenalian -esiko
#ujuan % Pasien tidak
mengalami infeksi atau
tidak terdapat tanda*tanda
infeksi pada pasien.
0riteria hasil %
#idak menunjukkan tanda*
tanda infeksi
<+5 % Pengendalian +nfeksi
1. Pantau tanda ; gejala
infeksi
2. -a)at luka operasi
dengan teknik steril
3. Memelihara teknik
isolasi, batasi jumlah
pengunjung
. Ganti peralatan
pera)atan pasien sesuai
dengan protap
1. Men.egah terjadinya
infeksi
2. Men.egah in,asi
mikroorganisme
3. Men.egah inos
. Men.egah inos
" 5emas berhubungan dengan
an.aman kematian
<(5 % 0ontrol 5emas
#ujuan % $etelah dilakukan
tindakan kepera)atan
diharapkan ke.emasan
hilang atau berkurang.
0riteria hasil %
a. Monitor intensitas
ke.emasan
b. -en.anakan strategi
koping untuk
mengurangi stress
.. Gunakan teknik relaksasi
untuk mengurangi
ke.emasan
d. 0ondisikan lingkungan
nyaman
<+5 % Enhan.ement 5oping
1. $ediakan informasi yang
sesungguhnya meliputi
diagnosis, treatment dan
prognosis
2. #etap dampingi kien
untuk menjaga
keselamatan pasien dan
mengurangi
3. +nstruksikan pasien
untuk melakukan ternik
relaksasi
. 8antu pasien
mengidentifikasi situasi
yang menimbulkan
ansietas.
1. Memberikan informasi
selama pera)atan yang
didapatkan pasien
2. Memberikan rasa
nyaman
3. Memberikan rasa
nyaman pada pasien
. Mengurangi ansietas
DATAR PUSTAKA
/oane. 266. Nursing Intervention Classification. Mosby % @$:
/oane. 266. Nursing Outcomes Classification. Mosby % @$:
Mansjoer, :rif. 2661. Kapita Seleta Kedoteran. /akarta % Media :es.ulapius
Pri.e,$.:. F &ilson, B.M. 266". !atofisiologi" Konsep Klinis !roses-!roses
!enyait. /akarta % EG5